Volume 14. No. Desember 2025 Hal. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 30996/persona. Website: http://jurnal. untag-sby. id/index. php/persona Academic stress sebagai mediator hubungan antara self-adjustment, self-regulation dan optimism dengan psychological well-being Gen Z Academic stress as a mediator of the relationship between self-adjustment, self-regulation and optimism with the psychological well-being of Gen Z. Ananda Humaidah* Fakultas Psikologi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tangerang Selatan Rachmat Mulyono Fakultas Psikologi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tangerang Selatan *E-mail: anandahumaidah20@gmail. Abstract Studies show that students with low psychological well-being have poor quality relationships with others and are prone to psychological disorders that can affect academic achievement. This study aims to determine the relationship between self-adjustment, self-regulation, and optimism with the psychological well-being of Generation Z students through the mediator of academic stress. This study used a quantitative survey method with 439 Generation Z students in Jakarta. Bogor. Depok. Tangerang, and Bekasi as participants. The sampling technique used quota sampling. Research instrument using the Ryff Psychological Well-being Scale ( = 0. self-adjustment scale ( = 0. Short version of Self-regulation Questionnaire ( = 0. Life Orientation Test Revised ( = 0. Academic Stress Inventory ( = 0. Data analysis of this study used path analysis using Mplus 7 software. The results showed that only self-adjustment and self-regulation can directly influence psychological well-being. However, academic stress . he mediato. did not significantly affect psychological well-being. This means that academic stress cannot be a mediator in this study. The implication of this research is that universities are expected to improve students' self-adjustment and self-regulation, thereby improving their psychological well-being. Keywords: Academic stress. Optimism. Psychological well-being. Self-adjustment. Self-regulation Abstrak Studi menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki psychological well-being rendah memiliki kualitas hubungan kurang baik dengan orang lain dan mudah mengalami gangguan psikologis yang dapat berpengaruh pada prestasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self-adjustment, self-regulation, dan optimism dengan psychological well-being mahasiswa generasi Z melalui mediator academic stress. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif survei dengan jumlah partisipan penelitian 439 mahasiswa generasi Z di Jakarta. Bogor. Depok. Tangerang. Bekasi. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan quota sampling. Instrumen penelitian menggunakan Ryff Psychological well-being Scale (= 0,. skala selfadjustment (= 0,. Short version of Self-regulation Questionnaire (= 0,. Life Orientation Test Revised (= 0,. Academic stress Inventory (= 0,. Analisis data penelitian ini menggunakan path analysis dengan software Mplus 7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya self-adjustment dan self-regulation yang dapat mempengaruhi secara langsung psychological well-being. Namun, academic stress . tidak signifikan mempengaruhi psychological well-being. Hal ini berarti, academic stress tidak dapat menjadi mediator dalam penelitian ini. Implikasi penelitian ini diharapkan Perguruan Tinggi dapat meningkatkan selfadjustment dan self-regulation mahasiswa sehingga psychological well-beingnya meningkat. Kata kunci: Academic stress. Optimism. Psychological well-being. Self-adjustment. Self-regulation Copyright A 2026. Ananda Humaidah & Rachmat Mulyono Received:2025-05-06 Revised:2025-12-25 Accepted:2026-01-08 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License Persona: Jurnal Psikologi Indonesia E-mail: jurnalpersona@untag-sby. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Ananda Humaidah & Rachmat Mulyono Volume 14. No. Desember 2025 Pendahuluan Pendidikan adalah bagian dari proses kehidupan bagi individu untuk pengembangan diri. Tingkat pendidikan di Indonesia dimulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Universitas. Pada tingkatan Universitas, mahasiswa memiliki kegiatan dan kesulitan yang dihadapi berdasarkan jurusan masing-masing. Mahasiswa akan mengalami tekanan akademis, perubahan lingkungan yang drastis, perubahan hubungan sosial, tanggung jawab finansial, menghadapi individu dengan ide atau gagasan yang beragam, mulai membuat keputusan besar, mengenali identitas diri (Qiptiah & Muluk, 2. Mahasiswa saat ini didominasi oleh mahasiswa generasi Z, yang lahir pada tahun Generasi Z dikenal sebagai generasi digital native, yaitu generasi yang lahir, tumbuh, dan berkembang sejalan perkembangan teknologi digital (Prensky, 2. Generasi Z sangat mahir dalam menggunakan teknologi, sangat antusias akan hal baru, bersifat terbuka, mampu menyampaikan hal yang mereka suka dan tidak suka, tidak menikmati proses dan hanya beorientasi pada hasil, mengeluh bila menerima tugas berat, cenderung akan mengambil jalan pintas ketika menemui kebuntuan (Rahutami & Suwarno, 2. Karakteristik mahasiswa generasi Z yang berhubungan intens dengan teknologi dan media sosial memiliki dampak signifikan terhadap psychological well-being mereka. Mahasiswa generasi Z mudah terpapar pada idealisasi hidup yang tidak realistis melalui platform media sosial, yang dapat memicu perasaan kecemasan dan ketidakpuasan pada diri (Przybylski & Weinstein, 2. Selain itu, persaingan yang semakin ketat di dunia pendidikan membuat mahasiswa generasi Z merasa tertekan mencapai standar prestasi yang tinggi, yang dapat menambah beban stres dan mengurangi kepuasan hidup (Seemiller & Grace, 2. Menurut (Chao, 2. , ketidakpuasan pada hidup adalah salah satu bentuk psychological well-being yang rendah. Psychological well-being adalah pencapaian penuh yang berasal dari potensi psikologis dan suatu kondisi dimana individu mampu menerima kelebihan dan kekurangannya, memiliki tujuan hidup, mempunyai relasi positif, menjadi individu mandiri, dan tetap bertumbuh secara personal (Ryff & Keyes, 1. Banyaknya tuntutan dan tekanan akademis yang dihadapi mahasiswa mengharuskan untuk memperhatikan kondisi psychological well-being. Secara spesifik, gambaran psychological well-being pada mahasiswa yang ditemukan diantaranya mahasiswa merasa mudah khawatir saat menjelaskan sesuatu, cenderung pemalu, penakut, dan bingung, merasa takut tidak dapat memenuhi harapan orang tua, kerap kali melamun dan berkhayal, memiliki perasaan rendah diri, serta menutup diri dari orang lain (Kurniasari dkk. , 2. Temuan Oktaviana dkk. bahwa mahasiswa di perkuliahan cenderung tidak memahami dirinya, tidak memiliki tujuan hidup, tidak percaya diri baik dari akademik maupun nonakademik, merasa gagal dan tidak mampu berada dijurusan tersebut. Ketika dihadapkan dengan masalah yang sulit mudah berputus asa dan menyalahkan dirinya. Sejumlah studi menunjukkan bahwa psychological well-being mahasiswa cukup rendah, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional. Sebanyak 33,8% mahasiswa di Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 107 Academic stress sebagai mediator hubungan antara self adjustment, self-regulation dan optimism dengan psychological well-being Gen Z Australia menunjukkan tingkat kesejahteraan yang rendah dan 31,5% menunjukkan tingkat kesejahteraan yang sangat rendah (Dodd dkk. , 2. Penelitian Kurniasari dkk. juga menunjukkan bahwa sebanyak 38% mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia memiliki psychological well-being yang rendah. Penelitian Pramitha dan Astuti . , menyatakan bahwa psychological well-being yang rendah yaitu mencapai 47,8% pada mahasiswa. Pada penelitian Ramadani dkk. , mahasiswa yang memiliki psychological well-being rendah sebesar 41. Beiter dkk. , dalam penelitiannya menemukan bahwa psychological