JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis https://journal. id/index. php/jawamiulkalim/index Kajian Ilmu Hadis di Asia Tenggara The Study of Hadith Scholarship in Southeast Asia Abdullah Muhammad Yusrana. Muhammadb. Arya Syahputrac a Insitut Agama Islam STIBA Makassar. Indonesia. Email: abdullahyusran@stiba. b Insitut Agama Islam STIBA Makassar. Indonesia. Email: muhammad. binyusran@stiba. b Insitut Agama Islam STIBA Makassar. Indonesia. Email: aryasyahputraburhan@gmail. Abstract This article discusses the development of Hadith studies in Southeast Asia, emphasizing the historical transmission, intellectual networks, and academic transformation of the discipline. The study aims to analyze the condition and progression of Hadith scholarship in the region and to explore the contribution and dedication of Southeast Asian scholars in preserving and advancing the field. Using a qualitative approach through library research, this study examines classical and contemporary literature, including the works of early scholars such as Nuruddin ar-Raniri. Abd ar-Rauf al-Fansuri, and Mahfudz at-Tarmasi, as well as recent institutional developments in Indonesia. Malaysia, and Brunei Darussalam. The findings reveal that Hadith studies in Southeast Asia evolved from traditional oral transmission and pesantren-based education into a more systematic and academic discipline in higher education Moreover, the integration of modern methodologiesAisuch as hermeneutical, contextual, and digital approachesAidemonstrates the adaptability of Hadith studies to current scientific and societal challenges. This research contributes to Islamic studies by providing a comprehensive understanding of the continuity and renewal of Hadith scholarship in the Southeast Asian intellectual landscape. Keywords: Hadith studies. Southeast Asia. Islamic scholarship, transmission, modernization Abstrak Artikel ini membahas perkembangan kajian ilmu hadis di kawasan Asia Tenggara dengan menekankan aspek transmisi historis, jaringan intelektual ulama, dan transformasi akademik disiplin ini. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis kondisi serta perkembangan kajian hadis di kawasan tersebut dan menelaah kontribusi serta kesungguhan para ulama Asia Tenggara dalam menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan hadis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan, dengan mengkaji berbagai literatur klasik dan kontemporer, termasuk karya para ulama awal seperti Nuruddin ar-Raniri. Abd ar-Rauf al-Fansuri, dan Mahfudz at-Tarmasi, serta perkembangan kelembagaan Islam modern di Indonesia. Malaysia, dan Brunei Darussalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kajian hadis di Asia Tenggara mengalami evolusi dari tradisi oral dan pesantren menuju bentuk studi yang lebih sistematis dan akademis di perguruan tinggi. Lebih jauh, integrasi metodologi modern seperti pendekatan hermeneutika, kontekstual, dan digital menunjukkan kemampuan adaptasi kajian hadis terhadap tantangan ilmu pengetahuan dan masyarakat modern. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap studi Islam dengan menghadirkan pemahaman komprehensif tentang kesinambungan dan pembaruan kajian hadis dalam konteks intelektual Asia Tenggara. Kata kunci: kajian hadis. Asia Tenggara, keilmuan Islam, transmisi, modernisasi Article Info: How to cite: Received: 1 July 2025 Revised: 15 August 2025 Accepted: 10 September 2025 Published: 30 September 2025 Abdullah Muhammad Yusran. Muhammad. Arya Syahputra. AuKajian Ilmu Hadis di Asia TenggaraAy. JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis 3. No. : 141-154. doi: 10. 36701/jawamiulkalim. JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 141-154 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. PENDAHULUAN Asia Tenggara merupakan kawasan yang memiliki posisi strategis dalam sejarah penyebaran Islam di dunia. Kawasan ini bukan hanya menjadi jembatan antara dunia Islam bagian barat dan timur, tetapi juga menjadi rumah bagi salah satu populasi Muslim terbesar di dunia. Indonesia. Malaysia, dan Brunei Darussalam merupakan negara-negara yang secara demografis mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, sementara minoritas Muslim juga dapat ditemukan di negara-negara seperti Thailand. Filipina. Singapura. Myanmar, dan Vietnam. Keanekaragaman etnis, budaya, dan bahasa yang terdapat di Asia Tenggara menjadikan wilayah ini unik dalam hal penerimaan dan pengamalan ajaran Islam. 1 Islam hadir dan berinteraksi dengan budaya lokal, sehingga membentuk corak keberislaman yang khas, moderat, dan kontekstual. Kawasan Asia Tenggara sejak lama dikenal sebagai tempat pertemuan berbagai agama besar dunia seperti Hindu. Buddha, dan Kristen. Namun Islam berhasil menempati posisi dominan bukan melalui penaklukan politik, melainkan lewat jalur perdagangan, pendidikan, dan dakwah kultural. Dalam proses penyebaran ini, para ulama, sufi, dan pedagang memainkan peran sentral dalam memperkenalkan ajaran Islam, termasuk memperkenalkan sumber ajarannya, yakni al-QurAoan dan al-Hadis. Akan tetapi, jika ditinjau secara historis, meskipun penerimaan Islam berjalan cepat dan luas, perkembangan kajian ilmiah terhadap hadis tidak serta-merta tumbuh seiring dengan penyebaran agama Islam itu sendiri. Kajian hadis di Asia Tenggara memerlukan waktu panjang untuk berkembang secara sistematis dan akademik, terutama bila dibandingkan dengan kajian tafsir, fikih, dan tasawuf yang lebih dahulu mendapatkan perhatian. Dalam ajaran Islam, hadis memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai sumber hukum dan pedoman hidup kedua setelah al-QurAoan. Hadis berfungsi sebagai penjelas terhadap ayat-ayat al-QurAoan yang bersifat umum dan global, serta sebagai teladan praktis dari kehidupan Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, memahami Islam secara utuh tidak mungkin dilakukan tanpa memahami hadis. 