PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. Pemberdayaan Perempuan Melalui Pembuatan Karawo Dalam Aspek Aksiologi Silfana abdul1. Hasim2. Mohamad Zubaedi3 1,2,3Universitas Negeri Gorontalo Email : Silfanaabdul8@gmail. ABSTRAK Pemberdayaan perempuan dilakukan oleh pemerintah memiliki tujuan sebagai solusi untuk menghadapi masalah yang ada pada perempuan yang mencakup pengetahuan, keterampilan serta pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh perempuan di bidang keterampilan kerajinan karawo di Desa Hutabohu Kecamatan Limboto barat. Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan data dilapangan program pemberdayaan perempuan melalui pembuatan karawo Di Desa Hutabohu dilakukan oleh pemerintah desa karena mempertimbangkan kondisi masyarakat seperti, keadaan pendidikan yang masih pada tataran pendidikan yang relatif rendah, dalam aspek ekonomi yang masih butuh pendampingan dari pemerintah, kurangnya pengetahuan masyarakat terkait dengan mengaktualisasikan potensi diri yang dimiliki, dengan melihat potensi yang dimiliki oleh perempuan yang sudah sejak lama di bidang kerajinan tangan maka pemerintah desa mengambil langkah tegas agar potensi yang dimiliki oleh sekelompok ibu rumah tangga ini akan terarahkan dengan baik sehingga mempunyai dampak yang positif bagi kehidupan kelompok pengrajin karawo tersebut. Yang diharapkan oleh pemerintah desa terkait dengan adanya pelaksanaan program pemberdayaan adalah kelompok ibu-ibu pengrajin karawo akan memiliki modal usaha sendiri, agar bisa memproduksi kerajinan karawo dengan brand sendiri, dan harapan yang kedua pemerintah desa berharap dengan adanya program pemberdayaan ini desa lebih dikenal sebagai desa penghasil karawo. Keyword : Pemberdyaan. Perempuan. Karawo ABSTRACT The Women's empowerment carry out by the government aims to address issues that faced by women, including the knowledge, skills, and the utilization of their potentials in the field of Karawo handicrafts in Hutabohu Village. West Limboto District. Gorontalo Regency. This research used qualitative method, with the data collection techniques including observation, interviews, and documentation. Based on field data, the women's empowerment program through Karawo handicraft making in Hutabohu are implemented by the village government, taking into account the community conditions, such as relatively low level of education. It need for economic support from the government, and the lack of community knowledge related to actualizing their potential. Recognizing the long-standing skill in handicrafts among the women, the village government took decisive steps to ensure that the potential of these housewives would be well the directed, produces positive impact on the lives of the Karawo The village government hopes that, through the empowerment program, the Karawo craftswomen group will have their own business capital to produce Karawo crafts by their own brand. In Addittion the government Village hopes this empowerment program will take the village more widely recognized as a producer of Karawo. keywords: Empowerment. Women. Karawo A 2024 Silfana abdul. Hasim. Mohamad Zubaedi Under the license CC BY-SA 4. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 57 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. PENDAHULUAN Pemberdayaan perempuan adalah konsep yang berfokus pada proses pendidikan untuk meningkatkan kualitas individu atau kelompok, sehingga mereka dapat mandiri,memiliki daya saing dan menjalani hidup secara mandiri, tujuan dari pemberdayaan ini adalah untuk menjadikan perempuan lebih mandiri dan memperbaiki berbagai aspek kehidupan mereka, dengan cara mengembangkan potensi yang dimiliki agar mampu mengatasi berbagai masalah dan memenuhi kebutuhan tanpa bergantung pada orang lain. Program pemberdayaan perempuan melalui pembuatan karawo di Desa Hutabohu. Kecamatan Limboto Barat. Kabupaten Gorontalo dilakukan karena berdasarkan beberapa alasan yang berdasar pada temuan-temuan dilapangan misalnya kualitas pendidikan masyarakat yang masih relatif rendah, keadaan ekonomi yang belum memadai, meningkatnya tingkat pengangguran. SDM yang memiliki potensi tapi masih memerlukan pendampingan dari pemerintah, hal inilah yang mendorong pemerintah desa untuk terus melakukan proses pembangunan untuk menciptakan SDM yang mandiri dan kreatif. Kondisi desa ini. Desa Hutabohu. Kecamatan Limboto Barat. Kabupaten Gorontalo, dengan memiliki luas wilayah 711 Ha. Dengan Jumlah Penduduk 718 jiwa, yang terdiri dari jumlah penduduk laki Ae laki sebanyak 1800 jiwa, dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 1. 