CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal ANALISIS RESEPSI PELECEHAN SEKSUAL DI DUNIA PENDIDIKAN (RESEPSI MAHASISWA PMII UNIVERSITAS NASIONAL TENTANG ISU PELECEHAN SEKSUAL PADA AKUN X @TUNGTUNG1. Agriness Marsyha Salsabililah1. Yusmawati2* Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bahasa. Universitas Bina Sarana Informatika. Jakarta Indonesia *Corresponding e-mail: yusmawati. ymw@bsi. Copyright A 2025 The Author This is an open access article Under the Creative Commons Attribution Share Alike 4. 0 International License DOI: 10. 53866/jimi. Abstract The internet and social media have facilitated the dissemination of information regarding social issues within Social media platforms like X enable users to share their experiences and views help raise public Information on social media is received in diverse ways by its users. Many social issues are posted by social media users, including the issue of sexual harassment, as seen in the posts from the @tungtung1906 account, which shares information about sexual harassment incidents experienced in the higher education environment where the user studies. These posts are received by other users. This study aims to understand the reception of PMII National University students regarding the issue of sexual harassment posted by the @tungtung1906 account. The research method uses a qualitative approach, with data collection techniques through in-depth interviews. The results show that PMII students are in both Dominant and Negotiated positions. In the dominant position, some students accept and support the narrative presented by the @tungtung1906 account as a true representation of the existing problem. Moreover, they support the way the @tungtung1906 account conveys the message about sexual harassment and agree on the importance of openly discussing this issue to raise public awareness and encourage positive change. In the negotiated position, some students understand the issue but adjust their views by considering cultural, educational, and personal experience factors. Keywords: analysis of reception, sexual harassment, education world Abstrak Internet dan media sosial telah memudahkan penyebaran informasi mengenai isu sosial dalam masyarakat. Media sosial seperti X memungkinkan pengguna untuk berbagi pengalaman dan pandangan mereka, yang dapat membantu meningkatkan kesadaran publik. Informasi dalam media sosial akan diresepsi secara beragam oleh penggunanya. Banyak isu sosial yang diunggah oleh pengguna media sosial termasuk isu pelecehan seksual, seperti pada postingan akun @tungtung1906 yang memberikan informasi tentang kasus pelecehan seksual yang dialaminya di lingkungan pendidikan tinggi tempatnya berkuliah. Postingan yang ada pada akun tersebut akan diresepsi oleh pengguna lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resepsi mahasiswa anggota PMII Universitas Nasional terhadap isu pelecehan seksual yang diposting akun @tungtung1906. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa PMII terdapat pada posisi Dominan dan Negosiasi. Dalam posisi dominan, sebagian mahasiswa menerima dan mendukung narasi yang disampaikan oleh akun @tungtung1906 sebagai representasi nyata dari masalah yang ada. Selain itu, mereka mendukung cara akun @tungtung1906 dalam menyampaikan pesan tentang pelecehan seksual, serta menyetujui pentingnya berbicara secara terbuka mengenai isu ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong perubahan positif. Sedangkan dalam posisi negosiasi, beberapa mahasiswa memahami isu Hlm | 949 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal tersebut tetapi menyesuaikan pandangan mereka dengan mempertimbangkan faktor budaya, pendidikan dan pengalaman pribadi mereka. Kata Kunci: analisis resepsi, pelecehan seksual, dunia pendidikan Pendahuluan Salah satu jenis kekerasan yang semakin marak di masyarakat adalah kasus pelecehan seksual. Fenomena ini tidak lagi terbatas pada lingkungan privat. sekarang mencakup lingkungan publik, seperti lembaga pendidikan. Korbannya juga semakin beragam, mencakup perempuan, laki-laki, anak-anak, hingga orang dewasa. Pelecehan seksual adalah perilaku berkonotasi seksual yang tidak diinginkan dari korban, baik secara fisik maupun verbal, yang merendahkan martabat korban dan mengganggu kenyamanan korban (Kartika & Najemi, 2020. Suprihatin & Azis, 2. Bentuknya pun beragam, termasuk pemaksaan hubungan romantis, menyentuh tubuh tanpa persetujuan, dan komentar atau ajakan bernada seksual (Rusyidi, 2. Dampak yang ditimbulkan dapat bersifat psikologis, seperti trauma, gangguan emosi, dan penurunan fungsi kognitif (Anindya, 2. , tetapi juga dapat mempengaruhi proses belajar, hubungan sosial, serta kesehatan mental korban secara jangka panjang. Kasus pelecehan seksual terjadi di mana saja termasuk di lingkungan pendidikan yang memicu keprihatinan besar dan menuntut perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Di Indonesia, pelecehan seksual di dunia pendidikan menjadi isu yang serius. Per April 2024, telah terjadi 2. 