ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29432-29438 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry terhadap Kemampuan Berpikir Kritis IPA Siswa Kelas IV Kabupaten Tangerang Hesti Sulistia1. Rizki Zuliani2. Candra Puspita Rini3 1,2,3 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Muhammadiyah Tangerang e-mail: sulistiahesti@gmail. com1, zulianbagins@gmail. candrapuspitarini@gmail. Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh belum diterapkannya pembelajaran inquiry di SDN Cikupa 2 pada materi IPA. Hal tersebut dapat menjadi salah satu penyebab siswa yang masih cenderung, kurangnya interaksi antar teman dan guru, kurang menunjukkan kemampuan yang dimiliki, kurang percaya diri dilakukan tes, dan hasil belajar masih di bawah KKM. Model pembelajaran inquiry dapat menjadi inovasi baru dalam suatu pembelajaran siswa dalam meningkatkan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV SDN Cikupa 2 kabupaten Tangerang setelah pembelajaran menggunakan model pembelajaran inquiry. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dilakukan di SDN Cikupa 2 dengan populasi 66 siswa kelas IV dan sampel sebanyak 33 siswa kelas IV A sebagai kelas kontrol dan 33 siswa IV B sebagai kelas eksperimen. Desain penelitian yang digunakan Adalah pretest posttest control grup dengan Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil berpikir kritis siswa terdapat perbedaan dari pertemuan pertama dan pertemuan kedua. Terdapat peningkatan hasil berpikir kritis siswa yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, terbukti berdasarkan dari hasil uji-t yang menunjukkan nilai sig. 0,000 < 0,05 artinya H o ditolak dan Ha diterima. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Inquiry memiliki respon yang positif dari siswa, yang dimana ditunjukkan dengan hasil nilai perpikir kritis yang meningkat. Kata kunci: Model Pembelajaran Inquiry. Materi IPA. Kemampuan Berpikir Kritis Abstract This research is motivated by the lack of implementation of inquiry learning at SDN Cikupa 2 in science material. This can be one of the causes of students who still tend to lack interaction between friends and teachers, lack of showing their abilities, lack of confidence in taking tests, and learning outcomes still below the Minimum Completion Minimum (KKM). The inquiry learning model can be a new innovation in student learning in improving critical thinking. This study aims to determine the critical thinking abilities of fourth-grade students at SDN Cikupa 2. Tangerang Regency after learning using the inquiry learning model. This research is a quantitative study conducted at SDN Cikupa 2 with a population of 66 fourth-grade students and a sample of 33 students of class IV A as the control class and 33 students of class IV B as the experimental class. The research design used is a pretest posttest control group with data collection techniques using interviews, observations, tests and documentation. The results of the study showed that students' critical thinking results differed from the first meeting and the second meeting. There was a significant increase in students' critical thinking results between the experimental class and the control class, as evidenced by the results of the t-test which showed a sig. 000 < 0. 05 means Ho is rejected and Ha is accepted. Learning using the Inquiry learning model has a positive response from students, which is indicated by the increased critical thinking scores. Keywords : Inquiry Learning Model. Science Material. Critical Thinking Skills Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29432-29438 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 PENDAHULUAN Pendidikan di Indonesia merupakan komponen yang sangat penting. Saputra . menjelaskan bahwa pendidikan berupaya untuk membantu peserta didik mengatasi tugas-tugas kehidupan secara mandiri dan bertanggung jawab. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada siswa sekolah dasar. Firdausi dkk. menjelaskan melalui kemampuan berpikir kritis siswa dilatih untuk mencermati, menganalisis dan mengevaluasi informasi atau pendapat sebelum menentukan menerima atau menolak informasi tersebut. ehingga, untuk menggali kemampuan dan keterampilan dalam mencari, mengolah, dan menilai berbagai informasi secara kritis siswa harus dilatih dalam proses pembelajaran. Di dalam bukunya Paul dan Elder mendefinisikan berpikir kritis adalah seni menganalisis dan mengevaluasi ide-ide dengan tujuan untuk Sedangkan menurut Algirdas dan Saputra . berpikir kritis adalah cara berpikir rasional untuk memperbaiki diri sendiri. Ini memiliki lima ciri: berpikir rasional, mencari kebenaran, berpikir secara bebas, dan refleksi. Memecahkan masalah adalah manfaat terbesar dari berpikir kritis. Menurut Wasahua dan Ramdhayani . Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan berpikir yang mempertanyakan kembali ide, fakta, gagasan apakah merupakan suatu yang palsu atau benar. Berpikir kritis juga bisa diartikan sebagai kemampuan dalam membangun suatu konsep yang berasal dari pertanyaan yang mempertanyakan kebenaran suatu konsep Dan setiap orang memiliki kemampuan dalam berpikir kritis yang berbeda beda, dan terdapat banyak indikator yang dapat digunakan untuk menentukan sesorang memiliki kemapuan berpikir kritis atau tidak. Menurut Anggraeni . , tujuan berpikir kritis adalah untuk mencapai pemahaman yang mendalam sehingga seseorang dapat memahami makna dari konsep dan mengungkapkan makna dari kejadian. Berpikir kritis membutuhkan keterbukaan pikiran, kerendahan hati, dan Untuk mencapai pemahaman yang mendalam, kualitas-kualitas ini membuat pemikir kritis selalu berpikiran terbuka ketika mereka mencari keyakinan yang dipertimbangkan dengan baik yang didasarkan pada bukti yang masuk akal dan logika yang benar. Dalam proses pencarian kebenaran mereka, pemikir kritis harus berhati-hati dalam menarik kesimpulan, cepat mengakui kebodohan, ingin segera mendapatkan informasi baru, dan sabar dalam menyelidiki bukti. Suharyati . menyatakan IPA merupakan ilmu yang mengkaji fenomena yang terjadi di alam melalui pengamatan, percobaan, penyimpulan, dan pembentukan teori, dengan serangkaian proses ilmiah seperti penelitian, pengumpulan, dan presentasi ide. Proses pembelajarannya ditujukan untuk mengembangkan kapasitas dalam mempelajari dan memahami alam secara Mata pelajaran IPA di sekolah dasar memiliki tujuan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk meningkatkan rasa ingin tahu serta prilaku positif terhadap sains, teknologi, meningkatkan proses keahlian untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman tentang konsep-konsep sains, dan mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman pelajaran lain, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi didalamnya. Sutarningsih . 2, h. Aumodel Inquiry merupakan modelpembelajaran yang merangsang, mengajarkan, dan mengajak siswa dalam rangka menemukan jawaban secara mandiri dari berbagai permasalahanAy. Jika model pembelajaran inquiry dikaitkan dengan pembelajaran IPA, maka model pembelajaran inquiry merupakan proses penemuan hal-hal baru dalam pembelajaran IPA. Sikap ilmiah itu mencakup sikap ingin tahu, menghargai pembuktian, berpikir kritis, kreatif, berbicara berdasarkan bukti-bukti atau data-data yang kongkret, dan peduli terhadap lingkungan. Siswa dapat menemukan konsep dasar-dasar atau ide-ide yang berkaitan dengan topik pembelajaran, mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri dan mendorong siswa untuk berpikir Intuitif, merumuskan hipotesisnya sendiri, bersikap objektif, jujur dan terbuka, jika siswa sudah dapat menemukan konsep dasar ilmiah hal ini akan menimbulkan kepuasan tersendiri yang pada akhirnya akan melahirkan sikap percaya diri karena dapat menemukan sesuatu secara sendiri oleh siswa. Penggunaan model pembelajaran inquiry diharapkan dapat memudahkan siswa dalam memahami materi Pelajaran yang diberikan guru sehingga berpikir kritis siswa meningkat. Berdasarkan hasil observasi, pembelajaran di sekolah perlu mendapat perhatian lebih karena ternyata berpikir