J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 PERAN GURU DALAM PEMBINAAN KEROHANIAN SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Hana Natalia: Jon. David Priyo Susilo (Mahasiswa Prodi S1 PAK STT Kristus Alfa Omega: putrihana30329@gmail. Dosen STT Kristus Alfa Omega: bongminj@yahoo. priyo69@gmail. Abstrak Siswa menjadi permata bagi dunia, siswa menjadi generasi yang perlu mendapat perhatian lebih dan siswa perlu untuk dibina imannya, moral serta karakternya. Pembinaan kerohanian membantu siswa mengenal Tuhan dengan baik dan benar. Pembinaan kerohanian menjadi sebuah upaya untuk mempersiapkan siswa menjadi generasi penerus yang hidup takut akan Tuhan dan sesuai dengan firman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya peran guru dalam pembinaan kerohanian siswa . Berdasarkan analisa data diketahui bahwa, pembinaan kerohanian memiliki peran penting dalam membentuk kerohanian siswa. dan dalam pelaksanaannya memerlukan peran serta dari seorang guru, sebagai pelaksana dan sumber informasi bagi siswa. Kata kunci: pembinaan, kerohanian, guru. Abstract Students are precious gems for the world. they represent a generation that deserves greater attention and guidance in faith, morality, and character development. Spiritual formation helps students to know God in a true and meaningful way. It is an essential effort to prepare students to become a future generation that lives in reverence to God and in accordance with His Word. This study aims to explore the importance of the teacherAos role in the spiritual formation of students. Based on data analysis, it was found that spiritual formation plays a significant role in shaping studentsAo spirituality. Furthermore, its implementation requires the active involvement of teachers, who serve both as facilitators and key sources of spiritual knowledge for students. Keywords: formation, spirituality, teacher. PENDAHULUAN Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai sarana pembentukan karakter dan nilai-nilai spiritual dalam diri siswa. Dalam kerangka pendidikan Kristen, aspek kerohanian memiliki peranan yang sangat penting karena menyentuh dimensi terdalam dalam kehidupan peserta didik. Pembinaan kerohanian bukan hanya pelengkap, melainkan bagian integral dari tujuan pendidikan Kristen, yaitu mempersiapkan generasi yang unggul secara intelektual sekaligus matang secara spiritual. Siswa dipandang sebagai "permata dunia" yang memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif di tengah masyarakat. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang secara maksimal tanpa adanya pembinaan iman, karakter, dan moral yang berkesinambungan sejak dini. Oleh karena itu, pendidikan Kristen dituntut untuk menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya mengasah akal, tetapi juga menumbuhkan hati nurani dan kedewasaan rohani siswa. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Dalam hal ini, pembinaan kerohanian menjadi tanggung jawab utama yang harus diemban oleh para guru, khususnya guru Pendidikan Agama Kristen (PAK). Guru bukan hanya bertugas menyampaikan teori atau doktrin, tetapi juga menjadi teladan hidup dan pembimbing rohani bagi para 1 Melalui pendekatan yang kontekstual dan relasional, guru dapat membantu siswa mengenal Tuhan secara pribadi dan menghidupi nilai-nilai kekristenan dalam keseharian mereka. Pendidikan agama seharusnya tidak hanya berhenti pada hafalan ayat atau pemahaman teologis, melainkan mendorong siswa untuk menginternalisasi kebenaran firman Tuhan dalam sikap, perilaku, dan keputusan hidup mereka. Guru memiliki posisi sentral dalam proses pendidikan, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembina dan teladan hidup rohani bagi siswa. 