Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 41-47 Contents list available at JKP website Jurnal Kesehatan Perintis Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JKP Keyakinan Diri Ibu Menyusui terhadap Pemberian ASI Eksklusif Restu Sakinah. Helmizar Helmizar*. Azrimaidaliza Azrimaidaliza Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Andalas. Sumatra Barat. Indonesia Article Information : Received 17 May 2024. Accepted 29 June 2024. Published online 30 June 2024 *Corresponding author: helmizar@ph. ABSTRAK Kegagalan pemberian ASI eksklusif dapat disebabkan oleh banyak faktor. Rendahnya keyakinan diri ibu menyusui menjadi salah satu faktor yang penting untuk digali kaitannya dengan kegagalan pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keyakinan ibu menyusui dengan ASI eksklusif. Desain penelitian adalah case control, dengan kelompok kasus adalah ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif sedangkan kelompok control adalah ibu yang gagal memberikan ASI eksklusif . Populasi penelitian ini adalah ibu menyusui yang memiliki anak usia 0-24 bulan di wilayah kerja Puskemas Belimbing. Puskesmas KPIK. Puskesmas Andalas. Puskesmas Kuranji, dan Puskesmas Nanggalo yang berjumlah 217 orang. Berdasarkan perhitungan sampel Lameshow, didapatkan 200 orang ibu hamil yang dikategorikan menjadi kelompok kasus dan Hasil penelitian didapatkan ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif sampai anak usia 6 bulan adalah sebanyak 100 ibu . %). Berdasarkan uji Chi Square, didapatkan hubungan yang signifikan antara keyakinan diri ibu dalam memberikan ASI eksklusif dengan keberhasilan pelaksanaan ASI eksklusif selama 6 bulan . <0,. Begitu juga dengan persepsi ibu terhadap kepuasan anak mendapatkan ASI juga berhubungan signifikan dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif . <0,. Oleh karena itu, dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara keyakinan ibu dengan ASI Dengan adanya kepercayaan diri ibu dan kepuasan anak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan ASI eksklusif. Kata kunci : ASI eksklusif, keyakinan ibu, kepuasan bayi, keinginan ibu ABSTRACT Failure to provide exclusive breastfeeding can be caused by many factors. The low selfefficacy of breastfeeding mothers is an important factor to explore in relation to failure to provide exclusive breastfeeding. This study aims to determine the relationship between breastfeeding self efficacy and exclusive breastfeeding. The research design was case control, with the case group being mothers who succeeded in providing exclusive breastfeeding while the control group was mothers who failed to provide exclusive The population of this study were breastfeeding mothers who had children aged 0-24 months in the working areas of the Belimbing Health Center. KPIK Health Center. Andalas Health Center. Kuranji Health Center, and Nanggalo Health Center, totaling 217 A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 41-47 Based on sample calculations, 200 pregnant women were categorized into case and control groups. The research results showed that there were 100 mothers who succeeded in providing exclusive breastfeeding until their child was 6 months old . %). Based on the Chi Square test, a significant relationship was found between mothers' self-efficacy in providing exclusive breastfeeding and the success of implementing exclusive breastfeeding for 6 months . <0. Likewise, the mother's perception of the child's satisfaction with breast milk is also significantly related to the success of exclusive breastfeeding . <0. Therefore, from this research it can be concluded that there is a significant relationship between motherAos breastfeeding self efficacy and exclusive breastfeeding. The mother's self-confidence and child satisfaction have a significant influence on the success of exclusive breastfeeding. Keywords: Exclusive breastfeeding, self efficacy, babysAo satisfaction, mothers whises PENDAHULUAN World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian Air Susu Ibu (ASI) saja sebagai sumber makanan utama anak pada enam bulan pertama kehidupan anak (Amir et al. , 2. Pemberian ASI eksklusif memberikan banyak manfaat terhadap tumbuh kembang anak (WHO. Kandungan gizi ASI yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi yaitu protein, lemak, elektrolit, enzim, dan hormon. Protein utama dalam ASI berbentuk cair atau yang disebut dengan whey (Lukman et