TEMATIK Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Januari 2026, pp. 155 Ae 164 e-ISSN: 2775-3360 https://journals. id/index. php/tematik npage 155 Peningkatan Pemahaman Konsep Diri Guru TK Cahaya Ilmu Semarang Mulya Virgonita I. Winta*1. Hardani Widhiastuti2. Arumwardani Nusandhani3 Universitas Semarang yayaiswindari@usm. id1 , dhani_fpsi@usm. id2, arie_arum@yahoo. Informasi Artikel Abstrak Diterima : 21-11-2025 Direview : 20-12-2025 Disetujui : 30-01-2026 Guru memegang peran penting dalam pendidikan anak usia dini sebagai pendidik, pengasuh, teladan, dan fasilitator perkembangan Kompleksitas peran ini menuntut kesiapan psikologis guru, khususnya pemahaman konsep diri yang positif. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan pemahaman konsep diri guru TK Cahaya Ilmu Semarang guna menunjang profesionalisme dan kinerja mengajar. Metode yang digunakan berupa psikoedukasi partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi reflektif, dan latihan praktis yang mencakup materi konsep diri, kepercayaan diri, dan pengelolaan emosi. Peserta kegiatan berjumlah 69 guru. Evaluasi dilakukan menggunakan desain pre-test dan post-test. Hasil analisis menunjukkan peningkatan skor rata-rata pemahaman guru dari 55,04 menjadi 59,39, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik . < 0,. Secara kualitatif, guru menunjukkan perubahan cara pandang terhadap peran sebagai pendidik, meningkatnya kesadaran diri, serta pemahaman pentingnya regulasi emosi. Kegiatan PkM ini terbukti efektif dalam memperkuat aspek psikologis guru dan berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran. Kata Kunci Konsep Diri. Kepercayaan Diri. Regulasi Emosi. Guru. PENDAHULUAN Taman Kanak-kanak Cahaya Ilmu Semarang merupakan Sekolah sawata yang dikelola Yayasan Pendidikan Islam Cahaya Ilmu dengan NPSN 69967098. Pendiri Yayasan Pendidikan Islam Cahaya Ilmu antara lain : Ibu Hj. Rahayu Wijayanti. Bapak H. Hanafi Saleh. Bapak Dedy Adrianto dan ibu Ida Farida Berdirinya TK Islam Cahaya Ilmu pada September 2005 tidak terlepas dari kesadaran akan pentingnya tahun-tahun awal kehidupan manusia, karena tiap tahap kehidupan akan menjadi pijakan bagi tahap perkembangan selanjutnya. Beragam peristiwa yang dialami anak adalah catatan penting yang mempengaruhi arah dan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga manusia mempunyai satu masa yang sangat penting yang disebut sebagai masa emas . olden ag. yang terjadi pada pada usia 0 Ae 4 th. Karena pada usia ini perkembangan intelektual mencapai 50%, dan pada usia 4 Ae 8 th bertambah 30% mencapai 80%. Masa ini tidak boleh terlewatkan dengan sia-sia. e-ISSN: 2775-3360 Merosotnya akhlak bangsa di segala sektor, maka perlu adanya antisipasi melalui pendidikan sejak dini dengan metode yang tepat . berpusat pada anak, bermain yang menyenangkan, penanaman karakter melalui pembiasaan sejak dini, memahami berbagai potensi kecerdasan, dan pembelajaran yang holistik. Hal ini diharapkan akan dapat menjadi modal belajar sepanjang masa, dan memberikan warna kebaikan pada kehidupannya dikemudian hari. Perlunya dakwah dikalangan orang tua tentang cara mendidik anak dengan tepat sejak dini sehingga bisa menciptakan generasi pembelajar, sehingga nantinya mampu menjadi pribadi yang sholeh sholehah, dan menjadi aset keluarga, untuk itulah didirikan Taman Kanak-Kanak Cahaya Ilmu Semarang. Guru merupakan salah satu faktor kunci dalam proses pendidikan, terutama di jenjang pendidikan anak usia dini. Di Taman Kanak-Kanak, guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pengasuh, teladan, sekaligus fasilitator yang membantu anak mengembangkan potensi dasar mereka. Peran yang kompleks ini menuntut guru untuk memiliki kesiapan, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, maupun kondisi psikologis. Salah satu aspek psikologis yang penting bagi guru adalah konsep diri . elf-concep. Konsep diri mencakup bagaimana