Dru Hendro, dkk: Pembinaan Pelatihan Pakeliran Wayang Jawa Gaya Surakarta. PEMBINAAN PELATIHAN PAKELIRAN WAYANG JAWA GAYA SURAKARTA BAGI PESERTA DIDIK SANGGAR PARIPURNA DESA BONA, KECAMATAN BELAHBATUH. KABUPATEN GIANYAR Dru Hendro1. Saptono2. Wahyu Sriwiyati3 Institut Seni Indonesia Denpasar druhendro21@gmail. com 1,saptono@isi-dps,. id 2, wahyusriwiyati@gmail. ABSTRAK Keberadaan Sanggar Paripurna semakin eksis dengan berbagai karya seni kreatif dan inovatif tanpa mengabaikan nilainilai tradisional budaya Bali sebagaimana ditanamkan oleh I Made Sidja. Hasil-hasil karya Made Sidia bersama Sanggar Paripurna telah ditampilkan dalam berbagai acara penting, baik yang bertaraf lokal, nasional, maupun internasional. Bahwa Sanggar Paripurna tidak hanya mementingkan jenis seni lokal Bali saja, namun juga peduli dengan perkembangan seni yang berasal dari daerah lain seperti Jawa. Pada kesempatan tahun ini, pimpinan Sanggar Paripurna memohon kepada pembina untuk melakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan materi pakeliran Wayang Jawa untuk membina siswa-siswa dari golongan usia remaja. Dengan adanya kegiatan ini, dari pihak sanggar sangat antusias karena anak didiknya kembali mengenal Wayang Jawa sebagai pembanding secara estetis antara wayang Jawa dan Wayang Bali. Kegiatan ini, disamping kerjasama dengan Sanggar Paripurna, kami juga melibatkan mahasiswa yang masih aktif, yaitu semester VI Prodi Pedalangan, yang berdomisili dekat dengan Sanggar Paripurna, disamping untuk ikut membina, juga menambah perbendaharaan materi dari mahasiswa yang pernah mendapatkan matakuliah Praktek Wayang Jawa di kampus ISI Denpasar. Pada kegiatan PKM ini pembina menerapkan metode yang sederhana yang mudah dipahami oleh siswa Sanggar Paripurna dan disesuaikan dengan materi yang akan diberikan pada pelatihan, karena mayoritas siswa ataupun peserta belum memahami pengetahuan mengenai teknik dasar pakeliran Wayang Jawa. Adapun metode yang digunakan adalah. metode ceramah, metode imitasi dan demonstrasi, metode evaluasi, dan metode tanya jawab. Kata kunci : Sanggar Paripurna. Pembinaan. PKM. Pakeliran Jawa ABSTRACT Sanggar Paripurna (Paripurna Performing Art Studi. has been improving with various creative and innovative works of art without ignoring the traditional values of Balinese culture as instilled by I Made Sidja. Made SidiaAos works with Sanggar Paripurna have been displayed at important local, national, and international events. Sanggar Paripurna is not only concerned with local types of Balinese art but also cares about the development of art from other regions, such as Java. On this yearAos occasion, the leader of Sanggar Paripurna asked the supervisors to carry out community service activities with Javanese wayang puppet material to teach and assist teenage students. This activity brings enthusiasm as the students get to know Javanese wayang again as an aesthetic comparison between Javanese and Balinese wayang. In this activity, apart from collaborating with Sanggar Paripurna, some university students in their sixth semester of the puppetry study program live close to the studio. The students participate in coaching and contribute to adding the repertoire of material from what they have learned in the Javanese wayang practice course at ISI Denpasar. In this PKM activity, the supervisor applies a simple method that is easy for Sanggar Paripurna students to understand, adapted to the material provided in the training because most students or participants do not yet understand the basic techniques of Javanese wayang puppetry. The methods used are lecture, imitation and demonstration, evaluation, and question-answer. Keywords : Sanggar Paripurna. Development. PKM. Pakeliran Java. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 PENDAHULUAN Seni pertunjukan sangat terkenal di Gianyar, saat ini telah tercatat ada sekitar ribuan sekaa dan sanggar seni pertunjukan yang aktif. Dalam jumlah ini tercakup kelompok seni wali . akral dan relijiu. , seni bebali . eremonial dan relijiu. dan seni balih balihan . Kelompok seni sekuler ini mencakup kesenian klasik/tradisional, ciptaan baru, dan kesenian wisata. Sedangkan Kabupaten Gianyar sebagai pusat seni rupa dan kerajinan, masing-masing kecamatan memiliki ciri khasnya tersendiri. Misalkan seni ukir tulang terkenal di Kecamatan Tampaksiring, perak di Desa Celuk Sukawati. Blahbatuh terkenal dengan pembuatan gamelan, kerajinan endek di Gianyar dan lain-lain. Untuk menjaga dan mengembangkan seni budayanya. Pemkab Gianyar hingga sekarang telah berkomitmen untuk melindungi berbagai bentuk warisan budaya daerah, juga berkomitmen memperkuat eksistensi kantong-kantong seni budaya yang ada di wilayahnya. Pemkab juga berkomitmen mendorong kreativitas para seniman dan mendukung dengan cara memberi penghargaan kepada tokoh-tokoh seni dan budaya yang berjasa mengembangkan seni dan budaya di Kabupaten Gianyar. Tentunya seni dan budaya terjaga dan berkembang dengan baik di Kabupaten Gianyar tidak hanya berkat campur tangan pemerintah saja, namun juga andil besar dari masyarakatnya. Sanggar Paripurna salah satu sanggar yang ada di Kabupaten Gianyar yang turut andil besar dalam rangka melestarikan dan mengembangan seni dan budaya Bali. Sanggar Paripurna didirikan pada tanggal 1 April 1990 oleh seniman multi talenta bernama I Made Sidja asal Desa Bona. Kecamatan Blahbatuh. Kegiatan sanggar ini mencakup berbagai bidang kesenian, seperti seni pedalangan, seni wayang, seni tabuh, seni tari, seni pertunjukan, seni ukir kulit, seni membuat sesajen, dan lain-lain. Pendirian Sanggar Paripurna dimaksudkan sebagai pusat pelestarian, pengembangan, dan penciptaan seni budaya Bali. Sanggar ini terutama menampung dan mengasah bakat seni anak-anak putus sekolah atau mereka yang sudah tamat sekolah tetapi belum bekerja. Dalam perkembangannya, kepemimpinan Sanggar Paripurna dilanjutkan oleh putra keempat I Made Sidja, yaitu I Made Sidia. Sn. dengan dibantu oleh saudara bungsunya I Wayan Sira. Sn. Saat ini sanggar tersebut telah memiliki sekitar 400 orang anggota dari berbagai usia dan profesi. Berkat I Made Sidia sebagai pimpinan sanggar. Sanggar Paripurna semakin eksis dengan berbagai karya seni kreatif dan inovatif tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisional budaya Bali sebagaimana ditanamkan oleh I Made Sidja. Hasil-hasil karya Sidia bersama Sanggar Paripurna telah ditampilkan dalam berbagai acara penting, baik yang bertaraf lokal, nasional, maupun internasional. Berbagai pagelaran seni di dalam dan di luar negeri telah dilakoni oleh Sidia dan sanggar seninya. Namun demikian. Sanggar Paripurna tidak melepaskan diri dari fungsi sosialnya dalam kehidupan masyarakat Bali yang sarat dengan aktivitas ritual keagamaan. Sidia selaku pribadi atau bersama sanggarnya masih sering terlibat dalam tradisi ngayah atau melaksanakan aktivitas seni secara sukarela untuk mengiringi acara-acara ritual keagamaan. Dengan kemajuan yang dicapai, pihak pimpinan Sanggar Paripurna berkeinginan mengembangkan dan menambah materi latihan tidak sebatas materi yang hanya digunakan untuk kepentingan kesenian Bali saja, tetapi juga diberikan materi yang lebih bervariasi seperti materi-materi kesenian daerah lain yang menunjang kebutuhan kesenian yang bersifat global, salah satunya adalah materi kesenian Jawa yaitu materi Pakeliran Wayang Jawa yang digemari masyarakat sekarang, sehingga apabila ada kesempatan pentas untuk kepentingan pergelaran yang bersifat kolaborasi sudah siap pakai. Kebetulan Sanggar Paripurna telah memiliki seperangkat gamelan Jawa dan 1 keropak wayang kulit Jawa yang sebelumnya belum pernah dipakai