Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 5 No. 2 Tahun 2024 GAMBARAN SELF-MANAGEMENT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI POLI PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT SWASTA DI BANTUL Susan Permata Sari1. Umi Zulaika2. Bernadetta Eka Noviati3 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401 Pringwulung. Condong Catur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia . Email: ufowo@mailbox. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401 Pringwulung. Condong Catur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. Email: ufowo@mailbox. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401 Pringwulung. Condong Catur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. Email: eka_noviati@stikespantirapih. ABSTRAK Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan suatu gangguan metabolik yang terjadi akibat Bila tidak dikendalikan dapat berakibat kematian. Dengan demikian diperlukan aktifitas kontrol dan self-management secara efektif bagi penderita. Tujuan: Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran manajemen diri pada penderita diabetes melitus Tipe 2 di poliklinik penyakit dalam salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Bantul. Metode: penelitian studi deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei. Instrumen yang digunakan untuk mengukur self-management diabetes adalah kuesioner DSMQ (Diabetes Self-Management Quisionair. yang telah diadaptasi kedalam bahasa Indonesia. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 73 pasien diabetes dengan metode pengambilan sampel accidental sampling, sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Hasil: penelitian ini menunjukan bahwa karakteristik responden adalah 72,6% lansia, 56,2% berjenis kelamin perempuan 43,8% tingkat pendidikan menegah, 75,3% tidak merokok, 60,3% indek massa tubuh normal, 52,1% memiliki riwayat keluarga dengan diabetes, 53,4% memiliki kemampuan self-management yang cukup dan 46,6% baik, dengan rata-rata sub skala manajemen glukosa . , kontrol diet . , aktivitas fisik . , dan layanan kesehatan . Simpulan: lebih dari setengah . ,4%) responden memiliki self-management cukup, kurang dari setengah . ,6%) baik . Diharapkan dukungan dari semua pihak untuk mendampingi penderita DM type 2 dalam mengelola self-management. Kata kunci: self-management, diabetes melitus tipe 2. DSMQ ABSTRACT Background:Type 2 diabetes mellitus is a metabolic disorder that occurs due to hyperglycemia. If not controlled it can result in death. Thus, effective control and self-management activities are needed for Objective: The aim of the research was to determine the description of self-management in type 2 diabetes mellitus sufferers in the internal medicine clinic at one of the private hospitals in Bantul Regency. Methods: The research method is a quantitative descriptive study with a survey approach. The instrument used to measure diabetes self-management is the DSMQ (Diabetes Self-Management Questionnair. questionnaire which has been adapted into Indonesian. The number of samples in this study was 73 diabetes patients using the accidental sampling method, in accordance with the specified inclusion and exclusion criteria. Results: this study show that the characteristics of the respondents were 72. 6% elderly, 56. 2% female. Susan Permata Sari. Umi Zulaika. Bernadetta Eka Noviati Gambaran Self-Management Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Swasta di Bantul 8% secondary education level, 75. 3% non-smokers, 60. 3% normal body mass index, 52. 1% had a family history of diabetes, 53. 4% had adequate self-management skills and 46. 6% were good, with an average sub scale of glucose management . , diet control . , physical activity . , and health services . Conclusion: Thus it can be concluded that more than half . 