Tabsyir : Jurnal Dakwah dan Sosial Humaniora Vol. No. 2 April 2023 e-ISSN: 2964-5468. p-ISSN: 2964-5484. Hal 136-150 DOI: https://doi. org/10. 59059/tabsyir. Praktik Sosial: Kebudayaan Desa Kemiren Banyuwangi Sebagai Desa Wisata Adat Febriyan Dwi Rachman Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik / Program Studi Sosiologi. Universitas Jember Email: Febriyanrachman3@gmail. Intan Syah Fitri Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik / Program Studi Sosiologi. Universitas Jember Email: Intnftr@gmail. Vindy Febita Mamangkey Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik / Program Studi Sosiologi. Universitas Jember Email: Vindymmgkey@gmail. Korespondensi penulis : vindymmgkey@gmail. Abstract. Society always experiences critical periods in social life. This critical situations raises peopleAos trust in everything that is metaphysical as an alternative to solving problems in their social life. Rural communities, especially the people of Banyuwangi, are very thick with cultural values and spritual beliefs that are influenced by osing customs as a history of Blambangan. This study aims to analyze the habitus, capital realm, and social practices of the Kemiren Village community related to culture. This study uses a qualitative method with an ethnographic approch to understand the social setting of Kemiren village. The theory used in this study is sosial practice theory from Pierre Bordieu. The locatin of this research was conducted in the Kemiren Traditional Tourism Village. Banyuwangi regency. The subjects of this research are the community and customary stakeholders who act as cultural agents in customary and cultural social practices. The results of this study indicate that the habitus of the Kemiren village community in carrying out varios traditional rituals. The habitus of community rituals is influenced by internalization and socila structure in the meaning of cultural values carried out by the Kemiren village community. The dominant village community capital and cultural agent is social capital. Cultural agents and the village community have good realtions that are able to create economic benefits and recognition from the Tourism Office and Banyuwangi Goverment. Keywords: Culture, custom, social, socialm practice Abstrak. Masyarakat senantiasa mengalami masa masa kritis dalam kehidupan sosial. Situasi kritis ini menimbulkan kepercayaan masyarakat pada segala sesuatu yang bersifat metafisik sebagai alternatif untuk menyelesaikan permasalaan dalam kehidupan sosialnya. Masyarakat pedesaan terutama masyarakat Banyuwangi sangat kental dengan nilai nilai budaya dan kepercayaan spiritual yang dipengaruhi oleh adat osing sebagai sebuah sejarah Blambangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis habitus, modal, ranah, dan praktik sosial masayrakat desa Kemiren terkait kebudayaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif Received Februari 26, 2023. Revised Maret 23, 2023. Accepted April 12, 2023 * Febriyan Dwi Rachman. Febriyanrachman3@gmail. Praktik Sosial: Kebudayaan Desa Kemiren Banyuwangi Sebagai Desa Wisata Adat dengan pendekatan etnografi untuk memahami setting sosial desa Kemiren. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori praktik sosial dari Pierre Bordieu. Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Wisata Adat Kemiren Kabupaten Banyuwangi. Subjek penelitian ini adalah masayarakat dan pemangku adat yang berperan sebagai agen budaya dalam praktik sosial adat dan kebudayaan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa habitus masyarakat desa Kemiren dalam melakukan ritual adat yang beragam. Habitus ritual masyarakat dipengaruhi oleh internalisasi dan struktur sosial dalam pemaknaan nilai-nilai kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat desa Kemiren. Modal masyarakat desa dan agen budaya yang dominan adalah modal sosial. Agen budaya dan masyarakat desa memiliki relasi baik yang mampu menciptakan keuntungan ekonomi dan pengakuan dari pihak Dinas Pariwisata dan Pemerintahan Banyuwangi. Kata kunci: Kebudayaan, adat, sosial, praktik sosial LATAR BELAKANG Indonesia memiliki keragaman kebudayaan yang sangat beragam dikarenakan Negara Indonesia mempunyai banyak pulau dari sabang samapai merauke. Disetiap pulau yang berada di Indonesia memliki budaya masing-masing. Bahkan di pulau jawa sendiri terdapatnya sekiranya 10 suku. Salah satunya merupakan suku Using. Suku Using bertempat tinggal di Banyuwangi Jawa Timur. Ada berbagai adat istiadat maupun budaya Suku Using yang masih dilestarikan disana. Masyarakat yang tinggal di setiap pulau memiliki budaya yang lain dari masyarakat pulau lain. Suatu kebudayaan diwariskan dari generasi ke generasi. Suatu kebudayaan diwariskan melalui generasi ke generasi melewati proses