918 jiwa. Berdasarkan data mata pencaharian penduduk desa Hutabohu. Kecamatan Limboto Barat. Kabupaten Gorontalo, sebagian besar masyarakat yang berprofesi sebagai petani dengan jumlah sebnyak 342, berdasarkan data tingkat pendidikan sebnyak 1. 018 orang tamat SD, 241 orang tamat SMP,618 orang tamat SMA/SLTA, dan yang berhasil menamatkan pendidikan hingga di perguruan tinggi itu sebanyak 103 orang , dan yang tidak sekolah sebanyak 172 orang (Profil Desa Hutaboh. Ao Berdasarkan uraian diatas, kondisi masyarakat cukup memprihatinkan sehingga perlu dilakukan Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana proses Pemberdayaan Perempuan Melalui Pembuatan Karawo yang dilakukan oleh pemerintah Desa Hutabohu. METODE PENELITIAN Waktu Dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan sepetember 2024, yang dilakukan Di Desa Hutabohu. Kecamatan Limboto Barat. Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo. Subjek Penelitian adalah yang menjadi subjek pengamatan dalam penelitian ini Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 58 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. adalah Kelompok Ibu-Ibu pengrajin karawo Di Desa Hutabohu. Kecamatan Limboto Barat. Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo. Metode penelitian adalah serangkaian kegiatan yang mencakup pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang merupakam landasan bagi berbagai jenis metode penelitian lainnya, dan diterapkan untuk menyelidiki kehidupan sosial secara alami atau dalam konteks alamiah (Sugiyono:361:2. Teknik Pengumpulan Data Metode penelitian kualitatif yaitu metode yang berfokus pada pengamatan mendalam untuk memahami fenomena secara komprehensif. Metode ini menekankan pada makna, proses, dan perspektif subjek penelitian, dibandingkan dengan penelitian kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk setiap wanita yang hidup dalam kemiskinan keberhasilan setelah melalui berbagai program pemberdayaan dapat di ukur dengan 3 indikator. Pertama, indikator keluaran yang menunjukan bahwa pemberdayaan telah dilaksanakan untuk sejumlah wanita miskin, kedua indikator hasil yang terlihat ketika wanita-wanita tersebut mampu menjalankan usaha produktif sesuai dengan keterampilan yang dimiliki, ketiga indikator dampak, yang terlihat ketika mereka dapat menjalani kehidupan yang layak, mengembangkan usaha, berpartisipasi dalam organisasi komunitas serta membantu wanita lain yang masih terjebak dalam kondisi lemahnya (Saugi & Sumarno, 2. Ao Konteks Pemberdayaan perempuan dilakukan di Desa Hutabohu. Kecamatan Limboto Barat. Kabupaten Gorontalo, dengan memiliki luas wilayah 711 Ha. Dengan Jumlah Penduduk sebanyak 3. 718 jiwa, yang terdiri dari jumlah penduduk laki Ae laki sebanyak 1800 jiwa, dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 1. 918 jiwa . Berdasarkan data mata pencaharian penduduk desa Hutabohu. Kecamatan Limboto Barat. Kabupaten Gorontalo, sebagian besar masyarakat yang berprofesi sebagai petani dengan jumlah sebnyak 342, berdasarkan data tingkat pendidikan sebnyak 1. 018 orang tamat SD, 241 orang tamat SMP,618 orang tamat SMA/SLTA, dan yang berhasil menamatkan pendidikan hingga di perguruan tinggi itu sebanyak 103 orang , dan yang tidak sekolah sebanyak 172 orang (Profil Desa Hutabohu,Ay N. Ao Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 59 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. Berdasarkan data dilapangan bahwa tampak dengan jelas, bahwa tingkat pendidikan yang dominan di Desa Hutabohu lulusan SD, hal ini membuat pemerintah desa setempat untuk mewadahi agar potensi yang dimiliki oleh masyarakat ini terarah dengan baik, walaupun masih dalam tahap perencanaan