Jurnal Cahaya Mandalika. Vol. No. 1, 2024, e-ISSN: 2721-4796, p-ISSN: 2828-495X Available online at: http://ojs. com/index. php/JCM Akreditasi Sinta 5 SK. Nomor: 1429/E5. 3/HM. 01/2022 HUBUNGAN USIA KEHAMILAN. PARITAS. DAN JARAK KEHAMILAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL Ismiati Kebidanan. Fakultas Kesehatan. Universitas Qamarul Huda Badaruddin Bagu. Indonesia Email: ismi51ati@gmail. Abstract: Dampak anemia pada ibu hamil saat ibu bersalin adalah terjadinya perdarahan. Kondisi ini tentu membutuhkan perhatian khusus untuk dapat menurunkan angka kematian ibu dan anak. Pada tahun 2021 Puskesmas Kilo Memiliki prevalensi kasus anemia sebanyak 23 orang. ,95%). Sedangkan pada tahun 2022 kasus anemia pada ibu hamil di Puskesmas Kilo mengalami peningkatan sebanyak 53 orang . ,96%) dari tahun sebelumnya 2021. Pada tahun 2023 Puskesmas Kilo Memiliki prevalensi kasus anemia dari bulan januari sampai juli sebanyak 34 dari 67 kasus yang mana angka ini masih cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia kehamilan, paritas dan jarak kehamilan di Puskesmas Kilo Kab. Dompu. Popuasi Penelitian ini berjumlah 67 ibu hamil. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling. dengan jumlah populasi ibu hamil aktif sebanyak 204 orang dan batas toleransi kesalahan yang digunakan adalah 0,1. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan uji Chi Square dengan nilai p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan anemia pada ibu hamil adalah usia kehamilan . = 0,. , paritas . = 0,. , dan jarak kehamilan . = 0,. Faktor yang paling berhubungan terhadap anemia pada ibu hamil adalah Usia Kehamilan dengan nilai Exp (B) = 3. Berdasarkan hasil penelitian usia kehamilan, paritas, dan jarak kehamilan dengan kejadian anemia Terdapat hubungan antara Usia Kehamilan. Paritas dan jarak kehamilan terhadap kejadian Anemia pada ibu hamil di Puskesmas Kilo. Kata Kunci : Anemia, usia kehamilan, paritas, jarak kehamilan Abstract: The impact of anemia on pregnant women during childbirth is the occurrence of bleeding. This condition certainly requires special attention to reduce maternal and child mortality. In 2021 Puskesmas Kilo had a prevalence of anemia cases of 23 people . 95%), while in 2022 cases of anemia in pregnant women at Puskesmas Kilo increased by 53 people . 96%) from the previous year 2021. In 2023 Kilo Health Center has a prevalence of anemia cases from January to July of 34 out of 67 cases, which is still quite high. This study aims to determine the relationship between gestational age, parity and pregnancy distance at the Kilo Health Center. Dompu Regency. This study amounted to 67 pregnant women. The sampling technique in this study was carried out by purposive sampling method. with a total population of 204 active pregnant women and the error tolerance limit used was 0. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate analysis using the Chi Square test with a p value <0,05. The results showed that the variables associated with anemia in pregnant women were gestational age . = 0. = 0. , and pregnancy distance . = 0. The factor most associated with anemia in pregnant women is gestational age with an Exp (B) value = 3. Conclusion: Based on the results of research on gestational age, parity, and pregnancy distance with the incidence of anemia, there is a relationship between gestational age, parity and pregnancy distance to the incidence of anemia in pregnant women at Kilo Health Center. Keywords: Anemia, gestational age, parity, pregnancy spacing LATAR BELAKANG Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia, tak terkecuali di Indonesia. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2019, diperkirakan kematian ibu sebesar 303. 000 jiwa atau sekitar 216/100. 