PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING DI KELAS Vi SMP NEGERI 5 TANAH GROGOT TAHUN AJARAN 2017/2018 Supriaten SMP Negeri 5 Tanah Grogot ABSTRAK Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan tujuan untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas Vi-A SMP Negeri 5 Tanah Grogot melalui model pembelajaran problem posing pada materi pokok fungsi dan persamaan garis lurus. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 5 Tanah Grogot tahun ajaran 2017/2018 dengan subjek penelitian adalah siswa kelas Vi-A yang berjumlah 35 siswa dan objek penelitian adalah pembelajaran problem posing tipe post solution posing. Teknik pengumpulan data dengan observasi, tugas, dan tes. Penelitian dilaksanakan dalam 3 siklus yang masing-masing dilaksanakan tiga kali pertemuan. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif untuk menganalisis hasil observasi dan analisis kuantitatif untuk menganalisis tugas dan tes yang sesuai dengan indikator peningkatan yang telah ditentukan dengan menggunakan statistik deskriptif berupa rata-rata, persentase, dan grafik. Persentase peningkatan nilai sebesar 72,57% dan persentase ketuntasan sebesar 11,43%. Adapun persentase peningkatan nilai siklus I ke siklus II yaitu 24,35% dan persentase ketuntasan sebesar 54,28%. Demikian pula peningkatan persentase peningkatan nilai siklus II ke siklus i adalah 7,99% dan persentase ketuntasan sebesar 82,86%. Aktivitas guru pada siklus I dinilai cukup, siklus II dinilai sangat baik dan siklus i dinilai sangat baik sedangkan aktivitas siswa pada siklus I dinilai sangat kurang, siklus II dinilai baik dan siklus i dinilai sangat baik. Dengan demikian, melalui penerapan model pembelajaran problem posing tipe post solution posing hasil belajar matematika siswa pada materi pokok fungsi dan persamaan garis lurus kelas Vi-A SMP Negeri 5 Tanah Grogot mengalami peningkatan. Kata Kunci: Peningkatan Hasil Belajar Siswa dan Model Problem Posing keberhasilan suatu negara ditentukan SDM keberhasilan SDM sangat ditentukan oleh pendidikannya. Tuntutan dunia semakin kompleks mengharuskan siswa berfikir kritis, sistematis, logis, kreatif, bernalar dan kemauan kerjasama yang Matematika merupakan salah satu cabang ilmu yang sangat penting, dimana matematika diajarkan mulai dari Sekolah Dasar Perguruan Tinggi. Matematika sangat berperan dalam memajukan pendidikan. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan hidup yang sangat penting saat ini. Hal ini sangat dijadikan salah satu tolak ukur tingkat kesejahteraan manusia. Berkualitas tidaknya seseorang dipengaruhi oleh sejauh mana kualitas pendidikan yang didapat di bangku sekolah atau Adanya peningkatan dan merupakan hal mutlak untuk dilakukan disetiap jenjang pendidikan karena Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang Sebagaimana Hudoyo . alam Herawati, 2010:. bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide dan konsep-konsep yang abstrak dan tersusun secara hierarki dan penalarannya deduktif. Adanya konsepkonsep matematika, menjadikan salah satu mata pelajaran yang cukup sulit. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa yang dicerminkan melalui nilai hasil belajar matematika siswa yang banyak tidak mencapai kriteria ke-tuntasan minimum (KKM). Seperti yang terjadi di SMP Negeri 5 Tanah Grogot. Data yang diperoleh penulis dari guru mata pelajaran matematika di sekolah tersebut, nilai rata-rata ulangan semester 1 siswa kelas Vi, masih banyak kelas yang memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah, yaitu 70,00 pada tahun ajaran 2017/2018. Karena kelas Vi-A adalah kelas dengan nilai rata-rata ulangan matematika semester 1 terendah, maka penulis memilih kelas Vi-A sebagai subjek penelitian. Berdasarkan informasi dari guru matematika kelas Vi di SMP Negeri 5 Tanah Grogot, dalam pembelajaran matematika di sekolah pada umumnya guru men-jelaskan materi, kemudian guru membuat soal untuk murid, dapat dikatakan guru hanya menggunakan model pembelajaran konvensional. Seringkali setelah menerangkan materi guru menanyakan kepada murid, apakah ada yang ingin ditanyakan?, apakah sudah paham?, yang sering terjadi siswa hanya diam dan tersenyum. Namun setelah diberi tugas kebanyakan siswa masih kebingungan bahkan tidak dapat Selain itu saat penulis melakukan