JURNAL KESEHATAN MAHARDIKA Journal homepage : w. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU. PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN WAKTU PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA KEMBARAN (Correlation Between MotherAos Knowledge. Exclusive Breastfeeding And Patterns Time Of Complementary Feeding With The Nutritional Status Of Toddler In The Kembaran Villag. Dede Setiawan Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan,STIKes Mahardika. Cirebon E-mail: setiawandede414@gmail. ABSTRACT Background: Nutrition is an important part of the body needs for growth and development of Childhood, especially toddler is a period of growth and development of the most Toddler nutritional adequacy is depend on the child's mother. Lack of knowledge about nutrition will reduced ability to apply in everyday life, this is one of the causes of malnutrition in toddler. In addition, nutritional problems in toddler is also due to breastfeeding practices and complementary feeding was not appropriate in terms of both quantity and quality. Purpose: Objective of this research is to determine correlation between motherAos knowledge, exclusive breestfeeding and patterns time of complementary feeding with nutritional status of toddlers at Kembaran village. Kembaran district. Banyumas regency. Method: The research design use descriptive correlation with cross-sectional approach. Population in this study were all mothers who have toddlers age 6-24 months at Kembaran village as many as 148 people. Sampling technique use simple random sampling with 66 Data analyze with Chi Square test. Instrumental research use questionnaires and nutritional status with weight/aged indicators. Result: There was significant correlation between motherAos knowledge . value = 0,. , exclusive breastfeeding . value = 0,. and patterns time of complementary feeding . value = 0,. with the nutritional status of toddlers at Kembaran village. Conclusion: There was correlation between mother knowledge, exclusive breestfeeding and patterns time of complementary feeding with the nutritional status of toddlers. It is recommended to the toddler's mother to improve the quality of breastfeeding, complementary feeding and give breesfeeding to their babies up to 2 years in order to maintain the nutritional status who have been good status. Keywords: MotherAos knowledge. Exclusive breestfeeding. Complementary feeding. Nutritional status Corresponding Author : Dede Setiawan E-mail : setiawandede414@gmail. ISSN : 2614-1663 e-ISSN : 2355-0724 Dede Setiawan Jurnal Kesehatan Mahardika Vol. 5 No. 2 Desember 2018 PENDAHULUAN Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2025 adalah meningkatnya kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud, melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 2. Secara nasional prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada tahun 2010 adalah 17,9% yang terdiri dari 4,9% gizi buruk dan 13,0 gizi kurang. Bila dibandingkan dengan pencapaian sasaran Millenium Development Goals (MDG. tahun 2015 yaitu 15,5%, maka prevalensi gizi kurang secara nasional harus diturunkan minimal sebesar 2,4% dalam periode 2011 sampai 2015 (Depkes RI, 2. Balita atau anak dibawah umur lima tahun adalah anak usia kurang dari lima tahun sehingga bayi dalam usia satu tahun termasuk dalam golongan ini. Namun, karena faal . erja alat tubuh semestiny. bayi dibawah usia satu tahun berbeda dengan anak usia ilmuwan yang Utamanya, makanan bayi berbentuk cair, yaitu air susu ibu (ASI), sedangkan umumnya anak usia lebih dari satu tahun mulai menerima makanan padat seperti orang dewasa (Proverawati & Kusumawati, 2. Pada usia balita, kecukupan gizi anak sangat tergantung kepada ibu atau pengasuhnya. Anak balita merupakan kelompok yang menunjukan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat gizi yang tinggi setiap kilogram berat badannya. Pada masa bayi dan balita, orang tua harus selalu memperhatikan kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi anak dengan membiasakan pola makan yang seimbang dan teratur setiap hari, sesuai dengan tingkat kecukupannya (Sediaoetama, 2. Kurangnya pengetahuan gizi pada orang tua khususnya ibu, merupakan salah satu faktor penyebab kekurangan gizi pada balita. Di pedesaan makanan banyak dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi dan Terdapat pantangan makan pada balita misalnya anak