well-being mahasiswa cenderung memburuk seiring bertambahnya semester. Selanjutnya, penelitian Saputra & Palupi . , menemukan bahwa 47,4% mahasiswa memiliki psychological well-being yang rendah. Mahasiswa yang berkuliah di Jabodetabek (Jakarta. Bogor. Depok. Tangerang. Bekas. memiliki psychological well-being yang rendah pada dimensi penguasaan lingkungan dan kemandirian (Awaliyah & Arruum Listiyandini, 2. Dampak dari psychological well-being rendah pada mahasiswa yaitu kurangnya kualitas hubungan baik dengan orang lain, mudah mengalami gangguan psikologis yang dapat berpengaruh pada prestasi akademik (Bordbar dkk. , 2. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memiliki psychological well-being yang tinggi. Penelitian ini menggunakan self-adjustment, self-regulation, dan optimism sebagai variabel independen, serta academic stress sebagai mediator. Psychological well-being merepresentasikan kondisi internal individu yang tidak terlepas dari keberfungsian selfadjustment, self-regulation, dan optimism sebagai dinamika psikologis. Self-adjustment merujuk pada kondisi yang diinginkan individu sebagai hasil dari penerapan yang berkelanjutan akan penyesuaian yang efektif sepanjang kehidupan. Efektivitas selfadjustment individu terlihat dari cara mengatasi kondisi yang terus berubah (Haber & Runyon, 1. Sejalan dengan itu, terdapat hubungan signifikan self-adjustment dengan psychological well-being (Eviliani dkk. , 2. Psychological well-being juga dipengaruhi oleh self-regulation. Self-regulation berkaitan dengan kemampuan individu dalam merencanakan, mengarahkan, serta memantau perilakunya dengan fleksibel ketika menghadapi keadaan yang cenderung berubah-ubah dalam mencapai tujuan yang ditentukan (Pichardo dkk. , 2. Salleh dkk. , dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara self-regulation dengan psychological wellbeing. Variabel lain yang dapat mempengaruhi psychological well-being adalah optimism. Scheier dkk. , mendefinisikan optimism sebagai suatu kepercayaan yang dimiliki individu bahwa apa yang akan terjadi di masa depan akan memiliki hasil yang positif. Penelitian sebelumnya yang dilakukan Khoirunnisa & Ratnaningsih . , menemukan bahwa optimism memberikan sumbangan efektif sebesar 35% terhadap psychological well-being. Dalam penelitian ini, academic stress berperan sebagai mediator. Academic stress merupakan pandangan individu terhadap stressor akademik yang mencakup reaksi fisiologis, emosi, perilaku, serta kognitif (Gadzella, 1. Penelitian Zahrah dan Sukirno . , yang mengemukakan bahwa academic stress memiliki kontribusi terhadap psychological well-being dengan kontribusi efektif sebesar 47,4%. Penelitian Erindana dkk. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 108 Ananda Humaidah & Rachmat Mulyono Volume 14. No. Desember 2025 . , menunjukkan korelasi negatif antara self-adjustment dan academic stress pada Terdapat juga penelitian yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara self-regulation dan academic stress (Ramli dkk. , 2. Academic stress tidak hanya dipengaruhi oleh self-adjustment dan self-regulation, tapi juga dipengaruhi oleh optimism. Optimism mampu menyumbang varians dalam academic stress (Kencana & Muzzamil, 2. Riset-riset mengenai psychological well-being pada rentang tahun 2020-2024 dalam skala nasional maupun internasional, telah menguji keterkaitan beberapa variabel independen yang berkontribusi pada psychological well-being. Perkembangan riset-riset mengenai psychological well-being juga sudah menguji beberapa variabel yang tepat menjadi variabel mediator dan moderator. Riset sebelumnya, umumnya membahas psychological well-being mahasiswa selama pandemi COVID-19 hingga setelah pandemi COVID-19 (Nurdiyanto dkk. , 2. Riset lainnya hanya membahas psychological well-being mahasiswa dalam proses perkuliahan (Khoirunnisa & Rosiana, 2. Namun, riset-riset terdahulu belum meneliti secara spesifik terkait psychological well-being dengan