Si st em Pen du ku n g K ep utu s an d en gan Apl ik asi . V olu me 3. N o mo r 1. Mar et 2 0 24 Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi Halaman beranda jurnal: https://journal. id/index. php/spk/index Analisis Kualitas Tanah sebagai Faktor Keberhasilan Lahan Pertanian dengan Pendekatan Sistem Pendukung Keputusan Muhammad Rizky Wibowo1, *. Faisal Afiff Tarigan2 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Medan. Indonesia Jl. Lap. Golf No. 120 Pancur Batu. Sumatera Utara, 20235 STIT Hamzah Al-Fansuri Sibolga Barus (STIT HASIBA). Indonesia JL. Barus - Sibolga KM 4. Sumatera Utara: 22564 email: muhammadrizkywibowo2603@gmail. (Naskah masuk: 4 Pebruari 2024. diterima untuk diterbitkan: 25 Maret 2. ABSTRAK - Penelitian ini difokuskan pada permasalahan utama dalam sektor pertanian, terutama terkait ketidakmerataan hasil panen dan tantangan dalam pemilihan lahan yang sesuai untuk kegiatan pertanian. Tujuan utama penelitian adalah untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penanaman benih jagung, kacang kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau. Metode penelitian yang diterapkan menggunakan pendekatan Multi Attribute Utility Theory (MAUT) dalam Sistem Pendukung Keputusan (SPK). Tahapan penelitian melibatkan identifikasi masalah, pengumpulan data melalui observasi dan wawancara, serta penerapan langkah-langkah MAUT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 alternatif lahan pertanian yang dievaluasi, 6 di antaranya dianggap layak untuk budidaya benih (Blok A. Blok C. Blok E. Blok F. Blok H, dan Blok J) berdasarkan nilai akhir yang dihitung dengan menggunakan normalisasi dan perkalian bobot preferensi. Temuan ini memberikan sumbangan penting pada pengembangan ilmu pengetahuan dan penyediaan solusi ilmiah untuk mendukung pengambilan keputusan yang optimal dalam manajemen lahan pertanian. Pendekatan dan metode MAUT yang digunakan dalam penelitian ini dapat diterapkan dengan relevan dalam konteks pengambilan keputusan di sektor pertanian. KATA KUNCI Ae lahan pertanian, metode MAUT, sistem pendukung keputusan Analysis of Soil Quality as a Success Factor for Agricultural Land with a Decision Support System Approach ABSTRACT - This research focuses on the main problems in the agricultural sector, especially related to the inequality of crop yields and challenges in selecting suitable land for agricultural activities. The main objective of the research is to understand the factors that influence the success of planting corn, soybean, peanut and green bean seeds. The research method applied uses the Multi Attribute Utility Theory (MAUT) approach in the Decision Support System (DSS). The research stages involve identifying the problem, collecting data through observation and interviews, and implementing the MAUT steps. The research results show that of the 10 agricultural land alternatives evaluated, 6 of them are considered suitable for seed cultivation (Block A. Block C. Block E. Block F. Block H, and Block J) based on the final value calculated using normalization and multiplication preference weights. These findings provide an important contribution to the development of science and the provision of scientific solutions to support optimal decision making in agricultural land The MAUT approach and methods used in this research can be applied relevantly in the context of decision making in the agricultural sector. KEYWORDS Ae agricultural land. MAUT method, decision support system A 2024 Penulis. Diterbitkan oleh Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi. Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi CC BY-SA. ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi. Volume 3. Nomor 1. Maret 2024 ISSN 2829-2189 (Onlin. PENDAHULUAN Tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat memiliki peran penting bagi kehidupan di planet Bumi . Sebagai lapisan permukaan yang meliputi sebagian besar daratan, tanah bukan hanya sebagai tempat tumbuhnya berbagai jenis flora, tetapi juga menjadi habitat bagi beragam makhluk hidup, termasuk manusia. Keanekaragaman fungsi dan manfaat tanah membuatnya menjadi elemen kunci dalam mendukung kehidupan dan kesejahteraan ekosistem . Sumber daya tanah berasal dari berbagai proses geologis yang terjadi selama ribuan tahun. Proses-proses ini mencakup dekomposisi batuan, erosi, deposisi sedimen, serta interaksi dengan unsur-unsur kimia dan organisme hidup. Seiring waktu, tanah terbentuk melalui transformasi materi organik dan anorganik menjadi suatu medium yang mendukung pertumbuhan tanaman . Selain bahan organik. , komponen mineral tanah seperti pasir, lumpur. dan liat turut memberikan karakteristik khusus pada tanah . Faktor-faktor seperti iklim. , topografi. , waktu. , dan jenis batuan di suatu wilayah juga berpengaruh besar terhadap sifat dan kualitas tanah yang terbentuk. Dalam konteks keberlanjutan dan perlindungan lingkungan. , penting untuk memahami peran tanah sebagai penyedia sumber daya alam yang berkelanjutan. Tanah memiliki kapasitas untuk menyimpan air. , menyediakan nutrisi bagi tanaman, serta berperan dalam siklus karbon. dan nitrogen. Pemanfaatan tanah yang bijaksana perlu menjadi fokus dalam upaya pelestarian dan pengelolaan sumber daya alam secara keseluruhan . Pemahaman mendalam tentang pemanfaatan tanah dan sumber daya alam dapat mendukung kebijakan dan praktikpraktik berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung kehidupan di Bumi ini . Sifat dan karakteristik tanah sangat mempengaruhi produktivitas pertanian, ketersediaan air, dan bahkan dampak lingkungan . Dalam era di mana pengambilan keputusan semakin kompleks, integrasi teknologi informasi, khususnya Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System/DSS), menjadi krusial untuk memahami dan memanfaatkan potensi tanah secara optimal . Sistem Pendukung Keputusan adalah alat yang kuat dalam membantu para pengambil keputusan untuk mengatasi kompleksitas informasi, menganalisis skenario alternatif, dan mengoptimalkan hasil Dalam konteks tanah. DSS dapat menyediakan informasi mendalam mengenai kualitas tanah, potensi pertanian, risiko erosi, serta implikasi kebijakan lingkungan terhadap sumber daya tanah menjadi penentu keberhasilan lahan pertanian . Hal ini berkaitan dengan aktivitas pertanian yang memanfaatkan fungsi tanah dan beroperasi di sektor pertanian guna meningkatkan kualitas hasil pertanian. Dalam konteks lahan pertanian UPTD Benih Induk, permasalahan utama yang muncul adalah bagaimana variabilitas kualitas tanah dapat berpengaruh terhadap keberhasilan tanam benih jagung, kacang kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau. Identifikasi persyaratan tanah spesifik untuk setiap jenis tanaman dan penerapan sistem pendukung keputusan menjadi esensi dalam upaya meningkatkan efisiensi pertanian. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendalami pemahaman mengenai faktor-faktor tersebut dan menyusun solusi berbasis ilmiah untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih optimal dalam mengelola lahan pertanian di UPTD Benih IndukDinas Pertanian Pemerintah UPTD. Benih Induk Palawija Tanjung Selamat menghadapi beberapa permasalahan dalam mengambil keputusan terkait pemilihan lahan yang cocok untuk pertanian akibat adanya ketidakmerataan hasil panen lahan pertanian. Hal ini dapat dilihat dari adanya kesenjangan dalam pertumbuhan dan perkebangan pada tanaman ang melibatkan beberapa factor dan memerlukan solusi alternative untuk meningkatkan kualitas tanah Dinas Pertanian Pemerintah UPTD. Benih Induk Palawija Tanjung Selamat dalam