untuk latihan yang berkaitan dengan kesenian Jawa. Seperti yang disampaikan Ketua Sanggar Paripurna Made Sidia: AuMas Dru tolong memberikan pembelajaran wayang kulit Jawa kepada anak didik Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dru Hendro, dkk: Pembinaan Pelatihan Pakeliran Wayang Jawa Gaya Surakarta. kami di Sanggar Sanggar Paripurna, karena selama ini kami sangat membutuhkan instruktur Pakeliran Wayang Jawa . awancara: 15 Januari 2. Bahkan ada sebagian peserta didik Sanggar Paripurna ingin belajar Pakeliran Wayang Jawa walaupun belum mempunyai bekal untuk berkesenian Jawa, karena memang seni Pedalangan Jawa ini memerlukan orang yang benar-benar mempunyai bakat. Kebetulan diantara siswa ada yang berasal dari Pedalangan Bali untuk mendapatkan pembinaan dan bimbingan Pakeliran Wayang Jawa. Permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik Sanggar Paripurna yaitu kurangnya pengetahuan atau pemahaman siswa terhadap dasar atau teknik Pakeliran Wayang Jawa dengan metode yang sederhana. Persoalan inilah yang menjadi sumbernya, sehingga sanggar sebagai mitra harus diberikan pemahaman dengan pelatihan berupa teori dan praktik teknik dasar Pakeliran Wayang Jawa. Selain masalah tersebut, di Sanggar Paripurna selama ini belum ada instruktur atau guru yang bisa memberikan tutorial tentang dasar-dasar teknik Pakeliran Wayang Jawa. Berdasarkan analisis situasi inilah kemudian mitra memerlukan pelatihan, agar fenomena kesulitan dan hambatan anak didik atau siswa Sangar Paripurna untuk belajar Pakeliran Wayang Jawa segera bisa diatasi. Dengan demikian kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan dasar Pakeliran Wayang Jawa bagi peserta didik atau murid Sanggar Paripurna sangat diperlukan. Untuk itu Sanggar Paripurna harus menyiapkan fasilitas yang diperlukan untuk segala aktivitas dan kegiatan pengabdian ini guna menambah pengetahuan dan pemahaman siswa di bidang Pakeliran Wayang Jawa. Beranjak dari uraian tersebut di atas penulis tertarik untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh mitra dengan melakukan pembinaan seni pedalangan kepada peserta didik Sanggar Paripurna sebagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Sedangkan materi yang diberikan akan diupayakan materi yang tidak terlalu sulit dan mudah diterima, sehingga dalam waktu yang relatif singkat materi tersebut dapat diserap oleh peserta sesuai target yang telah ditentukan Tabel 1. Target Capaian Penelitian Mitra Masalah Solusi Target Siswa Sanggar Paripurna Aspek penguasaan teknik dasar Pakeliran Wayang Jawa. Memberikan pelatihan melalui workshop dan tutorial tentang teknik dasar Pakeliran Wayang Jawa. Mitra mampu memahami teknik dasar Pakeliran Wayang Jawa metode imitasi dan demonstrasi. Kekurangan metode dalam penguasaan teknik Pakeliran Wayang Jawa. Memberikan pelatihan teknik dasar tabuh karawitan Jawa dengan metode ceramah, imitasi, dan demonstrasi dapat menjadi penguasaan materi. Mitra dapat pedoman/contoh dasar dalam menguasai materi. Belum mampu Pakeliran Wayang Jawa. Memberikan pelatihan secara Mitra mampu untuk menyajikan Pakeliran Wayang Jawa dengan baik. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Dalam konteks mengatasi masalah dalam penelitian ini diajukan dua rumusan masalah yaitu, pertama, penelitian ini berusaha untuk menemukan cara efektif memberikan keterampilan dan penguasaan teknik dasar Pakeliran Jawa kepada peserta didik di sanggar tersebut. Kedua, penelitian ini mengeksplorasi metode yang dapat digunakan untuk menarik minat peserta didik Sanggar Paripurna, sehingga mereka dapat dengan mudah memahami dan mempelajari materi Pakeliran Jawa dengan baik. Melalui kegiatan Program Pengabdian Masyarakat (PKM), solusi yang ditawarkan adalah mengkategorikan pemecahan masalah berdasarkan pemahaman dan penguasaan teknik dasar pakeliran