2 Namun, realitas historis menunjukkan bahwa di berbagai wilayah dunia Islam, termasuk di Asia Tenggara, intensitas kajian hadis tidak selalu merata. Pada masa awal Islamisasi, masyarakat Muslim di kawasan ini lebih banyak memfokuskan diri pada ajaran fikih dan tasawuf, sementara kajian hadis lebih banyak diwariskan melalui tradisi oral dan pengajaran pesantren tanpa perhatian serius terhadap metodologi kritik sanad dan matan sebagaimana berkembang di Timur Tengah. Sejarah mencatat bahwa perkembangan kajian hadis di Nusantara mulai menunjukkan kemajuan yang berarti pada abad ke-19 dan ke-20, terutama dengan munculnya ulama-ulama yang menaruh perhatian terhadap studi hadis secara lebih 3 Ulama seperti Syekh Nawawi al-Bantani. Syekh Mahfudz at-Tarmasi, dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi memiliki hubungan intelektual yang erat dengan Dardiri. Helmiati, dkk. Sejarah Islam Asia Tenggara, (Pekanbaru: Kerjasama ISAIS dan Alaf Baru, 2. , h. Abdullah Muhammad Yusran dan Muhammad. AuKajian Interpretasi Hadis TentangLarangan Bagi Anak-anak untuk Keluar Rumah saat MagribAy. JawamiuAoul Kalim: Jurnal Kajian Hadis 1. No. , h. Abdul Wahid, dkk. Perkembangan Terkini Studi Hadis di Indonesia, (Medan: UIN Sumatera Utara, 2. , h. 142 | Abdullah Muhammad Yusran. Muhammad. Arya Syahputra Kajian Ilmu Hadis di Asia Tenggara JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 141-154 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. pusat-pusat keilmuan Islam di Makkah dan Madinah. Mereka membawa semangat pembelajaran hadis ke tanah air melalui pengajaran di pesantren dan penulisan karyakarya ilmiah. 4 Peran jaringan ulama yang terhubung antara Nusantara dan Timur Tengah ini, sebagaimana diuraikan oleh Azyumardi Azra, menjadi fondasi penting bagi lahirnya tradisi keilmuan hadis di Asia Tenggara. Melalui jaringan keilmuan tersebut, kitab-kitab hadis seperti Sahih al-Bukhari. Sahih Muslim, dan berbagai kitab Sunan mulai diajarkan secara lebih sistematis di pesantren-pesantren besar di Jawa. Sumatra, dan kemudian di wilayah lain seperti Patani. Kelantan, dan Aceh. Namun demikian, perkembangan tersebut masih belum sepenuhnya menjadikan kajian hadis sebagai disiplin ilmu yang mapan di Asia Tenggara. Dalam konteks kelembagaan pendidikan, perhatian terhadap studi hadis secara formal baru mulai tumbuh setelah berdirinya lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam, seperti IAIN dan Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia, serta International Islamic University Malaysia (IIUM) di Malaysia. Sejak saat itu, kajian hadis mengalami transformasi dari pengajaran tradisional berbasis halakah dan pesantren menuju pendekatan akademik yang lebih ilmiah dan metodologis. Penelitian-penelitian hadis di perguruan tinggi Islam Asia Tenggara mulai memperlihatkan perkembangan signifikan, baik dari segi metodologi, objek kajian, maupun tema-tema yang diangkat, seperti studi sanad, pemahaman kontekstual terhadap matan hadis, serta relevansi hadis dengan isu-isu kontemporer seperti gender, lingkungan, dan sosial kemasyarakatan. Perkembangan ini menarik untuk dikaji lebih dalam, sebab ia menunjukkan dinamika epistemologis dalam dunia Islam Asia Tenggara. Hadis yang semula hanya diajarkan sebagai teks keagamaan tradisional kini dipelajari dengan pendekatan ilmiah, menggunakan teori kritik hadis yang dikembangkan dalam khazanah Islam klasik sekaligus dipadukan dengan pendekatan ilmu sosial dan humaniora modern. Dalam konteks inilah penelitian tentang kajian hadis di Asia Tenggara menjadi relevan, karena ia tidak hanya menyingkap sejarah transmisi ilmu hadis, tetapi juga memperlihatkan sejauh mana kesungguhan para ulama, cendekiawan, dan lembaga pendidikan dalam mengembangkan studi hadis di kawasan ini. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini berupaya untuk menjawab dua persoalan pokok, yaitu bagaimana kondisi dan perkembangan kajian hadis di Asia Tenggara, serta bagaimana kesungguhan ulama dan akademisi Muslim di kawasan ini dalam mengkaji hadis baik dari segi kelembagaan, metodologi, maupun karya ilmiahnya. Penelusuran terhadap dua rumusan masalah ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif tentang arah perkembangan studi hadis di Asia Tenggara, sekaligus memperlihatkan karakter khas yang membedakannya dari tradisi keilmuan hadis di kawasan Islam lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami kondisi aktual dan arah perkembangan kajian hadis di Asia Tenggara secara lebih mendalam, serta untuk menganalisis kontribusi dan kesungguhan ulama maupun lembaga pendidikan dalam memperkuat tradisi keilmuan hadis. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya bersifat Hasan SuAoudi. AuJaringan Ulama Hadis Indonesia,Ay Jurnal Penelitian STAIN Pekalongan 5. No. 2, (November: 2. , h. Azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVi, (Jakarta: Kencana, 2. 