E-ISSN : 2715-6036 P-ISSN : 2716-0483 DOI : 10. Vol. 5 No. Juni 2023, 28 - 33 SURVEY PEMBERIAN ASI DI FALISITAS PELAYANAN KESEHATAN DI WILAYAH KABUPATEN BANYUMAS SURVEY OF BREAST MILK IN HEALTH SERVICE FACILITIES IN THE REGION OF BANYUMAS REGENCY Arlyana Hikmanti*. Fauziah Hanum Nur Adriani2. Surtiningsih3 1,2,3 Prodi Kebidanan Program Diploma. Fakultas Kesehatan. Universitas Harapan Bangsa *Korespondensi Penulis : arlyanahikmanti@uhb. Abstrak Penyelenggara pelayanan kesehatan melindungi, mempromosikan dan mendukung pemberian ASI. Maraknya pemasaran dan promosi pengganti ASI menjadi salah satu faktor menurunnya cakupan ASI eksklusif. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk survey pemberian ASI di fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilakukan pada ibu yang memiliki bayi 7-12 bulan di Kabupaten Banyumas sejumlah 82 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 47 responden . ,31%) memberikan ASI langsung, 64 orang . ,04%) mendapatkan bantuan ASI, dan 43 orang . ,43%) tidak memberikan susu formula. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar responden melakukan immediate breasfeeding, mendapatkan bantuan menyusui dan tidak melakukan promosi susu formula di pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Banyumas. Kata kunci : Survey. Pemberian ASI. Fasilitas pelayanan kesehatan Abstract Health care providers protect, promote and support breastfeeding. The rise of marketing and promotion of breastmilk substitutes is one of the factors in the decline in the coverage of exclusive This research is a quantitative study with a cross-sectional approach that aims to survey breastfeeding in health care facilities in Banyumas Regency. This research was conducted on 82 mothers who had babies aged 7-12 months in Banyumas Regency. The results showed that 47 respondents . 31%) gave direct breastfeeding, 64 people . 04%) received breastfeeding assistance, and 43 people . 43%) did not give formula milk. The conclusion from this study is that most of the respondents did direct breastfeeding, received breastfeeding assistance and did not promote formula milk at the health office in the Banyumas Regency area. Keywords: Survey. Breastfeeding. Health service facilities Pendahuluan Air Susu Ibu (ASI) bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi, terutama usia dibawah 6 bulan. ASI kaya akan gizi yang lengkap mencegah kekurangan gizi, mencegah bayi kerdil, kegemukan dan penyakit kronis (Kemenkes RI, 2. World Health Organization (WHO) mencatat terdapat 64,7% yang menyusui bayinya secara eksklusif (Handayani et al. , 2. Indonesia cakupan ASI eksklusif tahun 2017 sebanyak 61,33% dari target 44%, tahun 2018 sebanyak 68,74% dari target 47%, dan di Submitted Accepted Website tahun 2019 sebanyak 67,74% dari target 50% Cakupan ASI eksklusif di Jawa Tengah mencapai 82,7% diatas target 58%, sedangkan cakupan ASI eksklusifnya mencapai 67,4%, diatas target program 40% (Kementrian Kesehatan RI, 2. Data tersebut menunjukkan bahwa ibu yang memberikan ASI eksklusif di dunia dan di Indonesia sudah melampaui target dari Renstra. Meskipun demikian, capaian ASI eksklusif masih harus ditingkatkan, karena setiap bayi memiliki hak diberikan ASI secara eksklusif, kecuali kondisi bayi yang tidak memungkinkan untuk menyusu secara langsung. : 7 Juni 2023 : 25 Mei 2023 : jurnal. di | Email : jurnal. pamenang@gmail. Survey Pemberian Asi Di Falisitas Pelayanan Kesehatan . (Arlyana Hikmanti. Dk. Fasilitas Kesehatan merupakan garda depan dalam mendukung pemberian ASI eksklusif. Dukungan yang dapat diberikan oleh penyelenggara pelayanan kesehatan adalah dengan melakukan IMD selama 1 jam dan mendukung pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan. Sanksi