Teknik Modelling Albert Bandura Dalam Mengurangi Perilaku Agresip Pada Anak Prasekolah Di Tpq Raudatul Janah Jakarta Barat Silva Ardiyanti AMIK ITMI silvaardiyanti9419@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dan dampak metode modelling dalam mengurangi perilaku agresif pada siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat. Metode penelitian yang digunakan dengan desain studi kasus tunggal. Sempel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 7 siswa dengan mempertimbangkan kreteria prilaku agresif siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, observasi, wawancara dan dokumentasi sebagai data pendukung. Penelitian ini menggunakan aplikasi SPSS versi 20 untuk memperoleh hasil perubahan perilaku agresif dan diperolehkan t-hitung sebesar 6,809 dan diketahui t-tabel sebesar 2,12 dengan tingkat signifikasi 5%. Dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan perilaku agresif setelah diberikan tindakan metode modeling dengan memberikan film pada siswa. Kata Kunci: Teknik Modeling. Prilaku Agresif. Anak Prasekolah PENDAHULUAN Pendidikan merupakan sektor terpenting dalam membangun pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak, yang bertujuan untuk mempersipkan anak masuk pada pendidikan Agar anak dapat kejenjang selanjutnya maka tahapan utama yang harus dilalui ana dalam pendidikan formal adalah pendidikan pra sekolah. Pendidikan pra sekolah merupakan Jurnal Insitusi Politeknik Ganesha Medan Juripol. Volume 8 Nomor 1 Februari 2025 pendidikan yang bertujuan untuk membantu anak beradaptasi dengan lingkungan barunya, baik itu lingkungan keluarga, teman sebaya maupun orang dewasa. Pendidikan pra sekolah umumnya diperuntukkan bagi anak usia dini pada usia 3 sampai 6 tahun. Usia dini merupakan masa emas . olden ag. bagi anak. Karena anak pada masa ini mengalami tahap pertumbuhan dan perkembangan yang paling cepat, baik perkembangan fisik maupun Abu Ahmadi dan Munawar Shaala . menyatakan bahwa usia 3-6 tahun merupakan masa sensitif bagi anak, yaitu mana dimana suatu fungsi tertentu memerlukan rangsangan dan bimbingan agar tidak menghambat tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, pereode ini merupakan periode pertumbuhan yang sangat penting dan harus ditangani secepatnya. II. LITERATURE REVIEW Menurut Agusta . anak usia dini merupakan individu yang unik dengan pola pertumbuhan dan perkembangan aspek fisik, kognitif, sosial, emosional, kreatif, lingistik dan komunikatif yang khusus sesuai dengan tahap perkembangan yang dilalui anak. Pada usia ini, anak akan mengalami tahapan pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental. Salah satu tahapan tumbuh kembang anak yang harus diperhatikan adalah perkembangan sosial emosional. Perkambangan sosial emosional merupakan perkembangan tingkahlaku pada anak, dimana anak dituntut untuk mampu beradaptasi terhadap aturan-aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat. Pada tahap ini, anak terus belajar mengatur emosi dan interaksi sosial . aririson,2. Lebih lanjut Yusuf . alam Yahro, 2. menyatakan bahwa perkembangan sosial emosional adalah proses belajar anak untuk beradaptasi dengan norma, moral dan tradisi suatu kelompok. Hal ini sesuai dengan fungsi yang terkandung dalam pendidikan prasekolah, karena pendidikan prasekolah membentuk tingkah laku anak agar anak dapat mengikuti proses sosial seperti berinteraksi dan bermain dengan teman sebayanya, berinteraksi dengan keluarganya dan mengikuti prose pembelajaran di kelas. Namun dalam proses pembelajaran ada sebagian anak yang belum mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. hal ini dikarenakan perilaku agresif sering terjadi pada anak di Jurnal Insitusi Politeknik Ganesha Medan Juripol. Volume 8 Nomor 1 