Dewan Redaksi SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah Editor in Chief Yeni Asmara. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Section Editor Ira Miyarni Sustianingsih. Hum (Universitas PGRI Silampar. Reviewer/Mitra Bestari Prof. Dr. Sariyatun. Pd. Hum. (Universitas Sebelas Mare. Prof. Kunto Sofianto. Hum. Ph. (Universitas Padjadjara. Dr. Umasih. Hum. (Universitas Negeri Jakart. Administrasi Viktor Pandra. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Dr. Doni Pestalozi. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Dewi Angraini. Si. (Universitas PGRI Silampar. Alamat: Jl. Mayor Toha Kel Air Kuti Kec. Lubuklinggau Timur 1 Kota Lubuklinggau 31626 Website: http://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JS/index Email: jurnalsindang@gmail. SINDANG: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN KAJIAN SEJARAH Vol. 5 No. 1 (Januari-Juni 2. Halaman Dewan Redaksi . Daftar Isi . Kehidupan Masyarakat Etnis Tionghoa Dan Arab Dalam Perspektif Sejarah Perdagangan di Kota Palembang Agus Susilo. Yeni Asmara. Fitriyan Della Widya Ningrum . Tradisi Upacara Adat Mandi Kasai (Kajian Etnografi di Kota Lubuklingga. Isbandiyah. Supriyanto . Degredasi Tradisi Betangas Pada Masyarakat di Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas Safariza Setyowati. Ira Miyarni Sustianingsih. Agus Susilo . Perkembangan Perkebunan di Aceh Abad ke Xi - XIX Dewi Setyawati . Persepsi Masyarakat Batu Urip Terhadap Tradisi Mandi Kasai Artiani Manullang. Sarkowi. Ira Miyarni Sustianingsih . Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 17-24 ISSN-P: 2684-8872 ISSN-E: 2623-2065 DEGRADASI TRADISI BETANGAS PADA MASYARAKAT DI KECAMATAN SELANGIT KABUPATEN MUSI RAWAS Safariza Setyowati1. Ira Miyarni Sustianingsih2,Agus Susilo3 Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Silampari Alamat korespondensi: safarizasetyowati06@gmail. Diterima: 30 Agustus 2022. Direvisi: 30 November 2022. Disetujui: 30 Desember 2022 Abstract His study aims to describe the degradation of Betangas in the community in Selangit District. Musi Rawas Regency. The Betangas tradition is a steam bath tradition used in wedding customs and is used as an alternative medicine that uses spices as ingredients. However, the Betagas tradition is experiencing Degradation is a decrease in rank, degree, position, lowering class, decrease in quality caused by handling. The method used in this research is descriptive qualitative. For data collection techniques used include: Observation. Interview, and Documentation. The results of this study contain a description of the form of degradation of the Betangas tradition which includes the lack of preservation of local culture from the local community and the change in alternative medicine from traditional to modern due to the progress of the times that are increasingly developing. Then the factors that influence the degradation of the Betangas tradition in the community in Selangit District such as increased knowledge, technological advances, lack of communication between generations regarding the Betangas tradition, and educational factors. That is what has resulted in the degradation of the Betangas tradition that exists in the community in Selangit District. Keywords: Degradation. Tradition. Betangas Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang degradasi Betangas pada masyarakat di Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas. Tradisi Betangas merupakan tradisi mandi uap yang digunakan pada adat pernikahan dan digunakan sebagai alternatif pengobatan yang mengunakan rempah-rempah sebagai bahannya. Akan tetapi tradisi