Jawa, serta melibatkan pelatihan keterampilan METODE Mangacu pada pokok permasalahan tersebut, maka solusi yang ditawarkan kepada mitra Sanggar Paripurna Bona Gianyar adalah memberikan pelatihan dan pembinaan mengenai teori dan praktik dasar Pakeliran Jawa. Metode yang digunakan untuk melaksanakan pengabdian ini adalah metode pemberdayaan yang dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu : . Sosialisasi. Koordinasi. Pembinaan. Pendampingan praktek lapangan. Mementaskan hasil pembinaan bagi siswa Sanggar paripurna Bona Gianyar . Evaluasi program. Permasalahan yang dihadapi oleh Sanggar Paripurna Gianyar yaitu kurangnya pengetahuan atau pemahaman siswa dengan metode yang sederhana. Dengan ini dapat dipecahkan dengan melakukan kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yaitu memberikan pelatihan/pembinaan mengenai dasar-dasar Pakeliran Wayang Jawa yang sederhana yang mudah dipahami oleh siswa Sanggar Paripurna. Pada materi pelatihan diambil dalam salah satu adegan pada bagian Pathet Sanga, yaitu adegan Satriya di tengah hutan bersama empat Punakawan. Adapun wayang yang dihadirkan dalam adegan tersebut Arjuna. Semar. Gareng. Petruk, dan Bagong. Adapun metode yang digunakan yakni: Metode Ceramah Penerapan metode ceramah sebagai bagian dari metode pembinaan masih tetap diperlukan dengan didukung oleh metode yang lain kemudian dirangkum secara akumulatif agar terjadi komunikasi. Yaitu dengan memberikan penjelasan tentang latar belakang materi yang diberikan seperti dasar-dasar karawitan Jawa, bentuk gending dalam karawitan Jawa, vokal, dan hal-hal yang lain yang berkaitan dengan materi karawitan Jawa. Metode Demonstrasi Metode ini dilakukan dengan memberikan materi pedalangan melalui tahapan-tahapan, yaitu terlebih dahulu dengan memberikan materi bentuk-bentuk gending atau vokal/gerongan dalam gending Jawa. Pembina memberikan beberapa materi bentuk gending, dibuatkan notasi, diberikan contoh teknik menabuh, kemudian diikuti oleh semua peserta, ini dilakukan berulang-ulang sampai peserta mampu mempraktekkannya. Tahapan berikutnya pembina memberikan materi jenis-jenis dan bentuk gending yang di dalamnya terdapat unsur tabuh dan vokalnya, selanjutnya para peserta mencoba mempraktekkan secara bersamaan mengikuti contoh yang telah diberikan oleh pembina. Pada tahapan ini juga dilakukan berkali-kali sampai para peserta bisa menguasai materi yang telah diberikan. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dru Hendro, dkk: Pembinaan Pelatihan Pakeliran Wayang Jawa Gaya Surakarta. Metode Tanya Jawab Metode ini digunakan untuk memberikan peluang kepada para peserta mengajukan pertanyaanpertanyaan tentang sesuatu hal yang sekiranya belum jelas berkaitan dengan materi yang telah diberikan. Dengan adanya tanya jawab pembina akan lebih mudah melakukan pembenahan bagi peserta didik yang belum mampu memahami atau menguasai materi. Metode Evaluasi Metode ini sebagai metode yang paling akhir digunakan setelah materi selesai diberikan. Disamping sebagai tolok ukur seberapa jauh peserta didik mampu menguasai materi, metode ini juga digunakan sebagai penilaian kemampuan peserta dalam menerima materi yang diberikan, dengan cara peserta mencoba menyajikan materi gending penataan yang telah dikuasai. PEMBAHASAN Pembinaan dan Pelatihan Pakeliran Jawa & Iringan Pakeliran Kegiatan pembinaan pengabdian kepada masyarakat di Sanggar Paripurna ini sesuai dengan yang telah direncanakan akan dilaksanakan selama 3 bulan melalui tiga tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan pembinaan, dan pembuatan laporan. Rencana pelaksanaan kegiatan pembinaan pedalangan Jawa dilakukan sekali dalam satu minggu dengan durasi waktu setiap tatap muka selama 180 menit. Pelaksanaan kegiatan pembinaan pedalangan pengabdian pada masyarakat diawali dengan pertemuan dengan