(Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kriste. Vol. No. Desember 2025 . e-ISSN 2614-3135 p-ISSN 2615-739X https://w. id/e-journal/index. php/kurios Theologia morae: Slow leadership sebagai diskursus spiritualitas kepemimpinan Kristiani transformatif di era akselerasi disruptif Agiana Her Vinshu Ditakristi1 . Talizaro Tafonao2 1,2Sekolah Tinggi Teologi REAL. Batam Correspondence: agianaditakristi@gmail. DOI: https://doi. 30995/kur. Article History Submitted: Sep 16, 2025 Reviewed: Nov. 17, 2025 Accepted: Dec. 29, 2025 Keywords: Christian leadership. ecclesiological transition. kepemimpinan Kristen. spiritualitas transformatif. transisi eklesiologis Copyright: A2025. Authors. License: Abstract: This article proposes Theologia Morae (Theology of Slownes. as a theological-spiritual framework for transformative Christian leadership in the era of disruptive acceleration. Drawing from Hartmut Rosa's social acceleration theory and Byung-Chul Han's critique of the burnout society, this study diagnoses acceleration as a spiritual pathology that negates the Sabbath principle inherent in creation. The theological construction of slow leadership is built upon four foundations: theologia crucis, kenosis, pneumatology, and already-not yet eschatology. Praxis dimensions include contemplation. Sabbath as prophetic resistance, temporal hospitality, and commitment to long-term formation. Contextualized within Indonesia, this framework resonates with local wisdom traditions such as alon-alon waton kelakon, tirakat, and musyawarah. Theologia Morae argues that slowness is not weakness but an essential theological virtue for sustainable and transformative leadership. Abstrak: Artikel ini mengusulkan Theologia Morae (Teologi Kelambata. sebagai kerangka teologis-spiritual bagi kepemimpinan Kristiani transformatif di era akselerasi disruptif. Berpijak pada teori akselerasi sosial Hartmut Rosa dan kritik Byung-Chul Han terhadap masyarakat burnout, studi ini mendiagnosis akselerasi sebagai patologi spiritual yang menegasi prinsip Sabbath dalam tatanan ciptaan. Konstruksi teologis slow leadership dibangun di atas empat fondasi: theologia crucis, kenosis, pneumatologi, dan eskatologi already-not yet. Dimensi praksis mencakup kontemplasi. Sabbath sebagai resistensi profetis, hospitalitas temporal, dan komitmen pada formasi jangka panjang. Dikontekstualisasikan dalam horizon Indonesia, kerangka ini beresonansi dengan tradisi kearifan lokal seperti alon-alon waton kelakon, tirakat, dan musyawarah. Theologia Morae berargumen bahwa kelambatan bukanlah kelemahan melainkan virtus teologis yang esensial bagi kepemimpinan yang berkelanjutan dan transformatif. Pendahuluan Era kontemporer ditandai oleh fenomena yang oleh Hartmut Rosa disebut sebagai akselerasi sosialAipercepatan sistematis yang merasuki seluruh dimensi kehidupan manusia, dari teknologi hingga ritme eksistensial sehari-hari. 1 Paul Virilio dengan tajam mengidentifikasi kondisi ini sebagai dromocracy, yaitu tatanan sosial di mana kecepatan menjadi prinsip pengorganisir Hartmut Rosa. Social Acceleration: A New Theory of Modernity, trans. Jonathan Trejo-Mathys (New York: Columbia University Press, 2. , 15-21. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 729 A. Ditakristi. Tafonao. Theologia morae: SlowA utama yang mendeterminasi seluruh aspek kehidupan, termasuk formasi kepemimpinan dan praktik spiritual. 2 Dalam lanskap ini, kepemimpinanAitermasuk kepemimpinan dalam konteks gerejawiAitelah terinfeksi oleh apa yang dapat disebut sebagai cult of velocity: keputusan cepat dianggap sebagai indikator kompetensi, pertumbuhan eksponensial menjadi ukuran keberhasilan, dan busyness ditransformasi menjadi badge of honor yang menandai dedikasi dan Byung-Chul Han dalam analisis kritisnya terhadap masyarakat kontemporer, mendiagnosis bahwa kita hidup dalam Burnout SocietyAimasyarakat yang mengalami kelelahan eksistensial akibat self-exploitation yang tak berkesudahan. 