Betangas tersebut mengalami degradasi. Degradasi adalah penurunan pangkat, derajat, kedudukan, menurunkan kelas, penurunan mutu yang diakibatkan oleh penanganan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Untuk teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain: Observasi. Wawancara, dan Dokumentasi. Hasil penelitian ini berisi mengenai gambaran bentuk degradasi tradisi Betangas yang meliputi kurangnya pelestarian budaya lokal dari masyarakat setempat dan berubahnya alternatif pengobatan yang bersifat tradisional menjadi modern dikarenakan adanya kemajuan zaman yang semakin berkembang. Lalu faktor yang mempengaruhi terjadinya degradasi tradisi Betangas pada masyarakat di Kecamatan Selangit seperti meningkatnya ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, kurangnya komunikasi antar generasi mengenai tradisi Betangas, dan faktor pendidikan. Itulah yang mengakibatkan terjadinya degradasi tradisi Betangas yang ada pada masyarakat di Kecamatan Selangit. Kata Kunci: Degradasi. Tradisi. Betangas. Pendahuluan Indonesia kepulauan yang kaya akan budaya, suku bangsa dan tradisi. Indonesia yang kaya akan budaya, suku bangsa, dan tradisi ini yang menjadi suatu kebanggaan bagi negara Indonesia. Sudah selayaknya Indonesia kebudayaan-kebudayaan Menurut pendapat Ki Hajar Dewantara (Tantawi, 2020:. http://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JS/index kebudayaan merupakan buah budi Menurut pendapat dari Koetjaraningrat, kebudayaan merupakan sebuah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dengan cara belajar. Akan tetapi seiring masyarakat yang mendiami suatu SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 17-24. Globalisasi sebagai pintu untuk melangkah pada dunia luar. Saling berinteraksi dengan dunia luar, namun masuknya globalisasi tidak semata-mata berdampak positif tetapi juga berdampak Globalisasi menggeser nilai budaya lokal yang ada pada desa tersebut dan kebudayaan yang ada, sehingga menimbulkan suatu masalah pada bidang kebudayaan misalnya: hilangnya budaya asli suatu daerah atau suatu negara, menurunnya rasa nasionalisme, hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong royong, gaya hidup yang tidak sesuai dengan adat istiadat yang ada. Oleh karena itu sebagai generasi penerus bangsa haruslah membatasi lingkup globalisasi yang mana harus diterapkan dan yang mana yang harus ditolak agar budaya yang ada tidak mengalami pemudaran (Suneki,2012:. Secara etimologi degradasi berasal dari bahasa Inggris yaitu Decandence yang berarti penurunan, dan dalam bahasa Indonesia degradasi artinya kemunduran, kemrosotan, kesenian, adat istiadat (Daud, 2011:. Degradasi budaya yang terjadi ialah tradisi Betangas pada masyarakat di Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas. Kecamatan Selangit adalah bagian dari Kabupaten Musi Rawas yang bagus, hal itu disebabkan Kecamatan Selangit berada di jalur lintas Sumatera yang menghubungkan dari Provinsi Lampung sampai Aceh (BPS Kabupaten Musi Rawas. Di Kecamatan Selangit terdapat berbagai macam tradisi seperti, mandi kasai, tepung tawar, tradisi betangas atau mandi uap, dan lain sebagainya. Dahulunya tradisi Betangas sering dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas. Tradisi Betangas merupakan proses penguapan disertai dengan wewangian. Wewangian tumbuh-tumbuhan sebagai bahan ramuan yang direbus kemudian dimanfaatkan Betangasjuga sebagai media pengobatan, rileksasi dan kecantikan yang mana dalam prosesnya mengunakan ramuan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat bagi kesehatan serta memiliki aroma khas yang sangat harum Dias Pratami Putri . Tradisi betangas