2 Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen, guru diharapkan mampu mentransfer nilai-nilai keimanan, kasih, dan kebenaran Kristus secara kontekstual dan relevan bagi kehidupan siswa. Peran guru tidak hanya terbatas pada penyampaian materi pelajaran, tetapi juga dalam mendampingi siswa untuk bertumbuh secara rohani. Pembinaan kerohanian yang dilakukan secara konsisten akan membentuk sikap takut akan Tuhan, tanggung jawab moral, dan kedewasaan iman siswa. Guru harus menjadi sumber inspirasi dan pembimbing yang aktif dalam menanamkan nilai-nilai kekristenan melalui metode pembelajaran yang kreatif dan reflektif. Namun, tidak semua guru memiliki pemahaman dan kesadaran yang memadai tentang pentingnya pembinaan kerohanian ini. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji secara lebih dalam bagaimana peran guru dijalankan dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih terdapat guru yang belum mengintegrasikan aspek pembinaan kerohanian secara menyeluruh dalam proses pembelajaran. Sebagian guru masih terfokus pada aspek kognitif atau pemahaman teks Alkitab secara teoritis, tanpa mengaitkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan praktis siswa. Akibatnya, siswa mengalami kesenjangan antara pengetahuan agama dan perilaku sehari-hari. Masalah ini menjadi penting untuk diteliti karena jika tidak segera ditangani, dapat mengakibatkan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen menjadi kurang berdampak secara spiritual dan moral. Dalam konteks ini, peran guru sebagai fasilitator dan pembina rohani siswa perlu ditinjau kembali. Apakah guru telah menjalankan fungsinya dengan optimal dalam membina kerohanian siswa? Bagaimana strategi yang digunakan guru membentuk sikap dan karakter kristiani siswa melalui pembelajaran? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi titik awal dari penelitian ini. Menurut Agustinus Pendidikan Agama Kristen merupakan mata pelajaran yang membuat siswa untuk Aini Zulfa. AuStudi Literatur: Problematika Evaluasi Pembelajaran Dalam Mencapai Tujuan Pendidikan Di Era Merdeka BelajarAy 2, no. : 11Ae15. Ermindyawati. AuPeranan Guru Pendidikan Agama Kristen Terhadap Perilaku SiswaSiswi". FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, vol. 2 No. , 40-61. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 dapat bersekutu dengan Allah, karena di dalamnya membahas tentang bagaimana berkomunikasi dengan Allah. Selain itu juga, melalui pembelajaran PAK yang diterima siswa di sekolah membuat siswa mengerti dan memahami apa yang boleh dan yang tidak boleh untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis peran guru dalam pembinaan kerohanian siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen. Fokus utama dari penelitian ini adalah menggali sejauh mana guru berperan dalam menanamkan nilai-nilai iman Kristen kepada siswa, serta strategi dan pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan rekomendasi praktis bagi guru dalam meningkatkan kualitas pembinaan kerohanian siswa di sekolah. Dengan memahami peran guru secara lebih mendalam, diharapkan pendidikan agama Kristen tidak hanya menjadi pelajaran rutin di kelas, tetapi menjadi sarana transformatif yang membentuk generasi yang takut akan Tuhan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan kurikulum, metode pembelajaran, dan pelatihan guru di bidang pendidikan agama Kristen. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur . ibrary researc. sebagai landasan utama dalam mengeksplorasi peran guru dalam pembinaan kerohanian siswa. Kajian literatur dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menganalisis, menafsirkan, dan mensintesis berbagai sumber tertulis yang relevan, baik berupa buku, jurnal ilmiah, dokumen resmi, maupun artikel akademik yang membahas tentang pendidikan agama Kristen, peran guru, dan pembinaan spiritual siswa. Melalui pendekatan ini, peneliti tidak terlibat langsung dengan subjek penelitian di lapangan, tetapi mengumpulkan data dan informasi dari berbagai literatur yang kredibel dan telah diuji secara akademik. Pendekatan ini dianggap tepat karena topik yang dikaji bersifat konseptual dan normatif, serta memerlukan pemahaman mendalam terhadap nilai, makna, dan praktik yang