belajar dengan begitu kebudayaan selalu diteruskan dari waktu ke waktu. Kata AuBudayaAy berasal dari Bahasa Sansekerta AuBuddayahAy, yakni bentuk jamak dari AuBudhiAy . Jadi, budaya merupakan segala hal yang bersangkutan dengan akal. Selain itu kata budaya juga berati Aubudi dan dayaAy atau daya dari budi. Jadi budaya merupakan segala daya dari budi, yakni cipta, rasa, dan karsa. (Gunawan 2000:. Kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat dan kebiasaan kebiasaan yang dilakukan oleh sekumpulan anggota masyarakat. (Soekanto 2009:150-. Merumuskan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. karya masayarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah . aterial cultur. yang diperlukan oleh manusia untuk mengusai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat. Menurut Hery Prasetyo, kedatangan wisatawan manca negara diasumsikan akan mengerakan sistem perekonomian di wilayah Banyuwangi, setidaknya: hotel. rumah makan. persewaan sepeda motor. sampai dengan visa. dll, harus didapatkan oleh Tabsyir : Jurnal Dakwah dan Sosial Humaira - VOLUME 4. NO. 2 APRIL, 2023 e-ISSN: 2964-5468. p-ISSN: 2964-5484. Hal 136-150 wisatawan mancanegara. Yang artinya sejumlah uang yang secara teoritik merupakan instrument dari kapital harus dikonversikan kedalam bentuk mata uang rupiah dan dipergunakan dalam proses transaksi. Dengan contoh sederhana ini, akan terkesan sangat masuk akal, jika pemerintah daerah mengklaim ada peningkatan kegiatan pendapat daerah dan menghidupkan perekonomian lokal. Klaim yang dimunculkan oleh pemerintah brand dan pelaku usaha yang berkertegantungan dalam menciptakan dalam mencipatakan pasar. (Prasetyo: 2. Kebudayaan di Banyuwangi tidak hanya terdapat pada kesenian mapun adat istiadat yang berbeda dengan dearah lain. Terdapat bahasa asli dari daerah Banyuwangi, bahasa juga sebagai aloat komunikasi mereka sehari hari sehingga menjadi kultur mereka dalam berkomunikasi satu sama lain. Hall menjelaskan bahwa tanda merujuk pada sistem resprsentasi bahasa yang digunakan kultur atau subkultur tertentu. Bahasa bukan saja memiliki fungsi sebagai alat komunikasi namun telah merujuk pada relasi reproduksi kultural. Hal tersebut ditegaskan hall bahwa bahasa memproduksi makna-makna kultural yang kemudian direproduksi makna-makna kultural yang kemudian direproduksi dalam membentuk identitas. (Rosa: 2. Masyarakat senantiasa mengalami masa masa krtitis dalam kehidupan sosial. Situasi kritis ini menimbulkan kepercayaan masyarakat pada segala sesuatu yang bersifat metafisik sebagai alternatif untuk menyelasaikan permasalahan dalam kehidupan sosialnya. Fenomena ini banyak ditemukan pada kondisi masyarakat pedesaan yang masih kental dengan kepercayaan tradisi leluhur. Masyarakat pedesaan terutama masyarakat Banyuwangi sangat kental dengan nilai nilai budaya dan kepercayaan spritual terutama pada makna ritual yang terkandang dalan berbagai prosesinya. Namun munculnya pendangan modern menjadikan berbagai tradisi yang ada mulai tersingkirkan dari kehidupan masyarakat Banyuwangi. Kondisi lingkungan sosial juga berpengaruhi pada eksistensi budaya diberbagai daerah terutama di pedesaan. Namun bagi masyarakat Banyuwangi yang masih memiliki kepercayaan kuat terhadap pelaksaanan dan makna tradisi tersebut masih relevan dalam mengatasi permasalahan realitas sosial. Fenomena ini terjadi di masyarakat di Desa Kemiren Banyuwangi yang masih kental dengan tradisi. Serangkaian budaya masyarakat tidak lepas dari pengaruh adat dan peran agen. Pelestarian budaya daerah tersebut menjadi kajian yang menarik karena bagaimana budaya tersebut bisa terus diturunkan dari generasi ke generasi, khususnya di daerah Banyuwangi. Kepercayaan dan budaya masyarakat desa Banyuwangi dalam melakukan praktik sosial Praktik Sosial: Kebudayaan Desa Kemiren Banyuwangi Sebagai Desa Wisata Adat budaya Desa kemiren Banyuwangi. Penelitian ini memfokuskan praktik sosial masyarakat Desa Kemiren Banyuwangi dalam Budaya Desa Kemiren Banyuwangi. KAJIAN TEORITIS Praktik Sosial Praktik sosial dalam pandangan Bordieu memiliki konsep mengenai . abitus x moda. ranah/arena yang menghasilkan praktik sosial. Pandangan yang dikemukakan oleh Bordieu merupakan lingkungan yang dibentuk berdasarkan hasil dinamika dialektis antara internalisasi interior dan internalisasi eksterior. Eksterior yaitu struktur objektif yang ada diluar dari perilaku sosial seorang aktor. Sedangkan interior merupakan sesuatu yang melekat pada seseorang atau aktor yang melakukan praktik sosial. Pada praktik sosial adanya hubungan yang saling mengintergasi satu sama lain antara habitus, modal dan juga ranah. Pada praktek sosial aktor saling mempengaruhi dan memiliki hubungan dengan konsep-konsep yang dikemukakan oleh Bordieu. Hubungan-hubungan yang sesuai dengan konsep akan