000 kelahiran hidup di seluruh dunia. Secara global prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 41,8%. Sekitar setengah dari kejadian anemia tersebut disebabkan karena defisiensi zat besi. Prevalensi anemia pada ibu hamil di Afrika sebesar 57,1%. Asia 48,2%. Eropa 25,1% dan Amerika 24,1%. Seseorang disebut menderita anemia bila kadar Hemoglobin (H. di bawah 11 g% pada trimester I dan i atau kadar <10,5 g% trimester II (WHO, 2. This is an open-access article under the CC-BY-SA License. Prevalensi anemia dalam kehamilan di Indonesia tahun 2019 sebesar 48,9% dan angka ini mengalami peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2018 sebesar 48,9%. anemia selama masa kehamilan lebih banyak terjadi pada trimester II dan i dibandingkan dengan trimester I (Adawiyah & Wijayanti, 2. Hal tersebut terjadi karena adanya peningkatan volume darah dan volume plasma pada ibu hamil trimester II dan i (Aditianti & Djaiman, 2. Kejadian anemia disebabkan oleh defisensi zat besi sebanyak 62,3% yang dapat menyebabkan keguguran, partus prematus, inersia uteri, partus lama, atonia uteri dan menyebabkan perdarahan serta Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya anemia kehamilan diantaranya gravida, umur, paritas, tingkat pendidikan, status ekonomi, kepatuhan konsumsi tablet Fe, pola makan dan aktivitas fisik. Umur ibu yang ideal dalam kehamilan yaitu pada kelompok umur 20-35 tahun dan pada umur tersebut kurang beresiko komplikasi kehamilan serta memiliki reproduksi yang sehat. Hal ini terkait dengan kondisi biologis dan psikologis dari ibu hamil. Sebaliknya pada kelompok umur < 20 tahun beresiko anemia sebab pada kelompok umur tersebut perkembangan biologis yaitu reproduksi belum optimal (Wahyuni, 2. Kehamilan pada kelompok usia diatas 35 tahun merupakan kehamilan yang beresiko tinggi. Wanita hamil dengan umur diatas 35 tahun juga akan rentan anemia. Hal ini menyebabkan daya tahun tubuh mulai menurun dan mudah terkena berbagai infeksi selama masa kehamilan (Wahyuni, 2. Penelitian Akhirin, et al. , . menunjukkan bahwa ada hubungan usia ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Biha Kabupaten Pesisir Barat tahun 2021. Pada penelitian didapatkan ibu dengan umur berisiko sebesar 18,2 % mengalami anemia. Menurut penelitian Sjahriani dan Faridah . , semakin meningkatnya usia kehamilan ibu maka risiko untuk menderita anemia menjadi semakin besar apabila tidak diimbangi dengan pola makan yang seimbang dan konsumsi Fe secara teratur. Jarak kehamilan juga berpengaruh dengan kejadian anemia pada ibu hamil, dimana jarak kehamilan terlalu dekat yaitu kurang dari 2 tahun karena sistem reproduksi belum kembali seperti keadaan semula sebelum hamil (Anggraini, 2. Paritas ibu merupakan frekuensi ibu pernah melahirkan anak hidup atau mati, tetapi bukan aborsi, semakin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan maka semakin banyak kehilangan zat besi dan semakin menjadi anemia (Wahyu, 2. Data Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Prevalensi kasus anemia pada ibu hamil di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 2022 921 kasus anemia. Kab Dompu mempunyai 10 Puskesmas. Pada tahun 2020 prevalensi kasus anemia di Kabuapaten Dompu sebanyak 399 kasus dengan persentase sebanyak 6,29%. Pada tahun 2021 prevalensi kasus anemia di Kabuapaten Dompu sebanyak 450 kasus dengan persentase sebanyak 7,34%. Pada tahun Pada tahun 2022 prevalensi kasus ibu hamil yang anemia di Kabupaten Dompu sebesar 556 kasus dengan persentase sebanyak 9,04% dan merupakan angka yang tinggi sehingga mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2020 Puskesmas Kilo Memiliki prevalensi kasus anemia sebanyak 34 kasus dengan persentasi 9,86%. Pada tahun 2021 Puskesmas Kilo Memiliki prevalensi kasus anemia sebanyak 23 orang dengan persentasi 6,95%. Sedangkan