Iskandar, dkk/Tropical Animal Science 6. : 85-93 Tropical Animal Science. November 2024, 6. : 85-93 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas PENGARUH PENAMBAHAN EM4 TERHADAP pH. BAKTERI ASAM LAKTAT DAN PRODUKSI GAS SILASE PAKAN LENGKAP BERBASIS RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureu. THE EFFECT OF ADDING EM4 ON pH VALUE. LACTIC ACID BACTERIA AND GAS PRODUCTION OF COMPLETE FEED SILAGE BASED ON Pennisetum purpureum Dodik Maulana Iskandar1. Artharini Irsyammawati2. Ifar Subagiyo2 1 Program Studi Peternakan. Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya. Malang 2Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya. Malang E-mail korespondensi: dodik. maulana@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan EM4 dalam silase pakan lengkap berbasis rumput gajah terhadap pH, kandungan bakteri asam laktat dan produksi gas secara in vitro. Materi yang digunakan adalah rumput gajah (Pennisetum purpureu. , kaliandra (Calliandra calothyrsu. , konsentrat dan EM4. Metode penelitian yang digunakan ialah metode percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap untuk pH dan kandungan bakteri asam laktat dan Rancangan Acak Kelompok untuk produksi gas yang terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuannya adalah tanpa penambahan EM4 (P. , penambahan EM4 sebanyak 4% (P. , penambahan EM4 sebanyak 6% (P. dan penambahan EM4 sebanyak 8% (P. Variabel yang diamati dalam penelitian meliputi pH, kandungan bakteri asam laktat dan produksi gas. Data yang diperoleh di Analisa menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penambahan EM4 memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,. terhadap nilai pH, pada perlakuan P0. P1. P2 dan P3 berturut-turut adalah . ,88 A 0,. , . ,53A 0,. , . ,48 A 0,. ,23 A 0,09%) namun tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap kandungan bakteri asam laktat. Pada uji produksi gas, perlakuan memberikan perlakuan yang nyata (P<0,. dengan rataan P0. P1. P2 dan P3 secara berturut-turut adalah . ,1813 A 6,61 ml/500 m. , . ,1406 A 10,50 ml/500 mg BK), . ,5061 A 1,02 ml/500 mg BK) dan . ,7349 A 1,35 ml/500 mg BK). Disimpulkan bahwa penambahan EM4 berpengaruh terhadap nilai pH dan produksi gas secara in vitro, serta tidak memberikan pengaruh terhadap kandungan bakteri asam laktat silase pakan lengkap berbasis rumput gajah. Disarankan untuk penggunaan EM4 4% cfu/ml dalam pembuatan silase rumput gajah, kaliandra dan konsentrat sebagai pakan lengkap untuk sapi perah, karena dengan konsentrasi tersebut menunjukkan hasil yang terbaik. Kata Kunci : Silase. Pakan Lengkap, nilai pH. Bakteri Asam Laktat. Produksi Gas Iskandar, dkk/Tropical Animal Science 6. : 85-93 ABSTRACT This research aimed at finding the effect of adding EM4 on complete feed silage based on Pennisetum purpureum on pH value, lactic acid bacteria content and gas production. The research was carried out at Feed and Animal Nutrition Laboratory. Faculty of Animal Science. Brawijaya University from Desember 2019 to Januari 2020. In this research use elephant grass (Pennisetum purpureu. , concentrate and calliandra (Calliandra calothyrsu. A Completely Randomized Design was employed, if there were significant influence continue with DuncanAos Multiple Range Test Method. The four treatments comparised T 0 (Pennisetum purpureum Calliandra calothyrsus concentrat. T1 (Pennisetum purpureum Calliandra calothyrsus concentrate EM4 4%). T2 (Pennisetum purpureum Calliandra calothyrsus concentrate EM4 6%) and T3 (Pennisetum purpureum Calliandra calothyrsus concentrate EM4 8%). The resulted silage treatment gave a higly significant effect (P<0. on pH value and gave significant effect (P<0. on gas production, but did no effect (P>0. on lactic acid bacteria content. The best value based on pH value was showed by T 3 and based gas production was showed by T0. It can be concluded that adding various level EM4 into complete feed silage based on elephant grass gave effect on pH value and gas production and no effect on lactic acid bacteria Complete feed silage based 50% of elephant grass, 10. 