PERSEPEKTIF PEREKONOMIAN BUDDHIS SESUAI ANGGUTARA NIKAYA Suparman Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna Jakarta jessymanggala@gmail. Abstrak Pada dasarnya, agama Buddha adalah agama yang menekankan belas kasihan, sehingga cara memperoleh kekayaan dengan tidak menyimpang dari kaidah Pada dasarnya prinsip ekonomi dalam agama Buddha harus beriringan dengan prinsip moral atau sila. Hal tersebut, sesuai dengan sabda sang Buddha dalam kitab Anguttara Nikaya i:208. Lima perdagangan berdasarkan cinta kasih untuk semua makhluk hidup, yaitu: senjata perdagangan, perdagangan dengan makhluk hidup, perdagangan daging, perdagangan dengan zat yang memabukkan, perdagangan dengan racun adalah lima jenis perdagangan yang tidak dianjurkan, dan adalah benda. Berkenaan dengan permasalahan tersebut, maka penulis mencari kebenaran dengan menyatukan dan menganalisa semua melalui metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif studi Dari metode tersebut tercapailah sebuah interprestasi, maka terciptalah hasil pekerjaan yang benar, seperti pekerjaan yang tidak menyimpang dari nilai-nilai agama, norma masyarakat, ataupun aturan negara. Sesungguhnya kriteria moral dan pekerjaan memiliki kesamaan, yaitu tidak merugikan diri sendiri dan makhluk lain serta saling menguntungkan. Ini dapat dipahami dengan penjelasan yang disabdakan oleh sang Buddha dalam kitab suci Ambalatthikarahulovada Sutta (M. Kata kunci : Perekonomian. Anggutara Nikaya Abstract Abstract Basically. Buddhism is a religion that emphasizes mercy, so that the way to acquire wealth does not deviate from moral principles. Basically, the economic principles in Buddhism must go hand in hand with moral principles or precepts. This is in accordance with the Buddha's words in the book Anguttara Nikaya i:208. The five trades based on love for all living beings, namely: weapons trade, trade with living beings, meat trade, trade with intoxicating substances, trade with poisons are the five types of trade that are not allowed, and are things. Regarding these problems, the author seeks the truth by uniting and analyzing all through the research method used is qualitative descriptive literature studies. From this method, an interpretation is achieved, so the correct work results are created, such as work that does not deviate from religious values, societal norms, or state rules. Actually, moral and work criteria have similarities, namely not harming oneself and other creatures and mutually beneficial. This can be understood by the explanation given by the Buddha in the holy book Ambalatthikarahulovada Sutta (A. Keywords : Economy. Anggutara Nikaya PENDAHULUAN Buddhisme menawarkan dua kemungkinan jalan kehidupan yang dapat dicatat, yaitu. Orang yang hidup sebagai perumah tangga seumur hidup mereka dapat memahami bahwa perjalanan tidak dapat dipisahkan dari dinamika masalah ekonomi (Bawono et al. , 2. Ekonomi adalah ilmu sosial yang meneliti aktivitas manusia. (Ningyas, 2. Agama Buddha memberikan dua pilihan jalan hidup yang dapat diambil, yaitu menjalani peran sebagai seorang perumah tangga atau menjalankan peran sebagai seorang samana. Individu yang memutuskan untuk menjalani kehidupan sebagai perumah tangga, dapat dipahami bahwa perjalanan tersebut tidak dapat dilepaskan dari dinamika masalah ekonomi (Bawono et al. , 2. Ekonomi adalah suatu ilmu sosial yang mempelajari tentang kegiatan manusia yang berkaitan dengan aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa. (Ningtyas, 2. Untuk melakukan pengelolaan atau manajemen ekonomi yang baik, maka hal tersebut akan memiliki relevansi yang tinggi bagi semua komunitas manusia, terutama bagi penganut agama Buddha. Pemahaman dan penerapan totalitas prinsip-prinsip ini dalam kegiatan ekonomi sehari-hari mungkin tidak selalu Dengan menerapkan prinsip-prinsip dalam agama Buddha untuk melakukan pengelolaan ekonomi keluarga, hal ini untuk memastikan bahwa ajaran atau pemahaman tersebut telah memberikan