berkaitan dengan pembinaan kerohanian dalam konteks pendidikan Kristen. Fokus utama kajian ini adalah menelaah secara kritis kontribusi guru sebagai pengajar, teladan, motivator, dan pembimbing spiritual melalui tinjauan literatur yang komprehensif. Proses pengumpulan data dilakukan melalui seleksi sumber literatur yang relevan dengan fokus penelitian. Sumber yang digunakan dipilih berdasarkan tingkat keterkinian, otoritas penulis, serta relevansi isi terhadap topik penelitian. Peneliti menganalisis isi dari berbagai pustaka untuk menemukan tema-tema utama yang menggambarkan peran guru dalam membentuk spiritualitas siswa, baik dalam konteks pembelajaran di kelas maupun dalam pendampingan kehidupan rohani siswa secara umum. Robert R. Boehlke. Sejarah Perkembangan Pemikiran Dan Praktek PAK (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 35. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Analisis dilakukan secara tematik, yaitu dengan mengelompokkan gagasan-gagasan dari literatur ke dalam kategori peran-peran utama guru dalam pembinaan kerohanian. Hasil dari analisis ini kemudian dikaji secara reflektif dan dibandingkan satu sama lain untuk menemukan pola, kesamaan, dan perbedaan dari berbagai pandangan. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan gambaran konseptual yang mendalam mengenai bagaimana guru dapat berfungsi sebagai agen pembentukan spiritualitas siswa melalui praktik-praktik pendidikan Kristen yang holistik. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis yang kuat bagi pengembangan kurikulum dan strategi pembinaan kerohanian di sekolah. PEMBAHASAN Peran guru dapat diartikan sebagai seseorang yang melaksanakan pembinaan, bimbingan, memotivasi dan mengarahkan siswa kepada kebenaran. Peran guru juga dapat disebut sebagai seseorang yang melaksanakan pendidikan Wijaya berpendapat bahwa peran guru yaitu, sebagai pengajar, pembimbing dan sebagai sumber informasi. Guru juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi 4 Sebagai pendidik, guru bukan hanya sekedar menyampaikan pengetahuan saja, akan tetapi tugas guru yang paling utama adalah membina dan mengarahkan siswa agar dapat menjadi orang yang berpengetahuan dan memiliki karakter baik. Suprihatiningsih mengatakan bahwa peran guru adalah sebagai pelaksana pendidikan. Guru memiliki peran untuk merencanakan program belajar, melaksanakan program yang telah dibuat serta melakukan penilaian setelah program selesai dilaksanakan. Guru mengarahkan siswa ke level kedewasaan dengan kepribadian sempurna. 6 Dari penjelasan diatas maka peneliti menyimpulkan bahwa, peran guru adalah sebagai pendidik dan pembimbing yang memberikan motivasi, semangat dan nasehat kepada siswa sehingga tumbuh rasa semangat siswa untuk belajar. Terdapat beberapa jenis dari peran guru yaitu: Pertama, peran guru sebagai pembimbing bagi siswa. Guru tidak hanya sebagai pengajar yang sekedar memberikan ilmu, tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing yang memperlengkapi siswa dalam semua tahap pertumbuhannya. Sebagai pembimbing, guru harus mengenali siswa. Perbedaan kepribadian setiap siswa membuat guru harus berfungsi sebagai pembimbing. Guru juga mengarahkan anak didiknya sehingga dapat mengerjakan dan menyelesaikan tugas sesuai dengan perkembangan pengalaman hidup mereka. Kedua, guru sebagai motivator bagi siswa berarti guru harus mampu menumbuhkan dan merangsang semua potensi yang dimiliki oleh siswa. Sebagai motivator berarti guru Iwan Wijaya. Profesional Teacher: Menjadi Guru Profesional (Jawa Barat: CV Jejak, 2. , 10-28. UU RI No. 14 Th. Undang-Undang Guru Dan Dosen (Jakarta: Sinar Grafiika, 2. , 3. Jamil Suprihatiningsih. Guru Profesional (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , 26. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 mampu menumbuhkan semangat belajar di dalam diri siswa. Ketiga, guru sebagai gembala bagi siswa yaitu, guru harus melakukan pendekatan kepada siswa yang diajar adalah siswa yang penuh dengan banyak problem dan harapan satu-satunya adalah guru. Guru yang dekat dengan siswa akan dengan mudah dalam memberikan bimbingan. Menjadi gembala bagi siswa, guru Pendidikan Agama Kristen sangat berperan dalam mengelola proses belajar mengajar dan harus berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang aktif dan mengembangkan bahan pengajaran yang baik, serta dapat dinyatakan dalam tingkah laku di kehidupan sehari-hari. Menjadi gembala bagi siswa berarti, guru mampu mengenali masing-masing pribadi siswa. 8 Keempat, guru sebagai orangtua bagi siswa. Tujuan akhir seorang guru tidak hanya sekedar menjadikan siswa sebagai para intelek, namun juga menjadikan mereka sebagai pribadi-pribadi yang berkarakter mulia. Guru sebagai orang tua yaitu memperhatikan siswa seperti halnya kepada anak sendiri. 9 Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa untuk membentuk siswa menjadi pribadi yang baik, guru tidak hanya menyandang satu peran saja. Guru harus bisa menjadi dan menguasai berbagai peran sesuai dengan tingkat kebutuhan siswa. Pembinaan kerohanian adalah suatu upaya yang dilakukan untuk membimbing, mengarahkan seseorang agar secara sadar mau melakukan perintah Tuhan, sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan yang dianutnya. Pembinaan kerohanian juga ditujukan untuk mengubah siswa agar berkepribadian baik, guna meningkatkan kualitas diri. Lembaga pendidikan adalah sarana atau tempat untuk melaksanakan pembinaan rohani. Di dalam lembaga pendidikan inilah potensi dan kualitas rohani siswa dapat 10 Menurut Yunita yaitu usaha untuk membimbing seseorang hidup dalam iman, pembinaan rohani adalah pembinaan hati, yakni pembinaan yang bersifat menyeluruh. 11 Tujuan utama dari pembinaan kerohanian adalah untuk memperkenalkan siswa kepada Tuhan. Pembinaan rohani juga dapat membantu siswa mengenal dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara 12 Selain itu, pembinaan kerohanian juga menjadi sarana untuk membentuk karakter siswa menjadi lebih baik. Dengan pembinaan kerohanian yang dilakukan maka tingkah laku siswa dapat terbentuk dalam seluruh pola kehidupan yang terarah kepada keluarga, guru, dan teman. Elly Manizer. AuPeran Guru Sebagai Motivator Dalam Beljar,Ay Jurnal Tadrib 1, no. : 173. Tung Yao Khoe. Terpanggil Menjadi Pendidik Kristen Yang Berhati Hamba (Yogyakarta: Adi Offset, 2. , 5. Sudarsono. Kanakalan Remaja (Jakarta: Rineka, 1. , 13. Zulfa. AuStudi Literatur: Problematika Evaluasi Pembelajaran Dalam Mencapai Tujuan Pendidikan Di Era Merdeka Belajar. Ay Yunita Iriani Syarief. Bunga Rampai Mengembangkan Karakter Melalui Pendidikan Berbasis Nilai (Yogyakarta: Penerbit Deepublish, 2. , 236. Richard L Dresselhaus. Penginjilan Di Sekolah Minggu (Malang: Gandum Mas, 2. , 101. Dr. Sjarkawi. Pembentukan Kepribadian Anak (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Dalam bagian ini, penulis membahas hasil penelitian untuk mengetahui seberapa besar peran guru dalam pembinaan kerohanian siswa. Berdasarkan hasil data lapangan yang dilakukan peneliti dalam observasi dan angket , selanjutnya peneliti akan menganalisis secara terperinci dan menyeluruh setiap unsur yang berkaitan dengan pembinaan kerohanian siswa di sekolah. Guru menjadi pembimbing dalam pembinaan kerohanian Menjadi pembimbing dalam pembinaan kerohanian siswa bukanlah tugas yang mudah, terlebih di tengah tantangan zaman yang terus berkembang. Gaya hidup anak-anak masa kini sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, media sosial, dan nilai-nilai dunia yang seringkali bertentangan dengan ajaran iman Kristen. Dalam kondisi tersebut, guru dituntut untuk hadir sebagai pembimbing rohani yang tidak hanya mengajarkan kebenaran firman Tuhan, tetapi juga membantu siswa untuk mengalami pertumbuhan rohani secara nyata. 