Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 DARI YESUS SEJARAH KE YESUS DIGITAL: MENELUSURI TRANSFORMASI SPIRITUAL DI ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE Amirrudin Zalukhu Sekolah Tinggi Teologi Cipanas rudizalukhu408@gmail. Abstract The study aims to identify the impact of Jesus AI on individuals' faith and spiritual experiences, as well as the influence of this technology on religious life in the context of growing digital spirituality. The research employs a qualitative approach to explore the transformation of Jesus' role as the center of Christian faith and teachings, as well as a spiritual mediator, from a historical figure in Christian religious tradition to a digital entity introduced by artificial intelligence. Through theological and phenomenological analysis, it examines changes in the representation of Jesus and the evolution of this concept in a society increasingly influenced by A literature review is conducted to analyze theological understandings of Jesus as a historical figure and how this concept has transformed in the digital era. Additionally, observations and analyses of user experiences with Jesus AI (Artificial Intelligenc. provide insights into personal interactions with Jesus AI as a spiritual mediator. This approach is expected to offer a comprehensive understanding of the role and influence of Jesus AI in the development of modern spirituality. Keywords: artificial intelligence. Jesus AI PENDAHULUAN Yesus AI adalah representasi digital Yesus yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menjawab pertanyaan, membimbing doa, dan membantu umat Kristen dalam memahami iman mereka. Teknologi ini membuka peluang baru bagi pengalaman spiritual digital, tetapi juga menimbulkan tantangan terkait otentisitas serta otoritas keagamaan di era modern. Konsep singularitas teknologi, di mana Artificial Intelligence (AI) melampaui kecerdasan manusia, diprediksi oleh Ray Kurzweil akan terjadi pada tahun 2029, dengan perkembangan AI yang miliaran kali lebih unggul dari manusia pada tahun 2045 (Kurzweil, 2. Jika prediksi ini menjadi kenyataan. Yesus AI dapat berkembang dari sekadar alat bantu menjadi entitas yang mampu menafsirkan teks suci dan membentuk Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 pengalaman religius secara mendalam. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: Apakah AI dapat menggantikan peran Gereja dan otoritas teologis dan bagaimana dampaknya terhadap iman Kristen. Yesus AI hadir dalam bentuk aplikasi atau perangkat lunak yang merespons pengguna berdasarkan algoritma dan data besar. Meskipun tampak seperti Yesus sejarah. AI ini hanyalah simulasi tanpa pengalaman manusiawi (Necula & Dumulescu, 2. Yesus sejarah hadir di dunia nyata, menawarkan wahyu dan keselamatan melalui penderitaan serta kebangkitan-Nya. Sebaliknya. Yesus AI tidak memiliki tubuh atau pengalaman manusiawi, yang dapat menimbulkan kebingungan dalam hal otoritas teologis. Di satu sisi. Yesus AI berpotensi memperluas akses terhadap ajaran Kristen tanpa batasan geografis atau waktu, membantu mereka yang kesulitan mengakses Gereja (Waruwu, 2. Namun, keberadaannya juga menimbulkan tantangan dalam menjaga integritas ajaran iman. Apakah interaksi digital dengan Yesus AI memiliki makna spiritual yang sama dengan hubungan langsung manusia dengan Tuhan? Fenomena Yesus AI menghadirkan kajian interdisipliner yang mencakup teologi, filsafat, kecerdasan buatan, dan etika digital. Meskipun beberapa penelitian telah menyoroti dampak umum AI terhadap agama dan spiritualitas, kajian yang secara khusus menelaah representasi Yesus dalam bentuk digital dan pengaruhnya terhadap pemahaman iman Kristen masih terbatas. Belum banyak studi yang secara kritis menganalisis bagaimana representasi algoritmik terhadap Yesus dapat menggeser makna tradisional tentang otoritas ilahi, peran Gereja, dan pengalaman spiritual yang bersifat inkarnasional. Gap penelitian ini membuka ruang