TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 165-173 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals Tradisi Literasi Dalam Bingkai Adab: Studi Perilaku Membaca Siswa di MI Nurul Hidayah Nur Mahmudah1*. Fahmul Hikam Al Ghifari2. Abd. Haris3 1,2 Sekolah Tinggi Agama Islam Al Akbar Surabaya 3 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang *Email Korespondensi: mamamudah866@gmail. Info Artikel Abstrak Diterima : 14 Juni 2025 Direvisi : 23 Juni 2025 Diterbitkan : 29 Juni 2025 Kata Kunci: Literasi. Adab. Tradisi Membaca. Madrasah Ibtidaiyah Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana tradisi literasi terbentuk, tumbuh, dan dihidupkan dalam bingkai adab di MI Nurul Hidayah. Urangagung. Sidoarjo. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik literasi di madrasah ini tidak hanya menekankan aspek kemampuan membaca, tetapi juga terintegrasi dengan nilai-nilai adab Islami seperti ketertiban, sopan santun, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap ilmu serta guru. Dukungan guru, kepala madrasah, serta keterlibatan orang tua menjadi faktor pendukung utama dalam membangun budaya membaca yang santun dan bermakna. Penelitian ini menegaskan bahwa pembudayaan literasi di lingkungan pendidikan dasar Islam dapat menjadi jalan pembentukan karakter mulia jika dibingkai dengan nilai-nilai adab. Cara merujuk artikel ini: Abstract Mahmudah. Ghifari. FHA & Haris. Tradisi Literasi Dalam Bingkai Adab: Studi Perilaku Membaca Siswa di MI Nurul Hidayah. TaAodiban: Journal of Islamic Education, 5 . , h. This study aims to explore how literacy traditions are formed, nurtured, and practiced within the framework of adab (Islamic manner. at MI Nurul Hidayah. Urangagung. Sidoarjo. Using a qualitative approach and case study method, data were gathered through observation, in-depth interviews, and The findings reveal that literacy practices at the school emphasize not only reading skills but also integrate Islamic moral values such as discipline, politeness, responsibility, and respect for knowledge and The support of teachers, the head of the madrasah, and parental involvement are key factors in cultivating a respectful and meaningful reading This research underscores that cultivating literacy in Islamic elementary education can be a path to character building when framed with the values of adab. Keywords: Literacy. Manners. Reading Tradition. Madrasah Ibtidaiyah PENDAHULUAN Dalam ranah pendidikan dasar, literasi bukan sekadar keterampilan teknis membaca dan menulis, melainkan fondasi utama bagi pengembangan nalar, karakter, dan wawasan peserta didik. Di tengah transformasi global yang cepat, kemampuan literasi siswa menjadi indikator penting kualitas pendidikan suatu bangsa. UNESCO menyatakan bahwa Auliteracy is the foundation of all learning, a driver of sustainable development and a basic human rightAy (UNESCO, 2. Namun, di balik urgensi ini, banyak lembaga pendidikan. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 165-173 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals terutama di tingkat madrasah ibtidaiyah (MI), masih menghadapi tantangan dalam membentuk tradisi literasi yang kuat dan bermakna, terlebih yang selaras dengan nilainilai adab Islami. Tradisi literasi dalam konteks pendidikan Islam tidak hanya memuat aktivitas teknis membaca dan menulis, tetapi juga mencerminkan penghormatan terhadap ilmu dan nilai-nilai adab. Dalam khazanah Islam, literasi erat kaitannya dengan perintah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu "IqraAo" . , yang menunjukkan bahwa membaca adalah pintu pertama menuju kesadaran dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah menegaskan bahwa AuIlmu tidak akan bermanfaat tanpa adab, sebagaimana