kritis siswa pada pembelajaran IPA belum optimal. Diduga konsep IPA Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29432-29438 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 merupakan salah satu bidang yang paling sulit dipelajari. Salah satu penyebabnya adalah materi yang banyak dan membutuhkan pemahaman yang cukup, sedangkan strategi pembelajaran yang digunakan guru masih belum mampu meningkatkan berpikir kritis siswa karena hanya menggunakan metode ceramah yang sebagian besar siswa menjadi pasif. Juga, materi ini terlalu abstrak untuk dipelajari tanpa lingkungan belajar yang tepat. Untuk meningkatkan pemahaman siswa, siswa perlu lebih aktif dalam proses pembelajaran, maka guru hendaknya menggunakan strategi dan media pembelajaran yang tepat. Oleh karena itu, peneliti memilih model pembelajaran Inquiry untuk meningkatkan berpikir kritis siswa pada pembelajaran IPA. Berdasarkan uraian diatas maka perlu adanya penelitian ilmiah untuk menunjukan bahwa model pembelajaran Inquiry dapat mempengaruhi berpikir kritis siswa. Untuk itu dilakukan penelitian dengan judul AuPengaruh model pembelajaran Inquiry terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas IV SD dalam pembelajaran IPA. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalat metode penelitian kuantitatif. Dengan desain penelitian pretest posttest control gruop design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN Cikupa 2 Kabupaten Tangerang yang berjumlah 66 siswa. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas IV A sebanyak 33 siswa dan IV B sebanyak 33 siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan wawancara, observasi, test dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan peneliti, yaitu secara kuantitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Data Hasil Pretest kelas Kontrol dan kelas Eksperimen Pretest Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Pada penelitian ini yang menjadi kelas kontrol yaitu kelas IV A dan kelas eksperimen yaitu kelas IV B di SDN Cikupa 2 dengan jumlah siswa dari masing-masing kelas yaitu 33 Penyebaran data dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1. Deskripsi Data Pretest Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Nilai No. Statistic Kontrol Eksperimen Jumlah Siswa Skor Minimum Skor Maksimum Rata-rata (Mea. 45,52 48,24 Median (M. 47,00 47,00 Modus (M. Varians (S. 73,070 116,939 Standar Deviasi (S) 8,548 10,814 Bedasarkan tabel 1 di atas menunjjukkan untuk kelas kontrol diketahui bahwa rata-rata . 45,52. Median (M. 47,00. Modus (M. Varians (S . 73,070, dan Standar Deviasi (S) 8,548. Dan untuk kelas eksperimen dilihat dari data diatas diketahui bahwa rata-rata (Mea. 48,24. Median (M. 47,00. Modus (M. Varians (S . 116,939, danstandar deviasi (S) 10,814. Diliat dari hasil tersebut menunjukkan terdapat perbedaan hasil dari kelas eksperimen dan kelas kontrol: Posttest Kelas Kontrol dan kelas Eksperimen Pada akhir pembelajaran siswa kelas kontrol diberikan posttest sebaganyak 15 soal Tujuan diberikan posttest adalah untuk melihat hasil kemampuan berpikir kritis siswa tentang materi IPA. Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil kemampuan berppikir kritiis IPA materi struktur tumbuhan dan fungi bagian tumbuhan. Jumlah siswa kelas IV A yang mengikuti posttes yaitu sebanyak 33 anak. Dari 33 siswa dikelompok kontrol. Skor maksimum yang Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29432-29438 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 diperoleh adalah 87, sedangkan skor minimum yang diperoleh adalah 47. Diperoleh skor posttes dari kelompok kontrol yang digambarkan dalam gambar distribusi frekuensi berikut: Tabel 2. Deskripsi Data Posttest Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Nilai NO. Statistik Kontrol Ekperimen Jumlah Siswa Skor Minum Skor Maksimum Rata-rata (Mea. 66,06 77,58 Median (M. 63,00 80,00 Modus (M. Varians (S. 131,496 86,314 Standar Deviasi 9,291 Dilihat dari data kelas kontrol diatas diketahui bahwa rata-rata (Mea. 66,06 Median (M. 63,00. Modus (M. 60, varians (S . 