menilai kelayakan lahan untuk pembibitan tanaman. , serta melakukan evaluasi tingkat kelayakan lahan dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi lahan, sehingga memungkinkan pengoptimalan penggunaan lahan pada tahap penanaman tanaman tertentu untuk menentukan kelayakan lahan pertanian diperlukan penerapan Sistem Pendukung Keputusan. Dalam pengambilan keputusan yang kompleks, terutama di bidang manajemen, teknik-teknik optimasi menjadi kunci untuk mencapai solusi terbaik dengan penerapa metode Multi Attribute Utility Theory (MAUT) dalam Sistem Pendukung Keputusan menjadi semakin krusial. MAUT, sebagai metode pengambilan keputusan yang memungkinkan integrasi berbagai atribut atau kriteria, dapat memberikan landasan yang kokoh untuk evaluasi keputusan terkait lahan pertanian . Dengan mengidentifikasi dan memberikan bobot pada faktor-faktor seperti kesuburan tanah, ketersediaan air, dampak lingkungan, dan keberlanjutan ekonomi, para pengambil keputusan dapat membuat keputusan yang lebih holistik dan seimbang. Dari penelitian sebelumnya, metode yang diterapkan adalah MAUT. Diharapkan sistem yang tengah dikembangkan mampu mengidentifikasi dan menganalisis hambatan serta kelayakan lahan yang memengaruhi keberhasilan tanam benih jagung, kacang kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau. Beberapa referensi yang merujuk pada sistem pendukung keputusan dengan menggunakan metode MAUT . dijadikan dasar untuk membandingkan perbedaan antara penelitian yang sedang dilakukan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Hal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi unik dengan meluaskan penerapan MAUT dalam konteks pertanian. METODE PENELITIAN MAUT adalah suatu pendekatan matematis dalam pengambilan keputusan yang memungkinkan para pengambil keputusan untuk mengevaluasi dan memilih di antara berbagai alternatif, dengan mempertimbangkan beberapa kriteria DOI: https://doi. org/10. 55537/spk. Muhammad Rizky Wibowo | 46 Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi. Volume 3. Nomor 1. Maret 2024 ISSN 2829-2189 (Onlin. yang relevan. Metode ini dikembangkan untuk mengatasi kompleksitas pengambilan keputusan di mana banyak faktor atau aspek harus dipertimbangkan secara bersamaan. Penilaian ini dapat dirumuskan . sebagai berikut : Fungsi utilitas untuk normalisasi setiap alternatif, yang digunakan untuk mencapai hasil evaluasi alternatif ke-x dalam rentang skala 0-1, disebut sebagai U. Hal ini dapat diidentifikasi melalui rumus . Secara singkat, langkah-langkah dalam metode MAUT mencakup : Membagi keputusan menjadi dimensi yang berbeda. Menetapkan bobot relatif pada setiap dimensi. Menyusun daftar semua alternatif. Menghitung skor utilitas dari matriks normalisasi untuk setiap alternatif sesuai dengan atributnya. Mengalikan skor utilitas dengan bobot untuk menentukan skor total dari setiap alternatif. Kerangka Kerja Metode MAUT Dalam penelitian ini, awalnya dilakukan identifikasi masalah, diikuti oleh pengumpulan data melalui observasi dan wawancara dengan UPTD. Benih Induk Palawija Tanjung Selamat. Tujuannya adalah untuk memperoleh sampel data kriteria dan alternatif beserta bobot penilaian. Proses perhitungan menggunakan metode MAUT dengan langkah-langkah berupa pembuatan matriks keputusan, normalisasi, perkalian hasil normalisasi dengan bobot preferensi, dan selanjutnya menentukan tingkat kelayakan. Pada Gambar 1 menjelaskan Tahapan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini. Gambar 1. Tahapan Penelitian 47 | Muhammad Rizky Wibowo DOI: https://doi. org/10. 55537/spk. Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi. Volume 3. Nomor 1. Maret 2024 ISSN 2829-2189 (Onlin. Identifikasi Masalah. Peneliti melakukan analisis mendalam terhadap masalah, sehingga dapat memungkinkan identifikasi inti permasalahan dan ditentukan solusi dari masalah tersebut. Dalam penelitian ini, permasalahan yang dihadapi penulis yaitu ketidakmerataan hasil panen dan tantangan dalam pemilihan lahan yang sesuai untuk kegiatan Identifikasi Sistem. Tahap pendahuluan melibatkan analisis kebutuhan sistem untuk memahami persyaratan dasar sistem yang akan dikembangkan. Sistem yang akan dikembangkan bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara permasalahan yang teridentifikasi dan pengembangan solusi sistematis. Studi Literatur. Upaya studi literatur dilakukan dengan merinci penelitian sebelumnya guna memahami landasan teoritis yang relevan. Pencarian literatur mencakup pemahaman mendalam tentang sistem pendukung keputusan dan metode MAUT, memberikan dasar pengetahuan yang kuat untuk merancang sistem yang komprehensif. Pengumpulan Data. Pengumpulan data dan informasi yang diperlukan bertujuan untuk mengevaluasi kecocokan lahan untuk budidaya benih, melakukan analisis terhadap permasalahan yang mungkin timbul, dan menyimpulkan hasil kajian terkait permasalahan tersebut. Tabel 1 menyajikan sampel data yang digunakan dalam penelitian ini dan berasal dari UPTD. Benih Induk Palawija Tanjung Selamat. Tabel 1. Data Utama Dari Objek Penelitian Blok Luas Area (H. Curah Hujan Jenis Tanah Ketinggian (MDPL) Blok A Aluvial Blok B Regosol Blok C Regosol Blok D Regosol Blok E Aluvial Blok F Regosol Blok G Regosol Blok H Aluvial Blok I Aluvial Blok J Regosol Data ini menjadi landasan untuk penilaian dan analisis lebih lanjut terkait penentuan kecocokan lahan untuk budidaya benih. Metode MAUT dan Data Penelitian : Analisis data dilakukan menggunakan metode MAUT untuk mengevaluasi dan memilih lahan terbaik dengan pendekatan sistematis. Analisis sistem melibatkan penerapan metode MAUT untuk pembuatan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) Lahan Terbaik. Analisis Data. Proses ini melibatkan penerapan parameter yang menjadi acuan kunci dalam proses pengambilan Setelah itu, proses perhitungan metode MAUT melibatkan langkah-langkah penting seperti menetapkan kriteria dan alternatif, membuat Matriks Keputusan, melakukan normalisasi matriks untuk perbandingan data, dan mengalikan hasil normalisasi dengan nilai bobot penilaian. Terakhir, yaitu penilaian kelayakan lahan dilakukan dari masing-masing hasil normalisasi pada tahap implementasi metode MAUT Analisis Sistem. Desain sistem melibatkan proses perancangan antarmuka. Tujuannya adalah untuk menciptakan tata letak sistem yang sesuai dengan analisis kebutuhan sistem yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil Penerapan Metode. Menyajikan hasil dari normalisasi,perkalian dan penerapan metode MAUT pada penelitian, termasuk ranking dan nilai kelayakan lahan. Kesimpulan. Tahap penyimpulan pada fase penelitian akan dijelaskan mengenai seluruh langkah yang telah dilaksanakan, mencakup tahap penelitian, hasil perhitungan yang dilakukan, dan menyimpulkan dari seluruh tahapan penelitian yang telah selesai. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Penentuan Kriteria,Alternatif dan Penilaian Dalam mengevaluasi kelayakan lahan untuk tanaman benih melalui metode MAUT. , langkah awal dilakukan dengan pengidentifikasian kriteria, alternatif yang tersedia, dan penentuan bobot untuk setiap kriteria tersebut. Data mengenai kriteria dan bobot yang digunakan dalam penilaian kelayakan lahan untuk pembibitan tanaman dapat ditemukan pada Tabel 2. Tabel 2. Kriteria dan Bobot Kode Kriteria Keterangan Bobot Luas Area Curah Hujan Jenis Tanah Ketinggian MDPL DOI: https://doi. org/10. 