5% of Calliandra and 39. 5% of concentrate with EM4 4% (T. could be recommended for dairy cattle feed. Keywords: Silage. Complete feed, pH Value. Lactic Acid Bacteria. Gas Production PENDAHULUAN Ternak hijauan untuk memenuhi kebutuhan serat serta leguminosa dalam jumlah tertentu sebagai sumber protein di dalam pakan. Salah satu hijauan yang sering digunakan oleh peternak adalah rumput gajah (Pennisetum purpureu. Menurut Dumadi, dkk . kandungan nutrisi rumput gajah adalah sebagai berikut BK 18,41Ae28,30%. PK 8,89Ae17,35%, dan SK 16,24Ae 34,94%. Untuk menunjang kualitas dari hijauan perlu adanya variasi dalam pakan, salah satunya dengan menambahkan leguminosa yang dapat meningkatkan kualitas nutrisi, sehingga dapat menutupi kekurangan protein dalam rumput gajah. Salah satu leguminosa yang sering dijumpai adalah (Calliandra Berdasarkan penelitian dari Abqoriah. Utomo dan Suwignyo . bahwa, bahan kering dari kaliandra sebesar 26-28% dengan kadar protein kasar sebesar 18-21%. Namun ketersediaan dari hijauan bersifat musiman, dimana produksi hijauan pakan ternak berlimpah saat musim penghujan sedangkan di musim kemarau produksi Oleh karena itu perlu adanya pengolahan lebih lanjut seperti pembuatan silase pakan lengkap. Silase pakan lengkap merupakan silase yang mengandung semua nutrient yang dibutuhkan oleh ternak yang terdiri dari campuran beberapa bahan pakan seperti rumput dan konsentrat. Menurut Suliantari dan Rahayu dalam Koten . bahwa proses fermentasi dapat memperbaiki sifat dasar bahan pakan seperti meningkatkan beracun/anti nutrisi, menghilangkan bau dan meningkatkan flavour sehingga selain memperbaiki kandungan nutrisi dan Dalam pembuatan silase, penambahan starter EM4 mempercepat suasana asam dalam proses Bakteri Asam Laktat (BAL) dalam Iskandar, dkk/Tropical Animal Science 6. : 85-93 EM4 pertumbuhan bakteri pembusuk dan bakteri patogen, sehingga pakan menjadi awet. Larutan EM4 merupakan suatu kultur campuran berbagai mikroorganisme yang bermanfaat terutama Lactobacillus, bakteri fotosintetik. Actynomycetes, ragi dan jamur fermentasi (Telew. Kereh. Untu dan Rembet, 2. Nilai pH merupakan salah satu indikator keberhasilan silase. Menurut Herlinae. Yemina dan Harat . bahwa nilai pH yang turun pada awal ensilase sangat bermanfaat untuk mencegah perombakan Uji merupakan salah satu metode untuk menguji kualitas pada suatu pakan. Menurut Kurniawati . bahwa produksi gas dapat digunakan untuk mengestimasi bahan pakan tercerna. Terdapat korelasi positif antara volume produksi gas dan nilai kecernaan bahan pakan serta pertumbuhan Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian terkait pengaruh penambahan EM4 terhadap pH, kandungan bakteri asam laktat dan produksi gas silase pakan lengkap berbasis rumput gajah (Pennisetum purpureu. MATERI DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan pada 20 Desember 2019 sampai dengan 29 Januari Pelaksanaan pembuatan silase pakan lengkap berbasis rumput gajah, uji pH dan produksi gas dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya, sedangkan analisa kandungan bakteri asam laktat di Laboratorium Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Brawijaya. Bahan yang digunakan yaitu rumput gajah dengan umur panen 60 hari dan Kaliandra yang diperoleh dari desa Tejowangi. Pasuruan. Konsentrat dan EM4 yang berasal dari toko Peternakan Berkah. Pujon. Kota Batu. Peralatan yang digunakan yaitu seperangkat alat pembuatan silase pakan lengkap, seperangkat uji pH dan seperangkat alat uji produksi gas. Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk pH dan kandungan bakteri asam laktat dan Rancangan Acak Kelompok untuk produksi gas dengan 4 perlakuan dan 4 Susunan perlakuan yang digunakan adalah P0: Rumput gajah 50% Kaliandra 10,5 % Konsentrat 39,5 % EM4 0% v/w. P1: Rumput gajah 50 % Kaliandra 10,5 % Konsentrat 39,5 % EM4 4%. P2: Rumput gajah 50 % Kaliandra 10,5 % Konsentrat 39,5 % EM4 6% dan P3: Rumput gajah 50 % Kaliandra 10,5 % Konsentrat 39,5 % EM4 Kandungan nutrisi hijauan, konsentrat dan total BAL EM4 yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1. dan Tabel 2. Tabel 1. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Kandungan Nutrisi BO* PK* (%) Pennisetum purpureum 14,14 (%) (%) (%) 84,75 11,59 23,45 92,46 25,62 11,49 94,57 24,20 9,58 Bahan Pakan Calliandra 27,36 Konsentrat 87,22 Sumber: Hasil analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya . *) berdasarkan 100% BK Tabel 2. Kandungan Total BAL EM4 Total BAL . fu/m. EM4 3,9 x 101 Sumber: Hasil analisis total BAL di Laboratorium PengujianMutu Keamanan Pangan. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Brawijaya . Inokulan Iskandar, dkk/Tropical Animal Science 6. : 85-93 Pakan kandungan BK sebesar 500g dan PK sebesar 18%, kemudian silase pakan lengkap ditambahkan EM4 sesuai dengan perlakuan dan di inkubasi selama 21 hari. Berikut merupakan kandungan nutrisi silase pakan lengkap setelah inkubasi 21 hari disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Kandungan nutrisi silase pakan lengkap setelah inkubasi 21 hari. Perlakuan (%) (%) (%) (%) 34,05 88,53 17,57 16,79 32,65 89,54 17,06 14,64 37,23 89,03 13,28 14,49 29,95 89,09 19,74 14,06 Sumber: Hasil analisis proksimat di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya Variabel penelitian yaitu nilai pH, kandungan bakteri asam laktat dan produksi gas. Data yang diperoleh diolah menggunakan MS. Excel dan aplikasi spss dengan analisis statistik menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan jika ada perbedaan secara nyata dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai pH Berikut rataan nilai pH silase pakan lengkap disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Rataan nilai pH dengan penambahan berbagai level EM4 pada masing-masing perlakuan. Perlakuan Nilai pH 4,88 A 0,12c 4,53 A 0,08bc 4,48 A 0,08b 4,23 A 0,09a Keterangan: Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,. Tabel 4. menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P < 0,. terhadap nilai pH. P3 menunjukkan nilai pH terendah yaitu sebesar 4,23 dan nilai tertinggi ditunjukkan oleh P0 yaitu sebesar 4,88. Nilai pH . erajat keasama. merupakan salah satu indikator atau parameter untuk mengetahui pengaruh proses ensilase terhadap nilai nutrien pada silase berkadar air tinggi, pH lebih rendah menunjukkan kualitas lebih baik. Perlakuan terbaik ditunjukkan pada perlakuan P3 bahwa dengan penambahan EM4 sebanyak 8%, mampu menurunkan pH menjadi lebih rendah daripada perlakuan lainnya dan termasuk dalam kriteria baik, sedangkan pada perlakuan P0 termasuk kualitas buruk. Menurut Septian, dkk. kualitas silase dapat digolongkan menjadi 3 kriteria berdasarkan pH, yaitu: kualitas baik sekali . H 3,2-4,. , kualitas baik . H 4,2-4,. , kualitas buruk . H > 4,. Hal ini didukung oleh Herawati dan Royani . bahwa kriteria silase yang baik yaitu berwarna hijau kekuningan dan memiliki nilai pH 3,8 - 4,2. Pada perlakuan P3, nilai pH lebih tinggi dari penelitian yang dilaporkan oleh Qadarullah, dkk. bahwa nilai pH silase pakan lengkap menunjukkan nilai 3,83 dengan penambahan molases serta daun lamtoro dan jerami padi. Hal ini digunakan seperti penggunaan leguminosa dalam silase pakan lengkap dalam pembuatan silase pakan lengkap yang dapat mempengaruhi nilai pH silase. Menurut Fauzia. Sandiah dan Kurniawan . leguminosa dalam pakan dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah terkait Iskandar, dkk/Tropical Animal Science 6. : 85-93 menurunkan pH silase akibat sifat basa dari N . Pada perlakuan P0 menunjukkan nilai pH 4,88 lebih tinggi dari lainnya. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan tersebut merupakan perlakuan kontrol dimana tanpa adanya penambahan EM4. Berdasarkan Santoso dkk. bahwa derajat keasaman . H) yang cenderung tetap/tinggi (>4,. menyebabkan bakteri pembusuk dapat berkembang dan hidup pada lingkungan tersebut, sedangkan nilai pH silase yang rendah (<. akan menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan seperti Clostridium dan Enterobacterium. Tahapan proses terjadinya silase, semakin cepat menurunnya pH akan diikuti semakin cepat berakhimya perombakan bahan substrat turun pada fase aerob seperti diketahui pada fase aerob terjadi kehilangan bahan kering yang paling besar. Ketika pH telah asam oleh adanya asam laktat yang diproduksi oleh bakteri asam laktat maka proses perombakan tadi berhenti dan silase menjadi stabil . idak terjadi perombakan lagi karena pH nya turu. (Sandi, dkk. Kandungan Bakteri Asam Laktat Berikut rataan kandungan bakteri asam laktat silase pakan lengkap dengan penambahan EM4 yang berbeda disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Rataan kandungan bakteri asam laktat silase pakan lengkap. Perlakuan Kandungan Bakteri Asam Laktat . 3,50 x 107 A 1,32 3,13 x 107 A 0,58 2,38 x 107 A 0,79 2,35 x 107 A 0,55 Tabel 5. menunjukkan bahwa perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan rata-rata 2,84 x 107 A 0,81 cfu/g. Total BAL dari silase pakan lengkap diketahui meningkat dari total BAL dari inokulan (EM. sebesar 3,9 x 101 cfu/ml. Waktu pertumbuhan asam laktat. Lama waktu pertumbuhan bakteri asam laktat, dimana semakin lama fermentasi maka semakin banyak waktu yang diperlukan oleh bakteri asam laktat untuk berkembang didalam substrat, sehingga populasi bakteri asam laktat semakin meningkat (Fariani dan Akhadiarto, 2. Menurut Surono, dkk. bahwa asam laktat dalam proses ensilase dihasilkan dari komponen bahan organik terutama karbohidrat, sehingga meningkatnya pembentukan asam laktat dan turunnya pH merupakan indikasi bahwa banyak BO yang digunakan untuk ensilase yang selanjutnya merupakan penyebab kehilangan BO. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Septian, dkk. bahwa populasi BAL silase pakan lengkap dengan penambahan aditif dedak, onggok dan pollard menghasilkan sebanyak 7,10 x108 cfu/g dan penelitian Fariani dan Akhadiarto . bahwa silase limbah pucuk tebu dengan bakteri asam laktat yang terseleksi mengandung 10 x 106 cfu/g. Perbedaan ini disebabkan oleh jenis starter dan bahan pakan penyusun silase yang berbeda. Produksi Gas Berikut hasil perhitungan gas total selama inkubasi 48 jam disajikan pada Tabel Iskandar, dkk/Tropical Animal Science 6. : 85-93 Tabel 6. Produksi gas total, nilai potensi produksi gas . dan nilai laju produksi gas . secara in vitro masa inkubasi 48 jam. Rataan gas total . l/500mg BK) b . l/ja. raksi/ja. 103,1813 A 6,61b 161,8977 A 20,65 0,0220 A 0,0034ab 99,1406 A 10,50b 130,8137 A 17,91 0,0347 A 0,0099b 82,5061 A 1,02a 169,4847 A 5,06 0,0143 A 0,0006a 89,7349 A 1,35ab 151,3183 A 29,66 0,0190 A 0,0004a Perlakuan Keterangan: Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,. Berdasarkan Tabel 6. bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,. terhadap nilai produksi gas total. Perlakuan P0 dan P1 menunjukkan nilai produksi gas sebesar 103,1813 ml/500 mg BK dan 99,1406 ml/500 mg BK yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya sedangkan produksi gas terendah ditunjukkan pada P2 dengan produksi gas total sebesar 82,5061 ml/500 mg BK. Tingginya nilai produksi gas pada perlakuan menunjukkan nilai kecernaan dimana semakin tinggi nilai produksi gas, maka mengindikasikan kecernaan yang perombakan pakan oleh mikroba rumen. Hal ini didukung oleh Blymmel and yorskov . bahwa volume gas dapat digunakan sebagai indikator kecernaan semu dalam rumen sementara bahan kering residu hilang membentuk kecernaan murni. Menurut