137 HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN SELF EFFICACY PADA PASIEN STROKE DI RSUP Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR Oleh: Henny Pongantung. Sr Anita Sampe JMJ. May Lanny. Meyer Ndjaua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar ABSTRAK: Penyakit stroke terjadi karena terganggunya aliran darah di otak yang ditandai dengan hilangnya fungsi dari bagian tubuh tertentu sehingga mengalami kecacatan. Kecacatan tersebut sangat berpengaruh pada keadaan psikis sehingga dapat mengalami depresi dengan gejala merasa tidak berdaya, malu dengan keadaannya yang dapat mengakibatkan self efficacy . eyakinan dir. menjadi menurun. Banyak faktor yang mempengaruhi self efficacy salah satunya adalah faktor dukungan keluarga. Dukungan keluarga merupakan faktor paling utama yang sangat berpengaruh terhadap penderita stroke. Seseorang dengan dukungan keluarga yang tinggi dapat meningkatkan motivasi yang lebih tinggi sehingga mempunyai keinginan untuk cepat sembuh. Tujuan penelitian: untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan self efficacy pada pasien stroke di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Metode: observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Teknik sampling menggunakan non probability sampling dengan pendekatan consecutive sampling sejumlah 40 responden. Pengumpulan data menggunakan instrument penelitian berupa kuesioner berskala likert. Hasil penelitian ini diperoleh dengan menggunakan analisis uji chi square dengan uji alternatif Kolmogorov-Smirnov. Hasil: p = 0,000, dengan tingkat kemaknaan = 0,05 . < ) jadi Ha diterima dan Ho ditolak. Kesimpulan: ada hubungan antara dukungan keluarga dengan self efficacy pada pasien Kata kunci : Dukungan Keluarga. Self Efficacy. Stroke ABSTRACT Objective: Stroke is caused by interruption of the blood supply to the brain that is indicated by loss of function from a particular part of the body causing disability. This condition influences psychic state that may lead to depression with the symptom hopelessness, embarrassment with the condition that may result in lack of self-efficacy. There are several factors that can influence self-efficacy, one of them is family support. The support is the most important factor for stroke patients. Stoke survivors with strong family support can increase motivation to recover soon. The purpose of this research was to find out the relationship between family support and sef-efficacy towards stroke patients at Dr. Wahidin Sudirohusodo Public Hospital. Makassar. Methods: cross secional study. Sampling technique used non probability sampling with consecutive approach sampling resulted in 40 respondents. The data were collected through a questionnaire using likert scale. The result of the study was obtained through kolmogorov-smirnov. Results: p = 0,000, with the level of significance c = 0,05 . < c ) therefore Ha was accepted and Ho was rejected. Conclusion: there was a relationship between family support and self-efficacy towards stroke patients at Dr. Wahidin Sudirohusodo Public Hospital. Makassar. Keywords : Family Support. Self-Efficacy. Stroke Jurnal Mitrasehat. Volume Vi Nomor 1. Mei 2018 ISSN 2089-2551 138 ___ Hubungan Dukungan Keluarga Dengan. Henny Pongantung. Sr Anita Sampe JMJ. May Lanny. Meyer Ndjaua PENDAHULUAN Stroke merupakan salah satu penyakit yang sering diderita oleh sebagian besar masyarakat di dunia. Penyakit ini dapat datang secara tiba-tiba dan dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia maupun status ekonomi. Menurut WHO tahun 2014, stroke menjadi pembunuh nomor tiga di dunia setelah penyakit jantung dan kanker. Secara global, 15 juta orang terserang stroke setiap tahunnya, 1/3 kecacatan permanen (Stroke Forum, 2. Jumlah pasien stroke di Indonesia yang terdiagnosis tenaga kesehatan diperkirakan sebanyak 1. 825 orang . ,0%) dan prevalensi stroke berdasarkan jenis kelamin pada laki-laki sebanyak 7,1% dan perempuan sebanyak 6,8% (Riskesdas. Menurut data dari profil kesehatan kota Makassar tahun 2015, penyakit stroke berada diurutan ke-5 penyebab utama kematian tertinggi setelah penyakit asma, jantung, hipertensi, dan diabetes melitus. Sulawesi Selatan juga telah terdiagnosis tenaga kesehatan dan gejala tertinggi dengan jumlah 17,9 per seribu. Berdasarkan data dari RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada tahun 2016 bulan Januari-Desember didapatkan 728 penderita stroke hemoragik maupun non hemoragik yang terdiri dari laki-laki 395 orang dan perempuan 333 orang dengan angka kematian 122 orang. Data tersebut menunjukkan banyaknya jumlah penderita stroke yang melakukan