Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan (JIPPER) ISSN 3031-5883. Vol 1. No 1, 2023, 9-18 https://doi. org/10. 35912/jipper. Analisis Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Bawang Merah di Kelurahan Mataran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang (Analysis of Income and Level of Welfare of Red Onion Farming Households in Mataran Village. Anggeraja SubDistrict. Enrekang Distric. Nurhaedah NurhaedahA. Irmayani Irmayani2*. Ruslang Ruslang3. Jumrah Jumrah 4 Universitas Muhammadiyah Parepare. Sulawesi Selatan1,2,3,4 irmaumpar@yahoo. Abstract Purpose: This study aims to analyze the income and welfare levels of shallot farmer households in Mataran Village. Anggeraja District. Enrekang Regency. Research Methodology: The research adopts a quantitative approach using observations, interviews, and structured questionnaires as data collection methods. The study was conducted from November to December 2022 with a population of 350 shallot farmer households. A sample of 35 farmers was selected randomly. The analysis focused on calculating production costs, revenues, income, and evaluating the welfare level of farmer households based on income-to-cost ratios. Riwayat Artikel Diterima pada 07 Juni 2023 Results: The findings show that the total cost incurred by farmers Revisi 1 pada 14 Juni 2023 was Rp. 863,594,343, while total revenue reached Rp. Revisi 2 pada 20 Juni 2023 1,936,200,000, resulting in an income of Rp. 1,072,605,657. The Revisi 3 pada 25 Juni 2023 revenue-to-cost ratio was 2. 24 > 1, indicating that shallot farming is Disetujui pada 09 Juli 2023 Furthermore, the welfare analysis reveals that the majority of farmer households in the study area were categorized as prosperous, based on income levels and their ability to meet household needs. Conclusion: Shallot farming in Mataran Village provides significant profits and contributes positively to improving the welfare of farmer households. The high income-to-cost ratio highlights shallot cultivation as a viable agricultural livelihood in the region. Limitations: This study is limited to a small sample size of 35 respondents and only considers monetary indicators of welfare, excluding broader social and environmental factors. Contribution: The research provides empirical evidence on the profitability of shallot farming and its role in enhancing rural household welfare, serving as a reference for agricultural policy development and rural economic planning. Keywords: Farming. Feasibility. Household Welfare Level. Income. Shallot Farmers. How to cite: Nurhaedah. Irmayani. Ruslang. Jumrah. Analisis Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Bawang Merah di Kelurahan Mataran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan,1. , 9-18. Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang dikenal sebagai negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian baik sebagai sumber mata pencaharian maupun sebagai penopang pembangunan. Dalam perekonomian Indonesia khususnya di bidang hortikultura, bawang merah memegang peranan penting yang mampu memberikan kontribusi cukup tinggi di Indonesia sektor pertanian di bagi menjadi lima subsektor yaitu subsektor pertanian pangan, subsektor perkebunan, subsektor kehutanan, subsektor peternakan dan subsektor perikanan. Pertanian di Indonesia semakin berkembang seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan perkembangan teknologi untuk meningkatkan hasil produksi pertanian (Riadi. Rohmah Nurazizah. Wakano, & Fadilah, 2. Komoditas hortikultura adalah komoditas potensial yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Salah satu komoditas hortikultura yang potensial untuk dikembangkan adalah bawang merah. Bawang merah digunakan sebagai bahan pokok bumbu penyedap masakan sehari-hari dan dapat digunakan sebagai obat tradisional. Komoditas bawang merah memiliki nilai ekonomis yang tinggi, baik ditinjau dari sisi pemenuhan konsumsi nasional, sumber penghasilan petani, maupun potensinya sebagai penghasil devisa negara (Iriani, 2. Konsumsi bawang merah semakin hari semakin meningkat bersamaan dengan pertumbuhan penduduk dan pesatnya pertumbuhan industri olahan. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan bawang merah sebagai bumbu masakan sehari-hari dan industri olahan masih mengalami Produksi bawang merah di Indonesia masih bersifat musiman seperti hasil pertanian pada Hal ini menyebabkan kebutuhan bawang merah masyarakat Indonesia di luar musim panen tidak dapat dipenuhi sehingga untuk memenuhinya perlu dilakukan tindakan impor (Fauzan, 2. Usahatani bawang merah memerlukan kinerja manusia yang memiliki kemampuan dalam mengolah setiap usahanya. Yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya, mengoptimalkan keadaan lahan yang ada, penerapan pupuk yang didukung oleh tenaga kerja yang memiliki keproduktifan tinggi hingga keperluan pangan dapat tercapai dan terpenuhi secara substansial. Kelompok usahatani sering mengalami masalah terhadap kelangsungan hidup petani bawang merah yang sering mengalami Seperti pada saat panen tiba hasilnya banyak sedangkan harga tiba- tiba turun dan hasil produksi yang di perkirakan tidak sesuai dengan jumlah produksi yang di hasilkan petani bawang merah (Suratiya, 2. Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi penghasil bawang merah yang memiliki potensi pengembangan bawang merah yang cukup besar. Produksi bawang merah di Sulawesi Selatan dihasilkan di Kabupaten Bulukumba. Bantaeng. Sinjai. Pinrang. Luwutara. Toraja. Enrekang, dan Gowa dengan produksi sebanyak 92. 392,4 ton pada tahun 2018, di tahun 2019 meningkat 101. ton , di tahun 2020 semakin meningkat sebanyak 121. 381,2 ton. (Direktorat Jenderal Perkebunan Sulawesi Selata. dengan fluktuasi atau keadaan seperti ini sehingga akan mempengaruhi penawaran bawang merah. Kabupaten Enrekang adalah salah satu kabupaten yang terletak di sebelah timur dari Provinsi Sulawesi Selatan. Kondisi sektor pertanian yang menonjol dalam struktur ekonomi Kabupaten Enrekang sangat relevan apabila sektor pertanian di kembangkan sebagai sektor unggulan yang dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan ekonomi daerah. Dengan memperhatikan potensi yang ada seperti luas lahan pertanian dan mata pencaharian. Sebagian besar penduduk adalah bertani keunggulan sektor pertanian dibandingkan dengan sektor-sektor lain di dalam perekonomian yaitu produksi pertanian yang berbasis pada sumber daya domestik (Ramlan. Irmayani, & Nurhaeda, 2. Kabupaten Enrekang adalah daerah yang sangat potensial terhadap produksi bawang merah karena merupakan salah satu sumber mata pencarian yang paling banyak dibudidayakan petani khususnya di Kelurahan Mataran Kecamatan Angeraja Kabupaten Enrekang karena sesuai dengan letak geografis hal tersebut dapat dilihat dari sumber daya di daerah ini yang cukup besar pada budidaya bawang merah sehingga dapat memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perekonomian masyarakat di daerah ini (Marhaen. Kusmiadi, & Ropalia, 2. Luas lahan dan produksi bawang merah per-Kecamatan Kabupaten Enrekang dan tabel produksi di Kelurahan Mataran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Meode Penelitian 1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian telah dilaksanakan selama dua bulan pada bulan November sampai Desember 2022 di Kelurahan Mataran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Alasan penulis memilih lokasi 2023 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan | / Vol 1 No 1, 9-18 penelitian dikarenakan di Kelurahan Mataran merupakan salah satu penghasil bawang merah terbesar di Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang dan merupakan salah satu Kelurahan yang bergerak dalam bidang perkebunan dengan usaha tani budidaya bawang merah. 2 Populasi dan Sampel Populasi responden yang digunakan adalah petani bawang merah dilokasi sebanyak 350 orang, maka jumlah sampel yang diambil sebesar 10% sehingga sampel penelitian sekitar 35 orang. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto . yang menyatakan bahwa apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subjeknya besar atau lebih dari 100 dapat digunakan sampel. Sampel diambil antara 10%-15% hingga 20%-25% atau bahkan lebih dari 25% dari jumlah populasi. 3 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif adalah suatu proses yang menggunakan data berupa angka atau bilangan seperti data pendapatan petani bawang merah dan data lainnya yang terkait. (Kasiram 2. 4 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data oleh penelitian ini adalah sebagai berikut: Observasi Teknik observasi dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara langsung kelapangan. Interview Teknik interview dilakukan dengan mengadakan wawancara secara langsung ke responden. Dokumentasi Dokumen adalah pengambilan data berupa dokumen-dukumen yang dibutuhkan baik dari perpustakaan maupun yang berasal dari Kelurahan Mataran. 