3 Berbeda dengan masyarakat disipliner Foucauldian yang beroperasi melalui larangan dan hukuman eksternal, masyarakat prestasi kontemporer beroperasi melalui internalisasi tuntutan produktivitas yang membuat individu menjadi master sekaligus slave bagi dirinya sendiri. Kondisi ini menciptakan apa yang Zygmunt Bauman sebut sebagai liquid modernityAimodernitas cair di mana tidak ada yang permanen, semua harus terus bergerak, dan stabilitas dipandang sebagai stagnasi. Ironisnya, gereja dan institusi keagamaan yang seharusnya menjadi counter-cultural witness terhadap logika akselerasi, justru sering mengadopsi paradigma yang sama. Walter Brueggemann dengan tajam mengkritik bagaimana banyak komunitas iman telah menyerah pada apa yang ia sebut Pharaoh's economyAiekonomi Mesir yang ditandai oleh restless productivity, scarcity mentality, dan anxiety-driven existence. 5 Megachurch dengan orientasi pertumbuhan kuantitatifnya, program-program gereja yang padat tanpa jeda, dan pemimpin rohani yang "selalu sibuk" telah menjadi norma yang jarang dipertanyakan. Eugene Peterson, dengan kejujuran yang menyegarkan, mengakui bahwa "the word busy is the symptom not of commitment but of betrayal. Di tengah konteks inilah, artikel ini mengusulkan Theologia Morae atau "Teologi Kelambatan"Aisebuah kerangka teologis-spiritual untuk memahami dan mempraktikkan kepemimpinan Kristiani yang secara sadar menolak hegemoni akselerasi. Istilah Latin, mora . elambatan, penundaan, jed. dipilih secara deliberatif untuk menandai bahwa slow leadership bukanlah sekadar teknik manajemen waktu atau strategi self-care, melainkan sebuah postur teologis yang berakar pada pemahaman mendalam tentang natur Allah, manusia, dan waktu. Theologia Morae berargumen bahwa kelambatanAiyang oleh budaya kontemporer dipandang sebagai kelemahan atau bahkan dosaAisesungguhnya merupakan virtus teologis yang esensial bagi kepemimpinan yang transformatif dan berkelanjutan. Novelty dari kerangka Theologia Morae terletak pada tiga aspek distingtif. Pertama, berbeda dengan literatur kepemimpinan Kristiani yang umumnya bersifat adaptif terhadap paradigma manajerial-korporat. Theologia Morae secara eksplisit mengambil posisi konfrontatif terhadap logika akselerasi sebagai bentuk prophetic resistance. Kedua, kerangka ini tidak sekadar menawarkan kritik negatif, melainkan mengkonstruksi visi positif tentang kepemimpinan yang berakar dalam sumber-sumber teologis klasikAiSabbath, kenosis, theologia crucis, dan eschatological patienceAiyang diaktualisasikan untuk konteks disruptif kontemporer. Ketiga. Paul Virilio. Speed and Politics: An Essay on Dromology, trans. Mark Polizzotti (Los Angeles: Semiotext. , 2. , 46. 3 Byung-Chul Han. The Burnout Society, trans. Erik Butler (Stanford: Stanford University Press, 2. , 25. 4 Zygmunt Bauman. Liquid Modernity (Cambridge: Polity Press, 2. , 2. 5 Walter Brueggemann. Sabbath as Resistance: Saying No to the Culture of Now (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. , 1-6. 6 Eugene H. Peterson. The Contemplative Pastor: Returning to the Art of Spiritual Direction (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 17. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 730 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 Theologia Morae dikontekstualisasikan dalam horizon Indonesia dengan menggali resonansiresonansi kultural, yang dapat memperkaya dan membumikan konsep ini dalam lived experience komunitas iman lokal. Artikel ini akan bergerak dalam empat tahap argumentatif. Bagian pertama, menyajikan diagnosis teologis terhadap patologi akselerasi, yang menunjukkan bagaimana percepatan sistematis bertentangan dengan natur Allah dan manusia, sebagaimana diungkapkan dalam tradisi Kristiani. Bagian kedua, mengkonstruksi fondasi teologis slow leadership dari sumbersumber biblis dan tradisi. Bagian ketiga, mengelaborasi dimensi-dimensi praksis slow leadership sebagai spiritualitas yang dapat dipraktikkan. Bagian keempat, mengeksplorasi kontekstualisasi Theologia Morae dalam horizon Indonesia, dengan memperhatikan baik resonansi kultural maupun tantangan kontekstual yang spesifik. Diagnosis Teologis: Akselerasi sebagai Patologi Spiritual Sebelum mengkonstruksi alternatif, penting untuk memahami secara