55537/spk. Muhammad Rizky Wibowo | 48 Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi. Volume 3. Nomor 1. Maret 2024 ISSN 2829-2189 (Onlin. Dalam Tabel 2 di atas, terdapat panduan singkat untuk menilai kelayakan lahan. Bobot pada setiap kriteria, seperti Luas Area. Curah Hujan. Jenis Tanah. Ketinggian MDPL, dan pH, mencerminkan tingkat signifikansinya. Oleh karena itu, penelitian dapat difokuskan pada faktor-faktor yang memiliki dampak tertinggi dalam menilai kelayakan lahan untuk pembibitan tanaman benih. Pemberian nilai untuk tiap-tiap kriteria yang telah ditetapkan sesuai Tabel 3 untuk penilaian kriteria luas area sebagai berikut. Tabel 3. Sub Kriteria Nilai Luas Area Luas Area Nilai Alternatif 0-15 Ha 16-25 Ha 26-35 Ha 36-50 Ha >50 Ha Pemberian nilai untuk kriteria curah hujan sesuai pada Tabel 4 sebagai berikut. Tabel 4. Sub Kriteria Nilai Curah Hujan Curah Hujan Nilai Alternatif 0-1700 mm 1701-1800 mm 1801-1900 mm 1901-2000 mm >2000 mm Pemberian nilai untuk kriteria jenis tanah sesuai pada Tabel 5 sebagai berikut. Tabel 5. Sub Kriteria Nilai Jenis Tanah Jenis Tanah Nilai Alternatif Regosol Alluval Pemberian nilai untuk kriteria ketinggian MDPL sesuai pada Tabel 6 sebagai berikut. Tabel 6. Sub Kriteria Nilai Ketinggian MDPL Ketinggian MDPL Nilai Alternatif > 170 m 130 - 169 m 90 - 129 m 0 - 89 m Pemberian nilai untuk kriteria skala pH sesuai pada Tabel 7 sebagai berikut. Tabel 7. Sub Kriteria Nilai Skala pH Nilai Alternatif 8 - 14 skala pH 0 - 5 skala pH 6 - 7 skala pH Berikut Tabel 8 merupakan penentuan kode setiap data alternatif untuk pemilihan kelayakan lahan untuk pembibitan tanaman benih. Tabel 8. Alternatif Lahan Alternatif Keterangan Blok A 49 | Muhammad Rizky Wibowo Blok B Blok C DOI: https://doi. org/10. 55537/spk. Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi. Volume 3. Nomor 1. Maret 2024 ISSN 2829-2189 (Onlin. Alternatif Keterangan Blok D Blok E Blok F Blok G Blok H Blok I A10 Blok J Pada gambar di atas menunjukkan kode dan keterangan setiap blok lahan yang dievaluasi untuk pembibitan tanaman Alternatif ini direpresentasikan dengan kode A1 hingga A10, masing-masing mengacu pada blok lahan tertentu, seperti Blok A. Blok B, hingga Blok J. Membuat Matriks Keputusan Langkah berikutnya adalah menentukan matriks keputusan dengan memasukkan nilai alternatif pada semua kriteria seperti pada Tabel 9 : Tabel 9. Matriks Keputusan Kriteria Alternatif A10 Nilai A Nilai A1 Dengan A dan A-, evaluasi kelayakan lahan pada table di atas dapat dilakukan berdasarkan tingkat keunggulan dan kelemahan alternatif. Berikut adalah matriks keputusan berdasarkan data hasil konversi nilai alternatif yaitu sebagai Matriks Keputusan (X) adalah representasi nilai alternatif terhadap setiap kriteria. DOI: https://doi. org/10. 55537/spk. Muhammad Rizky Wibowo | 50 Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi. Volume 3. Nomor 1. Maret 2024 ISSN 2829-2189 (Onlin. Melakukan Normalisasi Matriks Normalisasi matriks dari nilai alternatif pada setiap kriteria dengan menggunakan rumus persamaan . Normalisasi untuk Alternatif 1 (A. 4 Oe 1 . A1. = 0. 5 Oe 1 5 Oe 1 . A1. 5 Oe 1 2 Oe 1 . A1. 2 Oe 1 1 Oe 1 . A1. 3 Oe 1 2 Oe 2 . A1. 3 Oe 2 Normalisasi untuk Alternatif 2 (A. 1 Oe 1 . A2. 5 Oe 1 5 Oe 1 . A2. 5 Oe 1 1 Oe 1 . A2. 2 Oe 1 1 Oe 1 . A2. 3 Oe 1 3 Oe 2 . A2. 3 Oe 2 Normalisasi untuk Alternatif 3 (A. 5 Oe 1 . A3. 5 Oe 1 5 Oe 1 . A3. 5 Oe 1 1 Oe 1 . A3. 2 Oe 1 2 Oe 1 . A3. = 0. 3 Oe 1 3 Oe 2 . A3. 3 Oe 2 Normalisasi untuk Alternatif 4 (A. 2 Oe 1 . A4. = 0. 5 Oe 1 4 Oe 1 . A4. = 0. 5 Oe 1 1 Oe 1 . A4. 2 Oe 1 3 Oe 1 . A4. 3 Oe 1 2 Oe 2 . A4. 3 Oe 2 Normalisasi untuk Alternatif 5 (A. 4 Oe 1 . A5. = 0. 5 Oe 1 5 Oe 1 . A5. 5 Oe 1 1 Oe 1 . A5. 2 Oe 1 3 Oe 1 . A5. 3 Oe 1 3 Oe 2 . A5. 3 Oe 2 51 | Muhammad Rizky Wibowo DOI: https://doi. org/10. 55537/spk. Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi. Volume 3. Nomor 1. Maret 2024 ISSN 2829-2189 (Onlin. Untuk hasil normalisasi matriks secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 10 berikut. Blok A10 Tabel 10. Hasil Normalisasi Pada gambar di atas menunjukan nilai hasil normalisasi untuk setiap kriteria pada blok lahan yang dievaluasi. Proses normalisasi ini dilakukan untuk membawa setiap nilai dalam rentang antara 0 hingga 1, menciptakan perbandingan relatif antarblok lahan terhadap setiap kriteria. Sebagai contoh, nilai normalisasi pada Blok A1 untuk C1 (Luas Are. adalah 75, menunjukkan tingkat kecocokan Blok A1 dalam hal luas area dibandingkan dengan blok lainnya. Demikian pula, hasil normalisasi lainnya memberikan gambaran relatif terhadap setiap kriteria untuk setiap blok lahan. Melakukan Perkalian Hasil Normalisasi Dengan Bobot Preferensi Dalam langkah ini, dilakukan perhitungan perkalian hasil normalisasi dengan bobot preferensi untuk setiap Metode ini bertujuan untuk memberikan bobot pada setiap kriteria sesuai dengan tingkat pentingnya. Berikut adalah perhitungan untuk setiap alternatif (A1 hingga A. A1 = . = 0. 25 0 = 0. A2 = . = 0. 30 = 0. A3 = . = 0. 15 0 0. 30 = 0. A4 = . = 0. 1125 0 0. 10 = 0. A5 = . = 0. 30 = 0. A6 = . = 0. 30 = 0. A7 = . = 0. 30 = 0. A8 = . = 0. 25 = 0. A9 = . = 0 0 0. 10 = 0. A10 = . = 0. 30 = 0. Dengan langkah-langkah ini, kita dapat menentukan nilai preferensi relatif untuk setiap alternatif berdasarkan bobot kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Nilai-nilai ini dapat digunakan untuk menentukan alternatif terbaik sesuai dengan kriteria yang diinginkan. DOI: https://doi. org/10. 55537/spk. Muhammad Rizky Wibowo | 52 Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi. Volume 3. Nomor 1. Maret 2024 ISSN 2829-2189 (Onlin. Melakukan Tingkat Kelayakan Langkah selanjutnya yaitu menentukan tingkat kelayakan berdasarkan nilai akhir, sesuai pada Tabel 11 berikut. Tabel 11. Keputusan Kelayakan Tingkat Kelayakan Range Penilaian Layak > 0,500 Tidak Layak <= 0,500 Berdasarkan data di atas, dapat disarankan bahwa alternatif yang memenuhi kriteria kecocokan untuk lahan budidaya benih di UPTD. Benih Induk Palawija Tanjung Selamat adalah yang memiliki skor di atas 0,500. Alternatif dengan skor 0,500 atau di bawahnya dianggap tidak sesuai. Informasi lebih lanjut dapat ditemukan dalam Tabel 12. Kode Alternatif Tabel 12. Hasil Keputusan Keterangan Nilai Akhir Keputusan Rank Blok A Layak Blok B Tidak Layak Blok C Blok D Layak Tidak Layak Blok E Layak Blok F Layak Blok G Blok H Tidak Layak Layak Blok I Tidak Layak A10 Blok J Layak Dari hasil perhitungan di atas, terlihat bahwa lahan yang unggul adalah Blok F (A. Lahan tersebut dinyatakan layak untuk budidaya benih di UPTD. Benih Induk Palawija Tanjung Selamat dengan penilaian lebih dari 0,500. Terdapat enam alternatif yang memenuhi kriteria layak, yaitu Blok A (A. Blok C (A. Blok E (A. Blok F (A. Blok H (A. , dan Blok J (A. , dengan nilai tertinggi mencapai 0. Implementasi Sistem Hasil dari penggunaan metode MAUT berbasis website dapat ditemukan dalam gambar-gambar berikut. Tampilan Halaman Data Kriteria Pada Gambar 2 terdapat tampilan halaman dari data kriteria pada sistem pendukung keputusan. Gambar 2. Tampilan Halaman Data Kriteria Pada gambar di atas, menampilkan tampilan halaman data kriteria yang digunakan untuk menentukan kelayakan lahan budidaya benih. 53 | Muhammad Rizky Wibowo DOI: https://doi. org/10. 55537/spk. Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi. Volume 3. Nomor 1. Maret 2024 ISSN 2829-2189 (Onlin. Tampilan Halaman Data Alternatif Pada Gambar 3 Tampilan halaman atau Tabel data alternatif pada sistem pendukung keputusan. Gambar 3. Tampilan Halaman Data Alternatif Dalam gambar di atas, menampilkan tampilan halaman data alternatif yang berfungsi untuk mengelola data dan menentukan kelayakan lahan penanaman benih. Tampilan Halaman Normalisasi Matriks Pada Gambar 4, terdapat halaman atau Tabel dari data hasil perhitungan MAUT. Gambar 4. Tampilan Halaman Data Normalisasi Matriks Dalam gambar di atas, menampilkan tampilan halaman normalisasi matriks dari nilai alternatif pada setiap kriteria, yang telah dijumlahkan otomatis oleh sistem menggunakan rumus persamaan . untuk menentukan kelayakan lahan budidaya benih. Tampilan Halaman Perkalian Hasil Normalisasi Pada Gambar 5, menampilkan tampilan halaman atau Tabel data perkalian hasil normalisasi DOI: https://doi. org/10. 55537/spk. Muhammad Rizky Wibowo | 54 Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi. Volume 3. Nomor 1. Maret 2024 ISSN 2829-2189 (Onlin. Gambar 5. Tampilan Halaman Data Perkalian Hasil Normalisasi Pada gambar di atas , diperlihatkan Tabel hasil dari perkalian antara nilai hasil normalisasi (A1 hingga A. dengan bobot preferensi setiap kriteria. Proses ini melibatkan penilaian relatif dari setiap alternatif terhadap kriteria yang telah dinormalisasi, diikuti dengan pemberian bobot preferensi pada masing-masing kriteria. Tampilan halaman Data Hasil Akhir Pada Gambar 6 menampilkan tampilan halaman data hasil akhir yang mencakup Tabel keputusan. Gambar 6. Tampilan Halaman Data Hasil Akhir Pada gambar di atas, menunjukkan Tabel hasil keputusan dan peringkat berdasarkan nilai akhir dari setiap alternatif. Halaman ini memberikan informasi tentang rekomendasi lahan yang layak atau tidak layak untuk budidaya benih. Tampilan Halaman Laporan Pada Gambar 7 menampilkan tampilan halaman laporan hasil perhitungan. 55 | Muhammad Rizky Wibowo DOI: https://doi. org/10. 55537/spk. Sistem Pendukung Keputusan dengan Aplikasi. Volume 3. Nomor 1. Maret 2024 ISSN 2829-2189 (Onlin. Gambar 7. Tampilan Halaman Laporan Pada gambar di atas, menunjukkan tampilan laporan hasil perhitungan yang telah dihasilkan dan dicetak dalam format PDF. Laporan ini mencakup informasi rinci mengenai penilaian lahan budidaya benih di UPTD. Benih Induk Palawija Tanjung Selamat. Kontribusi utama dari penelitian ini terletak pada transformasinya menjadi sistem pendukung keputusan yang Sistem ini dirancang menggunakan metode Multi-Attribute Utility Theory (MAUT), membedakannya dari penelitian lain dalam evaluasi kelayakan lahan. Selain itu, telah dilakukan uji validasi dengan membandingkan perhitungan manual dengan hasil yang dihasilkan oleh sistem. Validasi tersebut dilakukan dengan tujuan memastikan ketepatan dan keandalan sistem, sekaligus menjamin kebermanfaatan sistem bagi pihak-pihak yang berkepentingan di masa mendatang. Penelitian ini melakukan perbandingan temuannya dengan penelitian sebelumnya, dengan fokus khusus pada aspek yang relevan dan beberapa penilaian. Secara spesifik, penelitian ini mengeksplorasi kasus serupa yang terkait dengan identifikasi dan analisis hambatan serta kelayakan lahan, menggunakan metode Multi Attribute Utility Theory (MAUT). Di sisi lain, penelitian yang serupa cenderung lebih memilih metode Multi-Objective Optimization by Ratio Analysis (MOORA), yang menunjukkan perbandingan yang signifikan dalam menggambarkan beragam pendekatan metodologis dalam konteks yang serupa . KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisa dalam menentukan kelayakan lahan dengan menggunakan analisis MAUT. Blok F. C, dan E menunjukkan kelayakan tinggi untuk budidaya tanaman benih di UPTD Benih Induk Palawija Tanjung Selamat. Dengan memahami kelayakan dan karakteristik tanah di setiap blok, pengambil keputusan dapat mengalokasikan sumber daya dengan lebih efisien, memastikan bahwa tanaman yang ditanam sesuai dengan kondisi lahan yang optimal. Dengan demikian, pemanfaatan tanah yang bijaksana berdasarkan evaluasi kelayakan dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan mendukung keberlanjutan lingkungan di wilayah tersebut. DAFTAR PUSTAKA