Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman https://ejournal. uit-lirboyo. id/index. php/intelektual Volume 16 . , 2026, 23-44 DOI: 10. 33367/ji. Available Online: 2026-04-20 E-ISSN: 2685-4155 Persepsi Guru Pendidikan Agama Islam tentang Praktik Moderasi Beragama di Sekolah Menengah Pertama Hayatunnisa Hayatunnisa,1* Wawan Hermawan,2 Mohammad Rindu Fajar Islamy,3 1,2,3 Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Indonesia hayatunnisa01@gmail. com, 2wawan. hermawan@upi. edu, 3fajarislam2000@upi. Received: 2026-01-23 *) Corresponding Author Copyright A2026 Authors Revised: 2026-03-10 Approved: 2026-03-21 Abstract Islamic Religious Education (IRE) teachers play an important role in shaping the values of religious moderation. However, teachers' perceptions of religious moderation are not always uniform, which affects how these values are understood and implemented. This study aims to analyze the perception of IRE teachers in Junior High Schools (JHS) regarding religious moderation. This research employs a qualitative, phenomenological approach. Data was collected through interviews with twelve IRE teachers from public, private, and Islamic boarding schools. Data analysis used the Miles and Huberman interactive model. The results of the study show that there is diversity in teachers' perceptions of religious moderation. Some scholars interpret it as tolerance focused on respecting differences in beliefs, while others associate it with the concepts of wasathiyah and rahmatan lil'alamin, which emphasize balance and inclusiveness. This diversity is influenced by educational backgrounds, participation in formal training, and involvement in interfaith communities, as reflected in the different ways teachers explain the concept of religious moderation and integrate it into learning. Then, based on the teacher's observations, at the junior high school level, there was no indication of radical thinking in students, so learning was more directed as a preventive effort in schools. This study emphasizes that teachers' conceptual understanding plays an important role in shaping the practice of religious moderation in school learning. Keywords: Diversity Values. Multicultural Education. Teacher Understanding. Abstrak Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam mentransformasikan nilai-nilai moderasi beragama. Namun, persepsi guru mengenai moderasi beragama tidak selalu seragam, sehingga memengaruhi nilai-nilai tersebut dipahami dan diimplementasikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi guru PAI di Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengenai moderasi beragama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap dua belas guru PAI yang berasal dari sekolah negeri, swasta, dan pesantren. Analisis data menggunakan model interaktif Miles and Huberman. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman persepsi guru dalam memahami moderasi beragama. Sebagian guru memaknainya sebagai toleransi yang berfokus pada menghargai perbedaan keyakinan, sementara yang lain mengaitkannya dengan konsep wasathiyah dan rahmatan lilAoalamin yang menekankan keseimbangan dan sikap inklusif. Keragaman tersebut dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, keikutsertaan dalam pelatihan formal, dan keterlibatan dalam komunitas This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. Hayatunnisa Hayatunnisa dkk. lintas agama, yang terlihat dari perbedaan cara guru menjelaskan konsep moderasi beragama dan mengintegrasikannya dalam pembelajaran. Kemudian, berdasarkan pengamatan guru, pada jenjang SMP tidak ditemukan adanya indikasi pemikiran radikal pada siswa, sehingga pembelajaran lebih mengarah sebagai upaya preventif di Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman konseptual guru memiliki peran penting dalam menentukan praktik moderasi beragama dalam pembelajaran di Kata Kunci: Nilai Keberagaman. Pemahaman Guru. Pendidikan Multikultural. Pendahuluan Moderasi beragama merupakan salah satu konsep penting yang sampai saat ini mendapat perhatian luas di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia yang Keanekaragaman tersebut tidak hanya berkaitan pada aspek spiritual, tetapi juga berimplikasi langsung pada terciptanya harmoni sosial. Dalam konteks dinamika sosial yang semakin kompleks, moderasi beragama menjadi elemen kunci dalam mendorong terbentuknya sikap keberagamaan yang seimbang agar terhindar dari sikap ekstrem, fanatisme sempit, dan tindakan radikalisme. 1 Di Indonesia moderasi beragama bahkan telah ditetapkan sebagai agenda nasional sejak tahun 2019. Dalam ranah pendidikan di Indonesia, khususnya pada bidang Pendidikan Agama Islam (PAI), moderasi beragama menempati posisi yang krusial karena sekolah merupakan ruang strategis dalam membentuk cara pandang dan sikap keagamaan 3 Isu moderasi beragama menjadi semakin relevan untuk dikaji pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), mengingat pada jenjang ini siswa berada pada fase transisi dari anak-anak menuju remaja yang ditandai dengan kondisi emosional yang masih belum stabil serta berada pada fase pencarian jati diri. 4 Pada fase ini, pembelajaran agama memiliki potensi besar dalam membentuk pola pikir keberagamaan siswa, baik ke arah yang moderat maupun sebaliknya, sehingga penguatan nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran PAI menjadi isu yang penting. Berkaitan Khalil Nurul Islam. AuModerasi Beragama Di Tengah Pluralitas Bangsa: Tinjauan Revolusi Mental Perspektif Al-QurAoan,Ay KURIOSITAS: Media Komunikasi Sosial Dan Keagamaan 13, no. https://doi. org/10. 35905/kur. RI Kementerian Agama. Moderasi Beragama. Ketiga (Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2. Rahmad Mulyadi et al. AuPendidikan Agama Islam Sebagai Sarana Membentuk Identitas Keagamaan Dalam Masyarakat Multikultural,Ay Khazanah: Journal of Islamic Studies 2, no. : 90Ae99, https://doi. org/10. 