seseorang memandang, menilai, dan menghargai dirinya Guru dengan konsep diri positif akan lebih percaya diri dalam mengajar, mampu menjalin hubungan yang baik dengan peserta didik maupun rekan kerja, serta lebih siap menghadapi berbagai tantangan di lingkungan sekolah. Sebaliknya, guru dengan konsep diri yang negatif cenderung kurang percaya diri, mudah mengalami stres, dan berpotensi mengalami hambatan dalam proses pengajaran maupun interaksi sosial. Di Taman Kanak-Kanak Cahaya Ilmu Semarang, para guru menghadapi dinamika pekerjaan yang cukup beragam. Mulai dari tuntutan kurikulum, pengelolaan kelas, hingga komunikasi dengan orang tua murid. Situasi ini dapat memengaruhi kondisi emosional dan psikologis guru, sehingga pemahaman tentang konsep diri menjadi sangat penting. Dengan pemahaman yang baik mengenai konsep diri, guru diharapkan mampu mengenali kelebihan dan kekurangannya, mengembangkan potensi diri, serta menjaga keseimbangan antara peran profesional dan pribadi. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan topik AuPeningkatan Pemahaman Konsep Diri Guru Taman Kanak-Kanak Cahaya Ilmu SemarangAy dirancang sebagai upaya untuk mendukung pengembangan kapasitas psikologis guru. Melalui kegiatan ini, guru diharapkan dapat memperkuat kesadaran diri, meningkatkan motivasi dalam bekerja, serta membangun sikap positif yang berdampak pada kualitas pembelajaran dan perkembangan anak didik. Konsep diri merupakan gambaran individu tentang dirinya sendiri sebagai pribadi yang memiliki karakteristik unik. Individu yang memahami kelebihan dan kekurangannya dapat secara objektif mengevaluasi diri untuk melakukan introspeksi dan pengembangan Konsep diri berkembang melalui pengalaman individu saat berinteraksi dengan individu lain, mengingat manusia adalah makhluk sosial yang saling bergantung satu smaa lain. Kurangnya keterampilan dalam membangun pengalaman sosial dapat berdampak pada perkembangan konsep diri yang kurang optimal (Hartanti, 2. Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa individu mampu memahami dan mengenali diri melalui pengalaman ketika berinteraksi dengan orang lain. Salah satu cara individu mengenali diri dalam interaksi sosial adalah dengan memahami bagaimana orang lain TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 Proses ini melibatkan persepsi orang lain mengenai kelebihan dan kekurangan individu, yang terbentuk berdasarkan pandangan sosial terhadap dirinya (Anas, 2. Sejalan dengan itu, konsep diri diartikan sebagai gambaran mengenai diri sendiri yang merupakan gabungan dari aspek psikologis, keyakinan fisik, sosial, dan prestasi yang telah dicapai (Ghufron & Risnawati 2. Konsep diri menjadi faktor penting yang memengaruhi perilaku individu dalam lingkungannya. Dijelaskan bahwa konsep diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pengalaman interpersonal yang membentuk perasaan berharga dan positif dalam diri individu (Fitts dalam Zulkarnain. Asmara, & Sutatminingsih, 2. Selain itu, kompetensi yang dihargai oleh diri sendiri maupun orang lain juga berdampak pada kepuasan diri serta penghargaan dari lingkungan Faktor terakhir adalah aktualisasi diri, yaitu bagaimana individu mengembangkan potensinya untuk mencapai tingkat tertinggi dalam perkembangan pribadi. Menurut Adlr. Rosenfeld & Towne (Putra & Usman, 2. Ada dua teori mengenai konsep diri: Reflected Appraisal dalam teori tersebut menjelaskan lingkungan sekitar mempunyai pengaruh dalam terbentuknya konsep diri, bagaimana peran orang lain dalam hal ini sebagai significant other mempengaruhi terbentuknya konsep Social Comparison dalam teori tersebut menjelaskan konsep diri terbentuk dari interaksi individu dengan lingkungannya dalam proses yang panjang. Akhirnya membentuk nilai mengenai dirinya yang nantinya dipersepsikan ke dalam diri guna membentuk gambaran diri serta citra diri dirinya Kesimpulan dari dua teori tersebut menekan bahwa