4%) of respondents have sufficient self-management, less than half . 6%) have good self-management. Support from all parties is expected to accompany type 2 DM sufferers in managing self-management. Keywords: self-management, type 2 diabetes mellitus. DSMQ PENDAHULUAN Diabetes melitus tipe 2 adalah suatu terdapat sekitar 537 juta orang dewasa yang kondisi kesehatan yang terjadi karena berusia antara 20-79 tahun mengalami peningkatan kadar glukosa dalam darah melebihi ambang normal (Gusti et al. , 2. diproyeksikan akan meningkat menjadi 783 Hal ini disebabkan oleh penurunan produksi juta pada tahun 2045. Jumlah pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia yaitu diproyeksikan akan meningkat menjadi 28,6 World Health Organization . , sekitar juta pada tahun 2045. Daerah Istimewa 90 hingga 96 persen penderita diabetes Yogyakarta global menderita diabetes melitus tipe 2. tertinggi ke tiga dengan diabetes melitus Pada umumnya proporsi tertinggi terjadi tipe 2 menurut diagnosis dokter pada pada negara berpenghasilan rendah dan individu berusia >15 tahun (Riskesdas. Penderita diabetes melitus tipe 2 di Urbanisasi DI Yogyakarta sebesar 2,6% pada tahun 2013 dan meningkat menjadi 3,1% pada diabetes melitus tipe 2 karena adanya insulin dengan baik (Rusdi, 2. Menurut Federation, 2. Angka Diabetes ketidakmampuan tubuh dalam merespon (International Republik Indonesia, 2. mengonsumsi lebih banyak makanan olahan dari Januari-Agustus 2023, terdapat 707 dan minuman manis, penurunan aktivitas pasien diabetes melitus tipe 2 datang ke Poli klinik penyakit dalam sebuah rumah sakit peningkatan kasus obesitas yang berujung swasta di Bantul. DIY. Tingginya prevalensi pada gangguan metabolik seperti diabetes diabetes melitus tipe 2 ini memerlukan melitus tipe 2 (WHO, 2. penangan dan kontrol yang baik sesegera Kesehatan Studi pendahuluan menunjukkan bahwa (Kementerian Data International Diabetes Federation . , menunjukan bahwa di seluruh dunia masalah berkelanjutan seperti komplikasi. Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 Gangguan Makrovaskuler . isalnya Surabaya, mendapatkan hasil status self- management diabetes baik. Penelitian lain yang dilakukan oleh Telaumbanua . di Tuhemberua Ulu Kecamatan diabetes melitus tipe 2 yang tidak terkontrol Gunungsitoli (Soelistijo et al. , 2. self-management penderita diabetes melitus Sehingga pasien diabetes melitus tipe 2 membutuhkan Handriana & Hijriani . menunjukkan menghindari terjadinya komplikasi yang hasil self-management diabetes yang masih dapat mengancam jiwa (ADA, 2. Sedangkan Salah satu upaya yang dapat dilakukan Hasil penelitian terdahulu dan masih untuk memiliki kontrol yang baik adalah tingginya angka kejadian diabetes melitus tipe 2 di Bantul mendorong dilaksanakannya self-management diabetes yang baik pula. Self-management merupakan keaktifdiabetes METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan (Hidayah, 2. Perbaikan perilaku yang diabetes melitus tipe 2 di salah satu rumah monitoring, reducing risk dan problem sakit swasta di Bantul. DIY. Penelitian ini solving (Association of Diabetes Care and dilakukan dari bulan September 2023 sampai Education Specialists 7, 2. dengan Januari 2024 dengan ijin Etik Nomor: Kemampuan self-management diabetes 003/KEPK/XI/2023 yang di keluarkan oleh sudah banyak diteliti sebelumnya dan sangat STIKes Guna Bangsa Yogyakarta. Sample bermanfaat sebagai upaya kontrol mandiri yang digunakan pada penelitian ini sebanyak baik untuk pasien diabetes itu sendiri atau ini adalah semua pasien yang menderita eating, being active, taking medication, pendekatan survei. Populasi pada penelitian dalam menerapkan healthy coping, healthy AuGambaran Melitus Tipe 2 di RS Swasta di BantulAy memperbaiki perilaku serta peningkatan Self-Management pada Pasien Diabetes an pasien secara mandiri dalam usaha 73 responden dengan kriteria responden: dukungan perawatan yang tepat. Penelitian memiliki kemampuan untuk berkomunikasi terdahulu misalnya yang dilakukan oleh dengan baik, bersedia berpartisipasi sebagai Hidayah . di Puskesmas Pucang Sewu Susan Permata Sari. Umi Zulaika. Bernadetta Eka Noviati Gambaran Self-Management Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Swasta di Bantul responden penelitian, memiliki kemampuan berdasarkan skala: kepatuhan diet 0. membaca dan menulis. kepatuhan pengobatan 0. 