51178/khazanah. Ikhwan et al. AuPeran Pendidikan Agama Islam Dalam Memperkuat Moderasi Beragama Di Indonesia,Ay Realita: Jurnal Penelitian Dan Kebudayaan Islam 21, 1 . : 1Ae15, https://doi. org/10. 30762/realita. Jiayu Lin and Wuyuan Guo. AuThe Research on Risk Factors for AdolescentsAo Mental Health,Ay Behavioral Sciences 14, no. : 263, https://doi. org/10. 3390/bs14040263. Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Persepsi Guru Pendidikan Agama Islam dengan hal tersebut, guru PAI memegang peran sentral sebagai aktor utama yang mentransformasikan nilai-nilai moderasi beragama kepada siswa. Namun demikian, pemahaman setiap guru bisa berbeda-beda tergantung bagaimana informasi didapatkan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi proses pembelajaran. Secara ideal, pembelajaran PAI di tingkat SMP tidak hanya berorientasi pada penguasaan aspek kognitif keagamaan, tetapi juga pada pembentukan sikap keberagamaan yang moderat, inklusif, dan toleran. Guru PAI diharapkan telah memiliki pemahaman yang mendalam terkait moderasi beragama, serta mampu merancang dan mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran agar sesuai dengan tahapan anak, sehingga dapat terbentuk nilai-nilai Islam yang kaffah, baik dari segi akhlak sosial, daya pikir kritis, maupun kreativitas. 5 Namun, dalam praktiknya, implementasi nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran PAI tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pemahaman guru PAI terhadap konsep moderasi beragama masih belum sepenuhnya terintegrasi secara komprehensif dalam praktik pembelajaran. Selain itu, keterbatasan kompetensi pedagogis yang berorientasi pada penguatan nilai moderasi, minimnya materi ajar yang kontekstual, serta pengaruh latar belakang sosial-keagamaan guru turut memengaruhi cara moderasi beragama dipahami dan diajarkan di sekolah. 6 Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara peran ideal guru PAI dalam mengimplementasikan moderasi beragama dengan realitas praktik pembelajaran di sekolah, sehingga berdampak pada belum optimalnya peran guru PAI dalam membangun ketahanan siswa terhadap pengaruh luar. Berbagai penelitian berkaitan dengan moderasi beragama di lingkungan sekolah telah menggarisbawahi peran strategis guru PAI dalam proses internalisasi nilai-nilai moderasi beragama. Beberapa hasil penelitian menekankan peran guru PAI sebagai panutan dan inovator dalam pembelajaran yang inklusif. 7 Sementara Harmi menyoroti Muchlis Muchlis. AuPembelajaran Materi Pendidikan Agama Islam (Pa. Berwawasan Moderat,Ay Profetika: Jurnal Studi Islam 21, no. : 11Ae20, https://doi. org/10. 23917/profetika. Fatkhiyatul Amanah and Sarjuni Sarjuni. AuRespon Guru PAI Terhadap Gagasan Moderasi Beragama Di Sekolah,Ay Al-Fikri: Jurnal Studi Dan Penelitian Pendidikan Islam 6, no. : 60Ae67, https://doi. org/10. 30659/jspi. Ahmad Hariandi et al. AuThe Role of Islamic Religious Education Teacher in Instructing Religious Value,Ay Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan . 481Ae91, https://doi. org/10. 35445/alishlah. Yuli Fatimah Warosari et al. AuThe Impact of Teacher Competence on Inclusive Education: Moderating Role of Islamic Religious Education Understanding,Ay TaAodib 28, no. : 121Ae36, https://doi. org/10. 31958/jt. Asmawati Suhid et al. AuChallenges and Readiness of Islamic Education Teachers in Innovative Teaching and Learning,Ay Jurnal Ilmiah Peuradeun 9, no. : 293Ae308, https://doi. org/10. 26811/peuradeun. Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Hayatunnisa Hayatunnisa dkk. pentingnya pembelajaran berbasis humanisme yang dirancang secara sistematis. Moderasi beragama dapat dilakukan melalui kurikulum tersembunyi berbasis pembiasaan,9 program tutorial keagamaan dan keteladanan. 10 Meskipun penelitian tentang moderasi beragama dalam konteks pendidikan telah banyak dilakukan, namun hal tersebut kerap kali hanya membahas secara normatif berdasarkan kebijakan dan hanya menitikberatkan pada peran guru, model, dan strategi pembelajaran secara Sementara kajian yang secara khusus menelaah persepsi guru PAI di jenjang SMP masih relatif terbatas. Pemahaman dan persepsi guru PAI terhadap konsep moderasi beragama menjadi faktor penting dalam menentukan arah dan kualitas dalam pembelajaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap konsep moderasi beragama menjadi aspek yang penting untuk dikaji, karena persepsi memengaruhi bagaimana nilai-nilai moderasi beragama diinternalisasikan dalam praktik pembelajaran PAI di sekolah. Tanpa pemahaman yang memadai mengenai persepsi guru, upaya penguatan moderasi beragama dalam pembelajaran berpotensi hanya bersifat normatif dan kurang efektif dalam membentuk sikap keberagamaan yang moderat pada siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis persepsi guru PAI di SMP terhadap konsep moderasi beragama. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi. Pendekatan ini bertujuan untuk mengetahui makna dari suatu fenomena. 11 Pendekatan ini digunakan untuk memahami dan menafsirkan pemahaman guru Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap konteks moderasi beragama serta praktik implementasinya di sekolah berdasarkan pengalaman mereka. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam kepada dua belas guru PAI tingkat SMP yang terdiri dari tiga kategori sekolah, yaitu sekolah negeri, swasta, dan berbasis pesantren yang berada di Hendra Harmi. AuModel Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Moderasi Beragama,Ay JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesi. 7, no. : 228, https://doi. org/10. 29210/30031757000. Aminatuz Zahroh. AuPenerapan Moderasi Beragama Melalui Kurikulum Pendidikan,Ay Bidayatuna Jurnal Pendidikan Guru Mandrasah Ibtidaiyah . 230Ae43, https://doi. org/10. 54471/bidayatuna. Ega Nasrudin et al. AuPenguatan Moderasi Beragama Mahasiswa Melalui Kegiatan Tutorial Keagamaan Di Perguruan Tinggi Umum,Ay Jurnal SMART (Studi Masyarakat. Religi. Dan Tradis. 10, no. 155Ae70, https://doi. org/10. 