JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ ANALISIS FAKTOR RISIKO DOMINAN PADA KEMATIAN NEONATAL DI RUMAH SAKIT Ayu Pangestuti1. Nur Fauziah2. Ratna Dilla Fitrianti3. Nofita Sari4. Amelia Rahma5 Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan. Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan. Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata pangestuti@iik. id, ameliaraahma20@gmail. Program Studi S1 Administrasi Rumah Sakit. Fakultas. Teknologi dan Manajemen Kesehatan. Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata fauziah@iik. Program Studi S1 Keperawatan. Fakultas Kesehatan. Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata dilla@iik. Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat. Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan. Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata sari@iik. Keywords: Early Neonatal Mortality. Low Birth Weight. Birth Asphyxia. Quality of Neonatal Care. Hospital Kata Kunci Kematian Neonatal Dini. Berat Badan Lahir Rendah. Asfiksia Neonatorum. Mutu Pelayanan Neonatal. Rumah Sakit ABSTRACT Background: The Infant Mortality Rate (IMR) is a fundamental indicator of public health. Hospital X Kediri reported an IMR of 11. 29 per 1,000 live births in 2024, which requires further analysis to meet national targets. Objective: This study aims to analyze the dominant risk factors contributing to neonatal deaths at Hospital X Kediri in 2024. Methods: This research is a descriptive quantitative study. Data were collected from 16 medical record documents of infants who died aged 0Ae28 days using a total sampling technique and analyzed descriptively. Results: The study found that 100% of neonatal deaths occurred in the early neonatal period . Ae6 day. Dominant risk factors included male gender . %) and Low Birth Weight (LBW <2,500. in 88% of cases. The primary clinical causes of death were Severe Birth Asphyxia . %). Respiratory Distress of Newborn . %), and IUFD . %). Conclusion: Neonatal mortality is predominantly influenced by early neonatal conditions and respiratory complications related to LBW, requiring improved neonatal resuscitation and high-risk pregnancy ABSTRAK Latar Belakang: Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator fundamental derajat kesehatan masyarakat. RS X Kediri mencatat AKB sebesar 11,29 per 1. 000 KH pada tahun 2024, sehingga diperlukan analisis mendalam untuk mencapai target nasional. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko dominan yang berkontribusi pada kematian bayi neonatal di RS X Kediri tahun 2024. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Data diambil dari 16 dokumen rekam medis bayi meninggal usia 0Ae28 hari menggunakan teknik total sampling dan dianalisis secara deskriptif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100% kematian neonatal terjadi pada masa neonatal dini . Ae6 har. Faktor risiko dominan meliputi jenis kelamin laki-laki . %) dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR <2. 500 gra. sebanyak 88% kasus. Penyebab klinis utama adalah Severe Birth Asphyxia . %). Respiratory Distress of Newborn . %), dan IUFD . %). Kesimpulan: Kematian neonatal sangat dipengaruhi oleh kondisi neonatal dini dan komplikasi pernapasan yang berkaitan dengan BBLR, sehingga diperlukan peningkatan mutu resusitasi neonatal dan manajemen kehamilan risiko tinggi. 32585/jmiak. JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ Korespondensi Penulis: Ayu Pangestuti. Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan. Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan. Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata. Jl. KH. Wachid Hasyim No. 65 Kediri Telepon: . 773299 Email: ayu. pangestuti@iik. Submitted: 10-03-2026. Accepted: 06-05-2026. Published: 01-06-2026 Copyright . 2026 The Author . This article is distributed under a Creative Commons AttributionAeShareAlike 4. 0 International License (CC BYAeSA PENDAHULUAN Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator fundamental yang digunakan secara global maupun nasional untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat dan keberhasilan program kesehatan ibu dan anak. Di Indonesia, meskipun terjadi penurunan AKB dalam beberapa dekade terakhir, angka kematian pada periode neonatal . Ae28 har. masih menjadi tantangan utama. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). AKB di Indonesia pada tahun 2023 tercatat sebesar 16,85 per 1. kelahiran hidup . Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan, menargetkan akselerasi penurunan AKB hingga mencapai 10 per 1. 000 KH pada tahun 2024 . , sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDG. yang menargetkan batas maksimal 12 per 1. 000 KH pada tahun 2030 . Periode neonatal, khususnya minggu pertama kehidupan . Ae6 har. , diakui sebagai fase paling Kematian pada periode ini seringkali disebabkan oleh faktorAefaktor yang bersifat endogen atau terkait dengan kualitas penanganan kehamilan, persalinan, dan segera setelah kelahiran . Penyebab utama kematian neonatal meliputi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) atau prematuritas. Asfiksia . ekurangan oksigen saat lahi. , dan komplikasi pernapasan . Mengingat sebagian besar komplikasi ini terjadi dalam lingkungan rumah sakit rujukan, peran fasilitas kesehatan dalam menyediakan layanan neonatal intensif menjadi sangat krusial . Rumah Sakit (RS) X Kediri, sebagai salah satu fasilitas rujukan di wilayahnya, memiliki tanggung jawab besar dalam menurunkan angka mortalitas bayi. Data internal menunjukkan bahwa AKB di RS X Kediri mengalami fluktuasi, di mana pada tahun 2024 tercatat sebesar 11,29 per 1. 000 KH . Angka ini, meskipun masih dalam batas aman standar SDGs, berada di atas target ambisius nasional. Kondisi ini mengindikasikan bahwa intervensi yang ada mungkin belum cukup spesifik untuk mengatasi risiko kematian yang dominan di rumah sakit tersebut. Diperlukan analisis mendalam terhadap karakteristik bayi yang meninggal, terutama BBLR dan asfiksia, untuk mengidentifikasi pola dan faktor pemicu spesifik [ . Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktorAefaktor risiko dominan yang berkontribusi pada tingginya kasus kematian bayi neonatal di RS X Kediri tahun Analisis ini meliputi karakteristik bayi . sia kematian, jenis kelamin, berat badan, dan panjang badan lahi. serta diagnosis penyebab kematian utama. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi klinis dan manajerial yang tepat sasaran, utamanya dalam peningkatan mutu pelayanan antenatal dan resusitasi neonatal, sehingga dapat mendukung pencapaian target AKB nasional. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan faktorAefaktor risiko yang mempengaruhi angka kematian bayi usia 0Ae28 hari di RS X Kediri Tahun 2024. Populasi dan sampel berjumlah 16 dokumen rekam medis bayi yang meninggal usia 0Ae28 hari di RS X Kediri tahun 2024, yang diperoleh dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dokumen rekam medis, dan hasil dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel dan narasi. HASIL DAN ANALISIS 32585/jmiak. JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ Total sampel yang dianalisis adalah 16 rekam medis bayi yang meninggal usia 0 Ae 28 hari di RS X Kediri tahun 2024. 