biasanya digunakan untuk adat sebelum acara pernikahan. Akan tetapi di Kecamatan Selangit tradisi Betangas ini lebih digunakan sebagai alternatif pengobatan tradisional yang dipercayai mampu mengobati penyakit yang diderita oleh masyarakat setempat seperti demam, dan lain sebagainya. Akan tetapi tradisi Betangas di Kecamatan Selangit mengalami kemerosotan atau degradasi budaya dikarenakan tidak adanya perhatian dari pemerintah masyarakat setempat untuk melestarikan tradisi Betangas tersebut. Tradisi Betangas yang dahulunya sering dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Selangit sudah jarang dilakukan pada masa Masyarakat setempat serta generasigenerasi muda lebih memilih menggunakan tradisi yang sudah berkembang mengikuti zaman seperti mandi kasai dan tepung tawar dibandingkan menggunakan tradisi betangas. Dengan seiring waktu berjalan tradisi yang ada jarang lagi ditemui ketika ada acara-acara atau pada saat ada tetangga yang akan melakukan suatu tradisi, sehingga tradisi tersebut mengalami degradasi budaya atau merosotnya budaya serta nilai-nilai yang ada pada Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian kualitatif. Menurut (Sugiyono, 2010: . metode penelitian kualitatif sering naturalistik karena penelitiannya dilakukan dalam kondisi yang alamiah. Hal ini penelitian ini memang terjadi secara alamiah, apa adanya, dalam situasi normal yang tidak dimanipulasi keadaan dan kondisinya, menekankan pada deskripsi secara alami. Menurut Bogdan Taylor (Moleong,2006:. metodologi kualitatif sebagai prosedur deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Terkait dengan metode penelitian ini, penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian deskriptif adalah penelitian yang mendeskripsikan atau menggambarkan situasi sosial dengan menyeluruh, dan mendalam. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pertimbangan bahwa yang diambil adalah data yang menggambarkan apa yang mempengaruhi terjadinya degradasi tradisi betangas pada masyarakat di Kecamatan Selangit. Pada penelitian ini menggunakan informan penelitian. Adapun informan dalam penelitian ini adalah masyarakat yang ada di Kecamatan Selangit yang akan dipilih berdasarkan kriteria sesuai dengan yang menjadi fokus penelitian dari peneliti dan teknik penentuan sampel yaitu purposive sampling. Penentuan sampel ini dapat diartikan sebagai penarikan informan secara sengaja yang dipilih oleh peneliti itu Safariza Setyowati. Ira Miyarni Sustianingsih. Agus Susilo. Degradasi Tradisi Betangas Pada Masyarakat di Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah menapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data. maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang Menurut Sugiyono . 0: . Teknik pengumpulan data terdapat berbagai macam langkah-langkahnya, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, dan gabungan atau triangulasi. Dalam penelitian kualitatif, teknik pengumpulan data yang utama adalah observasi participant, wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan gabungan ketiganya atau triangulasi (Hardani, 2020:. tradisional menjadi modern akibat perkembangan zaman yang semakin Berikut adalah penjelasan Kurangnya Pelestarian Tradisi Budaya Lokal Pelestarian didalam suatu tradisi budaya lokal itu sewajarnya harus dikembangkan atau tetap dilestarikan sesuai dengan kegunaannya. Hal ini bertujuan supaya tradisi budaya lokal tidak mengalami degradasi. Degradasi suatu budaya atau tradisi pada bahkan tradisi sudah tidak dijalankan lagi sebagaimana fungsinya. Masyarakat lebih memilih menggunakan tradisi yang sudah berkembang mengikuti zaman yang semakin