menghasilkan praktik sosial yang terjadi di masyarakat. Habitus Habitus adalah struktur mental atau kognitif yang dimiliki oleh individu dan berhubungan dengan dengan dunia sosial (Ritzer, 2012:. Aktor dalam melakukan praktek sosial memiliki kecenderungan Tindakan berdasarkan sejarah atau warisan yang dipengaruhi oleh struktur-struktur yang dilakukan secara turun-menurun. Tindakan yang dilakukan sesuai berdasarkan pola yang dihasilkan dengan adanya sejarah tersebut. Kebiasan yang melekat pada aktor akan menghasilkan sebuah pengaruh terhadap sejarah sosial yang akan dihasilkan berdasarkan suatu lingkungan. Tindakan yang dilakukan oleh para aktor dapat menimbulkan sebuah proses internalisasi yang dapat digunakan untuk mempersepsi, memahami dan mengapresiasi serta mengevaluasi dunia sosial. Secara dialektik habitus merupakan sebuah proses dari internalisasi yang terjadi pada praktek sosial. Oleh karena itu. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh aktor secara pikiran dikendalikan oleh habitus yang terbentuk dimana praktik sosial itu ada. Modal Komponen modal diperlukan pada praktik sosial sebagai aspek penunjang yang dilakukan oleh aktor-aktor yang bertindak untuk mendapatkan sebuah kesempatan dan juga Modal menurut Bordieu terbagi menjadi empat, yaitu sosial, budaya, ekonomi. Tabsyir : Jurnal Dakwah dan Sosial Humaira - VOLUME 4. NO. 2 APRIL, 2023 e-ISSN: 2964-5468. p-ISSN: 2964-5484. Hal 136-150 dan simbolik. Modal ekonomi adalah sebuah modal yang perlu dimiliki aktor secara langsung dan dapat ditukarkan dan dipantenkan sebagai hak milik individu. Modal diantaranya berupa sebuah alat produksi yang dibutuhkan di habitus praktek sosial sebagai aspek penunjang yang Selain adanya modal sosial yang dapat menunjang aspek praktik sosial secara konkret, terdapat modal sosial yang mengandalkan jaringan sosial dan juga relasi sebagai aspek utamanya. Interaksi yang terbentuk berdasarkan kerjasama akan menimbulkan trust dan reciprocity serta norma terhadap sesama individu dalam proses praktik sosial. Dalam memproses praktik sosial terdapat budaya atau pengetahuan yang dibutuhkan aktor dalam melakukan tindakan berupa sebuah warisan adat secara turun-menurun maupun Pendidikan formal sebagai aspek dalam praktik sosial, proses ini disebut dengan modal budaya. Ketiga modal tesebut dapat ditunjang dengan modal simbolik, modal simbolik merupakan sebuah prestise, martabat atau kehormatan dalam lingkungan sosial. Modal simbolik lainnya berupa sebuah derajat, dan otoritas aktor. Modal ini perlu adanya validasi dan claim dari pihak luar selain aktor-aktor yang terlibat. Ranah Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa ranah. Pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan politik. Kedua, menggambarkan struktur objektif hubungan antar berbagai posisi didalam lingkungan tertentu. Ketiga, analis mencoba untuk menentukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam (Goodman J Douglas dan George Ritzer, 2010:. Ranah . yaitu kekuatan yang secara keseluruhan bersifat otonom dan didalam ranah adanya sebuh perjuangan posisiposisi yang diperlukan untuk mendapatkan kekuatan dan modal simbolik dalam praktik sosial. Selain itu para aktor juga melakukan persaingan-persaingan yang diperlukan untuk mendapatkan modal materil dan juga modal simbolik sebagai penyempurna dalam keberlangsungan praktik sosial. Semakin banyak sumber dan juga bentuk prestise maka semakin tinggi struktur yang akan terbentuk. Hal tersebut terbentuk alamiah karena faktor eksternal yang memproses kegiatan praktik sosial. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, yakni penelitian yang menggunakan analisis dekriptif. Fokus penelitian ini mengacu pada praktik sosial masyarakat desa Kemiren Banyuwangi tentang budaya di daerah tersebut. Penelitian ini menggunakan teori praktik sosial dari Pierre Bordieu dengan mengungkapkan konsep habitus, ranah, modal yang dimiliki oleh aktor dalam dunia sosial. Praktik Sosial: Kebudayaan Desa Kemiren Banyuwangi Sebagai Desa Wisata Adat Lokasi penelitian ini berada di Desa Kemiren. Kabupaten Banyuwangi. Alasan pemilihan lokasi penelitian ini karena masih ditemukannya masyarakat yang mempratikkan dan mempertahankan eksistensi budaya sebagai salah satu adat di Banyuwangi di tengah tengah perkembangan jaman yang semakin modernisasi. Selain itu, terdapat beragam kepercayaan yang terdapat di daerah tersebut yang menimbulkan praktik sosial yang berbeda. Subjek dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan teknik purposive, yakni pemilihan atau penentuan subyek berdasarkan fokus dan tujuan penelitian Sugiyono: 2. Subyek dalam penelitian ini merupakan pihak-pihak yang terlibat dalam pelaku budaya di daerah tersebut. Aktor tersebut sebagai masyarakat yang ikut melestarikan dan