pada tahun 2022 kasus anemia pada ibu hamil di Puskesmas Kilo ini mengalami peningkatan sebanyak 53 orang dengan persentasi 15,96% dari tahun sebelumnya 2021. Pada tahun 2023 Puskesmas Kilo Memiliki prevalensi kasus anemia dari bulan januari sampai bulan juli sebanyak 34 dari 67 kasus yang mana angka ini masih cukup tinggi. Dampak yang dapat disebabkan anemia defisiensi besi pada ibu hamil adalah 12% - 28% angka kematian janin, 30% kematian perinatal dan 7% - 10% angka kematian neonatal (Kemenkes RI, 2. Anemia di trimester i kehamilan akan berdampak kepada penurunan kondisi ibu hamil maupun janinnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia kehamilan dan kadar Hb pada ibu hamil trimester i berhubungan dengan kejadian Berat Badan Lahir Rendah (Fanni & Adriani, 2. Selain meningkatkan resiko BBLR anemia dapat meningkatkan resiko lahir mati dan kematian neonatal (Patel et al. , 2. Dampak langsung anemia ibu hamil saat ibu bersalin adalah terjadinya perdarahan sebesar 17,24%. Kondisi ini tentu membutuhkan perhatian khusus untuk dapat menurunkan angka kematian ibu dan anak. Meskipun pemerintah sudah melakukan program penanggulangan anemia pada ibu hamil dengan memberikan 90 tablet Fe . at bes. kepada ibu hamil selama periode kehamilan, namun kejadian anemia masih tinggi (Purba. Nurazizah, 2. Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk meniliti tentang bagaimana usia kehamilan, paritas, dan jarak kehamilan dihubungkan dengan kejadian anemia selama tahun 2023, supaya tenaga kesehatan maupun masyarakat dapat melakukan deteksi dan antisipasi dini anemia pada masa kehamilan agar tidak berdampak buruk terhadap kondisi ibu dan bayinya, bahkan sampai ke kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia kehamilan, paritas dan jarak kehamilan di Puskesmas Kilo METODE Desain penelitian ini yaitu memungkinkan tahapan dalam perancangan pada penelitian ini. Dalam tahapan ini peneliti menggunakan survey analitik. Desain penelitian ini menggunakan cross sectional study. menelusuri secara retrospektif ada tidaknya faktor usia kehamilan, paritas dan jarak kehamilan yang berperan terjadinya anemia pada ibu hamil. Dengan desain sebagai berikut: Gambar 1 : Desain Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di Puskesmas Kilo Kabupaten Dompu tahun 2023 yaitu. Bulan Januari Ae Juni Sebanyak 204 ibu hamil. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode purposive Pada pencarian menggunakan rumus slovin, dengan jumlah populasi ibu hamil aktif sebanyak 204 orang dan batas toleransi kesalahan yang digunakan adalah 0,1. Maka didapatkan jumlah sampel yang diperlukan dalam penelitian ini sebanyak 67 orang Ibu Hamil yang ada di Puskesmas Kilo Kec. Kilo. Adapun kriteria inklusi dan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Kriteria inklusi yaitu : Semua ibu hamil yang melakukan pemeriksaan di Puskesmas Kilo dan semua ibu hamil yang melakukan pemeriksaan HB di Puskesmas Kilo Kriteria eksklusi: Ibu hamil yang tidak lengkap data di buku register dan Ibu hamil yang mengalami kelainan darah. Pengumpulan data dilakukan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari data register ibu hamil dibagian KIA Puskesmas Kilo 2023. Analisis data berupa analisis univariat untuk melihat gambaran distribusi frekuensi, besarnya proporsi dari masingmasing variabel yang akan disajikan. Selanjutnya dilakukan analisis bivariat untuk melihat hubungan antara variabel independen (Usia Kehamilan. Paritas, dan Jarak Kehamila. dengan variabel dependen (Kejadian Anemi. pada ibu hamil di Puskesmas Kilo. HASIL & PEMBAHASAN Analisis Univariat Hasil penelitian . ejadian anemia, usia kehamilan, paritas dan jarak kehamila. diolah dalam bentuk tabel distribusi frekuensi . = . sebagai berikut : Tabel 1. Distribusi frekuensi kejadian anemia, usia kehamilan, paritas dan jarak kehamilan pada ibu hamil di Puskesmas Kilo Dompu 2023. (Sumber :Data Sekunder 2. Berdasarkan tabel 1 diketahui sebagian dari ibu hamil 34 . 