lebih mendalam mengapa akselerasi merupakan masalah teologis, bukan sekadar sosiologis atau psikologis. Rosa mengidentifikasi tiga dimensi akselerasi yang saling memperkuat dalam siklus yang ia sebut acceleration circle: akselerasi teknologis . ercepatan transportasi, komunikasi, produks. , akselerasi perubahan sosial . nstitusi, relasi, dan pengetahuan memiliki half-life yang semakin pende. , dan akselerasi tempo kehidupan . elakukan lebih banyak hal per unit wakt. 7 Paradoks yang menggelisahkan adalah bahwa, meskipun teknologi seharusnya menghemat waktu, justru kita merasa memiliki lebih sedikit waktuAisebuah fenomena yang oleh Judy Wajcman disebut sebagai time pressure paradox. Jonathan Crary dalam 24/7: Late Capitalism and the Ends of Sleep berargumen bahwa kapitalisme lanjut berusaha menghapuskan batas-batas temporal yang sebelumnya dianggap naturalAitermasuk tidur sebagai "affront to capitalism" karena merepresentasikan waktu yang tidak produktif. 9 Dalam logika 24/7, tidak ada downtime, tidak ada Sabbath, dan tidak ada jeda. Manusia direduksi menjadi apa yang Han sebut sebagai achievement-subject yang terus-menerus mengoptimalkan dirinya dalam kompetisi tanpa akhir. 10 Subjek prestasi ini bukan korban eksploitasi eksternal, melainkan eksploitator dirinya sendiriAi"entrepreneur of himself" yang tidak pernah berhenti berproduksi. Dari perspektif teologis, akselerasi sistematis dapat dipahami sebagai negasi terhadap prinsip Sabbath yang inheren dalam tatanan ciptaan. Brueggemann berargumen bahwa perintah Sabbath dalam Keluaran 20:8-11 di-grounded dalam narasi penciptaanAiAllah sendiri beristirahat pada hari ketujuh, bukan karena kelelahan, melainkan sebagai pernyataan ontologis bahwa rest adalah bagian integral dari flourishing. 11 Abraham Joshua Heschel dengan puitis menyebut Sabbath sebagai "palace in time"Aiarsitektur temporal yang memberikan struktur bermakna pada kehidupan manusia. 12 Ketika akselerasi menghapuskan jeda dan menghomogenisasi waktu menjadi aliran tanpa henti produktivitas, ia secara fundamental melanggar struktur temporal yang didesain oleh Pencipta. Rosa. Social Acceleration, 78-84. Judy Wajcman. Pressed for Time: The Acceleration of Life in Digital Capitalism (Chicago: University of Chicago Press, 2. , 3. 9 Jonathan Crary, 24/7: Late Capitalism and the Ends of Sleep (London: Verso, 2. , 9. 10 Han. The Burnout Society, 41-44. 11 Brueggemann. Sabbath as Resistance, 13-19. 12 Abraham Joshua Heschel. The Sabbath: Its Meaning for Modern Man (New York: Farrar. Straus and Giroux, 1. , 13. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 731 A. Ditakristi. Tafonao. Theologia morae: SlowA Jyrgen Moltmann dalam refleksi teologis tentang penciptaan menegaskan bahwa Sabbath bukan afterthought atau sekadar "hari libur" yang ditambahkan setelah kerja penciptaan selesai. Sebaliknya. Sabbath adalah telos penciptaanAitujuan ke arah mana seluruh ciptaan bergerak. 13 Dengan kata lain, istirahat bukanlah interupsi terhadap kerja, melainkan puncak yang memberi makna pada kerja. Budaya akselerasi membalikkan hirarki ini dengan memposisikan kerja sebagai nilai tertinggi dan istirahat sebagai gangguan yang perlu diminimalkan atauAijika memungkinkanAidieliminasi sepenuhnya. Ini adalah theological disorder yang mendalam. Tradisi monastik mengidentifikasi acedia sebagai salah satu dosa mematikan. Sering diterjemahkan sebagai "kemalasan," acedia sesungguhnya lebih tepat dipahami sebagai spiritual listlessness atau ketidakpedulian terhadap hal-hal yang sungguh-sungguh penting. Kathleen Norris berargumen bahwa manifestasi kontemporer acedia bukanlah pasivitas, melainkan hyperactivityAikesibukan kompulsif yang menjadi pelarian dari kedalaman. 