143 | Abdullah Muhammad Yusran. Muhammad. Arya Syahputra Kajian Ilmu Hadis di Asia Tenggara JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 141-154 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. deskriptif-historis, tetapi juga analitis-kritis, yaitu menilai sejauh mana kajian hadis telah beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat Muslim Asia Tenggara yang semakin kompleks di era modern. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan . ibrary researc. Sumber data diperoleh dari berbagai literatur seperti karya-karya ilmiah klasik dan kontemporer, artikel jurnal, disertasi, serta bukubuku yang membahas sejarah dan perkembangan Islam di Asia Tenggara. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis, yakni dengan menggambarkan data historis dan empiris tentang perkembangan kajian hadis, kemudian menganalisisnya untuk menemukan pola dan arah perkembangan yang sedang berlangsung. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengungkapkan hubungan antara dinamika sosial, pendidikan, dan keilmuan yang membentuk corak khas kajian hadis di kawasan ini. Beberapa penelitian terdahulu telah memberikan kontribusi penting dalam memahami sejarah dan perkembangan studi Islam, khususnya kajian hadis di Asia Tenggara. Azyumardi Azra dalam karyanya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVi menjelaskan bahwa hubungan intelektual antara ulama Nusantara dan ulama di Timur Tengah menjadi fondasi bagi terbentuknya transmisi ilmu keislaman, termasuk ilmu hadis, di kawasan ini. Melalui jaringan keilmuan yang intensif antara Haramain (Makkah-Madina. dan Nusantara, para ulama seperti Syekh Nawawi al-Bantani. Syekh Mahfudz at-Tarmasi, dan Syekh Ahmad Khatib alMinangkabawi berperan besar dalam membawa semangat keilmuan Islam ke tanah air dan mendirikan basis pengajaran hadis di berbagai pesantren di Jawa. Sumatra, hingga kawasan Melayu lainnya. Penelitian Saifuddin . dalam artikelnya AuTransmisi Hadis dan Kontribusinya dalam Pembentukan Jaringan Keilmuan dalam IslamAy menegaskan bahwa proses transmisi hadis sejak masa awal Islam membentuk apa yang disebut sebagai Aujaringan ulamaAy Ai yaitu hubungan ilmiah antara guru dan murid yang saling terhubung melalui sanad keilmuan . Saifuddin menunjukkan bahwa sistem jaringan sanad tidak hanya berfungsi untuk menjaga otentisitas hadis, tetapi juga menjadi dasar terbentuknya jaringan keilmuan Islam di berbagai wilayah, termasuk di Asia Tenggara, melalui praktik rihlah f thalab al-uadth . erjalanan mencari hadi. 6 Dalam konteks ini, tradisi transmisi hadis menjadi model awal bagi munculnya jejaring ulama Nusantara yang belajar dan mengajar di Haramain, sebelum kemudian melahirkan lembaga-lembaga keilmuan Islam di tanah air. Adapun penelitian Hasan SuAoaidi . dalam artikelnya AuJaringan Ulama Hadits IndonesiaAy memperkuat temuan Azra dengan menunjukkan bahwa jaringan ulama Indonesia dalam bidang hadis terbentuk melalui hubungan guru dan murid antara ulama Haramain dan ulama Nusantara. Menurut SuAoaidi, tokoh kunci dalam jaringan ulama hadis Indonesia adalah Syekh Mahfudz at-Tirmisi, ulama asal Tremas. Pacitan, yang dikenal luas sebagai muhaddis dan pembangkit ilmu diryyah al-hadyts . ritik sanad dan Melalui karya monumental seperti Manhaj Dzawi al-Nadlar. Mahfudz at-Tirmisi mengajarkan kitab Sahih al-Bukhari kepada para ulama Indonesia di Makkah, termasuk KH. Hasyim AsyAoari, pendiri Nahdlatul Ulama. Dari hubungan guru-murid inilah Saifuddin. AuTransmisi Hadis dan Kontribusinya dalam Pembentukan Jaringan Keilmuan dalam IslamAy. Ilmu Ushuluddin 8. No. 2, (Juli: 2. , h. 144 | Abdullah Muhammad Yusran. Muhammad. Arya Syahputra Kajian Ilmu Hadis di Asia Tenggara JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 141-154 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. kemudian muncul jaringan ulama hadis Indonesia yang berkembang melalui pesantrenpesantren di Jawa dan Sumatra. Penelitian SuAoaidi juga menegaskan bahwa jaringan keilmuan ini tidak hanya bersifat formal, tetapi juga terbentuk secara alami dan berkelanjutan melalui tradisi sanad dan pemberian ijazah keilmuan. Selanjutnya, penelitian Ahmad Fauzan . dalam Jurnal Tahdis berjudul AuSyekh Mahfudz al-Tarmasi: Muhaddis NusantaraAy memperlihatkan peran penting ulama Nusantara dalam memperluas kajian hadis di kawasan Asia Tenggara. Fauzan menunjukkan bahwa Syekh Mahfudz at-Tarmasi merupakan salah satu ulama besar asal Tremas. Pacitan, yang menempuh perjalanan intelektual ke Makkah dan menetap di sana sebagai pengajar di Masjidil Haram. Ia dikenal sebagai ulama yang sangat menaruh perhatian terhadap disiplin hadis, khususnya ilmu dirayah dan kritik sanad-matan. Melalui karya-karyanya seperti Manhaj Dzawin al-Nadzar dan al-Minhah al-Khairiyyah. Mahfudz at-Tarmasi berkontribusi besar dalam membangkitkan tradisi studi hadis di kalangan ulama Nusantara, serta menjadi penghubung penting antara tradisi hadis Haramain dan dunia pesantren di Indonesia. Meskipun demikian, penelitian-penelitian terdahulu umumnya masih terfokus pada dimensi historis dan kelembagaan. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya memberikan kontribusi baru dengan menyoroti kesungguhan dan inovasi ulama serta akademisi Asia Tenggara dalam menghidupkan kembali tradisi keilmuan hadis di tengah tantangan modernitas dan globalisasi. Fokus ini diharapkan dapat memperlihatkan kesinambungan antara warisan sanad klasik dengan dinamika akademik kontemporer yang membentuk wajah baru kajian hadis di kawasan Asia Tenggara saat ini. PEMBAHASAN Sejarah Perkembangan Hadis di Kawasan Semenanjung Malayu Muslim yang cukup maju dan makmur di kawasan Asia Tenggara dan kiprah keislamannya berperan penting pada pengislaman wilayah-wilayah lain di semenanjung Melayu. Berbagai proses islamisasi dan penyebaran agama Islam di negeri itu tentu tidak terlepas dari peran para ulama yang berdatangan dari Arab atau Nusantara. Sejak abad ke-14, para ulama baik yang berasal dari wilayah Arab atau dari Nusantara berdatangan ke wilayah Patani atau Thailand, baik dalam urusan dagang ataupun untuk menyebarkan agama Islam. Jika dibandingkan dengan berbagai wilayah Melayu lainnya, budaya dan bahasa yang digunakan hampir sama, begitu juga sejarah perkembangan Islam. Proses dan waktu masuknya Islam hampir bersamaan dangan wilayah lainnya di semenanjung Malaya. Menelusuri salah satu wilayah yang termasuk daerah yang cepat masuk ajaran Islam di Asia Tenggara yaitu Patani, menjelang akhir abad ke-18, para ulama Patani Hasan SuAoudi. AuJaringan Ulama Hadis Indonesia,Ay Jurnal Penelitian STAIN Pekalongan 5. No. 2, (November: 2. , 1-16. Ahmad Fauzan. AuSyekh Mahfudz al-Tarmasi: Muhaddis NusantaraAy. Tahdis 9. No. , h. Ibrahim Syukri. History of the Malay Kingdom of Patani, terj. Bayley & J. Miksic, (Athena: Center for International Studies, 1. , h. Azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVi, (Bandung: Mizan, 1. , h. 145 | Abdullah Muhammad Yusran. Muhammad. Arya Syahputra Kajian Ilmu Hadis di Asia Tenggara JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 141-154 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. semakin jelas kedudukannya dalam peta ruang lingkup pengetahuan dan keilmuan Islam semenanjung Melayu dan Nusantara. Dengan bangkitnya para ulama Patani, muncul penyebaran gerakan pembaharu di wilayah Melayu-Indonesia. Kaum muslim Patani, perlu diingat kembali adalah orang-orang Melayu, baik secara etnis maupun budaya. Oleh sebab itu, tiap pembahasan mengenai sejarah Islam di dunia Melayu secara keseluruhan tidak mungkin tanpa mencakup kaum Muslim Patani. Setelah kerajaan Patani dijajah oleh bangsa Thai maka terjadi intrik dan ketidakstabilan politik dan pemerintahan di kesultanan ini. Walaupun begitu, hal ini tidak menyurutkan semangat para dai, guru dan para sufi untuk mengunjungi wilayah Patani. Hikayat Patani meriwayatkan kedatangan ulama seperti Syekh Gombak dan muridnya. Abd al-Mukmin dari Minangkabau, dan syekh Faqih Safi ad-Din dari Pasai pada paruh kedua abad ke-16. Mereka memainkan peran penting dalam kehidupan beragama di wilayah kesultanan Safi ad-Din, misalnya mendorong didirikannya sebuah masjid istana dan di kemudian hari beliau menjadi penasehat sultan Muzaffar Syah dalam urusan Pada pertengahan abad ke-17, sejumlah ulama datang ke Patani seperti Sayyid Abdullah dari Yerussalem melalui Trengganu. Haji Abdullah al- Rahman dari Jawa dan Faqih Abdullah al-Manam, seorang Minangkabau dari Kedah dan Syaikh Abdul Qadir dari Pasai. Menurut para sejarawan dan ulama Malaysia seperti Shagir Abdullah, para ulama ini memasuki ruang lingkup yang lebih luas dalam penyebaran ajaran Islam. Mereka diriwayatkan menjadi pelopor dalam melakukan usaha-usaha terpadu untuk menyebarkan lebih jauh hukum Allah SWT . di kalangan masyarakat Patani. Hal yang terungkap dari riwayat-riwayat ini adalah bahwa kaum Muslim Patani tidak terasingkan dari rekan-rekan kaum Muslim Melayu dan Nusantara. Dengan datangnya para ulama ke wilayah mereka ini, kaum Muslim Patani dibuat sadar akan adanya perkembangan-perkembangan dengan gagasan Islam serta lembaga-lembaga keagamaan di wilayah Melayu-Indonesia. Para ulama itulah yang mendorong didirikannya lembaga pendidikan Islam Traditional yang dikenal di Patani sebagai Lebih jauh lagi, ada kesan bahwa sistem pondok yang juga dikembangkan di bagian lain di Semenanjung Melaya, berasal dari Patani. Ulama seperti al-Palimbani, sebagaimana dikemukakan mendapatkan pendidikan awalnya di Patani. Tetapi hanya sedikit informasi yang diketahui mengenai pondok pada periode sebelum abad ke-19. Metheson dan Hooker meyatakan pondok di Patani sangat prestisius dan murid lanjutan mereka diterima dangan baik sebagai guru di tempat lain di Nusantara. Ulama Hadis di Kawasan Melayu Syeikh Abdullah bin Abd al-Mubin al-Fathani memiliki nama lengkap Abdullah bin Abd Mubin Pauh Bok al-Fathani bin Muhammad Jailani bin Muhammad Masari bin wan Hamzah bin Syeikh Wan Abd al-Mubin bin Wan Abd al-Jabbar bin Wan Muhammad Ibrahim Syukri. History of the Malay Kingdom of Patani, terj. Bayley & J. Miksic, (Athena: Center for International Studies, 1. , h. Ibrahim Syukri. History of the Malay Kingdom of Patani, terj. Bayley & J. Miksic, h. Matheson & Hooker. Jawi Literatur in Patani, (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1. , 146 | Abdullah Muhammad Yusran. Muhammad. Arya Syahputra Kajian Ilmu Hadis di Asia Tenggara JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 141-154 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Arifin Syah al-Jarimi al- Patani. Dilahirkan pada tahun 1723 dan wafat pada tahun 1780. Ayahnya bernama Abd al-Mubin bin Muhammad Jailani Pauh Bok al-Fathani. Beliau bersaudara dengan Abd ar-Rahman Pauh Bok al-Fathani yang menjadi ulama dan penyebar Islam din wilayah Brunei Darussalam dan dikenal dengan nama Tok Lubuk. Syeikh Abdulah Pauh Bok diyakini mendapat pendidikan awal dari ayahnya Syeikh Abd al-Mubin i bin Muhammad Jailani, seseorang ulama yang menjadi peletak dasar bagi pondok ataupun pengajian di Pauh Bok yang banyak mendidik umat sehingga menghasilkan banyak ulama-ulama besar di zamannya. Karyanya dalam Bidang Hadis Syeikh Abdullah bin Abd al-Mubin Paoh Bok al-Fathani menghasilkan