rawat inap di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Penyakit stroke memberi dampak yang dapat mempengaruhi aktivitas seseorang, seperti kelumpuhan dan gangguan emosi, nyeri, gangguan tidur, depresi, disfagia, dan masih banyak yang lainnya (Lingga, 2. Disfungsi tersebut akan menimbulkan dampak psikologis maupun sosial bagi pasien itu sendiri, seperti perasaan harga diri rendah, perasaan tidak beruntung, perasaan ingin mendapatkan kembali kemampuan yang menurun, berduka, takut dan putus asa. Hal tersebut merupakan tanda dan gejala dari self efficacy yang rendah (Junaidi, 2004 dalam Wurtiningsih. , 2. Efikasi diri membantu seseorang dalam menentukan pilihan, usaha untuk maju, serta kegigihan dan ketekunan dalam tugas-tugas mencangkup kehidupan mereka. Efikasi diri berpikir, merasa, memotivasi diri dan Seseorang yang memiliki efikasi diri yang kuat akan menetapkan tujuan yang tinggi dan berpegang teguh pada tujuannya. Sebaliknya seseorang yang memiliki efikasi diri yang lemah akan berkomitmen lemah ketidakpatuhan terhadap perawatan dirinya (Bandura . dalam Kott, 2. Pada rehabilitasi, keluarga harus terlibat secara aktif dan menyeluruh karena kekuatan dan motivasi dari diri sendiri bahkan dari orang terdekat sangat dibutuhkan oleh pasien. Keyakinan yang diberikan keluarga adalah hal yang penting bagi pasien untuk menumbuhkan kepatuhan pasien dalam menjalani program medis. Apabila dukungan semacam ini tidak ada, maka keberhasilan rehabilitasi akan sangat berkurang. Adapun dukungan-dukungan yang dapat diberikan oleh keluarga menurut Wurtiningsih . adalah dukungan emosional, dukungan informasi, dukungan instrumental, dan dukungan penghargaan. METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian obsevasional analitik dengan pendekatan cross sectional study yaitu rancangan penelitian yang digunakan untuk mengukur data variabel independen dan dependen pada waktu yang bersamaan. Pengambilan sampel menggunakan non consecutive sampling dimana pengumpulan sampel dilakukan dengan memilih semua individu yang ditemui dalam populasi dan memenuhi kriteria pemilihan dalam kurun waktu tertentu sehingga jumlah sampel yang diperlukan terpenuhi (Agus Rianto, 2. Adapun sampel dari penelitian ini berjumlah 40 pasien stroke yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. self efficacy sedang 5 . responden, dan dukungan keluarga kurang sedang dengan self efficacy tinggi 0 . ,0%) responden. Pada tabel 1 di atas menunjukkan bahwa dari 40 responden diperoleh data kelompok usia tertinggi yang mengalami stroke berada pada kelompok umur >65 tahun yaitu 14 . %) responden dan kelompok usia terendah berada pada umur 17-25 tahun 1 . ,5%) responden. Sedangkan distribusi responden berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki 22 . %) responden dan perempuan 18 . %) responden. Analisis Univariat Berdasarkan tabel 2 didapatkan hasil bahwa dari 40 responden yang memiliki dukungan keluarga baik sebanyak 30 . %) responden dan dukungan keluarga kurang sebanyak 5 . ,5%) responden. Berdasarkan tabel 3 didapatkan hasil bahwa dari 40 responden yang mempunyai self efficacy tinggi sebanyak 24 . %) responden dan self efficacy rendah sebanyak 5 . ,5%) responden. Analisis Bivariat Berdasarkan hasil penelitian analisis hubungan dukungan keluarga dengan self efficacy pada pasien stroke yang telah RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar dari 40 responden didapatkan data dukungan keluarga baik dengan self efficacy rendah 0 . ,0%) responden, dukungan keluarga baik dengan self efficacy sedang 6 . ,0%) responden, dan dukungan keluarga baik dengan self efficacy tinggi 24 . ,0%) responden. Sementara itu data lain menunjukkan dukungan keluarga kurang sedang dengan self efficacy rendah 5 . ,5%) responden, dukungan keluarga kurang sedang dengan DISKUSI Dukungan Keluarga Pada Pasien Stroke Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, didapatkan 30 dari 40 responden pasien stroke memiliki dukungan keluarga yang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian Fahrizal & Darliana . yang menyatakan bahwa dukungan keluarga pasien stroke di Poliklinik Saraf Banda Aceh berada pada kategori baik. Dukungan keluarga yang baik juga mempengaruhi keadaan psikis pasien stroke. Pasien dengan gangguan psikis akan merasa tidak berdaya, putus asa, dan memandang rendah dirinya. Tetapi peran memotivasi, dan menyemangati pasien dapat mengubah pandangannya terhadap dirinya sendiri menjadi lebih positif (Afriyani, 2011 dan Budi Wurtiningsih, 2. Hal ini sejalan dengan pendapat Hlebec . yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang diperlukan dalam penyembuhan dan