14 Evagrius Ponticus, bapa padang gurun abad ke-4, menggambarkan acedia sebagai "iblis siang hari" yang membuat biarawan gelisah, tidak mampu diam, selalu ingin pindah ke tempat lain atau melakukan hal lain. 15 Bukankah ini deskripsi akurat tentang kondisi kontemporerAiFOMO (Fear of Missing Ou. , doom scrolling, ketidakmampuan untuk hadir sepenuhnya? Dengan demikian, akselerasi bukanlah sekadar masalah efisiensi atau kesehatan mentalAimeskipun memiliki implikasi pada keduanya. Akselerasi adalah patologi spiritual yang mengindikasikan disorientasi fundamental terhadap Allah, diri sendiri, dan sesama. Pemimpin Kristiani yang terperangkap dalam logika akselerasiAiyang selalu sibuk, selalu available, selalu mengejar target pertumbuhanAimungkin tampak "efektif" menurut standar manajerial, namun sesungguhnya sedang berpartisipasi dalam anti-Sabbath existence yang bertentangan dengan ritme kehidupan yang ditetapkan oleh Pencipta. Theologia Morae menawarkan jalan keluar dari patologi iniAibukan dengan menambahkan "self-care" sebagai item lain dalam daftar tugas yang sudah padat, melainkan dengan reorientasi fundamental terhadap waktu, kerja, dan identitas. Konstruksi Teologis: Sumber-Sumber Slow Leadership Setelah mendiagnosis patologi akselerasi, kini kita bergerak menuju konstruksi teologis slow leadership, dengan menggali sumber-sumber dalam tradisi Kristiani. Fondasi pertama adalah theologia crucis atau teologi salib sebagaimana dikembangkan oleh Martin Luther dan diartikulasikan ulang oleh teolog-teolog kontemporer. Luther membedakan antara theologia gloriae . eologi kemuliaa. yang mencari Allah dalam kekuatan, keberhasilan, dan spectacle, dengan theologia crucis yang menemukan Allah justru dalam kelemahan, penderitaan, dan hiddenness. Kepemimpinan yang terakselerasi sering beroperasi dalam mode theologia gloriae: obsesi dengan pertumbuhan numerik, branding, visibilitas, dan dampak yang dapat diukur. Douglas John Hall mengembangkan theologia crucis untuk konteks Amerika Utara kontemporer, berargumen bahwa gereja perlu meninggalkan triumfalisme Konstantinian dan merangkul identitas sebagai komunitas yang "lemah" menurut standar duniawi, namun kuat daJyrgen Moltmann. God in Creation: A New Theology of Creation and the Spirit of God, trans. Margaret Kohl (Minneapolis: Fortress Press, 1. , 276-280. 14 Kathleen Norris. Acedia and Me: A Marriage. Monks, and a Writer's Life (New York: Riverhead Books, 2. , 15 Evagrius Ponticus. The Praktikos and Chapters on Prayer, trans. John Eudes Bamberger (Collegeville: Cistercian Publications, 1. , 18-19. 16 Martin Luther, "Heidelberg Disputation," in Luther's Works, vol. 31, ed. Harold J. Grimm (Philadelphia: Fortress Press, 1. , 52-53. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 732 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 lam kesetiaan kepada Kristus yang tersalib. 17 Alan Lewis mengeksplorasi "Holy Saturday" sebagai locus teologis yang sering diabaikanAihari di antara kematian dan kebangkitan, hari di mana tidak ada yang terjadi, hari keheningan dan ketidakpastian. 18 Slow leadership menghargai "Holy Saturday moments"Aiperiode di mana tidak ada pertumbuhan yang terlihat, tidak ada breakthrough, hanya kehadiran yang sabar dalam kegelapan, menantikan kebangkitan yang tidak dapat dipaksakan. Fondasi kedua adalah kenosis sebagaimana diartikulasikan dalam hymne kristologis Filipi 2:5-11. Kristus "mengosongkan diri-Nya sendiri" . eauton ekenose. , mengambil rupa hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Sarah Coakley mengembangkan apa yang ia sebut kenotic feminismAipemahaman bahwa kenosis bukanlah self-abnegation yang merusak, melainkan voluntary vulnerability yang justru memberdayakan. 19 Michael Gorman berbicara tentang "cruciformity"Aikehidupan yang dibentuk oleh pola salib, yang ditandai oleh self-giving love daripada self-assertion. Dalam konteks kepemimpinan, kenosis berarti mengosongkan diri dari kebutuhan untuk mengontrol, dari kebutuhan untuk visibility, dari kecemasan tentang hasil. Pemimpin kenotik tidak perlu selalu "di depan" atau "di pusat"Aiia dapat beroperasi di belakang layar, memberdayakan orang lain, membiarkan proses organik terjadi tanpa micromanagement. Ini kontras tajam dengan model kepemimpinan yang menekankan assertiveness, self-promotion, dan strategic positioning. Kenosis membebaskan pemimpin dari anxiety untuk membuktikan diri dan menghasilkan impact yang terukur. Dengan demikian, kenosis adalah antidot teologis terhadap akselerasi yang digerakkan oleh kecemasan. Fondasi ketiga adalah pneumatologi yang menekankan kebebasan dan unpredictability Roh. Moltmann mengembangkan pneumatologi yang menekankan Roh sebagai source of life yang tidak dapat dipaksa atau dimanipulasi. 