berkembang seperti mandi kasai dan tepung tawar. Tradisi Betangas sudah tradisional sedangkan zaman semakin berkembang dan pastinya alternatif pengobatan semakin maju dan modern. Sebagai contohnya ketika ada masyarakat yang terkena penyakit seperti beri-beri, demam tinggi, penyakit kuning, asam lambung, dan lain sebagainya, mereka Betangas sebagai pengobatan tradisional, mereka lebih memilih mengkonsumsi obat-obatan modern sesuai dengan perkembangan zaman yang ada pada saat Alternatif Pengobatan Tradisional menjadi Alternatif pengobatan yang Pengobatan tradisional adalah salah satu pengobatan yang menggunakan bahan-bahan rempah untuk bahan utamanya. Seperti tanaman obat keluarga yang di tanam diperkarangan rumah masyarakat setempat. Dan menggunakan beberapa langkah untuk Menurut hasil wawancara bersama bapak Budi Utomo . pada tanggal 4 agustus 2022 beliau mengatakan bahwa: AuDahulunya masyarakat di Kecamatan Selangit masih sangat menggunakan alternatif pengobatan yang bersifat Karena pada zaman dahulu puskesmas dan rumah sakit masih sangat sedikit jika dibandingkan pada masa kini. Maka memanfatatkan tumbuh-tumbuhan yang dipercaya memiliki unsur obat yang dapat dikatakan sebagai obat tradisional. Pengobatan tradisinal pastinya berbeda dengan pengobatan yang bersifat modernAy. Untuk mendapatkan keabsahan data penelitian, dilakukan pengecekan data Keabsahan bertujuan untuk meyakinkan bahwa temuan-temuan dalam penelitian dapat dipertanggung-jawabkan dari segala sisi. Penentuan kualitas instrument analisis di dalam penulisan yang mempunyai keududukan penting adalah data kualitatif, karena data kualitatif adalah gambaran variabel yang diteliti dan berfungsi sebagai alat pembuktian atau uji keabsahan data hasil penulisan. Validitas kebenaran data dari proses penulisan. Untuk mendapatkan keabsahan data penulis menggunakan triangulasi data. Pembahasan Bentuk Degradasi Tradisi Betangas Pada Masyarakat di Kecamatan Selangit Degradasi budaya ialah salah satu kemerosotan atau penurunan kebiasaan dari seseorang yang telah melakukan suatu kegiatan seseorang terhadap Dahulunya budaya tradisi lokal yang ada pada suatu wilayah masih terlihat sering dilaksanakan, akan tetapi pada masa kini sudah jarang dilakukan dan salah satu bentuk degradasi tradisi ini adalah kurangnya pelestarian tradisi budaya lokal yang ada sejak zaman SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 17-24. Faktor degradasi Tradisi Betangas Pada Masyarakat di Kecamatan Selangit Dari hasil penelitian dari beberapa wawancara adanya degradasi ataupun kemerosotan yang terjadi pada suatu tradisi budaya lokal pastinya memiliki faktor yang mempengaruhinya. Ilmu Pengetahuan Menurut Robert Angus Buchman, 2006:. Ilmu pengetahuan sangat bermanfaat dalam kehidupan seharihari. Dengan pengetahuan pemanfaatan benda, alat-alat, senjata, dan juga hewan, ataupun pengobatan menjadi mudah terarah untuk mencapai hasil. Menurut hasil wawancara bersama ibu Ratni . beliau mengatakan AuDengan pengetahuan maka disuatu wilayah akan berkembang pola pikir di setiap Dengan meningkatnyailmupengetahun dapat mengubah alternatif pengobatan yang bersifat tradisional dapat berubah menjadi alternatif yang bersifat pengetahuan yang sudah semakin bersifat tradisional adalah masyarakat yang sudah tua yang pernah mengalami atau melihat secara langsung proses pengobatan tradisional tersebut. Kurangnya Komunikasi Antar Generasi Mengenai Tradisi Betangas Kurangnya tradisi Betangas menjadi salah satu faktor yang mempngaruhi tradisi tersebut tidak berkembang lagi. Kurangnya arahan dari pemerintah ataupun masyarakat setempat yang mengetahui tentang tradisi