75, pemantauan glukosa darah 0. 83, aktivitas fisik 0. layanan kesehatan 0. Kesimpulannya kuesioner DSMQ (Diabetes instrumen DSMQ berbahasa indonesia yang digunakan merupakan instrument yang valid Instrumen self-management Self-Management Questionnair. dikembangkan dari Shcmitt et al tahun 2013, dengan koefisien Cronbach pengelolaan self-management glukosa 0,77, control diet 0,77, aktivitas melitus tipe 2. Analisis data yang digunakan pada kesehatan 0,60, serta skala jumlah pada penelitian ini adalah analisis univariat dan koefisien sebesar 0,84. Kuesioner ini diringkas ke dalam bentuk kategorik . dan ditranslasikan dari Bahasa Inggris ke Bahasa presentase tiap kategorik (%). 0,76, Indonesia yang dilakukan di Pusat Pelatihan Bahasa Fakultas Ilmu Budaya Universitas HASIL DAN PEMBAHASAN Gadjah Mada secara forward dan backward Pada hasil penelitian ini, data yang oleh dua native yang berbeda kemudian dilakukan review oleh expert. Uji validiti adalah sebegai berikut: usia, jenis kelamin, dan reliabili pada kuesioner ini telah pendidikan, riwayat merokok, indeks massa dilakukan di Indonesia oleh Ramadhani, et tubuh dan riwayat diabetes dari keluarga. dengan hasil CronbachAos . Variabel Usia Dewasa awal . -45 tahu. Lansia awal . -65 tahu. Manula (>65 tahu. Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Pendidikan SMP/SMA Perguruan Tinggi Tabel. Karakteristik Responden n=73 Frekuensi Presentase (%) . Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 Kebiasaan Merokok Tidak IMT Underweight Normal Overweight Obesitas I Riwayat DM Tidak Berdasarkan tabel. 1 dapat diketahui glukagon-like- bahwa lebih dari setengah responden pada berfungsi merangsang pelepasan insulin, penelitian ini adalah kelompok usia lansia, menurun pada orang tua (Mordarska & yaitu sebanyak 53 responden . ,6%). Hasil Godziejewska-Zawada, ini sejalan dengan data Riskesdas . , yang menemukan bahwa prevalensi diabetes menyebabkan tingkat insulin pasca makan melitus tipe 2 didominasi oleh lansia. Usia merupakan salah satu faktor Sehingga glukagon yang lebih lemah (Piko et al. diabetes melitus tipe 2 (Piko et al. , 2. Berdasarkan tabel. 1 dapat diketahui Hal ini akibat dari proses penuaan tubuh berjenis kelamin perempuan, yaitu 41 homeostasis energi dan kelainan dalam responden . ,2%). metabolisme karbohidrat (Figueiredo et al. dengan hasil penelitian oleh Windani . Sehingga akhirnya berdampak pada yang menunjukkan bahwa angka kejadian kekurangan sekresi insulin, kondisi ini diabetes melitus tipe 2 cenderung lebih disertai juga resistensi insulin yang semakin (Mordarska saat wanita menopause tekanan darah, kolesterol LDL, dan HbA1c meningkat peningkatan kadar glukosa darah seiring seiring dengan perubahan distribusi lemak bertambahnya usia yang didasari pada Menurut Kautzky-Willer et al . Resistensi insulin terjadi akibat dari laki-laki. Godziejewska-Zawada, 2. Temuan ini sejalan adiposa (Piko et al. , 2. Selain itu, (Impaired Glucose Tolerance/IGT). sensitivitas sel pankreas terhadap incretins. Keadaan gangguan glukosa puasa (Impaired Fasting Susan Permata Sari. Umi Zulaika. Bernadetta Eka Noviati Gambaran Self-Management Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Swasta di Bantul Glucose/IFG), sehingga pelepasan GLP-1 kelenjar adrenal, yang kemudian dapat . ormon yang merangsang produksi insuli. meningkatkan kadar glukosa (Trisnawati pada wanita lebih rendah dibandingkan 2013 dalam Fajriati, 2. Studi lain dengan pria (Kautzky-Willer et al. , 2. mengatakan, kebiasan merokok juga dapat Berdasarkan tabel. 