21 Roh "bertiup ke mana ia mau" (Yoh. Aiada kebebasan, ada unpredictability, ada penolakan terhadap instrumentalisasi. Kepemimpinan yang terakselerasi cenderung mengoperasikan logika control dan predictionAimenetapkan target, membuat rencana strategis, mengukur outcomes. Sementara, perencanaan tentu memiliki tempatnya, slow leadership yang berakar dalam pneumatologi menyadari bahwa Roh tidak dapat di-manage. Tugas pemimpin adalah discernment dan attentivenessAimembedakan di mana Roh bergerak dan merespons dengan ketaatan, bukan memaksakan agenda manusiawi ketika Roh belum bergerak. Fondasi keempat adalah eskatologi "already-not yet" dan kesabaran apokaliptik. Teologi Perjanjian Baru beroperasi dalam tegangan bahwa Kerajaan Allah sudah hadir dalam Kristus, namun belum sepenuhnya digenapi. Thomas Merton merefleksikan bahwa kontemplasi adalah cara untuk hidup dalam tegangan eskatologis iniAihadir sepenuhnya pada momen ini sambil terbuka pada eschaton yang akan datang. 22 Pemimpin tidak perlu memaksakan Kerajaan Allah melalui aktivisme yang frenetik. Kerajaan sudah datang dan akan datangAitugas 17 Douglas John Hall. The Cross in Our Context: Jesus and the Suffering World (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 17-24. 18 Alan E. Lewis. Between Cross and Resurrection: A Theology of Holy Saturday (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 19 Sarah Coakley. Powers and Submissions: Spirituality. Philosophy and Gender (Oxford: Blackwell, 2. , 32-39. 20 Michael J. Gorman. Cruciformity: Paul's Narrative Spirituality of the Cross (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 21 Jyrgen Moltmann. The Spirit of Life: A Universal Affirmation, trans. Margaret Kohl (Minneapolis: Fortress Press, 1. , 178. 22 Thomas Merton. Contemplative Prayer (New York: Image Books, 1. , 25. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 733 A. Ditakristi. Tafonao. Theologia morae: SlowA pemimpin adalah faithful presence, kehadiran yang setia, bukan frantic achievement, pencapaian yang hiruk-pikuk. Keempat fondasi teologis iniAitheologia crucis, kenosis, pneumatologi, dan eskatologi already-not yetAisecara bersama-sama membentuk kerangka teologis untuk slow leadership. Kepemimpinan semacam ini tidak takut dengan kelemahan . ebagaimana theologia crucis mengajarka. , tidak membutuhkan visibility . ebagaimana kenosis memodelka. , tidak memaksakan kontrol . ebagaimana pneumatologi mengingatka. , dan tidak terburu-buru untuk menyelesaikan pekerjaan Allah . ebagaimana eskatologi mengajarka. Ini adalah kepemimpinan yang counter-cultural dalam pengertian paling mendalamAibukan sekadar berbeda secara stylistic, melainkan berakar dalam visi teologis yang fundamental, berbeda tentang Allah, waktu, dan keberhasilan. Dimensi Praksis: Spiritualitas Slow Leadership Fondasi teologis di atas perlu ditranslasikan ke dalam dimensi praksis yang dapat dijalankan. Ruth Haley Barton berargumen bahwa, banyak pemimpin Kristiani beroperasi dari "empty self"Aidiri yang terkuras karena tidak ada praktik spiritual yang menghidupi. 23 Henri Nouwen dengan tajam mengidentifikasi tiga godaan kepemimpinan yang paralel dengan tiga godaan Kristus di padang gurun: godaan untuk menjadi relevant . engubah batu menjadi rot. , godaan untuk menjadi spectacular . elompat dari bai. , dan godaan untuk menjadi powerful . emerintah semua kerajaa. 24 Budaya akselerasi memperkuat ketiga godaan ini dengan menawarkan relevance melalui responsivitas cepat, spectacle melalui visibility konstan di media sosial, dan power melalui metrik pertumbuhan. Dimensi praksis pertama adalah kontemplasi sebagai tindakan. Merton menegaskan: "He who attempts to act and do things for others or for the world without deepening his own selfunderstanding, freedom, integrity, and capacity to love, will not have anything to give others. Kontemplasi bukan pelarian dari aksi, melainkan sumber aksi yang bermakna. Dallas Willard berargumen bahwa transformasi spiritual adalah proses yang lambat dan seringkali tidak linear. 