sebuah karya di bidang Hadis yaitu dengan menerjemahkan kitab Tanbih al-Gafilin yang diselesaikan penulisannya pada tahun1184 H/1770 M. 15 Buku ini masih biasa dijumpai di kalangan ulama dan masih beredar di wilayah Malaysia dan Patani. Karyanya ini adalah terjemahan kitab Tanbih al-Gafilin karya syeikh Abu Laits as-Samarqandi. Karya Syeikh Abdullah Bin Abd al-Mubin ini terbagi menjadi tiga versi yaitu, terjemahan lengkap dari keseluruhan isi kitab aslinya, terjemahan inti sari dari kitab Tanbih al-Gafilin dan inilah yang masih ditemukan di pasaran buku Malaysia, dan terjemahan yang lebih lengkap daripada kitab yang kedua, dan kitab ini tidak pernah diterbitkan, hanya terdapat manuskripnya saja. Pemikiran Hadis Syeikh Abdullah bin Abdul Mubin al-Fathani Syeikh Abd al-Mubin bin Muhammad Jailani Pauh Bok al-Fathani adalah ulama Patani Darussalam yang sezaman dengan Syeikh Abd ar-Rauf al-Fansuri. Beliau menghasilkan karya-karya di bidang tasawuf dan ditemukan karyanya mengenai hadis. Pemikirannya tentu saja mempengaruhi pola pikir anak-anaknya, khusunya kedua anaknya yaitu Abdullah Pauh Pok dan Abd Rahman Pauh Pok. Hal ini terbukti dari pemikiran mereka serta karya-karya yang mereka tulis berkaitan erat dengan tasawuf dan tarekat, bahkan Abdullah Pauh Pok adalah seorang penyebar tarekat sammaniyah di wilayah semenanjung melayu. Sedangkan saudaranya melawat ke berbagai wilayah di Nusantara dan menetap di Brunei serta menyebarkan Islam dan tarekat sammaniyah di Kitab-kitab Hadis Melayu Periode Pertama Pada periode abad 17, terdapat dua buah karya dalam bidang Hadis, satu karya Syekh Abd ar-Rauf bin Ali al-Fansuri dan karya Nuruddin ar-Raniri. Menurut wan Shagir Abdullah bahwa belum ditemukan kitab hadis yang lebih awal dari kedua kitab ini yang pernah ditulis oleh ulama di kawasan Asia Tenggara. Al Fawaid al-Bahiyyah fi al-Ahadis an Nabawiyah Kitab ini adalah karya Nuruddin ar-Raniri yang dinamakan juga dengan Hidayat al-Habib fi at-Targib wa at-Tarhib. Kitab ini diselesaikan pada hari Jumat bulan Syawal 1045 H/1635 M. dalam kitab ini terdapat 831 Hadis yang terdiri dari 46 bab. Setiap periwayat Hadis disingkat dengan kode huruf, misalnya Kha untuk Imam al-Bukhari, mim Wan Shagir Mohd. Abdullah. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara, (Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah, t. , h. Wan Shagir Mohd. Abdullah. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara, h. Wan Shagir Mohd. Abdullah. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara, h. 147 | Abdullah Muhammad Yusran. Muhammad. Arya Syahputra Kajian Ilmu Hadis di Asia Tenggara JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 141-154 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. untuk Imam Muslim. Jumlah periwayat diberikan kode oleh Nuruddin sebanyak 22 Semua Hadis dalam kitab ini ditulis teks arabnya, setelah itu diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Kitab ini diawali dengan kitab bab niat, kemudian bab islam, iman, ihsan, dan diakhiri dengan bab zikri al-maut, talqin mayat, mengiringi jenazah, serta hukum meratapi mayat. Manuskrip kitab ini dapat ditemukan di pusat manuskrip melayu perpustakaan negara Malaysia. Kitab ini telah ditahqiq oleh syekh Ahmad Zain alFathani. Syarh Latif ala ArbAina Hadisan Imam Nawawi Kitab ini adalah karya Syekh Abd ar-Rauf bin Ali al-Fansuri, yang dinamakan juga Hadis ArbAin. Kitab ini diselesaikan pada bulan Safar tahun 1091 H. Kitab ini merupakan terjemahan dari kitab ArbAin an-Nawawi, dan merupakan karya kedua dalam bahasa Melayu setelah karya Nuruddin ar-Raniri. Corak kitab syarah ini sedikit berbeda dengan kitab syarah yang lain, karena dia mensyarahkan berdasarkan ilmu tasawuf. Karya ini belum pernah diterbitkan dan manuskripnya tersimpan di pusat melayu perpustakaan negara Malaysia. 17 Belakangan ini, muncul juga terjemah dan syarah hadis Arbain lain yang ditulis oleh syeikh Muhammad Shaih bin Muhammad yang diberi nama Fath alMubin. Beliau mensyarah kitab ini dengan corak ilmu fikih yang menyebabkan kitabnya ini berbeda jauh dengan yang ditulis oleh Syeikh Abd ar-Rauf al-Fansuri yang bercorak Syekh Kathib al- Munziri juga pernah menulis kitab hadis arbAin, bukan ArbAin an-Nawawi, yang pernah diterjemahkan oleh syeikh Wan Hasan Ishaq al-Patani, terjemahannya itu diberi judul Hidayah Mukhtar. Perkembangan Kajian Hadis di Nusantara Hadis Belum Masuk Kurikulum (Sebelum Tahun 1. Sejak Islam masuk ke Nusantara atau Indonesia di abad pertama Hijriah sampai tahun 1900, pengajaran Islam berlangsung secara sederhana. Tujuan utamanya agar umat Islam memahami rukun Iman yang enam dan rukun Islam yang lima. Kemudian, mulailah dilaksanakan pengajaran ilmu fikih, ilmu tauhid, ilmu tasawuf, dan pelajaran bahasa Arab secara berangsur-angsur. Kajian hadis secara khusus belum dilakukan walaupun di sela-sela pelajaran Islam tersebut sudah barang tentu masuk hadis secara sporadis sesuai dengan keperluan pendalilan dalam berbagai bidang ilmu yang diajarkan, karena hadis merupakan sumber kedua dari ajaran Islam. Memang penulisan beberapa buku hadis telah dilakukan oleh sejumlah orang, jauh sebelum tahun 1900. Nuruddin al-Raniry . adalah penulis kitab hadis pertama di Nusantara dengan judul Hidyyat al- Habib fit Targhyb wa alTarhyb. Syekh Abdurrauf Singkel . menulis kitab Syarh Lathyf Aoala ArbaAoin Hadits li al-Imym al-Nawawi dan kitab al-MawaAoizal-BadiAoah. Dawud al- Fatani . M) dari Thailand Selatan menulis kitab Kasyf al-Ghummah fi Awwyl al-MawthaAo fi al- Wan Shagir Mohd. Abdullah. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara, h. Wan Shagir Mohd. Abdullah. Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara, h. 148 | Abdullah Muhammad Yusran. Muhammad. Arya Syahputra Kajian Ilmu Hadis di Asia Tenggara JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 141-154 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Barzakh wa al-Qiyymah. Demikian juga Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani . menulis buku Tanqyh al-Qaul al- Hatsits fiSyarh Lubyb al- Hadyts. Akan tetapi, buku-buku tersebut merupakan penjelasan tentang pengamalan agama Islam secara sederhana dalam nuansa tasawuf dan fikih, sesuai dengan kebutuhan Buku-buku ini tidak berbicara tentang takhrij dan penilaian hadis-hadis. Tidak pula berbicara tentang cara memahaminya secara tekstual atau kontekstual karena cara berpikir masyarakat waktu itu belum sampai ke sana. Sebagai contoh, kumpulan hadis karya Nuruddinal-Raniry dalam kitab HidAyah al-abbf al-Targhb wa al-Tarhb turut dikenal dengan judul singkatan HidAyah alabbAy (Pedoman Nab. atau judul lain al-FawAAoid al-Bahyyah Aoan al-AuAdi alNabawiyyah yang terasa kental dengan corak esoterik-sufistik. Al-Raniry membentuk sistematika pembahasan. Sebagai salah satu pionir studi hadis di Indonesia, corak pemahaman yang ditawarkan oleh Nuruddin al-Raniry dapat direfleksikan dalam pendidikan hadis di perguruan tinggi sebagai model kajian tekstual20 dengan pendekatan multidisiplin21 antara fikih, tasawuf, dan kalam. Pelajaran Hadis Masuk Kurikulum Pesantren . Pada masa hidup Al-Fadani . , diskursus mengenai hadis di perguruan tinggi Indonesia justru menunjukkan corak keilmuan yang berbeda. Mahmud Yunus . sebagai contoh, memiliki kecenderungan terhadap model syarah kontekstual dalam beberapa literaturnya semisal saat menjelaskan makna hadis auu Muslm no. 6799 mengenai indikasi seorang munafik. Yunus menginterpretasikan redaksi hadis tersebut lewat pendekatan gender, muamalah, dan hukum keluarga dengan menyebut bahwa perilaku nifAq dapat merusak relasi sosial, perkataan dusta adalah tindakan dosa dan setiap orang berpotensi menjadi seorang munafik dalam keluarga, baik suami maupun Model kontekstual yang digagas oleh Yunus tidak serta-merta meninggalkan kaidah hadis klasik atau pun dimensi tekstual yang telah disusun sarjana hadis klasik. Hal ini terlihat dari kutipan hadis lain yang dicantumkan Yunus berupa redaksi hadis Sunan Ab Dawud no. 4275 serta mengutip pendapat ulama Ibn Qayyim al-Jauzi sebelum memunculkan produk ijtihadnya yang memuat kesan empiris dan praktis. 22 Kontribusi Yunus dalam studi syarah hadis pun terekspresikan dalam upayanya untuk membangun kurikulum pendidikan hadis untuk madrasah dan perguruan tinggi yang diadopsi dari tiga kitab hadis primer dan tujuh kitab syarau yang populer di Indonesia. Setelah tahun 1900 M, kajian hadis meningkat karena lahirnya pondok pesantren dan madrasah serta ormas-ormas yang tidak menganut mazhab. Mahmud Yunus telah Oman Fathurahman. The Roots of the Writing Tradition of adth Works in Nusantara: HidAyAt al-abb by Nr al-Dn al-RAnr, . , h. Amin Abdullah. Memaknai Al-RujuAo ila Al-QurAoan wa al-Sunnah: Dari QiraAoah Taqlidiyyah ke Tarikhiyyah-Maqashidiyyah dalam Kitab Suci dan Para Pembacanya, (Yogyakarta: Stelkendo, 2. , h. Muhammad Amin Abdullah. Islamic Studies in Higher Education in Indonesia: Challenges,Impact and Prospects for the World Community, (Al-JamiAoah: Journal of Islamic Studies, 2. , h. Mahmud Yunus. Ilmu Musthalah al-Hadis (Padang: Saadiyah Putra, 1. , h. Munirah. Metodologi Syarau Hadis Indonesia Awal Abad ke-20, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1. , h. 149 | Abdullah Muhammad Yusran. Muhammad. Arya Syahputra Kajian Ilmu Hadis di Asia Tenggara JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 141-154 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. mencatat dalam bukunya. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia sejumlah nama pesantren dan madrasah yang lahir pada waktu itu serta nama kitab-kitab yang diajarkan di sana. Hadis dan ilmu hadis menjadi bagian kurikulumnya. Di Jawa. Pesantren Tebuireng yang didirikan pada tahun 1899, untuk tingkat ibtidaiyahnya, hadis tidak terlihat sebagai mata pelajaran. Untuk tingkat tsanawiyahnya diajarkan kitab Riyydh al-Shylihyn. Di Jombang berdiri Pondok Pesantren Rajoso pada 1919 mengajarkan Matn al-ArbaAoin al-Nawawiyyah. Bulygh al-Marym, al-Tadjrid alShahyh. Hadyts al-Bukhyry, dan Mushthalah al-Hadyts karya Mahmud Yunus. Pondok Pesantren Gontor Ponorogo yang berdiri pada tahun 1926 mengajarkan hadis dan mushthalah Hadis. Di Medan. Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) yang berdiri pada tahun 1918 mengajarkan hadis dan mushthalah hadis yang kemudian oleh ormas Islam al- Washliyah yang berdiri di Medan pada tahun 1930 mengadopsi kurikulum MIT. Begitulah seterusnya pondok dan pesantren lahir pada periode ini mengajarkan hadis dan ilmu hadis sebagai bagian dari kurikulum. Selain itu lahir pula beberapa tokoh yang menulis kitab hadis sebagaimana yang dituliskan di atas. Di masa ini juga muncul beberapa tokoh Hadis, seperti Ahmad Hassan . 1958 M) dan T. Hasbi Ash Shiddieqiy . 