administrasi teguran tertulis, dan/atau pencabutan izin diterapkan bagi yang melanggar ketetapan pemerintah tentang ASI eksklusif (Kemenkes RI, 2. Faktor lain yang dapat memengaruhi pemberian ASI yaitu tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, pekerjaan ibu, emosi ibu, dukungan suami, budaya pemasaran susu formula dan informasi yang salah tentang susu formula (Turoso, 2. Pemasaran susu kalengan pengganti ASI di Indonesia sangat gencar dengan cara memengaruhi ibu yang memiliki anak secara langsung atau pada ibu yang akan menyusui (UNICEF. Promosi merupakan hal yang melanggar kode WHO yaitu promosi produk susu tidak langsung ke konsumen baik sejak masa kehamilan sampai menyusui bayinya (AIMI, 2. Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas mencatat cakupan ASI eksklusif tahun 2019 baru 72. 1% dibawah standar Jawa Tengah yaitu 79. Cakupan ASI eksklusif 1% diharapkan cakupan mencapai Hasil prasurvey terdapat responden yang tidak ASI eksklusif kepada bayinya. Pemberian ASI sejak awal yang dimulai dari meningkatkan status gizi bayi terutama pada 1000 hari kehidupannya secara eksklusif. Pemberian ASI yang tidak eksklusif dapat meningkatkan pemberian susu formula pada bayi (Asnidawati & Ramdhan, 2. Berdasarkanlatar belakang tersebut peneliti tertarik melakukan penelitian deengan judul AuSurvey Pemeberian ASI Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Di Wilayah Kabupaten BanyumasAy Kabupaten Banyumas. Sampelnya adalah ibu yang memiliki bayi usia 7 bulan sebanyak 82 Kriteria Inklusi, responden yang melahirkan disarana pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Banyumas, berdomisili di wilayah Kabupaten Banyumas, tidak ada kelainan pada rongga mulut, tidak premature, fisik ibu dalam kondisi baik, tidak ada kendala dalam berkomunikasi dan bersedia menjadi Besar berdasarkan hasil uji hipotesis penelitian lain yaitu uji hipotesis beda dengan kekuatan uji = 80%. (Lemeshow, et. al, 2. Tabel 1. Jumlah sampel berdasarkan hasil penelitian terdahulu No Variabel P1P2 n Sumber 1 Menyusui segera 30 12, 82 Novita. D, 2008 (Immediate , 9 Breastfeedin. Promosi Susu16 - 42 Amiruddin & Formula . Rostia 2006 Teknik dilakukan dengan cara random pada setiap Setiap kelurahan sampel diambil dengan cara proportional random sampling, karena setiap unit dari popolasi dapat dijadikan sampel. Peneliti menggunakan data primer yaitu responden mengisi kuesioner mengenai riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas, sedangkan data sekunder yaitu data cakupan ASI eksklusif. Analisis data analisis univariat yang ditampilkan berupa distribusi. Hasil Hasil penelitian disajikan sebagai Metode Metodi penelitian yang digunakan adalah survey yaitu peneliti melakukan survey pemberian ASI di fasilitas pelayanan kesehatan, dengan pendekatan cross sectional di fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Banyumas pada bulan Agustus 2022-Januari 2023. Populasi pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi di wilayah Survey Pemberian Asi Di Falisitas Pelayanan Kesehatan . (Arlyana Hikmanti. Dk. Tabel 2. Karakteristik responden Karakterisitik Pekerjaan Bekerja IRT Jumlah anak Pendidikan Terakhir SMP/SMA Pendidikan Tinggi Jenis persalinan Normal Total 52,43 47,56 53,65 46,34 45,12 Berdasarkan tabel 2. karakteristik di atas. Sebagian besar responden adalah ibu bekerja yaitu sejumlah 43 . ,43%), jumlah anak sebagian besar merupakan anak pertama 33 . ,2%), pendidikan terakhir ibu adalah sebagian besar SMP/SMA yaitu sejumlah 44 responden . ,65%), dan jenis persalinan sebagian besar adalah SC yaitu sejumlah 45 . ,8%). Tabel 3. Immediate breastfeeding di layanan tempat persalinan di Kabupaten Banyumas