25 Ia mengkritik pendekatan "microwave discipleship"Aiekspektasi bahwa pertumbuhan spiritual dapat dipercepat dengan program yang tepat. Praktik kontemplasi dalam slow leadership dapat mencakup Lectio Divina . embacaan Kitab Suci yang lambat dan meditati. Centering Prayer . oa keheninga. , dan Examen . eview harian Ignatia. Dimensi praksis kedua adalah Sabbath sebagai leadership discipline. Swoboda mengusulkan Sabbath sebagai bentuk resistance terhadap tiga fenomena kontemporer: commodification of time . aktu bukan komoditas yang harus dieksploitas. , worship of productivity . ita bukan human doings tetapi human being. , dan anxiety culture (Sabbath adalah praktik kepercayaan bahwa dunia tidak akan runtuh jika kita berhent. 26 Marva Dawn menekankan empat dimensi Sabbath: ceasing . erhenti dari kerj. , resting . eristirahat secara spiritua. , embracing . erangkul nilai-nilai keka. , dan feasting . erayakan kebaikan Alla. 23 Ruth Haley Barton. Strengthening the Soul of Your Leadership: Seeking God in the Crucible of Ministry (Downers Grove: IVP Books, 2. , 29. 24 Henri J. Nouwen. In the Name of Jesus: Reflections on Christian Leadership (New York: Crossroad, 1. , 25 Dallas Willard. Renovation of the Heart: Putting on the Character of Christ (Colorado Springs: NavPress, 2. , 85. 26 A. Swoboda. Subversive Sabbath: The Surprising Power of Rest in a Nonstop World (Grand Rapids: Brazos Press, 2. , 47. 27 Marva J. Dawn. Keeping the Sabbath Wholly: Ceasing. Resting. Embracing. Feasting (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 3. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 734 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 Bagi pemimpin. Sabbath berarti modeling istirahatAimenunjukkan bahwa istirahat adalah nilai, bukan kelemahan. Pemimpin yang tidak pernah berhenti mengirimkan pesan implisit bahwa bekerja tanpa henti adalah ekspektasi. Peterson menulis bahwa tugas pastor adalah "tidak sibuk"Aisebuah pernyataan yang counter-cultural namun esensial. 28 Kesibukan menurutnya adalah bentuk kemalasan karena menghindari pekerjaan yang lebih sulit: hadir, mendengar, berdoa, dan discernment yang membutuhkan keheningan. Slow leadership mempraktikkan Sabbath bukan sebagai day off . onsep yang masih terjebak dalam logika produktivita. , melainkan sebagai prophetic actAipernyataan bahwa nilai kita tidak ditentukan oleh produktivitas. Dimensi praksis ketiga adalah temporal hospitality atau hospitalitas waktu. Christine Pohl mengeksplorasi hospitalitas sebagai praktik Kristiani sentral yang mencakup menyediakan ruang bagi "the other. "29 Slow leadership mengembangkan dimensi temporal dari hospitalitas ini: memberi waktu penuh kepada orang lain . adir sepenuhnya dalam percakapan, bukan sambil melihat ponse. , tidak terburu-buru dalam proses pastoral . embiarkan orang menceritakan kisah mereka tanpa interups. , dan memberi ruang untuk proses organik . idak memaksakan timeline artifisial pada pertumbuhan spiritual atau resolusi konfli. Temporal hospitality adalah bentuk kasih yang konkret di era di mana waktu adalah komoditas yang paling Dimensi praksis keempat adalah komitmen pada long-term formation di atas short-term Oscar Cullmann menggambarkan tegangan eskatologis dengan metafora D-Day dan V-Day: pertempuran menentukan sudah dimenangkan di salib, namun perang belum berakhir sampai parousia. 30 Kepemimpinan Kristiani beroperasi dalam long game transformasiAihasilnya mungkin tidak terlihat selama bertahun-tahun, bahkan dekade. James Davison Hunter mengusulkan konsep "faithful presence" sebagai postur gereja dalam kebudayaanAibukan triumphalist takeover maupun withdrawalist retreat, melainkan kehadiran yang setia dan sabar dalam jangka panjang. Miroslav Volf dalam A Public Faith mengkritik baik "thin faith" yang hanya relevan untuk domain privat maupun "thick faith" yang totalitarian. 