Februari 2025 lingkungan sosial anak. Perilaku agresif anak pra sekolah tidak dapat dihilangkan atau diisolasikan dari riwayat hidup anak. Hal ini dikarenakan anak mempunyai intensitas imitasi dan imajinasi yang tinggi dalam menyerap rangsangan yang didapatkan dari lingkungannya. Roth, 1996 . alam elisa. mengungkapkan bahwa gangguan perilaku agresif pada anak usia sekolah awal berjumlah 6% dari populasi, dengan kecenderungan lebih besar pada anak laki-laki yaitu 5%, sedangkan pada anak perempuan 1% sampai 3% dari populasi. Perilaku agresif jika terus menjadi kebiasaan pada anak, dapat berubah menjadi perilaku destruktif dan dapat mengganggu tahap perkembangan selanjutnya pada anak. Sebagaimana dijelaskan oleh Viemro,1996 . alam Ratnasari, 2. perilaku agresif pada remaja disebabkan oleh perilaku agresif pada masa kanakkanak. Hal ini dikarenakan pada masa perkembangan usia 3-6 tahun. Anak menyerap segala informasi yang diterima atau dipelajarkan tanpa adanya proses penyaringan. Sehingga anak belum mengetahui apakah perilaku yang ditirunya baik atau tidak bagi dirinya maupun orang lain yang terkena dampaknya. Menurut banyaknya temuan penelitian, perilaku agresif memerlukan pelakuan khusus, terutama pada anak pra sekolah. Hal ini dikarenakan pendidikan pra sekolah merupakan fondasi dan dasar kepribadian yang dapat menentukan perkembangan masa depan seorang anak. Agresif adalah suatu bentuk perilaku fisik atau ferbal yang bersumber dari luapan emosi . seseorang seseorang sehingga ia menyerang dengan kekerasan, yang bertujuan untuk menyakiti atau mencederai objek yang menjadi sasarannya baik secara fisik maupun psikis, (Myers . , kartono . dan krahe. Menurut Heri Widodo . alam anantasari, 2. menyatakan bahwa Auperilaku agresif pada anak sangat meresahkan, apalagi jika dilihat dari akibat yang ditimbulkan dari perilaku anak. Lebih lanjut Anantasari . berpendapat bahwa anak agresif seringkali memiliki ciri-ciri menyakiti diri sendiri atau orang lain serta melanggar aturan. Menurut Syamsu Yusuf . , bentuk perilaku agresif pada anak bermacam-macam, seperi: memukul, mencubit, menggigit, menendang, marah dan mengumpat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh M. Ali. menyatakan bahwa ada dua bentuk perilaku agresif yang sering ditampilkan seseorang, yaitu perilaku agresif terbuka, perilaku yang ditunjukan langsung pada Perilaku agresif terselubung yaitu perilaku agresif yang tidak ditujukan langsu pada objek perilaku sehingga menimbulkan perilaku agresif. Jurnal Insitusi Politeknik Ganesha Medan Juripol. Volume 8 Nomor 1 Februari 2025 Senada dengan hal tersebut Fisher . alam bambang Samsul, 2. menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang berperilaku agresif yaitu kemarahan, faktor biologis, kesenjangan generasi, lingkungan dan peran model kekerasan pembelajaran . eluarga, film, maupun vidio dari media sosial elektroni. , dan frustasi. Faktor kemarahan merupakan emosi yang ditandai dengan aktivitas sistem maaraf yang tinggi dan perasaan dendam yang kuat akibat Ketika seorang anak marah, ia mengembangkan perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan, atau melempar barang-barang disekitarnya atau lainnya. Faktor biologis merupakan faktor yang diturunkan dari keluarga. Yang mana gen mempengaruhi sistem saraf di otak yang mengatur perilaku agresig dan sirkuit yang mengontrol perilaku agresif serta kimia dara . yang diwariskan juga dapat mempengaruhi agresif. Faktor kesenjangan generasi merupakan perbedaan atai kesenjangan antara anak dengan orang tuanya, hal ini terlihat dari hubungan komunikasi yang semakin jarang dan sering terputus. Faktor lingkungan seperti lingkungan keluarga, tempat bermain, sekolah, kemiskinan serta suhu udara yang panas dapat mempengaruhi suasana hati seseorang untuk bertindak agresif. Lebih lanjut wirawan . menyatakan bahwa perilaku agresif siswa terdiri dari faktor sosial, personal, budaya, situasi, sumberdaya, media dan kekesaran dalam rumah tangga. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penyebab perilaku agresif dikalangan siswa sangat beragam. Hal ini dikarenakan perilaku agresif tidak hanya timbul dari motivasi dalam diri siswa saja, manum dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan ketika siswa mempelajari perilaku agresif dari mengadopsi perilaku orang Teknik pemoselan adalah teknik yang bertujuan untuk mempelajari perilaku baru dengan mengamati model dan mempelajari keterampilannya (Hotomono,2. teknik modeling tidak hanya sekedar meniru atau mereplikasika apa yang dilakukan model . rang lai. , namun modeling melibatkan penambahan dan/atau pengurangan perilaku yang diamati , menganalisis berbagai pengamatan sambil melibatkan kognitif . lwellson, 2. Sejalan sengan itu. Bandura mengatakan bahwa perilaku manusia tidak semata-mata dikendalikan oleh kekuatan internak dari dala, tetapi merupakan hasil interaksi terus-menerus dari lingkungan. Jadi perilaku merupakam perkembangan menyeluruh antara faktor internal dan ekternal. Jurnal Insitusi Politeknik Ganesha Medan Juripol. Volume 8 Nomor 1 Februari 2025 Bandura percaya bahwa individu dapat mengembangkan perilaku dalam pola-pola baru dalam situasi yang berbeda tanpa penguatan eksternal, melainkan dengan adanya model yang dapat diamati atau ditiru pada saat itu. Namum sfungsi penguatan ekternal tidak diabaikan sebagai informasi . emberikan gambaran mengenai dampak perilaku terhadap lingkunga. Tujuan dari teknik modeling adalah untuk menghilangkan perilaku tertentu dan membentuk perilaku baru . Bandura . alam al-Wasoul 2. menyatakan bahwa ada empat jenis modeling . memodelkan perilaku baru melalui modeling, . modeling mengubah perilaku lama, . modeling simbolik, medeling yang banyak terdapat pada film di televisi, vidio , you tobe, buku cerita dan beberapa media sosial yang saat ini banyak diakses seperti vidio tiktok, instagram, twiter dan lain sebagainya. modeling kondisional yaitu modeling yang digunakan untuk mempelajari respon emosional. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis pada seswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat terdapat beberapa anak yang berperilaku agresif . hal ini terlihat dari perilaku anak yang suka mengganggu teman, seperti mendorong, menarik, menyikut, mencubit, memukul, mengambil barang teman tanpa izin, membanting pintu dan barang teman, menghalang teman yang satu keteman lainnya untuk bermain bersama, melempar penggaris dan menggoda serta memerahi Bentuk -bentuk perilaku agresif tersebut tidak hanya ditemui saat anak sedang bermain, namun juga pada saat berbaris, berdoa, makan maupun saat proses belajar mengajar. Dan selama proses pembelajaran anak berperilaku agresif sebanya 3 sampai 7 kali. Adapun tidnakan guru saat mendapatkan anak berperilaku agresif hanya sebatas memberi nasehat dan peringatan. Pada saat yang sama, teknik modeling simbolik seperti memberikan contoh . kehidupan nyata yang baik, menampilkan film dengan model yang baik atau bermain peran melalui permainan jarang Faktanya, salah satu kenik modeling yang ditemukan oleh Albert Bandura memiliki manfaat yang sangat besar dalam mengurangi perilaku agresif anak, sehingga perkembangan anak tidak terganggu di kemudian hari. RESEARCH QUESTIONS Fokus Masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah Terdapat efektivitas teknik pemodelan simbolik berbentuk film dalam menurunkan perilaku agresif pada siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat. Jurnal Insitusi Politeknik Ganesha Medan Juripol. Volume 