mempratikkan budaya yang terdaapat di daerah tersebut dan mampu menjelaskan bagaimana budaya di daerah tersebut ada dan tetap terlaksana dari generasi ke generasi. Data dikumpulkan dengan menggunakan observasi, wawancara mendalam, dan Penggalian data primer menggunakan teknik observasi dan wawancara Peneliti melakukan observasi ke lokasi penelitian untuk mengetahui kehidupan masyarakat Desa Kemiren Banyuwangi, serta mendalami seputar budaya apa saja yang dilakukan di daerah tersebut. Wawancara mendalam bertujuan untuk memperoleh informasi yang telah disusun sebelumnya untuk mendapatkan informasi yang jelas, lengkap, dan terserah sesuai dengan penelitian yang di kaji. Wawancara dilakukan di penisanauan miliki salah satu informan dengan mengajukan beberapa pertanyaan seputar praktik sosial masyarakat terkait kebudayaan di desa Kemiren. Data sekendur di peroleh dari hasil dokumentasi, jurnal, skripsi, internet, dan data pendukung lainnya. Dokumentasi yangt diperoleh berupa kondisi lingkungan dan aktivitas warga dalam pelaksanaan budaya di desa Kemiren Banyuwangi sebagai pendukung pengembalian data di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Desa Kemiren sebagai Desa Adat Osing Desa Kemiren dari Kemroyok Mikul Rencana Nyata . rinsipnya yaitu bersamaAesama dan gotong royon. yang diambil dari kata AukemiriAy dan AudurenAy sehingga terbentuk nama AukemirenAy. Desa Kemiren memiliki masyarakat berdasarkan sejarah yaitu orang-orang dari kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri saat kerajaan tersebut runtuh. Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ini kemudian mendirikan kerajaan Blambangan di Banyuwangi yang bercorak Hindu-Buddha seperti halnya kerajaan Majapahit. Kemudian masyarakat Kerajaan Blambangan berkuasa selama dua ratusan tahun sebelum jatuh ke tangan kerajaan Mataram Tabsyir : Jurnal Dakwah dan Sosial Humaira - VOLUME 4. NO. 2 APRIL, 2023 e-ISSN: 2964-5468. p-ISSN: 2964-5484. Hal 136-150 Islam. Dahulu sebelum adanya desa Kemiren, terdapat Desa Cungkil yang menjadi awal mula desa Kemiren sebagai cikal bakal desa yang kental dengan adat osing di Banyuwangi. Masyarakat desa Kemiren sebagian besar memiliki mata pencarian sebagai petani selain dikarenakan geografis yang mendukung namun hal tersebut juga karena tradisi yang dilakukan oleh masyarakat desa secara turun-menurun terhadap kehidupan masyarakat petani yang kental dengan adat dan juga upacara-upacara yang dilakukan terhadap hasil panen sebagai wujud rasa syukur kepada pencipta alam melalui hasil panen yang baik. Upacara kebo-keboan menjadi salah satu upacara yang dilakukan masyarakat Kemiren ketika hasil panen tiba sajian disajikan dengan AuPecel PhitikAy kuliner khas suku using dan alunan musik angklung paglak mengiri petani saat memanen padi. Pada pondok terdapat alat musik berupa angklung, alat musik ini di kenal dengan sebutan angklung paglak. Selain itu terdapat sebuh balingAebaling dari bambu yang di sebut kiling. Hal ini bertujuan untuk menentramkan petani dan pengingat diambil dari kata kiling atau iling yang berarti AuingatAy. Selain dimainkan angklung paglak dan sajian Pecel Pithik. Tari Gandrung juga menjadi salah satu tarian yang khas Banyuwangi dan menjadi salah satu kebudayaan yang sangat identik dengan kebudayaan Osing yang dapat dimainkan saat panen tiba. tari Gandrung ini memiliki makna yang mendalam seiring dengan perkembangan sejarah. Oleh karena itu, tarian ini dilestarikan dan dijaga serta sudah dimodifikasi sedemikian rupa karena tari Gandrung menjadi salah satu kebudayaan di Banyuwangi yang hingga kini dapat ditemui di dalam beberapa perayaan adat dan kebudayaan khususnya di desa Kemiren serta perayaan-perayaan wisata budaya di Banyuwangi. Masa panen yang begitu meriah di desa Kemiren saat akan usai juga akan disuguhi oleh kesenian lainnya yaitu Othek. Kesenian dengan ke-khas-an lesung yang dibuat dari kayu, terbentuk persegi panjang dan memiliki beberapa lubang untuk menumbuk padi pada bagian tengah menjadi salah satu kesenian yang dimainkan saat masa panen oleh masyarakat adat Osing kemudian berkembang untuk dimainkan dalam acara-acara kesenian Banyuwangi sama seperti Tari Gandrung. Selain mata pencarian masyarakat Kemiren yang yang dibalut dengan praktik-praktik adat dan kebudayaan yang begitu kental, desa Kemiren memiliki tatanan bangunan yang identik dengan filosofi budaya melalui rumah-rumah yang ditempati oleh masyarakatnya. Terdapat beberapa macam rumah adat seperti: Crocogan. Baresan, dan Tikel Balung. Crocogan, beratap dua mengartikan bahwa pemilik rumah baru memiliki rumah tangga. Baresan, artinya menandakan pemilik rumah memiliki ekonomi yang relatif kebawah. Baresan dapat diartikan bahwa pemilik rumah memiliki ekonomi cenderung mapan atau Selain itu, rumah-rumah tersebut dapat