681 kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan tinggi swasta maupun negeri (Panjaitan, 2. Kasus-kasus ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari mahasiswa hingga tenaga pendidik dan staf administrasi. Dalam lingkungan pendidikan, pelecehan seksual memiliki konsekuensi yang signifikan, baik bagi korban maupun institusi. Bagi korban, pelecehan tersebut dapat menyebabkan trauma psikologis dan gangguan perkembangan sosial dan emosional, menurunkan keinginan untuk belajar, dan bahkan mengganggu proses pembelajaran yang efektif. Sementara itu, bagi institusi pendidikan, pelecehan seksual dapat merusak reputasi mereka, mengurangi kepercayaan masyarakat, dan mengganggu proses pembelajaran yang efektif. Isu pelecehan seksual juga dilaporkan terjadi pada beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Dan kasus tersebut sudah menjadi konsumsi publik karena adanya beragam pemberitaan baik di media massa maupun media sosial. Pemberitaan akan berbagai isu semakin mudah ditemukan karena perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin maju dengan memberikan banyak referensi media kepada masyarakat terutama sejak keberadaan internet. Internet sebagaimana didefinisikan oleh Tom Kelleher adalah jaringan global yang dapat di akses oleh publik . alam Cahyani, 2. Jaringan ini merupakan suatu sistem yang menghubungkan berbagai komputer, kabel, dan perangkat nirkabel, memungkinkan pertukaran informasi di seluruh dunia. Internet dimanfaatkan oleh masyarakat banyak untuk mencari informasi atau bertukar kabar dengan kerabat yang jaraknya jauh. Pada awal tahun 2024, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 185 juta orang, setara dengan 66,5% dari total populasi nasional yang berjumlah 278,7 juta orang (A. , 2. Terjadi peningkatan sekitar 1,5 juta pengguna internet, atau sekitar 0,8% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Masyarakat menggunakan internet untuk berbagai macam kegiatan, seperti mencari informasi terkini, berbelanja online atau sekedar menonton film untuk hiburan. Kemajuan internet terus berlanjut hingga menghasilkan teknologi baru yang disebut Web 2. Teknologi ini memperkenalkan gagasan tentang Web Sosial dan memfasilitasi komunikasi dengan komunitas online yang Salah satu aplikasi dari teknologi Web 2. 0 adalah media sosial. Media sosial telah menjadi salah satu fenomena terbesar dalam era teknologi saat ini, mengubah cara orang berkomunikasi dan berbagi informasi di seluruh dunia. Situs seperti Facebook. Instagram, dan YouTube telah memungkinkan orang terhubung secara instan dengan jutaan pengguna di seluruh dunia. Kemampuan untuk menyebarkan informasi dengan sangat cepat dan luas adalah karakteristik utama media sosial. Pengguna dapat memberi tahu audiens luas dengan satu klik dalam hitungan detik. Hal ini memungkinkan penyebaran berbagai jenis informasi, termasuk berita terbaru dan pandangan pribadi, dengan cepat dan mudah di seluruh dunia. Media sosial menurut Jones di mana pengguna dapat memilih media sosial sesuai kebutuhannya, berkomunikasi dengan pengguna lain untuk bertukar informasi, mendapatkan pengetahuan, dan melihat aktivitas online . alam Cahyani, 2. Selain itu, pengguna juga dapat memilih media sosial sesuai kebutuhannya dan berkomunikasi dengan cara Hlm | 950 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal memberikan komentar, feedback, berbicara, dan memilih melalui voting. Dalam situasi di mana setiap orang memiliki kemudahan untuk membuat dan membagikan konten, sering kali menjadi sulit untuk menjamin kebenaran dari informasi yang diunggah. Generasi Z adalah generasi pertama yang sudah terbiasa dengan teknologi sejak usia dini. Tumbuh dan berkembang bersamaan dengan kemajuan dunia digital. Generasi Z menunjukkan perbedaan yang mencolok dari generasi sebelumnya, karena mereka memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang teknologi dan media sosial. Teknologi serta media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari Generasi Z, mempengaruhi pola interaksi mereka dengan dunia sekitar. Salah satu media sosial yang banyak