18784/smart. Abd Hadi et al. Penelitian Kualitatif Studi Fenomenologi. Case Study. Grounded Theory. Etnografi. Biografi, pertama (Pena Persada, 2. Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Persepsi Guru Pendidikan Agama Islam Kota Bandung. Analisis data dilakukan dengan mengacu pada model analisis Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dalam mengidentifikasi, mengelompokkan, dan menafsirkan tema-tema utama yang muncul dari data hasil wawancara, sehingga diperoleh gambaran yang utuh mengenai pemahaman, faktor yang memengaruhi persepsi, serta praktik moderasi beragama di Hasil dan Pembahasan Hasil Pemahaman Guru PAI terhadap Moderasi beragama Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman guru PAI tingkat SMP tentang moderasi beragama bervariasi, mulai dari pemahaman yang bersifat sederhana hingga pemahaman yang lebih kompleks. Pada tingkat pemahaman yang sederhana, moderasi beragama dipahami sebagai bentuk toleransi terhadap perbedaan, terutama dalam kehidupan di sekolah. Pemahaman ini terlihat dari penekanan guru pada pentingnya menghargai perbedaan keyakinan dan menghindari sikap saling menyalahkan dalam praktik keagamaan di lingkungan sekolah. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh GN-06. AuModerasi beragama kalau zaman dulu itu toleransiAy. 13 Sementara itu, pada tingkat pemahaman yang lebih mendalam, moderasi beragama dipahami sebagai konsep wasathiyah, yang merujuk pada istilah ummatan wasathan seperti yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 143. Sebagaimana yang disampaikan oleh GS-01 AuModerasi beragama sebenarnya kalau bahasa di buku PAI wasathiyah atau ummatan wasathan yaitu umat yang mengambil jalan tengah dalam arti adil, adil dalam beragama, bernegara, dan hubungannya antara duniawi dan akhiratAy. 14 Pemahaman tersebut menekankan prinsip keadilan dan keseimbangan dalam berbagai aspek Selain itu, terdapat guru yang memaknai moderasi beragama sebagai perwujudan nilai rahmatan lil alamin. Hal ini diungkapkan oleh GB-01 yang menyatakan AuModerasi beragama adalah perilaku beragama yang tidak berlebihan, netral, dan tidak ekstremis kepada semua makhluk termasuk tumbuhan dikarenakan Matthew B. Miles et al. Qualitative Data Analysis A Methods Sourcebook. Ketiga (Sage Publications. Wawancara dengan GN-06 Wawancara dengan GS-01 Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Hayatunnisa Hayatunnisa dkk. Islam adalah agama yang rahmatan lil alaminAy. 15 Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa moderasi beragama dipandang sebagai manifestasi nilai rahmatan lil Aoalamin yang menekankan sikap tidak berlebihan serta membawa kebaikan bagi seluruh Menariknya, salah satu informan menunjukkan pemahaman yang lebih kritis dengan mengaitkan moderasi beragama dengan latar historis kemunculan konsep Hal ini seperti yang diungkapkan oleh GN-04 bahwa: AuModerasi beragama menurut beberapa literatur berasal dari Barat karena penyebaran Islam di Eropa dan Amerika yang membuat pemerintah khawatir Islam tidak mau berbaur. Konsep Islam moderat dibentuk untuk AumengkerdilkanAy Islam agar sesuai dengan gaya hidup Barat, sehingga pandangan yang tidak selaras dianggap radikalAy. Pemahaman ini menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak hanya dipahami sebagai konsep normatif dalam ajaran Islam, tetapi juga dipandang melalui perspektif historis tentang konteks kemunculannya. Adanya variasi pemahaman mengindikasikan bahwa terdapat faktor-faktor yang memengaruhi cara guru PAI dalam memaknai moderasi beragama. Faktor yang Memengaruhi Pemahaman Guru PAI Gambar 1. Faktor-faktor yang Memengaruhi Pemahaman Gambar 1 menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan, keikutsertaan dalam pelatihan formal, dan keterlibatan dalam komunitas lintas agama menjadi faktor yang saling terkait dalam memengaruhi pemahaman guru PAI terhadap moderasi beragama. Beberapa informan, menyebutkan bahwa mereka mengenal konsep moderasi beragama pada masa perkuliahan, terutama pada studi S2 dan PPG, yang menyediakan ruang diskusi akademik dan refleksi nilai. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh GB01 bahwa. AuPada saat S2 saya pernah mengikuti workshop dan membuat beberapa Wawancara dengan GB-01 Wawancara dengan GN-04 Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Persepsi Guru Pendidikan Agama Islam artikel tentang moderasi beragamaAy. 17 Selain itu. GS-02 juga menyampaikan bahwa. AuKetika ikut perkuliahan PPG dari Kemenag akan mendapatkan teori dan praktik tentang moderasiAy. Selain itu, keterlibatan dalam organisasi atau komunitas lintas agama juga memengaruhi cara pandang terhadap moderasi beragama. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh GN-04, bahwa AuKebetulan saya mengikuti komunitas lintas agama yang mana didalamnya terdapat dialog antarumat beragama, jadi setidaknya saya punya bekal untuk bisa komunikasi dua arah dengan yang berbeda agamaAy. 19 Selain faktor personal, partisipasi dalam workshop yang diselenggarakan oleh pemerintah serta pengalaman mengikuti seleksi CPNS yang memuat materi moderasi beragam turut berperan dalam pemahaman guru tersebut. Namun, beberapa guru yang telah mengikuti kegiatan tersebut masih memaknai moderasi beragama sebatas toleransi. Hal ini terjadi karena pelaksanaan kegiatan tersebut hanya berlangsung satu kali sebagaimana yang diungkapkan oleh GN-05 bahwa. AuPada awal dicanangkan kita sudah dibekali tentang moderasi beragama tetapi hanya sekaliAy. 