1 dapat diketahui menyebabkan komplikasi diabetes retinopati, hal ini terjadi akibat penurunan aliran darah berpendidikan SMP/SMA kebawah, yaitu 32 pada retina dan mengurangi kemampuan pembuluh darah retina untuk melakukan SMP/SMA dan 27 responden . ,0%) autoregulasi terhadap tingkat oksigen yang berpendidikan SD. Hasil ini menjelaskan tinggi, dikarenakan efek vasokonstriksi yang bahwa pendidikan berpengaruh terhadap disebabkan oleh nikotin, dan peningkatan tingkat self- management diabetes seseorang. Hal ini berkesesuaian dengan penelitian . ,8%) Yulianti & Astari . penurunan pasokan oksigen pada retina (Cai et al. , 2. kemampuan self- management yang terbatas Berdasarkan tabel. 1 menunjukan bahwa lebih dari setengah responden memiliki IMT Berdasarkan normal, yaitu 44 responden . ,3%). IMT bahwa lebih dari setengah responden tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan merokok, yaitu sebanyak 55 responden pasien diabetes melitus tipe 2 . ,3%). Sedangkan dari 18 reponden Seseorang yang memiliki IMT tinggi . ,8%) sisanya yang merokok secara aktif cenderung memiliki risiko lebih tinggi adalah responden pria. Sehingga dapat terkena diabetes melitus tipe 2 karena sel-sel disimpulkan bahwa dari total 32 responden tubuh tidak merespons insulin dengan baik pria, terdapat 18 responden pria . ,2%) sehingga dapat mengakibatkan resistensi adalah perokok aktif dan 14 responden pria insulin dengan meningkatkan produksi asam ,7%) lemak bebas. Penumpukan asam lemak menujukan bahwa responden pria yang bebas di jaringan tubuh dapat memicu merokok secara aktif lebih tinggi dari pada resistensi insulin, terutama di hati dan otot. responden pria yang tidak merokok. Mekanisme ini terjadi karena asam lemak Angka Asap rokok diakui sebagai pendorong (Pardede, kenaikan glukosa darah karena nikotin dengan reseptor insulin. Oksidasi asam dalam rokok dapat merangsang aktivitas lemak menyebabkan peningkatan Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 Ko-A di mitokondria dan menghambat manifestasi metabolik yang bersifat negatif peningkatan lemak tubuh pada berbagai metabolik dan disfungsi regulasi glukosa tingkat persentase lemak tubuh dan lingkar (Pardede,2. pinggang (Alharithy et al. , 2. Berdasarkan tabel. 1 menunjukan bahwa Lingkar pinggang memiliki korelasi lebih dari setengah responden memiliki dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 riwayat keluarga dengan diabetes melitus dan berfungsi sebagai penanda adanya tipe 2 sebanyak 38 responden . ,1%). lemak visceral yang terdistribusi di luar area Seseorang yang memiliki riwayat diabetes yang seharusnya melitus dalam keluarganya memiliki risiko Peningkatan lemak visceral ini terkait dengan akumulasi lemak di tempat-tempat daripada individu lain yang tidak memiliki ektopik lainnya, seperti hati (Goodarzi & riwayat diabetes melitus (Utomo et al. Rotter, 2. Peningkatan lemak di hati Temuan serupa menurut (Kral et al. kemudian berkaitan dengan peningkatan (Goodarzi & Rotter, 2. fungsi hati, termasuk pelepasan trigliserida LDL yang sangat tinggi, resistensi insulin diabetes melitus tipe 2 dan riwayat keluarga. hati, serta keterlibatan lemak epikardial dan Hal miokard (Alharithy et al. , 2. Tabel. Sub skala self-management diabetes Sub Skala Skor Rata-Rata Management Glukosa 7,20 Kontrol Diet 5,17 Aktifitas Fisik 5,63 Layanan Kesehatan 6,30 Berdasarkan tabel. 