digunakan oleh Generasi Z adalah X yang diluncurkan pada 21 Maret 2006 oleh Jack Dorsey. Evan Williams. Biz Stone, dan Noah Glass, adalah salah satu platform media sosial populer. Data per April 2024 menunjukkan bahwa jumlah pengguna X di Indonesia mencapai 24,85 juta, menempatkannya sebagai negara dengan jumlah pengguna terbesar keempat (Stevany, 2. X bukan hanya digunakan untuk menyampaikan ide dan emosi, tetapi juga untuk berbagi informasi faktual dan pengetahuan berharga. Dalam konteks penyebaran informasi yang cepat di X, sangat bermanfaat jika semua pengguna berkontribusi dengan membagikan tweet yang bernilai tambah bagi seluruh pengguna. Platform ini menampung berbagai jenis tweet, termasuk pembaruan berita, pesan inspiratif, pandangan tentang berbagai topik, konten komedi, penafsiran ayat suci, dan kontribusi beragam lainnya yang dibuat oleh pengguna X (Bandjar Aprianto et al. , 2. Melalui media sosial X, pengguna bisa memposting apapun seperti memposting status atau pemikiran pribadi, foto atau video pribadi, tautan berita atau tautan promosi produk dan masih banyak lagi. Akun @tungtung1906 merupakan salah satu akun yang digunakan untuk menyampaikan informasi tentang pengalaman pribadi yang dialaminya terkait pelecehan seksual. Akun @tungtung1906 memposting sebuah thread pada tanggal 22 Maret 2024, pemilik akun bercerita bahwa dia telah menjadi korban pelecehan seksual di lingkungan kampus yang di mana pelaku dan korban merupakan mahasiswa dari kampus negeri yang ada di pulau Jawa namun berbeda jurusan. Dia membuat sebuah thread tentang kronologi kejadian pada tanggal 24 Februari 2024 dan meminta bantuan dari pengguna X agar ia bisa mendapatkan keadilan. Tapi sayangnya, dari pihak kampus sendiri amat sangat lama untuk memproses kejadian ini. Ia menggunakan hastag #Xpleasedoyourmagic agar thread bisa diketahuin banyak orang. Thread ini dapat banyak sekali respons dari khalayak umum dengan 711 komentar, 28 ribu like dan 8 ribu postingan ulang. Di bawah ini merupakan tangkap layar dari akun X @tungtung1906. Gambar 1. 1 Tangkapan Layar Akun Twitter @tungtung1906 Sumber: . ttps://x. com/Tungtung1. Dari tangkapan layar tersebut dijelaskan bagaimana pemilik akun memulai untuk menceritakan tentang pengalamannya saat ia terkena pelecehan seksual. Dan foto yang di sebelahnya merupakan salah satu tanggapan dari khalayak setelah ia membaca thread dari akun ini. Hlm | 951 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Gambar 1. 2 Tangkapan Layar Akun Twitter @tungtung1906 Sumber: . ttps://x. com/Tungtung1. Tangkap layar di atas merupakan tangkap layar korban dengan pihak kampus untuk meminta bantuan agar pelaku tertangkap dan dapat diberikan hukuman kepada pelaku. Informasi yang telah disebarkan melalui media sosial Twitter tersebut akan diterima dan dibaca oleh oleh pengguna Twitter lainnya. Dalam proses komunikasi, terdapat pesan yang menjadi salah satu unsurnya dan komunikan yang akan memproses pesan yang disampaikan tersebut. Oleh komunikan pesan tersebut ada akan dimaknai dengan cara yang berbeda. Peran audiens sangat aktif dalam memberi makna dan menginterpretasikan pesan yang diterima, sehingga pemahaman yang mereka dapatkan dapat berbeda dari makna yang dimaksudkan dalam pesan tersebut (Pertiwi et al. , 2. Pada penelitian ini peneliti akan meneliti resepsi generasi Z yakni mahasiswa. Analisis resepsi adalah pendekatan yang digunakan untuk meneliti khalayak media, yang menekankan tanggapan pembaca terhadap sebuah karya, termasuk penilaian dan penafsiran mereka (Delya et al. , 2. Karena isu pelecehan seksual sangat relevan dan menarik bagi mahasiswa, terutama karena mereka bagian dari generasi Z yang sangat terhubung dengan teknologi dan media sosial. Selain itu mahasiswa merupakan orang yang paling dekat dengan isu tersebut karena mereka masih dalam lingkungan yang sama yakni Perguruan Tinggi. Generasi Z dikenal lebih terbuka dalam membahas isu-isu sosial dan sangat peduli dengan keadilan serta kesejahteraan Mahasiswa yang akan diteliti di sini adalah mahasiswa yang tergabung dalam PMII Universitas Nasional, anggota dari PMII dapat menciptakan lingkungan budaya tertentu di antara anggotanya, yang mungkin mempengaruhi cara mereka merespon dan menghadapi kasus pelecehan seksual. Pemaknaan pesan sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan pengalaman hidup audiens. Mahasiswa anggota dari PMII Universitas Nasional juga merupakan mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial Twitter dan juga mengikuti atau tertarik mencari informasi dan membahas isu-isu sosial