manfaat yang berkelanjutan untuk kehidupan (Bawono et al. , 2. Dalam Agama Buddha tidak secara khusus mengajarkan tentang disiplin ilmu ekonomi, namun lebih tepatnya mengajarkan tentang prinsip moral dan agama yang diajarkannya menjadi landasan bagi pemahaman ekonomi. Bawono et . menyimpulkan bahwa keberadaan ilmu ekonomi dalam konteks agama Buddha dapat dipastikan ada. Mata pencaharian atau penghidupan yang benar merupakan salah satu dari delapan unsur Jalan Mulia dalam ajaran agama Buddha. Konsep sila dalam konteks ini terdiri dari tiga unsur utama, yaitu ucapan benar, perbuatan benar, dan mata pencaharian benar. Didalam Buddhisme menyadari bahwa memiliki kekayaan adalah salah satu keinginan mendasar bagi setiap orang. Keinginan manusia tersebut dapat dijelaskan secara hirarki sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab suci Pattakamma Sutta. Yang pertama seseorang menginginkan kekayaan yang diperoleh dengan cara yang benar . hogA me uppajjantu sahadhammenAt. Setelah memperolehnya, seseorang menginginkan popularitas di antara sanak keluarga dan guru . aso me Agacchatu saha yAthi saha upajjhAyeht. Setelah mendapatkannya, kemudian yang kedua seseorang mulai berharap untuk dapat hidup lebih panjang dan menikmati kehidupannya . iraE jvAmi dghamAyuE pAlemt. Dan yang terakhir seseorang menutup keinginannya dengan harapan terlahir di alam surga setelah kematiannya . Ayassa bhedA paraE maraNA sugatiE saggaE lokaE upapajjAmti. (A. II. Dalam kehidupan manusia akan terus berhubungan dengan aturan atau norma sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Nilai yang terkandung dapat langsung diimplementasikan dalam kehidupan seharihari sebagai pedoman untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Untuk mencapai semua hal tersebut, seseorang harus bekerja mencari nafkah dan bagaimana menggunakan penghasilan tersebut untuk menyokong Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan seseorang dapat berkontribusi positif, seperti kemampuan untuk mengurangi stres pada saat bekerja, mempengaruhi sikap etis individu, dan motivasi dalam bekerja. Ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi dan atau distribusi. Manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi pada dasarnya selalu menghadapi masalah ekonomi. Inti dari masalah ekonomi yang dihadapi manusia adalah kenyataan bahwa jumlah kebutuhan manusia tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia jumlahnya terbatas. METODE PENELITIAN Artikel ini merupakan pengkajian tentang persepektif perekonomian buddhis sesuai anggutara nikaya. Pendekatan metode dalam penulisan ini yaitu menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif atau studi pustaka . ibrary Penulisan artikel ini berangkat dari berbagai pengumpulan sumber data yang berasal dari berbagai artikel jurnal, buku yang relevan dan kitab suci Agama Buddha. Sumber yang telah dikumpulkan menjadi dasar dalam penulisan artikel ini, sehingga menjadikan kajian ekonomi dalam pandangan suttapitaka ini sangatlah baik untuk dijadikan rujukan dalam penelitian atau kajian yang akan datang. Metode kualitatif adalah pendekatan penelitian yang mendalam dan komprehensif untuk memahami dan menjelaskan fenomena dalam konteks alamiahnya. Berbeda dengan pendekatan kuantitatif yang lebih menekankan pada pengukuran angka dan statistik, metode kualitatif menekankan pada interpretasi, pemahaman konteks, dan makna subjektif. Dalam penelitian kualitatif, peneliti terlibat secara langsung dengan subjek penelitiannya untuk mendapatkan wawasan yang mendalam mengenai berbagai aspek kehidupan manusia, sosial, atau budaya. (Sugiyono, 2024. Dalam hal ini peneliti berusaha mempelajari dan memahami tentang Perekonomian buddhis yang memang menjadi pencapaian bagi masyarakat Buddhis pada khususnya. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari wawancara, diskusi teman sejawat,serta literasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Persepektif Masyarakat terhadap Ekonomi Selanjutnya para ekonomii mendefinisikan ekonomi dalam pengertian AukekayaanAy. Sebagai contohnya. Adam Smith dalam bukunya An inquiry into the Nature and causes of Wealth of Nations mendefinisikan ekonomi sebagai (Hermawan & Candra, 2. Ekonomi merupakan perspektif sosiologis yang menjelaskan tentang fenomena ekonomi, terutama terkait dengan aspek produksi, distribusi, pertukaran, konsumsi barang, jasa, dan sumber daya, yang bermuara pada bagaimana masyarakat mencapai Selanjutnya, sosiologi ekonomi menunjukkan perkembangan secara eksplosif, hal ini sejalan dengan berbagai permasalah sosial ekonomi masyarakat, baik di negara-negara maju maupun negara berkembang yang sedang berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui berbagai kebijakan pembangunan. Perkembangan studi Sosiologi Ekonomi tidak terlepas dari pengaruh pemikiran tokoh sosiologi klasik dan aliran pemikiran baru dalam sosiologi ekonomi sejak dekade 1980-an. Hasil kajian eksploratif yang pada tulisan ini melalui penelusuran atas perkembangan studi Sosiologi Ekonomi di Indonesia, menunjukkan bahwa sebagian besar studi diarahkan kepada bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan dan mencapai kemakmuran atau kesejahteraan yang erat kaitannya dengan masalah kemiskinan. Saat ini studi Sosiologi Ekonomi lebih marak menganalisis tentang kapital sosial serta masalah struktur, kelembagaan dan sistem ekonomi nasional dikaitkan dengan kesejahteraan masyarakat. Konsep Persepektif Ekonomi Buddhis Dijelaskan tentang konsep ekonomi dalam agama Buddha tidak terlepas dari mata pencaharian benar. Maksudnya adalah Mata pencaharian yang benar menjadi salah satu dari delapan unsur Jalan Mulia (A. IV. Individu yang menjalankan penghidupan secara benar tidak akan merugikan makhluk Ada banyak mata pencaharian yang baik, yang tidak mencelakakan, tidak menyakiti atau membuat pihak mana pun menderita. Sang Buddha memperhatikan baik buruknya suatu barang diperdagangkan, sehubungan dengan ajaran tentang sila. Menurut para ahli, diuraikan tentang ekonomi buddhis tidak hanya mempertimbangkan nilai-nilai etika dari suatu kegiatan ekonomi, tetapi juga berjuang untuk memahami realitas dan mengarahkan kegiatan ekonomi pada keharmonisan dengan Ayhal seperti apa adanyaAy. Faktor ini mengharuskan bahwa mata pencaharian seseorang tidak menciptakan penderitaan atau menyakiti diri mereka maupun orang lain. Dan bahwa mata pencahariaan itu tidak melanggar faktor pendukung lainnya. Kunci dari ekonomi Buddhis adalah kesederhanaan, ekologi dan tanpa Dari sudut pandang ekonomi Buddhis tujuan dari kehidupan ekonomi adalah untuk memperoleh kesejahteraan yang maksimal tanpa merugikan makhluk lain. Kita dapat mengetahui mengenai pekerjaan kita sendiri, bila apa yang kita kerjakan atau yang dilakukan perusahaan kita melanggar Pancasila Buddhis, maka pekerjaan tersebut melibatkan kita dalam mata pencaharian yang tidak benar. Sedangkan konsep ekonomi dalam Suttapiaka dijelaskan oleh sang Buddha yaitu mencerminkan serangkaian nilai-nilai meminimalkan penderitaan dalam kegiatan ekonomi. Ajaran Buddha mendorong kesederhanaan, menolak kekerasan, dan mengedepankan perhatian dan kemurahan hati yang tulus dalam praktik ekonomi. Tujuan utama ekonomi Buddha adalah mencapai moralitas dan kebahagiaan, di mana kekayaan diperoleh dan dilestarikan dengan memperhatikan kepentingan tidak hanya diri sendiri, tetapi juga orang lain (Bawono et al. , 2. Berbicara tentang ekonomi, maka hal tersebut tidak akan terpisah dari berbagai aspek salah satunya adalah aspek kekayaan. Buddha mengajarkan kepada kita bahwa ada tiga hal utama yang harus diperhatikan saat berhadapan dengan kekayaan yang kita miliki, yaitu: Cara memperoleh kekayaan Cara memperoleh kekayaan tidak akan membawa penderitaan dan kerugian bagi mahluk lain. Perlu diingat bahwa untuk mendapatkan kekayaan merupakan hal yang cukup mudah didapat, tetapi untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan Dhamma merupakan