lingkungan dan interaksi sosial memainkan peran penting dalam pembentukan konsep diri seseorang Dukungan sosial, penerimaan, dan umpan balik positif dari keluarga, teman, dan masyarakat dapat membantu individu mengembangkan konsep diri yang positif dan sehat. Sebaliknya, stigma negatif, diskriminasi, dan penolakan dari lingkungan sosial dapat berdampak negatif terhadap konsep diri. Oleh karena itu, interaksi sosial yang inklusif dan lingkungan yang mendukung sangat penting bagi guru dalam membentuk dan memelihara konsep diri yang positif. Menurut Calhoun & Acocella (Ghufron & Risnawati, 2. konsep diri terdiri dari tiga dimensi aspek yaitu pengetahuan, harapan dan penilaian. Pengetahuan tentang konsep diri mencerminkan pemahaman individu terhadap diri sendiri. Pemahaman ini diperoleh melalui interaksi dengan kelompok sosial, seperti teman sebaya dan masyarakat sekitar, yang memberikan identifikasi terhadap individu tersebut. Label atau julukan yang diberikan dapat berubah seiring waktu, tergantung pada kelompok sosial tempat individu berafiliasi. Kelompok sosial ini berperan dalam membentuk dan memberikan informasi yang memengaruhi gambaran diri individu tersebut. Harapan dalam aspek konsep diri merupakan pandangan tentang dirinya akan menjadi apa di masa mendatang. Setiap individu mempunyai harapan ideal untuk diri sendiri. Diri yang ideal dalam hal ini bisa berbeda antara satu individu dengan yang lain. Penilaian dalam aspek konsep diri merupakan proses yang dilakukan individu saat mengevaluasi dirinya sendiri. Pertanyaan seperti AuSiapakah saya?Ay dan TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 AuSeharusnya saya menjadi apa?Ay mencerminkan refleksi diri dalam penilaian Hasil dari evaluasi ini diartikan sebagai harga diri. Semakin besar kesenjangan antara harapan dan standar diri yang ditetapkan individu, semakin rendah harga diri yang dimilikinya. Pendapat lain menurut Berzonsky . yang dikutip oleh (Hidayat & Bashori,2. terdapat empat aspek dalam konsep diri yaitu aspek psikis meliputi perasaan, pikiran dan sikap individu terhadap dirinya. Aspek sosial bagaimana indiviu memainkan peran dalam kehidupan sosialnya dan sejauh mana penilaian mengenai kinerja tersebut. Aspek fisik yaitu penilaian terhadap segala sesuatu yang dimiliki individu yang bisa terlihat seperti pakaian, tubuh, dan sebagaianya. Aspek moral meliputi prinsip-prinsip dan nilai yan mengarahkan kehidupan individu. Semua aspek tersebut berkontribusi dalam membentuk konsep diri yang utuh bagi individu guna mencapai kesejahteraan psikologisnya Atwater . alam Puspasari, 2007 dalam Kiling & Kiling, 2. mengelompokkan konsep diri ke dalam lima bagian. Pola pandang diri subjektif . ubjective sel. , bentuk dan bayangan tubuh . elf imag. , perbandingan ideal . he ideal sel. , pembentukan diri secara sosial . he social sel. Pengenalan diri bagaimana individu melihat dan memahami dirinya sendiri. Proses ini mencakup gambaran diri . elf-imag. , baik secara visual maupun melalui pengalaman sosial. Konsep diri memungkinkan seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain, termasuk dalam aspek nonfisik seperti komunikasi dan interaksi Salah satu mekanisme yang berperan adalah perbandingan perspektif, yang membantu individu menilai dan mengembangkan karakteristik pribadinya. Bentuk dan bayangan tubuh berbeda dari mekanisme sebelumnya, kondisi emosional justru dapat memengaruhi cara seseorang mengenali bentuk fisiknya. Pengalaman traumatis, seperti pelecehan seksual atau kekerasan fisik dan psikologis, berisiko membentuk konsep diri yang negatif terhadap tubuhnya Perbandingan ideal merupakan salah satu cara mengenali diri adalah dengan membandingkan diri dengan sosok ideal yang diharapkan. Pembentukan diri ideal ini terjadi melalui berbagai proses, seperti harapan untuk menjadi lebih cantik atau pandai, serta standar moral seperti kejujuran dan kepatuhan dalam menjalankan