7%) mengalami kejadian anemia, sebagian dari ibu hamil 37 . 2%) dengan usia kehamilan beresiko TM I dan TM i, sebagian dari ibu hamil 36 . 7%) dengan paritas beresiko multipara dan grande multipara, dan sebagian dari ibu hamil 40 . 7%) dengan jarak kehamilan beresiko < 2 tahun. Analisis Bivariat Tabel 2. Hubungan antara usia kehamilan, paritas dan jarak kehamilan dengan kejadian anemia (Sumber :Data Sekunder 2. Berdasarkan tabel 2 didapatkan hasil dari 34 orang ibu hamil dengan anemia di Puskesmas Kilo Kab. Dompu, sebagian besar ibu . 8%) dengan usia kehamilan beresiko TM I dan TM i mengalami kejadian anemia dan sebagian besar ibu hamil . 8%) dengan usia kehamilan tidak beresiko TM II mengalami tidak anemia, hasil dari uji chi Ae square . -value < 0,. maka terdapat hubungan usia kehamilan terhadap kejadian anemia, dengan nilai OR sebesar 7. 912 yang berarti ibu dengan usia kehamilan beresiko TM I dan TM i memiliki peluang 912 kali mengalami anemia dibandingkan dengan ibu yang usia kehamilannya tidak beresiko TM II dengan tingkat kepercayaan 95% CI 1. Sebagian besar ibu hamil dengan anemia . 3%) dengan paritas beresiko multipara dan grandemultipara mengalami anemia dan sebagian besar ibu hamil . 3%) dengan paritas tidak beresiko nullipara dan primipara tidak anemia, hasil dari uji chi-square . -value < 0,. , maka terdapat hubungan paritas dengan kejadian anemia, dengan nilai OR 4. 200 berarti ibu hamil dengan paritas beresiko multipara dan grande multipara memiliki peluang 4. 200 mengalami kejadian anemia dibandingkan dengan ibu hamil dengan paritas tidak beresiko nullipara dan primipara dengan tingkat kepercayaan 95% CI 1. Sebagian besar dari ibu hamil dengan anemia . 3%) dengan jarak kehamilan beresiko < 2 tahun mengalami anemia dan sebagian ibu hamil . dengan jarak kehamilan tidak beresiko Ou 2 tahun mengalami tidak anemia, hasil dari chi Ae square . ig < 0,. maka terdapat hubungan jarak kehamilan dengan anemia, dengan nilai OR 3. 333 berarti ibu hamil dengan jarak kehamilan < 2 tahun memiliki peluang 3. 333 mengalami kejadian anemia dibandingkan dengan ibu hamil yang jarak kehamilannya Ou 2 tahun dengan tingkat kepercayaan 95% CI 196 Ae 9. Analisis Multivariat Tabel 3 Permodelan Regresi Logistik dari table Variables in the Equation Variabel Sig. Exp(B) 95% C. Lower Upper Usia Kehamilan Paritas Jarak Kehamilan Berdasarkan data di atas variabel independen yang paling bermakna memiliki nilai OR paling besar adalah Usia Kehamilan dengan nilai OR 4. 878 berarti ibu hamil dengan jarak kehamilan beresiko < 2 tahun memiliki peluang 4. 878 mengalami kejadian anemia dibandingkan dengan ibu hamil dengan jarak kehamilan tidak beresiko Ou 2 tahun. Pembahasan Hubungan usia kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar ibu hamil pada kelompok . memiliki usia kehamilan beresiko TM I dan TM i yaitu sebanyak 25 orang . 8%) dan hampir sebagian ibu hamil memiliki usia kehamilan tidak beresiko TM II yaitu 21 orang . 8%). Dari data tersebut peneliti mengasumsikan bahwa mayoritas responden dengan usia kehamilan trimester I dan trimester i. Hal ini sejalan dengan teori menurut Tadesse dkk . bahwa kejadian anemia lebih berisiko terjadi pada TM 1 dan TM 3. Hal ini disebabkan karena anemia pada trimester pertama bisa disebabkan karena kehilangan nafsu makan, morning sickness, dan dimulainya hemodilusi pada kehamilan 8 minggu. Sementara di trimester ke-3 bisa disebabkan karena kebutuhan nutrisi tinggi untuk pertumbuhan janin dan berbagi zat besi dalam darah ke janin yang akan mengurangi cadangan zat besi ibu. Kebutuhan zat gizi pada ibu hamil terus meningkat sesuai dengan bertambahnya umur kehamilan, salah satunya zat besi. Selama kehamilan terjadi pengenceran . yang terus bertambah sesuai dengan umur kehamilan dan puncaknya terjadi pada umur kehamilan 32 sampai 34 minggu. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Putri dan Yuanita . , dimana terdapat bahwa dari 16 responden usia kehamilan 28- 40 minggu sebagian besar mengalami kejadian anemia sebanyak 10 responden . ,5%), sedangkan dari 14 responden usia kehamilan 13- 27 minggu sebagian besar tidak mengalami anemia sebanyak 12 responden . ,7%). Berdasarkan hasil uji Chi-square didapatkan nilai p value 0,021 < . hal ini menunjukkan ada hubungan antara usia kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Bukit Sangkal Palembang. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Susianty . Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi square didapatkan nilai p = 0,000 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Poasia Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Usia kehamilan ibu perpengaruh terhadap kejadian anemia, dimana usia kehamilan yang masih muda mebutuhkan asupan gizi yang lebih sehingga ibu dengan usia muda rentan menderita anemia dalam kehamilan dan akan sangat rentan terhadap infeksi dan pendarahan, walaupun perdarahan hanya sedikit. Pengalaman membuktikan bahwa kematian ibu karena perdarahan lebih sering terjadi pada para ibu yang menderita anemia (Amini, dkk. , 2. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas peneliti berpendapat bahwa usia kehamilan ibu berpengaruh terhadap kejadian anemia, dimana usia kehamilan yang masih muda . rimester I) membutuhkan asupan gizi yang lebih sehingga ibu dengan usia kehamilan trimester I rentan menderita anemia dalam kehamilan dan akan sangat rentan terhadap infeksi dan perdarahan. Sedangkan ibu hamil yang umur kehamilannya sudah memasuki trimester i dapat beresiko terjadinya anemia pada Hal ini disebabkan karena pada trimester i, kebutuhan zat besi dan asam folat, vitamin ibu akan semakin meningkat karena untuk mencukupi kebutuhan sel darah janin yang diperlukan untuk pertumbuhannya, sehingga jika kebutuhan zat besi, asam folat dan vitamin pada trimester i tidak terpenuhi dapat menyebabkan resiko terjadinya anemia pada kehamilan (Gusnidarsih. Jadi setiap ibu hamil dengan usia kehamilan beresiko memang lebih berisiko anemia akan tetapi sesuai dengan keadaan dan komplikasi yang dialami ibu tersebut. Ibu yang usia kehamilannya beresiko namun tidak anemia dapat terjadi karena kandungan zat besi yang dikonsumsi sudah tercukupi, status gizinya baik. Sedangkan hampir sebagian ibu hamil yang usia kehamilan tidak beresiko tetapi mengalami anemia hal ini bisa terjadi karena factor-faktor selain factor tidak langsung anemia juga disebabkan oleh faktor langsung seperti kepatuhan minum tablet Fe, keteraturan dan jumlah mengkonsumsi tablet Fe selama hamil, juga bisa disebabkan karena komposisi makanan yang tidak tepat sehingga mengganggu penyerapan zat besi di dalam tubuh. Selain itu anemia bisa dipicu karena adanya penyakit menahun seperti TBC dan infeksi cacing yang mengakibatnya hilangnya darah atau zat besi dan perdarahan (Syarfaini. Hubungan paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Sebagian besar ibu hamil dengan anemia 24 . 3%) dengan paritas beresiko multipara dan grandemultipara mengalami anemia dan sebagian besar ibu hamil 21 . 