pengamatan, banyak siswa yang bingung saat menyelesaikan soal walaupun soal tersebut sejenis dengan contoh yang sebelumnya diberikan. Kurangnya latihan soal dan pemahaman konsep yang belum maksimal membuat anak-anak kebingungan dan bahkan tidak dapat menyelesaikan soal. Masalah ini yang mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa di Untuk tersebut, guru harus dapat membuat siswa aktif dalam bertanya, karena dengan adanya keaktifan siswa bertanya maka siswa akan mampu memahami tentang pelajaran. Selain itu adanya latihan-latihan soal yang cukup semakin membuat siswa terbiasa dan menambah pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran yang sedang berlangsung. Salah mengatasi masalah tersebut, dibutuhkan suatu variasi model pembelajaran maupun strategi pembelajaran. Slameto . alam Herawati, 2010:. menyatakan bahwa pembelajaran matematika sangat ditentukan oleh strategi dan pendekatan yang digunakan dalam mengajar matematika itu sendiri. Belajar yang efisien dapat tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar yang Oleh karena itu guru dituntut untuk professional dalam menjalankan Salah pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran problem Model pembelajaran problem pembelajaran yang menekankan dan mewajibkan siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui pelajaran soal . erlatih soal secara mandir. Model pembelajaran problem posing tipe post solution posing menuntut siswa dapat membuat soal sejenis dan menantang seperti yang dicontohkan oleh guru, selain itu siswa juga harus dapat menyelesaikan soal Dari model ini diharapkan siswa lebih aktif dan kreatif dalam membentuk pengetahuannya, sehingga pemahaman siswa terhadap konsep matematika lebih baik lagi dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian dengan judul sebagai berikut: AuPeningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa dengan Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing di Kelas Vi SMP Negeri 5 Tanah Grogot Tahun Ajaran 2017/2018Ay. Problem posing adalah istilah dalam bahasa Inggris yaitu dari kata AuproblemAy soal/persoalan dan kata AuposeAy yang artinya mengajukan. Jadi, problem posing bisa diartikan sebagai pengajuan soal atau pengajuan masalah. Model pembelajaran problem posing ini mulai dikembangkan ditahun 1997 oleh Lyn English, dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran Selanjutnya model ini dikembangkan pula pada mata pelajaran yang lain seperti fisika dan kimia. Problem posing merupakan suatu model pembelajaran yang diadaptasikan dengan kemampuan pembelajarannya membangun struktur kognitif serta dapat memotivasi siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Pada saat model pembelajaran problem posing siswa melakukan hal yang lebih banyak, membentuk asosiasi untuk merumuskan soal dan mengajukan masalah atau soal lebih kreatif dan . roblem posin. yang lebih efektif. Merumuskan atau membentuk soal kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan kreatif karena dalam pembelajaran problem posing siswa mendapat merumuskan . embentuk soal sendir. Kegiatan merumuskan soal akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk merekonstruksikan memungkinkan pembelajaran yang dilakukan siswa lebih bermakna. Model pembelajaran problem posing, siswa diberi kesempatan untuk beraktivitas untuk merumuskan soal dan mendorong siswa agar lebih bertanggung jawab. Problem posing merupakan pertanyaan sendiri atau memecah suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana yang mengacu pada penyelesaian soal tersebut. Dalam pembelajaran matematika, problem posing . engajuan soa. menempati posisi yang strategis. Siswa harus penyelesaian soal secara mendetail. Hal tersebut akan dicapai jika siswa memperkaya pengetahuannya tak hanya dari guru melainkan perlu belajar secara Problem posing dikatakan sebagai inti terpenting dalam disiplin matematika (Astra. Umiatin dan Jannah, 2012:. Nur Afni . Problem posing mempunyai beberapa pengertian yaitu: pertama, problem posing adalah perumusan ulang soal yang ada dengan sederhana dan dapat dipahami dalam Kedua, problem posing adalah perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah dipecahkan dalam rangka mencari Ketiga, problem posing adalah perumusan soal dari informasi atau situasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika, atau setelah penyelesaian suatu soal. Mengenai peranan problem posing dalam pembelajaran matematika. Sutiarso menjelaskan bahwa problem posing adalah suatu bentuk model menekankan pada perumus-an soal, kemampuan berpikir matematis atau menggunakan pola pikir matematis . alam Dwyaz, 2012:. Model pembelajaran problem menuntut siswa mempunyai pandangan yang luas dan memiliki sifat yang logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin serta menghargai kegunaan matematika. Seperti hasil penelitian Silver dan Cai . alam Surtini, 2004: . pembentukan soal berkorelasi positif Dengan demikian kemampuan pembentukkan soal sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika di sekolah sebagai usaha meningkatkan hasil pembelajaran matematika dan dapat meningkatkan kemampuan siswa. Dari sini diperoleh bahwa pembentukan soal penting dalam pelajaran matematika guna meningkatkan prestasi belajar matematika siswa dengan membuat siswa aktif dan kreatif. Problem posing dapat dilakukan secara berkelompok atau individu. Secara umum, pengajuan masalah oleh siswa dalam pembelajaran, baik secara kelompok maupun individu merupakan aspek penting. Tingkat pemahaman atau penguasaan siswa terhadap materi yang dipelajarinya dapat dilihat melalui pertanyaan yang diajukannya. Secara garis besar disimpulkan sintaks model pembelajaran problem posing menurut Amin Suyitno . alam Seminar Nasional Lesson Study, 2010: adalah sebagai berikut: Guru mengajarkan materi dan memberikan contoh soal serta Guru kelompokkelompok kecil siswa . -5 sisw. Sebaiknya kelompok ini bersifat Setiap kelompok diminta untuk membuat atau mencari yang berkaitan dengan materi yang diberikan guru . ukup satu soa. , dan kelompok yang bersangkutan diminta untuk menemukan sendiri Tiap kelompok diminta untuk Guru bertindak sebagai fasilitator dan narasumber jika diperlukan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka model pembelajaran problem posing dapat diartikan sebagai bentuk model pembelajaran yang menekankan pada kegiatan pengajuan, perumusan atau pembuatan masalah sendiri dan untuk diselesaikan sendiri oleh siswa. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas dalam istilah bahasa Inggris lebih dikenal dengan Classroom Action Ressearch (CAR). Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran, meningkatkan profesionalisme dan Kunandar . alam Iskandar, 2012:. mengartikan penelitian tindakan . ction ressearc. merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru atau bersamasama dengan orang lain . yang bertujuan untuk memperbaiki atau pembelajaran di kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk tindakan-tindakan menggunakan model pembelajaran. Adapun alur dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada Gambar 1 berikut: Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun ajaran 2017/2018 yaitu tanggal 9 November sampai dengan 7 Desember di kelas Vi-A SMP Negeri 5 Tanah Grogot, yang beralamat di Jalan RM Noto Sunardi no. 11 Tanah Grogot. Data penelitian dikumpulkan melalui dokumen, tugas, tes dan Adapun analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif. Analisis data kualitatif merupakan analisis yang mengolah dan menganalisis data yang sistematik, teratur dan terstruktur. Pada penelitian ini, data yang diolah secara kualitatif adalah data hasil observasi berlangsungnya proses pembelajaran problem posing tipe post solution Analisis data kuantitatif merupakan analisis yang berkisar pada masalah pengukuran yang akan dihubungkan dengan angka. Pada penelitian ini data yang dianalisis secara kuantitatif adalah data nilai hasil belajar siswa pada setiap siklusnya. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik yang diikuti keterlibatan atau partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, dan setelah pelaksanaan proses pembelajaran selesai siswa menunjukkan peningkatan terhadap keaktifan belajar, pemahaman materi, matematika sesuai dengan kriteria Ketuntasan dinyatakan berhasil jika persentase siswa yang tuntas belajar atau siswa yang mendapat nilai Ou 70 jumlahnya mencapai Ou 80% dari jumlah seluruh siswa dalam kelas. Untuk mengetahui kriteria hasil belajar siswa yang diperoleh baik atau kurang baik Gambar 1. Alur dalam Penelitian Tindakan Kelas (Sumber: Arikunto, 2007:. Dengan memperhatikan gambar 1 tersebut, penelitian tindakan kelas ini terdiri dari tiga siklus yang dilaksanakan melalui proses pengkajian berulang yang terdiri dari 4 tahapan, pengamatan dan refleksi (Iskandar, 2012: . Dalam kegiatan penelitian ini, subyek penelitiannya adalah siswa kelas Vi-A SMP Negeri 5 Tanah Grogot yang berjumlah 35 siswa dan yang menjadi obyek penelitian adalah model pembelajaran problem posing tipe post solution posing pada materi pokok fungsi dan persamaan garis lurus. digunakan Tabel Untuk mengetahui kriteria poin peningkatan siswa yang diperoleh baik atau kurang baik maka digunakan kriteria poin peningkatan yang dapat dilihat dari rata-rata peningkatan seluruh siswa. Tabel 1. Kriteria Hasil Belajar Nilai Rata-rata Nilai Kriteria Huruf Baik Sekali 80 O ycu O 100 Baik 70 O ycu < 80 Cukup 60 O ycu < 70 Kurang 50 O ycu < 60 Kurang 0 O ycu < 50 Sekali Tabel 3. Kriteria Poin Peningkatan Hasil Belajar Siswa (Sumber: Sudjana, 2002: . Indikator yang menjadi tolak ukur dalam menyatakan pembelajaran yang berlangsung selama penelitian berhasil meningkatkan hasil belajar siswa setiap siklus, bila dilihat dari nilai tes hasil belajar yang diadakan pada setiap siklusnya dan dibandingkan dengan nilai dasar maka terjadi peningkatan tiap siklus. Misalnya nilai pada siklus I dibandingkan dengan nilai dasar yang diperoleh dari guru, nilai siklus II dibandingkan dengan nilai pada siklus I, nilai siklus i dibandingkan dengan nilai pada siklus II. Untuk peningkatan dapat dilihat melalui indikator peningkatan hasil belajar sebagai berikut: Rata-rata Poin Peningkatan Kriteria x Ou 25 20 O x < 25 15 O x < 20 0 O x < 15 Sangat Baik Baik Cukup Kurang (Sumber: Sukidin, 2002:. Selisih rata-rata nilai hasil belajar setiap siswa pada setiap siklus dengan hasil belajar pada siklus sebelumnya dikonversi ke dalam poin peningkatan sesuai dengan Tabel 3, kemudian poin rata-rata peningkatan yang diperoleh siswa tersebut bertindak sebagai poin hasil belajar secara keseluruhan . Berdasarkan Tabel 3, jika poin rata-rata peningkatan seluruh siswa . adalah dua puluh satu, maka kriteria peningkatan yang Artinya, peningkatan yang terjadi setelah pembelajaran tergolong baik dari siklus Siklus dalam penelitian ini dihentikan jika telah memenuhi indikator sebagai berikut: Tuntas, yaitu apabila minimal 80% siswa di kelas tersebut memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan 70. Apabila aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran seluruhnya terlaksana dengan baik yang diukur berdasarkan lembar observasi. Tabel 2. Kriteria Nilai Peningkatan Hasil Belajar Skor Kuis Individu Poin Kemajuan Lebih dari 10 poin di 5 Poin bawah skor awal 10 sampai 1 poin di 10 Poin bawah skor awal Skor awal sampai 10 20 Poin poin di atas skor awal Lebih dari 10 poin di 30 Poin atas skor awal Kertas 30 Poin . erlepas dari skor awa. HASIL PENELITIAN (Sumber: Trianto, 2009: . Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini meliputi hasil analisis data kualitatif yakni hasil observasi terhadap aktivitas guru dan siswa model pembelajaran Problem Posing, serta hasil analisis data kuantitatif yakni nilai hasil belajar siswa. Hasil analisis data kualitatif dari keseluruhan siklus berdasarkan hasil observasi aktivitas guru, aktivitas siswa dapat dilihat pada Tabel 4. Sedangkan untuk hasil analisis data kuantitatif dari keseluruhan siklus berdasarkan hasil belajar dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 4. Hasil Observasi pada Siklus I. II dan i Siklus I Siklus Siklus i Aktivitas Sangat Baik Sangat Siswa Kurang Baik Aktivitas Cukup Sangat Sangat Guru Baik Baik (Sumber: Data Hasil Penelitian 2013. Lampiran 56: . Tabel 5. Hasil Belajar pada Siklus I. II dan i Nilai Persentase Pelaksanaan Dasar Peningkatan Siklus I 31,43 46,21 58,26 54,24 72,57% Siklus II 54,24 72,93 64,71 67,45 24,35% Siklus i 67,45 72,00 73,26 72,84 7,99% (Sumber: Data Hasil Penelitian 2013. Lampiran 56: . Pada Tabel 5 dijelaskan bahwa pembelajaran yang dilakukan tiap siklus meningkatkan hasil belajar matematika Rata-rata matematika siswa pada nilai awal pembelajaran problem posing tipe post solution posing sebesar 31,43 dan pada siklus I meningkat menjadi 54,24 dengan kriteria kurang atau meningkat sebesar 72,57%. pada siklus II meningkat menjadi 67,45 dengan kriteria cukup atau meningkat sebesar 24,35%. dan pada siklus i meningkat menjadi 72,84 dengan kriteria baik atau 7,99%. Selain itu persentase siswa yang peningkatan, pada siklus I sebesar 11,43% siswa yang mencapai nilai KKM, meningkat pada siklus II sebesar 54,28% siswa kemudian pada siklus i meningkat menjadi 82,86% siswa yang mencapai nilai KKM. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian pembelajaran, terlihat bahwa data telah sesuai dengan indikator dan format Sebelum melaksanakan proses pembelajaran problem posing tipe post solution pembelajaran tersebut. Karena model pembelajaran yang akan diterap-kan berbeda dengan model pembelajaran yang biasa mereka lakukan di kelas, mengajukan masalah . alam hal ini membuat soa. beserta jawabannya seperti yang telah guru contohkan sebelum-nya, dan dilakukan secara Dari hasil penelitian dan pembahasan pada setiap siklus, pembelajaran dengan model problem posing tipe post solution posing yang dilakukan tiap siklus mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu terjadi peningkatan hasil belajar matematika Hal ini terlihat dari hasil tugas kelompok siswa yang menunjukkan semakin tinggi nilai tugas kelompok, maka semakin tinggi pula mendapatkan nilai hasil belajar, dengan syarat semua siswa berperan aktif dalam penyelesaian tugas kelompok. Selain itu dalam kegiatan pembelajaran setiap siklus aktivitas guru maupun aktivitas siswa juga mengalami peningkatan. Dalam proses pembelajaran pembelajaran problem posing tipe post solution posing, guru bertindak sebagai fasilitator sedangkan siswa dituntut lebih aktif dalam mengembangkan pengetahuan mereka yaitu dengan mengajukan soal dan penyelesaiannya. Peran guru disini yaitu membuat siswa memahami konsep dan mengetahui target yang akan dicapai dalam proses Tahap selanjutnya, guru memberikan kesempatan siswa yang telah diatur berkelompok untuk penyelesaiannya sesuai dengan contoh yang telah diberikan, inilah yang disebut bentuk problem posing tipe post solution posing menurut Silver . alam Thobroni dan Arif, 2011:. Dalam kegiatan kelompok, siswa harus saling bekerjasama dan berdiskusi dalam menyelesaikan tugas. Setelah itu, guru menunjuk salah satu perwakilan kelompok untuk menuliskan dan mempresentasikan hasil dari diskusi kelompok mereka di depan kelas. Sedangkan memberikan tanggapan, bertanya dan dipresentasikan jika perlu. Hal ini efektif untuk meningkatkan tanggung jawab setiap siswa terhadap hasil dari diskusi kelompok mereka, sekaligus melatih kemampuan individu siswa untuk menyampaikan pendapat. Dengan adanya keterlibatan seluruh siswa, tentunya berdampak positif terhadap motivasi belajarnya. Langkah-langkah yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran sesuai dengan yang telah dikemukakan oleh A. Suyitno . maupun oleh A. Pamurti . Secara keseluruhan adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan siswa dalam model pembelajaran problem posing tipe post solution posing yakni, siswa dibiasakan belajar aktif secara individu dan kelompok, siswa dapat saling bertukar informasi dan pendapat, siswa menjadi lebih bertanggung jawab baik secara individu dan kelompok serta menambah kepercayaan diri siswa dalam mengungkapkan ide-ide maupun Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Skinner . alam Isriani dan Dewi, 2011:. yang mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara Dalam hal ini proses belajar pembelajaran problem posing tipe post solution posing dapat meningkatkan hasil belajar dari segi kognitif maupun Keberhasilan peningkatan hasil belajar siswa ini ditunjang juga oleh proses pembelajaran yang terlaksana di dalam kelas, yaitu motivasi yang diberikan guru kepada siswa dan penyampaian persepsi baik tentang matematika agar siswa menjadi lebih termotivasi dalam belajar matematika. Berdasarkan pembahasan di atas yang didukung dengan teori-teori yang ada, maka dapat dijelaskan bahwa hipotesis tindakan dapat diterima yang berarti hasil belajar siswa dapat ditingkatkan dengan penerapan model pembelajaran problem posing tipe post solution posing pada materi pokok fungsi dan persamaan garis lurus di kelas Vi-A SMP Negeri 5 Tanah Grogot tahun ajaran 2017/2018. aktivitas siswa pada siklus I dinilai sangat kurang, namun pada siklus II dinilai baik dan siklus i dinilai sangat DAFTAR PUSTAKA