bertahan selama beratus-ratus tahun dan Praktik Sosial: Kebudayaan Desa Kemiren Banyuwangi Sebagai Desa Wisata Adat dirancang kuat terhadap gempa, dengan bertumpu terhadap 4 tiang saka . dengan sistem tanding tanpa paku. Hal seperti ini masih dipertahankan di masyarakat Kemiren, sehingga kebudayaan ini mengundang banyak masyarakat luar untuk mengetahui lebih detail mengenai rumah adat yang berada di desa Kemiren. Dalam kehidupan sosial desa Kemiren, masyarakat memiliki jiwa kekeluargaan dan hubungan yang erat satu sama lain. Masyarakat Kemiren memiliki kebiasaan mocoan yaitu pembacaan lontar yusuf yang dilakukan oleh warga desa pada momentum sakral seperti kelahiran, khitanan, dan perkawinan, atau pada perayaan-perayaan besar masyarakat Kemiren seperti ritual bersih desa yang dilaksanakan sebagai acara tahunan. Naskah yang dibacakan menggunakan kitab/lontar berupa naskah-naskah kuno, dengan berbahasa Jawa Kuna, serta bertuliskan huruf Arab Pegon, serta menggunakan irama mirip orang menembang mocopat. Pembacaan lontar yusuf dilakukan di rumah-rumah biasanya satu minggu sekali dirumah salah satu pembaca lontar secara bergantian. Mocoan lontar yusuf masih menjadi ritual dan juga kepercayaan yang dilakukan masyarakat Kemiren hingga saat ini. Praktik sosial yang terjadi di masyarakat desa Kemiren terjadi secara alamiah berdasarkan produk sejarah dan juga adat istiadat turun-temurun yang dipertahankan oleh masyarakat desa Kemiren sebagai warisan yang perlu dikembangkan. Masyarakat desa Kemiren merepresi, memahami dan mengapresiasi suatu hal tidak terlepas berdasarkan nilainilai dan pemahaman yang ditanamkan oleh leluhur terhadap para individu sehingga menghasilkan representasi yang berbeda mengenai cara pandangan masyarakat desa Kemiren dengan masyarakat desa lainnya. Pandangan dan praktik-praktik yang dihasilkan oleh masyarakat di desa tersebut tetap dipertahankan hingga saat ini sehingga hal tersebut menjadikan desa Kemiren sebagai desa budaya sehingga mendapatkan pengukuhan dari Dinas Pariwisata Banyuwangi sebagai desa Pariwisata Budaya. Perkembangan kebudayaan di desa Kemiren mulai disadari oleh masyarakat sebagai salah satu potensi yang dimiliki dan menjadi sebuah keuntungan dan juga nilai lebih yang tidak dimiliki oleh desa lainnya. Hal ini dikarenakan masyarakat luar mulai tertarik dengan kebudayaan yang terdapat di desa tersebut dan adanya antusias dari masyarakat untuk mengunjungi dan melihat langsung bagaimana proses praktik sosial di desa Kemiren. Selain itu, desa Kemiren juga diakui oleh Dinas Pariwisata dan adanya intervensi yang dilakukan oleh pihak pemerintah dalam proses pengembangan kebudayaan desa Kemiren untuk menjadikan desa Kemiren sebagai sebuah desa yang kental dengan budaya lokal yang ada Tabsyir : Jurnal Dakwah dan Sosial Humaira - VOLUME 4. NO. 2 APRIL, 2023 e-ISSN: 2964-5468. p-ISSN: 2964-5484. Hal 136-150 Praktik Sosial Kebudayaan Desa Kemiren Sebagai Desa Adat Budaya Habitus Masyarakat Kemiren dalam konteks Desa Adat Budaya Praktik kebudayaan dan kesenian yang terjadi di masyarakat Kemiren terjadi karena struktur mental atau kognitif yang dimiliki oleh individu dan berhubungan dengan dunia sosial (Ritzer, 2012: . Kebudayaan-kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat dilahirkan berdasarkan representasi, apresiasi, dan praktik yang dilakukan turun-temurun secara alamiah oleh masyarakat Desa Kemiren. Kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Kemiren seperti ritual kebo-keboan yang ditujukan sebagai upacara rasa syukur saat masa panen, serta mocoan lontar yusuf, kemudian angklung paglak yang menjadi iringan musik saat petani memanen padi sebagai sebuah iringan dan kemeriahan terhadap hasil panen yang didapat, serta tari Gandrung sebagai warisan kesenian dan hiburan masyarakat Kemiren menjadi sebuah hal yang berkembang di Kemiren sebagai bentuk elemen dari sebuah komponen kehidupan masyarakat Kemiren yang dilakukan berulang-ulang, terus-menerus, dan turun-temurun tanpa mereka sadari. Kebiasaan yang terbentuk berulang-ulang ini menghasilkan nilai yang diterapkan oleh masyarakat secara regenerasi melalui intensitas praktik yang dilakukan secara intens. (Ritzer, 2. (Laili. Penerapan konteks habitus menurut perspektif Bordieu dalam kehidupan masyarakat Kemiren dalam konteks desa adat bahwa praktik yang dilakukan oleh masyarakat Kemiren memiliki perbedaan dengan yang dilakukan oleh masyarakat desa lain di Banyuwangi. Timbulnya ke-khas-an yang ada pada praktik dan tindakan adat yang dilakukan oleh masyarakat dikarenakan adanya internalisasi secara nilai-nilai yang menimbulkan keunikan dan representasi serta penerapan yang membedakan dengan nilai yang dimiliki oleh desa lainnya karena struktur sosial yang terbentuk dan kebiasaan yang dilakukan sejak dulu. Pengaruh