Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 11. November 2025 ISSN: 27342488 PEMBELAJARAN SENI TARI SEBAGAI SARANA UNTUK MENAMBAH PENGETAHUAN TENTANG NILAI-NILAI BUDAYA PADA PESERTA DIDIK KELAS X SMAN 3 KUPANG Febriana Dos Santos De Amorlay Email: amoralayfebriana@gmail. Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pembelajaran seni tari dapat menjadi sarana untuk menambah pengetahuan peserta didik mengenai nilai-nilai budaya, khususnya bagi siswa kelas X SMAN 3 Kupang. Seni tari bukan hanya ekspresi estetika, tetapi juga media pewarisan nilai budaya seperti kerja sama, disiplin, toleransi, serta identitas sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melalui dua siklus pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran seni tari mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap nilai budaya yang terkandung dalam gerak, musik, dan simbol tari tradisional. Siswa menunjukkan peningkatan motivasi belajar, minat terhadap seni daerah, kemampuan refleksi makna tari, serta sikap menghargai budaya. Dengan demikian, pembelajaran seni tari dapat dijadikan alternatif pembelajaran berbasis karakter untuk memperkuat pemahaman budaya pada peserta didik. Kata Kunci: Seni Tari. Nilai-Nilai Budaya. Pembelajaran. Peserta Didik. ABSTRACT This study aims to describe how dance learning can serve as a medium to improve studentsAo understanding of cultural values, particularly among tenth-grade students at SMAN 3 Kupang. Dance is not only an artistic expression but also a medium for transmitting cultural wisdom such as cooperation, discipline, tolerance, and social identity. This research applied a qualitative approach using Classroom Action Research (CAR) conducted through two learning cycles. The findings indicate that dance learning effectively improves cultural understanding as students demonstrated increased motivation, awareness, and appreciation toward traditional dance forms. Students also showed the ability to interpret symbolic meanings within traditional dance movements. Therefore, dance learning is recommended as a characterAebased learning model to strengthen cultural identity in education. Keywords. Dance Education. Cultural Values. CharacterAeBased Learning. Students. PENDAHULUAN Seni tari merupakan bagian penting dalam kebudayaan sebagai bentuk ekspresi estetika yang menyampaikan pesan melalui gerak tubuh yang ritmis. Dalam dunia pendidikan, seni tari berperan sebagai sarana pembentukan karakter, kreativitas, dan pemahaman nilai budaya. Tari tradisional mengandung filosofi kehidupan, struktur sosial, simbol, dan identitas suatu kelompok masyarakat (Soedarsono, 2. Pembelajaran seni tari tidak hanya melatih kemampuan motorik dan estetika, tetapi juga menumbuhkan kesadaran budaya peserta didik. Pembelajaran seni budaya pada jenjang SMA tahun 2025 mengacu pada Kurikulum Nasional 2025 yang menekankan pada pendidikan berbasis karakter, budaya, kemampuan berpikir kreatif, serta pembelajaran kontekstual berbasis pengalaman. Kurikulum ini memberi ruang bagi pembelajaran yang kontekstual, reflektif, dan berbasis pengalaman langsung . xperimen learnin. , termasuk dalam pembelajaran seni tari. Melalui kurikulum ini siswa diharapkan tidak hanya menguasai materi akademik, tetapi juga memahami identitas diri, budaya nasiaonal, dan peran dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya. Namun dalam kenyataan, perkembangan budaya modern dan globalisasi menunjukkan bahwa minat peserta didik terhadapa tari tradisional semakin menurun akibat pengaruh globalisasi dan modernisasi. Budaya seperti K-pop dance. TikTok dance, dan genre tari modern lainnya lebih dikenal dan diminati, sehingga tari tradisional perlahan mulai Kondisi ini juga ditemukan pada peserta didik kelas X SMAN 3 Kupang, dimana sebagian besar siswa memiliki pengetahuan terbatas tentang tari-tarian daerah yang merupakan bagian dari identitas lokal mereka. Melihat kondisi tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang menarik, kontekstual, dan berbasis nilai budaya agar pesert didik kembali mengenal, memahami, dan menghargai seni tari tradisional sebagai warisan budaya. Pembelajaran