Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROBLEM SOLVING Muliana Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas KIP, Universitas Malikussaleh Jl. Cot Teungku Nie Reuluet Aceh Utara, email: muliana_mumul@yahoo.com Abstract: The purpose of the research in the design of this pseudo experiment investigated the improvement of students' math problem solving skills using problem solving approach. This research was conducted at State Elementary School 3 Seunuddon as many as 40 students. This research is an experimental study with one group pre-test-post-test design. The population in this study were all students of class V (five) by taking samples of two classes through random sampling technique. Data obtained through math problem solving test. Data were analyzed with Anava. Before used Anava first test homogeneity in research and normality in this study with a significant level of 5%.The result of data analysis shows that F on learning factor of Problem Solving and Learning Approach is 15,930 with significance value 0.000 smaller than level of significance 0,05 so Ho is rejected.Thus it can be concluded that there is an increase in problem solving skills of students using Problem Solving Approach is significantly better than that of students with ordinary learning.The researcher suggests: (1) in order to model the Problem Solving Approach to be an alternative for teachers in improving students' math problem solving abilities (2) learning tools are well prepared and adapted to capability indicators and time allocations to be achieved (3) to be selective in choosing materials Is taught by Problem Solving Approach because not all suitable material is applied with Problem Solving Approach Keywords : Up to six keywords should also be included Abstrak: Tujuan penelitian dalam desain Eksperimen semu ini menyelidiki peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa menggunakan pendekatan problem solving, Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 3 Seunuddon sebanyak 40 siswa. Penelitian ini merupakan suatu studi eksperimen dengan desain penelitian one group pre-test-post-test design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V (lima) dengan mengambil sampel dua kelas melalui teknik random sampling. Data diperoleh melalui tes kemampuan pemecahan masalah matematika. Data dianalisis dengan Anava. Sebelum digunakan Anava terlebih dahulu dilakukan uji homogenitas dalam penelitian dan normalitas dalam penelitian ini dengan taraf signifikan 5%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa bahwa F pada faktor pembelajaran Pendekatan Problem Solving dan Pembelajaran biasa sebesar 15.930 dengan nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05, sehingga H o ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa yang menggunakan Pendekatan Problem Solving lebih baik secara signifikansi dibandingkan dengan siswa yang pembelajarannya biasa. Peneliti menyarankan: (1) agar model Pendekatan Problem Solving menjadi alternatif bagi guru dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa (2) perangkat pembelajaran dipersiapkan secara matang serta disesuaikan dengan indikator kemampuan dan alokasi waktu yang harus dicapai (3) agar selektif dalam memilih materi yang diajarkan dengan Pendekatan Problem Solving karena tidak semua materi cocok diterapkan dengan Pendekatan Problem Solving. Kata kunci : Pendekatan Problem Solving, Pemecahan Masalah Matematika Siswa Matematika merupakan salah satu pelajaran yang mendasari perkembangan kemajuan sains yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan baik di dan teknologi, sehingga matematika dipandang SD, SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi, ilmu sebagai suatu ilmu yang terstruktur dan terpadu, Volume 1, No. 2, Juli 2017 106 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi ilmu tentang pola dan hubungan, dan ilmu tentang khususnya cara berpikir untuk memahami