ketua Sanggar Paripurna dengan pengurus yang lainnya serta para peserta didik. Pada pertemuan ini akan dijelaskan maksud dan tujuan dilaksanakannya pembinaan pedalangan Jawa sebagai rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Setelah memberikan penjelasan tersebut, kemudian dijelaskan pula perencanaan dan tahapan-tahapan penyampaian materi kepada peserta didik agar jelas dan gamblang sehingga latihan bisa berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dan diharapkan tidak ada hambatan yang berarti dalam melaksanakan kegiatan ini, mengingat peserta didik yang mengikuti latihan akan dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok pada tingkat dasar dan pada kelompok tingkat yang sudah memiliki dasar pakeliran. Selanjutnya peserta didik diberikan penjelasan materi yang diberikan yaitu adegan Satriya di tengah hutan pada bagian pathet sanga dan adegan perang kembang pada bagian pathet sanga. Namun sebelum memberikan penjelasan tentang materi ini sebagai pengantar akan dijelaskan pengertian unsur-unsur dalam pakeliran Jawa gaya Surakarta. Unsur-unsur dalam pakeliran tersebut adalah. catur atau narasi yang terdiri dari janturan . arasi atau diskripsi adega. , pocapan . iskripsi adega. dan ginem . , sabet atau gerak wayang dan iringan yang terdiri dari sulukan atau vokal dalang dan karawitan. Keempat unsur ini satu sama lain memiliki hubungan sinergis dan organis dalam membentuk kualitas estetik dalam pertunjukan wayang (Sunardi, 2013:. Penjelasan mengenai unsur-unsur pedalangan ini disampaikan kepada seluruh peserta didik, karena walaupun sudah ada yang mempunyai dasar pedalangan namun pengetahuan yang diperoleh tidak melalui pendidikan formal, sehingga materi seperti ini belum diketahui. Langkah selanjutnya peserta diberikan materi dasar dengan mengenalkan dan menjelaskan jenis-jenis sulukan atau vokal dalang yang digunakan, juga dijelaskan nama-nama sulukan tersebut agar peserta didik memahami dan mampu menjelaskan nama sulukan yang telah dipraktekkan. Sulukan yang dimaksud disini adalah golongan atau jenis lagu vokal yang Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 biasanya dinyanyikan oleh dalang untuk membantu memberikan efek suasana tertentu dalam pertunjukan wayang Jawa. Sulukan merupakan iringan dalam pakeliran Jawa mempunyai fungsi sebagai pemantap dalam membentuk suasana pakeliran. Sulukan atau jenis vokal dalang ini pada pakeliran Jawa dibedakan atas tiga jenis, yakni pathetan, ada-ada, dan sendhon. Selain itu dalam pakeliran juga terdapat dua jenis vokal yang disebut kombangan dan tembang. Pathetan, adalah jenis sulukan yang memberi kesan suasana tenang, berwibawa . , dan membangkitkan rasa puas . Instrumen yang mengiringi suluk jenis pathetan meliputi: rebab, gender barung, gambang, suling, dan pada bagian tertentu diiringi kempul, gong dan kendang. Dalam materi pakeliran adegan Perang Kembang atau satrya di tengah hutan ini menggunakan jenis sulukan pathet Sanga Wantah yang dilanjutkan dengan tembang kinanti pada Gending Ketawang Subakastawa. Ada-ada, rasa lagu jenis sulukan ini keras, tegang, tergesa-gesa . ereng, grege. Untuk membangkitkan rasa tersebut, ada-ada dibarengi dengan grimingan gender dan dimantapkan dengan dodogan dan Pada materi adegan Paseban Jawi ini suluk yang digunakan adalah. ada-ada greget saut nem, ada-ada Astkuswala Alit, ada-ada Astakuswala Ageng, dan ada-ada Budhal Mataram. Sulukan ini adalah dasar yang harus dikuasai seorang dalang, maka pada latihan pembinaan materi sulukan lebih diprioritaskan dari materi yang lainnya, setelah materi sulukan dikuasai dengan baru diberikan materi yang lainnya. Terkait dengan sulukan yang juga harus dikuasai adalah dodogan dan keprakan . ada wayang Bali sering disebut klethakan, bunyi keropak yang diinjak kaki dalan. Yang dimaksud dhodhogan-keprakan adalah