dan pemberkasan dan disambut sangat antusias oleh Langkah awal yang dilakukan oleh pemerintah desa yaitu dengan membuat 2 kelompok untuk pengrajin karawo, meskipun program ini masih dalam perencanaan,tidak menyurutkan niat masyarakat untuk terus mengembangkan potensi diri yang mereka miliki sejak lama sebagai pengrajin karawao, adapun cara kerja kelompok pengrajin karawo di desa hutabohu yaitu mereka memproduksi karawo sesuai dengan jumlah permintaan dari konsumen,dimana konsumennya berasal dari instansi tertentu dan sekolah, yang menyediakan kain dan menggunakan jasa para pengrajin karawo yang nantinya akan di bayarkan dengan kisaran harga sebesar RP. 000 bahkan sampai 250. 000, sehingga pendapatan para kelompok pengrajin karawo bisa mencapai Rp. 000/bulan tentu dengan angka ini sudah dapat membantu mereka dalam pemenuhan kehidupan ekonomi sehari-hari walaupun masih jauh dalam kata cukup, sebagian ibu-ibu yang termasuk dalam kelompok pengrajin karawo yang ada di desa hutabohu. Kecamatan Limboto Barat. Kabupaten Gorontalo,Provinsi Gorontalo adalah perempuan yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang memanfaatkan keterampilan yang mereka miliki untuk membantu perekonomian keluarga melalui pembuatan karawo. Berdarsarkan data dilapangan bahwa kelompok pengrajin ini masih memiliki keterbatasan modal usaha untuk mengembangkan usaha kerajinan karawo, masih butuh pendampingan dari pemerintah setempat untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki, program pemberdayaan ini masih dalam tahap perencanaan,namun sudah menemukan langkah awal untuk pelaksanan program yang di buktikan dengan terbitnya SK pelaksanaan program, akan menunggu instruksi selanjutnya dari pemerintah untuk pelaksanaan program ini, mengingat antusias masyarakat yang sangat besar maka pemerintah desa terus mengupayakan bahwa program ini akan cepat terlaksana agar para pengrajin karawo ini bisa mengembangkan potensi mereka dan memiliki usaha dibidang yang sesuai dengan potensi yang mereka miliki yaitu memproduksi kerjinan karawo. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 60 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. Karawo merupakan produk tenunan yang dihasilkan oleh masyarakat melalui kreatifivitas dalam mendesain dengan benang secara turun temurun . Kerajinan ini adalah bagian dari budaya masyrakat gorontalo dan terus dikembangkan oleh warga Provinsi Gorontalo, terutama di Kabupaten Gorontalo yang menjadikannya sebagai simbol pelestarian budaya melalui kerajinan tangan (DJAFRI & NAWAY, 2. Ao Langkah-Langkah Pembuatan Karawo Pemilihan Bahan Kain Pemulihan Kain adalah merupakan langkah awal yang dilaksanakan pada saat membuat kerajinan tangan karawo, karena tidak semua jenis kain dapat digunakan untuk membuat kerjinan karawo. Proses iris atau Pencabutan benang Proses iris atau pencabutan benang adalah langkah ke 2 pada saat membuat kerajinan kain karawo, langkah ini dilakukan dengan cara yaitu mengiris dan mencabut benang pada serat kain yang akan di beri motif kain, ini adalah tahap yang paling sulit dan membutuhkan kesabaran serta ketelitian yang tinggi karena pada proses iris ini tidak sembarang melakukan iris atau pencabutan benang pada serat kain melainkan harus mengikuti pola agar motif krawang ya ng di hasilkan lebih maksimal. Proses Penyulaman karawo Proses Penyulaman Karawo adalah menjadi proses paling inti karena pada langkah ini pengrajin sudah mulai mendesain setiap motif yang indah dengan menggunakan benang yang indah berdasarkan pola yang sudah di tentukan dengan tangan terampil yang telah dimilikinya diatas kain yang sudah melalui proses iris dan pencabutan benang. Proses Ikat Benang Proses Ikat Benang adalah Proses yang dilakukan di tahap akhir sebagai tahap finising yang bertujuan agar hasil penyulaman karawo terlihat kokoh dan kuat. Pada dasarnya manfaat pemberdayaan dapat dilihat dari ouput dari para sasaran penerima program pemberdayaan, adapun pencapaian yang ingin di capai dan di harapkan oleh pemerintah, berdasarkan data dilapangan yaitu harapanya dengan adanya program pemberdayaan perempuan melalui pembuatan karawo ini para kelompok Ae kelompok