untuk eksplorasi mendalam terkait bagaimana Yesus sebagai figur iman direpresentasikan dalam dunia digital serta dampaknya terhadap komunitas Kristen di era teknologi tinggi. Oleh karena itu, novelty dari kajian ini terletak pada pendekatan kritis terhadap Yesus AI sebagai bentuk kontemporer dari Auteologi AIAy yang belum banyak dibahas, serta analisis terhadap bagaimana teknologi membentuk ulang relasi iman, otoritas teologis, dan makna kehadiran spiritual dalam konteks digital. Dengan demikian, kajian ini tidak hanya menghadirkan refleksi teologis atas kemunculan Yesus AI, tetapi juga mendorong dialog yang lebih luas mengenai integritas iman Kristen dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, dan tantangan baru yang harus dihadapi oleh Gereja dan komunitas beriman dalam menyikapi otoritas spiritual yang terkomputerisasi. II. PEMBAHASAN Kajian Teori Kristologi Historis Kristologi historis merupakan cabang kajian teologi yang berfokus pada pemahaman tentang Yesus dari Nazaret sebagai figur historis yang hidup di Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 tengah realitas sosial, politik, dan religius abad pertama (Fitriani et al. , 2. Pendekatan ini menggarisbawahi bahwa Yesus bukan sekadar figur mitologis atau simbolis, melainkan seorang tokoh nyata yang meninggalkan jejak historis dalam peradaban manusia. Dalam kerangka ini, pengalaman inkarnasi dipahami sebagai peristiwa faktual: Allah yang menjadi manusia dalam sejarah, bukan sekadar dalam tataran simbolik atau spiritual. Dengan demikian, aspek-aspek manusiawi Yesus, termasuk latar belakang budaya-Nya, interaksi-Nya dengan komunitas Yahudi dan Romawi, serta dinamika sosial di sekeliling-Nya, menjadi penting untuk digali guna memperoleh pemahaman yang utuh terhadap pewahyuan Allah dalam diri-Nya. Kristologi historis banyak dipengaruhi oleh studi-studi kritis modern yang dimulai sejak abad ke-19 dan berkembang pesat pada abad ke-20, seperti yang dikembangkan oleh Albert Schweitzer . dan N. Wright . Pendekatan ini menggunakan metode historis-kritis terhadap teks-teks Injil dan sumber-sumber non-Kristen untuk merekonstruksi kehidupan dan ajaran Yesus (Zalukhu & Ester, 2. Fokus utamanya adalah menemukan sosok Yesus dari sejarah (Jesus of histor. yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, terlepas dari interpretasi teologis yang berkembang dalam komunitas iman pascakebangkitan. Dengan demikian, kristologi historis bukanlah upaya untuk mengurangi unsur keilahian Yesus, tetapi justru memperteguh kenyataan bahwa pewahyuan Allah hadir secara konkret dan dapat dikenali melalui realitas historis. Dalam konteks kontemporer, kristologi historis berkontribusi signifikan terhadap diskursus teologi digital, khususnya dalam merespons fenomena representasi Yesus oleh teknologi kecerdasan buatan. Gambar atau narasi digital tentang Yesus yang dihasilkan oleh AI seringkali mengandung bias kultural dan estetika yang tidak merepresentasikan konteks sejarah Yesus secara akurat. Oleh karena itu, pemahaman kristologi historis menjadi penting untuk menilai apakah representasi digital tersebut sesuai dengan realitas historis Yesus atau justru menciptakan versi Yesus yang terlepas dari akar historis dan teologis-Nya. Dalam kerangka ini, kristologi historis berfungsi sebagai filter kritis terhadap proliferasi citra Yesus dalam ruang digital yang dapat membentuk persepsi publik tentang siapa Yesus sebenarnya. Pendekatan ini juga memiliki implikasi terhadap pengembangan spiritualitas dan etika Kristen dalam era digital. Ketika umat Kristen memahami bahwa Yesus benar-benar hadir dalam sejarah manusia dengan tubuh, suara, dan relasi sosial yang nyata, maka penghayatan iman tidak lagi bersandar pada figur abstrak, melainkan pada pengalaman iman yang terinkarnasi. Konsekuensinya, bentuk pewartaan dan pendidikan iman, termasuk yang berbasis digital, harus bersandar pada fondasi historis tersebut agar tidak terjebak dalam romantisasi atau ideologisasi