bunyi yang ditimbulkan oleh suara kotak karena dipukul dengan cempala dan hentakan kepingan logam . yang disepak oleh kaki dalang atau dipukul dengan cempal. Sedang fungsi dodogan dan keprakan diantaranya : Menguatkan suasana tegang. Memberi isyarat kepada pengrawit . untuk sasmita gendhing, perubahan irama, pergantian lagu, sirep . unyi liri. dan suwuk . ending berhenti/selesa. Tanda akhir sulukan. Tanda sekat . dalam dialog wayang. Berikutnya peserta diberikan materi gerak wayang dari masing-masing tokoh yang digunakan dalam adegan, karena gerak wayang harus sesuai dengan karakter tokoh wayang. Selain sulukan dan gerak wayang, peserta didik juga diberikan materi ginem atau dialog dan antawecana, kemudian ketiga elemen ini dipadukan karena dalam pedalangan unsur-unsur harus menjadi satu kesatuan. Seperti yang dijelaskan Blacius Subono . dalam Majalah Jagad Pedalangan dan Pewayangan Cempala, bahwa garap pakeliran dapat dibagi menjadi. Garap Lakon, yang dimaksud adalah gambaran secara garis besar dari perwujudan keseluruhan lakon yang akan ditampilkan. Garap adegan, berkaitan dengan bagaimana menentukan urutan adegan dan memilih adegan-adegan yang ditampilkan agar kesatuan-kesatuan adegan itu dapat menampung nilai-nilai yang diungkapkan. Garap Tokoh adalah usaha penggarap untuk menampilkan perkembangan sikap batin tokoh agar terwujud melalui tindakan lahir. Garap Catur (Antawecan. ungkapan bahasa dalam pakeliran yang terdiri dari ginem . , janturan dan pocapan . Garap iringan, garap karawitan harus disesuiakan dengan suasana adegan dan tokohnya karena fungsi iringan untuk mendukung suasana dalam adegan tertentu. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dru Hendro, dkk: Pembinaan Pelatihan Pakeliran Wayang Jawa Gaya Surakarta. Gerak wayang atau istilah Jawa yang sering dipakai adalah sabet, ini merupakan materi yang paling sulit dan agak memakan waktu lama untuk dipelajari. Sabet yang dimaksud adalah semua gerak dan penampilan boneka wayang di atas panggungan/kelir yang disajikan oleh dalang. Dalam pakeliran Jawa, wayang tidak hanya dilihat dari balik layar atau kelir tetapi juga dari belakang dalang penyaji, oleh karena itu wayang tidak hanya diukir atau ditatah, tetapi juga diberi warna dan disungging . Sabet atau gerak wayang ini ada tiga hal pedoman yang di patuhi oleh calon dalang, yaitu: Greget, gerak wayang harus hidup sesuai dengan keadaan . uka, bahagia, marah asmara, sedih, dan sebagainya ). Saut, sabet . erak wayan. dalam perang harus terampil dan bersih hingga terlihat mantap dimata penonton, penikmat, atau penghayat. Saguh, penampilan wayang diharapkan dapat sesuai dengan perwatakan serta bentuk wayang. Sedangkan ragam dan jenis sabet adalah : Solah, seluruh gerak-gerik wayang di kelir. Solah dalam pakeliran dibedakan menjadi dua, yaitu solah umum dan solah khusus. Yang termasuk solah umum antara lain. wayang berjalan, terbang, menari, capeng, ulap-ulap dan lainnya. Sedangakan yang termasuk solah khusus misalnya. jaranan/kapalan . aik kud. , kiprahan, gleyongan, abur-aburan, dan tayungan. Tanceban, yaitu posisi penancapan wayang pada batang pisang . selama pertunjukan. Tanceban wayang memiliki aturan tertentu yang berkaitan dengan kedudukan, umur, situasi, dan tinggi rendahnya Bedholan, adalah tindakan mencabut wayang dari posisi tanceban . ayang ditancapka. Dalam pertunjukan wayang kulit Jawa Gaya Surakarta untuk bedholan dibedakan atas bedholan jejer dan bedholan bukan jejer. Dalam bedholan jejer, wayang raja dan dayang-dayang sebelah kanan didahulukan, baru tokoh wayang di gawang kiri secara berurutan. Dalam bedholan bukan jejer wayang dicabut dengan bebas sesuai dengan kebutuhan. Entas-entasan, adalah gerak wayang meninggalkan panggung kelir. Hal penting diperhatikan adalah efek bayangan wayang pada kelir. Selain ragam/jenis