makanan tidak akan bermanfaat tanpa pencernaanAy . l-Jauziyah, 2. Maka, aktivitas membaca dalam pendidikan Islam seharusnya dilandasi oleh tata krama . , yang mencakup niat yang lurus, sikap hormat terhadap ilmu, dan kesadaran akan nilai-nilai spiritual dalam proses pencarian Fenomena yang muncul di sejumlah madrasah saat ini menunjukkan bahwa praktik literasi sering kali berjalan secara mekanis, tanpa menyentuh dimensi adab yang lebih dalam. Buku dibaca tanpa penghargaan, perpustakaan dikunjungi tanpa kesadaran akan nilai ilmu, dan kegiatan membaca hanya dijalankan untuk memenuhi program sekolah, bukan sebagai kebutuhan jiwa. Hal ini sejalan dengan temuan Hasan . , yang menyatakan bahwa literasi di lingkungan pendidikan Islam sering terjebak dalam rutinitas administratif tanpa membangun kesadaran spiritual dan etika dalam prosesnya. Di sisi lain, madrasah seperti MI Nurul Hidayah mencoba menawarkan pendekatan yang berbeda, yakni membingkai kebiasaan membaca dalam nilai-nilai adab Islami. Ini menjadi penting karena literasi yang dibangun dengan adab tidak hanya membentuk siswa yang cerdas, tetapi juga berkarakter, sebagaimana ditegaskan oleh Zuhdi . , bahwa pendidikan Islam yang mengintegrasikan nilai, pengetahuan, dan tindakan dalam satu kesatuan yang utuh. Secara empirik. MI Nurul Hidayah Urangagung. Sidoarjo, telah menjalankan berbagai inovasi dalam membudayakan literasi dengan pendekatan spiritual dan Beberapa program seperti AuMembaca Pagi dengan AdabAy. AuBuku Harian Literasi IslamiAy, dan AuTadarus BukuAy bukan sekadar aktivitas membaca, tetapi dirancang untuk ketekunan, dan penghormatan terhadap Guru-guru di madrasah ini juga dilatih untuk mengawasi serta membimbing perilaku membaca siswa, agar selaras dengan nilai-nilai Islam, seperti kesopanan. Seperti dikemukakan oleh Kepala Madrasah. AuKami ingin anak-anak tidak hanya bisa membaca, tapi juga punya rasa hormat kepada ilmu. Adab dalam membaca itu penting agar anakanak tidak hanya cerdas, tapi juga mulia hatinyaAy (Wawancara, 2. Dalam konteks pendidikan karakter berbasis Islam, pendekatan literasi yang terbingkai dalam adab merupakan upaya strategis untuk menjawab krisis moral yang sering kali tidak terjangkau oleh kurikulum kognitif semata. Menurut Azra . , pendidikan Islam seharusnya tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk kepribadian yang luhur melalui internalisasi nilai-nilai moral dan spiritual. Ia menegaskan bahwa pendidikan yang ideal dalam Islam adalah pendidikan yang mampu menanamkan akhlak mulia dan adab dalam kehidupan peserta didik. Dengan demikian, aktivitas kecepatan membaca atau jumlah buku yang dibaca tidaklah cukup jika tidak dibarengi dengan pembinaan nilai-nilai adab yang Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah bahwa sebagian besar penelitian mengenai literasi masih berkutat pada aspek teknis dan statistik, tanpa mengungkap bagaimana nilai-nilai Islami dan adab menyatu dalam praktik literasi di madrasah. Padahal, penguatan literasi dalam tradisi This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 165-173 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals Islam sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari pembinaan akhlak dan adab sebagai unsur utama pendidikan. Menurut Hasan Langgulung . , pendidikan Islam harus mampu menciptakan harmoni antara aspek intelektual dan spiritual. Ia menegaskan bahwa Auilmu pengetahuan dalam Islam tidak bernilai jika tidak dibarengi dengan akhlak dan adab yang baikAy (Langgulung, 2004: . Berdasarkan observasi awal di MI Nurul Hidayah, ditemukan bahwa siswa memiliki kebiasaan membaca yang cukup aktif, baik melalui program kelas maupun inisiatif pribadi. Namun, yang menarik adalah bagaimana guru dan madrasah mengarahkan aktivitas membaca tersebut dengan prinsip-prinsip adab. Anak-anak diajarkan membaca dalam keadaan duduk yang baik, memulai dengan doa, menjaga kebersihan dan kelestarian buku, serta membaca dengan niat mencari ilmu, bukan sekadar menyelesaikan tugas. Hal ini menjadi ciri khas madrasah tersebut dalam memaknai literasi secara utuh. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengeksplorasi lebih dalam bagaimana budaya membaca yang dibingkai oleh nilai-nilai adab diterapkan di MI Nurul Hidayah, serta bagaimana hal tersebut berdampak pada perilaku dan karakter siswa. Penelitian ini tidak hanya akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan literasi madrasah berbasis Islam, tetapi juga membuka wacana baru bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari integritas moral yang tumbuh dari kebiasaan yang baik, termasuk dalam aktivitas membaca. Rumusan masalah dalam penelitian ini difokuskan pada tiga hal utama: pertama, bagaimana bentuk perilaku membaca siswa di MI Nurul Hidayah? Kedua, bagaimana nilai-nilai adab diterapkan dalam tradisi membaca siswa? Ketiga, apa saja faktor membangun budaya literasi beradab di lingkungan madrasah? Ketiga fokus ini akan menjadi pintu masuk dalam menganalisis dinamika literasi yang tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga edukatif dan spiritual. Tujuan dari penelitian ini adalah: . mendeskripsikan perilaku membaca siswa di MI Nurul Hidayah dalam kegiatan seharihari. menganalisis bagaimana nilai-nilai adab ditanamkan dalam kegiatan literasi serta . mengidentifikasi faktorfaktor yang memengaruhi pembentukan tradisi literasi beradab di lingkungan Dengan diharapkan lahir model pembudayaan literasi yang tidak sekadar mengandalkan indikator kuantitatif, tetapi lebih berakar pada nilai-nilai etik dan spiritual yang khas dalam pendidikan Islam. Sebagai studi kualitatif, penelitian ini berangkat dari paradigma interpretatif yang mencoba memahami makna di balik praktik literasi yang dijalankan secara sadar dan terstruktur di MI Nurul Hidayah. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi kegiatan literasi siswa dan guru. Pendekatan ini dipilih untuk menangkap kompleksitas fenomena literasi sebagai aktivitas sosialkultural yang sarat dengan nilai, bukan sekadar proses individual. Lebih dari itu, penelitian ini juga akan memberikan kontribusi konseptual terhadap diskursus literasi dalam pendidikan Islam kontemporer, terutama dalam memperkuat argumen bahwa pembinaan adab harus menjadi fondasi dalam setiap upaya peningkatan kualitas pendidikan, termasuk dalam bidang literasi. Dalam konteks ini, penelitian yang menggabungkan dimensi literasi dan adab menjadi kebutuhan mendesak yang belum banyak dieksplorasi secara sistematis. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi madrasah lain dalam mengembangkan model literasi yang holistik dan berakar pada nilai-nilai Islam. Literasi yang dibingkai dalam adab bukan hanya akan melahirkan generasi yang pandai membaca, tetapi juga bijak dalam menyikapi This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 165-173 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals informasi, dan berakhlak mulia dalam mengelola pengetahuan. METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, karena bertujuan untuk memahami secara mendalam praktik tradisi literasi yang dibingkai dalam nilai-nilai adab di lingkungan MI Nurul Hidayah. Pendekatan ini dipilih karena karakteristik fenomena yang diteliti bersifat kontekstual dan pemahaman yang komprehensif dan mendalam melalui interaksi langsung antara peneliti dengan subjek dan lingkungan penelitian (Creswell, 2. Lokasi penelitian dilakukan di MI Nurul Hidayah yang terletak di Desa Urangagung. Kecamatan Sidoarjo. Jawa