8 Nomor 1 Februari 2025 Apakah efektivitas teknik pemodelan simbolik dalam bentuk film dalam menurunkan perilaku agresif pada siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat IV. METHOD Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yaitu suatu metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui pengaruh suatu perilaku terhadap perlakuan lain dalam kondisi yang terkendali (Sugiono,2. Penulis menggunakan penelitian eksperimental untuk menunjukkan efektifitas teknik modeling simbolik dalam mengurangi tingkat agresif anak. Percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen semu . uasi eksperimen. , yaitu penelitian yang memberikan perlakuan kepada sekelompok orang yang menjadi subjek penelitian. Dalam pendekatan eksperimen ini, peneliti akan menggunakan metode studi kasus tunggal, di mana perlakuan diberikan kepada sekelompok orang dan kemudian hasilnya Populasi penelitian ini berjumlah 16 siswa. Sempel dalam penelitian ini terdiri dari 7 siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu hanya siswa yang mempunyai kecendrungan atau ciri-ciri prilaku agresif tinggi saja yang dijadikan sampel sebagaimana yang diperoleh dari hasil pre-tes. Siswa dianggap memiliki kecendrung tinggi untuk berperilaku agresif jika skor mereka pada kuesioner pengukuran perilaku agresif berada pada rentang dua standar deviasi . SD)diatas angka rata-rata(M). Langkah-langkah penelitian ini diawalin dengan melakukan uji pendahuluan dengan menyebarkan kuesioner tentang kecendrungan perilaku agresif. Setelah melakukan pengujian awal, langkah peneliti selanjutnya adalah melakukan pengenalan perlakuan teknik modeling sebanyak 3 . Siswa kemudian diminta untuk menonton contoh-contoh perilaku agresif dan dampaknya dalam film, kemudian memberikan film-film tentang perilaku baik, moral yang baik beserta dampaknya terhadap mereka. setelah setiap kali menonton, siswa diajak mendiskusikan karakter favorit yang mereka suka dari film yang mereka lihat. DISCUSSION Penelitian ini dilaksanakan di TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat pada bulan Desember 2023. Hasil penelitian diperoleh melalui obserfvasi dan penyebaran angket . untuk memperoleh data tentang gambaran perilaku agresif pada siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat dan sekaligus Jurnal Insitusi Politeknik Ganesha Medan Juripol. Volume 8 Nomor 1 Februari 2025 sebagai dasar modifikasi konten treatment yang akan diberikan dengan menggunakan teknik modeling untuk menurunkan perilaku agresif. Hasil observasi dan pre-test digunakan sebagai analisis awal untuk mengetahui gambaran dan tingkat perilaku agresif siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat. Sedangkan metode modeling digunakan untuk mengetahui efektiivitas film yang akan diberikan dalam menurunkan perilaku agresif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa metode modeling yang dilakuka oleh Albert Bandura sangat efektif untuk menurunkan kecendrungan perilaku agresif pada siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat. Oleh karena itu, semakin diyakini bahwa guru dan orang tua dapat memberikan model atau contoh kehidupan nyata bagi anak-anak dlam mengurangi perilaku agresifnya. Berdasarkan hasil kuesioner beberapa kata gori dan hasil berbeda ditemukan yang diberikan kepada orang tua 16 anak, mengenai perilaku agresif anak-anak mereka. Beberapa kategori dan hasil berbeda ditemukan pada setiap siswa. 