sabetan di atas, terdapat tingkatan keterampilan teknik sabetan. (Bambang Suwarno, 2. menyebutkan bahwa tataran keterampilan sabetan secara hirarkis dapat dikelompokkan dalam tiga tahapan, yaitu. psikomotorik, afektif, dan kognitif. Untuk dapat mewujudkan sabetan yang terampil dan menyentuh rasa hayatan, ketiga tahapan ini perlu dikuasai oleh dalang. Fungsi sabet atau gerak wayang tersebut adalah menjadikan wayang tampak hidup sesuai perwatakan dan situasi batin tokoh serta adegan tertentu, memberikan gambaran tentang perbuatan tokoh wayang, misalnya. arian tokoh wayang tertentu dalam pertunjukan pakeliran Jaw. , abur-aburan . degan gerak wayang terban. , dan lain-lain. Tahap selanjutnya materi-materi tersebut digabungkan dan dilakukan pengulangan-pengulangan. Setelah peserta mampu menguasai materi, baru diiringi dengan gamelan secara langsung untuk melatih kepekaan terhadap laras atau nada dan juga untuk melatih irama dan tempo. Tahap ini dilakukan secara berulang-ulang sampai peserta mampu mempraktekkan. Kesempatan beristirahat selalu digunakan untuk berdiskusi atau tanya jawab antara pembina dengan peserta mengenai hal-hal yang belum jelas materi yang telah diberikan. Sebagai tahap akhir peserta dicoba satu-persatu mendemonstrasikan seluruh materi yang telah diberikan dengan iringan gamelan lengkap, untuk mengetahui kemampuan peserta menerima materi juga untuk mengetahui apakah materi tersebut bisa dikuasai Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 oleh peserta didik. Secara rinci Pelatihan Pakeliran Jawa dan Iringannya dengan tahapan-tahapan sebagai Pada Hari Sabtu, 1 April 2023 tim pembina bertemu dengan Ketua Sanggar Paripurna Bapak I Made Sidia, membahas jadwal pelaksanaan kegiatan PKM dengan peserta didik Sanggar Paripurna. Dalam pertemuan tersebut telah disepakati bahwa pelatihan dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu pada 00 sampai pada jam 22. 00 WITA. Materi pelatihan yang diberikan oleh pembina, selain materi tentang pakeliran wayang Jawa, juga diberikan materi karawitan pakeliran atau tabuh karawitan untuk mendukung sajian pertunjukan wayang Jawa. Gambar 1. Pertemuan Tim Pembina dengan Ketua Sanggar Paripurna (Foto Oleh: Dru Hendro. April 2. Gambar 2. Pertemuan Tim Pembina dengan Mitra dan Peserta PKM (Foto Oleh: Dru Hendro. April 2. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dru Hendro, dkk: Pembinaan Pelatihan Pakeliran Wayang Jawa Gaya Surakarta. Pada hari Minggu, 9 April 2023 pertemuan awal dengan peserta didik kegiatan PKM, perkenalan, bahas jadwal pelatihan dan materi pelatihan Pakeliran Jawa. Dalam pertemuan ini pembina memberikan penjelasan materi yang akan diberikan dalam pelatihan baik tentang pakeliran wayang Jawa maupun tabuh karawitan sebagai iringan wayang. Pelatihan dimulai dengan pemahaman dasar-dasar pakeliran Jawa dari unsur-unsur dalam pakeliran yang meliputi. Catur. Sabet dan Iringan. Sedangkan Karawitan atau iringan dalam pakeliran terdiri dari tabuh Patalon atau gending pembuka yang terdiri dari Ayakayak Manyura. Srepeg Manyura, dan Sampak Manyura. Materi ini diberikan kepada peserta sebagai calon dalang dan para penabuh yang mengiringi pakeliran. Gambar 3. Pertemuan awal/pembukaan PKM ditandai dengan penyerahan gunungan wayang. (Foto Oleh: Dru Hendro. Mei 2. Gambar 4. Pembina sedang menjelaskan materi pelatihan kepada seluruh peserta PKM disaksikan Ketua Sanggar Paripurna. (Foto Oleh: Dru Hendro. Mei 2. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Hari Sabtu, 6 Mei 2023, pengenalan teknik dasar pakeliran Jawa pada struktur dan pola adegan pada bagian pathet sanga yaitu pada adegan Alas-alasan Satriya di tengah hutan bersama empat punakawan. Tokoh Arjuna. Tokoh Semar. Gareng. Petruk dan Bagong. Pada adegan digambarkan Arjuna sedang di tengah hutan yang diiring empat Punakawan. Pertemuan yang ketiga ini pembina memberikan pelatihan teknik dasar memainkan wayang Jawa dengan berbagai karakter, yaitu antara tokoh satriya dan Peserta mulai belajar memahami gerakan satriya halus seperti Arjuna, gerakan halus dengan penuh kesabaran ketika menggerakkan tokoh tersebut. Karena teknik memegang wayang Bali dan Jawa berbeda, maka peserta pelatihan benar-benar memperhatikan setiap gerakannya. Kemudian selanjutnya pengenalan gerak tokoh punakawan yang mempunyai banyak ragam gerak. Gambar 5. Pembina sedang memberikan contoh gerakan tokoh Arjuna (Foto Oleh: Dru Hendro. Mei 2. Gambar 6. Pembina memberikan arahan teknik gerak wayang tokoh Arjuna (Foto Oleh: Dru Hendro. Mei 2. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dru Hendro, dkk: Pembinaan Pelatihan Pakeliran Wayang Jawa Gaya Surakarta. KESIMPULAN Program kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang merupakan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diharapkan dan dibutuhkan oleh masyarakat. Terbukti masyarakat warga Sanggar Paripurna sangat membutuhkan kegiatan pembinaan pedalangan Jawa dengan sangat antusias. Karena kebetulan materi kegiatan yang disampaikan saat ini tentang pedalangan yang ditunggu oleh masyarakat Sanggar Paripurna. Pembinaan pedalangan Jawa yang merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah bagian dari cara memupuk dan menumbuhkembangkan bakat dan potensi yang ada pada warga masyarakat yang sudah lama memerlukan pembinaan. Disamping itu juga ikut serta dalam rangka melestarikan dan mengembangkan seni tradisi pedalangan Jawa yang ada di Bali, sehingga generasi warga pendatang yang terhimpun dalam wadah Sanggar Paripurna tidak kehilangan jejak seni tradisi pewayangan yang dimiliki oleh Pemilihan tempat pelaksanaan kegiatan pembinaan saat ini adalah Sanggar Paripurna merupakan pilihan yang tepat karena Sanggar Paripurna tersebut satu-satunya sanggar yang ada di Bali yang masih eksis melaksanakan kegiatan berkesenian, bukan hanya seni tradisi daerah Bali saja, tetapi juga mengembangkan seni lain daerah untuk bisa dipelajari peserta didiknya. Hal ini terbukti dengan Sanggar Paripurna sebagai salah satu sanggar yang memiliki seperangkat gamelan Jawa dan wayang Jawa yang paling sering melakukan kegiatan pentas kesenian untuk berbagai kepentingan. Sanggar Paripurna memiliki peserta didik di bidang pedalangan tidak terbatas pada usia dewasa saja, namun juga ada anak-anak muda yang berbakat dan tertarik untuk belajar pedalangan. Pada awalnya kegiatan pembinaan pedalangan ini hanya diperuntukkan pada usia dewasa, namun ternyata anak-anak muda juga tertarik untuk belajar. Maka, anak-anak muda digabungkan dengan peserta usia dewasa untuk mengikuti kegiatan ini. Karena terbatasnya waktu latihan yang hanya 14 kali pertemuan diharapkan materi yang diberikan dapat terselesaikan dengan waktu yang tersedia, maka pada kegiatan kali ini dipilih materi yang pendek dengan mengambil dua adegan pada struktur pertunjukan wayang Jawa yaitu adegan Satriya di tengah hutan dan adegan Perang Kembang bagian pathet sanga. Untuk mencapai hasil yang diharapkan pada kegiatan ini digunakan metode ceramah untuk menjelaskan latar belakang materi. Untuk latihan peserta menggunakan metode demonstrasi yakni pembina memberi contoh langsung materi yang diberikan dan diikuti oleh peserta. Sebagai metode yang terakhir adalah metode evaluasi yaitu untuk mengetahui seberapa jauh peserta mampu menguasai untuk mendemonstrasikan materi yang telah diberikan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini hendaknya terus dilakukan secara berkelanjutan karena masyarakat sangat membutuhkan pembinaan kesenian dari lembaga yang berkompeten di bidangnya tidak lain adalah lembaga Institut Seni Indonesia Denpasar. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 DAFTAR PUSTAKA