131,496, dan Standar Deviasi 11,467. Dan dilihat dari data kelas eksperimen diatas dapat dilihat ba. hwa rata-rata (Mea. 77,58. Median (M. 80,00, modus (M. 83, varians (S. 86,314. Standar Deviasi (S) 9,291. Diliat dari hasil tersebut menunjukkan terdapat perbedaan hasil dari kelas eksperimen dan kelas kontrol. Uji Prasyarat Analisis Data Uji Normalitas Penelitian ini dilakukan antara kelas eksperimen yaitu kelas IV B dan kelas kontrol yaitu siswa kelas IV A kedua kelas tersebut diberikan materi yang sama hanya saja penyajiannya yang dibedakan, untuk kelas eksperimen diberikan perlakuan yaitu menggunakan model pembelajaran Inquiry sedangkan untuk kelas kontrol menggunakan model pembelajaran Setelah mendapatkan data hasil penelitian, kemudian dilakukan pengujian Uji normalitas dapat menggunakan uji Kolmogrov-Samirnov, uji normalittas digunakan untuk mengetaahui apakah data berdistribusi normal atau tidak dengan ketentuan bahwa data berdistribusi normal jika memenuhi kriteria nilai sig > 0,05. Yang Dimana dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3. Uji Normalitas data Pretest pada Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Tests of Normality Kelas Kolmogorov-Smirnova Statistic Sig. Nilai Pre-Test Kontrol Pre-Test Eksperimen Berdasarkan tabel diatas menyajikan hasil uji normalitas nilai pretest kelas kontrol menunjukkan data berdistribusi normal karena nilai signifikan 0. 200 dan nilai pretest kelas control menunjukkan nilai sig 0. 015 yang di mana lebih besar dari 0,05. maka dapat dikatakan hasil sudah sesuai dengan kriteria pengujian, bahwa data pretest untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal. Tabel 4. Uji Normalitas data Posttest pada Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov a Kelas Statistic Sig. Nilai Post-Test Eksperimen Post-Test Kontrol Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29432-29438 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Berdasarkan tabel diatas menyajikan hasil uji normalitas nilai posttest kelas eksperimen menunjukkan data berdistribusi normal karena nilai signifikan 0. 063 dan nilai pretest kelas kontrol menunjukkan nilai sig 0. 200 yang di mana lebih besar dari 0,05. maka daopat dikatakan sesuai dengan kriteria pengujian, bahwa data posttest untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal. Uji Homogenitas Setelah diketahui bahwa kedua sampel bersistribusi normal maka Uji homogenitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran data berasal dari populasi yang homogen atau tidak homogen. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kesamaan varianans kelas. Jika nilai signifikan > 0,05 maka dapat diikatakan bahwa varians dari kedua atau lebih kelas populasi data adalah sama . Jika nilai signifikan < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa varians dari dua atau lebih kelas populasi data adalah tidak sama ( tidak Data uji homogenitas sebagai berikut : Tabel 5. Uji Homogenitas data Pretest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Test of Homogeneity of Variances Levene Statistic Sig. Nilai Based on Mean 2,528 ,117 Based on Median 2,337 ,131 Based on Median and with 2,337 1 62,817 ,131 adjusted df Based on trimmed mean 2,507 ,118 Berdasarkan data diatas, maka diketahui bahwa nilai sig Based on Mean untuk variabel nilai adalah sebesar 0,117, karena nilai sig 0,117 > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa varians data nilai pretest pada siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol yang berarti terdapat kesamaan varians antara kelas atau yang berarti sama. Maka dapat dikatakan data tersebut bersifat homogen. Tabel 6. Uji Homogenitas data Posttest Kelas Ekerimen dan Kelas Kontrol Test of Homogeneity of Variances Levene Statistic Sig. Nilai Based on Mean ,102 ,750 Based on Median ,162 ,688 Based on Median and with ,162 1 62,029 ,688 adjusted df Based on trimmed mean ,134 ,715 Berdasarkan data diatas diketahui bahwa nilai sig Based on Mean untuk variable nilai adalah sebesar 