Betangas yang kegunaannya sebagai alternatif pengobatan tradisional di Kecamatan Selangit kepada generasi muda pada masa kini yang kebanyakan dari mereka masih banyak yang belum faham mengenai tradisi Betangas tersebut. bentuk dari mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak sengaja dan tidak terbatas pada bentuk komunikasi verbal, tetapi juga dalam ekspresi muka, lukisan, dan teknologi (Wiryanto, 2004:. Jika suatu wilayah kurangnya komunikasi antar generasi mengenai tradisi betangas dilestarikan serta dikembangkan oleh generasi muda, sedangkan generasi muda banyak yang tidak menegetahui tentang tradisi betangas tersebut. Pendidikan Pendidikan sangatlah penting bagi Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting dalam suatu negara karena dari pendidikanlah kita dapat melahirkan generasi-generasi dengan sumber daya manusia (SDM) yang kreatif dan Inovatif untuk memajukan negara (Wahyu SaAoada, 2020:. Dari pendidikan inilah manusia mengalami perubahan pola pikir dari yang baik menuju yang lebih baik lagi. Dari berkembangnya pola pikir masyarakat yang sudah maju pastinya akan mengalami perubahan pada tardisi ataupun budaya yang digunakan. Karena dengan semakin banyak masyarakat di suatu wilayah termasuk dalam kategori terdidik maka pola pikir serta peubahan kebiasaan yang baik menuju lebih baik akan cepat mengalami perubahan. Inilah yang membuat tradisi yang termasuk kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun jarang bahkan sudah tidak digunakan lagi tradisi betangas yang fungsinya untuk alternatif pengobatan yang bersifat tradisional. Berdasarkan penjelasan di atas dapat meningkatnya ilmu pengetahuan dapat menjadi faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan fungsi dari alternatif pengobatan yang sebelumnya bersifat tradisional yang menggunakan tradisi betangas lalu menjadi alternatif pengobatan yang bersifat modern sesuai dengan zaman yang berkembang. Kemajuan Teknologi Teknologi merupakan hasil karya manusia untuk mengolah lingkungan dan menyesuaikan dirinya dengannya (Besari, 2008:. Adanya teknologi mempengaruhi pola pikir generasi muda untuk memandang masa depan sebagai kehidupan yang moderndan jauh dari hal-hal yang sifatnya masih tradisional. Hal inilah yang dapat mengakibatkan turunnya minat dari generasi muda untuk menekuni bidang-bidang seperti tradisi Betangas yang kegunaannya sebagai pengobatan tradisional. Hal ini ditemukan di Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas. Yang mengetahui betul mengenai tradisi Betangas sebagai pengobatan yang Safariza Setyowati. Ira Miyarni Sustianingsih. Agus Susilo. Degradasi Tradisi Betangas Pada Masyarakat di Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas Hubungan kerjasama dagang dengan pedagang Tionghoa dan Arab juga terjalin dengan baik sekali. Saat itu masyarakat Tionghoa dan Arab telah banyak yang menetap di Palembang. Kebanyakan dari mereka telah mengakui dirinya sebagai penduduk pribumi karena beberapa diantaranya menikahi wanita Melayu. Tempat tinggal etnis Tionghoa dan Arab ini, sebagian ada yang membentuk perkampungan tersendiri disekitar sungai Musi dengan nama Kampung Kapitan untuk masyarakat Tionghoa dan Kampung Arab untuk masyarakat keturunan Arab. Meskipun demikian, sebagian masyarakat keturunan Tionghoa dan Arab bertempat tinggal berdampingan dengan penduduk Orang-orang Tionghoa selalu memiliki pola pemikiran pemukiman yang Masyarakat Tionghoa percaya dengan letak strategis dipertigaan jalan akan membawa sha, dan letak kuburan yang tepat dari sudut Fengshui (Pratiwo. Peran sungai Musi sebagai sungai terbesar di Sumatera Selatan dari zaman Kerajaan