Timur. Madrasah ini dipilih secara purposive karena memiliki program literasi yang pembinaan adab Islami. Subjek penelitian meliputi siswa kelas IVAeVI, guru kelas, guru literasi, kepala madrasah, dan beberapa orang tua siswa yang dianggap relevan dalam proses pembentukan tradisi literasi. Pengumpulan dengan menggunakan tiga teknik utama: observasi, wawancara mendalam, dan studi Observasi dilakukan secara langsung terhadap aktivitas membaca siswa, baik di dalam kelas maupun di luar jam Wawancara mendalam dilakukan terhadap guru dan siswa untuk menggali pandangan mereka terkait dengan kebiasaan membaca dan nilai-nilai adab yang Sementara itu, dokumentasi dilakukan dengan menelaah catatan kegiatan literasi, jurnal siswa, dan arsip program pembiasaan membaca. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan dikembangkan oleh Miles dan Huberman . Untuk menjaga validitas data, digunakan teknik triangulasi, baik dari segi sumber data, metode, maupun waktu pelaksanaan (Al Ghifari, 2. Dengan pendekatan ini, diharapkan hasil penelitian mampu merepresentasikan realitas praktik literasi beradab yang berlangsung secara otentik di MI Nurul Hidayah. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian bagaimana perilaku membaca siswa di MI Nurul Hidayah dipraktikkan dalam bingkai nilai-nilai adab Islami. Melalui proses pembudayaan literasi di madrasah ini tidak hanya terfokus pada aspek kuantitatif seperti jumlah bacaan atau kecepatan membaca, melainkan sangat menekankan dimensi adab sebagai landasan utama kegiatan literasi. Bentuk Perilaku Membaca Siswa di MI Nurul Hidayah Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama kurang lebih satu bulan, tampak bahwa kegiatan membaca telah menjadi rutinitas harian bagi sebagian besar siswa, khususnya siswa kelas IV hingga VI. Kegiatan membaca dilakukan setiap pagi selama 15Ae20 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan ini dikenal dengan istilah AuMembaca PagiAy, sebuah program literasi yang dirancang madrasah sebagai bagian dari pembiasaan literasi Menariknya, kegiatan AuMembaca PagiAy tidak berlangsung dalam suasana Guru secara aktif membimbing siswa untuk memilih bacaan yang sesuai, memberikan arahan singkat mengenai sikap dan niat membaca, serta mengingatkan siswa untuk menjaga buku dan posisi tubuh saat membaca. Seorang guru kelas V menyampaikan. AuKami tidak hanya menyuruh anak-anak membaca, tapi juga mengajarkan bagaimana membaca dengan baik, dengan sopan, duduk rapi, dan tidak bicara saat membaca. Ini juga bagian dari adabAy (Wawancara, 2. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 165-173 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals Jenis bacaan yang dibaca siswa cukup beragam, mulai dari buku cerita ringkasan kisah nabi dan sahabat. Selain itu, sebagian siswa juga membawa buku dari rumah untuk dibaca di kelas. Guru tidak membatasi pilihan bacaan, selama isi buku tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan sesuai dengan usia Dalam beberapa kasus, siswa bahkan membuat catatan singkat dari buku yang dibaca dan menyerahkannya kepada guru literasi sebagai bagian dari AuJurnal Literasi IslamiAy. Adapun perilaku siswa saat membaca menunjukkan sikap yang cukup positif. Sebagian besar siswa duduk tenang di atas karpet atau bangku, membuka buku dengan hatihati, dan menunjukkan ekspresi antusias saat membaca. Dalam satu sesi observasi, peneliti mencatat bahwa hampir tidak ada siswa yang bermainmain memperlakukan buku secara ceroboh. Hal ini menunjukkan bahwa pembiasaan yang dilakukan oleh guru dan madrasah telah membentuk kesadaran awal terhadap nilai-nilai literasi yang baik. Penerapan Nilai-Nilai Adab dalam Tradisi Membaca di MI Nurul Hidayah Penerapan nilai-nilai adab dalam aktivitas