0,750. Karena nilai sig 0,750 > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa nilai varians data nilai posstest pada siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol yang berarti terdapat kesamaan varians antar kelas atau berarti data tersebut bersifat homogen. Uji Hipotesis Dalam penelitian ini uji hipotesis yaitu Independent Sampel T-test yang di pakai untuk menjawab rumusan masalah Aubagaimana metode pembelajaran inquiry mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV dalam pembelajaran IPA. Berikut merupakan hasil data dari perhitungan uji hipotesis sebagai berikut : Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29432-29438 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Tabel 7. Hasil Perhitungan Uji Independent Sampel T-Test data Pretest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means Confidence Interval of the Sig. Std. Difference . Mean Error tailed Differen Differe Lowe Sig. Upper Nilai Equal 2,528 ,117 1,137 64 ,260 2,727 2,400 7,521 2,066 Equal 1,137 60,76 ,260 2,727 2,400 7,526 variances not 2,071 Berdasarkan oupuut data diatas maka diperoleh nilai sig. sebesar 0,260 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan berpikir kritis IPA antara kelas kontrol dan kelas eksperimen yang di mana belum di berikan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran inquiry. Tabel 7. Hasil Perhitungan Uji Independent Sampel T-Test data Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means 95% Confidence Sig. Std. Interval of the . Mean Error Difference tailed Differe Differe Sig. Lower Upper Nilai Equal ,102 ,750 5,652 64 ,000 12,879 2,279 8,327 17,431 Equal 5,652 63,99 ,000 12,879 2,279 8,327 17,431 Berdasarkan ouput data diatas diperoleh nilai Sig . sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. maka dapat disimpulkan adanya pengaruh kemampuan berpikir kritis IPA kelas eksperimen setelah diberikan penggunaan model pembelajaran inquiry. Dari paparan diatas tersebut maka dapat disimpulkan jika: Ho : tidak terdapat pengaruh berpikir keritis IPA materi struktur dan fungsi tumbuhan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen setelah diberikan model pembelajarn inquiry H1 : terdapat pengaruh berpikir kritis IPA materi struktur dan fungsi tumbuhan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen setelah menggunakan model pembelajaran inquiry. Maka dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh berpikir kritis materi struktur dan fungsi tumbuhan antara kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan dan kelas eksperimen yang Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29432-29438 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 diberikan perlakuan model pembelajaran inquiry, dalam kesimpulan hipotesis diatas menunjukan bahwa nilai rata-rata siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry pada kelas eksperimen 77,58, sedangkan untuk kelas yang tidak menggunakan model pembelajaran inquiy pada kelas kontrol 66,06. SIMPULAN Berdasarkan dari hasil analisis terdapat peningkatan hasil berpikir kritis siswa yang signifikan di kelas eksperimen yang diterapkan model pembelajaran Inquiry dengan kelas kontrol yang tidak menerapkan modsel pembelajaran Inquiry. Berdasarkan dari hasil uji parametric Independent Sample T test yang menunjukan nilai Sig. -taile. sebesar 0,000 < 0,05, maka H o ditolak dan H1 diterima yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara dua Maka dapat disimpulkan bahwa Metode pembelajaran Inquiry mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV dalam pembelajaran IPA. Hal ini dikarenakan siswa didorong untuk aktif dalam proses penyelidikan dan eksplorasi. siswa dituntut untuk mencari jawaban melalui observasi, pengumpulan data, serta analisis masalah yang merangsang kemampuan berpikir kritis. Hasil dari pendekatan ini meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis, mengevaluasi, dan menarik kesimpulan dari informasi yang dipelajari, sehingga mampu memahami materi IPA secara lebih mendalam dan kritis. DAFTAR PUSTAKA