interalisasi dan tindakan yang memiliki unsur kebudayaan tidak terlepas karena pengaruh adat Osing yang berkembang dan mempengaruhi masyarakat desa Kemiren berdasarkan sejarah Blambangan yang menyebarkan adat Osing ke sembilan desa di Banyuwangi. Terciptanya budaya masyarakat dalam kehidupan sosial menjadi suatu kesatuan norma- norma yang berlaku. Norma yang berlaku di masyarakat merupakan norma kebiasaan yang berisi sekumpulan peraturan sosial yang dibuat secara sadar maupun tidak terkait tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang (Laili, 2018: . Adapun norma budaya tersebut telah terikat oleh peranan tertentu dalam lingkungan sosial. Masyarakat meyakini dan Praktik Sosial: Kebudayaan Desa Kemiren Banyuwangi Sebagai Desa Wisata Adat memaknai kebiasaan dan kegiatan ritual ini sebagai sesuatu yang dapat memberikan nilai-nilai baik terhadap kehidupan masyarakat Kemiren. Meskipun masyarakat Kemiren melakukan secara alamiah terhadap tindakan dan praktik yang mengandung unsur nilai kebudayaan yang memiliki eksistensi lebih bagi masyarakat diluar desa Kemiren, hal ini memberikan nilai lebih terhadap desa Kemiren dan masyarakatnya terhadap praktik adat dan kebudayaan yang menjadi faktor hingga saat ini untuk mempertahankan serta menjaga praktik adat tersebut tetap berjalan. Modal Masyarakat Kemiren dalam Konteks desa Adat Budaya Kebudayaan yang berkembang di masyarakat desa Kemiren tidak terlepas oleh modalmodal yang menjadi aspek pendukung terhadap kelangsungan kebudayaan dan kesenian masyarakat desa Kemiren. Modal merupakan komponen pendukung yang dimiliki oleh setiap Modal memiliki peran penting dalam suatu proses sosial yang didalamnya dapat terjadi relasi dan pertukaran sosial. Modal sebagai sumber daya yang memunkinkan individu untuk mendapatkan kesempatan dan kekuasaan. Menurut Bourdieu terdapat empat jenis modal yang dibutuhkan dalam dunia sosial,diantaranya, modal sosial, modal budaya, serta modal simbolik. Modal berperan penting dalam kebudayaan masyarakat, hal itu dapat menambahkan bentuk sumber daya baik materil maupun non-materil. Modal dapat membuat individu-individu yang terlibat dalam praktik sosial dapat mencapai tujuan dari praktik sosial. Modal ini menjadi sebuah penguat dari unsur ranah yang dapat mempengaruhi habitus masyarakat Desa kemiren terhadap kebudayaan yang dilakukan terus-menerus. Kebudayaan dan adat istiadat yang terjadi di masyarakat Kemiren ini tidak terjadi hanya karena individu internal masyarakat tersebut. dibutuhkan modal sosial yang dapat menunjang jalannya adat istiadat dan kebiasaan yang menjadi kehidupan sehari-hari masyarakat desa Kemiren dengan membangun trust dan reprocity antar pelaku praktik sosial. Relasi menjadi sangat penting untuk mengintegrasi kebudayaan dan individu yang terlibat. Modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat desa Kemiren adalah para Pemangku Adat yang bergerak pada bidangnya masing-masing. Para pemangku adat ini selain mempelajari kebudayaan berdasarkan nilai-nilai yang diturunkan dalam bentuk regenerasi selain itu para Pemangku Adat ini mempelajari kesenian-kesenian Kemiren dalam bentuk sekolah formal. Cak Samsul salah satu pemangku adat yang bergerak dalam bidang tari, selain Ia mempelajari bidang tari Gandrung dan Seblang melalui Pemangku Adat yang jauh lebih tua, tetapi Ia juga menempuh pendidikan formal di bidang tari untuk mendapatkan ilmu teoritis yang disalurkan kembali ke masyarakat desa Kemiren untuk pelestarian kesenian tari guna mempertahankan Tabsyir : Jurnal Dakwah dan Sosial Humaira - VOLUME 4. NO. 2 APRIL, 2023 e-ISSN: 2964-5468. p-ISSN: 2964-5484. Hal 136-150 eksistensi kesenian-kesenian Banyuwangi, terkhusus desa Osing. Agen budaya tidak hanya memiliki kemampuan modal sosial akan tetapi juga modal budaya. Modal budaya merupakan pengetahuan yang dimiliki oleh individu berupa pendidikan, skill . , kepercayaan. Berkembangnya kebudayaan masyarakat Kemiren menggeser nilai-nilai sosial menjadi nilai ekonomi dan mendapatkan keuntungan lebih melalui kesenian-kesenian yang ditampilkan sebagai bentuk pertunjukan untuk menanggapi antusias masyarakat luar terhadap kebudayaan dan kesenian masyarakat Kemiren. Hal ini menguntungkan nilai ekonomi bagi masyarakat Kemiren melalui kesenian yang sebelumnya hanya memiliki nilai ekonomi, namun seiring dengan berkembangnya pariwisata di Banyuwangi, maka kesenian-kesenian yang berada di desa Kemiren dibentuk sebagai Desa Wisata Budaya. Hal ini menjadikan sebuah modal ekonomi untuk memperluas ekspansi kebudayaan di desa Kemiren agar lebih berkembang, selain itu karena adanya naungan dari Dinas Pariwisata yang ikut campur tangan terhadap Desa Kemiren dalam program Desa Wisata Budaya. Modal simbolik merupakan akumulasi prestise, status, kehormatan, otoritas aktor dalam dunia