tari yang tepat dilakukan siswa mengembangkan apresiasi budaya, meningkatkan kepedulian terhadap jati diri bangsa, serta menumbuhkan rasa bangga sebagai budaya lokal dan nasional. Rumusan Masalah Bagaimana proses pembelajaran seni tari dapat meningkatkan pemahaman nilai budaya pada peserta didik kelas X SMAN 3 Kupang? Bagaimana respon peserta didik setelah mengikuti pembelajaran seni tari berbasis nilai Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pelaksanaan pembelajaran seni tari di Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: Mendeskripsikan proses pembelajaran seni tari sebagai media penambahan pengetahuan Menganalisis perubahan sikap dan pemahaman peserta didik terhadap nilai budaya melalui tari. Mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatan pembelajaran seni tari di kelas X SMAN 3 Kupang. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan ini dipilih untuk memperbaiki proses pembelajaran melalui tahapan reflektif dan sistematis (Kemmis & McTaggart, 1. Subjek dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMAN 3 Kupang semester ganjil tahun ajaran 2025/2026, dengan subjek penelitian 38 peserta didik kelas X. Prosedur Penelitian Pelaksanaan PTK dilakukan dalam dua siklus dengan langkah: Tahap Perencanaan (Plannin. Pada tahap ini, peneliti menentukan tujuan pembelajaran, memilih materi tari tradisional serta menyiapkan perangkat pembelajaran seperti RPP, media audiovisual, materi tertulis mengenai tari, instrumen observasi, lembar evaluasi, dan pedoman wawancara. Selain itu, dilakukan juga identifikasi awal terhadap minat, pengetahuan, dan pemahaman siswa mengenai seni tari tradisional. Tahapan ini bertujuan untuk memastikan bahwa proses pembelajaran nantinya berjalan terarah dan sesuai kebutuhan siswa. Tahap Pelaksanaan (Actio. Pada tahap ini, guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai rencana tindakan. A Pada siklus I, pembelajaran difokuskan pada pengenalan tari tradisional serta teknik gerak dasar melalui metode ceramah ringan, demonstrasi guru, dan pemutaran video A Sedangkan pada siklus II, pembelajaran dikembangkan ke arah pembelajaran kolaboratif melalui latihan kelompok, diskusi makna simbolik tari, eksplorasi gerakan, hingga penampilan kelompok. Pada siklus ini guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing peserta didik untuk menghubungkan aspek gerak tari dengan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Tahap Observasi (Observatio. Tahap observasi dilakukan secara bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Peneliti mencatat perubahan motivasi, sikap, partisipasi, keberanian tampil, serta pemahaman siswa terhadap makna budaya dalam seni tari. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, catatan lapangan, dokumentasi foto dan video, serta analisis portofolio dan unjuk kerja siswa. Data yang diperoleh dari siklus I dan II kemudian dibandingkan untuk melihat perkembangan kualitas pembelajaran. Tahap Refleksi (Reflectio. Pada tahap ini peneliti menganalisis kelebihan, kekurangan, serta kendala yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung. Refleksi dilakukan untuk mengevaluasi hasil observasi dan menentukan strategi perbaikan pembelajaran pada siklus selanjutnya. Melalui refleksi pada siklus I, peneliti menyadari bahwa banyak siswa masih kurang percaya diri dan belum memahami nilai budaya dalam tari, sehingga pada siklus II diterapkan pendekatan pembelajaran yang lebih kolaboratif, menyenangkan, dan berbasis pengalaman langsung. Hasil refleksi menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman budaya dan antusiasme siswa terhadap seni tari. Teknik Pengumpulan Data Teknik Observasi Wawancara Dokumentasi Penilaian Karya Data yang Dikumpulkan Sikap, minat, partisipasi Persepsi dan pengalaman belajar siswa Foto, video, catatan lapangan Pemahaman nilai budaya dalam tari Instrumen Lembar observasi Pedoman wawancara Kamera dan jurnal Rubrik penilaian Teknik Analisis Data Analisis data menggunakan model Miles & Huberman . Reduksi Data Data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi diseleksi, dikategorikan, dan diringkas sesuai