1975 M). Pada periode ini, lahir sejumlah ormas Islam yang mengembangkan kajian hadis seperti Muhammadiyah yang didirikan pada tahun 1912 di Yogyakarta. Persis yang didirikan pada tahun 1923 di Bandung. Nahdlatul Ulama yang didirikan pada tahun 1926 di Surabaya. Al-Washliyah yang didirikan pada tahun 1930 di Medan, dan ormas-ormas Ormas-ormas Islam semua meyakini hadis sebagai sumber kedua dari ajaran Islam dan mengajarkannya kepada murid-murid di sekolah dan madrasahnya serta warganya. Hanya saja, dalam kaitan dengan intensitas, kontribusi kepada pengkajian hadis, tidak Pada dasarnya, ormas- ormas ini terbagi kepada dua kelompok, yaitu ormas yang bermazhab dan ormas yang tidak bermazhab. Ormas yang bermazhab antara lain adalah NU dan Al Washliyah. Ormas yang tidak bermazhab antara lain adalah Muhammadiyah dan Persis. Dalam menetapkan hukum atau fatwa, ormas yang bermazhab menerapkan pendekatan AuBawah-AtasAy. Maksudnya, ormas bermazhab menentukan hukum atau fatwa berdasarkan penjelasan di kitab-kitab yang muAotabarah di lingkungannya. Sementara itu, ormas-ormas yang bebas mazhab melakukan pendekatan AuAtas-BawahAy. Maksudnya, dalam menetapkan fatwa atau hukum sesuatu berdasarkan nas Al-quran dan Hadis, kemudian baru melihat pendapat para ulama. Oleh karena pendekatan yang berbeda ini, hasil fatwanya pun berbeda pula. Hadis Masuk Kurikulum di Pascasarjana . Periode ini ditandai dengan dibukanya pascasarjana di beberapa daerah. Pengajaran hadis di tingkat pasca terutama ditingkat S3-nya sudah jauh berbeda dari pengajaran hadis di tingkat S1. Kajian di sini sudah mendalam dan komplikasi. Misalnya tentang penelitian sanad dan matan yang memerlukan keterampilan mencari hadis yang Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah 3 (Jakarta: Suara Muhammadiyah, 2. , h. 150 | Abdullah Muhammad Yusran. Muhammad. Arya Syahputra Kajian Ilmu Hadis di Asia Tenggara JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 141-154 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. diteliti di semua sumber. Demikian juga diperlukan keterampilan mencari rijal hadis di berbagai kitabnya. Keterampilan menyelesaikan penilaian kritikus yang selalu berbeda, seperti seorang periwayat hadis dinilai berbeda oleh para kritikus. Satu kritikus menilainya tsiqah, kritikus lain menilainya daif, dan kritikus yang ketiga menilainya labaAosa bih. Bahkan kadang-kadang terdapat seorang periwayat yang dinilai oleh para kritikus sebagai periwayat tsiqah mudallis. Ini merupakan masalah-masalah yang dihadapi dalam meneliti Hal lain adalah terdapatnya hadis-hadis muAoallaq dalam Shahyh al-Bukhary dan Shahyh Muslim. Dalam seminar-seminar kelas hadis, muncul lagi pertanyaan ingkar sunnah, pandangan-pandangan aliran terhadap hadis dan pandangan orientalis. Sesuai dengan sikap orientalis yang tidak percaya kepada Al-Quran dan Hadis, serta kesukaan mereka melakukan penelitian dalam masalah-masalah yang rumit, maka mereka menemukan kelemahan-kelemahan dalam hadis sehingga menimbulkan teori-teori yang melemahkan kedudukan hadis. Demikianlah seterusnya pengkajian hadis berkembang, maju, luas, dan kadangkadang melampaui batas. Hasil penelitian orientalis yang berangkat dari titik yang berbeda dengan ulama Islam akan menghasilkan perbedaan dalam menilai hadis yang dalam banyak teori cenderung menafikan Hadis atau menolak kebanyakannya. Hadis Mengalami Kemajuan Pesat . 0-sekaran. Interaksi dan dinamika dalam pengkajian hadis diatas, membawa kepada kemajuan yang sangat signifikan pada satu sisi dan memunculkan kekhawatiran pada sisi yang lain. Dari penghujung abad 20 sampai sekarang, muncullah berbagai buku tentang hadis, baik dalam bentuk buku maupun artikel. Antara lain adalah Hadis Nabi Telaah Historis dan Metodologis . karya Muh. Zuhri. Al- Imam at-Tirmidzi Peranannya dalam Pengembangan Hadis dan Fikih . karya Ahmad Sutarmadi. Pergeseran Pemikiran Ijtihad Hadis Hakim dalam Menentukan Status Hadis . karya Maman Abdurrahman. Metode dan Pendekatan Memahami Hadis Nabi . karya Nizar Ali. Menembus Lailatul Qadr Perdebatan Interpretasi Hadis Tekstual dan Kontekstual . karya Muhammadiyah Amin. Metodologi Penelitian Living QurAoan & Hadis . karya M. Mansyur. Otoritas Sunnah Non-TasyriAoiyyah Menurut Yusuf al- Qaradhawi . karya Tarmizi M. Jakfar, dan Hadis & Orientalis . karya H. Idri. Jurusan Tafsir Hadis (TH) dibuka pada akhir tahun 1980-an. Kemudian dipisah antara Tafsir dan Hadis pada tahun 2014. Nama untuk Tafsir adalah Ilmu Quran dan Tafsir (IQT) atau Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT). Untuk prodi Hadis disebut Ilmu Hadis (IH atau ILHA). Tujuannya adalah untuk memperdalam ilmu- ilmu Al-Quran, tafsir dan Karena itu, terdapat macam-macam mata kuliah baru bagi prodi Ilmu Hadis seperti mata kuliah Ingkar Sunnah dan Hadis di Barat. Berdasarkan kondisi terkini, kajian hadis dapat dikatakan berkembang maju dari aspek kuantitas dan kualitas. Sebab, prodi ilmu hadis lahir dan berkembang di berbagai perguruan tinggi, terutama di UIN/IAIN/STAIN sebagaimana disebutkan sebelumnya. Bagaimanapun, keadaan ini menambah jumlah pengkaji hadis serta penyebarannya secara Dengan lahirnya prodi Hadis di berbagai tempat, alumni S1. S2, dan S3 akan bertambah banyak. Para alumni akan mengembangkan kajian di bidang Hadis, baik di Syuhudi Ismail. Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 1. 