Pembentukan Diri Secara Sosial (The Social Sel. proses ini melibatkan upaya individu untuk memahami bagaimana dirinya dilihat oleh orang lain. Konsep diri terbentuk melalui penilaian kelompok terhadap individu, yang sering kali menghasilkan proses pelabelan dari kelompok tersebut. Dari uraian di atas dapat disimpulkan konsep diri merupakan gambaran menyeluruh individu mengenai dirinya sendiri yang terbentuk melalui interaksi sosial, pengalaman pribadi, serta evaluasi terhadap standar ideal yang dimiliki. Terdapat beberapa pandangan ahli mengenai aspek-aspek konsep diri, namun secara umum dapat disimpulkan bahwa konsep diri mencakup: . Aspek Kognitif (Pengetahua. Ae Pemahaman individu tentang siapa dirinya, diperoleh dari interaksi dengan lingkungan sosial dan pengalaman hidup. Aspek Afektif (Harapan dan Penilaia. Ae Harapan individu terhadap dirinya di masa depan TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 serta evaluasi terhadap pencapaian diri. Hal ini berkaitan erat dengan harga diri, di mana kesenjangan antara harapan dan kenyataan dapat memengaruhi rasa percaya diri. Aspek Psikologis. Sosial. Fisik, dan Moral Ae Konsep diri tidak hanya terbatas pada pemikiran, tetapi juga mencakup perasaan, interaksi sosial, penilaian terhadap penampilan fisik, serta prinsip moral yang menjadi pedoman hidup. Dimensi Subjektif. Ideal, dan Sosial Ae Individu membangun konsep diri melalui pandangan pribadi tentang dirinya . ubjective sel. , gambaran tubuh . elf-imag. , sosok ideal yang diharapkan . deal sel. , serta bagaimana dirinya dipersepsikan oleh orang lain . ocial sel. Dengan demikian, konsep diri merupakan konstruksi psikologis yang kompleks dan Pemahaman yang utuh mengenai konsep diri akan membantu individu mengembangkan harga diri yang sehat, meningkatkan kualitas hubungan sosial, serta mencapai kesejahteraan psikologis Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah: . Meningkatkan pemahaman guru mengenai pentingnya konsep diri dalam menunjang profesionalisme dan kinerja mengajar. Membantu guru mengenali kekuatan dan kelemahan diri, sehingga lebih percaya diri dalam menjalankan tugas mendidik anak usia dini . Memberikan strategi praktis untuk membangun konsep diri positif, baik melalui pengelolaan emosi, komunikasi, maupun refleksi diri . Mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di Taman KanakKanak Cahaya Ilmu Semarang melalui penguatan aspek psikologis guru Manfaat Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah: Bagi Guru : . Memperoleh pemahaman lebih baik mengenai konsep diri dan pengaruhnya terhadap kinerja. Meningkatkan rasa percaya diri, motivasi, dan kesiapan menghadapi tantangan dalam proses pembelajaran. Mengembangkan keterampilan refleksi diri dan strategi membangun sikap positif dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Bagi Sekolah (TK Cahaya Ilmu Semaran. : . Meningkatkan kualitas tenaga pendidik melalui penguatan aspek psikologis guru. Menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif, produktif, dan penuh semangat. Memberikan nilai tambah pada lembaga pendidikan melalui peningkatan kualitas layanan Bagi Masyarakat : . Orang tua dan keluarga mendapat manfaat dari peran guru yang lebih percaya diri, komunikatif, dan profesional. Anak didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih positif, sehingga perkembangan sosial-emosional mereka dapat terbentuk dengan lebih optimal. Memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini di lingkungan sekitar. METODE Peserta pada kegiatan ini adalah Guru Taman Kanak-Kanak Cahaya Ilmu Semarang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif, di mana guru dilibatkan secara aktif dalam setiap tahap kegiatan. Metode yang digunakan TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 Ceramah Interaktif . Memberikan pemahaman dasar mengenai konsep diri, meliputi definisi, aspekaspek yang membentuknya, serta peran konsep