32 Ia mengusulkan prophetic engagement yang sabar, yang bekerja dalam long game transformasi kultural. Stanley Hauerwas dan William Willimon berbicara tentang gereja sebagai "resident aliens"Aikomunitas yang hidup di dalam dunia namun dengan ritme dan nilai yang berbeda. 33 Slow leadership menginvestasikan waktu dalam mentoring yang dalam dan personal, story-telling yang memformasi identitas komunal, dan liturgical repetition yang membentuk habitus spiritual. Kontekstualisasi Indonesia: Resonansi dan Tantangan Theologia Morae perlu dikontekstualisasikan dalam horizon Indonesia untuk menemukan relevansi dan daya transformatifnya. Andy Crouch berargumen bahwa praktik-praktik kecil yang Peterson. The Contemplative Pastor, 18-20. Christine D. Pohl. Making Room: Recovering Hospitality as a Christian Tradition (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 8. 30 Oscar Cullmann. Christ and Time: The Primitive Christian Conception of Time and History, trans. Floyd V. Filson (Philadelphia: Westminster Press, 1. , 84. 31 James Davison Hunter. To Change the World: The Irony. Tragedy, and Possibility of Christianity in the Late Modern World (New York: Oxford University Press, 2. , 238. 32 Miroslav Volf. A Public Faith: How Followers of Christ Should Serve the Common Good (Grand Rapids: Brazos Press, 2. , 79-83. 33 Stanley Hauerwas and William H. Willimon. Resident Aliens: Life in the Christian Colony (Nashville: Abingdon Press, 1. , 46. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 735 A. Ditakristi. Tafonao. Theologia morae: SlowA counter-cultural dapat menjadi bentuk witness yang powerful di era digital. 34 Di Indonesia, kontekstualisasi ini menemukan resonansi dalam tradisi-tradisi kearifan lokal yang telah lama menghargai nilai kelambatan dan kedalaman. Pepatah Jawa "alon-alon waton kelakon" . elanpelan asal tercapa. menegaskan nilai kesabaran dan persistensi di atas kecepatan. Martin Luther King Jr. berbicara tentang "creative patience"Aikesabaran yang aktif, yang terus bekerja, namun tidak terjebak dalam ilusi bahwa perubahan akan instan. 35 Konsep ini paralel dengan kebijaksanaan Jawa yang memahami bahwa transformasi genuine membutuhkan waktu. Tradisi Benediktin berbicara tentang stabilitasAikomitmen untuk tetap di satu tempat, satu komunitas, dalam jangka panjang. 36 Ini beresonansi dengan praktik tirakat dan laku prihatin dalam spiritualitas JawaAipraktik pengekangan, puasa, dan meditasi sebagai persiapan untuk tugas penting. Niels Mulder dalam kajiannya tentang mistisisme Jawa mencatat bahwa pemimpin tradisional Jawa diharapkan menjalani periode tirakat sebelum membuat keputusankeputusan besar. 37 Ini bukan sekadar "time management" tetapi praktik spiritual yang mengakui bahwa kebijaksanaan membutuhkan waktu dan keheningan untuk matang. Franz Magnis-Suseno dalam kajiannya tentang etika Jawa mengidentifikasi dua prinsip fundamental: rukun . dan hormat . 38 Kedua prinsip ini membutuhkan kelambatanAiharmoni tidak dapat dipaksakan secara cepat, penghormatan membutuhkan perhatian yang tidak terburu-buru. Praktik musyawarah mufakat dalam tradisi Indonesia mendemonstrasikan proses pengambilan keputusan kolektif yang tidak terburu-buru, mencari konsensus, memberi ruang bagi semua suara untuk didengar. Ini kontras tajam dengan model decision-making yang akseleratif yang menekankan kecepatan dan efisiensi di atas deliberasi. Kontekstualisasi juga harus jujur menghadapi tantangan. Robert Hefner mencatat bahwa Indonesia kontemporer mengalami transformasi sosial yang cepat, termasuk dalam domain 39 Fenomena megachurch dan prosperity gospel di Indonesia sering beroperasi dalam logika akselerasi: pertumbuhan cepat, program-driven ministry, metrik keberhasilan yang kuantitatif. Peter Phan dalam refleksinya tentang teologi Asia berargumen bahwa Gereja-gereja Asia menghadapi godaan untuk mengadopsi model-model Barat tanpa kritik, termasuk dalam hal 40 Slow leadership menawarkan alternatif yang mungkin lebih sesuai dengan konteks Indonesia yang relasionalAigereja sebagai keluarga extended daripada corporation, pemimpin sebagai tetua daripada CEO. Emanuel Gerrit Singgih dalam refleksinya tentang teologi kontekstual Indonesia menekankan pentingnya menggali sumber-sumber lokal untuk berteologi. 