1 Karakteristik Berdasarkan Kelompok Usia Tabel 1. 1 Karakteristik Berdasarkan Kelompok Usia Kelompok Usia Oc 0 hari Ae 6 hari 7 hari Ae 28 hari Sumber: Data Sekunder Rekam Medis Berdasarkan data 16 rekam medis bayi yang meninggal di RS X Kediri tahun 2024, seluruh kematian . %) terjadi pada kelompok usia 0Ae6 hari atau masa neonatal dini. Temuan ini menegaskan bahwa faktor risiko kematian berpusat pada kondisi bayi saat lahir dan kualitas penanganan segera setelah Kematian pada periode ini sering disebabkan oleh faktor endogen yang berkaitan langsung dengan kondisi saat kehamilan dan proses kelahiran, seperti BBLR, prematuritas, dan asfiksia. Fokus intervensi harus diarahkan pada peningkatan kualitas layanan persalinan dan manajemen risiko neonatal pada minggu pertama kehidupan. 2 Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 1. 2 Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Oc Laki Ae laki Perempuan Total Sumber: Data Sekunder Rekam Medis Distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa mayoritas bayi yang meninggal adalah laki-laki, yaitu sebanyak 11 bayi . %), sedangkan perempuan sebanyak 5 bayi . %). Secara biologis, bayi laki-laki memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap komplikasi neonatal seperti Respiratory Distress Syndrome (RDS) dan infeksi. Hal ini diduga terkait dengan perkembangan paru yang lebih lambat dan sistem imun yang menghasilkan respons inflamasi lebih lemah dibandingkan bayi perempuan pada usia gestasi yang sama. Data ini menjadi pertimbangan penting dalam menentukan prioritas pemantauan intensif di ruang neonatal. 3 Karakteristik Berdasarkan Berat Badan Lahir Tabel 1. 3 Karakteristik Berdasarkan Berat Badan Lahir Kelompok Berat Badan Oc f (%) <1000 gram 1000 Ae <1500 gram 1500 Ae <2500 gram 2500 Ae 4000 gram Total Sumber: Data Sekunder Rekam Medis Hasil analisis menunjukkan bahwa 88% bayi yang meninggal tergolong Berat Badan Lahir Rendah (BBLR, <2. 500 gra. BBL Ekstrem Rendah (<1000 gra. : Mencapai 31% kasus, yang secara medis memiliki prognosis buruk dan memerlukan perawatan intensif. BBLR . 0Ae<2500 gra. Merupakan kelompok terbesar dengan 50% kasus. BBL Normal . 0Ae4000 gra. : Terdapat 13% bayi berat normal yang meninggal. Kematian pada bayi berat normal mengindikasikan perlunya investigasi JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ terhadap kualitas manajemen klinis dan resusitasi neonatal, karena kematian tersebut biasanya bukan disebabkan oleh faktor bawaan bayi. 4 Identifikasi Penyebab Kematian Bayi Tabel 1. 4 Identifikasi Penyebab Kematian Bayi No Penyebab Kematian (Diagnos. Oc 1 Severe Birth Asphyxia 2 Respiratory Distress of Newborn 3 IUFD (Intrauterine Fetal Deat. 4 Birth Asphyxia 5 Extremly low birth weight Total Sumber: Data Sekunder Rekam Medis f (%) Penyebab kematian utama di RS X Kediri didominasi oleh masalah pernapasan dan kegawatdaruratan persalinan yang mencapai 70% dari total kasus. Severe Birth Asphyxia (Asfiksia Bera. menjadi penyebab tertinggi dengan 38% kasus. Respiratory Distress of Newborn (RDS) menyumbang 19% kasus. Intrauterine Fetal Death (IUFD) menyumbang 19% kasus. Diagnosa Lain seperti Birth Asphyxia . %) dan Extremely Low Birth Weight . %). Tingginya kasus asfiksia berat menunjukkan perlunya peningkatan kualitas pertolongan persalinan dan pelatihan intensif Prosedur Resusitasi Neonatal (PRN) bagi staf medis. 5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Berat Badan Lahir Berdasarkan Penyebab Kematian Neonatal Extreme Low Birth Weight f (%) Total f (%) <1000 gram 1000 Ae <1500 gram 1500 Ae <2500 gram 2500 Ae 4000 gram Sumber: Data Sekunder Rekam Medis 2 . IUFD f (%) Total RDS f (%) Berat Badan Lahir Severe Birth Asphyxia f (%) Birth Asphyxia f (%) Tabel 1. 