ibu-ibu pengrajin karawo yang menjadi sasaran program bisa memanfaatkan potensi yang mereka miliki ini dengan baik seperti memiliki bahan-bahan untuk Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 61 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. menghasilkan kerajinan karawo itu sendiri karena untuk saat ini para kelompok pengrajin karawo ini, konsepnya setiap mereka memproduksi kerajinan karawo mereka hanya menerima upah berdasarkan terget kerja dalam artian setiap mereka berhasil membuat kerajinan karawo transaksi yang di dapat dari para konsumen yaitu hanya berfokus pada upah jasa kerja, hal inilah yang mendorong pemerintah desa berusaha untuk melakukan program pemberdyaan ini agar menjadi wadah masyarakat pengrajin karawo untuk memanfaatkan potensi yang mereka miliki dengan baik dan terarah untuk peningkatan ekonomi dan taraf hidup mereka menjadi lebih baik, karena harapanya dengan adanya pemberdayaan ini kelompok ibu-ibu pengrajin karawo di desa hutabohu ini sudah mampu menghasilkan kerjinan karawo dengan bahan Ae bahan kain milik mereka sendiri dan statusnya bukan lagi penerima upah kerja melainkan punya usaha sendiri dibidang kerajinan karawo, selain peningkatan taraf hidup bagi masyarakatnya pemerintah desa punya harapan dengan adanya program pemberdayaan ini bisa menjadi wadah untuk mengangkat nama desa agar dikenal sebagai desa penghasil karawo. Pemberdayaan dapat di definisikan sebagai proses untuk memberikan kekuasaan, mentrasfer kekuatan atau mendelegasikan wewenang kepada pihak lain, selain itu pemberdayaan juga berarti memberikan kemampuan dan memfasilitasi agar seseorang dapat berdaya (Yani, 2. Ao Pemberdayaan perempuan merupakan respon terhadap kebutuhan akan keadilan sosial dan gender, perempuan yang tertindas dan tidak memiliki kebebasan untuk memilih dan bertindak dalam membentuk kehidupan mereka, serta untuk membahas partisipasi perempuan di seluruh dunia (Mackey & Petrucka, 2. Ao Pemberdayaan perempuan adalah sebuah proses dimana perempuan yang mengalami penindasan memperoleh kemampuan untuk membuat pilihan hidup yang otonom dan strategis berdasarkan prioritas pribadi mereka (Mackey & Petrucka, 2. Ao Pemberdayaan berfokus pada upaya untuk memberdayakan individu, terutama kelompok yang rentan dan lemah agar mereka dapat mengaksese sumber daya produktif, hal ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan mereka dan memenuhi kebutuhan barang dan jasa yang di perlukan(Sulistyowati, 2. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 62 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. Pemberdayaan perempuan hakikatnya adalah suatu proses yang dilakukan untuk memberikan perubahan-perubahan positif dalam kehidupan sasaran penerima program, ada harapan dan tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah setelah program pemberdyaan dilakasanakan, adapun tujuan yang ingin di capai seperti peningkatan ekonomi dan taraf hidup masyarakat menjadi lebih baik, hal ini dapat terwujud karena adanya pendampingan dan penanganan yang tepat dari pemerintah kepada kelompok masyarakat yang dinilai memerlukan langkah ini Pemberdayaan Perempuan Dalam Tinjauan Nilai- Nilai Ilmu Filsafat Aksiologi Pengertian pemberdayaan perempuan juga dapat dilihat dari prespektif aksiologi sebagaimana kita ketahui aksiologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari bagaimana manusia memanfaatkan pengetahuan dan ilmunya, aksiologi sendiri merupakan bagian dari filsafat yang menganalisis hakikat nilai-nilai yang mencakup nilai kebaikan,kebenaran keindahan atau estetika (Uswatun, 2. Ao Nilai Kebaikan dalam cabang ilmu aksiologis dilihat dari sudut pandang pemberdayaan perempuan yaitu dapat membuat para sasaran penerima program ini bisa meningkatkan kualitas ekonomi mereka melalui keterampilan yang mereka miliki ini sehingga mereka bisa mandiri. Nilai kebenaran dalam cabang ilmu aksiologis dilihat dari sudut pandang pemberdayaan perempuan yaitu program ini bisa menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengangkat potensi budaya lokal daerahnya agar semakin dikenal oleh masyarakat luas. Nilai Keindahan atau estetika cabang ilmu aksiologis