Jurnal AbdiMU : Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 No. 2 | November 2025 : hal 127-135 DOI: 10. https://jurnal. id/index. php/abdimu e-ISSN: 2797-3468 Cerdas Finansial Sejak Usia Dini : Literasi Akuntansi untuk Anak SD Ida Rapida1. Galih Nugraha2. Jian Aulia Ningrum3 1Komputerisasi Akuntansi. Universitas MaAosoem. Indonesia 2Perbankan Syariah. Universitas MaAosoem. Indonesia 3Bimbingan dan Konseling. Universitas MaAosoem. Indonesia irdjachrab@gmail. Received : OctAo 2025 Revised : OctAo 2025 Accepted : OctAo 2025 Published : NovAo 2025 ABSTRACT Children's low understanding of basic financial concepts is one of the causes of weak healthy financial habits from an early age. This program aims to introduce basic financial accounting concepts to elementary school students in a way that is simple, fun, and appropriate to their age development The material provided includes an introduction to the concept of money, income and expenses, daily financial recording, and making a simple budget. Activities are carried out through the play while learning method. The target audience is grade 6 students at MI Baituriddo Kp. Ciparay RT 04/08. Bumiwangi Village District. Ciparay. Kab. Bandung. The method used uses PAR (Participation Action Researc. After accounting literacy activities, students can make simple notes regarding the use of the pocket money they receive to buy anything and save some of it. This program increases students' awareness and basic skills in managing personal finances and forms responsible financial habits from an early age. Keywords: Accounting Literacy. Elementary School Children. Financial Intelligence. ABSTRAK Rendahnya pemahaman anak-anak terhadap konsep dasar keuangan menjadi salah satu penyebab lemahnya kebiasaan finansial yang sehat sejak dini. Program ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep dasar akuntansi keuangan kepada siswa Sekolah Dasar dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai dengan tingkat perkembangan usia Materi yang diberikan meliputi pengenalan konsep uang, pemasukan dan pengeluaran, pencatatan keuangan harian, serta pembuatan anggaran sederhana. Kegiatan dilakukan melalui metode bermain sambil belajar. Target sasaran adalah siswa kelas 6 di MI Baituriddo Kp. Ciparay RT 04/08. Desa Bumiwangi Kecamatan Ciparay. Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan menggunakan PAR (Participacy Action Researc. Setelah kegiatan literasi akuntansi , siswa bisa membuat catatan sederhana mengenai pemanfaatan uang jajan yang diterimanya dibelikan apa saja dan sebagian lagi ditabung. Program ini meningkatkan kesadaran dan keterampilan dasar siswa dalam mengelola keuangan pribadi serta membentuk kebiasaan finansial yang bertanggung jawab sejak dini. Kata Kunci : Anak SD. Cerdas Finansial. Literasi Akuntansi. PENDAHULUAN Literasi keuangan merupakan keterampilan hidup yang sangat penting dan perlu diperkenalkan sejak usia dini. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) uang mempunyai peran sebagai alat tukar yang sah dan pembayaran yang diakui negara Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 . Dengan uang, orang bisa membeli barang yang diinginkan atau dapat juga untuk ditabung. Uang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan cara menukar uaang dengan sesuatu yang bisa memenui kebutuhannya. Anak-anak perlu belajar memahami nilai uang, cara mengelolanya, serta membedakan kebutuhan dan keinginan maupun memahami cara mengatur keuangan dengan Kebutuhan berkaitan dengan segala sesuatu yang diperlukan manusia agar bisa hidup dan merasa nyaman seperti makan, minum dan pakaian, sedangkan keinginan adalah hal-hal yang sifatnya tidak mendesak dan bisa ditangguhkan seperti: membeli mainan, membeli jajanan, dan sebagainya . Kenyataannya, banyak anak usia sekolah dasar belum bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, ataupun memahami cara mengatur uang dengan baik karena minimnya edukasi keuangan yang tersedia di tingkat dasar. Padahal, fase usia SD