20 Kemudian, jikalau ada workshop lainnya pun GN-03 menyatakan bahwa. AuKerap kali workshop yang diadakan oleh pemerintah diikuti oleh orang yang sama tidak bergantianAy. Bentuk Implementasi Moderasi Beragama di Sekolah Implementasi Moderasi Beragama dalam Pengajaran Implementasi moderasi beragama di sekolah tampak dari cara guru mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam materi ajar, yang dalam kurikulum PAI sudah terintegrasi sekitar tiga tahun terakhir. Di kelas 7 integrasi materinya adalah inspirasi Al-QurAoan indahnya beragama secara moderat. Sedangkan di kelas 8 materinya toleransi beragama dan di kelas 9 moderasi beragama, yang diubah menjadi kasih sayang sesama manusia. Implementasi nilai-nilai moderasi beragama tidak hanya tercermin dalam materi ajar, tetapi juga dalam pemilihan metode Berdasarkan wawancara di lapangan, ditemukan bahwa terdapat dua metode yang digunakan dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama, antara lain. Wawancara dengan GB-01 Wawancara dengan GS-02 Wawancara dengan GN-04 Wawancara dengan GN-05 Wawancara dengan GN-03 Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Hayatunnisa Hayatunnisa dkk. pembelajaran berbasis ceramah dengan penekanan pembiasaan dan pembelajaran berbasis diskusi dan dialog. Sebelum pembelajaran dimulai, siswa non muslim diberikan pilihan untuk tetap di kelas atau belajar di luar, seperti di perpustakaan atau ruang BK. Menariknya, beberapa siswa non-muslim sering kali memilih untuk tetap di Pembelajaran dengan menggunakan ceramah dilakukan oleh beberapa informan dengan dilanjutkan dalam penekanan pada pembiasaan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh GN-01 AuInternalisasi dikelas dilakukan seperti materi lainnya tidak ada metode khusus tetapi juga dilakukan melalui pembiasaan harianAy. Selain pembelajaran di kelas, beberapa informan juga memanfaatkan media sosial dalam pemberian tugas maupun penyampaian materi. Kemudian beberapa guru menggunakan diskusi dan dialog sebagai metode dalam membahas materi terkait moderasi beragama. GS-01 mengatakan AuSiswa SMP sudah cukup kritis ketika bertanya, termasuk bertanya tentang agama lain, sehingga guru mendorong adanya dialog, bahkan meminta siswa non-muslim untuk berbagi pengalaman agama merekaAy. Kemudian penilaian terhadap pembelajaran dilihat berdasarkan penilaian kognitif dan juga afektif. Penilaian kognitif dilakukan dengan memberikan tes formatif. Salah satu informan menggunakan pertanyaan terbuka dan provokatif dalam tes formatif untuk mengetahui sejauh mana kecenderungan berpikir siswa. Kemudian, untuk penilaian sikap dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap perilaku, karakter, dan keseharian siswa, terutama pada cara mereka berinteraksi dengan siswa non-muslim, serta kemampuan siswa non-muslim untuk berbaur dan berinteraksi secara natural dengan teman-temannya yang muslim. Selain itu, pada sekolah berbasis keagamaan penilaian juga melibatkan refleksi PDPT (Penilaian Diri Penilaian Tema. dan juga dari partisipasi siswa pada kegiatan luar kelas seperti city tour, study tour, dan program immersion, yang diikuti dengan refleksi mengenai pengalaman mereka selama kegiatan berlangsung. Berdasarkan pengamatan guru, pada jenjang SMP tidak ditemukan adanya indikasi pemikiran radikal pada siswa. Meskipun demikian, guru tetap memandang pentingnya penanaman nilainilai moderasi beragama sebagai upaya preventif agar siswa memiliki sikap keberagamaan yang toleran dan tidak ekstrem. Wawancara dengan GN-01 Wawancara dengan GS-01 Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Persepsi Guru Pendidikan Agama Islam Tantangan Guru PAI dalam Implementasi Moderasi Beragama Meskipun berbagai strategi pembelajaran telah dilakukan, pada pelaksanaannya tetap menghadapi sebuah tantangan. Pertama. Fanatisme dan Eksklusivisme Beragama. Kemungkinan yang dapat terjadi dalam penerapan nilai-nilai moderasi beragama adalah adanya siswa yang merasa memiliki sikap paling benar sendiri, sehingga membuat siswa tersebut tidak mampu untuk bersikap toleran terhadap yang lain. Hal ini diungkapkan oleh GN-02 bahwa. AuSalah satu tantangan yaitu adanya sikap fanatisme, di mana siswa merasa paling benar sendiri dan tidak toleran, namun hal tersebut tidak muncul secara langsung di permukaanAy. Kedua. Pengaruh Teman Sebaya. Keluarga, dan Masyarakat. Dalam menerapkan nilai-nilai moderasi beragama pastinya melibatkan berbagai pihak yang ada di lingkungan siswa, sehingga dapat memengaruhi bagaimana siswa memahami dan menerima konsep tersebut. Menurut GS-02 AuSiswa yang berada di lingkungan heterogen dan terbiasa dengan perbedaan akan lebih mudah menerapkan moderasi dikarenakan ia telah terbiasa berinteraksi, sedangkan siswa dari lingkungan yang homogen cenderung lebih sulit menerima dan menerapkan nilai-nilai moderasi karena minimnya pengalaman berinteraksi dengan keragamanAy. Ketiga. Kesulitan Guru dalam Penyampaian Materi dan Konsistensi Sikap Moderat. Guru menghadapi tantangan dalam menyampaikan moderasi beragama karena sifatnya yang abstrak sehingga membuat siswa kesulitan menginternalisasikan nilainilainya secara utuh, terutama pada sekolah keagamaan. GB-02 mengatakan bahwa. AuPada saat implementasi terdapat kesulitan dalam menemukan kosakata dan visual untuk menjelaskan konsep-konsep yang belum terbayangkan oleh siswaAy. 26 Selain itu, guru juga menghadapi tantangan berkaitan dengan keberlanjutan dan konsistensi sikap moderat pada siswa. Hal ini diungkapkan oleh GB-03 bahwa. AuTantangan yang paling terasa yaitu berkaitan dengan konsistensi siswa terutama saat liburan berlangsungAy. Keempat. Media Digital dan Literasi Informasi. Saat ini media digital menjadi ruang di mana semua bisa mengakses informasi dengan mudah, sehingga siswa dapat dengan mudah juga untuk terpapar berbagai konten, termasuk yang merujuk pada ujaran kebencian maupun isu provokatif. Sejalan dengan hal tersebut GN-01 mengungkapkan AuMedia sosial sangat berpengaruh pada pola pikir dan tindakan siswa yang kemudian Wawancara dengan GN-02 Wawancara dengan GS-02 Wawancara dengan GB-02 Wawancara dengan GB-03 Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Hayatunnisa Hayatunnisa dkk. berpotensi memengaruhi nilai-nilai kemoderatannyaAy. 