mencegah kekambuhan adalah mengurangi stres, dan keluarga merupakan tempat yang paling nyaman untuk seseorang dalam menghadapi segala persoalan hidup, berbagi kebahagiaan dan tempat tumbuhnya harapan-harapan akan hidup yang lebih baik. Menurut teori Fancis dan Fuady . , dukungan yang dimiliki oleh seseorang dapat mencegah berkembangnya masalah akibat tekanan yang dihadapi . eperti penyaki. Dukungan keluarga yang baik akan membantu pasien dalam menghadapi dan mengatasi masalah daripada pasien yang tidak memiliki dukungan keluarga. Peneliti berasumsi bahwa sebagian besar penderita sroke mengalami penurunan Jurnal Mitrasehat. Volume Vi Nomor 1. Mei 2018 ISSN 2089-2551 HASIL 140 ___ Hubungan Dukungan Keluarga Dengan. Henny Pongantung. Sr Anita Sampe JMJ. May Lanny. Meyer Ndjaua rasa percaya diri dan konsep diri akibat kecacatan yang dideritanya. Dorongan atau dukungan yang diberikan keluarga mampu meningkatkan rasa percaya diri dan mengubah pandangan negatif pasien tentang dirinya sehingga pasien selalu termotivasi dalam melakukan program terapi dan pengobatan untuk meningkatkan serta mempertahankan kesehatannya. Self Efficacy Pada Pasien Stroke Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, didapatkan 24 . %) dari 40 responden pasien stroke memiliki self efficacy yang tinggi. Hal ini didukung oleh penelitian Ismatika . dan Hu & Arau . yang menyatakan self efficacy yang tinggi dapat berpengaruh dalam melakukan perawatan diri serta manajemen penyakit kronis. Berdasarkan teori Kott . , efikasi diri dapat membantu seseorang dalam menentukan pilihan, usaha untuk maju, serta kegigihan dan ketekunan dalam kehidupan, karena efikasi diri mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasa, memotivasi diri dan bertindak. Yantik . dan Nazli . juga berpendapat bahwa efikasi diri yang tinggi sangat penting untuk menghindari stres yang membangkitkan kepercayaan, harga diri dan semangat pasien untuk sembuh. Menurut Peneliti. Self efficacy yang tinggi dapat mempengaruhi bagaimana pasien memandang keberhargaan dirinya sehingga pasien dapat mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatannya dengan memotivasi dan melatih diri untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Self fficacy Pada Pasien Stroke Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis menggunakan uji alternatif kolmogorov-smirnov, dimana nilai p = 0,000 dan nilai = 0,05. Maka dapat disimpulkan nilai p < , dimana hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol (H. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan self efficacy pada pasien stroke di rumah sakit RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Hal ini didukung oleh penelitian Arsyta . di Poli Saraf RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie kota Pontianak yang menunjukkan uji statistik spearman nilai r memperlihatkan koefisien korelasi sebesar 0,849 dan nilai p < 0,05 yaitu 0,000 yang berarti ada hubungan antara dukungan keluarga dengan self efficacy pada pasien Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Nuryanti . yang menyatakan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan motivasi pasien stroke dalam melakukan ROM. Motivasi diri/keyakinan diri pasien sehingga dari keyakinan itu pasien dapat berpikir, merasa, bertindak dalam menentukan hal-hal yang menunjang proses kesembuhannya (Kott. Penelitian lain yang mendukung yakni penelitian Afriyani . tentang hubungan peran keluarga dalam merawat pasien stroke lanjutan dengan konsep diri penderita di poliklinik syaraf RS PKU Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran keluarga memiliki hubungan dengan konsep diri pada pasien stroke. Berdasarkan penelitian ini, peneliti mengambil kesimpulan bahwa dukungan baik/positif yang diberikan keluarga mampu meningkatkan keyakinan . elf efficac. pasien untuk sembuh. Hal ini ditandai dengan motivasi pasien dalam mengikuti pengobatan-pengobatan dan program terapi selama proses rehabilitasi. Peran keluarga dalam merawat pasien strokedapat berpengaruh terhadap dirinya, sehingga pasien akan merasa dirinya berharga dengan berpikir dan bertindak positif demi menunjang kesehatan pasien. SIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 40 responden pada tanggal 7 Februari sampai 18 Maret 2018 di Rumah Sakit RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, maka dapat Dukungan keluarga pada pasien stroke sebagian besar dalam kategori baik. Self efficacy pada pasien stroke sebagian besar berada pada kategori Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan self efficacy pada pasien stroke di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. DAFTAR PUSTAKA