diri dalam menunjang profesionalisme guru. Penyampaian dilakukan secara interaktif dengan mengaitkan pengalaman nyata guru di kelas, sehingga materi lebih mudah dipahami. Workshop / Latihan Praktis . Guru dilatih menggunakan teknik-teknik sederhana untuk meningkatkan konsep diri positif, seperti latihan afirmasi positif, relaksasi singkat, dan jurnal refleksi . Melalui simulasi dan role play, guru berkesempatan mempraktikkan keterampilan komunikasi asertif serta strategi membangun kepercayaan diri. Studi Kasus dan Problem Solving . Peserta diberikan contoh kasus yang sering dihadapi guru TK, misalnya ketika menghadapi anak dengan perilaku menantang atau komunikasi dengan orang tua . Guru diajak untuk menganalisis dan mencari solusi dengan sudut pandang konsep diri positif, sehingga dapat diimplementasikan dalam praktik sehari-hari. Evaluasi dan Refleksi Akhir . Di akhir kegiatan, dilakukan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana pemahaman guru meningkat mengenai konsep diri. Refleksi bersama digunakan sebagai sarana guru menyampaikan kesan, manfaat, serta rencana penerapan hasil kegiatan dalam tugas sehari-hari. Penjelasan lebih jelas ada di dalam tabel berikut : Tabel 1 Waktu 5 menit Kegiatan Perkenalan dan Pengantar Tujuan Kegiatan 10 menit Pemberian Pretest 45 menit Ceramah dan pemberian materi 45 menit Diskusi / Tanya Jawab Tujuan Membangun suasana kegiatan agar peserta lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan Mengukur tingkat pemahaman guru tentang konsep diri, kepercayaan diri dan regulasi emosi. meningkatkan pemahaman guru tentang konsep diri, kepercayaan diri dan regulasi emosi. meningkatkan pemahaman guru konsep diri, kepercayaan diri dan regulasi emosi TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 10 menit Pemberian Post Test 5 menit Penutup Mengukur tingkat pemahaman guru tentang konsep diri, kepercayaan diri dan regulasi emosi. Menutup kegiatan HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan PKM telah dilaksanakan pada tanggal 14 November 2025 mulai pukul 08. WIB sampai selesai. Kegiatan tersebut dihadiri para guru TK/SD Cahaya Ilmu Semarang. Gambar 1 Kegiatan Pelaksanaan Pkm Hasil kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) dengan judul Peningkatan Pemahaman Konsep Diri Guru TK Cahaya Ilmu Semarang menunjukkan bahwa para guru memperoleh wawasan yang lebih komprehensif mengenai konsep diri sebagai pendidik. Melalui penyampaian materi tentang konsep diri guru yang disampaikan oleh Dr. Mulya Virgonita I. Winta. Psi. Si. Psikolog, peserta diajak untuk memahami bagaimana persepsi, penilaian, dan penerimaan terhadap diri sendiri berperan penting dalam membentuk sikap Diskusi dan refleksi yang dilakukan selama kegiatan membantu guru mengenali kekuatan serta area pengembangan diri, sehingga mereka lebih menyadari peran konsep diri dalam memengaruhi kualitas interaksi dengan siswa dan lingkungan sekolah. Materi tentang kepercayaan diri guru yang disampaikan oleh Prof. Dr. Dra. Hardani . MM. Psikolog, memberikan dampak positif terhadap sikap dan kesiapan peserta dalam menjalankan tugas mengajar. Guru menunjukkan pemahaman yang lebih baik bahwa kepercayaan diri bukan hanya berkaitan dengan kemampuan mengajar, tetapi juga dengan keberanian mengambil keputusan, berkomunikasi secara asertif, dan menghadapi tantangan di kelas. Antusiasme peserta dalam sesi tanya jawab mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya membangun kepercayaan diri sebagai bagian dari profesionalisme guru, terutama dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan suportif bagi anak usia dini. TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 Gambar 2. Teknis Paparan Selain itu, pembahasan mengenai pengelolaan emosi guru yang disampaikan oleh Dr. Dra. Arumwardani Nusandhani. Si. Psikolog, memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan pemahaman peserta tentang pentingnya regulasi emosi dalam kinerja Guru memahami bahwa kemampuan mengelola emosi, termasuk stres dan kelelahan kerja, sangat berkaitan dengan kestabilan konsep diri dan efektivitas Secara keseluruhan, hasil PkM ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru TK Cahaya Ilmu Semarang terhadap konsep diri, yang tercermin dari perubahan cara pandang terhadap diri sebagai pendidik, meningkatnya kepercayaan diri, serta kesadaran akan pentingnya pengelolaan emosi untuk menunjang profesionalisme dan kualitas pengajaran. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data pre-test memenuhi asumsi normalitas, ditunjukkan oleh nilai signifikansi KolmogorovAeSmirnov sebesar 0,200 dan ShapiroAeWilk sebesar 0,143 . > 0,. Sementara itu, pada data post-test, hasil uji KolmogorovAeSmirnov menunjukkan signifikansi 0,002 . < 0,. , namun uji ShapiroAeWilk menunjukkan nilai signifikansi 0,121 . > 0,. Mengingat ukuran sampel yang cukup besar (N = . dan uji ShapiroAeWilk yang lebih sensitif untuk data sosial dan pendidikan, maka data post-test masih dapat dianggap berdistribusi normal. Dengan demikian, asumsi normalitas secara umum terpenuhi sehingga analisis dapat dilanjutkan menggunakan uji paired samples t-test. Uji Normalitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic Shapiro-Wilk Sig. Pre Test Post Test Statistic Sig. This is a lower bound of the true significance. Lilliefors Significance Correction T-Test Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Pre Test Post Test Std. Deviation TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 Std. Error Mean e-ISSN: 2775-3360 Paired Samples Correlations Pair 1 Pre Test & Post Test Correlation Sig. Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pre Test Post Test Std. Deviation Sig. -taile. 95% Confidence Interval of the Std. Error Difference Mean Lower Upper Hasil statistik deskriptif menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata pemahaman guru setelah mengikuti kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Nilai mean pre-test sebesar 55,04 meningkat menjadi 59,39 pada post-test, dengan selisih rata-rata sebesar 4,35 poin. Hal ini mengindikasikan bahwa setelah diberikan materi mengenai konsep diri guru, kepercayaan diri, dan pengelolaan emosi, peserta mengalami peningkatan pemahaman secara kuantitatif. Korelasi antara skor pre-test dan post-test sebesar 0,608 dengan signifikansi 0,000 menunjukkan hubungan yang cukup kuat dan bermakna antara kondisi sebelum dan sesudah intervensi. Lebih lanjut, hasil uji paired samples t-test menunjukkan nilai t sebesar -7,932 dengan signifikansi 0,000 . < 0,. , yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test. Interval kepercayaan 95% untuk selisih mean berada pada rentang 5,442 hingga -3,254, yang seluruhnya berada di bawah nol, menegaskan adanya peningkatan skor setelah intervensi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini efektif dalam meningkatkan pemahaman guru TK Cahaya Ilmu Semarang mengenai konsep diri, yang selanjutnya berpotensi mendukung profesionalisme dan kinerja mengajar guru secara lebih optimal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa program Peningkatan Pemahaman Konsep Diri Guru TK Cahaya Ilmu Semarang berjalan secara efektif dan memberikan dampak positif bagi Guru memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai konsep diri sebagai pendidik, kepercayaan diri, serta pentingnya pengelolaan emosi dalam menunjang profesionalisme dan kinerja mengajar. Hal ini didukung oleh hasil analisis statistik yang menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata pemahaman guru dari pre-test ke post-test, serta perbedaan yang signifikan secara statistik. Dengan demikian, kegiatan PkM ini terbukti mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran guru terhadap peran konsep diri dalam meningkatkan kualitas interaksi pembelajaran dan lingkungan sekolah. DAFTAR PUSTAKA