dunia sekitar. Hal karena itu, proses belajar mengajar perlu mendapat ini ditekankan di dalam Pemerintah Republik perhatian dan penanganan yang serius baik dari Indonesia melalui Peraturan Menteri Pendidikan segi perencanaan maupun pelaksanaannya. Untuk Nasional (PerMendiknas) Nomor 22 tahun 2006 itu sejak dini perlu dilakukan suatu usaha atau tentang Standar isi untuk Satuan Pendidikan Dasar upaya, sehingga siswa tertarik pada mata pelajaran dan bahwa matematika dan termotivasi matematika mendasari perkembangan kemajuan matematika yang akan teknologi, mempunyai peran penting dalam optimalnya hasil belajar siswa. Hal ini akan berbagai disiplin, dan memajukan daya pikir tercipta apabila para siswa tidak mengalami manusia, matematika diberikan sejak dini di hambatan atau kesulitan dalam belajar matematika. sekolah dengan Selain itu, untuk mencapai kecakapan atau kemampuan berpikir logis, analitis, sitematis, kemahiran matematika tersebut harus dilakukan kritis, kreatif, serta kemampuan bekerja sama. pembelajaran matematika yang menyenangkan Semua kemampuan itu merupakan bekal dan bagi siswa. Karena pada umumnya matematika modal penting yang diperlukan anak dalam meniti dianggap sebagai pelajaran yang sulit sehingga kehidupan di masa depan yang penuh dengan mengakibatkan siswa kurang tertarik dan cepat tantangan dan berubah dengan cepat. bosan dalam mempelajarinya. Menengah untuk (Depdiknas, membekali 2006) anak mata pelajaran matematika. Oleh untuk belajar berimplikasi pada Oleh karena itu pendidikan matematika harus Selain itu, sampai saat ini masih banyak mampu membekali anak didik dengan kepribadian keluhan baik dari orang tua siswa maupun pakar dan pendidikan kemampuan yang dapat menjawab matematika tentang rendahnya permasalahan mendatang. Dalam (Soedjadi, 2000) kemampuan siswa dalam pengetahuan dan aplikasi mengemukakan bahwa: “Matematika tidak cukup matematika, khususnya pemecahan masalah dan lagi hanya membekali siswa dengan keterampilan penerapan matematika dalam kehidupan sehari- menyelesaikan soal ujian Nasional (UN) saja hari. Hal tersebut mungkin disebabkan karena melainkan pendidikan matematika harus diarahkan siswa kepada menumbuh kembangkan kemampuan yang memahami soal secara lengkap. Sejumlah siswa transferabel dalam kehidupan siswa kelak”. yang telah memahami topik matematika secara masih kesulitan dan lambat dalam Kemampuan transferabel yang dimaksud teoritis, ternyata mengalami kesulitan ketika adalah meliputi kemampuan dalam memecahkan bentuk soal atau permasalahan disajikan dalam masalah, dan bentuk cerita. Oleh karena itu, kesulitan-kesulitan kemampuan bernalar siswa. Untuk mewujudkan siswa tersebut harus segera diatasi khususnya tujuan pembelajaran seperti yang tertera dalam dalam hal penyelesaian masalah dan penerapannya KTSP 2006 yang menghasilkan lulusan memiliki dalam kehidupan sehari-hari. kemampuan komunikasi, keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai Berdasarkan hasil observasi di SD Negeri 3 dengan standar mutu nasional dan internasional, Seunuddon Kabupaten Aceh Utara dan juga 107 Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi berdasarkan wawancara dengan guru bidang studi, mendapatkan pemecahannya. ternyata matematika bagi mereka merupakan salah Oleh karena itu, kemampuan pemecahan satu mata pelajaran yang menakutkan serta masalah dalam matematika perlu dilatih membosankan bagi siswa. Hal ini dikarenakan dibiasakan siswa sibuk dengan aktivitasnya sendiri begitupun Kemampuan ini diperlukan siswa sebagai bekal sebaliknya guru juga kurang memperhatikan dalam memecahkan masalah matematika dan kegiatan dan aktivitas siswanya. Selain itu siswa masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari- juga sangat jarang mengajukan pertanyaan pada hari. Hal ini seperti yang dikemukakan Ruseffendi guru sehingga guru asyik sendiri menjelaskan apa (1991) bahwa: kemampuan memecahkan masalah yang telah disiapkannya, dan