151 | Abdullah Muhammad Yusran. Muhammad. Arya Syahputra Kajian Ilmu Hadis di Asia Tenggara JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 141-154 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. perguruan tinggi dan lembaga-lembaga pengkajian Hadis maupun dalam masyarakat Perkembangan Pesat Sebagaimana diterangkan sebelumnya, institusi pengkajian hadis baik secara formal maupun non formal berkembang. Demikian juga kurikulum dan silabus mata kuliah, judul-judul skripsi, tesis, disertasi dan buku-buku yang diterbitkan mengalami lompatan yang sangat signifikan dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Pada periode sebelumnya, pengkajian hadis meliputi hal-hal yang berkaitan dengan sejarah, pemaknaan tekstual, dan penilaian terhadap sanad dan matan hadis sebagaimana yang termuat dalam kurikulum nasional PTAIS Depag 1998. Sementara itu, kurikulum Program Ilmu Hadis 2018 yang diterapkan di berbagai UIN/IAIN sudah bervariasi, seperti Hadis Nusantara. Ingkar Sunnah. Hadis di Barat. Hermeneutika Hadis. Living Hadis, dan berbagai metode modern. Akan tetapi, pembahasan yang berkembang sekarang, baik menyangkut eksistensi hadis dan pemaknaannya sudah meliputi berbagai metodologi dan pendekatan modern serta pemaknaan kontekstual, hermeneutika, living Hadis, digitalisasi Hadis untuk mempermudah mendapatkan Hadis serta pemahamannya. Namun demikian, perlu diperhitungkan peran tokoh dan ormas yang sampai pada batas-batas tertentu turut berkontribusi dalam perkembangan kajian Hadis di Indonesia sebelum sampai kepada keadaannya yang sekarang. Di antara tokoh yang dimaksud Ahmad Surkati yang menggaungkan semboyan kembali kepada al-Quran dan al-Hassan yang berperan menerapkan semboyan kembali kepada AlQuran dan sunnah secara operasional. Hasbi Ash Shiddieqy yang berperan menyediakan buku-buku hadis dan ilmu hadis dalam bahasa indonesia. Ali Hasan Ahmad sebagai tokoh NU yang menulis berbagai buku tentang hadis dan ilmu hadis. Fatchur Rahman yang berkontribusi membuat skema sanad sehingga menjadi lebih jelas. Muhammad Syuhudi Ismail yang berkontribusi dalam penulisan. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Kamus Praktis Mencari Hadis, dan Hadis Nabi yang Tekstual dan yang Kontekstual. Ali Mustafa Yaqub yang berkontribusi memperkenalkan teori-teori orientalis dan bantahannya serta mengritik hadis-hadis populer yang banyak tersebar dalam Demikian juga tidak dapat diabaikan peran ormas Islam dalam mengembangkan kajian Hadis di Indonesia yang di antaranya adalah Persis dan Muhammadiyah. Termasuk di dalamnya pengembangan Hadis di kalangan NU. Al-Washliyah, dan Jamaah Salafiyah. Suryadi. Prospek Studi Hadis di Indonesia (Yogyakarta: Dialektika, 2. Suryadi. Prospek Studi Hadis di Indonesia 152 | Abdullah Muhammad Yusran. Muhammad. Arya Syahputra Kajian Ilmu Hadis di Asia Tenggara JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 141-154 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. KESIMPULAN Kajian terhadap perkembangan ilmu hadis di Asia Tenggara menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki dinamika yang khas dalam sejarah transmisi dan pengembangan keilmuan Islam. Meskipun pada awalnya perhatian terhadap hadis tidak sebesar terhadap ilmu fikih dan tasawuf, seiring dengan waktu kajian hadis mengalami kemajuan yang Dari masa klasik hingga kontemporer, para ulama dan cendekiawan Asia Tenggara telah menunjukkan kesungguhan yang tinggi dalam mengembangkan tradisi keilmuan hadis, baik melalui penulisan karya, sistem pendidikan pesantren, maupun melalui institusi pendidikan tinggi Islam modern. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa sejak abad ke-17, telah muncul sejumlah ulama besar seperti Nuruddin ar-Raniri. Abd ar-Rauf al-Fansuri, dan Abdullah al-Fathani yang menulis karya-karya hadis dalam bahasa Melayu. Karya-karya mereka menjadi bukti awal bahwa masyarakat Muslim di kawasan ini telah membangun tradisi intelektual yang berakar kuat pada sumber-sumber Islam. Pada periode berikutnya, terutama setelah abad ke-19, jaringan ulama yang terhubung dengan pusat-pusat keilmuan di Timur Tengah memperkuat arah perkembangan studi hadis, hingga melahirkan sistem pendidikan formal berbasis hadis di lembaga-lembaga Islam seperti IAIN. UIN, dan IIUM. Penelitian ini juga menemukan bahwa perkembangan kajian hadis di Asia Tenggara tidak hanya bersifat historis, tetapi juga metodologis dan substantif. Kajian hadis di era modern telah mengalami transformasi dari bentuk tradisional yang berbasis hafalan dan sanad menjadi pendekatan yang lebih ilmiah dan multidisipliner. Pendekatanpendekatan baru seperti hermeneutika hadis, studi living hadis, serta digitalisasi hadis menunjukkan bahwa tradisi keilmuan ini terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman dan tantangan globalisasi ilmu pengetahuan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa para sarjana dan lembaga pendidikan Islam di kawasan ini tidak hanya mewarisi khazanah klasik, tetapi juga berinovasi untuk memperluas cakrawala studi hadis ke arah yang lebih kontekstual dan aplikatif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kajian hadis di Asia Tenggara berkembang dari akar tradisi lokal menuju penguatan akademik dan metodologis pada tingkat global. Kesungguhan para ulama, akademisi, dan lembaga pendidikan dalam mengkaji dan mengajarkan hadis telah menempatkan kawasan ini sebagai salah satu pusat penting dalam perkembangan studi hadis dunia Islam. Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa keberlanjutan dan kemajuan studi hadis di Asia Tenggara sangat bergantung pada sinergi antara tradisi keilmuan klasik dan inovasi akademik modern. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk memperkuat riset hadis, memperluas jejaring ilmiah antarnegara, serta menanamkan semangat kritis dan kontekstual dalam memahami hadis sebagai pedoman hidup umat Islam di tengah dinamika sosial dan budaya Asia Tenggara. DAFTAR PUSTAKA