5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Berat Badan Lahir Berdasarkan Penyebab Kematian Neonatal Analisis silang antara berat badan dan diagnosa kematian menunjukkan pola kerentanan yang Bayi <1000 gram paling banyak meninggal akibat RDS . %) dan Extreme Low Birth Weight . %). Hal ini disebabkan oleh belum sempurnanya perkembangan paru dan terbatasnya produksi Bayi 1500 Ae <2500 gram mayoritas disebabkan oleh Severe Birth Asphyxia . %) serta IUFD dan Birth Asphyxia. Bayi 2500 Ae 4000 gram penyebab kematian didominasi oleh RDS . %) dan Birth Asphyxia . %). 6 Distribusi Frekuensi Karakteristik Jenis Kelamin Berdasarkan Penyebab Kematian Neonatal 32585/jmiak. JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ Birth Asphyxia f (%) IUFD f (%) 3 . Sumber: Data Sekunder Rekam Medis Total f (%) LakiAelaki Perempuan Extreme Low Birth Weight f (%) Total Berat Badan Lahir RDS f (%) Severe Birth Asphyxia f (%) Tabel 1. 6 Distribusi Frekuensi Karakteristik Jenis Kelamin Berdasarkan Penyebab Kematian Neonatal 1 . Korelasi antara jenis kelamin dan penyebab kematian mengungkapkan bahwa bayi laki-laki mendominasi hampir seluruh kategori diagnosa. Bayi laki-laki penyebab kematian tertinggi adalah Severe Birth Asphyxia . %) dan Birth Asphyxia . %), diikuti oleh RDS dan IUFD . asing-masing 67%). Pada bayi perempuan penyebab utama adalah Severe Birth Asphyxia . %), diikuti oleh RDS. IUFD, dan Extreme Low Birth Weight . asing-masing 33% atau 50%). Risiko mortalitas yang lebih tinggi pada lakilaki ini berkaitan dengan kerentanan terhadap komplikasi respirasi dan infeksi. 7 Angka Kematian Bayi Berdasarkan data statistik RS X Kediri tahun 2024, ditemukan 16 kematian neonatal dari total 416 kelahiran hidup. Perhitungan menggunakan formula standar adalah sebagai berikut: AKB = AKB = OcKematian Bayi Neonatal ycu 1000 OcKelahiran Hidup ycu 1000 = 11,29 Angka 11,29 per 1. 000 kelahiran hidup ini menunjukkan bahwa meskipun rumah sakit berada di bawah ambang batas global SDGs . /1. 000 KH), capaian tersebut masih di atas target nasional Indonesia . /1. 000 KH). Hal ini menandakan perlunya pembenahan sistematis dalam skrining ibu hamil risiko tinggi dan peningkatan kualitas layanan neonatal. PEMBAHASAN 1 Karakteristik Berdasarkan Kelompok Usia Temuan ini sangat penting karena menegaskan bahwa faktorAefaktor risiko kematian berpusat pada kondisi bayi saat lahir dan penanganan segera setelah persalinan. Kematian pada periode neonatal dini ini sering disebabkan oleh faktor endogen, yaitu masalah yang berkaitan langsung dengan kondisi saat kehamilan dan proses kelahiran . eperti BBLR, prematuritas, dan asfiksi. Persentase 100% menunjukkan bahwa semua upaya intervensi harus difokuskan pada peningkatan kualitas layanan persalinan, manajemen risiko neonatal, dan perawatan postAeresusitasi pada minggu pertama kehidupan. 2 Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin Secara biologis, bayi laki-laki cenderung memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap komplikasi neonatal dibandingkan bayi perempuan. Hal ini sering dikaitkan dengan perkembangan paru yang lebih lambat, yang memicu Respiratory Distress Syndrome (RDS), serta sistem imun yang menghasilkan respons inflamasi lebih lemah pada usia gestasi yang sama. Data ini menegaskan perlunya prioritas pemantauan intensif di ruang neonatal bagi bayi laki-laki dengan faktor risik. JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ Temuan ini konsisten dengan literatur yang menunjukkan bahwa bayi