2 menunjukan bahwa (Kral et al. , 2. masing-masing Ketidakseimbangan kalori dari pola makan yang tidak sehat, berkurangnya management glukosa 7,20, kontrol diet 5,17, aktivitas fisik, dan meningkatnya kegiatan aktivitas fisik 5,63 dan layanan kesehatan yang kurang membutuhkan energi dapat 6,30. Dalam penelitian ini, sub skala mengakibatkan peningkatan lemak tubuh, manajemen glukosa memiliki skor yang yang pada akhirnya dapat menyebabkan paling tinggi. Sedangkan sub skala kontrol peningkatan pembentukan jaringan lemak diet memiliki skor terendah dari ke empat dan obesitas (Widiasari et al, 2. self-management total sub skala. Susan Permata Sari. Umi Zulaika. Bernadetta Eka Noviati Gambaran Self-Management Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Swasta di Bantul Obesitas menghasilkan sejumlah besar zat perlu ditingkatkan. Pengetahuan diet mengenai diabetes yang baik dapat membantu pasien dalam menentukan diet yang tepat (ADCES7, gangguan dalam tubuh misanya jantung Diet yang tepat untuk penderita koroner dan strok (Papatheodorou et al. diabetes melibatkan mengonsumsi berbagai makanan yang kaya nutrisi (Silvina Marbun Sehingga et al. , 2. penerapan diet sehat pasien diabetes melitus Tabel. Kemampuan self-management diabetes berdasarkan kategori Kategori Frekuensi Presentase . (%) Baik Cukup Total Berdasarkan Sebaliknya menemukan bahwa lebih dari setengah self-management diabetes memiliki kerugian yang meliputi peningkatan risiko terhadap self-management komplikasi, peningkatan biaya perawatan, sebanyak 39 responden . ,4%). Temuan ini kecacatan bahkan kematian. sejalan dengan penelitian di Puskesmas Upaya Babakan Sari Bandung, dimana mayoritas optimal dan kualitas hidup bagi orang-orang responden, sebanyak 49 responden . %), dengan diabetes dan kondisi kronis, pasien menunjukkan hasil self-management cukup diabetes melitus tipe 2 perlu secara disiplin (Ningrum et al. , 2. menerapkan komponen self-care diabetes Self-management yang meliputi healthy coping, healthy eating, perawatan diri secara mandiri oleh pasien diabetes untuk mencapai kesehjateraan- nya. Studi mengatakan bahwa self- management (ADCES7, 2. Kedisiplinan terhadap diabetes yang baik dapat meningkatkan kontrol glikemik, mengurangi komplikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti misalnya efikasi diri, pengetahuan mengenai penyakit diabetes melitus tipe 2, dan latar keseluruhan (Uusitupa & Schwab, 2. belakang pendidikan pasien diabetes. Efikasi diri pada orang yang menderita Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 diabetes melitus tipe 2 memungkinkan mengontrol kesehatannya. seseorang untuk menjalankan perilaku yang mengamati bahwa kebanyakan responden memiliki pengetahuan mengenai kontrol diet perawatan diri, termasuk aspek seperti pola Peneliti juga dan aktivitas fisik yang terbatas. SIMPULAN DAN SARAN obat-obatan, pemantauan glukosa darah secara mandiri dan pengobatan diabetes Berdasarkan hasil dari penelitian ini melitus (Wu et al, 2006, dalam (Yulianti & Astari, 2. Selain itu latar belakang responden penelitian adalah kelompok usia lansia . ,6%), berjenis kelamin perempuan diabetes melitus tipe 2, terbukti memiliki . ,2%), berpendidikan SMP/SMA . 8%), hubungan yang signifikan secara statistik tidak merokok . 3%), memiliki indek dengan pengendalian diri diabetes (Arindari et al. , 2. Hal tersebut sejalan dengan riwayat keluarga diabetes melitus tipe 2 penelitian ini yang menunjukan bahwa . ,1%), self-management pasien diabetes melitus tipe 2 di poli penyakit dalam RS self-management diabetes dalam rentang swasta di Bantul yaitu dalam kategori baik Hasil self-management diabetes pada . ,6%), dan cukup baik . ,4%) dengan penelitian ini dapat dipengaruhi oleh berapa rata-rata skor sub skala manajemen glukosa faktor misalnya efikasi diri, dukungan 7,20, kontrol diet 5,17, aktivitas fisik 5,63, keluarga dan pengetahuan serta pendidikan. layanan kesehatan 6,30. Hampir . 3%), Disarankan diperlukan penelitian lebih bahwa mereka melakukan kontrol rutin lanjut untuk mengeksplorasi lebih rinci faktor-faktor self-management pada penderita diabetes, semangat dan efikasi diri yang baik. Faktor dan pentingnya manajemen waktu yang efektif pada saat melakukan penelitian. self-management diabetes adalah dukungan DAFTAR PUSTAKA