tidak diberikan ikan karena bisa mendapatkan cacingan, kacang-kacangan tidak diberikan karna dapat menyebabkan sakit perut dan kembung (Baliwati, 2. Dampak kekurangan gizi pada balita dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, gangguan produksi tenaga, pertahanan tubuh yang menurun, perkembangan otak dan mental yang terganggu (Almatsier, 2. Berdasarkan hasil RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasa. tahun 2010, didapatkan data bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif hanya 15,3% dan persentase ibu di Indonesia yang memberikan ASI kurang dari satu jam hanya sebesar 29,3% serta hampir sebagian besar ibu memberikan ASI setelah satu sampai enam jam setelah melahirkan sebanyak 40,7%. Berdasarkan hasil studi pendahuluan melalui wawancara yang dilakukan terhadap 20 ibu yang mempunyai balita di desa Kembaran. Didapatkan hanya 13 . %) ibu yang memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya dan 7 . %) ibu yang tidak memberikan ASI secara eksklusif karena pada usia 4 6 bulan ibu sudah memberikan MP-ASI berupa pisang dan pepaya yang dikerok/dihaluskan serta nasi lembek . asi ti. Hal tersebut menunjukan bahwa kurangnya pengetahuan ibu dan ketepatan waktu dalam pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI. Seharusnya bayi yg berusia < 6 bulan cukup hanya diberi ASI eksklusif dan setelah bayi berusia > 6 bulan baru diperbolehkan diberi MP-ASI. Selain itu, data yang didapatkan dari Polindes Kembaran pada bulan November 2017 yaitu adanya 14 . ,2%) balita yang menunjukan status gizi kurang dari total 638 balita. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik mengetahui lebih jauh tentang hubungan antara pengetahuan ibu, pemberian ASI eksklusif dan waktu pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita di desa Kembaran untuk diteliti lebih lanjut. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan cross Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai balita yang berusia 6-24 bulan di Desa Kembaran yang berjumlah 148 orang. Pengambilan sampel dengan menggunakan metode simple random sampling sebanyak 66 sampel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu, pemberian ASI ekslusif dan waktu pemberian MP-ASI dengan status gizi balita usia 6-24 bulan. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kembaran Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas. Analisis data menggunakan uji Chi Square. HASIL PENELITIAN Tabel 1 menunjukan mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 55 . ,3%) Untuk pemberian ASI eksklusif sebagian besar responden melakukan pemberian ASI secara eksklusif sebanyak 46 . ,7%) responden. Untuk waktu pemberian makanan pendamping ASI sebagian besar responden melakukan waktu pemberian makanan pendamping ASI secara tepat sebanyak 46 . ,7%) Untuk status gizi balita mayoritas responden memiliki balita yang berstatus gizi baik sebanyak 59 . ,4%) responden. Volume 5 No. 2 Desember 2018 | Dede Setiawan Jurnal Kesehatan Mahardika Vol. 5 No. 2 Desember 2018 Pengetahuan Ibu. Pemberian ASI eksklusif, waktu pemberian MP-ASI dan Status Gizi Balita Tabel 1. Deskripsi Pengetahuan Ibu. Pemberian ASI eksklusif. Waktu pemberian MP-ASI dan Status Gizi Balita Variabel Pengetahuan ibu - Baik - Kurang Jumlah Pemberian ASI eksklusif - Ya - Tidak Jumlah Waktu pemberian MP-ASI - Tepat - Tidak tepat Jumlah Status gizi balita - Baik - Kurang Jumlah Frekuensi Persentase (%) . Hubungan pengetahuan ibu dengan status gizi balita usia 6-24 bulan di Desa Kembaran. Tabel 2. Hasil Uji Chi Square Hubungan pengetahuan ibu dengan status gizi balita usia 6-24 bulan di Desa Kembaran. Pengetahuan Baik Kurang Status gizi balita Baik Kurang Total % CI) 1,486 ,496-2,. 0,012 Jumlah abel 2 menunjukan bahwa nilai p value sebesar 0,012 ( = 0,. , sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan status gizi balita usia 6-24 bulan. Hubungan pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita usia 6-24 bulan di Desa Kembaran. Tabel 3. Hasil Uji Chi Square Hubungan pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita usia 624 bulan di Desa Kembaran. Pemberian ASI Tidak Jumlah Status gizi balita Baik Kurang Total % CI) 1,275 ,9831,. P value 0,039 Tabel 3 menunjukan bahwa nilai p value sebesar 0,039 ( = 0,. , sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita usia 6-24 bulan. Hubungan waktu pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 