28 Namun. GN-04 menegaskan bahwa AuPada realitasnya, perhatian siswa jauh lebih tersita pada konten-konten hiburan seperti konten pacaran dibandingkan dengan konten keagamaan yang bersifat provokatif, dikarenakan bubble radikal dan liberal pada media sosial anak remaja itu sangat kecil berkat peran dari pemerintahAy. Upaya Kolaborasi Guru PAI dalam Penguatan Moderasi Beragama Upaya kolaborasi menjadi strategi dalam mengoptimalkan penerapan nilai-nilai moderasi beragama di sekolah. Kolaborasi dilakukan dengan pihak internal sekolah maupun pihak eksternal yang berkompeten di bidangnya. Pertama. Kolaborasi Internal Sekolah. Dalam internal sekolah, guru PAI saling menguatkan dan bekerja sama untuk menyamakan tujuan, serta menjalin kolaborasi dengan kegiatan ekstrakurikuler agar penanaman nilai-nilai moderasi beragama lebih efektif. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh GN-01, bahwa AuSesama guru PAI dalam satu tim harus saling menguatkanAy. 30 Kemudian berkaitan dengan ekstrakurikuler. GN-07 mengatakan bahwa AuPerlu bekerja sama dengan pembina ekstrakurikuler seperti rohis untuk memasukkan nilai-nilai moderasi beragama dalam kajian Islam yang disertai dengan sentuhan teknologiAy. Kedua. Kolaborasi dengan Pihak Eksternal Kompeten. Dalam kolaborasi bersama pihak eksternal, sekolah kerap kali mengundang aparat TNI dan Polri, kemudian penceramah untuk berbicara terkait isu-isu aktual yang dekat dengan dunia remaja, seperti cinta tanah air, kedisiplinan, kekerasan, kenakalan pada remaja, bullying, tawuran, hingga radikalisme. Selain itu, di sekolah yang lain terdapat kegiatan Kabusan (Kajian Bulanan Santr. dan PeciMas (Pecinta Masji. yang juga menjadi wadah untuk menghadirkan pembicara dari berbagai bidang sesuai kebutuhan siswa. Ketiga. Kolaborasi dalam Kegiatan Kemanusiaan. Kolaborasi juga dilakukan dengan masyarakat sekitar pada beberapa kegiatan. GN-01 mengatakan bahwa AuKegiatan lain yang dilakukan guna menanamkan nilai-nilai moderasi adalah kegiatan sosial yang melibatkan semua siswa tanpa memandang agama, suku, ras, budaya, dan perbedaanAy. 32 Kegiatan tersebut merupakan strategi yang mengajarkan nilai-nilai moderasi dengan praktik langsung. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat kegiatan Wawancara dengan GN-01 Wawancara dengan GN-04 Wawancara dengan GN-01 Wawancara dengan GN-07 Wawancara dengan GN-01 Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Persepsi Guru Pendidikan Agama Islam PHBI. Ramadhan. HUT Kemerdekaan, atau ulang tahun sekolah yang diberikan dalam bentuk sembako maupun barang lainnya. Rekomendasi Guru PAI untuk Penguatan Praktik Moderasi Beragama Berdasarkan temuan dari para informan, didapatkan beberapa rekomendasi yang ditujukan kepada berbagai stakeholder yang memiliki peran dalam penguatan pendidikan moderasi beragama, mulai dari sekolah, praktisi. Dinas Pendidikan, hingga Kementerian Agama. Pertama, mendorong sekolah untuk membentuk komite moderasi beragama yang terdiri dari guru, kepala sekolah, perwakilan siswa, dan orang tua untuk merancang dan mengimplementasikan kegiatan yang mendukung keberagaman, toleransi, dan penguatan nilai moderasi beragama dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Kedua. Dinas Pendidikan dapat mengeluarkan kebijakan nasional atau program resmi yang secara khusus mengatur pelaksanaan moderasi beragama di sekolah, termasuk standar dan pedoman pelatihan guru, materi pembelajaran, serta sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung implementasi yang konsisten di semua sekolah. Ketiga. Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan dapat bekerja sama untuk menyusun modul pelatihan dan pendampingan bagi guru PAI, yang berfokus pada penguatan pemahaman tentang moderasi beragama, keberagaman agama, serta teknis mengajar yang lebih inklusif dan non-diskriminatif sebagai upaya dukungan profesional bagi guru. Keempat. Mengusulkan agar program dialog lintas agama diadakan secara rutin bagi pendidik di setiap sekolah, yang melibatkan guru PAI dan guru agama lainnya untuk membuka diskusi tentang keberagaman dan mengurangi sikap eksklusif antar agama. Ini akan meningkatkan pemahaman, toleransi, dan keterbukaan antara guru dan siswa yang berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya keterkaitan yang saling memengaruhi antara pemahaman guru PAI tentang konsep moderasi beragama, faktorfaktor yang membentuk pemahaman tersebut, serta praktik implementasinya dalam pembelajaran PAI di sekolah. Faktor-faktor yang ada berperan dalam membentuk cara guru memaknai moderasi beragama yang kemudian memengaruhi bagaimana cara guru mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran di sekolah. Guru yang memiliki pemahaman lebih komprehensif cenderung mengintegrasikan moderasi beragama melalui pendekatan yang dialogis dan kontekstual, sementara guru yang memiliki pemahaman lebih sederhana cenderung mengintegrasikan moderasi beragama terbatas pada aspek toleransi. Dalam praktiknya, implementasi juga Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Hayatunnisa Hayatunnisa dkk. dihadapkan pada berbagai tantangan yang muncul dari interaksi di lingkungan sekolah maupun di ruang digital. Kondisi ini mendorong guru PAI untuk mengemukakan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat praktik moderasi beragama di sekolah, melalui penguatan pemahaman kompetensi guru maupun kerja sama dengan pihak eksternal yang memiliki kompetensi dalam pengembangan nilai-nilai moderasi. Pembahasan Dinamika Persepsi Guru PAI tentang Moderasi Beragama Penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi guru PAI terhadap moderasi beragama tidak bersifat homogen, melainkan terbentuk dalam tingkatan pemahaman yang beragam. Variasi pemahaman sebagaimana yang dipaparkan pada poin pertama hasil penelitian, berkisar dari pemahaman sederhana yang memaknai moderasi sebagai toleransi hingga pemahaman yang lebih komprehensif yang mengaitkannya dengan konsep wasathiyah, rahmatan lil Aoalamin, dan konteks historis kemunculannya. Pemaknaan moderasi beragama yang masih terbatas pada toleransi menunjukkan bahwa sebagian guru PAI berada pada tingkat pemahaman yang bersifat praktis. Pemahaman ini cenderung memosisikan toleransi sebagai tujuan akhir, padahal toleransi