merupakan masa emas dalam pembentukan karakter dan kebiasaan jangka panjang, termasuk dalam hal pengelolaan keuangan. Literasi keuangan adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola keuangan secara efektif dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan ini meliputi pengetahuan tentang pemasukan, pengeluaran, menabung, membuat anggaran, serta pengambilan keputusan finansial yang bijak. AuLiterasi keuangan anak perlu dikembangkan untuk membekali mereka dengan keterampilan dasar pengelolaan keuangan dan membentuk karakter yang bertanggung jawab secara finansialAy . Pada gilirannya ketika anak tumbuh dewasa dan berbaur dalam kehidupan bermasyarakat, pemahaman mengenai literasi keuangan menjadi salah satu hal penting yang dapat meningkatkan kesejahteraannya. Dengan demikian, menanamkan kebiasaan finansial yang sehat sejak dini sangatlah penting agar anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan cerdas secara ekonomi. Sayangnya, literasi keuangan belum menjadi bagian yang menonjol dalam kurikulum formal di sekolah dasar. Banyak guru belum memiliki panduan atau sumber ajar yang sesuai untuk menyampaikan materi keuangan secara sederhana dan menarik. Penelitian oleh Damayanti menunjukkan bahwa sebanyak 73% siswa SD belum memiliki pemahaman dasar tentang konsep uang masuk dan uang keluar . Temuan ini dikuatkan oleh penelitian Kurniawan . yang menyebutkan bahwa edukasi keuangan sejak tingkat dasar memiliki pengaruh signifikan terhadap kebiasaan menabung anak di kemudian hari . Memberikan edukasi akuntansi keuangan kepada anak-anak tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit atau membosankan. Justru pendekatan yang menyenangkan, seperti permainan dan simulasi, jauh lebih efektif. Dengan memperkenalkan konsep akuntansi keuangan secara sederhana, anak-anak dapat belajar mencatat uang saku harian, membuat anggaran, dan mengenal perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Pendekatan ini sejalan dengan model pembelajaran aktif, di mana anak-anak belajar melalui pengalaman nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka . Menurut Lusardi dan Mitchell , keterampilan keuangan yang diajarkan sejak masa kanak-kanak terbukti berdampak positif terhadap kualitas pengambilan keputusan finansial saat dewasa . Mereka menekankan pentingnya Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 penyampaian edukasi keuangan dengan metode yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Beberapa studi juga menyatakan bahwa kegiatan literasi keuangan yang bersifat aplikatif dan interaktif, seperti bermain peran atau simulasi jual beli, lebih efektif dibandingkan metode ceramah tradisional . Beberapa negara seperti Jepang. Singapura dan Finlandia literasi keuangan sudah dimasukkan dalam kurikulum SD seperti pencatatan dan pengelolaan keuangan . Hal ini menunjukkan pentingnya memberikan pemahaman nilai uang dan tanggung jawab secara finansial sejak usia dini Berdasarkan kebutuhan tersebut, dirancanglah sebuah program literasi akuntansi keuangan dasar yang ditujukan bagi siswa kelas 6 di MI Baituriddo. Kp. Cikopo RT 04/08 Desa Bumiwangi. Kecamatan Ciparay. Kabupaten Bandung. Program ini menggunakan pendekatan bermain sambil belajar . earning through pla. yang dikombinasikan dengan strategi partisipatif. Dalam kegiatan ini, siswa akan diajak untuk mengenal konsep dasar keuangan . ang masuk, uang keluar, dan menabun. , mencatat transaksi keuangan sederhana, menyusun anggaran pribadi, melakukan simulasi toko-tokoan sebagai praktik nyata akuntansi dasar. Kegiatan-kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk lembar kerja, permainan kelompok, tanya jawab, dan refleksi sederhana. METODE Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini menggunakan metode PAR (Participation Action Researc. Tahapan dalam metode PAR meliputi lima kegiatan, yaitu: 1. to know . to understand . to plan . to act . to change . Tahapan metode PAR dapat dilihat dalam gambar berikut Ini: to know to change to act to understand to plan