5 Teknik Pengolahan dan Analisi data Adapun teknik pengolahan dan analisis data yang penulis gunakan yaitu: Total penerimaan TR = P x Q Keterangan TR (TotalRevenu. P . Q (Quantut. Total biaya : Total penerimaan (R. : Total harga (R. : Jumlah barang (R. TC = TFC TVC Keterangan TC (Total cos. TFC (Total fixed cos. TVC (Total variabel cos. Analisis keuntungan : Biaya total (R. : Total biaya tetap (R. : Total variabel biaya (R. A =TRAeTC Keterangan : Pendapatan (R. : Total Penerimaan (R. : Total Biaya (R. Rumus Penyusutan Alat Penyusutan = Hb/Ue 2023 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan | / Vol 1 No 1, 9-18 Keterangan : Harga Beli : Umur Ekonomis Rumus Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga ycyc = yaeyeUyc Oe ycyeUyc yaOyaOyaO Keterangan : RS = Range Skor SkT = Skor tertinggi . x 3 = . SkR = Skor terendah . x 1 = . JKl = Jumlah klasifikasi yang digunakan . 5 = Jumlah indikator kesejahteraan BPS . ependudukan, kesehatan dan gizi, pendidkan, ketenagakerjaan, pola konsumsi atau pengeluaran rumah tangga, dan sosial lainny. 2 = Skor tertinggi dalam indikator BPS . 1 = Skor sedang dalam indikator BPS . 1 = Skor terendah dalam indikator BPS . Hasil perhitungan berdasarkan rumus tersebut diperoleh Range Skor (RS) sama dengan lima . , sehingga dapat dilihat interval skor yang akan menggambarkan tingkat kesejahteraan rumah tangga petani bawang merah. Hubungan antara interval skor dan tingkat kesejahteraan adalah : Jika skor antara 5-9 berarti rumah tangga petani belum sejahtera Jika skor antara 10-15 berarti rumah tangga petani sejahtera. Hasil dan Pembahasan 1 Identitas Responden Indentitas responden berada pada kelompok umur 27-34 tahun dengan persentase 49 %, sedangkan respomden terendah berada pada kelompok umur 43-50 tahun dengan persentase 11 %. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa semua responden berada pada usia produktif, ini menunjukkan bahwa petani bekerja secara aktif melalui usahatani bawang merah sehingga menghasilkan output dan menghasilkan kontribusi besar keluarga dari segi ekonomi (Yudhistira. Suprapto, & Sulmartiwi, 2. responden yang tingkat Pendidikan paling tinggi adalah SMP dengan jumlah sebanyak 14 orang petani sebagai persentase tertinggi 40 %. Sedangkan jumlah responden yang tingkat pendidikan terendah adalah S1 sebanyak 1 orang petani dengan persentase 3 %. Dengan demikian dapat dilihat pada tingkat pembelajaran yang ada di Kelurahan Mataran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang masih rendah sehingga inovasi teknologi khususnya pada usahatani bawang merah masih rendah. Kemudian jumlah tanggungan keluarga responden dari 0-7 adalah sebanyak 35 orang petani. Jumlah tanggungan tertinggi berada pada jumlah tanggungan 2-3 dengan jumlah 14 orang sebagai presentasi tertinngi 40%. Sedangkan jumlah tanggungan responden terendah berada pada jumlah tanggungan 6-7 dengan jumlah 5 orang sebagai presentasi 14%. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga sangat mempengaruhi petani dalam melakukan usaha taninya, semakin banyak tanggungan keluarga maka semakin banyak pula biaya yang akan dikeluarkan petani untuk membiayai kebutuhan hidup Biaya Total TC = Rp 241. 343 Rp 621. TC = Rp 863. Berdasarkan hasil total biaya diatas maka jumlah total biaya yang dikeluarkan oleh responden petani bawang merah di Kelurahan Mataran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang sebanyak Rp. Total Penerimaan Penerimaan dapat di peroleh dengan mengalikan jumlah satuan produksi dengan jumlah produksi yang bersangkutan atau di gunakan rumus sebangai berikut : TR = Rp 21. 000/Kg x 92. TR = Rp. 2023 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan | / Vol 1 No 1, 9-18 Analisis pendapatan A = Rp 1. 000Ae 863. A = Rp. Dari hasil perhitungan diatas maka dapat diketahui bahwa pendapatan total petani responden bawang merah di Keluhan Mataran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang sebesar Rp. Kelayakan R/C Ratio R/C = 863. = 2. Berdasarkan kriteria R/C > 1 sehingga usaha tani di Kelurahan Mataran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang ldilayak di kembangkan. 2 Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Bawang Merah Berikut ini merupakan hasil survei dengan menggunakan kuesioner mengenai tingkat kesejahteraan rumah tangga petani bawang merah berdasarkan kriteria Badan Pusat Statistik . dengan menggunakan 5 indikator kesejahteraan yaitu kependudukan, kesehatan dan gizi, pendidikan, ketenagakerjaan, dan sosial lainnya. Tabel 10. Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Bawang Merah Menurut Pendapatan Di Kelurahan Mataran Kecamatan Ageraja Kabupaten Enrekang. No Nama Indikator Kesejahteraan Kelas Skor Kesejahteraan Kependudukan Cukup Kesehatan dan Gizi Baik Sejahtera Penddikan Cukup Rizal Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Baik Kependudukan Baik Kesehatan dan Gizi Cukup Firman Sejahtera Penddikan Cukup Ketenagaan kerjaan Baik Sosial dan lain-lain Cukup Kependudukan Cukup Kesehatan dan Gizi Cukup Yusri Sejahtera Penddikan Cukup Suarman Muhajir Aris Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Baik Cukup Cukup Cukup Cukup Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Baik Cukup Baik Cukup Cukup Produktif Baik Cukup Baik Cukup Produktif Cukup Cukup Baik Sejahtera Sejahtera Sejahtera 2023 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan | / Vol 1 No 1, 9-18 Fajar Hariadi Irwan Hairil Andi Safar Anter Fiki Nundi Zain Arif Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Cukup Produktif Cukup Baik Baik Cukup Produktif Cukup Baik Baik Cukup Produktif Cukup Cukup Cukup Cukup Baik Cukup Cukup Baik Cukup Baik Cukup Cukup Baik Cukup Baik Cukup Cukup Baik Baik Baik Cukup Baik Cukup Cukup Produktif Cukup Cukup Cukup Baik Produktif Cukup Cukup Cukup Cukup Produktif Baik Baik Cukup Baik 2023 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan | / Vol 1 No 1, 9-18 Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Zein Damming Pian Dawi Eli Cuwing Ulla Aming Zul Kifli Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Cukup Cukup Baik Cukup Baik Cukup Baik Cukup Produktif Baik Baik Cukup Cukup Baik Cukup Cukup Cukup Cukup Baik Cukup Baik Cukup Cukup Produktif Cukup Cukup Baik Cukup Produktif Cukup Cukup Baik Cukup Produktif Cukup Cukup Baik Cukup Baik Cukup Cukup Baik Cukup Baik Cukup Cukup Baik Cukup Produktif Cukup Cukup Cukup Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera 2023 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan | / Vol 1 No 1, 9-18 Muh. Akbar Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Ibnu Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Arfin Umar Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Rudi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Hasbi Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Daris Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Acca Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Kependudukan Kesehatan dan Gizi Hasmin Penddikan Ketenagaan kerjaan Sosial dan lain-lain Sumber : data primer yang telah diolah, 2022 Cukup Baik Cukup Cukup Cukup Cukup Baik Cukup Cukup Cukup Baik Produktif Cukup Cukup Cukup Cukup Produktif Cukup Cukup Baik Cukup Produktif Baik Cukup Cukup Cukup Baik Cukup Cukup Cukup Cukup Baik Cukup Cukup Baik Cukup Baik Cukup Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Sejahtera Tabel menunjukkan tingkat kesejahteraan rumah tangga petani bawang merah di Kelurahan Mataran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang berdasarkan hasil survei menggunakan kuisioner 5 variabel indikator kesejahteraan, dengan jumlah responden sebanyak 35 petani yang sejahteraa dengan persentase 100% semua responden digolongkan sebagai keluarga kesejahteraan. Kesimpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa total pendapatan yang diperoleh petani bawang merah di Kelurahan Mataran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang sebanyak Rp. 000 sehingga usahatani tani bawang merah di Kelurahan Mataran Kecamatan Angeraja Kabupaten Enrekang menguntungkan dan layak di usahakan dapat dilihat dari perbandingan total penerimaan dan total biaya hasilya lebih besar dari satu yaitu 2. 24 >1, dengan kata lain R/C sebesar Tingkat kesejahteraan rumah tangga petani bawang merah di Kelurahan Mataran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang, yang di golongkan sejahtera sebanyak 35 petani. 2023 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan | / Vol 1 No 1, 9-18 Adapun saran berdasarkan hasil analisis kami yaitu diharapkan kepada para petani bawang merah lebih serius dalam menjalankan usaha tani bawang merah karena berdasarkan hasil analisis kami usaha bawang merah yang ada di Kelurahan Mataran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang cukup menguntungkan dan tingkat kesejahteraan rumah tangga petani sudah di golongkan sejahtera dan dapat memenuhi kebutuhannya. Referensi