tidak mencakup keseluruhan konsep moderasi beragama. Firmansyah & Jiwandono menegaskan bahwa toleransi merupakan hasil yang muncul dari penerapan moderasi beragama,33 sehingga pemaknaan moderasi sebatas toleransi menunjukkan adanya reduksi makna terhadap konsep tersebut. Sementara itu, guru PAI yang memaknai moderasi beragama sebagai konsep wasathiyah menunjukkan adanya internalisasi konsep yang lebih substantif. Islam hadir sebagai jalan tengah atas kecenderungan ekstrem masyarakat pra-Islam yang hanya Pemahaman memperlihatkan bahwa moderasi beragama diposisikan sebagai prinsip keadilan dan keseimbangan yang bersifat integratif, tidak terbatas pada relasi sosial, tetapi juga Asep Firmansyah and Nahnu Robid Jiwandono. AuKecenderungan Guru Dalam Menerapkan Pendekatan Student Centre Learning Dan Teacher Centre Learning Dalam Pembelajaran Tendency of Teachers in Applying Student Center Learning and Teacher Center Learning Approaches in Learning,Ay JGI: Jurnal Guru Indonesia 2, no. : 33Ae39, https://doi. org/10. 51817/jgi. Fadhil Hidayat Akbar et al. AuKonsep Moderasi Beragama Dalam Tinjauan QurAoan Hadis,Ay Bulletin of Islamic Research 2, no. : 59Ae80, https://doi. org/10. 69526/bir. Edi Nurhidin. AuStrategi Implementasi Moderasi Beragama M. Quraish Shihab dalam Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,Ay Kuttab: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam 5, no. : 2, https://doi. org/10. 30736/ktb. Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Persepsi Guru Pendidikan Agama Islam mencakup dimensi beragama, bernegara, serta orientasi dunia dan akhirat. 35 Lebih lanjut, guru PAI juga memaknai moderasi beragama sebagai upaya menghadirkan ajaran Islam yang membawa rahmat, kedamaian, dan kemaslahatan bagi seluruh makhluk, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan proporsional dan seimbang. Pemahaman tersebut memperluas cakupan moderasi beragama dari sekadar harmoni sosial menjadi nilai universal yang menjiwai seluruh aspek kehidupan. Bahkan, terdapat pula guru yang memaknai moderasi beragama tidak semata sebagai konsep normatif keagamaan, tetapi juga sebagai konsep yang lahir dari dinamika sosial dan historis tertentu, yang kemudian diadopsi dan dikontekstualisasikan hingga saat ini. Perbedaan pemahaman guru PAI tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor yang memengaruhi persepsi guru sebagaimana yang diuraikan pada poin kedua hasil Dalam perspektif teori persepsi, pemahaman individu terhadap suatu konsep tidak terbentuk secara langsung, melainkan melalui proses seleksi, interpretasi, dan internalisasi informasi yang dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman dan konteks 37 Oleh karena itu, meskipun guru PAI memperoleh stimulus yang relatif sama, pemaknaan yang didapatkan tetap dapat beragam. Temuan penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan formal, keikutsertaan dalam komunitas lintas agama, pengalaman mengikuti workshop, maupun keterlibatan dalam proses seleksi CPNS menjadi sumber guru dalam mengenal istilah moderasi beragama. Namun demikian, paparan terhadap konsep tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman guru. Beberapa informan yang telah mengikuti pelatihan maupun tes CPNS masih memaknai moderasi beragama secara Sementara, guru yang juga aktif mengikuti kegiatan sosial dan literasi mandiri menunjukkan pemahaman moderasi yang lebih kontekstual dan kritis. Temuan ini sejalan selaras dengan prinsip adult learning theory yang menekankan bahwa orang dewasa belajar secara efektif ketika proses pembelajaran berbasis Kementerian Agama. Moderasi Beragama. Sapiudin Sapiudin and Ika Ika. AuThe Strategic Role of Islamic Religious Education (PAI) in Countering Radical Ideologies in the Digital Age,Ay Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam 14, no. : 641Ae 48, https://doi. org/10. 30868/ei. Anharul Ulum and Bima Fandi AsyAoarie. AuIslamic Religious Education in Forming Muslim Identity in the Modern Era,Ay RiAoayah: Jurnal Sosial Dan Keagamaan 9, 1 . : 1Ae13, https://doi. org/10. 32332/riayah. Aigadilla Anugrah et al. AuPersepsi Guru SD Terhadap Pentingnya Pendidikan Bela Negara Di Masa Society 5. 0,Ay Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial. Dan Pengabdian Kepada Masyarakat 5, no. : 1740Ae49, https://doi. org/10. 56832/edu. Novita Arutmayanti. AuImplementation of the Andragogy Approach in Educational Settings: A Systematic Literature Review,Ay International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding 10, no. : 335Ae46, http://dx. org/10. 18415/ijmmu. Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Hayatunnisa Hayatunnisa dkk. pengalaman nyata, reflektif, dan berlangsung secara berkelanjutan, tidak hanya sebatas Kondisi ini menunjukkan bahwa pembentukan persepsi guru PAI tidak hanya ditentukan oleh intensitas paparan kebijakan atau pelatihan, tetapi juga oleh proses refleksi kritis dan internalisasi nilai. Persepsi guru terhadap moderasi beragama memengaruhi cara mereka menerapkan nilai-nilai moderasi beragama dalam praktik pembelajaran di sekolah. Guru dengan pemahaman yang lebih komprehensif cenderung mengintegrasikannya secara reflektif dan kontekstual, sementara guru dengan pemahaman yang lebih sederhana cenderung menekankan aspek toleransi secara Implementasi dan Implikasi Moderasi Beragama dalam Pembelajaran di Sekolah Penelitian menunjukkan bahwa implementasi moderasi beragama dalam pembelajaran PAI dapat berbeda yang dipengaruhi oleh cara mereka memaknai konsep moderasi tersebut. Beberapa guru PAI masih menggunakan metode ceramah untuk menyampaikan konsep dasar moderasi beragama karena dianggap lebih praktis dan mampu menjangkau seluruh siswa. 40 Metode tersebut diperkuat dengan menerapkan pembiasaan harian yang memungkinkan siswa tidak hanya sekadar memahami konsep secara kognitif, tetapi juga mampu menerapkannya dalam praktik keseharian. Hal tersebut mengindikasikan pentingnya upaya mengelaborasi metode, sehingga tidak mengandalkan satu metode saja. Selain itu, beberapa guru lain menerapkan diskusi dan dialog reflektif dalam pembelajaran, sehingga siswa tidak hanya berperan sebagai penerima informasi pasif tetapi juga ikut aktif dalam menyuarakan pendapatnya. 