6-24 bulan di Desa Kembaran. Volume 5 No. 2 Desember 2018 | Dede Setiawan Jurnal Kesehatan Mahardika Vol. 5 No. 2 Desember 2018 Tabel 4. Hasil Uji Chi Square Hubungan waktu pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 6-24 bulan di Desa Kembaran. Waktu pemberian MP-ASI Status gizi balita Baik Kurang Total % CI) Tepat Tidak Tepat Jumlah Tabel 4 menunjukan bahwa nilai p value sebesar 0,039 ( = 0,. , sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara waktu pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 6-24 bulan. PEMBAHASAN Pengetahuan Ibu mengenai gizi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 55 . ,3%) responden. Hal tersebut dikarenakan mayoritas ibu balita di Desa Kembaran sering mengikuti kegiatan penyuluhan di Posyandu setiap Hal ini didukung oleh data yang didapat dari Polindes Kembaran menunjukkan bahwa tingkat partisipasi ibu balita ke Posyandu yang tergolong tinggi setiap bulan. Menurut Notoatmodjo . , pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap subyek tertentu. Pengetahuan dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan orang lain, media cetak media elektronik, atau penyuluhan-penyuluhan. Supariasa . menambahkan bahwa makin tinggi pendidikan, pengetahuan dan keterampilan terdapat kemungkinan makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga, makin baik pula pengasuhan anak dan makin banyak keluarga memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada demikian juga sebaliknya. Pemberian ASI Eksklusif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan sebagian besar responden melakukan pemberian ASI secara eksklusif sebanyak 46 . ,7%) responden. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar ibu meyakini akan pentingnya ASI mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan Info mengenai ASI eksklusif tersebut didapatkan dari penyuluhan di Posyandu serta berbagai info penting mengenai kesehatan balita didapatkan dari acara televisi. Selain itu, beberapa ibu beranggapan bahwa selain mudah, murah dan praktis. ASI merupakan makanan bayi yang mengandung banyak nutrisi yang sangat dibutuhkan 1,275 . ,9831,. P value 0,039 Brown et. menyatakan bahwa ASI merupakan makanan yang higienis, murah, mudah diberikan, dan sudah tersedia bagi bayi. ASI menjadi satu-satunya makanan yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya agar menjadi bayi yang Komposisinya yang dinamis dan sesuai dengan kebutuhan bayi menjadikan ASI sebagai asupan gizi yang optimal bagi bayi. Danuatmaja . menambahkan bahwa manfaat ASI bagi bayi adalah sebagai nutrisi. ASI sebagai makanan tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan. Setelah usia 6 bulan, bayi harus mulai diberikan makanan padat, tetapi ASI dapat diteruskan sampai usia 2 tahun atau Waktu Pemberian Pendamping ASI. Makanan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan sebagian besar responden melakukan Waktu pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) secara tepat sebanyak 46 . ,7%) Hal tersebut menunjukan bahwa ketepatan pemberian makanan pendamping ASI sudah cukup Masih adanya ibu balita yang memberikan makanan pendamping ASI kepada bayi pada usia < 6 bulan yaitu sebanyak 20 . ,3%) orang dikarenakan adanya intervensi dari beberapa orang terdekat, misalnya nenek si bayi yang meyakini bahwa bayi pada usia > 4 bulan sudah boleh diberikan makanan pendamping ASI berupa pisang yang di kerok/dihaluskan. Hal ini disebabkan karena riwayat ibu balita pada saat berusia > 4 bulan sudah mulai diberikan makanan pendamping ASI oleh sang nenek dan pada kenyataanya menurut sang nenek, tindakan tersebut tidak mempengaruhi tumbuh kembang maupun kesehatan ibu balita tersebut. Meskipun beberapa ibu balita sudah mengetahui bahwa hal tersebut salah, tetapi hal tersebut sudah menjadi kebiasaan yang umum/turun temurun di lakukan dalam lingkungannya. Status Gizi Balita. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan mayoritas responden memiliki balita yang berstatus gizi baik sebanyak 57 . ,4%) Hal tersebut menunjukan bahwa kebutuhan gizi balita terutama dibawah usia 2 tahun Volume 5 No. 2 Desember 2018 | Dede Setiawan Jurnal Kesehatan Mahardika Vol. 5 No. 2 Desember 2018 di Desa Kembaran sudah cukup terpenuhi. Jika kebutuhan gizi balita terpenuhi maka akan tercipta status gizi yang baik dibandingkan dengan kebutuhan gizi balita yang kurang terpenuhi. Menurut Suhardjo . , status gizi adalah keadaan kesehatan individu atau kelompok yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik dan energi serta zat gizi lainnya yang diperoleh dari pangan, makanan dan fisiknya dapat diukur secara Menurut Sediaoetama . Pada usia balita kecukupan gizi anak sangat tergantung kepada ibu atau pengasuhnya. Anak balita merupakan kelompok yang menunjukan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat gizi yang tinggi setiap kilogram berat badannya. Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Status Gizi Balita. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa hasil analisis diperoleh nilai p value sebesar 0,012 ( = 0,. , sehingga pengetahuan ibu dengan status gizi balita usia 6-24 Hal tersebut menunjukan bahwa pengetahuan ibu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi balita karena orang tua terutama ibu yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan gizi balita. Ibu mengaplikasikan pengetahuan mengenai gizi yang diketahuinya dalam kegiatan sehari-hari termasuk dalam pemenuhan gizi balitanya. Oleh karena itu. Pengetahuan ibu mengenai gizi yang sangat baik akan ikut berpengaruh terhadap status gizi balitanya. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Izzawati . , dalam penelitianya menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang kebutuhan gizi batita dengan status gizi batita di Posyandu Dusun Karangdaye Desa Penujak. Lombok. Nusa Tenggara Barat. Menurut Notoatmodjo . , pengetahuan yang berhubungan dengan masalah kesehatan akan mempengaruhi terjadinya gangguan kesehatan pada kelompok tertentu. Kurangnya pengetahuan tentang gizi akan mengakibatkan berkurangnya kemampuan untuk menerapkan informasi dalam kehidupan seharihari yang merupakan salah satu penyebab terjadinya gangguan gizi. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Status Gizi Balita. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa hasil analisis diperoleh nilai p value sebesar 0,039 ( = 0,. , sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita usia 6-24 Hal tersebut menunjukan bahwa pemberian ASI eksklusif merupakan faktor yang secara langsung mempengaruhi status gizi balita karena ASI merupakan makanan wajib bagi bayi karena mengandung zat gizi yang dibutuhkan bayi. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Giri et. , dalam penelitianya menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita usia 6-24 bulan di Kampung Kajanan. Buleleng. Bali. ASI merupakan makanan yang higienis, murah, mudah diberikan, dan sudah tersedia bagi ASI menjadi satu-satunya makanan yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya agar menjadi bayi yang sehat (Brown et. al, 2. Hubungan Waktu Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Balita. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa hasil analisis diperoleh nilai p value sebesar 0,039 ( = 0,. , sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara waktu pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan status gizi balita usia 6-24 bulan. Hal tersebut menunjukan bahwa waktu pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) merupakan faktor yang secara langsung mempengaruhi status gizi balita. Pada bayi usia 6 bulan. ASI sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi balita karena semakin bertambah usia bayi maka bertambah pula kebutuhan zat gizinya. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari . , dalam penelitiannya yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara umur pemberian MP-ASI pertama kali dengan status gizi anak di wilayah pesisir Desa Weujangka. Kecamatan Kuala. Kabupaten Bireuen. Pemberian MP-ASI yang kurang tepat digolongkan pada pemberian MP-ASI pada umur < 6 bulan dan pemberian MP-ASI yang tepat digolongkan pada anak yang diberikan MP-ASI pada umur Ou 6 bulan (Bogue, 2. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Mayoritas responden memiliki pengetahuan gizi yang baik sebanyak 55 . ,3%), sebagian besar responden melakukan pemberian ASI secara eksklusif sebanyak 46 . ,7%), sebagian besar responden melakukan waktu pemberian makanan pendamping ASI secara tepat sebanyak 46 . ,7%) Status gizi baik sebanyak 59 . ,4%). Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu, pemberian ASI eksklusif dan waktu pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita. Volume 5 No. 2 Desember 2018 | Dede Setiawan Jurnal Kesehatan Mahardika Vol. 5 No. 2 Desember 2018 Saran