fenomena kemampuan adaptasi mahasiswa generasi Z dalam menghadapi tekanan Maka dari itu, penelitian ini akan mengeksplorasi kaitan psychological wellbeing dengan kemampuan adaptasi mahasiswa generasi Z. Penelitian ini akan membahas secara spesifik mengenai pengaruh variabelvariabel independen . elf-adjustment, self-regulation, optimis. dan variabel mediator . cademic stres. terhadap psychological well-being yang berkaitan dengan fenomena kemampuan adaptasi mahasiswa generasi Z dalam menghadapi tekanan akademik. Sejumlah studi telah membahas hubungan antara self-adjustment, self-regulation, dan academic stress, serta pengaruhnya terhadap psychological well-being (Eviliani dkk. , 2024. Salleh dkk. , 2021. Khoirunnisa & Ratnaningsih, 2016. Zahrah & Sukirno, 2. Namun, belum ada penelitian yang secara eksplisit menguji peran academic stress sebagai mediator dalam model yang melibatkan ketiga faktor tersebut di kalangan mahasiswa generasi Z. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana faktor-faktor psikologis berinteraksi dalam mempengaruhi psychological well-being mahasiswa generasi Z yang dimediasi oleh academic stress. Metode Partisipan Populasi penelitian ini merupakan mahasiswa S-1 se-Jabodetabek yang berusia 1822 tahun (Gen Z). Jumlah sampel penelitian ini adalah 439 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu quota sampling. Teknik ini digunakan apabila peneliti tidak mengetahui secara pasti jumlah populasi yang akan diteliti dengan tetap memperhatikan faktor kelayakan sampel saat menentukan jumlah kuota sampel (Sugiyono, 2. Pada penelitian ini peneliti menggunakan karakteristik subjek, yaitu: . Mahasiswa Aktif S-1 se-Jabodetabek (Jakarta. Bogor. Depok. Tangerang. Bekas. Berusia 18-22 tahun saat ini (Generasi Z). Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 109 Academic stress sebagai mediator hubungan antara self adjustment, self-regulation dan optimism dengan psychological well-being Gen Z Berdasarkan pada Tabel 1, diketahui gambaran usia partisipan penelitian bahwa mayoritas berada pada usia 18 tahun dengan jumlah 113 . ,8%). Selanjutnya, mayoritas jenis kelamin partisipan penelitian adalah perempuan dengan jumlah 367 . ,6%). Mayoritas asal universitas partisipan penelitian adalah Tangerang dengan jumlah 293 . ,7%). Tabel 1 Data Demografi Usia Jenis Kelamin Asal Universitas 18 tahun 19 tahun 20 tahun 21 tahun 22 tahun Total Laki-laki Perempuan Total Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi Jumlah N=439 25,8% 25,2% 16,9% 17,3% 14,8% 16,4% 83,6% 18,2% 6,1% 5,9% 66,7% 2,9% Total Instrumen Instrumen dalam penelitian ini menggunakan 5 skala untuk mengukur masingmasing variabel penelitian. Skala pertama, yaitu Ryff Psychological well-being short scale version yang berjumlah 18 item (Ryff & Singer, 1. Skala ini diadaptasi menggunakan teknik translationAeback translation dengan melibatkan ahli bahasa dan psikologi. Kemudian, hasil terjemahan dikembalikan ke bahasa asli untuk memastikan kesesuaian Validitas isi skala didapatkan melalui expert judgement dari ahli psikologi yang menilai relevansi, kejelasan, dan kesesuaian butir-butir dengan konstruk yang diukur. Adapun validitas konstruk skala didapatkan dari nilai CFA dengan kriteria kelayakan model dilihat dari nilai RMSEA, yaitu 0. 06 (RMSEA O 0. , sementara item dinyatakan valid apabila memiliki nilai t > 1. Selanjutnya, nilai reliabilitas skala yang didapatkan Selanjutnya, skala penyesuaian diri yang disusun Othman dkk. berjumlah 12 Skala ini diadaptasi menggunakan teknik translationAeback translation dengan melibatkan ahli bahasa dan psikologi. Kemudian, hasil terjemahan dikembalikan ke bahasa asli untuk memastikan kesesuaian makna. Validitas isi skala didapatkan melalui expert judgement dari ahli psikologi yang menilai relevansi, kejelasan, dan kesesuaian butir-butir dengan konstruk yang diukur. Adapun validitas konstruk skala didapatkan dari nilai CFA dengan kriteria kelayakan model dilihat dari nilai RMSEA, yaitu 0. 