Gambar 1. Tahapan dalam Metode PAR Kegiatan pengabdian dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menekankan pada keterlibatan aktif peserta . alam hal ini siswa SD, guru, dan pihak sekola. dalam seluruh proses kegiatan. Metode PAR digunakan karena bersifat reflektif, partisipatif, dan berkelanjutan, sehingga cocok untuk membangun Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 pemahaman dan perubahan perilaku jangka panjang, seperti menabung. Adapun tahapan dalam metode PAR terdiri dari lima langkah berikut: To Know (Mengetahui permasalaha. Tahap awal ini dilakukan dengan menggali informasi dan mengenali kondisi nyata di lapangan Kegiatan yang dilakukan: Observasi awal di sekolah MI Baituriddo terkait ada tidaknya pembelajaran terkait literasi keuangan. Wawancara singkat dengan guru tentang perilaku keuangan siswa. Mengidentifikasi kebutuhan siswa berdasarkan usia dan perkembangan To Understand (Memahami akar masala. Tahap ini bertujuan memperdalam pemahaman terhadap kondisi dan anak-anak Kegiatan yang dilakukan: Analisis hasil temuan di tahap pertama . o kno. , bahwa sebagian besar siswa selalu menghabiskan uang jajan yang diberikan orang tuanya. Hanya sebagian kecil . eberapa orang yang menyisakan uang jajannya untuk Identifikasi media dan metode edukasi yang paling sesuai untuk anak-anak . ateri diberikan dengan kombinasi ceramah singkat, simulasi, dan Diskusi informal dengan guru untuk memahami konteks sosial siswa To Plan (Merencanakan aksi bersam. Semua pihak yang terlibat berkolaborasi untuk menyusun rencana kegiatan yang solutif dan kontekstual Merancang program kegiatan: - Menyusun materi literasi keuangan untuk anak SD - Memilih media yang akan digunakan dalam pelatihan, - metode pembelajaran yang diterapkan Menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan bersama guru. Menyiapkan alat bantu pembelajaran seperti materi, lembar kerja berupa formulir catatan keuanga sederhana, dan perlengkapan simulasi untuk kegiatan toko-tokoan dimana barangnya berupa makanan, celengan, dan ATK. To Act (Bertinda. Tahap ini merupakan pelaksanaan kegiatan pengabdian secara langsung di Kegiatan yang dilakukan: Menyampaikan materi literasi keuangan secara sederhana dengan memberikan contoh dalam kegiatan sehari anak-anak agar mendapat gambaran yang jelas sehingga mudah dipahami Pengenalan konsep uang jajan yang diterima sebagai uang masuk, membeli jajanan sebagai uang keluar, dan menyisakan sebagian untuk ditabung Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 Memberikan pengertian perbedaan kebutuhan dan keinginan Simulasi jual beli . oko-tokoa. untuk membeli sesuatu berdasarkan kebutuhan dan keinginan Memberikan contoh mencatat uang saku atau uang jajan ke dalam kertas kerja berupa kolom-kolom yang berisi uang masuk, uang keluar . ijajankan apa saj. , dan uang yang ditabung Mengajak siswa terlibat aktif, bekerja dalam kelompok, dan mengeksplorasi konsep dengan permainan. Melakukan observasi dan dokumentasi terhadap keterlibatan dan pemahaman siswa. To Change (Merefleksikan dan Menciptakan Perubaha. Tahapan ini bertujuan untuk melihat perubahan pemahaman dan perilaku siswa, sekaligus mendorong keberlanjutan program di sekolah. Kegiatan yang dilakukan: Melakukan evaluasi terhadap hasil kegiatan Diskusi reflektif dengan guru dan siswa mengenai manfaat kegiatan. Pemberian rekomendasi keberlanjutan kegiatan untuk diterapkan di kelas HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan literasi akuntansi keuangan dasar di MI Baituriddo. Desa Bumiwangi. Kecamatan Ciparay. Kabupaten Bandung dilakukan dalam tiga sesi. Sesi pertama diisi dengan obrolan ringan mengenai bagaimana anak-anak menggunakan uang jajan yang mereka terima dari orang tua. Dari hasil diskusi singkat tersebut diperoleh informasi bahwa: Mayoritas siswa langsung menghabiskan uang jajan yang diberikan untuk membeli makanan atau jajanan di sekolah. Sebagian siswa menyisakan sedikit uang sakunya untuk membeli jajanan lagi di rumah. Hanya sebagian kecil siswa yang