seperti kasus pelecehan seksual. Dengan meningkatnya kasus pelecehan seksual di lingkungan pendidikan dan tingkat respons publik yang tinggi di media sosial, penting untuk menyelidiki bagaimana khalayak luas, terutama Generasi Z, melihat masalah ini. Penelitian ini sangat penting karena menarik perhatian pada dinamika pemaknaan kasus pelecehan seksual yang tersebar luas melalui thread akun @tungtung1906 di platform X, yang belum banyak diteliti secara akademik. Sebagai subjek penelitian, penekanan pada mahasiswa PMII Universitas Nasional menawarkan inovasi melalui pendekatan yang mempertimbangkan konteks organisasi dan budaya saat membuat makna. Oleh karena itu, diharapkan bahwa penelitian ini akan memberikan kontribusi teoritis untuk studi resepsi media serta kontribusi praktis untuk meningkatkan kesadaran terhadap masalah kekerasan seksual di dunia pendidikan. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus pelecehan seksual di dunia pendidikan yang sekarang dibicarakan bukan hanya di media arus utama tetapi Hlm | 952 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal juga secara langsung diungkapkan oleh korban melalui media sosial. Unggahan akun X @tungtung1906, yang menceritakan pengalamannya sebagai korban pelecehan seksual di lingkungan kampus, adalah salah satu kasus yang menarik perhatian publik. Jumlah besar tanggapan masyarakat terhadap thread tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi platform penting untuk menyampaikan masalah sosial. Namun demikian, penelitian akademik yang mempelajari bagaimana mahasiswa Generasi Z merespons dan memaknai informasi seperti ini masih jarang dilakukan. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting tentang bagaimana mahasiswa merespon kasus tersebut dan apa saja komponen yang memengaruhi pemaknaan Oleh karena itu, rumusan masalah penelitian ini berpusat pada dua masalah utama: . bagaimana mahasiswa PMII Universitas Nasional menerima unggahan akun @tungtung1906 tentang pelecehan seksual di lingkungan akademik. bagaimana keadaan sosial dan budaya mahasiswa tersebut memengaruhi cara mereka memahami pesan media sosial. Penelitian ini menggunakan metode analisis resepsi untuk menemukan jawaban atas rumusan masalah. Analisis resepsi adalah metode yang digunakan untuk mengevaluasi tanggapan khalayak terhadap teks media. Metode ini menekankan proses pemaknaan yang aktif dan kontekstual. Khalayak sekarang bertindak sebagai interpretator yang memproses, menafsirkan, dan bahkan mendiskusikan pesan media. Dia tidak lagi hanya menerima informasi secara pasif. Prasetyo . menyatakan bahwa pendekatan ini bersifat kulturalis karena menganggap bahwa makna dibuat melalui interaksi antara latar belakang budaya, pengalaman hidup, dan posisi ideologis penerima pesan dengan teks media. Dalam hal ini, subjek penelitian adalah mahasiswa PMII, yang merupakan kelompok sosial dengan nilai-nilai kolektif dan budaya organisasi yang unik. Oleh karena itu, mereka kemungkinan besar akan memberi makna terhadap pelecehan seksual di media sosial dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan kelompok mahasiswa lainnya. Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori resepsi dari Stuart Hall . , khususnya dalam tulisannya AuEncoding/DecodingAy. Menurut Hall, komunikasi adalah rantai yang kompleks yang terdiri dari empat tahap: produksi, sirkulasi, konsumsi, dan reproduksi. Dalam proses ini, pesan dikodekan oleh media atau komunikator dengan ideologi dan nilai-nilai tertentu, kemudian didistribusikan di ruang publik dan dikonsumsi oleh khalayak, yang kemudian menginterpretasikan kembali atau mendekodekannya sesuai dengan posisi sosial dan pengalaman mereka. Tiga posisi berbeda di mana audiens dapat menerima pesan media: posisi dominan . i mana mereka sepenuhnya setuj. , posisi negosiasi . i mana mereka sebagian menerima dan sebagian menolak pesa. , dan posisi oposisi . i mana audiens sepenuhnya menolak pesan karena bertentangan dengan prinsip merek. Model ini memungkinkan peneliti memahami beragam interpretasi yang mungkin muncul dari teks media yang sama, khususnya dalam konteks isu sensitif seperti pelecehan seksual. Sebagai tambahan, penelitian ini juga memasukkan perspektif Denis McQuail tentang komponen yang memengaruhi bagaimana khalayak merespon media. McQuail . menyatakan bahwa cara seseorang memahami dan memberi makna terhadap suatu pesan dapat dipengaruhi oleh tempat tinggal mereka, kelompok demografis . sia, gender, pendidikan, dan pekerjaa. , serta jenis media atau saluran yang Dalam hal ini, mahasiswa PMII Universitas