hal yang sulit Kekayaan hendaknya diperoleh tidak dengan cara eksploitasi, tetapi melalui usaha dan keterampilan, seharusnya diperoleh dengan usaha yang bermoral. Dalam Anguttara Nikaya IV, 285 Sang Buddha menjabarkan bahwa keberhasilan usaha kita paling sedikit tergantung pada empat faktor utama yaitu: Utthanasampada Rajin dan bersemangat di dalam bekerja, memperoleh kekayaan melalui usaha yang berlandaskan keterampilan dengan kesungguhan hati. Dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini yang sangat ketat persaingannya maka kepandaian saja bukanlah satu-satunya jaminan keberhasilan. Selain itu, perlu adanya ketrampilan atau kemampuan khusus yang dapat menjadi faktor penting menuju kesuksesan, disamping kerja keras,pelatihan,pengalaman dan strategi, tertentu saja. Arakkha Sampada Penuh hati-hati menjaga kekayaan yang telah diperoleh. Memelihara kesuksesan adalah hal yang kadang diremehkan oleh sebagian orang yang telah merasa berhasil dalam Menjaga kesuksesan di sini termasuk menjaga sistem yang meningkatkannya lagi. Kalyana-mitta Memiliki sahabat yang baik. Dalam pengertian Buddhis, lingkungan yang baik, jujur, pandai, terpelajar, mulia, dan seorang sahabat yang penolong, akan memberikan pengaruh cukup besar untuk kemajuan usaha kita. Samajivikata Hidup sesuai dengan pendapatan, tidak boros dan juga tidak kikir. Materi dalam Agama Buddha bukanlah musuh yang harus dihindari. Selanjutnya pandangan Buddhis terhadap pengumpulan kekayaan bagi para pemilik rumah menekankan pada pengurangan penderitaan daripada semata-mata memaksimalkan utilitas dan keuntungan. Ajaran Buddha menyoroti nilai kemurahan hati dan rasa bersyukur, serta menekankan perlunya memenuhi kebutuhan dasar manusia tanpa terjebak dalam keinginan konsumen yang berlebihan. Dalam fokus kegiatan ekonomi, ajaran Buddha bertujuan untuk membawa hasil yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri tetapi juga orang lain. Ini mempromosikan kerja sama dan perilaku etis dalam bisnis, menekankan bahwa keberhasilan ekonomi sejati mencakup kesejahteraan bersama. (Bawono et al. , 2. Cara kita menggunakan kekayaan yang benar Pengaturan tentang kekayaan yang telah kita dapat, dapat dilihat di dalam yang terdapat dalam kitab Digha Nikaya sebagai berikut: ekena bhoge bhubjeyya . atu bagian untuk dinikmat. dvihi kammam payojaye . ua bagian untuk ditanamkan kembali ke dalam modalny. catutabaca nidhapeyya . agian ke empat disimpa. apadasu bhavissanti . ntuk menghadapi masa depan yang suli. Sikap mental terhadap kekayaan. Kekayaan yang diperlakukan secara salah tidak saja menghalangi kemajuan individu, tetapi juga bisa membahayakan masyarakat. Kekayaan menghancurkan mereka yang bodoh, tetapi tidak menghancurkan mereka yang mempunyai tujuan. Hidup yang bebas yang tidak secara berlebihan bergantung pada materi adalah hidup yang tidak tersesatkan oleh kekayaan. Maka dapat dijelaskan bahwa. Ia yang menjalakan mata pencaharian benar, dan menggunakan kekayaan dengan baik untuk dirinya maupun orang lain dapat dikatakan dalam agama Buddha sebagai pemenang yang memiliki kebijaksanaan serta menuntun pada pelepasan kemelekatan . isarana pann. , saat ia tidak lagi diperbudak oleh harta ataupun tidak membawanya sebagai beban, saat ia bisa hidup dengan gembira dan tak bingung tanpa dirusak oleh kekayaan duniawi. Karakter utama dari ekonomi buddhis adalah mengacu pada jalan tengah, hidup sederhana, tidak berlebihan. Mengetahui dan sadar dimana kebahagiaan bertemu dengan kepuasan setelah kita menjawab kebutuhan akan kualitas kehidupan atau kebahagiaan. Misalnya konsumsi yang disesuaikan dengan jalan tengah harus seimbang sebatas jumlah yang pantas untuk pencapaian kesejahteraan dari pada hanya pemenuhan nafsu keinginan. Hal ini bertolak belakang dengan prinsip ekonomi di dalam ekonomi klasik bahwa konsumsi maksimum akan membawa kepuasan maksimum. Kita memiliki konsumsi yang bijak secukupnya menuntun menuju kebahagiaan. Angguttara Nikaya juga menjelaskan