fokus penelitian, seperti pemahaman nilai budaya, sikap siswa, serta partisipasi dalam pembelajaran seni tari. Tujuan tahap ini adalah menyederhanakan data agar lebih mudah dianalisis. Penyajian Data (Data Displa. Data yang telah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk tabel, uraian deskriptif, dan catatan temuan penting. Penyajian ini membantu peneliti melihat pola perubahan, membandingkan hasil antar siklus, serta menganalisis perkembangan siswa selama proses Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi Tahap terakhir adalah menarik kesimpulan berdasarkan pola dan temuan data. Kesimpulan diverifikasi melalui triangulasi data . bservasi, wawancara, dokumentas. untuk memastikan keakuratan dan validitas hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Pembelajaran Seni Tari Pada siklus I, peserta didik diperkenalkan jenis-jenis tari tradisional dan mempelajari gerak dasar melalui demonstrasi dan media audiovisual. Respon siswa masih pasif dan beberapa merasa malu. Pada siklus II, pendekatan pembelajaran diubah menjadi lebih kolaboratif. Peserta didik dibagi dalam kelompok dan melakukan eksplorasi gerak Tari Sanam. Guru menambahkan sesi refleksi budaya, diskusi makna simbolik, dan latihan penampilan. Hasilnya, peserta didik menunjukkan antusiasme, keberanian, kreativitas, dan partisipasi yang lebih tinggi. Peningkatan Pemahaman Nilai Budaya Aspek Pengetahuan budaya Kerja sama Keberhasilan tampil Pemahaman makna Siklus I Sedang Rendah Siklus II Sangat baik Baik Baik Perubahan Sikap Peserta Didik Siswa: A Rasa bangga terhadap budaya local A Keterampilan kerja sama dalam kelompok A Keberanian tampil di depan kelas A Kemampuan mengidentifikasi simbol budaya dalam tarian KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan melalui dua siklus pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran seni tari terbukti efektif sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai nilai-nilai budaya, khususnya bagi peserta didik kelas X SMAN 3 Kupang. Pembelajaran seni tari tidak hanya memberikan pengalaman estetis dan kemampuan motorik, tetapi juga memperkuat nilai-nilai karakter seperti disiplin, kerja sama, rasa percaya diri, dan penghargaan terhadap budaya lokal. Proses pembelajaran yang dilakukan secara bertahap melalui pengenalan teori, eksplorasi gerakan, latihan rutin, diskusi makna, dan penampilan tari telah membantu peserta didik memahami bahwa setiap unsur dalam tari baik gerakan, iringan musik, formasi, maupun property memiliki makna simbolik yang mencerminkan identitas masyarakat. Hal ini terbukti melalui peningkatan skor pengetahuan budaya, perubahan sikap positif terhadap seni tari tradisional, serta kemampuan mereka dalam menjelaskan makna tari yang dipelajari. Selain itu, pengalaman belajar berbasis praktik dan refleksi budaya memberikan dampak emosional yang mendalam bagi siswa. Mereka mulai melihat tarian bukan hanya sebagai hiburan atau aktivitas gerak semata, tetapi sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan. Perubahan ini terlihat pada meningkatnya rasa bangga terhadap budaya daerah, keberanian tampil, dan keterlibatan aktif dalam diskusi maupun latihan kelompok. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran seni tari dapat dijadikan strategi alternatif pembentukan karakter dan penguatan identitas budaya di sekolah. Pembelajaran berbasis budaya seperti ini sangat relevan di era modern, dimana globalisasi dan budaya populer seringkali menggeser perhatian siswa dari seni tradisional. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum, model pembelajaran kreatif, serta dukungan sarana dan kolaborasi dengan seniman lokal sangat diperlukan agar pembelajaran seni tari dapat terus berperan dalam melestarikan budaya bangsa serta membangun generasi yang sadar, peduli, dan bangga terhadap warisan budaya Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Kemmis. , & McTaggart. The Action Research Planner. Deakin University Press. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta. Miles. , & Huberman. Qualitative Data Analysis. Sage Publications. Soedarsono. Seni Pertunjukan Indonesia. Pustaka Jaya.