siswa hanya amatlah penting bukan saja bagi mereka yang menerima saja apa yang disampaikan oleh guru. dikemudian hari akan mendalami matematika, Penyebab ini dikarenakan pendekatan dan metode melainkan pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menerapkannya baik dalam bidang studi lain kelas adalah masih menggunakan pendekatan maupun dalam kehidupan sehari-hari. konvensional. Dari hasil kepada juga siswa bagi sedini mereka dan mungkin. yang akan Pemecahan masalah dalam pembelajaran observasi dan pengalaman matematika merupakan tujuan yang harus dicapai. mengajar di kelas, peneliti mendapatkan siswa Sebagai kesulitan dalam menyelesaikan soal dalam bentuk mengidentifikasi unsur yang diketahui, ditanyakan pemecahan masalah. Salah satu materi yang di serta anggap sulit oleh siswa yaitu tentang persamaan merumuskan masalah dari situasi sehari-hari dalam kuadrat khususnya yang berbentuk aplikasi dalam matematika, kehidupan sehari-hari. Kenyataan yang terjadi di menyelesaikan berbagai masalah (sejenis dan lapangan sebagian siswa tidak memahami maksud masalah baru) dalam atau di luar matematika, soal yaitu tidak mengetahui apa yang diketahui menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai dan apa yang ditanya pada soal. Sebagai contoh : permasalahan asal, menyusun model matematika Selisih dua bilangan adalah enam. Tentukan dan bilangan itu! matematika Penyelesaian dari soal diatas diharapkan siswa dapat menyelesaikannya dengan memodelkan dahulu ke dalam bentuk matematika. Namun kebanyakan siswa diharapkan kecukupan unsur Sebagai yang menerapkan menyelesaikannya secara siswa dapat diperlukan, strategi untuk serta menggunakan bermakna (meaningful). implikasinya maka kemampuan pemecahan masalah hendaknya dimiliki oleh semua anak yang belajar matematika. mampu Berkaitan dengan hal diatas, bahwa soal cerita menyelesaikan soal tersebut karena mereka sudah perlu mendapatkan perhatian khusus dari guru terbiasa menerima soal yang langsung berbentuk yang mengajar matematika. Perhatian khusus ini rutin. Jadi ketika soal dihadapkan dengan bentuk perlu diberikan karena dalam mengajarkan soal cerita siswa bingung harus memulai penyelesaian cerita siswa tidak hanya memahami prosedur dari mana, dan akhirnya siswa kewalahan hitungan saja, tetapi juga pemahaman kalimat Volume 1, No. 2, Juli 2017 belum tujuan, 108 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi demi kalimat dalam membuat model bahwa pemecahan masalah adalah keterampilan matematikanya. Salah satu upaya untuk mengatasi dasar yang dibutuhkan siswa pada matematika, kelemahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita, sehingga harus menjadi fokus di sekolah dari mulai kunci utamanya adalah pemahaman soal cerita taman kanak-kanak sampai kelas 12, dan siswa tersebut. Pemahaman itu berarti, 1) apa yang harus diketahui, 2) apa yang ditanyakan, 3) operasi matematika baru melalui pemecahan masalah. hitung apa yang diperlukan, dan 4) penggunaan rumus-rumus yang sederhana. mampu membangun pengetahuan Untuk mengatasi permasalahan di atas dan mewujudkan harapan visi pendidikan matematika, Penyelesaian soal cerita dengan benar Kurikulum 2006 dan Kurikulum Tingkat Satuan diperlukan kemampuan awal di luar kemampuan Pendidikan (KTSP), serta Badan Standar Nasional komputasi. Kemampuan awal itu adalah: (1) Pendidikan (BSNP, 2006) diharapkan agar siswa Kemampuan menentukan hal yang diketahui mampu dalam memecahkan masalah, baik dalam soal, (2) Kemampuan menentukan hal yang masalah di sekolah maupun masalah dalam ditanyakan dalam soal, (3) Kemampuan membuat kehidupan sehari-hari model pendekatan yang dapat mendukung proses matematika, (4) Kemampuan dibutuhkan suatu menginterprestasikan jawaban model matematika pembelajaran matematika yang menyenangkan ke permasalahan semula. dan bukan menyeramkan Duren & Cherrington (1992) sehingga mampu juga meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa menyatakan bahwa, siswa yang bekerja secara sekaligus mempermudah pemahaman siswa dalam kooperatif selalu mengingat dan menerapkan belajar strategi pemecahan masalah dibandingkan dengan pembelajaran matematika yang sesuai dengan siswa yang bekerja secara bebas (individu). Selain permasalahan diatas adalah pendekatan problem itu dengan belajar kelompok akan dapat membantu solving. matematika. Salah satu pendekatan para siswa meningkatkan sikap positifnya dalam Pembelajaran problem solving adalah suatu memecahkan masalah matematika khususnya kegiatan pembelajaran yang didesain oleh guru dalam menyelesaiakan soal cerita. dalam rangka memberi tantangan kepada siswa Dari berbagai pendapat diatas dapat ditarik melalui penugasan atau pertanyaan matematika kesimpulan bahwa kreativitas siswa akan tumbuh Tim PPPG (2005) Matematika Pendekatan dan yang problem solving merupakan suatu pendekatan menyajikan masalah non-rutin sebagai stimulus, pembelajaran matematika yang lebih mengarahkan bebas berekspresi dalam melakukan eksplorasi, dan menuntun siswa dalam menyelesaikan menemukan, belajar dalam kelompok kecil, dan masalah, dari memecahkan masalah. Ini berarti pemecahan merencanakan masalah sangat penting diintegrasikan dalam memeriksa kembali hasil (evaluasi). Hal ini sangat pembelajaran matematika. Hal ini sesuai dengan relevan dengan apa yang dikemukakan oleh Polya harapan NCTM serta Foshay dan Kirkley (2003) (1971) 109 berkembang pada pembelajaran mulai bahwa masalah, memahami masalah, sampai pada tahap langkah-langkah pemecahan Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi masalah (problem solving) terdiri dari empat langkah, yaitu: 1) memahami d. Pemecahan masalah dapat membantu masalah, siswa bagaimana mentransfer 2) merencanakan penyelesaian, 3) melakukan pengetahuan mereka untuk memahami perhitungan, dan 4) memeriksa kembali proses dan masalah dalam kehidupan nyata. hasil. e. Pemecahan masalah dapat membantu Dengan demikian pemecahan masalah siswa untuk mengembangkan (problem solving) dengan menggunakan langkah pengetahuan barunya dan bertanggung sistematis sebagaimana dianjurkan oleh George jawab dalam pembelajaran yang mereka Polya dipandang sangat efektif dan esensial lakukan. Disamping itu, pemecahan diberikan kepada siswa sehingga mereka terlatih masalah itu juga dapat mendorong untuk dalam menyelesaikan permasalahan, mampu melakukan evaluasi sendiri baik terhadap menyeleksi informasi yang relevan, menganalisis hasil maupun proses belajarnya. dan akhirnya mampu merefleksi kembali f. Melalui pemecahan masalah bisa kebenaran hasil yang telah dicapai. Dengan memperlihatkan kepada siswa bahwa menguasai dalam setiap mata pelajaran, bahwa pada pemecahan masalah seperti yang tertera di atas, dasarnya merupakan cara berpikir, dan diharapkan sesuatu yang harus dimengerti oleh permasalahan langkah-langkah siswa Polya terampil dalam menyelesaikan kehidupan sehari-hari siswa, bukan hanya sekedar belajar dari khususnya yang terkait dengan soal-soal cerita. Untuk menghadapi situasi ini, guru guru atau dari buku-buku saja. g. Pemecahan masalah dianggap lebih memberikan kesempatan yang sebesar- besarnya bagi siswa untuk mengembangkan ide-ide menyenangkan dan disukai siswa. h. Pemecahan masalah dapat kemampuan siswa kritis dan matematikanya sehingga siswa dapat memecahkan mengembangkan masalah tersebut dengan baik. Selanjutnya Sanjaya untuk (2008) mengemukakan beberapa keunggulan mengembangkan kemampuan mereka pembelajaran dengan pendekatan pemecahan untuk masalah diantaranya: pengetahuan baru. berpikir menyesuaikan dengan a. Pemecahan masalah merupakan teknik Pemecahan masalah dapat memberikan yang cukup bagus untuk memahami isi kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pelajaran. pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. b. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan Berdasarkan permasalahan di atas, maka kepuasan untuk menemukan pengetahuan penulis menghadirkan suatu strategi pembelajaran, baru bagi siswa. yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan c. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa. Volume 1, No. 2, Juli 2017 pemecahan masalah. Adapun strategi tersebut adalah belajar dengan pendekatan Problem 110 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Solving. pengetahuan baru. Di dalam pemecahan banyak muncul pengetahuan baru yang KAJIAN PUSTAKA sebelumnya Johson dan Rising (Syamsuddin, 2003) mengemukakan beberapa alasan manfaat yang sangat besar dengan adanya pengetahuan baru yang muncul dalam matematika, yaitu: untuk belajar suatu konsep baru. Memecahkan masalah merupakan suatu cara yang sangat baik bagi siswa untuk belajar suatu konsep baru. Di dalam proses pemecahan masalah sering ditemukan suatu konsep atau prinsip yang belum pernah dipelajari. Sebagai contoh melalui suatu diskusi tentang masalah pembuktian himpunan bilangan prima adalah tak hingga (infinit), bisa menjadi suatu langkah untuk menentukan prinsip pembuktian tidak lansung dalam matematika. b. 111 pemecahan masalah. d. Pemecahan masalah dapat merangsang rasa keingintahuan intelektual. Rasa ingin tahu suatu dorongan yang sangat penting dalam belajar matematika. Adanya rasa ingin tahu mendorong seseorang untuk mempelajari hal-hal yang baru. Untuk menimbulkan rasa ingin tahu dibutuhkan adanya sesuatu yang menantang. Hal seperti ini biasanya muncul bila seseorang menghadapi suatu masalah yang harus segera dipecahkan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Pemecahan masalah adalah suatu cara penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen yang paling tepat untuk mempratekkan dalam bentuk kuasi eksperimen dengan tujuan keterampilan komputasional . Kebiasaan sesuai dengan ungkapan sebelumnya untuk memecahkan masalah menjadi suatu menelaah tentang meningkat atau tidaknya latihan kemampuan menggunakan konsep-konsep pemecahan masalah matematika maupun prinsip matematika yang telah siswa menggunakan pendekatan problem solving dipelajari. Hal ini perlu karena dalam dalam Arikunto dengan pra-eksperimental belajar matematika tidak cukup hanya designs one group pretest-postest design. dengan manghafal. Setiap konsep ataupun Teknik pengumpulan data dilakukan dengan prinsip matematika yang dipelajari perlu pemberian dipraktekan, sehingga matematika dapat pendekatan problem solving dan terakhir bermanfaat. Hal ini dapat dicapai melalui memberikan posttest. pemecahan masalah. c. dipelajari. masalah matematika akan mendapatkan belajar yang paling signifikan dalam pembelajaran Pemecahan masalah adalah suatu proses pernah Seseorang yang terbiasa memecahkan pemecahan masalah (problem solving) menjadi suatu kegiatan a. tidak Melalui pemecahan masalah diperoleh pretes Pengolahan kemudian data dalam diterapkan pengujian hipotesis antara lain dengan uji normalitas dan Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi homogenitas, selanjutnya dilakukan ANAVA dua jalur seluruh perhitungan perhitungan statistik menggunakan bantuan program komputer SPSS 17. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data diperoleh skor hasil pengolahan data terhadap skor tes kemampuan pemecahan masalah matematika dikumpulkan dan dianalisis untuk mengetahui peningkatan 3. Melakukan Perhitungan  Tidak ada jawaban atau jawaban salah  Melaksanakan prosedur yang benar dan mungkin jawaban benar, tetapi salah perhitungan  Melaksanakan proses yang benar dan mendapatkan hasil Benar 0 1 2 4. Memeriksa Kembali Hasil  Tidak ada pemeriksaan atau tidak ada keterangan  Ada pemeriksaan tetapi tidak tuntas  Pemeriksaan dilaksanakan untuk melihat kebenaran proses 0 1 2 kemampuan pemecahan masalah matematik siswa dengan pendekatan Problem Solving. Untuk menghindari masuknya unsur subjektivitas dari penilai, maka sistem skoringnya dilakukan dengan cara membuat pedoman skoring terlebih dahulu sebelum tes diujikan. Teknik