037 (RMSEA O 0. , sementara item dinyatakan valid apabila memiliki nilai t > 1. Selanjutnya, nilai reliabilitas skala yang didapatkan adalah 0. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 110 Ananda Humaidah & Rachmat Mulyono Volume 14. No. Desember 2025 Skala berikutnya adalah Short version of Self-regulation Questionnaire (SSRQ) berjumlah 17 item (Pichardo dkk. , 2. Skala ini diadaptasi menggunakan teknik translationAeback translation dengan melibatkan ahli bahasa dan psikologi. Kemudian, hasil terjemahan dikembalikan ke bahasa asli untuk memastikan kesesuaian makna. Validitas isi skala didapatkan melalui expert judgement dari ahli psikologi yang menilai relevansi, kejelasan, dan kesesuaian butir-butir dengan konstruk yang diukur. Adapun validitas konstruk skala didapatkan dari nilai CFA dengan kriteria kelayakan model dilihat dari nilai RMSEA, yaitu 0. 055 (RMSEA O 0. , sementara item dinyatakan valid apabila memiliki nilai t > 1. Namun, terdapat 1 item yang tidak valid karena memiliki nilai t < Lebih lanjut, nilai reliabilitas skala yang didapatkan adalah 0. Skala selanjutnya yang digunakan adalah Life Orientation Test Revised (LOT-R) yang berjumlah 6 item (Scheier dkk. , 1. Penelitian ini menggunakan skala yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Suryadi dkk. Validitas isi skala didapatkan melalui expert judgement dari ahli psikologi yang menilai relevansi, kejelasan, dan kesesuaian butir-butir dengan konstruk yang diukur. Adapun validitas konstruk skala didapatkan dari nilai CFA dengan kriteria kelayakan model dilihat dari nilai RMSEA, yaitu 035 (RMSEA O 0. , sementara item dinyatakan valid apabila memiliki nilai t > 1. Namun, terdapat 1 item yang tidak valid karena memiliki nilai t < 1. Lebih lanjut, nilai reliabilitas skala yang didapatkan adalah 0. Skala lain yang digunakan, yaitu Academic stress Inventory (ASI) yang berjumlah 34 item (Lin & Chen, 2. Skala ini diadaptasi menggunakan teknik translationAeback translation dengan melibatkan ahli bahasa dan psikologi. Kemudian, hasil terjemahan dikembalikan ke bahasa asli untuk memastikan kesesuaian makna. Validitas isi skala didapatkan melalui expert judgement dari ahli psikologi yang menilai relevansi, kejelasan, dan kesesuaian butir-butir dengan konstruk yang diukur. Adapun validitas konstruk skala didapatkan dari nilai CFA dengan kriteria kelayakan model dilihat dari nilai RMSEA, yaitu 04 (RMSEA O 0. , sementara item dinyatakan valid apabila memiliki nilai t > 1. Lebih lanjut, nilai reliabilitas skala yang didapatkan adalah 0. Pada penelitian ini semua instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah model skala likert dengan empat pilihan jawaban yaitu . kala 1-. , yaitu AuSangat Setuju (SS)Ay. AuSetuju (S)Ay. AuTidak Setuju (TS)Ay, dan AuSangat Tidak Setuju (STS)Ay. Hal ini dikarenakan, peneliti mencegah munculnya jumlah respon yang bersifat netral. Teknik Analisis Data Penelitian ini menggunakan path analysis yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian terkait pengaruh self-adjustment, self-regulation, dan optimism terhadap psychological well-being yang dimediasi oleh academic stress. Path analysis merupakan teknik yang digunakan menganalisis hubungan sebab akibat yang terjadi pada regresi berganda jika variabel independen mempengaruhi variabel dependen baik secara langsung maupun secara tidak langsung (Rutherford, 1. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan software SPSS 23. 0 dan Mplus 7 untuk menganalisis data penelitian. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 111 Academic stress sebagai mediator hubungan antara self adjustment, self-regulation dan optimism dengan psychological well-being Gen Z Hasil Data Deskriptif Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah partisipan penelitian sebanyak 439 mahasiswa dengan skor variabel psychological well-being terendah 12. 42 dan tertinggi 72. Selfadjustment memiliki skor terendah 19. 