3%) dengan paritas tidak beresiko nullipara dan primipara tidak mengalami anemia, dari data tersebut peneliti mengasumsikan bahwa mayoritas responden dengan paritas multipara dan grandemultipara beresiko mengalami anemia. Hal ini dikarenakan semakin sering seorang wanita melahirkan maka semakin besar resiko kehilangan darah dan berdampak pada penurunan kadar Hb. Sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Teja. Mastryagung, , & Diyu. bahwa ibu hamil yang mengalami paritas beresiko sebanyak 66,6 persen mengalami anemia, dan ibu yang paritas tidak beresiko sebanyuak 5,8 persen mengalami anemia dengan p value= 0,002 yang artinya terdapat hubungan antara paritas dengan anemia pada ibu hamil. Menurut penelitian Astriana tahun 2017 didapatkan hasil bahwa responden dengan paritas beresiko lebih banyak mengalami anemia pada ibu hamil dibandingkan responden dengan paritas tidak beresiko. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Yuanita . bahwa ibu yang memiliki paritas > 3 disebabkan karena otot-otot pada daerah organ reproduksinya sudah mengalami kekendoran terutama pada dinding perut dan dinding Rahim sehingga dari keadaan tersebut maka akan mudah menimbulkan berbagai macam komplikasi yang berakibat terjadinya anemia dan perdarahan. Sedangkan ibu dengan paritas 1, yang mempunyai kekurangsiapan dalam menghadapi persalinan disebabkan ibu belum pernah melahirkan seperti kurang mempersiapkan kondisi fisik maupun psikologis menjelang persalinan sehingga ibu rentan mengalami berbagai komplikasi seperti anemia dan perdarahan. Paritas >3 merupakan paritas yang berisiko tinggi untuk terjadinya anemia. Oleh karena itu seorang ibu yang ingin hamil berikutnya untuk memperhatikan kebutuhan nutrisi, karena selama hamil zat gizi akan terbentuk untuk ibu dan janin yang Pada paritas > 3 merupakan faktor terjadinya anemia. Hal ini disebabkan karena terlalu sering hamil dapat menguras cadangan zat gizi tubuh ibu dan semakin sering seorang wanita melahirkan maka semakin besar risiko kehilangan darah dan berdampak pada penurunan kadar HB, dan memberikan jarak aman 2-3 kali jumlah kelahiran . agar risiko semakin rendah. Sehingga adanya hubungan antara paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Ibu hamil yang mengalami anemia mayoritas paritas malahirkan >3 anak yaitu sebesar 55,2%. Ini berarti bahwa meskipun terdapat hubungan umur ibu dan paritas dengan kejadian anemia tetapi bisa jadi masih ada faktor lain yang ikut terlibat dalam kejadian anemia pada ibu hamil tersebut di wilayah kerja Puskesmas Totoli. Dimana sebesar 100% ibu hamil yang mengalami anemia (Riyani, et al. , 2. Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian Rahmaniah, et al. , . yang mengemukakan ada hubungan paritas ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil di dengan paritas melahirkan >3 anak. Hubungan jarak kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar ibu hamil kelompok anemia memiliki jarak kehamilan beresiko < 2 tahun yaitu sebanyak 25 orang . 3%). Dari data tersebut peneliti berasumsi bahwa mayoritas responden yang jarak kehamilan < 2 tahunn beresiko anemia. Hal ini dikarenakan ibu hamil dengan jarak kehamilan yang terlalu dekat kondisinya belum pulih dan pemenuhan kebutuhan zatzat gizi belum optimal untuk memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang dikandungnya. Menurut BKKBN . dalam Handayani . alasan tidak diperbolehkannya hamil dengan jarak terlalu dekat (< 2 tahu. yaitu karena kondisi ibu masih belum pulih dan pemenuhan kebutuhan zatzat gizi belum optimal, sudah harus memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang dikandungnya. Jadi setiap ibu hamil dengan jarak kehamilan risiko tinggi memang lebih berisiko anemia akan tetapi sesuai dengan keadaan dan komplikasi yang dialami ibu tersebut. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Malaka. dkk, 2. Berdasarkan hasil analisis hubungan jarak kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil menunjukkan bahwa bahwa ibu hamil yang mengalami Anemia sebanyak 8 Orang . ,8%), yang paling banyak jarak kehamilan <2 tahun berjumlah 5 orang . ,5%) dan yang paling sedikit jarak kehamilan Ou2 tahun berjumlah 3 orang . ,0%). Sedangkan ibu hamil yang tidak mengalami anemia sebanyak 23 orang . ,2%), yang paling banyak jarak kehamilan Ou2 tahun berjumlah 20 orang . ,0%) dan paling sedikit jarak kehamilan <2 tahun berjumlah 3 Orang . ,5%). Dari Hasil uji statistik didapatkan pvalue sebesar 0,013, jika p < 0,05. maka H0 ditolak dan Ha diterima sehingga dapat diartikan ada hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian anemia. Hal Ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Armany Mokhtar Abdelhafez dan samaa saied El-Soadaa di Saudi Arabia, bahwa jarak kehamilan kurang dari 2 tahun berkaitan dengan peningkatan resiko kejadian anemia. Seorang perempuan setelah melahirkan membutuhkan 2-3 tahun untuk memulihkan tubuhnya dan mempersiapkan dirinya pada persalinan berikutnya serta member kesempatan pada luka untuk sembuh dengan baik. Jarak kehamilan yang pendek akan meningkatkan risiko terhadap ibu dan anak salah satunya adalah risiko kejadian anemia pada ibu hamil (Murtiyarini I dkk, 2. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian anemia di wilayah kerja puskesmas tapa dikarenakan hampir semua ibu hamil yang mengalami kejadian anemia memiliki jarak kehamilan yang kurang dari 2 tahun (Malaka. M A, dkk. Hasil penelitian ini sejalan degang penelitian Zebua . , analisis jarak kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil dan responden yang paling banyak menderita anemia adalah reponden dengan jarak kehamilan < 2 tahun sebanyak 21 orang . %). Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian dari Yelini Fan Hardi dkk, . bahwa berdasarkan hasil Uji Statistik ChiSquare di peroleh nilai yang signifikan atau P Value = 0. Artinya nilai P Value C 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, yang berarti terbukti adanya hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Berdasarkan pembahasan diatas, merujuk dari penelitian Yelini Fan Hardi dkk, . berasumsi bahwa jarak kehamilan sangat mempengaruhi kadar hemoglobin pada ibu hamil. Hal ini disebabkan karena seorang ibu hamil memerlukan kesiapan lahir dan batin pada saat hamil. Karena jarak yang terlalu dekat . urang dari 2 tahu. berhubungan dengan meningkatkan risiko kejadian anemia karena status gizi ibu belum pulih. Selain itu juga risiko keguguran, bayi dengan berat badan lahir rendah . urang dari 2. 500 gra. , kematian janin dan kematian bayi. Selain itu jua seorang ibu dengan kehamilan yang terlalu dekat bisa mengalami infeksi, ketuban pecah dini dan Karena semakin lama jarak kehamilan seorang ibu dari kehamilan sebelumnya maka akan semakin siap organ reproduksi untuk kehamilan berikutnya. Sehingga alangkah lebih baiknya jika Jarak antara persalinan terakhir dengan kehamilan berikutnya sebaiknya diatas 2 tahun. Faktor yang paling dominan yang berhubungan kejadian anemia pada ibu hamil Berdasarkan hasil analisis multivariat dari beberapa variabel yaitu usia kehamilan, paritas dan jarak kehamilan dimana variabel yang paling berpengaruh dalam penelitian ini adalah Usia kehamilan dengan p = 0. 007 hal tersebut dibuktikan dnegan hasil analisis didapatkan nilai Odds Ratio (OR) yang paling besar dimiliki variable usia kehamilan adalah 4. 878 yang artinya ibu hamil dengan jarak kehamilan <2 tahun 878 kali lebih besar mengalami kejadian anemia. hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sjahriani dan Faridah . yang menunjukkan bahwa jarak kehamilan ada hubungan dengan kejadian anemia . =0,. dan nilai OR 22,222 yang artinya ibu dengan jarak kehamilan < 2 tahun beresiko 22 kali lebih besar dapat menyebabkan kejadian anemia. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian usia kehamilan, paritas, dan jarak kehamilan dengan kejadian anemia Terdapat hubungan antara Usia Kehamilan. Paritas dan jarak kehamilan terhadap kejadian Anemia pada ibu hamil di Puskesmas Kilo. DAFTAR PUSTAKA