14 Pembimbingan ini mencakup perubahan pola pikir, pembentukan sikap hidup, serta penguatan iman dan perilaku yang mencerminkan karakter Kristus. Dengan berfokus kepada keteladanan Yesus sebagai Guru Agung, guru membimbing siswa melalui pendekatan yang melibatkan firman Tuhan dan kuasa Roh Kudus agar mereka dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah. Peran guru sebagai pembimbing juga mencakup pemahaman akan keberagaman karakter dan kepribadian setiap siswa. Setiap anak memiliki latar belakang, cara berpikir, dan kemampuan yang berbeda-beda, sehingga dibutuhkan kepekaan dan pendekatan yang bersifat individual dalam membina kerohanian mereka. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pengamat dan penuntun yang mampu mengenali potensi serta kebutuhan spiritual masing-masing siswa. 15 Dengan membangun relasi yang kuat dan penuh kasih, guru dapat mendeteksi kemampuan yang dimiliki siswa dan menjadikannya sebagai modal dalam pengembangan keterampilan hidup mereka ke depan. Dengan demikian, pembinaan kerohanian yang dilakukan oleh guru tidak hanya menghasilkan siswa yang paham secara intelektual, tetapi juga dewasa secara rohani, memiliki karakter yang kuat, serta mampu menjadi terang dan garam di tengah masyarakat. Dalam praktiknya, pembinaan kerohanian yang dilakukan oleh guru tidak lepas dari integrasi antara pengajaran nilai-nilai iman dan praktik spiritual yang konkret dalam kehidupan sekolah. Guru berperan penting dalam menciptakan suasana pembelajaran yang rohani, melalui kegiatan seperti doa bersama, refleksi harian, renungan singkat, serta penyisipan nilai-nilai Alkitabiah dalam materi Lois E. Lebar. Educational That Is Christian: Proses Belajar Mengajar Kristiani & Kurikulum Yang Alkitabiah (Malang: Gandum Mas, 2. , 76. Siti Wahyuni Fadjriah Hapsari. Laila Desnaranti. AuPeran Guru Dalam Memotivasi Belajar Siswa Selama Pembelajaran Jarak JauhAy 7, no. : 194. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Kehadiran guru sebagai pembimbing rohani memberikan nuansa spiritual yang konsisten di lingkungan sekolah, sehingga siswa terbiasa menjalani kehidupan yang selaras dengan ajaran Kristen. Hal ini menjadikan sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga tempat bertumbuh secara Dengan memberikan teladan hidup yang nyata, guru tidak hanya mengajarkan teori, melainkan menjadi contoh hidup dari apa yang diajarkan. Keteladanan inilah yang membentuk koneksi emosional dan spiritual antara guru dan siswa, serta menjadi faktor penentu keberhasilan pembinaan kerohanian. Selain itu, guru sebagai pembimbing rohani juga bertugas memperkuat identitas kekristenan siswa di tengah dunia yang terus berubah. Tantangan berupa pluralisme budaya, relativisme moral, serta tekanan sosial seringkali membuat siswa kehilangan arah dan nilai hidup yang sejati. Guru Kristen perlu membekali siswa dengan dasar iman yang kokoh, sehingga mereka mampu mempertahankan keyakinan dan prinsip hidup Kristiani dalam berbagai situasi. Upaya ini memerlukan komitmen guru untuk terus memperdalam spiritualitas pribadinya agar mampu menjadi pembimbing yang otentik. Melalui pembinaan yang berkesinambungan, siswa dapat membentuk pola pikir yang kritis dan bijaksana berdasarkan nilai-nilai kekristenan. Dengan demikian, peran guru sebagai pembimbing tidak hanya berakhir di ruang kelas, tetapi terus berdampak dalam membentuk generasi muda yang siap menjadi pemimpin rohani di masa depan. Guru sebagai orangtua dalam pembinaan kerohanian Mengajar dan mendidik adalah tugas utama dari seorang guru, bukan hanya disekolah saja tapi juga dimanapun berda. Guru juga bukan hanya menjadi pengajar dan pendidik saja tetapi, salah satu peran yang dilakukan oleh guru di sekolah adalah sebagai orang tua bagi siswa. Tujuan akhir seorang guru tidak hanya sekedar menjadikan siswa sebagai para intelek, namun juga menjadikan mereka sebagai pribadi-pribadi yang berkarakter mulia. Guru sebagai orang tua yaitu memperhatikan siswa seperti halnya kepada anak sendiri. Perhatian kepada siswa membuat pribadi lebih baik dan siswa tidak ikut dalam kenakalan yang biasa dilakukan oleh para remaja yakni, berkelahi, suka bolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit dan lain sebagainya. 