Immediate Tidak 57,31 42,68 Berdasarkan tabel 3. Sebagian besar responden melakukan immediate breastfeeding di pelayanan kesehatan yaitu sebesar 47 responden . ,31%). Tabel 4. Bantuan ibu menyusui di layanan tempat persalinan di wilayah Kabupaten Banyumas Bantuan menyusui Tidak Total 78,04 21,95 Berdasarkan tabel 4. Sebagian besar menyusui di pelayanan kesehatan sebanyak 64 responden . ,04%). Tabel 5. Pemberian susu formula di layanan tempat persalinan di Kabupaten Banyumas Bayi mendapatkan Tidak Total 47,56 52,43 Berdasarkan tabel 5. sebagian besar ibu yang memiliki bayi tidak mendapatkan mendapatkan susu formula yaitu sebanyak 43 responden . ,43%). Pembahasan Dari hasil penelitian ini didapatkan pekerjaan ibu mayoritas ibu bekerja dengan presentase 52,43%. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian (Okawary. O, 2. bahwa ibu yang bekerja selain dapat peranannya menjadi seorang ibu. Meskipun kegagalan pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja yang sangat mungkin ibu maksimalkan pemberikan ASI Sedangkan pada ibu yang bekerja kontak dengan bayinya untuk menyusui kurang dibanding dengan ibu yang tidak mempengaruhi perananya sebagai ibu Dari hasil penelitian ini didapatkan Sebagian besar responden memiliki anak 1 atau primipara sejumlah 36 . ,2%). Hal ini didukung oleh penelitian (Sari et al. , 2. bahwa primipara memiliki pengalaman dan pengetahuan yang kurang dalam merawat peranannya dalam menyusui ibu primipara memerlukan dukungan dari keluarga dan tenaga kesehatan agar dapat beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu. Survey Pemberian Asi Di Falisitas Pelayanan Kesehatan . (Arlyana Hikmanti. Dk. Sementara itu, ibu dengan paritas multipara cenderung berpengalaman dalam merawat dan mengasuh anaknya sudah memiliki pengalaman mengasuh anak mulai dari menyusui, memandikan bayi, mengganti popok, menyusui, pengendalian diri saat mengalami stres dengan kondisinya. Dari hasil penelitian juga didapatkan Sebagian besar tingkat pendidikan repsonden adalah SMP/SMA sejumlah 53,65%. Tingkat pendidikan akan memengaruhi pemikiran, pemahaman dan pengetahuan ibu dalam memahami perannya. Hal ini pengetahuan ibu yang baik dalam merawat anaknya akan memaksimalkan peranannya sebagai seorang ibu dalam merawat diri, bayinya dan meminimalkan melimpahkan peranan pengasuhan anaknya kepada orang tua ataupun pengasuhnya (Noflidaputri. Dari hasil penelitian juga didapatkan Sebagian besar responden yang tidak menyusui bayinya adalah ibu yang bersalin dengan SC sejumlah 54,8%. Persalinan dengan SC dimungkinkan karena adanya komplikasi atau indikasi medis yang memerlukan tindakan, dan pasca oprasi ibu akan mengalami pemulihan yang berbedabeda. Hal ini sejalan dengan penelitian bahwa tindakan dan perawatan medis yang dilakukan dalam proses persalinan akan berdampak pada psikologis pada ibu, sehingga akan mempengaruhi peranannya sebagai ibu setelah melahirkan (Wulandari & Dewanti, 2. Hal ini juga didukung hasil penelitian (Warsini et al. , 2. bahwa tipe persalinan ibu berhubungan dengan aktifitas fungsional ibu, dimana ibu dengan persalinan caesarea memiliki trauma pada abdomennya yaitu luka SC sehingga waktu yang diperlukan untuk proses pemulihan agar bisa berkativitas kembali akan lebih lama dibanding dengan ibu yang melalui persalinan Berdasarkan tabel 3. Menunjukkan bahwa sebagian besar pasien di pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Banyumas melakukan immediate breastfeeding. Hal tersebut sesuai dengan peraturan pemerintah bahwa IMD selama 1 jam dan pendidikan kesehatan tentang ASI eksklusif wajib diberikan oleh tenaga Kesehatan dan penyelenggara pelayanan kesehatan sampai minimal 6 bulan (Kemenkes RI, 2. Immediate breastfeeding memiliki banyak manfaat yaitu mengurangi rasa sakit saat persalinan, dan meningkatkan produksi ASI, dan meningkatkan produksi ASI setelah keluar dari rumah sakit (Li et al. , 2. Terdapat responden yang tidak melakukan Immediate breastfeeding, hal ini membutuhkan persalinan di rumah sakit dengan SC. Hal ini dapat menunjukkan bahwa sebagian responden dimungkinkan melakukan SC karena adanya komplikasi seperti bayi letak sungsang, hipertensi karena kehamilan, kala 1 memanjang, dan pre eklampsi. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan American College of Obstetricians and Gynecologists . , bahwa persalinan dengan SC tidak dianjurkan sebelum usia kehamilan 39 minggu kecuali ada indikasi medis ibu ataupun bayinya, dan komplikasi tersebut dapat mengganggu proses ibu dalam menyusui bayinya (Syukur & Purwanti. Inisiasi menyusu dini (IMD) yaitu menempatkan kepala bayi diantara payudara ibu, punggung bayi ditutupi dengan selimut dan kepala bayi ditutupi dengan topi mencegah kehilangan panas. IMD membantu memperlancar proses menyusui selanjutnya pada persalinan normal ataupun SC, namun jumlah IMD pada persalinan normal dibanding dengan SC lebih banyak dengan minimal waktu IMD selama 30 menit (Juan et , 2. Berdasarkan tabel 4. Menunjukkan bahwa sebagian besar responden mendapatkan bantuan menyusui dari tenaga kesehatan. Bantuan menyusui yang diberikan sebagain besar diberikan pada ibu yang primipara, dimana ibu dengan primipara belum memiliki informasi yang cukup tentang menyusui. Hal ini sesuai tujuan dari pendampingan atau bantuan ibu menyusui yaitu memberikan informasi tentang ASI dan praktek pemberian ASI agar ibu memiliki pengetahuan, kemampuan dalam menyusui, dan sikap positif ibu dalam menyusui, sedangkan pada ibu multipara pada saat diklinik/ rumah sakit/ puskesmas tidak mengalami penurunan pengetahuan, sikap dan perilaku, dalam pemberian ASI dan mencegah promosi susu (Widiastuti & Widiantari, 2. Disisi lain ibu yang tidak mendapatkan bantuan ibu kurangnya pengetahuan dan miskomunikasi tentang kondisi ibu dan bayi sehingga Survey Pemberian Asi Di Falisitas Pelayanan Kesehatan . (Arlyana Hikmanti. Dk. berdampak berhentinya menyusui dan penggunaan susu pengganti ASI. Oleh karena itu bantuan dari tenaga Kesehatan sangat diperlukan untuk penggunaan susu formula yang tepat dan memberikan dukungan psikologisnya (Lubbe et al. , 2. Berdasarkan tabel 5. menunjukkan bahwa di tempat bersalin sebagian besar tidak dikarenakan kondisi ibu dapat melakukan kontak dengan bayinya untuk menyusui, sedangkan ibu yang bayinya mendapatkan susu formula disebabkan karena kondisi bayi dan ibu yang mengalami komplikasi seperti bayi mengalami hipoglikemi, dan bayi BBLR. Hal ini sejalan dengan WHO bahwa dalam situasi tertentu penggunaan susu formula dibutuhkan pada awal kelahirannya sebagai suplemen yang dibutuhkan (WHO, 2. Untuk dosis pemberian susu formula tidak diinformasikan oleh dokter, dan responden mengatakan untuk susunya ada yang disediakan oleh rumah sakit ada yang membeli sendiri berdasarkan informasi di Hasil menunjukkan bahwa secara global pemasaran dari empat produsen susu formula, mengeluaran biaya untuk periklanana di televisi meningkat 33. 3% dari penjualan tahunan, sehingga dengan peningkatan tersebut dapat mempengaruhi persepsi masyarakat tentang penggunaan susu formula (Rollins et al. , 2. Kesimpulan Sebagian besar responden melakukan bantuan menyusui, dan tidak mendapatkan promosi susu formula di pelayanan kesehatan tempat responden bersalin. Ucapan Terima Kasih Terima Rektor Universitas Harapan Bangsa atas hibah dana penelitian ini. Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, dan kepada ibu-ibu responden. Daftar Pustaka