dilihat dari sudut pandang pemberdayaan perempuan yaitu dalam program ini perempuan memiliki suatu keterampilan yang bisa dijadikan sebagai kerajinan yang akan menjadi ciri khas Langkah-Langkah Pemberdayaan Perempuan Pemberdayaan Pemberdayaan tahapan-tahapan sementara,berlangsung kemandirian,setelah itu mereka diberi kebebasan untuk mandiri, meskipun tetap di pantau Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 63 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. agar tidak kembali ke kondisi sebelumnya. Dari pandangan ini dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan melibatkan proses pembelajaran yang bertahap hingga individu mencapai status mandir. Namun, untuk memastikan kemandirian tersebut tetap terjaga, penting untuk terus memelihara semangat, kondisi dan kemampuan mereka agar tidak mengalammi seperti yang telah di ungkapkan sebelumnya, proses pembelajaran dalam pemberdayaan dilakukan secara bertahap . (Sumodingningrat 2004:. Ao Langkah Ae Langkah yang harus dilalui tersebut adalah meliputi: Tahap kesadaran dan pembentukan perilaku yang mengarah pada sikap sadar dan peduli sehingga merasa perlu untuk meningkatkan kapasitas diri mereka . Tahap transformasi kemampuan yang mencakup pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan untuk memperluas wawasan dan memberikan keterampilan dasar agar dapat berkontribusi pembangunan. Tahap peningkatan intelektual dan keterampilan yang mendorong munculnya inisiatif dan kemampuan inovatif, yang akan mengarah pada kemandirian. Berikut ini langkah-langkah pemberdayaan perempuan melalui pelatihan menurut Kamil . Peserta pelatihan dilatih agar memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi Peserta pelatihan dilengkapi dengan berbagai keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi Peserta pelatihan selalu diajarkan untuk selalu berkaloborasi dan menyelesaikan Manfaat program pemberdayaan bukan semata-mata hanya untuk meningkatkan kemampuan setiap individu atau kelompok akan tetapi untuk menjadi salah satu alternatif untuk langkah pengentas an kemiskinan, karena hanya melalui pendekatan pemberdyaan perempuan penutntasan kemiskinan dapat dilakukan,karena dalam proses ini semua potensi yang dimiliki perepmuan didorong dan ditingkatkan untuk melawan faktor-faktor yang menyebabkan kemiskinan, bukan itu saja manfaat pemeberdayan perempuan adalah untuk menjadikan perempuan tidak bergantung pada orang lain atau lebih mandiri dan produktif (Alawiyah, 2. Manfaat pemberdayaan perempuan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 64 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. adalah sebagai kebijakan pemerintah untuk memampukan perempuan dalam berpartisipasi dalam pengembangan secara aktif tanpa menghapus peran reproduktif mereka (Hubeis :2018: . SIMPULAN Berdasarkan data dilapangan program pemberdayaan perempuan melalui pembuatan Karawo Di Desa Hutabohu sengaja dilakukan oleh pemerintah desa karena mempertimbangkan kondisi dan keadaan masyarakat khususnya perempuan yang ada di desa tersebut, keadaan pendidikan yang masih pada tataran pendidikan yang relatif rendah, dalam aspek ekonomi yang masih butuh pendampingan dari pemerintah, kurangnya pengetahuan masyarakat terkait dengan pengelolaan atau pemanfataan potensi diri yang dimiliki, untuk itu dengan melihat potensi yang dimiliki oleh masyarakat dalam hal ini ibu-ibu yang memiliki potensi diri dalam kerajinan tangan yang sudah diwariskan secara turun- temurun maka pemerintah desa mengambil langkah tegas agar potensi yang dimiliki oleh sekelompok ibu rumah tangga ini akan terarahkan dengan baik sehingga mempunyai dampak yang positif bagi kehidupan kelompok pengrajin karawo tersebut, adapun harapan yang diharapkan oleh pemerintah desa terkait dengan adanya pelaksanaan program pemberdayaan ini pemerintah desa berharap bahwa kelompok ibu-ibu pengrajin karawo akan memiliki modal usaha sendiri dan agar bisa memproduksi kerajinan karawo lebih banyak lagi dengan brand sendiri, dan harapan yang kedua pemerintah desa berharap dengan adanya program pemberdayaan ini wilayah atau desa lebih dikenal sebagai desa penghasil karawo. REFERENSI