Sriwijaya. Kesultanan Palembang Darussalam sampai saat ini adalah salah satu pemicu roda ekonomi Perkampungan masyarakat Tionghoa Arab berdekatan dengan aliran Sungai Musi yang luas dan panjang tersebut. Pembangunan mengandalkan Sungai Musi semakin berkembang pesat seiring berjalannya Seiring berjalannya waktu, perkampungan masyarakat Tionghoa dan Arab Masyarakat Tionghoa dan Arab yang budaya-budaya Berbagai budaya dan tradisi masih sering dijumpai pada masyarakat Tionghoa dan Arab sampai saat ini. Gubernur Belanda mengeluarkan sebuah kebijakan untuk mempertegas daris batas antara orang Tionghoa dan pribumi. Orang Tionghoa dan Asia lainnya seperti Arab dikategorikan sebagai warga timur Diatas mereka ada golongan kelas satu, yang terdiri masyarakat Belanda. Eropa dan Jepang. Sedangkan masyarakat pribumi berada dikelas paling bawah. Khususnya orang Tionghoa mendapatkan hak khusus dan diangkat sebagai perantara Belanda dalam memungut pajak dari masyarakat pribumi. Hal tersebut yang dimasyarakat pribumi dan Tionghoa dimasa penjajahan Belanda (Suryaningtyas. Amelia & Weningsyastuti, 2. Kondisi yang terjadi pada masyarakat Melayu dan masyarakat etnis Tionghoa serta Arab memang sering terjadi dan tidak dapat dipersalahkan. Para etnis Tionghoa dan Arab mayoritas memiliki kehidupan yang lebih layak. Mereka kebanyakan Di masa lalu, masyarakat pribumi banyak melakukan tindakan anarkis oleh karena kecemburuan sosial etnis pendatang tersebut. Khususnya masyarakat etnis Tionghoa yang disepanjang Kota Palembang. Hal tersebut memancing kemarahan saat ekonomi sedang suruh dan terjadi kisruh saat itu. Peristiwa ini tentunya menjadi peristiwa masyarakat lokal di dalam kancah kehidupan nasional (Said, 2. Saat berakhirnya kekuasaan Orde baru menuju Era Reformasi, masyarakat pribumi Palembang dengan masyarakat Tionghoa dan Arab sempat kurang baik. Beberapa oknum banyak yang melakukan Dalam pandangan menganut fungsionalisme, struktur tersebut tetap dilakukan dengan cara pemaksaan. Sebuah perpecahan yang ditimbulkan akibat sentiment terhadap perbedaan pandangan Masyarakat Indonesia harus mampu menjaga kearifan lokal bangsanya untuk dapat menyelesaikan sebuah permasalahan dengan baik-baik mendapatkan solusi dari permasalahan yang ada. Persoalan di masa lalu menjadi pelajaran berharga untuk tidak terulang kembali di masa depan (Nasikun, 2. Hubungan Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Etnis Tionghoa dan Arab di Palembang Dalam catatan sejarah orang-orang Tionghoa atau Cina dan Asia lainnya, sering menjadi perbincangan publik. Hal tersebut dapat diketahui sejak zaman penjajahan Belanda, orang Tionghoa selalu mendapatkan tempat dalam pemerintahan Belanda. Pada awal abad SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 17-24. Peristiwa-peristiwa yang buruk pernah menimpa etnis Tionghoa khususnya dimasa silam menjadi pembelajaran berharga untuk lebih kuat dalam menjalin komunikasi antar etnis. Integritas masyarakat Indonesia yang berada didalam payung Negara Kesatuan Republik Indonesia, merupakan atas kemauannya sendiri untuk membangun suatu kultur yang baru, yang berbeda dari kelompoknya, untuk menjadi pedoman dan kaidah dalam kehidupan berintegrasi Kultur yang baru tersebut yang terdiri dari norma-norma dan nilai-nilai umum harus benar-benar dihayati dan dijadikan pedoman dalam kehidupan Dalam bermasyarakat, masyarakat Indonesia dari berbagai etnis harus mengedepankan komunikasi dalam hidup berdampingan satu sama lainnya (Purwasito, 2. Etnis Tionghoa. Arab dan Melayu Palembang banyak melakukan interaksi perdagangan, pendidikan, dan sosial Etnis Tionghoa dan Arab berusaha menyesuaikan