21 dan tertinggi 71. Self-regulation memiliki skor 29 dan tertinggi 74. Optimism memiliki skor terendah 30. 23 dan tertinggi Academic stress memiliki skor terendah 20. 17 dan tertinggi 77. Tabel 2 Hasil Analisis Deskriptif Variabel Min Max Mean Std. Dev PWB Self-adjustment Self-regulation Optimism Academic stress Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa variabel psychological well-being mahasiswa berada pada frekuensi kategori rendah 61 mahasiswa . 9%), kategori sedang 313 mahasiswa . 3%), kategori tinggi 65 mahasiswa . 8%). Sehingga, hasil dari psychological well-being berada pada kategori sedang. Nilai sebaran data pada variabel psychological well-being menunjukkan persentase yang lebih besar pada kategori tinggi dibandingkan kategori rendah. Variabel self-adjustment mahasiswa berada pada frekuensi kategori rendah 5 mahasiswa . 1%), kategori sedang 103 mahasiswa . 4%), kategori tinggi 331 mahasiswa . 4%). Sehingga, hasil dari self-adjustment berada pada kategori tinggi. Nilai sebaran data pada variabel self-adjustment menunjukkan persentase yang lebih besar pada kategori sedang dibandingkan kategori rendah. Variabel self-regulation mahasiswa berada pada frekuensi kategori rendah 74 mahasiswa . 8%), kategori sedang 287 mahasiswa . 3%), kategori tinggi 78 mahasiswa . 7%). Sehingga, hasil dari selfregulation berada pada kategori sedang. Nilai sebaran data pada variabel self-regulation menunjukkan persentase yang lebih besar pada kategori tinggi dibandingkan kategori Variabel optimism mahasiswa berada pada frekuensi kategori rendah 61 mahasiswa . 9%), kategori sedang 319 mahasiswa . 6%), kategori tinggi 59 mahasiswa . 4%). Sehingga, hasil dari optimism berada pada kategori sedang. Nilai sebaran data pada variabel optimism menunjukkan persentase yang lebih besar pada kategori rendah dibandingkan kategori tinggi. Variabel academic stress mahasiswa berada pada frekuensi kategori rendah 65 mahasiswa . 8%), kategori sedang 313 mahasiswa . 3%), kategori tinggi 61 mahasiswa . 9%). Sehingga, hasil dari academic stress berada pada kategori Nilai sebaran data pada variabel academic stress menunjukkan persentase yang lebih besar pada kategori rendah dibandingkan kategori tinggi. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 112 Ananda Humaidah & Rachmat Mulyono Volume 14. No. Desember 2025 Tabel 3 Kategorisasi Data Variabel Rendah Self-adjustment Self-regulation Optimism Academic stress PWB Frekusensi Sedang Tinggi Uji Hipotesis Pada tahapan ini, peneliti melihat t-value pengaruh langsung maupun tidak pada tiap variabel IV terhadap DV. Adapun hasil yang didapatkan tercantum dalam Tabel 4 sebagai berikut. Tabel 4 Indeks Pengujian Model Fit Indeks Indeks kesesuaian Indeks Model Evaluasi Model P-value > 0. Kriteria fit Koef. RMSEA < 0. Kriteria fit < 3. Kriteria fit CFI > 0. Kriteria fit TLI > 0. Kriteria fit Berdasarkan hasil uji analisis model di atas diperoleh nilai chi-square = 0. 277, lebih besar dari nilai sebelumnya yaitu 0. Adapun nilai df =1, lebih besar dari sebelumnya Nilai p-value = 0. 59 yang berarti > 0. 05, nilai RMSEA = 0. 00 yang berarti < 0. CFI 1 dan TLI 1 yang berarti > 0. Sehingga, dapat diartikan tergolong fit. Nilai-nilai model yang sudah fit tercantum dalam tabel berikut (Gambar . Variabel self-adjustment memiliki hubungan positif . oefisien = 0. dan signifikan terhadap psychological well-being (T-value = 20. 805 > 1. Artinya, ada pengaruh langsung self-adjustment terhadap psychological well-being tanpa mediator dan semakin tinggi self-adjustment yang dimiliki mahasiswa generasi Z semakin tinggi pula psychological well-being. Lebih lanjut, variabel self-adjustment terhadap psychological well-being melalui academic stress diperoleh nilai T-value sebesar -0. 839 (<1. , artinya tidak signifikan. Artinya, tidak ada pengaruh tidak langsung self-adjustment terhadap psychological well-being yang dimediasi academic stress (Tabel . Variabel self-regulation memiliki hubungan positif . oefisien = 0. dan signifikan terhadap psychological well-being (T-value = 7. 