Nasional termasuk Generasi Z, yang terkenal dengan budaya digital dan media sosial seperti Generasi X. Mereka juga memiliki latar belakang ideologis unik dari organisasi mereka. Oleh karena itu, interpretasi mereka tentang kasus pelecehan seksual yang diungkapkan dalam unggahan akun @tungtung1906 sangat dipengaruhi oleh interaksi antara atribut media sosial mereka, pengalaman pribadi mereka, dan budaya organisasi mereka sebagai anggota mahasiswa Islam. Kerangka teori ini akan membantu peneliti mengeksplorasi lebih jauh bagaimana siswa membentuk makna, apakah mereka menerima, menegosiasi, atau menolak pesan yang disampaikan, dan makna sosial yang dihasilkan dari proses Metode Penelitian 1 Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif. Metode ini digunakan untuk menggambarkan dan memahami fenomena sosial yang diteliti, terutama tentang cara khalayak memahami teks media. Tujuan dari pendekatan ini, menurut Kusumastuti dan Khoiron (Kusumastuti & Khoiron, 2. , adalah untuk menguraikan fenomena secara menyeluruh dan mendalam dengan menekankan proses, konteks, dan makna dari sudut pandang partisipan. Analisis resepsi digunakan, yang melibatkan audiens untuk Hlm | 953 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal berpartisipasi aktif dalam membentuk makna teks media yang mereka terima. Dalam situasi ini, makna tidak selalu objektif atau tetap. sebaliknya, pengalaman, nilai, dan konteks sosial-budaya masing-masing audiens membentuk makna (Santoso, 2. 2 Fokus dan Subjek Penelitian Thread @tungtung1906 akun XAisebelumnya TwitterAiberisi cerita pribadi korban pelecehan seksual di lingkungan kampus. Sepuluh mahasiswa Universitas Nasional yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan aktif menggunakan media sosial X serta mengetahui dan mengikuti konten akun yang akan diresepsi adalah subjek penelitian. 3 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Universitas Nasional. Jakarta Selatan. Penelitian dilakukan dari Januari hingga Mei 2025, dan dimulai dengan persiapan, pengumpulan data, analisis, dan penyusunan laporan. 4 Teknik Pengumpulan Data Ada dua metode utama yang digunakan untuk mengumpulkan data: Wawancara Mendalam Sepuluh mahasiswa PMII dari Universitas Nasional diwawancarai dengan metode semi-terstruktur oleh peneliti. Sebuah wawancara langsung dilakukan dengan responden untuk mengetahui apa yang mereka pahami, persepsi, dan sikap tentang konten thread @tungtung1906 tentang pelecehan . Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung, yang terdiri dari: Tangkapan layar unggahan akun X di @tungtung1906 . Foto dari aktivitas wawancara . Buku, jurnal, dan artikel online yang relevan berkaitan dengan pelecehan seksual, media sosial, dan Gen Z. 5 Metode Analisis Data Model Miles dan Huberman 1. digunakan untuk melakukan analisis data dalam tiga tahap utama: Reduksi Data Proses mengumpulkan, memilih, dan menyederhanakan data dari dokumentasi dan hasil wawancara yang dianggap relevan dengan subjek penelitian. Penyajian Data Teori Stuart Hall tentang posisi dominan, negosiasi, dan oposisi digunakan untuk menyusun dan menampilkan data yang telah direduksi dalam matriks kategori resepsi dan narasi deskriptif. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi Sebelum menarik kesimpulan dari pola-pola yang ditemukan dalam data, peneliti menguji ulang konteks dokumentasi dan wawancara untuk memastikan bahwa maknanya benar. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Penelitian 1 Sejarah Singkat PMII UNAS Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang merupakan bagian dari Komisariat Universitas Nasional (UNAS), memiliki sejarah yang panjang dan terus berkembang. Organisasi ini sempat gagal setelah didirikan oleh Sahabat Umarsyah pada tahun 1980-an. Pada tahun 1990-an. Sahabat Djunaidi Sahal menghidupkan kembali PMII. Dia kemudian mengambil alih kepemimpinan Sahabat Bayu pada tahun 1997 dan Sahabat Capli pada tahun 1999. Meskipun demikian, keadaan internal organisasi kembali tidak stabil hingga gagal lagi pada tahun 2000. Sahabat Ali Abel merevitalisasi PMII UNAS pada tahun 2005. Sejak saat itu, dia aktif melakukan kaderisasi dan membangun struktur organisasi. Sejarah menunjukkan bahwa PMII UNAS adalah latar belakang organisasi yang unik. dinamika ini memengaruhi cara para informan berpikir dan bertindak terhadap masalah sosial, termasuk pelecehan seksual di media sosial. Hlm | 954 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Tabel 1. Informasi Informan No. Nama Nazwa Nur Annisa Risma Aulia Achmad Wahyu Ramadhan Randi Abi Usia