41 Theologia Morae dapat di-ground-kan dalam tradisi-tradisi ini, menunjukkan bahwa slow leadership bukan impor Barat tetapi memiliki akar dalam kearifan Nusantara. Namun, tantangan kontekstual tetap harus 34 Andy Crouch. The Tech-Wise Family: Everyday Steps for Putting Technology in Its Proper Place (Grand Rapids: Baker Books, 2. , 77. 35 Martin Luther King Jr. Strength to Love (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 21. 36 Esther de Waal. Seeking God: The Way of St. Benedict (Collegeville: Liturgical Press, 2. , 57-62. 37 Niels Mulder. Mysticism in Java: Ideology in Indonesia (Amsterdam: Pepin Press, 1. , 24. 38 Franz Magnis-Suseno. Javanese Ethics and World-View: The Javanese Idea of the Good Life (Jakarta: Gramedia, 1. , 142. 39 Robert W. Hefner, "Islamizing Java? Religion and Politics in Rural East Java," The Journal of Asian Studies 46, no. : 540. 40 Peter C. Phan. Christianity with an Asian Face: Asian American Theology in the Making (Maryknoll: Orbis Books, 2. , 15. 41 Emanuel Gerrit Singgih. Berteologi dalam Konteks: Pemikiran-pemikiran Mengenai Kontekstualisasi Teologi di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 78. KURIOS. Copyright A2025. Authors | 736 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 dihadapi: tekanan ekonomi yang nyata . anyak pendeta menghadapi tekanan finansia. , ekspektasi jemaat yang mengharapkan pemimpin "sibuk" dan "produktif," dan budaya kompetitif antar gereja yang mendorong mentalitas "growth at all costs. " Merespons tantangan ini membutuhkan reedukasi jemaat tentang apa yang sebenarnya merupakan "keberhasilan" dalam terminologi Kerajaan Allah. Rosa berargumen bahwa alternatif terhadap akselerasi bukanlah sekadar "deceleration" . tetapi apa yang ia sebut "resonance"Aikualitas hubungan responsif dengan dunia yang tidak dapat dipercepat atau diperlambat secara mekanis. 42 Carl Honory dalam In Praise of Slowness, menekankan bahwa gerakan slow bukan tentang melakukan segala sesuatu dengan lambat, melainkan tentang melakukan segala sesuatu dengan kecepatan yang tepat . empo giust. 43 Dalam konteks Indonesia, ini berarti menemukan ritme kepemimpinan yang sesuai dengan konteks relasional komunitas iman IndonesiaAiyang mungkin berbeda dari ritme yang dipaksakan oleh model-model manajerial Barat. Dengan demikian, kontekstualisasi Theologia Morae di Indonesia membutuhkan kerja ganda: di satu sisi, menggali resonansi dalam tradisi lokal yang telah lama menghargai kelambatan dan kedalaman. di sisi lain, secara kritis merespons tantangan kontekstual yang menekan ke arah akselerasi. Slow leadership dalam konteks Indonesia bukan tentang romantisisme masa lalu atau penolakan terhadap modernitas, melainkan tentang menemukan tempo giusto yang memungkinkan kehadiran yang penuh, relasi yang mendalam, dan transformasi yang berkelanjutanAinilai-nilai yang sesungguhnya inheren dalam kedua warisan, baik Kristiani maupun Nusantara. Kesimpulan Theologia Morae menawarkan visi alternatif kepemimpinan Kristiani yang secara sadar menolak hegemoni akselerasi. Berakar dalam sumber-sumber teologis klasikAiSabbath, theologia crucis, kenosis, pneumatologi, dan eskatologi already-not yetAislow leadership mengusulkan bahwa kelambatan bukanlah kelemahan melainkan virtus teologis yang esensial. Brueggemann dengan tepat mengingatkan bahwa. Sabbath adalah penolakan profetis terhadap "Pharaoh's economy" yang menuntut produktivitas tanpa henti. Di era di mana kecepatan telah menjadi default, memilih kelambatan adalah tindakan profetis. di tengah budaya yang menghargai visibility dan impact, memilih hiddenness dan faithfulness adalah kesaksian radikal. Sebagaimana Peterson dengan tajam menyimpulkan: AuThe word busy is the symptom not of commitment but of betrayal. Ay AuIt is not devotion but defection. Ay Theologia Morae mengundang pemimpin Kristiani untuk kembali ke kedalamanAikedalaman relasi dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan komunitas, dan dengan ciptaanAiyang hanya mungkin ketika kita berani memperlambat langkah di tengah dunia yang tidak pernah berhenti berlari. Referensi