diri dengan etnis Melayu dan masyarakat suku Indonesia lainnya di Palembang. Beberapa faktor masyarakat Tionghoa dan Arab menjalin hubungan yang dekat dengan masyarakat Melayu dan penduduk lokal lainnya di Palembang, pemukiman, persamaan tempat kerja atau sekolah bahkan agama. Meskipun sebagai Tionghoa dan Raba di Palembang tetap mendapatkan tempat bagi masyarakat Melayu Palembang. Hal tersebut terjadi dengan baiknya interaksi antar etnis Jalinan persaudaraan juga sangat kuat, baik yang terjalin melalui pertemanan maupun melalui pernikahan (Seti Satya. Melia & Maftuh, 2. Adanya kehidupan antar etnis yang berbeda budaya tersebut, akhirnya membentuk perpaduan budaya-budaya yang berbeda-beda. Masyarakat Tionghoa dan Arab telah menyatu dengan Melayu Palembang. Perpaduan budaya dapat dilihat dari hasil pernikahan antara masyarakat Melayu Palembang dengan masyarakat Tionghoa atau Arab. Bahasa Melayu dan Indonesia menjadi bahasa pengantar masyarakat di Palembang. Bukti-bukti peninggalan sejarah Tionghoa dan Arab saat ini juga masih terjaga dengan baik dan menjadi kekayaan budaya masyarakat Palembang. Hal tersebut menjadi bukti bahwa sentimen masyarakat nusantara di Palembang dengan masyarakat pendatang khususnya Tionghoa dan Arab tidak adanya Rasa menghargai dan menghormati masih terjaga sampai saat ini. Masyarakat Tionghoa dan Arab yang hidup di Indonesia, khususnya di Kota Palembang mengakui bahwa identitas mereka adalah warga Indonesia dengan status warga negara Indonesia yang sah secara hukum dan Undang-undang. Kehidupan perkampungan Tionghoa dan masyarakat Arab di Kota Palembang telah berhasil meningkatkan hubungan sosial antar Komunitas-komunitas masyarakat Tionghoa dan Arab tersebut meskipun hanya minoritas namun mendapatkan tempat dan hidup rukun dengan masyarakat asli Palembang. Hubungan baik terjadi karena saling memahami dan saling Masyarakat Tionghoa sendiri terdiri dari berbagai macam agama, seperti Islam. Buddha. Konghucu, dan Kristen Protestan. Masyarakat Tionghoa dan masyarakat Melayu banyak melakukan persilangan budaya melalui sebuah ikatan Adanya perpaduan unsur budaya tersebut maka membentuk sebuah keunikan tersendiri dalam masyarakat Palembang. Masyarakat campuran tersebut mampu menjadikan dua unsur budaya yang berbeda untuk bersatu dan membentuk kebudayaan baru. Dalam sehari-hari, masyarakat Tionghoa dan Arab di Kota Palembang mampu berinteraksi dengan masyarakat Melayu dan pribumi lainnya dengan baik. Bahkan beberapa dialeg bahasa Melayu, banyak dikuasai oleh etnis keturunan Tionghoa dan Arab tersebut. Meskipun hidup ditanah perantauan, etnis Tionghoa dan Arab tetap melestarikan budayanya sampai turun temurun. Tradisi yang menjadi ciri khas masyarakat Tionghoa dan Arab ini dilestarikan dengan diajarkan kepada para anak cucunya sampai saat ini. Menurut (Hasanah, 2. , dalam konsep sejarah, tradisi dipahami sebagai bentuk paradigma kultural untuk melihat dan memberi makna terhadap suatu kenyataan yang berkembang didalam Tradisi memberikan kesadaran akan identitas serta makna keterkaitan dengan sesuatu yang dianggap lebih awal. Tradisi merupakan bagian dari Sejarah Safariza Setyowati. Ira Miyarni Sustianingsih. Agus Susilo. Degradasi Tradisi Betangas Pada Masyarakat di Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas Beberapa perayaan hari raya Imlek untuk masyarakat Tionghoa masih dilestarikan sampai saat ini. Benda cagar budaya seperti perkampungan Tionghoa dan Arab sampai saat ini tetap dilestarikan. Namun sayangnya, masyarakat etnis Tionghoa dan Arab berkembang di Palembang, banyak penjual rumah dan tanahnya yang kemudian dijadikan lahan bisnis. Tentunya menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Palembang. Hal tersebut yang sangat disayangkan, padahal rumah Tionghoa dan Arab merupakan aset bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan. Saat ini perlindungan terhadap benda cagar budaya di Palembang termasuk rumah-rumah etnis Tionghoa dan Arab sedang diperjuangkan Kesimpulan Masyarakat etnis Tionghoa dan Arab menjadi bagian dalam sejarah Indonesia. Masyarakat Tionghoa dan Arab telah hadir di nusantara sejak sebelum zaman penjajahan Belanda. Orang-orang Tionghoa dan Arab yang datang ke Indonesia untuk melakukan transaksi perdagangan dengan masyarakat pribumi saat itu. Hubungan kontak dagang antara etnis Tionghoa dan Arab yang merasa nyaman di nusantara, menciptakan perkampungan dengan corak Selain perdagangan, etnis Tionghoa dan Arab yang menetap di nusantara juga mengenalkan ajaran agama Islam kepada masyarakat pribumi. Melalui ikatan kerjasama dengan pemimpin tradisional dan bahkan melului ikatan pernikahan dengan wanita-wanita pribumi nusantara. Tionghoa dan Arab semakin berkembang sampai saat ini. Keterbukaan penguasa tradisional di masa lalu telah membuat Tionghoa Arab Dalam masyarakat Tionghoa dan Arab juga Indonesia. Penyebaran etnis Tionghoa dan Arab ini juga sampai ke Kota Palembang. Masyarakat etnis Tionghoa dan Arab ini telah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya yang melakukan kontak datang dan menetap di Palembang. Saat ini masyarakat etnis ini hidup berdampingan dengan masyarakat Melayu atau masyarakat pribumi Untuk menunjang ekonominya, masyarakat Tionghoa dan Arab tetap melestarikan perdagangan sampai saat ini. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya, etnis Tionghoa dan Arab dapat membaur dengan masyarakat Melayu Palembang. Akulturasi budaya melalui pernikahan lintas budaya juga banyak terjadi di Palembang. Eksistensi kehidupan masyarakat etnis Tionghoa dan Arab di Palembang masih berkembang sampai saat ini. Dalam perkembangannya etnis Tionghoa dan Arab tidak hanya mengembangkan diri dalam kebudayaan para leluhurnya yang masih diajarkan kepada anak keturunannya sampai saat ini. Selain menjaga hubungan dengan masyarakat Melayu, masyarakat Tionghoa dan Arab juga menjaga hubungan dengan para saudara-saudaranya yang berada diberbagai Kota besar di Indonesia. Daftar Referensi Abdurahman. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Berkah. Aktivitas Perdagangan dan Perkembangan Islam Pada Masa Sriwijaya Pada Abad VII-IX Masehi. Tamaddun: Jurnal Kebudayaan Dan Sastra Islam, 20. , 42Ae51. Retrieved from http://jurnal. id/index. amaddun/article/view/5732 Gottschalk. Mengerti Sejarah. Jakarta: Universitas Indonesia. Hasanah. Perayaan Imlek Etnis Tionghoa: Menakar Implikasi PsikoSosiologis Perayaan Imlek bagi Komunitas Muslim di Lasem Rembang. Jurnal Penelitian, 8. , 1Ae22. Retrieved from https://journal. id/index. /jurnalPenelitian/article/view/1338 Karmela. Siti Heidi & Pamungkas. Kehidupan Sosial Ekonomi Orang-Orang Tionghoa di Kota Jambi. Jurnal Ilmiah DIKDAYA, 7. , 55Ae62. Retrieved from http://dikdaya. id/index. php/di kdaya/article/view/30 Lubis. Komunikasi Antarbudaya Etnis Tionghoa dan Pribumi di Kota Medan. Jurnal Ilmu Komunikasi, 10. , 13Ae Retrieved http://jurnal. id/index. php/kom unikasi/article/view/46 Nasikun. Sistem Sosial Indonesia. Yogyakarta: Ombak. Pires. SUMA ORIENTAL Perjalanan dari Laut Merah ke Cina & Buku Francisco Rodrigues. Yogyakarta: Ombak. SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 17-24. Pratiwo. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta: Ombak. Purwasito, . Komunikasi Multikultural. Yogyakarta: Pustaka