Jurusan Ilmu Keperawatan Ilmu Keperawatan Ilmu Keperawatan Ilmu Keperawatan Ilmu Keperawatan Manajamen Manajemen Ilmu Keperawatan Agroteknologi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Ilmu Kesehatan Ilmu Kesehatan Ilmu Kesehatan Ilmu Kesehatan Ekonomi & Bisnis Ekonomi & Bisnis Ilmu Kesehatan Pertanian dan Biologi Ilmu Kesehatan 2 Resepsi Mahasiswa PMII UNAS terhadap Thread @tungtung1906 Posisi Dominan (Dominant-Hegemonic Readin. Lima informan menunjukkan posisi resepsi dominan, yang berarti mereka menerima semua pesan yang dikirim dalam thread @tungtung1906. Mereka percaya pelecehan seksual adalah masalah besar yang harus dibahas secara terbuka di platform digital publik. Selain itu, mereka menemukan bahwa media sosial dapat berguna untuk menyuarakan kebenaran dan mendukung korban. Informan II menyatakan bahwa keberanian korban untuk berbagi cerita merupakan langkah penting dalam pendidikan masyarakat. Ia mengatakan. AuKeberanian korban untuk berbicara itu luar biasa, menurut saya. Pengalaman seperti itu harus dibagikan agar masyarakat sadar dan belajar. Ay Informan IV juga menekankan bahwa media sosial dapat berfungsi sebagai alat untuk memperjuangkan keadilan. Ia menyebut. AuMedia sosial sekarang menjadi tempat yang sangat penting untuk menyuarakan keadilan. Tidak diragukan lagi bahwa korban yang berani berbicara membutuhkan dukungan. Ay Di sisi lain, informan VI, menyatakan dukungan penuh terhadap korban, tetapi menyarankan agar pengiriman dilakukan dengan tenang. Dia mengatakan. AuSaya mendukung korban untuk berbicara, tetapi saya pikir caranya harus tenang dan tidak emosional supaya pesannya tidak bias. Ay Kelima informan tersebut setuju bahwa kampus harus menjadi tempat aman, dan sekolah tidak boleh bertanggung jawab atas kasus pelecehan seksual. Posisi Negosiasi (Negotiated Readin. Lima informan lainnya menunjukkan sikap negosiasi. Meskipun mereka pada dasarnya mendukung pesan utama dari thread, mereka memberikan komentar kritis tentang cara penyampaian, keputusan yang dibuat korban, dan potensi dampak dari unggahan tersebut di media sosial. Posisi ini menunjukkan bahwa informan secara aktif mengubah makna pesan sesuai dengan kerangka berpikir dan prinsip organisasi dan pribadi mereka. Misalnya, meskipun Informan I mendukung korban, dia mengkritik keputusan korban untuk bertemu dengan pelaku di tempat yang tidak ramai. Menurutnya. AuSaya mendukung korban, tapi jujur saya agak bingung kenapa dia mau bertemu di tempat sepi. Saya pikir itu tidak bijak. Ay Sementara itu. Informan Vi mendukung keterbukaan terhadap identitas pelaku, dia mempertanyakan bagaimana korban terus berkomunikasi. Dia mengatakan. AuSaya setuju dengan pembukaan identitas pelaku, apalagi jika itu bisa mencegah kejadian serupa. Tapi saya agak ragu kenapa korban masih ingin bertemu dengan pelaku setelah Ay Informan X juga mengatakan hal yang sama, meskipun mereka mengakui pentingnya transparansi, mereka juga mempertimbangkan legalitas dan kekuatan bukti. Ia menyatakan. AuSaya mendukung transparansi dan pendidikan mengenai pelecehan, tapi kalau ke ranah hukum, buktinya harus kuat. Kita juga harus hati-hati jangan sampai fitnah. Ay Posisi negosiasi ini menunjukkan bagaimana informan terlibat secara signifikan dalam isi pesan. dukungan terhadap korban tetap disampaikan, tetapi juga mempertimbangkan kompleksitas situasi sosial dan etika digital. Posisi Oposisi (Oposition Readin. Tidak ada informan yang secara eksplisit menolak konten thread @tungtung1906. Namun demikian, beberapa informan menyuarakan kekhawatiran tentang efek negatif dari penyebaran informasi yang Hlm | 955 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal tidak terverifikasi secara menyeluruh. Sudut pandang ini tidak menolak substansi masalah pelecehan seksual itu sendiri, tetapi cenderung mengambil posisi oposisi parsial, menolak sebagian dari cerita atau penyampaian. Misalnya, informan VII menunjukkan kehati-hatian terhadap generalisasi, yang dapat terjadi dalam situasi di mana satu kasus diviralkan tanpa adanya klarifikasi institusional. Dia mengatakan. AuSaya khawatir, thread seperti ini bisa menimbulkan generalisasi. Jangan sampai semua institusi langsung dicap buruk karena satu kasus yang belum tentu valid. Ay Informan X juga khawatir tentang potensi pencemaran nama baik jika tuduhan tersebar sebelum ada bukti yang sah. Ia menyebut, "Bisa berbahaya jika langsung diviralkan tanpa bukti yang cukup. Bisa saja itu menjurus ke pencemaran nama baik. " Posisi ini menunjukkan bahwa informan menyadari masalah pelecehan seksual, tetapi mereka masih mempertimbangkan hukum, moral, dan reputasi institusional saat menerima pesan. 