sosial. Modal simbolik berhubungan dengan kekuasaan simbolik. Kekuasaan simbolik memungkinkan aktor mendapatkan kekuasaan dan pengakuan yang setara. Modal simbolik dapat berupa derajat tinggi dalam kelompok sosial, pendidikan tinggi, jabatan, dan Adapun modal simbolik yang membentuk sebuah prestise milik desa Kemiren sebagai Desa Wisata Adat berupa: Tahun 1995 mendapatkan pengakuan sebagai Desa Wisata Adat oleh pemerintahan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2017 adanya organisasi sadar wisata yaitu Pokdarwis, yang menanungi dan mengelola pariwisata Osing Kemiren. Selain itu adanya peningkatan wisatawan di tahun 2017 karena adanya festival desa adat Kemiren. Tahun 2021 wisata adat Osing Kemiren sukses mendapatkan juara 2 dalam ajang AuDesa Wisata Award 2021Ay kategori wisata berbasis budaya Ranah Masyarakat Kemiren Seabgai Sebagai Desa Adat Ranah memiliki pengaruh pada pada faktor modal dalam suatu arena serta menentukan penempatan sebuah posisi dalam suatu arena. Lingkungan mempengaruhi banyaknya internalisasi masuk mempengaruhi struktur sosial dan bentuk representasi kultur terhadap agen dan individu dalam melakukan tindakan-tindakan yang dianggap sebuah kepercayaan dan adat istiadat yang dilakukan berulang-ulang. Ranah dalam pelaksanaan praktik budaya di Praktik Sosial: Kebudayaan Desa Kemiren Banyuwangi Sebagai Desa Wisata Adat desa Kemiren dilakukan oleh para agen budaya seperti pemangku-pemangku adat yang menjaga dan mempraktikan adat tersebut sehingga masyarakat mempraktikan hal tersebut karena pemangku adat dianggap sebagai tokoh terhormat dan praktik yang dilakukan oleh para pemangku adat diikuti oleh masyarakat Kemiren sebagai bentuk norma dan moral sosial terhadap desa Kemiren. Pemaknaan desa Kemiren sebagai desa adat yang dianggap sebagai pemaknaan yang dilakukan sebagai bentuk norma sosial dan nilai yang dibentuk secara alamiah mulai mengalami pergeseran karena pada komponen praktik sosial bahwa modal dan habitus menghasilkan sebuah arena sehingga pemaknaan nilai bergeser kearah ekonomi dan menjadi sebuah strategi untuk pengembangan desa Kemiren agar jauh lebih berkembang dan mendapatkan eksistensi yang lebih luas serta pengakuan dari masyarakat luar desa, terutama eksistensi dalam sektor pariwisata adat Banyuwangi. Sehingga desa Kemiren dan para pelaku praktik sosial . asyarakat Kemire. membentuk praktik sosial yang sempurna tidak hanya untuk meningkatkan nilai dan norma sosial sebagai bentuk mempertahankan keunikan adat dan istiadat serta serangkaian kebudayaan yang dimiliki, melainkan untuk meningkatkan nilai ekonomi yang yang ditunjang dengan campur tangan pihak luar terhadap desa Kemiren dengan serangkaian modal yang dimiliki oleh desa Kemiren dan adanya bentuk trust dan reprocity antara pihak luar dan desa Kemiren dalam pengembangan desa wisata adat Kemiren. KESIMPULAN DAN SARAN Praktik sosial dalam desa Adat Wisata Kemiren Banyuwangi tidak lepas dari habitus masyarakat dan agen budaya. Kebudayaan yang masih terus ada di Desa Wisara Adat Kemiren Banyuwangi sangat beragam dari mulai kesenian, ritual adat, maupun bahasa yang sangat ciri khas yaitu bahasa Osing. Masyarakat disana senantiasa melestarikan budaya pada generasi ke generasi, lingkungan sosial juga sangat berpengaruh dalam kebudayaan di desa Pelaksaan kebudayaan Kemiren berlangsung melalui regenerasi masyarakat yang mempraktikan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan tersebut dipertahankan karena pemaknaan nilai sosial yang direpresentasikan melalui struktur sosial dan praktik adat dari tokoh-tokoh terhormat seperti pemangku adat yang menjadi figur yang diakui oleh masyarakat Kemiren. Praktik dan kebiasaan yang dilakukan dari generasi ke generasi membentuk desa Kemiren menajadi desa yang berbeda dan unik secara adat kebudayaan yang dimiliki dan adanya perbedaan secara praktik dari masyarakat luar. Tabsyir : Jurnal Dakwah dan Sosial Humaira - VOLUME 4. NO. 2 APRIL, 2023 e-ISSN: 2964-5468. p-ISSN: 2964-5484. Hal 136-150 Sehingga mengundang eksistensi masyarakat luar desa Kemiren yang ingin memahami tentang pemaknaan internalisasi kebudayaan masyarakat Kemiren dalam bidang kesenian dan kehidupan sosial Kemiren sehari-hari. Praktik sosial yang terjadi di masyarakat desa Kemiren terjadi secara alamiah berdasarkan produk sejarah dan juga adat istiadat turun-temurun yang dipertahankan oleh masyarakat desa Kemiren sebagai warisan yang perlu dikembangkan. Masyarakat desa Kemiren merepresi, memahami dan mengapresiasi suatu hal tidak terlepas berdasarkan nilainilai dan pemahaman yang ditanamkan oleh leluhur terhadap para individu sehingga menghasilkan representasi yang berbeda mengenai cara pandangan masyarakat desa Kemiren dengan masyarakat desa lainnya. Pandangan dan praktik-praktik yang dihasilkan