308 > 1. Artinya, ada pengaruh langsung self-regulation terhadap psychological well-being tanpa mediator dan semakin tinggi self-regulation yang dimiliki mahasiswa generasi Z semakin tinggi pula psychological well- being. Selanjutnya, variabel self-regulation terhadap psychological well-being melalui academic stress diperoleh nilai T-value sebesar -0. 863 (<1. , artinya tidak signifikan. Artinya, tidak Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 113 Academic stress sebagai mediator hubungan antara self adjustment, self-regulation dan optimism dengan psychological well-being Gen Z ada pengaruh tidak langsung self-regulation terhadap psychological well-being yang dimediasi oleh academic stress. Gambar 1 Path Diagram Keterangan: Pwb: Psychological well-being Sa: Self-adjustment Sr: Self-regulation Op: Optimism Sk: Academic stress Variabel academic stress memiliki hubungan positif . oefisien = 0. tapi tidak signifikan terhadap psychological well-being (T-value = 0. 867 < 1. Artinya, tidak ada pengaruh secara langsung academic stress terhadap psychological well-being. Dalam penelitian ini, academic stress tidak dapat menjadi mediator karena tidak dapat mempengaruhi psychological well-being. Tabel 5 Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung (Direct and Indirect Effec. Hubungan SA IePWB SA IeSKIePWB SRIePWB SRIeSK IePWB OPIePWB OPIeSK IePWB SKIePWB SAIeSK SRIeSK OPIeSK Koef T-value Signifikan Oo Oo Oo Oo Oo Keterangan: Signifikan T-value > 1. 96 Pwb: Psychological well-being Sa: Self-adjustment Sr: Self-regulation Op: Optimism Sk: Academic stress Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 114 Ananda Humaidah & Rachmat Mulyono Volume 14. No. Desember 2025 Hasil penelitian selanjutnya ditemukan variabel self-adjustment memiliki hubungan negatif . oefisien = -0. dan signifikan terhadap academic stress (T-value = -3. 324 > 1. Variabel self-regulation juga memiliki hubungan negatif . oefisien = -0. dan signifikan terhadap academic stress (T-value = -9. 767 > 1. Selain itu, variabel optimism memiliki hubungan negatif . oefisien = -0. dan signifikan terhadap academic stress (T-value = 2. 567 > 1. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang dapat mempengaruhi psychological well-being serta ingin melihat apakah pengaruh self-adjustment, selfregulation, optimism, dan academic stress sebagai mediator memiliki pengaruh terhadap psychological well-being mahasiswa generasi Z fit dengan data. Pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung terhadap psychological well-being memiliki hasil yang berbedabeda. Penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang berkontribusi paling besar terhadap psychological well-being adalah variabel self-adjustment sebesar 62,8%. Individu yang memiliki self-adjustment tinggi, akan memiliki motivasi terhadap masa depan pendidikan, juga psychological well-beingnya akan terjaga (Chui & Chan, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mulyati dkk. , menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan self-adjustment dengan psychological well-being. Hidayat dan Darmawanti . , dalam penelitiannya menemukan bahwa self-adjustment memberikan kontribusi efektif secara bersamaan 54,5%. Menurut penelitian Eviliani dkk. , bahwa self-adjustment berhubungan kuat dengan psychological well-being mahasiswa. Variabel lain yang juga memiliki kontribusi terhadap psychological well-being adalah self-regulation sebesar 27,8%. Tingkat regulasi diri yang tinggi mendukung tingkat psychological well-being yang tinggi. Adanya regulasi diri yang baik, mahasiswa dapat menerima diri sendiri, mengembangkan kualitas diri, memiliki tujuan hidup, mandiri, serta berperilaku positif (Tumiwan & Huwae, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Salleh dkk. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara self-regulation dengan psychological well-being. Penelitian selanjutnya menunjukkan self-regulation secara langsung dapat memprediksi psychological well-being (Fan & Cui, 2. Pengaruh langsung variabel optimism terhadap psychological well-being ditemukan tidak signifikan. Meskipun, terdapat studi yang menunjukkan bahwa optimism dapat mempengaruhi psychological well-being (Angraini & Rahardjo, 2. Pengaruh langsung variabel mediator academic stress terhadap psychological well-being juga ditemukan tidak Meskipun, terdapat studi yang menunjukkan bahwa academic stress dapat mempengaruhi psychological well-being (Pratiwi, 2. Hasil analisis selanjutnya ditemukan bahwa pengaruh tidak langsung self-adjustment, self-regulation, dan optimism terhadap psychological well-being dengan mediator academic stress ditemukan tidak Hal ini berarti, academic stress yang merupakan variabel mediator tidak dapat Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 115 Academic stress sebagai mediator hubungan antara self adjustment, self-regulation dan optimism dengan psychological well-being Gen Z memediasi pengaruh self-adjustment, self-regulation, dan optimism terhadap psychological well-being. Peneliti juga menguji pengaruh langsung dari self-adjustment, self-regulation, optimism terhadap variabel mediator yaitu academic stress, hasilnya menunjukkan bahwa variabel yang berkontribusi paling besar terhadap academic stress adalah variabel selfregulation. Regulasi diri dapat membantu individu dalam mengatur, merancang dan memfokuskan dirinya untuk meraih prestasi belajarnya, serta menyeimbangkan academic stress (Faizah & Panduwinata, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Ramli dkk. bahwa ada hubungan yang signifikan antara self-regulation dan academic stress. Penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa self-regulation berpengaruh signifikan terhadap academic stress (Faizah & Panduwinata, 2. Variabel self-adjustment juga mempengaruhi variabel mediator academic stress. Mahasiswa sering menghadapi berbagai tekanan dan tuntutan akademik, serta personal yang dapat memicu stres pada akademik (Saputri & Sugiharto, 2. Dalam mengatasi academic stress, diperlukan self-adjustment yang mengacu pada kemampuan individu dalam beradaptasi dengan situasi dan mengatasi tantangan serta tuntutan akademik (Husna dkk. , 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Putri dkk. , bahwa ada pengaruh signifikan self-adjustment terhadap academic stress. Variabel lain yang juga mempengaruhi variabel mediator academic stress adalah Optimism sebagai kondisi emosi yang positif berupa tekad yang kuat dalam mendapatkan dan menghasilkan sesuatu yang baik pada saat situasi yang kurang menyenangkan dan menekan. Optimism menjadi faktor internal yang mempengaruhi individu dalam menghadapi keadaan stres, khususnya academic stress (Aisyah dkk. , 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Kencana dan Muzzamil . , menunjukkan terdapat pengaruh optimism terhadap academic stress bagi mahasiswa. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan self-adjustment dan self-regulation berpengaruh langsung terhadap psychological well-being. Selain itu, self-adjustment, self-regulation, dan optimism berpengaruh negatif terhadap variabel mediator yaitu academic stress. Lebih lanjut, self-adjustment, self-regulation, dan optimism tidak dapat berpengaruh tidak langsung terhadap psychological well-being. Artinya, academic stress tidak memediasi variabel independen terhadap variabel dependen. Implikasi penelitian ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan self-adjustment dan self-regulation, sehingga psychological well-beingnya meningkat. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan variabel mediator lain yang dapat memediasi pengaruh self-adjustment, self-regulation, dan optimism terhadap psychological well-being. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 116 Ananda Humaidah & Rachmat Mulyono Volume 14. No. Desember 2025 Referensi