42 Diskusi dan dialog dilakukan dengan mengangkat isu-isu terkini yang dekat dengan kehidupan siswa, baik yang terjadi di lingkungan sekitar maupun yang mereka temui melalui media sosial. Dalam Malcolm S. Knowles et al. The Adult Learner (Routledge, 2. Arif Santoso et al. AuPengukuran Sikap Dan Pemahaman Moderasi Beragama Penyuluh Dan Guru,Ay Dialog 47 (December 2. : 187Ae200, https://doi. org/10. 47655/dialog. Hudriansyah et al. AuTeaching Moderation. Moderating Teachers: The FacilitatorAos Role in Nurturing Moderate Teachers in East Kalimantan. Indonesia,Ay Al-Wasatiyah: Journal of Religious Moderation 4, 2 . : 267Ae96, https://doi. org/10. 30631/jrm. Ahmad Fauzi et al. AuPeran Strategis Metode Khusus Pembelajaran PAI Dalam Mengoptimalkan Pemahaman Moderasi Beragama,Ay Chalim Journal of Teaching and Learning 5, no. : 196Ae204, https://doi. org/10. 31538/cjotl. Yusuf Hanafi et al. Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam Perkuliahan Pendidikan Agama Islam (Delta Pijar Khatulistiwa, 2. , 13. Koon Lin Wong and Carla Briffett-akta. AuThe Student Voice for Social Justice Pedagogical Method: Learning Outcomes and Challenges,Ay Active Learning in Higher Education 26, no. : 25Ae39, https://doi. org/10. 1177/14697874231176488. Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Persepsi Guru Pendidikan Agama Islam konteks ini, keterlibatan siswa non-muslim dalam proses pembelajaran menunjukkan upaya guru PAI dalam membangun ruang dialog yang inklusif dan bermakna. Interaksi antar siswa dengan latar belakang keagamaan yang berbeda akan terjadi pertukaran pengalaman keagamaan, yang pada akhirnya membentuk pemahaman bersama serta meningkatkan kepekaan sosial dalam diri mereka terhadap keberagaman. Setelah pembelajaran berlangsung, penilaian dilakukan berdasarkan kognitif dan juga afektif. Berdasarkan poin ketiga hasil penelitian, pendekatan penilaian yang dilakukan terutama pada penilaian kognitif sejalan dengan konsep higher order thinking skill yang mendorong siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil posisi terhadap isu-isu keagamaan yang kompleks sehingga dapat membentuk pola pikir yang 44 Selain itu, pendekatan penilaian afektif yang dilakukan juga bersifat resiprokal karena menunjukkan adanya pendekatan partisipatif di mana moderasi beragama bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan hasil dari interaksi yang sehat antara semua pihak. Praktik pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak hanya diajarkan sebagai konsep normatif, tetapi dihadirkan sebagai pengalaman belajar yang reflektif dan bermakna. Khususnya melalui dialog dan pembiasaan, siswa di dorong untuk bersikap terbuka, adil, dan seimbang dalam memandang perbedaan. Temuan ini menguatkan bahwa implementasi moderasi beragama dalam pembelajaran PAI berpotensi lebih efektif ketika diarahkan pada pembentukan kesadaran dan sikap, bukan hanya penguasaan materi. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap adanya berbagai tantangan yang dihadapi guru PAI dalam mengimplementasikan moderasi beragama di tingkat SMP. Tantangan tersebut meliputi sikap fanatisme, pengaruh lingkungan, keterbatasan penyampaian konsep dan konsistensi sikap moderat, serta semakin mudahnya akses media digital dan literasi informasi yang dapat dijangkau oleh siswa. Temuan ini sejalan Rahmawati Zulfiningrum et al. AuMenuju Dialog Deliberatif Resolusi Konflik: Sebuah Studi Komunikasi Antarbudaya Di Kampung Adat Jalaswatu,Ay Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi 3, no. : 79Ae98, https://doi. org/10. 33633/ja. Kamilatin Azizah. AuTeori Taxonomi Bloom Dan Implementasinya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,Ay Pelita: Jurnal Studi Islam Mahasiswa UII Dalwa 2, no. : 157Ae72, https://doi. org/10. 38073/pelita. Barsihanor Barsihanor et al. AuSocial Interaction Religious Communities in Islamic Higher Education,Ay IJGIE (International Journal of Graduate of Islamic Educatio. 1, no. : 116Ae26, https://doi. org/10. 37567/ijgie. Kit S. Double et al. AuThe Impact of Peer Assessment on Academic Performance: A Meta-Analysis of Control Group Studies,Ay Educational Psychology Review 32 . : 481Ae509, https://doi. org/10. 1007/s10648-019-09510-3. Siti Nurislamiah. AuThe Impact of Peer Behavior on Islamic Religious Education Achievement,Ay Jurnal Penelitian Pendidikan Islam 12, no. : 208Ae22, https://doi. org/10. 36667/jppi. Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Hayatunnisa Hayatunnisa dkk. dengan yang disampaikan oleh Saragih bahwa implementasi moderasi beragama sering dihadapkan pada fanatisme, eksklusivisme, serta rendahnya kesadaran reflektif dalam 46 Hal tersebut menjadi semakin kompleks ketika berhadapan dengan kemungkinan bahwa apa yang diajarkan di sekolah bertentangan dengan apa yang siswa terima di rumah atau lingkungan sosialnya, sehingga guru juga guru kerap menghadapi kesulitan dalam menjaga keberlanjutan penguatan nilai moderasi beragama pada diri Selain itu, pada sekolah yang siswanya homogen, meskipun pembelajaran telah diupayakan dengan baik, namun karena tidak adanya interaksi langsung dengan teman yang berbeda agama maka terdapat sedikit kesulitan dalam memahami konsep abstrak tersebut, sehingga membutuhkan penjelasan yang mendalam dan komprehensif agar tujuan pembelajaran yang ingin dicapai bisa terlaksana dengan baik. 48 Hal ini berkaitan juga dengan arus media digital yang semakin cepat, sehingga memerlukan adanya peningkatan pembekalan literasi digital yang tepat agar mereka sendiri dapat memfilter konten yang sesuai dan tidak bertentangan dengan usia mereka. Di tengah berbagai tantangan tersebut, upaya kolaborasi muncul sebagai strategi yang dilakukan sekolah untuk penguatan praktik moderasi beragama. Kolaborasi internal sekolah menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai-nilai moderasi. Selain itu, kolaborasi dengan pihak eksternal, seperti aparatur negara maupun tokoh agama juga diperlukan karena mereka dipandang memiliki kapabilitas yang kompeten di Jon Renis H. Saragih. AuMembangun Jalan Tengah Di Antara Kelompok Ekstrem Sebagai Salah Satu Model Moderasi Beragama Di Indonesia,Ay Visio Dei: Jurnal Teologi Kristen 5, no. : 168Ae81, https://doi. org/10. 