oleh masyarakat di desa tersebut tetap dipertahankan hingga saat ini sehingga hal tersebut menjadikan desa Kemiren sebagai desa budaya sehingga mendapatkan pengukuhan dari Dinas Pariwisata Banyuwangi sebagai desa Pariwisata Budaya. Perkembangan kebudayaan di desa Kemiren mulai disadari oleh masyarakat sebagai salah satu potensi yang dimiliki dan menjadi sebuah keuntungan dan juga nilai lebih yang tidak dimiliki oleh desa lainnya. Hal ini dikarenakan masyarakat luar mulai tertarik dengan kebudayaan yang terdapat di desa tersebut dan adanya antusias dari masyarakat untuk mengunjungi dan melihat langsung bagaimana proses praktik sosial di desa Kemiren. Selain itu, desa Kemiren juga diakui oleh Dinas Pariwisata dan adanya intervensi yang dilakukan oleh pihak pemerintah dalam proses pengembangan kebudayaan desa Kemiren untuk menjadikan desa Kemiren sebagai sebuah desa yang kental dengan budaya lokal yang ada Serangkaian adat dan kesenian yang masih terus-menerus dipertahankan oleh masyarakat desa Kemiren ini tidak terlepas oleh unsur-unsur dalam praktik sosial yang dicetuskan oleh Bordieu seperti habitus, modal dan ranah. Ketiga unsur tersebut menjadi penting sebagai sebuah aspek yang menjadi sebuah faktor berkembangnya kebudayaan masyarakat Kemiren. Masyarakat sebagai agen budaya dan selaku aktor dalam praktik sosial berperan penting pada struktur sosial dan kebudayaan sebagai sebuah habitus bahwa masyarakat tidak menyadari dengan kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang sehingga hal tersebut dianggap sebuah habitus bahwa masyarakat desa Kemiren melakukan sebagai kebiasaan tersebut sebagai nilai moral dan sosial, namun hal tersebut turut menjadi sebuah budaya yang identik dengan masyarakat Kemiren dan mendapatkan eksistensi dari masyarakat luar sebagai sesuatu yang unik. Sebuah kebiasaan tidak terlepas oleh unsur modal seperti modal sosial karena adanya sebuah relasi dan jaringan sosial yang dibangun oleh masyarakat desa Kemiren dan Praktik Sosial: Kebudayaan Desa Kemiren Banyuwangi Sebagai Desa Wisata Adat adanya trust serta reprocity yang terbentuk sehingga modal sosial menjadi penunjang terbesar terjadinya praktik sosial. Selain itu adanya modal ekonomi seiring dengan perkembangan masyarakat Kemiren ketika desa Kemiren mulai terlihat eksistensinya, sehingga adanya keuntungan ekonomi yang dihasilkan masyarakat melalui kebudayaan-kebudayaan yang dipresentasikan terhadap masyarakat luas. Para pemangku adat di desa Kemiren tidak hanya mempraktikan budaya hanya berdasarkan regenerasi yang diturunkan berdasarkan praktik sosial, melainkan adanya Pendidikan yang ditempuh secara formal dalam bidang kebudayaan melalui instansi Pendidikan formal untuk memahami lebih dalam mengenai budaya dan menerapkan kembali terhadap kebudayaan Kemiren sebagai bentuk pelestarian budaya Kemiren agar tetap bertahan di era modernisasi. Selain itu adanya prestise dan pengakuan dari pihak-pihak yang menginteversi kebudayaan desa Kemiren seperti pemerintah dan dinas pariwisata yang membantu meningkatkan pengembangan desa Kemiren dan adanya pengukuhan dari banyak pihak terkait kebudayaan desa Kemiren sehingga desa tersebut tidak lagi menilai hanya berdasarkan nilai moral namun terdapat nilai ekonomi dan adanya eksistensi lebih luas daripada sekedar adat istiadat yang dilakukan dalam kehidupan seharihari. Sehingga kebudayaan tersebut terus dikembangkan seiring dengan perkembangan pasar dan terus dimodernisasi sebagai bentuk nilai ekonomi yang ditingkatkan oleh masyarakat desa Kemiren. Unsur habitus dan modal didukung dengan ranah bahwa masyarakat Kemiren menganggap desa Kemiren menjadi sebuah arena dimana adanya kompetisi, artinya desa Kemiren terus mengekspansi kebudayaan yang dimiliki sebagai sebuah aset yang dapat dikembangkan dan dapat memiliki ciri khas unik yang berbeda dengan desa lainnya sehingga eksistensi kebudayaan desa Kemiren akan terus langgeng meski era modernisasi yang semakin meluas di hampir seluruh kehidupan bermasyarakat. Struktur kebudayaan masyarakat Kemiren hasil dari internalisasi kebudayaan yang terus beregenerasi dan tetap dipertahankan oleh pemangku adat ini membentuk praktik sosial karena terdapat habitus, modal dan habitus yang terbentuk dalam struktur di desa Kemiren. hasil dari internalisasi kebudayaan ini mendapatkan perhatian dari masyarakat luar dikarenakan kebudayaan yang beragam dan pemaknaan yang mendalam mengenai setiap adat yang dilaksanakan dalam beragam perayaan. Sehingga kebudayaan Kemiren masih dipertahankan dalam bentuk desa wisata adat yang dipertahankan melalui perjalanan sejarah adat osing sebagai bentuk keragaman budaya milik Banyuwangi. Tabsyir : Jurnal Dakwah dan Sosial Humaira - VOLUME 4. NO. 2 APRIL, 2023 e-ISSN: 2964-5468. p-ISSN: 2964-5484. Hal 136-150 DAFTAR PUSTAKA