lakiAelaki cenderung memiliki kerentanan biologis yang lebih tinggi terhadap komplikasi neonatal, termasuk Respiratory Distress Syndrome (RDS) dan infeksi . Meskipun mekanisme pastinya masih diteliti, diduga kerentanan ini terkait dengan perkembangan paru yang lebih lambat dan sistem imun yang menghasilkan respons inflamasi yang lebih lemah dibandingkan bayi perempuan pada usia gestasi yang sama. Fakta ini harus menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas pemantauan intensif di ruang neonatal 3 Karakteristik Berdasarkan Berat Badan Lahir Sebanyak 88% bayi yang meninggal tergolong Berat Badan Lahir Rendah (BBLR, <2. 500 gra. , menegaskan bahwa BBLR merupakan faktor risiko dominan yang dapat menyebabkan hipothermia, hipoglikemia, dan kesulitan pernapasan . Kelompok terbesar adalah BBLR . 0 <2500 gra. dengan 50% kasus. Menariknya, terdapat 5 kasus . %) BBL Ekstrem Rendah (<1000 gra. , yang memerlukan perawatan intensif berbiaya tinggi dan memiliki prognosis buruk. Keberadaan 2 bayi . %) dengan berat badan normal . 500Ae4. 000 gra. yang meninggal memerlukan investigasi lebih lanjut. Kematian pada bayi dengan berat normal seringkali mencerminkan masalah manajemen klinis di sekitar persalinan, seperti penundaan dalam pengambilan keputusan, atau kualitas resusitasi neonatal yang kurang optimal, bukan semataAemata karena faktor bawaan bayi . Hal ini menyoroti perlunya audit klinis rutin pada kasus kematian bayi nonAeBBLR. 4 Identifikasi Penyebab Kematian Bayi Jika dikombinasikan dengan Birth Asphyxia . %) dan Respiratory Distress of Newborn . %), terlihat bahwa komplikasi pernapasan dan kegawatdaruratan persalinan bertanggung jawab atas 70% kematian . di rumah sakit ini. Asfiksia Berat menunjukkan kegagalan resusitasi atau keterlambatan penanganan pada saat kritis . Tingginya kasus asfiksia, yang didukung oleh data tingginya BBLR dan IUGR, membentuk lingkaran setan risiko: bayi prematur atau BBLR sangat rentan terhadap asfiksia, dan asfiksia meningkatkan risiko kematian. Temuan ini menuntut peningkatan kualitas pertolongan persalinan, termasuk pelatihan intensif dalam Prosedur Resusitasi Neonatal (PRN) bagi seluruh staf yang bertugas di ruang bersalin 5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Berat Badan Lahir Berdasarkan Penyebab Kematian Neonatal Bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap berbagai masalah kesehatan karena perkembangan organ tubuhnya belum berlangsung secara optimal, terutama pada organ paru-paru dan sistem kekebalan tubuh. Ketidakmatangan organ tersebut menyebabkan bayi lebih mudah mengalami gangguan pernapasan, infeksi, serta komplikasi yang berkaitan dengan prematuritas. Beberapa penelitian melaporkan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki kemungkinan kematian pada periode neonatal yang lebih besar dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal . Pada kelompok bayi dengan berat badan lahir kurang dari 1000 gram, penyebab kematian yang paling sering ditemukan adalah Respiratory Distress Syndrome (RDS) dan kondisi Extreme Low Birth Weight. Keadaan ini berkaitan dengan belum sempurnanya perkembangan paru-paru pada bayi prematur sehingga produksi surfaktan masih terbatas. Kekurangan surfaktan tersebut mengakibatkan paru-paru tidak dapat mengembang secara optimal dan menyebabkan bayi mengalami kesulitan bernapas setelah Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa bayi dengan berat badan lahir sangat rendah memiliki risiko mortalitas neonatal yang lebih tinggi akibat komplikasi prematuritas serta gangguan respirasi yang terjadi pada masa awal kehidupan . 