Makkar et. bahwa tingginya degradasi pakan yang tidak diikuti dengan peningkatan produksi gas mengindikasikan bahwa hasil degradasi banyak dimanfaatkan untuk sintesis protein mikrobial, bahan organik dalam pakan yang telah mengalami degradasi oleh mikroba rumen akan dikonversi menjadi produk akhir berupa energi hasil degradasi komponen karbohidrat dan amonia yang merupakan produk hasil degradasi fraksi protein atau sumber nitrogen lain. Perlakuan kontrol (P. menunjukkan nilai produksi gas lebih tinggi daripada P3. Hal ini sesuai dengan Muck. Filya dan Contreas . bahwa Penggunaan L. plantarum dan pentosus pada silase memiliki hasil produksi gas total yang selalu rendah dibandingkan dengan kontrol, hasil dalam penelitian tersebut memiliki nilai produksi gas pada jam ke-48 yang berkisar antara 168,7 Ae 174,0 ml/g BK dan memiliki produksi gas kontrol sebesar 180,8 ml/g BK. Tabel 6. menunjukkan nilai b pada silase perbedaan yang nyata dengan kisaran 130,8137-169,4847 ml/jam. Nilai b . otensi produksi ga. lebih besar dari nilai total produksi gas. Hal ini diduga masih ada pakan yang tidak larut dalam rumen namun terfermentasi dan menghasilkan gas. Menurut Mukmin. Hendrawan. Kusmartono Mashudi . menyatakan nilai parameter b yang tinggi menunjukkan tingginya partikel pakan yang tidak terlarut tetapi berpotensi terfermentasi di dalam rumen sehingga menghasilkan gas. Hal tersebut juga didukung oleh Makkar . nilai b produksi gas tergantung pada proporsi terdegradasi dan tidak dapat terdegradasi dari pakan. Nilai c pada silase pakan lengkap menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kisaran antara 0,0190 - 0,0347 fraksi/jam. Nilai c merupakan laju produksi gas yang menunjukkan aktivitas mikroba rumen dalam waktu tertentu. Hal ini sesuai dengan yorskov and McDonald . Iskandar, dkk/Tropical Animal Science 6. : 85-93 bahwa nilai c merupakan nilai laju produksi gas yang didegradasi dalam satuan waktu tertentu, produksi gas menggambarkan tingkat proses fermentasi yang terjadi sehingga diperoleh informasi mengenai laju produksi gas sesuai dengan sifat kimia bahan pakan yang diujikan. Laju produksi gas pada perlakuan menggambarkan dinamika peningkatan produksi gas yang terjadi pada waktu inkubasi 0-48 jam. Hal tersebut sesuai dengan Ramdani. Marjuki dan Chuzaemi . bahwa nilai parameter degradasi terdiri atas nilai a, b dan c yang dihitung melalui persamaan yorskov et al. yaitu Y = a b . -e-c. dan nilai c merupakan nilai laju produksi gas yang menggambarkan dinamika peningkatan produksi gas yang terjadi pada waktu inkubasi 0-48 jam. Pada perlakuan P1 yang ditunjukkan pada Tabel 6. merupakan laju produksi gas lebih tinggi daripada perlakuan lainnya dengan nilai c sebesar 0,0347 fraksi/jam yang mengindikasikan aktivitas mikroba lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya sehingga pakan terdegradasi lebih cepat dari perlakuan Hal ini sesuai dengan Hariyani dan Chuzaemi . bahwa nilai c yang tinggi menunjukkan bahwa pakan tersebut didegradasi dengan cepat dalam satuan waktu tertentu. Rendahnya nilai c seperti pada perlakuan P2 dapat menyebabkan nilai kecernaan menjadi turun. Hal tersebut sesuai dengan Nuswantara. Soejono. Utomo dan Widyobroto . bahwa kecernaan pakan dipengaruhi oleh laju degradasi pakan dalam rumen, serta rendahnya kecepatan degradasi akan menyebabkan terjadinya penurunan kecernaan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa penambahan EM4 dalam pembuatan silase pakan lengkap berbasis rumput gajah memberikan pengaruh terhadap pH, produksi gas dan tidak memberikan pengaruh terhadap kandungan bakteri asam laktat dengan level pemberian terbaik sebesar 4% v/w. Pembuatan silase pakan lengkap berbasis rumput gajah dengan penambahan EM4 sebanyak 4% v/w disarankankan untuk digunakan oleh peternak sapi perah, karena dengan konsentrasi tersebut menunjukkan hasil yang terbaik. DAFTAR PUSTAKA