35909/visiodei. Badrun Hasani. AuPeran Keluarga Dalam Penguatan Moderasi Beragama Untuk Pemantapan Empat Pilar Kebangsaan,Ay Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Riset Sosial Humaniora (Kaganang. 6, no. : 260Ae73, https://doi. org/10. 31539/kaganga. Hadi Pajarianto et al. AuTolerance between Religions through the Role of Local Wisdom and Religious Moderation,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 78, no. : 8. Ethnicity, https://doi. org/10. 4102/hts. Devi Indah Sari et al. AuModerasi Beragama Dalam Pendidikan Islam Di Indonesia,Ay Journal on Education 5, no. : 2202Ae21, https://doi. org/10. 31004/joe. Susan Mills. AuConceptual Understanding: A Concept Analysis,Ay The Qualitative Report 21, no. : 546Ae57, https://doi. org/10. 46743/2160-3715/2016. Maimunatun Habibah. AuPengembangan Kompetensi Digital Guru Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar Dalam Kerangka Kurikulum Merdeka,Ay Sittah: Journal of Primary Education 3, no. : 76Ae 89, https://doi. org/10. 30762/sittah/v3i1. Shavira Salsabila et al. AuStrengthening Literacy Competencies through Islamic Religious Education Learning in Elementary Schools,Ay Jurnal Elementaria Edukasia 7, no. : 3325Ae43, https://doi. org/10. 31949/jee. Susilawati Susilawati et al. AuInteractive Electronic Modules as a Tool to Foster StudentsAo Digital Literacy,Ay Journal of Physics: Conference Series 3139, no. : 012100, https://doi. org/10. 1088/1742-6596/3139/1/012100. Vita Fitriatul Ulya and Nur Lailatul Fitri. AuLecturerAos Efforts to Improve StudentAos Digital Literacy through Online Learning,Ay Indonesian Journal of Islamic Education Studies (IJIES) 7, no. : 70Ae85, https://doi. org/10. 33367/ijies. Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Persepsi Guru Pendidikan Agama Islam 50 Kemudian, masyarakat juga kerap kali dilibatkan pada saat kegiatan bakti sosial guna menumbuhkan kepedulian sosial dan pesan persaudaraan dari berbagai latar 51 Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi moderasi beragama tidak dapat dibebankan secara individu kepada guru PAI, melainkan membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak yang dapat mendukung jalannya kegiatan dengan baik. Rekomendasi yang disampaikan oleh guru PAI dalam hasil penelitian mencerminkan kebutuhan nyata di lapangan terhadap penguatan praktik moderasi Rekomendasi tersebut tidak hanya menekankan tentang pentingnya pelatihan dan pengembangan kompetensi guru secara berkelanjutan, tetapi juga perlunya kebijakan yang lebih operasional. Dalam konteks ini, rekomendasi yang diberikan oleh guru PAI dapat dipahami sebagai bentuk refleksi atas keterbatasan implementasi sekaligus sebagai arah pengembangan moderasi beragama di sekolah. Secara keseluruhan, diskusi ini menegaskan bahwa implementasi moderasi beragama dalam pembelajaran PAI merupakan proses yang kompleks dan dipengaruhi oleh persepsi Temuan penelitian ini memperluas kajian moderasi beragama di bidang pendidikan dengan menunjukkan bahwa keberhasilan moderasi beragama tidak hanya bergantung pada keberadaan kebijakan, tetapi sangat dipengaruhi oleh pemahaman guru dan dukungan sistem pendidikan secara menyeluruh. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam memahami hubungan antara persepsi dan praktik moderasi beragama, sekaligus implikasi praktis bagi pengembangan pembelajaran PAI yang lebih moderat dan kontekstual di sekolah. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi guru PAI terhadap moderasi beragama tidak bersifat homogen, melainkan berada pada tingkatan pemahaman yang Beberapa guru memaknai moderasi beragama sebagai sikap toleransi dalam interaksi sosial, sementara yang lainnya memahami konsep tersebut sebagai prinsip Iis Sugiarti and Moh Roqib. AuDiseminasi Pendidikan Moderasi Islam Pada Mahasiswa: Strategi Menangkal Radikalisme Di Perguruan Tinggi Umum (The Dissemination of Moderate Islamic Education to Students: Strategies to Counter Radicalism in Public Universit. ,Ay Potret Pemikiran 25, no. 119Ae39, https://doi. org/10. 30984/pp. Ahmad Muhajir and Muslimah. AuPembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Kearifan Dayak Di SMPN 1 Palangka Raya,Ay Paedagogie: Jurnal Pendidikan Dan Studi Islam 06, no. : 57Ae64, https://doi. org/10. 52593/pdg. Siti Almaratus Sholikah. AuEvaluasi Penerapan Moderasi Beragama Terhadap Sikap Beragama Peserta Didik Di SMP PGRI Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro,Ay Evaluasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam . 107Ae27, https://doi. org/10. 32478/evaluasi. Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol. , 2026 DOI: 10. 33367/ji. Hayatunnisa Hayatunnisa dkk. wasathiyah dan rahmatan lilAoalamin. Perbedaan persepsi tersebut berimplikasi pada cara guru dalam mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam praktik pembelajaran di sekolah yang masih menghadapi berbagai tantangan baik yang berasal dari dinamika sosial maupun yang berada pada ruang digital. Keragaman pemahaman tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya latar belakang pendidikan dan pengalaman profesional guru, serta keterlibatan dalam komunitas lintas agama yang berperan dalam membentuk cara pandang terhadap moderasi beragama. Temuan penelitian ini menunjukkan pentingnya penguatan pemahaman moderasi beragama melalui pengembangan profesional guru agar implementasinya dalam pembelajaran PAI dapat berlangsung lebih komprehensif, khususnya dalam upaya pembinaan nilai dan pencegahan dini di sekolah. Referensi