pemberian skor untuk soal uraian dapat dilihat pada Tabel: Analisis statistik yang digunakan untuk mengetahui terdapat atau tidak peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang diberi pendekatan problem solving dibandingkan dengan siswa yang diberi pembelajaran biasa adalah ANOVA dua jalur, dengan langkah-langkah sebagai berikut: Tabel 1 . Pedoman Penskoran Soal Kemampuan Pemecahan Masalah matematika Respon Siswa Terhadap Soal 1. Memahami Masalah  Salah menginterprestasikan/salah sama sekali  Salah menafsirkan masalah, mengabaikan kondisi soal  Memahami masalah soal selengkapnya 2. Membuat Rencana Pemecahan  Tidak ada rencana, membuat rencana yang tidak relevan  Membuat rencana pemecahan masalah soal yang tidak dilaksanakan  Membuat rencana yang benar, tapi salah dalam hasil/ tidak ada hasil  Membuat rencana yang benar, tetapi belum lengkap  Membuat rencana sesuai dengan prosedur dan memperoleh jawaban yang benar Skor Uji Normalitas Uji normalitas kelompok data gain 0 kemampuan pemecahan masalah matematika 1 dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov 2 dengan program SPSS 17. Hipotesis yang diuji untuk mengetahui normalitas kelompok data gain 0 1 2 3 4 kemampuan pemecahan masalah matematika siswa adalah: Ho : Kelompok data berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Ha : Kelompok data berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal. Kriteria menggunakan pengujian normalitas (Priyatno:2008) yaitu tersebut sebagai berikut: Jika signifikansi yang diperoleh > 0,05, maka berdistribusi normal. Volume 1, No. 2, Juli 2017 112 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jika signifikansi yang diperoleh < 0,05, maka berdistribusi tidak normal. Tabel. 3. Uji Homogenitas Varians Gain Kemampuan Pemecahan Masalah Hasil perhitungan disajikan pada Tabel 2 Test of Homogeneity of Variances berikut: Gain_Pemecahan Tabel. 2. Uji Normalitas Gain Kemampuan Pemecahan Masalah Levene Statistic Faktor_Pe Gain_Pe KPA mecahan KPB 2.048 Kolmogorov-Smirnova mbelajaran Statistic .114 .114 Df Sig. 40 40 df1 df2 Sig. 78 .156 1 Berdasarkan tabel 3 di atas diperoleh bahwa .200 * .200 * signifikansi statistik uji Levence (2,048) sebesar 0,156. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari a.Lilliefors taraf signifikansi 0,05 (0,156 > 0,05). Sehingga Significance data kedua kelompok Pendekatan Problem Solving Correction dan Pembelajaran Biasa berasal dari varians *. This is a lower bound of kelompok data yang homogen. the true significance. Berdasarkan tabel di atas diperoleh bahwa Analisis statistik ANAVA dua Jalur Pendekatan Problem Solving dan pembelajaran Hasil pengujian menunjukkan bahwa kelompok biasa memiliki nilai signifikansi yang lebih besar data gain kemampuan pemecahan masalah matematika dari 0,05 yaitu (0,200 > 0,05), maka data Pendekatan Problem Solving dan pembelajaran biasa berdistribusi normal. berasal dari populasi yang berdistribusi normal dengan varians masing-masing pasangan kelompok data homogen, maka selanjutnya dilakukan analisis statistik ANAVA dua Jalur. Hasil rangkuman tersajikan pada Tabel 4 berikut: Uji Homogenitas Uji homogenitas kelompok data gain Tabel. 4. Rangkuman Uji ANOVA Dua Jalur Gain Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa kemampuan pemecahan masalah matematika Tests of Between-Subjects Effects dilakukan setelah dilakukan uji normalitas yang Dependent bertujuan untuk menguji varians kelompok Variable: Pendekatan Problem Solving dan pembelajaran GAIN Type III biasa dengan menggunakan uji Levence. Kriteria Sum pengujiannya yaitu (Priyatno, 2008) yaitu: Jika signifikansi yang diperoleh > 0,05, maka Corrected varians data sama (homogen) Jika signifikansi yang diperoleh < 0,05, maka varians data tidak sama (tidak homogen). Hasil perhitungan tersajikan pada Tabel 3 berikut: 113 Source Model Intercept Faktor_Pem belajaran of Squares Mean Df Square F Sig. 5.700 .000 .086a 5 .017 