membaca merupakan inti dari pendekatan literasi di MI Nurul Hidayah. Adab tidak hanya dijadikan tema pembelajaran agama, tetapi dihidupkan dalam praktik harian siswa saat membaca. Adab terhadap buku, guru, teman, niat membaca, dan tanggung jawab terhadap ilmu menjadi bagian yang ditanamkan secara berulang dan konsisten dalam setiap kegiatan Dalam praktiknya, siswa diajarkan untuk tidak merobek atau mencoret buku, menyimpannya dengan baik, serta membaca dengan posisi duduk yang sopan dan tidak bersandar Nilai-nilai tersebut ditanamkan guru tidak hanya melalui pengajaran lisan, tetapi juga dengan memberi Guru literasi menyebut bahwa. AuKami tidak hanya menyuruh anak-anak membaca, tapi juga memperlihatkan bagaimana membaca yang baik, dengan sikap yang benar dan niat yang lurusAy (Wawancara, 2. Siswa bahkan diajak membaca doa sebelum membaca, seperti AuRabbi zidni ilma warzuqni fahmaAy, untuk membentuk kesadaran bahwa ilmu adalah karunia Allah. Doa ini menjadi pembuka setiap sesi membaca, dan perlahan menjadi bagian dari kebiasaan siswa. Adab terhadap sesama teman juga dijaga dengan ketat. Siswa diingatkan untuk tidak berbicara saat membaca, tidak mengganggu teman, dan tidak membuat suara gaduh. Ada aturan tidak tertulis di kelas yang berbunyi AuBaca dengan diam, pahami dengan hatiAy, yang menjadi semacam motto dalam selama kegiatan membaca berlangsung. Menurut Nuraini . , pembiasaan membantu siswa mengembangkan rasa tanggung jawab moral dalam proses Nilai niat dan tanggung jawab atas ilmu juga menjadi sorotan penting. Guru selalu menekankan bahwa membaca bukan semata untuk menyelesaikan tugas, tetapi untuk memahami dan mengamalkan isi bacaan. Oleh karena itu, siswa diajak untuk menceritakan ulang bacaan mereka, menuliskannya dalam jurnal, atau mendiskusikannya dalam kelompok. Kepala madrasah AuKegiatan membaca tidak hanya untuk pintar, tapi juga untuk mendekatkan diri pada AllahAy (Wawancara, 2. Pendekatan ini mencerminkan semangat pendidikan Islam yang menggabungkan aspek Dengan demikian, penerapan nilai-nilai adab dalam tradisi membaca telah membentuk sistem yang bukan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 165-173 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals hanya mencerdaskan siswa secara kepekaan etik dan religius mereka. Pendekatan Azra pendidikan Islam yang ideal harus menghasilkan manusia yang berilmu sekaligus berakhlak. Literasi beradab menjadi wujud nyata dari upaya membangun kesalehan intelektual di lingkungan madrasah. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Membangun Budaya Literasi Beradab di MI Nurul Hidayah Budaya literasi beradab yang terbangun di MI Nurul Hidayah tidak muncul secara spontan. Ia merupakan hasil dari sejumlah faktor pendukung yang saling berkaitan. Faktor pertama sekolah, terutama kepala madrasah yang memiliki visi untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari pendidikan karakter. Kepala madrasah aktif mengarahkan guru, menyediakan program, dan menciptakan suasana madrasah yang Dukungan struktural ini menjadi pondasi penting dalam pelaksanaan program-program seperti AuMembaca PagiAy. AuJumat LiterasiAy, dan AuBazar Buku IslamiAy. Faktor kedua adalah keteladanan guru, yang menjadi kunci dalam nilai-nilai kepada siswa. Guru tidak hanya memperlihatkan praktik membaca yang Dalam wawancara, seorang guru AuKami menyuruh anak-anak membaca jika membacaAy (Wawancara, 2. Keteladanan ini menciptakan hubungan yang kuat antara ucapan dan tindakan, sehingga kebiasaan membaca yang beradab. Faktor ketiga adalah tersedianya program literasi yang terstruktur dan terintegrasi dengan nilai-nilai Islam. Bacaan yang disediakan umumnya berisi kisah-kisah islami, moral, dan tokohtokoh teladan, yang tidak hanya menarik