6 Distribusi Frekuensi Karakteristik Jenis Kelamin Berdasarkan Penyebab Kematian Neonatal 32585/jmiak. JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ Perbedaan tingkat kematian antara bayi laki-laki dan bayi perempuan dapat dipengaruhi oleh faktor biologis yang berkaitan dengan proses perkembangan organ tubuh. Salah satu faktor yang berperan adalah perkembangan paru-paru yang pada bayi laki-laki cenderung berlangsung lebih lambat dibandingkan bayi perempuan. Kondisi tersebut menyebabkan bayi laki-laki lebih rentan mengalami gangguan pernapasan pada masa neonatal. Beberapa penelitian juga melaporkan bahwa risiko mortalitas neonatal pada bayi laki-laki lebih tinggi dibandingkan bayi perempuan, yang berkaitan dengan kerentanan yang lebih besar terhadap komplikasi respirasi, kelahiran prematur, serta infeksi . 7 Angka Kematian Bayi Angka Kematian Bayi di RS X Kediri tahun 2024 adalah 11,29 per 1. 000 kelahiran hidup. Nilai ini menunjukkan tantangan serius dalam mencapai target nasional . /1. 000 KH), namun berada di bawah ambang batas SDGs . /1. 000 KH) . Perbedaan antara capaian rumah sakit dan target nasional mengindikasikan perlunya pembenahan sistematis, terutama dalam skrining ibu hamil risiko tinggi dan peningkatan kualitas layanan neonatal untuk bayiAebayi dengan faktor risiko dominan yang telah KESIMPULAN 1 Kesimpulan Angka Kematian Bayi (AKB) di RS X Kediri tahun 2024 adalah 11,29 per 1. 000 kelahiran Nilai ini menunjukkan bahwa rumah sakit belum mencapai target nasional . /1. KH), namun berada dalam batas aman standar global SDGs . /1. 000 KH). Kematian bayi neonatal 100% terjadi pada usia 0 Ae 6 hari . eriode neonatal din. , menandakan bahwa faktorAefaktor penyebab bersifat endogen dan berkaitan erat dengan kondisi saat lahir dan proses adaptasi awal kehidupan. Faktor risiko dominan pada bayi yang meninggal adalah kondisi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) atau <2. 500 gram . %), didukung oleh panjang badan lahir kurang dari 45 cm . %), yang mengindikasikan adanya Intrauterine Growth Restriction (IUGR). Penyebab kematian utama adalah Asfiksia Berat (Severe Birth Asphyxi. %), yang bersama dengan komplikasi pernapasan (Respiratory Distress of Newbor. , menyumbang mayoritas kasus kematian dan menuntut peningkatan mutu pelayanan kegawatdaruratan 2 Saran 1 Rekomendasi Klinis Diperlukan peningkatan kualitas pelayanan Antenatal Care (ANC), berfokus pada deteksi dini kehamilan risiko tinggi, pencegahan IUGR, dan edukasi gizi untuk menekan kasus BBLR. Perlu adanya pelatihan intensif dan penyegaran rutin Prosedur Resusitasi Neonatal (PRN) bagi seluruh Profesional Pemberi Asuhan (PPA) di ruang bersalin dan neonatal untuk memastikan penanganan kasus asfiksia dilakukan dengan cepat dan optimal. Rekomendasi Manajerial Rumah sakit disarankan melakukan Audit Klinis Kematian secara berkala, terutama pada kasus bayi dengan berat badan lahir normal yang meninggal, untuk mengidentifikasi potensi keterlambatan penanganan dan memperbaiki prosedur operasional standar (SOP) Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK) harus memastikan data rekam medis terisi lengkap dan akurat, mendukung evaluasi kinerja rumah sakit dan perencanaan intervensi yang tepat sasaran di masa mendatang. JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2026, hlm. eISSN: 2622-6944 pISSN: 2621-6612 URL : https://journal. id/index. php/jmiak-rekammedis/ UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih dapat diperuntukkan kepada pihakAepihak yang telah membantu dalam penelitian, instansi yang menjadi objek penelitian, bisa juga kepada pihak yang membantu dalam publikasi artikel. REFERENSI