2 Pembahasan Penelitian ini menemukan bahwa mahasiswa PMII Universitas Nasional menanggapi thread akun X @tungtung1906 tentang pelecehan seksual terbagi ke dalam dua kategori besar, menurut teori resepsi Stuart Hall: posisi negosiasi dan posisi dominan. Tidak ada informan yang menunjukkan oposisi murni, yang menentang pesan secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa PMII UNAS menyadari pentingnya masalah pelecehan seksual, meskipun mereka memiliki tingkat penerimaan yang berbeda. Mahasiswa melihat media sosial sebagai alat penting untuk memperjuangkan keadilan dan mendukung keberanian korban dalam perspektif dominan. Pandangan ini sejalan dengan prinsip sosial keadilan yang mungkin muncul dari organisasi dan aktivisme seperti PMII, di mana sikap politik organisasi sering memperhatikan korban. Sementara itu, posisi negosiasi menunjukkan bahwa meskipun penyampaian masalah pelecehan seksual di media sosial didukung, siswa masih menilai tindakan individu dalam cerita. Sesuai dengan kerangka teori Stuart Hall, elemen seperti konteks pertemuan, ketepatan waktu unggahan, dan kekuatan bukti menjadi pertimbangan penting. Ini menunjukkan bahwa audiens aktif memaknai pesan berdasarkan latar sosialbudaya dan nilai pribadi mereka. Identitas kolektif PMII juga memengaruhi resepsi. Tampaknya latar belakang organisasi yang berbasis nilai keadilan sosial dan keislaman mendorong untuk mendukung korban sambil mempertahankan prinsip kehati-hatian, tanggung jawab individu, dan edukasi publik yang bijak. Dengan kata lain, siswa dalam penelitian ini tidak hanya menerima pesan. mereka juga bertindak sebagai pemakna yang menggunakan pengalaman sosial mereka, nilai budaya, dan pemahaman mereka tentang etika digital untuk membentuk ulang makna. Dengan demikian, temuan ini menunjukkan bahwa latar belakang ideologis dan pengalaman sosial mahasiswa PMII sangat memengaruhi cara mereka menerima pesan media sosial. 3 Kaitan dengan Tujuan Penelitian Penelitian ini menemukan bahwa kerangka teori resepsi Stuart Hall sangat penting untuk memahami bagaimana audiens membuat makna dari konten media. Dinamika tanggapan informan terhadap thread akun X @tungtung1906 menunjukkan ketiga posisi pembacaan: dominasi, perundingan, dan potensi opposisi. Dalam kasus ini, mahasiswa PMII UNAS menunjukkan sikap aktif sebagai pembaca media. mereka tidak menerima pesan secara pasif, tetapi justru membuat pemaknaan yang dipengaruhi oleh pengalaman pribadi mereka, prinsip organisasi, dan persepsi mereka tentang kredibilitas informasi. Hasil ini konsisten dengan apa yang dikatakan Balqis dan Samatan 2. , yang mengatakan bahwa audiens analisis resepsi tidak homogen dan cenderung aktif mengonstruksi makna berdasarkan apa yang mereka miliki. Hal ini terlihat dari cara para informan memfilter dan menilai isi thread tersebut dari segi etika, tanggung jawab personal, dan pengalaman organisasi. Lebih lanjut. McQuail . alam Hadi & Wahjudianata, 2. menyatakan pola pemaknaan dibentuk oleh elemen kontekstual dan demografis, seperti media yang digunakan, standar budaya, dan pendidikan. Dalam hal ini. PMII selain berfungsi sebagai ruang ideologis dan diskursif, juga berfungsi sebagai medan yang membantu membentuk kesadaran sosial informan. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa konfigurasi sosial dan ideologis audiens serta isi pesan memengaruhi resepsi media sosial. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa platform media sosial seperti Twitter, misalnya, tidak hanya tempat untuk Hlm | 956 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal berkomunikasi tetapi juga tempat untuk perlombaan makna dan perdebatan tentang masalah sensitif seperti pelecehan seksual. Dalam hal mengangkat pengalaman korban, literasi digital, kepekaan sosial, dan ketepatan naratif sangat penting. Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa PMII Universitas Nasional merespons pelecehan seksual yang diposting oleh akun X @tungtung1906 dengan cara yang beragam. Sesuai dengan teori resepsi Stuart Hall, mereka tidak menerima pesan secara pasif. Sebaliknya, mereka aktif memaknai isi thread berdasarkan nilai mereka sendiri, prinsip organisasi, dan konteks sosial mereka. Mayoritas informan berada dalam posisi dominan-hegemonik, menerima sepenuhnya isi pesan dan menganggap media sosial sebagai cara yang sah untuk menyuarakan keberanian korban dan mendorong lingkungan pendidikan yang lebih adil dan aman, dan mereka menerima sepenuhnya isi pesan. Sebagian lain berada di posisi negosiasi dan mendukung inti pesan, tetapi menekankan pentingnya kehati-hatian saat menyampaikan informasi, kelengkapan bukti, dan pertimbangan etis tentang bagaimana publikasi di ruang digital berpengaruh. Tidak ada informan yang secara langsung menolak isi pesan, tetapi ada kritik implisit terhadap cara pesan disampaikan atau keputusan yang dibuat korban tentang kasus yang dibicarakan secara terbuka. Latar belakang sosial, prinsip organisasi, dan pengalaman pribadi siswa memengaruhi pemahaman mereka tentang unggahan tersebut. Sebagai anggota PMII, mahasiswa menunjukkan kecenderungan untuk memadukan prinsip keadilan sosial, kepedulian pada korban, dan semangat advokasi dalam memahami Tampak bahwa budaya organisasi yang mendukung gerakan keadilan dan kesetaraan membentuk cara pandang proaktif dalam menangani kekerasan seksual. Hal ini terjadi sambil mempertahankan etika, kebenaran, dan tanggung jawab yang khas dari organisasi. Dunia digital juga memengaruhi cara orang menilai kredibilitas informasi dan bagaimana hal itu berdampak pada reputasi individu dan institusi Berdasarkan temuan ini, disarankan agar penelitian selanjutnya memperluas lingkup subjek dengan melibatkan organisasi mahasiswa lainnya untuk memperoleh perspektif resepsi yang lebih bervariasi, termasuk dari organisasi yang memiliki nilai-nilai ideologis berbeda. Untuk menilai kecenderungan posisi resepsi secara lebih menyeluruh dan sistematis, pendekatan kuantitatif atau metode campuran juga dapat Penelitian lanjutan juga dapat menyelidiki bagaimana variabel seperti jenis kelamin, pengalaman aktivisme, atau frekuensi penggunaan media sosial memengaruhi cara siswa memahami masalah sensitif di dunia digital. Ini dapat memberikan kontribusi lebih luas terhadap pengembangan literasi media kritis dan pendidikan keadilan gender di lingkungan akademik. Bibliografi Anindya. , & O. Dampak Psikologis dan Upaya Penanggulangan Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan. TIN: Terapan Informatika Nusantara, 1. APJII Jumlah Pengguna Internet Indonesia Tembus 221 Juta Orang. Balqis. , & Samatan. Pemaknaan Korban Kekerasan Seksual (Analisis Resepsi Audiens Terhadap Film Steps Ma. Ao. Jurnal Publisitas, 8. , 49Ae60. https://doi. org/10. 37858/publisitas. Bandjar Aprianto. , & Marentek. Dampak Penggunaan Twitter Terhadap Pembelajaran Bahasa Inggris (Ditinjau Dari Persepsi Mahasisw. Jurnal. Cahyani. Strategi Komunikasi Humas Pemerintah Kota Surabaya Dalam Melayani Dan Menggali Potensi Masyarakat Melalui Media SosialAo. Jurnal Ilmu Komunikasi, 10. Hadi. dan I. Indrayani. Komunikasi Massa. CV Penerbit Qiara Media. Hall. Encoding/Decoding. In Culture. Media. Language: Working Papers in Cultural Studies . 128Ae. Hutchinson & Co. Kartika. , & Najemi. Kebijakan Hukum Perbuatan Pelecehan Seksual (Catcallin. dalam Perspektif Hukum PidanaAo. PAMPAS: Journal Of Criminal, 1. Kusumastuti. , & Khoiron. Metode penelitian kualitatif. McQuail. McQuailAos Mass Communication Theory . th ed. Sage Publications. Miles. , & H. Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook . nd ed. Sage. Hlm | 957 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Nanda Delya. Aglevia Sakuri. , & Erine Sugiharto. ANALISIS RESEPSI KHALAYAK TERHADAP MAKNA MUALLAF PADA IKLAN ONLINE BUKALAPAK AuA Stranger-A Ramadan StoryAyAo. Jurnal CommLine, 07. , 43Ae56. Panjaitan. Dekadensi Moral di Lingkungan Akademik : Menyikapi Berbagai Kasus Kekerasan Seksual Perguruan TinggiAo. JCRD: Journal of Citizen Research and Development, 1. , 773Ae784. Pertiwi. RiAoaeni. , & Yusron. Analisis Resepsi Interpretasi Penonton terhadap Konflik Keluarga dalam Film AuDua Garis BiruAyAo. Jurnal Audiens, 1. https://doi. org/10. 18196/ja. Prasetyo. ANALISIS RESEPSI KHALAYAK TENTANG ISU. UNIVERSITAS TIDAR. Rusyidi. , & W. Pengalaman Dan Pengetahuan Tentang Pelecehan Seksual: Studi Awal Di Kalangan Mahasiswa Perguruan Tinggi (Experience and Knowledge on Sexual Harassment: a Preliminary Study Among Indonesian University Student. Share : Social Work Journal, 9. Santoso. ANALISIS RESEPSI AUDIENS TERHADAP BERITA KASUS MEILIANA DI MEDIA ONLINEAo. Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, 12. Stevany. Indonesia Pengguna X atau Twitter Terbanyak Keemapt di Dunia. Radio Republik Indonesia. https://rri. id/lain-lain/859350/indonesia-pengguna-x-atau-twitter-terbanyak-keempat-didunia. Suprihatin. , & Azis. Pelecehan Seksual Pada Jurnalis Perempuan di IndonesiaAo. PALASTREN Jurnal Studi Gender, 13. , 413. https://doi. org/10. 21043/palastren. Hlm | 958 das-institute.