3.599 1 3.599 1187.07 .000 .048 1 .048 15.930 .000 Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Error .224 74 Total 4.465 80 .311 Total R proses pembelajaran. Pendekatan Problem Solving ini belum banyak dipahami oleh sebagian besar Corrected a. menggunakan Pendekatan Problem Solving dalam .003 Squared = 79 guru matematika terutama para guru senior, oleh .278 karena itu kepada para pengambil kebijakan dapat mengadakan pelatihan maupun pendidikan kepada (Adjusted R Squared = .229) para guru matematika yang belum memahami Berdasarkan perhitungan uji ANAVA dua strategi Pendekatan Problem Solving. jalur gain ternormalisasi kemampuan pemecahan Diskusi dalam Pendekatan Problem Solving masalah pada tabel 4 di atas dapat diketahui bahwa merupakan salah satu sarana bagi siswa untuk F pada faktor pembelajaran Pendekatan Problem peningkatan kemampuan pemecahan masalah Solving dan Pembelajaran Biasa sebesar 15.930 matematika siswa yang mampu menumbuh dengan nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari taraf kembangkan suasana kelas menjadi lebih dinamis, signifikansi 0,05, sehingga Ho ditolak. . Dengan demokratis dan menimbulkan rasa senang dalam kata lain, terdapat peningkatan kemampuan belajar matematika. Pendekatan Problem Solving pemecahan masalah matematika antara siswa yang hendaknya diterapkan pada materi yang diberi Pendekatan Problem Solving dibandingkan esensial menyangkut benda-benda yang real di dengan siswa yang diberi pembelajaran biasa. sekitar tempat belajar, agar siswa lebih cepat Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa memahami pelajaran yang sedang dipelajari. peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa yang menggunakan Pendekatan Problem DAFTAR PUSTAKA Solving lebih baik secara signifikansi dibandingkan Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu dengan siswa yang pembelajarannya secara biasa. Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. KESIMPULAN Duren, E.P dan Cherrington, A. (1992). The Hasil temuan menunjukkan bahwa secara keseluruhan Pendekatan Problem Effect of Cooperative Group Work Solving Versus Independent Practice on the memberikan dorongan pada siwa untuk belajar, Learning of some Problem Solving pada akhirnya dapat mengembangkan kemampuan Srategies.[Online].Tersedia:http://www. pemecahan masalah matematik siswa. plantpath.wisc.edu/fac/joh/Ch1Intro.htm Pendekatan Problem Solving sangat sesuai untuk digunakan sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan kualitas pendidikan . [24 Januari 2017]. Foshay, R. dan Kirkley, J. (2003). Principles for Teaching Problem Solving. [Online]. matematika. Oleh karena itu kepada guru Tersedia: matematika di Sekolah Dasar diharapkan memiliki plato.com/downloads/papers/paper_04.p pengetahuan df [15 januari 2017] teoritis maupun Volume 1, No. 2, Juli 2017 ketrampikan www. 114 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi National Council of Teachers of Mathematics Soedjadi, R. (2000). Pendidikan (2000). Principles and Standarts for Matematika School Direktorat Jenderal pendidikan Tinggi, Mathematics. Reston, VA: NCTM. di Kiat Indonesia. Jakarta: Departemen pendidikan Nasional, Polya, G. (1971). How to Solve It: A New Syamsuddin (2003). Pembelajaran Pendekatan Aspect of Mathematics Method. New Pemecahan Jersey: Princeton University Press http://id.shvoong.com/writing-and- Priyatno, D. (2008). Lima Jam Belajar Olah Masalah. Sumber: speaking/presenting/2063169 Data Dengan SPSS 17. Yogyakarta: pembelajaran-dengan-pendekatan- Penerbit ANDI. pemecahan-masalah/#ixzz0D1cU6ZRf Ruseffendi, E.T (1991). Pengantar kepada Membantu Guru Kompetensinya Mengembangkan dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. diterbitkan 15 Januari 2017. Tim PPPG Matematika. Pembinaan (2005). Matematika Materi SMP. Yogyakarta: Depdikbud. Bandung: Tarsito. Sanjaya, W. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 115 Volume 1, No. 2, Juli 2017