16 Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa untuk membentuk siswa menjadi pribadi yang baik, guru tidak hanya perlu menyandang satu peran saja tetapi juga, guru harus mampu menjadi dan menguasai berbagai peran sesuai dengan tingkat kebutuhan masing-masing siswa. Sebagai orang tua di sekolah, guru tidak hanya bertanggung jawab atas pencapaian akademik siswa, tetapi juga atas perkembangan rohani dan emosional mereka. Peran ini menuntut guru untuk menunjukkan kasih sayang, kepedulian, dan perhatian yang mendalam terhadap kebutuhan spiritual anak didiknya. Guru harus mampu mengenali kondisi batin siswa, mendampingi mereka dalam Sudarsono. Kanakalan Remaja (Jakarta: Rineka, 1. , 13. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 perjalanan iman, serta memberikan bimbingan yang membangun. Keteladanan guru dalam menjalani kehidupan rohani akan menjadi cermin bagi siswa dalam membentuk karakter Kristiani. Sikap sabar, penuh kasih, dan empati dari guru akan membantu siswa merasa diterima, dihargai, dan disayangi, sebagaimana kasih seorang orang tua kepada anak-anaknya. Dalam pembinaan kerohanian, guru juga berfungsi sebagai pelindung dan penasehat. Banyak siswa yang menghadapi tantangan dan tekanan baik dari lingkungan keluarga, pergaulan, maupun perkembangan teknologi yang cepat. Guru yang bertindak sebagai orang tua akan menjadi tempat aman bagi siswa untuk berbagi perasaan, bertanya tentang kehidupan iman, dan mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi. Ketika siswa merasa bahwa gurunya adalah figur yang dapat dipercaya, mereka lebih terbuka untuk menerima arahan dan nasihat rohani. Hal ini menjadikan proses pembinaan kerohanian lebih efektif, karena siswa tidak hanya menerima instruksi, tetapi juga mengalami kasih yang nyata dan transformasi karakter melalui relasi yang sehat. Selain itu, peran guru sebagai orang tua dalam pembinaan kerohanian juga mencakup pengawasan terhadap perilaku dan pembentukan kebiasaan rohani siswa. Guru harus mampu mengajak siswa untuk berdoa, membaca Alkitab, dan merenungkan firman Tuhan dalam keseharian mereka. Dengan kedekatan relasional yang terbangun, guru dapat dengan mudah menanamkan nilai-nilai moral dan etika Kristiani secara kontekstual. Guru juga memiliki kesempatan untuk membangun komunikasi yang baik dengan orang tua kandung siswa, agar terbentuk sinergi antara pendidikan di rumah dan di Melalui kerja sama ini, pembinaan kerohanian siswa dapat berlangsung secara konsisten dan menyeluruh, menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dan cerdas secara spiritual. Guru adalah motivator dalam pembinaan kerohanian Dalam konteks pembinaan kerohanian siswa, guru memiliki peran yang sangat strategis sebagai motivator. Siswa, terutama yang berada dalam masa pertumbuhan dan pencarian jati diri, sangat membutuhkan sosok yang dapat menginspirasi dan membimbing mereka untuk bertumbuh dalam iman. Pembinaan kerohanian bukan hanya soal pengajaran doktrin atau hafalan ayat-ayat Alkitab, tetapi juga menanamkan semangat untuk hidup sesuai dengan ajaran firman Tuhan. Guru sebagai motivator bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi menggerakkan hati siswa agar memiliki kerinduan yang tulus untuk mengenal dan mengalami Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. 17 Peran ini sangat penting untuk memastikan bahwa kerohanian siswa bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi pengalaman pribadi yang terus berkembang. Elly Manizer. AuPeran Guru Sebagai Motivator Dalam Beljar,Ay Jurnal Tadrib 1, no. : 173. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Seorang guru Kristen yang berfungsi sebagai motivator harus mampu menumbuhkan dan merangsang semua potensi yang dimiliki oleh siswa, baik secara spiritual, emosional, maupun moral. Hal ini dilakukan melalui pendekatan yang membangun relasi yang hangat, memberi dorongan, dan menginspirasi siswa agar semangat dalam mengikuti proses pembelajaran agama. Guru dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif, menyenangkan, dan penuh makna spiritual, sehingga siswa merasa aman dan terdorong untuk mengeksplorasi iman mereka. Ketika siswa merasa dihargai dan diperhatikan oleh guru, mereka lebih mudah untuk menerima nilai-nilai rohani dan menerapkannya dalam kehidupan. Selain itu, guru juga memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan potensi-potensi tersebut ke arah yang benar sesuai dengan ajaran Kristus. Setiap siswa memiliki latar belakang, karakter, dan pemahaman iman yang berbeda-beda, sehingga guru perlu menggunakan pendekatan yang fleksibel namun tetap berlandaskan pada firman Tuhan. Dengan menjadi motivator, guru membantu siswa memahami bahwa hidup dalam iman bukanlah beban, melainkan suatu kehormatan dan sukacita. Melalui cerita-cerita inspiratif, contoh nyata kehidupan, serta pengalaman pribadi dalam berjalan bersama Tuhan, guru dapat menyampaikan pembelajaran rohani yang lebih hidup dan berdampak. Akhirnya, guru Kristen sebagai motivator memiliki otoritas spiritual di dalam kelas yang harus dijalankan dengan penuh kasih, integritas, dan keteladanan. Peran ini tidak hanya terlihat dari kata-kata yang disampaikan, tetapi juga dari sikap hidup guru yang mencerminkan kehidupan rohani yang dewasa. Ketika siswa melihat guru mereka hidup dengan iman yang konsisten, mereka akan terdorong untuk mengikuti teladan tersebut. Dengan demikian, pembinaan kerohanian tidak lagi menjadi aktivitas yang kaku dan membosankan, tetapi menjadi perjalanan iman yang menyenangkan dan bermakna, di mana guru dan siswa bersama-sama bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa peran guru dalam pembinaan kerohanian siswa memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap perkembangan spiritual dan pembentukan karakter anak. Kebaruan . dari penelitian ini terletak pada penekanan pentingnya pendekatan terpadu antara pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dengan strategi pembinaan kerohanian yang sistematis dan kontekstual. Dalam konteks tantangan zaman yang semakin kompleks, peran guru tidak lagi terbatas sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai pembimbing spiritual dan moral yang membentuk kepribadian siswa sesuai dengan ajaran Kristus. Penelitian ini juga memberikan pemahaman bahwa pembinaan kerohanian tidak dapat dilakukan secara sporadis, melainkan harus menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan Kristen. Temuan ini penting mengingat merosotnya nilai-nilai spiritual di tengah kemajuan teknologi dan arus budaya global yang kian sekuler. Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan keterampilan pedagogik dan spiritual untuk menjembatani kebutuhan siswa J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 zaman ini dengan nilai-nilai firman Tuhan yang kekal. Sebagai saran pengembangan, peneliti merekomendasikan perlunya penyusunan kurikulum Pendidikan Agama Kristen yang menekankan integrasi antara pengajaran doktrinal dengan pembentukan karakter dan spiritualitas siswa. Lembaga pendidikan Kristen juga diharapkan dapat menyelenggarakan pelatihan rutin bagi guru-guru agama untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam melaksanakan pembinaan kerohanian yang efektif. Selain itu, kolaborasi antara guru, orang tua, dan gereja lokal menjadi penting untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung pertumbuhan iman anak secara holistik. Dukungan dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya juga diperlukan, khususnya dalam hal pendanaan dan kebijakan yang berpihak pada pengembangan pendidikan rohani. Ke depan, diharapkan ada lebih banyak riset lanjutan yang mengeksplorasi strategi inovatif pembinaan kerohanian dalam berbagai jenjang pendidikan. Dengan demikian, institusi pendidikan Kristen tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga pribadi yang matang secara spiritual dan siap menjadi terang di tengah dunia. DAFTAR PUSTAKA