benar-benar menyisihkan uang untuk Jika uang jajan sudah habis di sekolah, beberapa siswa biasanya meminta lagi kepada orang tua saat ingin membeli sesuatu di rumah. Informasi awal ini memberikan gambaran nyata tentang perilaku keuangan anak-anak, yaitu pola konsumtif yang dominan dibandingkan kebiasaan Uang jajan lebih banyak dihabiskan untuk keinginan sesaat. Hal ini memperkuat temuan Damayanti . bahwa sebagian besar siswa SD belum memahami konsep uang masuk dan uang keluar. Sesi kedua berkaitan dengan pembelajaran kontekstual. Materi yang diberikan mengenai apa yang dimaksud dengan uang, mengapa kita butuh uang, serta menjelaskan perbedaan kebutuhan dan keinginan. Di akhir sesi ini dilakukan simulasi berupa toko-tokoan dimana ada siswa yang berperan sebagai penjual dan alat peraga yang disediakan atau yg dijual berupa beberapa contoh makanan dan beberapa ATK. Siswa harus memilih barang yang dibelinya dikaitkan Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 dengan barang kebutuhan sekolah dan barang yang sifatnya keinginan. Agar menarik siswa dilengkapi dengan uang saku mainan. Anak2 cukup antusias mengikuti kegiatan ini karena barang yang dibelinya dengan uang mainan menjadi milik siswa. Gambar 1: Sesi pembuka mengenai kebiasaan anak memanfaatkan uang jajan Gambar 2: Simulasi memilih barang berdasarkan kebutuhan dan keinginan Sesi ketiga mengenalkan istilah keuangan dengan cara mudah dan Istilah yang diajarkan melipui: Pemasukan adalah uang yang diterima siswa contohnya uang saku atau uang jajan yang setiap hari diberikan orang tua untuk bekal sekolah. Pengeluaran adalah uang yang dikeluarkan siswa contohnya uang yang digunakan untuk jajan atau membeli alat tulis di sekolah. Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 Menabung adalah menyimpan sebagian uang jajan agar bisa dipakai di kemudia hari. Uang ini bisa disimpan di celengan atau tabungan Anggaran adalah rencana penggunaan uang jajan yang diberikan orang tua. Setiap diberi uang jajan saat akan berangkat ke sekolah, anak belajar mencatat terlebih dahulu jumlah uang yang diterimanya, kemudia merencanakan akan dipai berapa untuk jajan dan berapa untuk nabung. Kegiatan ini dilengkapi dengan pemberian "Lembar Kerja Uangku" yang digunakan untuk membantu anak mengetahui kemana perginya uang jajan tersebut dan seberapa rajin Gambar 3: Siswa latihan mengisi laporan penerimaan dan pengeluaran uang Gambar 4: Formulir untuk latihan siswa mencatat keuangan Sesi terakhir mengisi lembar kerja uangku cukup memakan waktu. Awalnya anak-anak kesulitan memuat rencana akan digunakan untuk apa saja uang jajan yang diterimanya. Namun dengan melakukan beberapa kali pengisian akhirnya anak bisa mengisi lembar ini dan ternyata menjadi keasikan tersendiri bagi mereka. Saat mengisi wajah anak-anak terlihat berpikir cukup keras akan digunakan apa saja uang jajan yang diterimanya hari itu. Semua anak-anak meminta lembar yang digunakan latihan untuk dibawa pulang. Ini menujukkan antusiasme mereka terkait pengelolaan keuangan. Jurnal Abdimu (Pengabdian kepada Masyaraka. e-ISSN: 2797-3468 Gambar 5: Foto bersama setelah belajar literasi keuangan sederhana PENUTUP Kegiatan literasi keuangan yang diberikan mampu mengubah cara pandang siswa terhadap uang. Melalui aktivitas pencatatan transaksi, penyusunan anggaran, dan simulasi jual beli, siswa belajar bahwa uang tidak hanya untuk dibelanjakan untuk jajan saja, tetapi juga bisa dikelola agar bermanfaat lebih besar. Dengan demikian, pembelajaran yang aplikatif membuat siswa lebih mudah memahami perbedaan kebutuhan dan keinginan, serta pentingnya menabung. Metode PAR berperan besar dalam mendorong keterlibatan aktif siswa dan guru. Pendekatan partisipatif membuat kegiatan lebih dekat dengan pengalaman nyata siswa Perubahan sikap pada sebagian siswa yang mulai punya keinginan menabung menjadi indikator keberhasilan tahap to change. Meskipun masih kecil, perubahan ini penting karena dapat menjadi fondasi kebiasaan finansial yang sehat di masa depan. DAFTAR PUSTAKA