al. , 2. Selain mempunyai kandungan gizi yang sempurna. ASI juga memiliki zat kekebalan yang sangat diperlukan untuk melindungi dari berbagai penyakit terutama penyakit infeksi (Melanty. Data global menunjukkan anak yang mendapatkan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan mencapai 48%, sudah mendekati target World Health Assembly (WHA) untuk mencapai target 50% ASI eksklusif pada Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2013, persentase pemberian ASI saja sampai anak usia enam bulan terus menurun setiap penambahan usia anak (Litbangkes, 2. Anak usia 0 bulan yang mendapatkan ASI saja pada hanya 52,7%, pada anak usia 1 bulan menurun menjadi 48,7%, pada usia 2 bulan kembali menurun menjadi 46%, pada anak usia 3 bulan menjadi 42,2%, pada anak usia 5 bulan menjadi 36,6%, dan pada usia 6 bulan hanya 30,2% (WHO, 2. Persentase bayi yang mendapatkan ASI eksklusif pada tahun 2023 di Sumatera Barat berdasarkan data Survey Kesehatan Indonesia (SKI) adalah 63,3% (BKPK. Berdasarkan data profil kesehatan Kota Padang tahun 2022 Bayi yang berumur 0-6 bulan yang tercatat dalam register pencatatan pemberian ASI ekslusif tahun 2022 adalah sebanyak 9. 065 orang . (Dinkes, 2. Kegagalan ASI eksklusif merupakan salah satu masalah yang kerap terjadi. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan ASI eksklusif adalah kondisi ibu seperti percaya diri atau keyakinan ibu dalam memberikan ASI (Rahayu, 2. Menurut Dennis tahun 2003. Keyakinan Ibu Menyusui adalah keyakinan seorang ibu terkait kemampuannya menyusui bayinya dan memperkirakan apakah ibu memilih untuk menyusui atau tidak, berapa banyak usaha yang dikeluarkan, kemampuan untuk meningkatkan atau tidak, dan bagaimana menanggapi kesulitan menyusui secara (Dennis. Sumber informasi atau faktor pembentuk keyakinan ibu atau dimaknai efikasi, diri meliputi pencapaian prestasi, pengalaman orang lain, persuasi verbal, dan respon psikologis (Dennis, 2. Keyakinan ibu menyusui yang masih rendah dan tindakan menyusui yang belum efektif sering terjadi pada ibu yang belum pernah mempunyai sebelumnya . Ibu dengan pengalaman pertama menyusui seringkali sangat sensitif terhadap segala bayinya, sehingga mudah terprovokasi dengan berbagai anggapan yang negatif seperti, bayi tidak akan cukup kenyang bila hanya mendapat ASI, apalagi di awal periode postpartum ibu hanya memproduksi kolostrum yang berjumlah sedikit atau bahkan belum mengeluarkan ASI. Ibu dengan harapan yang tinggi tentang A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 41-47 perawatan bayi yang optimal, tetapi tidak dukungan yang menyebabkan ibu jatuh pada kondisi periode postpartum . ostpartum blue. (Rahmadani and Sutrisna, 2. Penelitian yang dilakukan Elsi dan Marlin pada tahun 2022 menemukan bahwa semakin baik keyakinan pada ibu menyusui maka semakin besar keberhasilan ASI eksklusif pada bayi. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dwi Rahayu . yang menunjukan BSE ibu menyusui keberhasilan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas dengan dengan sampel di bawah 50 orang(Rahayu, 2018. Lestaluhu, 2023. Susanti et al. , 2. Berbeda dengan penelitian ini yang berlokasi di 5 lokasi Puskesmas dengan jumlah sampel lebih banyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara keyakinan ibu menyusui dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas di Kota Padang. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode analitik dengan pendekatan case control. Pengumpulan data primer pada studi ini dilakukan wilayah kerja Puskesmas yang tersebar di Kota Padang yang dimulai dari bulan April 2023 Ae September 2023. Adapun lokasi penelitian ini yaitu di tiga wilayah kerja puskesmas yang berdasarkan data merupakan wilayah lokus stunting yaitu wilayah kerja Puskemas Belimbing. Puskesmas KPIK. Puskesmas Andalas. Puskesmas Kuranji. Puskesmas Nanggalo yang tersebar di pusat dan pinggiran di Kota Padang. Populasi penelitian adalah ibu menyusui yang memiliki anak usia 0-24 bulan yang ada di lokasi penelitian yang berjumlah 217 Setelah dilakukan perhitungan sampel dengan teknik random sampling menggunakan rumus Lameshow didapatkan sampel berjumlah 200 ibu (Dahlan, 2. Jumlah kasus adalah 100 orang ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif dan jumlah kontrol adalah 100 orang ibu yang gagal memberikan ASI eksklusif dengan rasio 1 berbanding 1. Kriteria inklusi dan eksklusi kasus dan kontrol adalah ibu yang memiliki anak usia 6-24 bulan yang bersedia untuk dilakukan wawancara. Pengumpulan data secara langsung instrumen berupa kuesioner yang sudah terstandar yaitu kuesioner Breastfeeding Self Efficacy Short Form (Handayani et al. Kuesioner terdiri dari 12 pertanyaan terkait keinginan ibu menyusui, keyakinan ibu menyusui, dan persepsi ibu terhadap kepuasan bayi mendapatkan ASI. Data yang terkumpul dilakukan pemeriksaan dan dilakukan pengkategorian menjadi 3 kategori yaitu keinginan ibu untuk memberikan ASI, kepercayaan ibu untuk memberikan ASI, dan persepsi ibu terhadap kepuasan bayi menerima ASI. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan adanya hubungan antar variabel diketahui dari nilai p < 0,05 dengan tingkat kemaknaan 95%. Pengolahan data menggunakan sistem Protokol penelitian disetujui oleh Komisi Etik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas Nomor B/37/UN. D/PT. 00/2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Seluruh responden pada penelitian ini dikelompokkan menjadi kelompok kasus Karakteristik reponden dapat dilihat pada tabel 1. Pada tabel 1 dapat diketahui karakteristik responden yang dikategorikan ke kelompok kasus . orang ib. berada pada usia berisiko atau >35 tahun sebanyak 15% dan tidak berisiko atau < 35 tahun sebanyak Sedangkan kelompok kontrol . orang ib. berada pada kelompok usia berisiko atau >35 tahun sebanyak 14% dan tidak berisiko atau < 35 tahun sebanyak Responden dengan tingkat pendidikan rendah (SMP ke bawa. sebanyak 13% pada kelompok kasus dan 11% pada kelompok kontrol. Ibu yang bekerja pada kelompok kasus adalah sebanyak 14% dan kelompok kontrol sebanyak 34%. Ibu dengan paritas >2 sebanyak 38% pada kelompok kasus dan 28% pada kelompok Seluruh responden pada penelitian ini berada pada usia produktif yaitu rentang 1543 tahun. Berdasarkan tabel 1, ibu yang memiliki bayi masih ada yang berada pada kelompok usia berisiko untuk hamil dan A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 41-47 Tabel 1. Karakteristik Responden . Variabel Kasus (ASI Eksklusi. Kontrol (Tidak ASI Eksklusi. Usia ibu Berisiko Tidak Berisiko Pendidikan Ibu Rendah Tinggi Pekerjaan Ibu Tidak Bekerja Bekerja Paritas O2 melahirkan yaitu usia >35 tahun. Usia optimal untuk hamil, melahirkan, dan menyusui bagi ibu adalah 20-35 tahun dan biasanya disebut sebagai usia reproduksi Hal ini dikarenakan pada pada masa ini organ reproduksi dan psikologi ibu telah siap untuk menerima kehadiran bayi. Sehingga usia ini merupakan usia yang tepat dalam memberikan ASI secara Tingkat kesuksesan praktik ASI selama enam bulan lebih tinggi pada ibu yang berusia muda dibandingkan usia tua. Selain itu, semakin meningkatnya usia ibu dikaitkan dengan semakin bertambahnya pengalaman dalam menyusui, matangnya pola pikir dan bekerja (Bahriyah et al. , 2017, Hidayati, 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Helmizar, dkk pada tahun mempengaruhi pemberian ASI eksklusif adalah pekerjaan ibu, pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dan dukungan orang tua (Helmizar et al. , 2. Tingkat pendidikan ibu tidak menjamin keberhasilan dalam pemberian ASI eksklusif untuk bayinya, namun pendidikan dapat menjadi salah satu penyebab terhambatnya pemberian ASI eksklusif. Pendidikan ibu yang rendah diketahui dari pendidikan formal yang ditamatkan ibu yaitu pendidikan SD dan SMP (Farida et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Cik Angkut pada tahun 2020 menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan rendah sebanyak 28% tidak memberikan ASI eksklusif kepada Sedangkan ibu dengan tingkat pendidikan tinggi hanya 18% yang tidak memberikan ASI eksklusif. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, dimana makin tinggi pendidikan seseorang maka akan makin mudah dalam menerima informasi (Angkut, 2. Namun, ibu yang berpendidikan tinggi dan tidak memberikan ASI secara eksklusif juga beranggapan bahwa memberikan ASI saja pada bayi tanpa memberikan makanan tambahan di usia 0-6 bulan tidak akan cukup untuk membantu mencukupi gizi selama periode tumbuh kembang bayi secara baik, apalagi untuk ibu yang jarang di rumah. Salah satu faktor yang mempengaruhi niat dalam menyusui adalah pengalaman dan paritas. Paritas adalah jumlah kelahiran janin yang memenuhi syarat untuk melangsungkn kehidupan. Ibu yang tidak berhasil dalam menyusui anak pertama akan sulit untuk menyusui anak berikutnya karena adanya sikap dan pengalaman yang dialami oleh ibu yang kurang baik pada (Nuzrina. Prawirohardjo, 2. Menurut Bobak, dkk pada tahun 2004 dalam bukunya bahwa kecendrungan ibu primipara untuk tidak memberikan ASI eksklusif lebih tinggi dibandingkan ibu multipara yang berkaitan Ibu menyusui yang tidak berpengalaman atau belum pernah melakukan kontak dengan bayi baru lahir cenderung akan mengalami masalah dalam menyesuaikan diri terhadap usaha menyusui (Bobak et al. , 2. Kategori usia anak dikelompokkan menjadi anak usia 0-6 bulan yang didapat Tabel 2. Karakteristik Anak Variabel Usia Anak (Bula. 0Ae6 7Ae9 9 Ae 12 12 Ae 24 Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Kontrol (Tidak ASI Eksklusi. Kasus (ASI Eksklusi. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 41-47 kan sebanyak 15% pada kelompok kasus dan 25% pada kelompok kontrol. Sampel merupakan sampel lanjutan dari riset melanjutkan pemberian ASI eksklusif sampai anak usia 6 bulan. Usia 6-9 bulan didapatkan sebanyak 25% pada kelompok kasus dan 29% pada kelompok kontrol. Usia 9-12 bulan didapatkan pada kelompok kasus sebanyak 16% pada kelompok kasus, begitu juga pada kelompok kontrol. Usia 1224 bulan didapatkan 44% pada kelompok kasus dan 30% pada kelompok kontrol. Jenis kelamin laki-laki didapatkan 54% pada kelompok kasus dan 51% pada kelompok Jenis didapatkan 46% pada kelompok kasus dan 49% pada kelompok kontrol. Hasill uji Chi-Square menemukan keyakinan ibu menyusui dikelompokkan menjadi 3 bentuk, yaitu keinginan ibu untuk memberikan ASI pada kelompok kasus adalah 100% sedangkan pada kelompok kontrol hanya 97% . =0,. Kepercayaan diri ibu dalam memberikan ASI pada kelompok kasus adalah 100%, sedangkan pada kelompok kontrol hanya 89% . =0,. Persepsi ibu atas kepuasan bayinya mendapatkan ASI pada kelompok intervensi adalah 100%, sedangkan pada kelompok kontrol adalah 82% . =0,. Keinginan atau motivasi ibu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Hal ini terjadi karena ibu sadar akan pentingnya manfaat dari ASI (Dania and Fitriyani, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Azzahra dkk tahun 2019 menemukan bahwa proporsi pemberian ASI tertinggi berada pada ibu yang memiliki motivasi tinggi dalam ASI (Azzahra. Pemahaman ibu mengenai pentingnya pemberian ASI bagi kesehatan dan gizi anak turut meningkatkan motivasi ibu dalam pemberian ASI. Temuan Azrimaidaliza dkk tahun 2023 bahwa ibu yang memiliki pengetahuan yang rendah maka berisiko 2,63 kali untuk memperkenalkan makanan selain ASI secara dini kepada bayinya (Azrimaidaliza et al. , 2. Efikasi diri adalah perasaan yang dimiliki seseorang ketika melihat dirinya mampu mencapai suatu tujuan, dan yang bersangkutan cukup yakin bahwa akan bisa Efikasi diri menyusui mempengaruhi respon individu seperti reaksi emosi, pola pikir, serta usaha dan ketekunan dalam memberikan ASI eksklusif. Efikasi diri yang rendah dalam menyusui dapat menimbulkan motivasi dan persepsi negatif (Lestari et al. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Kurniawan . hubungan yang signifikan antara usia ibu ASI (Kurniawan. Penelitian dilakukan oleh Sohimah & Lestari . hubungan antara usia ibu dengan pemberian ASI eksklusif (Sohimah and Lestari, 2. Berdasarkan teori efikasi diri, ibu menyusui akan menilai empat sumber informasiI utama sebagai dasar dalam menyusui bayinya, yaitu prestasi kinerja . eperti pengalaman menyusui sebelumny. Tabel 3. Hubungan Keyakinan Diri Ibu dengan ASI Eksklusif Keyakinan Ibu Menyusui Kasus Eksklusi. (ASI Kontrol (Tidak ASI Eksklusi. P-value Keinginan Ibu untuk Menyusui Tidak 0,081 Keyakinan ibu untuk Menyusui Yakin Tidak Yakin 0,002 Kepuasan anak mendapatkan ASI Puas Tidak Puas 0,001 A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 41-47 pengalaman orang lain . eperti melihat orang lain menyusu. ibu, konseling sebay. , persuasi verbal. eperti dorongan dari orang-orang berpengaruh, seperti teman, keluarga, dan konsultan laktas. , dan respons fisiologis . eperti nyeri, kelelahan, kecemasan, atau stre. (Bandura, 1. KESIMPULAN Terdapat hubungan erat antara efikasi diri ibu menyusui dengan pemberian ASI eksklusif yang dibuktikan dengan analisis statistik p<0,05 yang membandingkan ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif . elompok kasu. dengan ibu yang gagal memberikan ASI eksklusif . elompok Direkomendasikan pentingnya program edukasi berkelanjutan kepada ibu menyusui agar dapat meningkatkan keyakinan ibu menyusui sehingga program ASI eksklusif dapat ditingkatkan. REFERENSI