tetapi juga memperkuat karakter. Menurut Hasan . , keberhasilan program literasi dalam pendidikan Islam sangat bergantung pada keberhasilan mengaitkan isi bacaan dengan nilai-nilai kehidupan yang sesuai dengan konteks budaya dan agama siswa. Namun, di balik keberhasilan hambatan yang dihadapi madrasah. Salah satunya adalah keterbatasan koleksi buku yang bervariasi dan sesuai usia, terutama untuk siswa kelas bawah. Beberapa guru menyatakan bahwa mereka kesulitan mencari bacaan yang ringan namun tetap mengandung nilai moral islami. Selain itu, kondisi ruang baca yang belum optimal juga menjadi Kelas yang sempit dan kurang nyaman kadang membuat siswa tidak bisa membaca dengan fokus atau tenang dalam waktu yang lama. Faktor penghambat lainnya adalah membaca siswa. Sebagian siswa datang dari lingkungan keluarga yang belum membiasakan budaya membaca di Hal ketimpangan antusiasme antar siswa, di mana beberapa sangat aktif, sementara yang lain masih pasif. Untuk mengatasi hal ini, guru harus bekerja ekstra membimbing siswa yang kurang antusias agar tetap terlibat dalam kegiatan literasi. Menurut Rahman . , keterlibatan orang tua dalam pembiasaan membaca di rumah menjadi faktor penting dalam membangun budaya membaca yang berkelanjutan di Secara keseluruhan, meskipun terdapat beberapa tantangan. MI Nurul Hidayah telah menunjukkan bahwa dengan komitmen yang kuat dan pendekatan berbasis nilai, budaya literasi beradab dapat ditumbuhkan secara nyata. Dukungan dari seluruh This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 165-173 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals elemen madrasah menjadi kunci dalam mempertahankan dan mengembangkan praktik literasi yang bukan hanya fungsional, tetapi juga membentuk karakter Islami. Pembahasan: Literasi sebagai Jalan Pembentukan Karakter Islami Temuan di atas menunjukkan bahwa literasi di MI Nurul Hidayah bukan sekadar aktivitas membaca, tetapi pendidikan karakter yang terintegrasi. Hal ini sejalan dengan gagasan kontemporer bahwa pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada aspek menanamkan nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial ke dalam diri peserta didik. Menurut Zuhdi . , pendidikan Islam yang holistik harus menumbuhkan kesadaran adab sebagai fondasi utama dalam proses belajar, agar siswa tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak. Pembiasaan membaca dengan adab di madrasah ini mencerminkan menyentuh dimensi kognitif, afektif, dan spiritual secara bersamaan. Pandangan ini didukung oleh Arifin . , yang pendidikan terletak pada kemampuan lembaga untuk mengintegrasikan ilmu karakter dan penguatan spiritualitas. Dalam konteks ini. MI Nurul Hidayah telah menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar transfer informasi, tetapi juga internalisasi nilai. Lebih lanjut, praktik literasi beradab ini juga menjadi kritik terhadap kecenderungan literasi modern yang sering kali mengesampingkan dimensi etik dan nilai-nilai kearifan lokal. Banyak sekolah yang masih memandang membaca hanya sebagai kewajiban akademik, bukan sebagai bagian dari proses pembentukan kepribadian yang Di MI Nurul Hidayah, literasi kecakapan teknis. Dengan demikian, pendekatan literasi berbasis adab seperti yang dikembangkan MI Nurul Hidayah dapat dijadikan model alternatif dalam Islami. menawarkan paradigma baru yang menekankan keseimbangan antara ilmu, diharapkan dalam pendidikan Islam masa kini. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MI Nurul Hidayah, dapat disimpulkan bahwa perilaku membaca siswa telah menunjukkan perkembangan positif melalui pembiasaan yang konsisten dan didukung oleh program AuMembaca PagiAy. Siswa tidak hanya membaca secara rutin, tetapi juga mulai menunjukkan sikap yang tertib, antusias, dan menghargai buku sebagai sumber ilmu. Hal ini mencerminkan bahwa kegiatan membaca telah menjadi bagian dari budaya belajar mereka seharihari. Penerapan nilai-nilai adab dalam Nilai-nilai seperti terhadap buku, guru, dan teman, niat membaca, serta tanggung jawab terhadap ilmu diintegrasikan dalam setiap aktivitas Guru berperan sebagai pembimbing sekaligus teladan, membentuk suasana yang mendukung penguatan nilai-nilai Islami dalam proses membaca. Faktor pendukung utama dalam membangun budaya literasi beradab di MI Nurul Hidayah antara lain adalah dukungan kepemimpinan sekolah, keterlibatan guru, program literasi yang terstruktur, serta bahan bacaan yang relevan secara nilai dan Sementara itu, tantangan yang dihadapi mencakup keterbatasan koleksi buku, fasilitas ruang baca yang belum maksimal, serta kurangnya dukungan literasi dari lingkungan keluarga bagi sebagian siswa. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 165-173 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals Dengan demikian, budaya literasi yang dikembangkan di MI Nurul Hidayah bukan sekadar strategi peningkatan keterampilan membaca, tetapi merupakan bagian integral dari pendidikan karakter berbasis nilai-nilai adab Islami. Model ini dapat menjadi inspirasi bagi madrasah lain dalam membangun literasi yang tidak hanya fungsional, tetapi juga transformatif secara moral dan spiritual. Rekomendasi yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah, pertama, madrasah atau sekolah dasar Islam lain dapat mengadopsi pendekatan literasi berbasis adab ini sebagai bagian dari strategi penguatan karakter peserta didik. Literasi tidak harus dibangun dengan pendekatan teknis semata, tetapi dapat dikembangkan dalam suasana religius dan humanis yang menumbuhkan kesadaran etis dalam diri Kedua, guru dan tenaga pendidik perlu mendapatkan pelatihan khusus mengenai integrasi nilai-nilai adab dalam kegiatan literasi, agar dapat menjadi role model yang autentik bagi peserta didik. Ketiga, pemerintah dan lembaga pendidikan Islam sebaiknya memberikan dukungan terhadap pengembangan program literasi Islami yang menyentuh aspek spiritual dan moral, melalui penyediaan bahan bacaan yang sesuai serta pelatihan berbasis karakter. REFERENSI Ahmad. , & Aziz. Integration of Adab in Islamic Education: A Content Analysis on Malaysian Islamic Education Curriculum. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 9. , 87Ae96. Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin (Vol. 1Ae. Beirut: Dar al-Kutub alAoIlmiyah. Al Ghifari. GREEN EDUCATION: IMPLEMENTASI PROFIL PELAJAR RAHMATAN LIL ALAMIN MADRASAH IBTIDAIYAH MAAoARIF UJUNGPANGKAH GRESIK. Jurnal Tarbiyatuna: Jurnal Kajian Pendidikan. Pemikiran dan Pengembangan Pendidikan Islam, 5. , 1-15. Al Ghifari. Guru dalam Pembelajaran di Era Digital. ANNIBRAAS, 3. , 32-44. Amalia. , & Hakim. Penguatan Literasi Berbasis Nilai-nilai Islam dalam Pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah. Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, 6. , 21Ae34. Arifin. Pendidikan karakter dalam perspektif Islam dan implementasinya di sekolah. Jurnal Edukasi Islami, 6. , 45Ae58. Azizah. , & Ridwan. Strategi Implementasi Gerakan Literasi Sekolah di Madrasah. Jurnal Literasiologi Islamika, 4. , 201Ae218. Azra. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Kencana. Bukhari. , & Yani. Internalisasi Nilai Adab Kurikulum Pendidikan Dasar Berbasis Islam. Jurnal Tarbiyatuna, 13. , 1Ae15. Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches . th ed. Thousand Oaks. CA: Sage Publications. Djamaluddin. Pembentukan Karakter Peserta Didik Melalui Kegiatan Literasi Sekolah. Jurnal Pendidikan Karakter, 8. , 68Ae81. Fadillah. , & Nurhadi. Literasi Sebagai Budaya Sarana