seseorang seharusnya menghindari diri dari lima macam perdagangan yang bisa membahayakan bagi dirinya sendiri dan juga mahkluk lain, yaitu: Satta vanijja . erdagangan perbudaka. , b. Sattha vanijja . erdagangan persenjataa. Mamsa vanijja . erdagangan mahluk hidu. Majja vanijja . erdagangan minum-minuman kera. , dan Visa vanijja . erdagangan racun, termasuk ganja,dan sebagainy. Kekayaan yang didapatkan dengan cara ini akan menjadi bumerang bagi orang tersebut. Ekonomi Buddha berbeda secara signifikan dari Ekonomi arus utama . dalam landasan ontologisnya. Ini berarti bahwa asumsi tentang sifat manusia berbeda: nilai-nilai inti ekonomi arus utama adalah kepentingan pribadi dan persaingan dalam mengejar kesejahteraan atau utilitas maksimum. sedangkan dalam Ekonomi Buddha, "diri" mencakup diri sendiri, masyarakat, dan alam, yang semuanya saling berhubungan secara bersamaan. Nilai-nilai inti Ekonomi Buddha adalah welas asih dan kolaborasi yang melaluinya kesejahteraan dicapai yang mengarah pada kebijaksanaan yang lebih tinggi . (Prayukvong et al. , 2. Ilmu ekonomi Buddhis mengemukakan bahwa payya atau kemampuan untuk memahami segala sesuatu dalam sifatnya sendiri adalah corak produksi sedangkan sukha adalah hasil dari munculnya payya. Penerapan ekonomi Buddhis dalam kasus di Indonesia Sistem perekonomian Indonesia tidaklah menganut sistem kapitalisme maupun sosialisme. Dalam sejarah Indonesia, republik ini sudah ada dua orde yang begitu jelas merumuskan sistem ekonominya yaitu Orde Lama dan Orde Baru. Seperti dalam contoh penerapan system perekonomian pada masa Orde Lama, sistem perekonomian Indonesia menganut sebuah system yang disebut Sosialisme Indonesia. Sosialisme Indonesia memiliki pengertian suatu ajaran dan gerakan tata masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Sedangkan pada masa Orde Baru memiliki dokumen pembangunan yang jauh lebih sistematis dan terperinci dibandingkan Orde Lama. Dokumen pembangunan Orde Baru disebut Garis-Garis Besar Halauan Negara (GBHN). Setiap lima tahun diadakan penyesuaian terhadap GBHN agar sesuai dengan dinamika kehidupan Oleh karena itu, esensi sistem ekonomi pada masa Orde Baru hakikatnya tersurat dalam GBHN. (Kurniawan & Lahir, 2. KESIMPULAN Sang Buddha menjelaskan dalam ekonomi Buddhis tidak merugikan diri sendiri maupun makhluk, hal ini merupakan prinsip penting yang dapat digunakan sebagai kriteria dasar perbuatan manusia. Didalam menjalakan ekonomi Buddhis harus sesuai dan harmonis dengan keseluruhan proses sebab akibat sehingga ekonomi berjalan sedemikian rupa tanpa menyakiti diri sendiri ataupun makhluk lain. Walaupun konsumsi dan kekayaan ekonomi penting, tetapi itu bukanlah tujuan akhir. Itu hanyalah sebagai dasar untuk perkembangan manusia dan peningkatan kualitas hidup. Ekonomi Buddhis memastikan pembentukan kekayaan menuntun pada kehidupan di mana orangorang bisa mengembangkan potensi potensi mereka dan memperbanyak hal-hal yang baik. Kualitas kehidupanlah dan bukan harta yang menjadi tujuan. Sebagian masyarakat kaya, karena produksinya melimpah, untuk menjaga kestabilan harga yang ada, mereka harus memusnahkan apa yang dianggapnya tidak perlu. Padahal sebagian dari masyarakat yang lain hidup kelaparan. Orang yang kurang berhasil cenderung melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Hal yang demikian menyebabkan masalah-masalah sosial yang harus kita pecahkan bersama. Setelah mengetahui bahwa kekayaan yang ada bukanlah satu-satunya tolok ukur kebahagiaan, maka sebagian masyarakat mulai berpikir melalui cara pandang yang lain. Seperti yang telah diterangkan di atas. Sang Buddha setelah melihat akan bahaya dari paham materialisme, menerangkan tentang berbagai cara untuk mendapatkan kekayaan dan setelah itu menggunakannya dengan jalan yang benar demi manfaat kehidupan ini dan kehidupan-kehidupan yang akan datang. Boleh dikatakan bahwa Sang Buddha adalah seorang ekonom yang mementingan rakyat banyak, terutama rakyat Daftar Pustaka