0 siswa memiliki perilaku agresif sangat tinggi, 7 siswa memiliki perilaku agresif tinggi, 5 siswa memiliki perilaku agresif sedang, 4 siswa memiliki perilaku agresif rendah, dan 0 siswa memiliki perilaku agresif sangat rendah. Hasil penyebaran kuesioner dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4. Hasil Persentasi Katagori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Rentang Sekor Oc Persentasi 43,75% 31,25% Sementara itu berdasarkan hasil analisis yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat memiliki tingkat agresivitas yang cukup tinggi. Melalui data observasi yang dilakukan peneliti diketahui bahwa terdapat 7 siswa yang mempunyai tingkat agresivitas tinggi. Tingkat agresi yang diperoleh dari tujuh tujuan penelitian menunjukkan bahwa bentuk perilaku agresif yang paling sering ditunjukkan antara lain mendorong, mencakar. Jurnal Insitusi Politeknik Ganesha Medan Juripol. Volume 8 Nomor 1 Februari 2025 memukul, merebut mainan teman, mendorong teman, mengumpat, dan menggigit teman. Untuk rincian lebih lanjut, silakan lihat tabel di bawah ini: Tabel 4. Hasil Observasi Awal Perilaku Agresif Siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat Nama Bentuk Agresif Mendorong Mencakar Memukul Menarik Menunjang membanting pintu Mendorong mengganggu teman saat belajar menyikut teman membanting pintu Mengejek Mendorong pindah-pindah barisan dan menarik teman memarahi teman mengambil barang teman Mencakar merebut mainan teman melarang temannya bermain dengan orang lain Kemunculan Dari hasil observasi dapat diketahui bahwa bentuk-bentuk perilaku agresif yang ditunjukkan siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat, berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Berdasarkan persentase indikator perilaku agresif verbal dan fisik serta hasil observasi lapangan pada siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat terlihat bahwa tingkat perilaku agresif anak berada pada kategori tinggi. Hal ini dapat terlihat dari perilaku agresif siswa. Efektivitas teknik modeling untuk mengatasi perilaku agresif siswa dapat dilihat dengan membandingkan hasil pre-test . ebelum diberikan perlakua. dan hasil post-test . etelah diberikan Sebelum membandingkan hasil pre-test dan post-test, terlebih dahulu dilakukan uji t untuk mengetahui keefektifan metode pemodelan simbolik Albert Bandura dalam menurunkan perilaku agresif pada siswa. Hipotesis dalam penelitian ini adalah: Jurnal Insitusi Politeknik Ganesha Medan Juripol. Volume 8 Nomor 1 Februari 2025 Ha: Terdapat efektivitas teknik pemodelan simbolik berbentuk film dalam menurunkan perilaku agresif pada siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat. H0: Tidak ada efektivitas teknik pemodelan simbolik dalam bentuk film dalam menurunkan perilaku agresif pada siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat. Yaitu: H0:1 = 0 Ha:1 O 0 Perhitungan perilaku agresif siswa dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows Release 20, di mana peneliti menggunakan uji-T berpasangan pada sampel untuk menguji metode pemodelan Albert Bandura dalam mengurangi perilaku agresif. Hasilnya dapat dilihat di bawah Tabel 4. Paired Samples Tes Statistics Mean Std. Deviation Pre-Test 82,50 10,731 Post-Test 60,69 11,173 Hasil Pair 1 Correlation Statistis Uji t Sig Sig. 4,063 6,809 0,472 ,011 Dari hasil pada Tabel 4. 3, dapat dilihat bahwa rata-rata pasca-tes adalah 60,69 dan rata-rata prates adalah 82,50. Selanjutnya pada uji t-skor diperoleh t-skor sebesar 60,69 dan rata-rata pra-tes sebesar 82,50. Selanjutnya hasil perhitungan pengujian diperoleh nilai t sebesar 6,809 pada 9 derajat kebebasan . dengan taraf signifikansi 0,05 dan diketahui ttabel sebesar 2,12. Dapat disimpulkan bahwa angka thitung lebih besar dari ttabel . ,809 Ou 2,. Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, selain itu nilai rata-rata pre-test lebih besar dari pada post-test . ,50 Ou 60,. Bila dilihat dari nilai rata-ratanya, penurunan perilaku agresif pada siswa setelah diberikan prosedur berupa pemutaran film tentang pengaruh perilaku agresif terhadap perilaku baik, terlihat adanya perubahan positif pada perilaku siswa. Pemodelan merupakan suatu perawatan yang ditujukan kepada individu atau sekelompok individu untuk membantu individu tersebut mengubah perilaku maladaptif menjadi perilaku adaptif. Ini berarti melemahkan dan menghilangkan kebiasaan maladaptif, dan kemudian menghasilkan dan memperkuat perilaku Jurnal Insitusi Politeknik Ganesha Medan Juripol. Volume 8 Nomor 1 Februari 2025 adaptif. Lebih jauh lagi, pemodelan merupakan istilah yang merujuk pada suatu proses pembelajaran yang terjadi melalui pengamatan terhadap orang lain di mana perubahan terjadi pada diri seseorang melalui peniruan. Imitasi menunjukkan bahwa seseorang mengamati atau memperhatikan perilaku orang lain. Proses pembelajaran melalui observasi pada metode pemodelan ini dilakukan melalui penggambaran yang sesungguhnya . ive mode. dengan cara mengubah perilaku lama dengan perilaku baru dengan cara meniru perilaku yang ada pada model. Berdasarkan analisis data yang menunjukkan adanya perbedaan perilaku agresif siswa setelah diberikan perlakuan dengan teknik pemodelan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perilaku agresif siswa setelah diterapkan metode symbolic modeling pada siswa mengalami peningkatan dari standar tinggi menjadi standar rendah, sedangkan penurunan perilaku agresif siswa dapat dilihat dari indikator-indikator berikut: Berdasarkan data hasil penelitian bahwa indeks perilaku agresif fisik mengalami penurunan, hal ini terlihat dari persentase yang semakin kecil sebelum dilakukan tes dan persentase yang semakin besar setelah dilakukan tes. Penurunan perilaku agresif siswa dapat diamati pada indikator ini saat siswa mulai berhenti menggigit, mendorong, menjegal, mencakar, dan perilaku lainnya yang kini mulai berubah selama kegiatan belajar mengajar di kelas. Selain itu, berdasarkan data hasil penelitian indeks perilaku agresif verbal terjadi penurunan, hal ini terlihat pada presentase sebelum tes yang lebih besar dibandingkan sesudah tes. Penurunan perilaku agresif siswa pada indikator ini dapat dilihat dari perilaku agresif siswa yang sudah mulai berubah, yang biasanya membuat keributan di kelas dan membanting pintu, marah-marah kepada teman sejawat di kantor, dan kini mulai berubah saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Hal ini sesuai dengan pendapat Silva Ardiyanti. yang menyatakan bahwa perilaku agresif dikalangan pelajar sudah berkurang dibandingkan sebelum adanya tindakan tersebut. VI. CONCLUSIONS Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa metode pemodelan yang dikemukakan oleh Albel Bandura sangat efektif untuk menurunkan kecenderungan perilaku agresif pada siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat. Oleh karena itu, semakin diyakini bahwa Jurnal Insitusi Politeknik Ganesha Medan Juripol. Volume 8 Nomor 1 Februari 2025 guru dan orang tua dapat memberikan model atau contoh kehidupan nyata bagi anak-anak untuk mengurangi perilaku agresifnya. Melalui hasi uji . menggunakan SPSS versi 20 terlihat bahwa rata-rata post-tes sebesar 60,69 dan rata-rata pre test sebesar 82,50. Selanjutnya hasil perhitungan pengujian diperoleh nilai t-skor sebesar 6,809 pada 9 derajat kebebasan . dengan taraf signifikasi 0,05 dan diketahui nilai t-skor sebesar 2,12. Dapat disimpulkan bahwa angka t hitung lebih besar dari ttabel . ,809>2,. Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, karena perilaku agresif siswa berubah setelah diberikan perlakuan menggunakan teknik modeling. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat efektifitas metode modeling Albert Bandura dalam menurunkan perilaku agresif pada siswa TPQ Raudatul Janah Jakarta Barat. REFERENCES