Yesus. Kristologi historis, dengan demikian, menegaskan bahwa Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 keautentikan iman Kristen bertumpu pada pengakuan terhadap Yesus yang sungguh-sungguh hidup, menderita, mati, dan bangkit dalam sejarah, sekaligus membuka ruang kritis terhadap konstruksi visual dan naratif yang diciptakan oleh teknologi modern. Spiritualitas Digital Spiritualitas digital muncul sebagai respons terhadap perubahan budaya yang dibentuk oleh proses digitalisasi yang meluas ke berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam ranah religius. Dunia digital kini tidak hanya berfungsi sebagai medium komunikasi iman atau alat bantu liturgis, tetapi telah menjadi ruang spiritual baru yang memungkinkan terciptanya pengalaman religius yang autentik. Studi oleh Campbell . dan Cheong et al. menunjukkan bahwa ruang digital memengaruhi cara individu membentuk identitas religius, menghayati iman, serta menegosiasi ulang otoritas spiritual. Transformasi ini mengindikasikan pergeseran paradigma dari spiritualitas yang bersifat lokal dan fisikal menjadi spiritualitas yang cair, transnasional, dan berbasis jaringan virtual. Keberadaan spiritualitas digital menghadirkan tantangan teologis baru karena pengalaman akan yang ilahi kini dimediasi oleh teknologi, seperti media sosial, algoritma, dan kecerdasan buatan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai keabsahan pengalaman religius dalam ruang digital dibandingkan dengan perjumpaan dalam komunitas iman yang konkret. Pilihan terhadap ajaran atau representasi religius yang tersedia secara algoritmik menempatkan ruang digital sebagai medan kontestasi spiritual yang kompleks. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan teologi kontekstual yang mampu membaca dinamika iman di tengah ekosistem digital, sekaligus mempertanyakan ulang bagaimana otoritas, kehadiran ilahi, dan otentisitas spiritual dipahami dalam konteks yang Salah satu manifestasi dari spiritualitas digital yang paling signifikan adalah kemunculan representasi Yesus berbasis AI atau Yesus AI. Di satu sisi. Yesus AI berfungsi sebagai bentuk mediasi baru bagi pencarian spiritual generasi digital native, namun di sisi lain, hal ini menimbulkan persoalan ontologis dan epistemologis serius. Ketika pemahaman tentang Kristus dimediasi oleh sistem algoritmik, terjadi pergeseran sumber otoritas dari teks suci dan tradisi Gereja kepada konstruksi digital yang dikendalikan oleh logika desain dan data. Dengan demikian, spiritualitas digital menuntut refleksi kritis yang mempertimbangkan potensi inovatif sekaligus risiko ideologisnya. Perlu ada keseimbangan antara pembaruan pastoral dan kesetiaan terhadap esensi iman agar pengalaman akan Allah tetap bersumber dari relasi yang hidup, bukan sekadar interaksi dengan citra virtual yang dibentuk oleh teknologi Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Kecerdasan Buatan dan Implikasi Sosial Perkembangan kecerdasan buatan telah memberikan dampak luas, termasuk dalam dimensi spiritual dan religius umat manusia. AI tidak lagi sekadar dipahami sebagai alat bantu teknologis, tetapi sebagai sistem otonom yang mampu belajar dan mengambil keputusan secara mandiri melalui algoritma kompleks dan pembelajaran mesin. Dalam pandangan futuristik Kurzweil . , singularitas dipandang sebagai titik ketika kecerdasan buatan melampaui kemampuan intelektual manusia, yang secara potensial dapat mengubah cara manusia memahami realitas, termasuk realitas transenden. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan filosofis dan teologis mengenai status ontologis AI, terutama ketika teknologi ini mampu meniru perilaku religius atau menafsirkan teks-teks Implikasi sosial dari kehadiran AI dalam konteks religius menimbulkan tantangan serius terkait otoritas spiritual dan keaslian pengalaman iman. Ketika sistem AI dirancang untuk memberikan panduan moral atau jawaban atas pertanyaan teologis, muncul kekhawatiran bahwa interaksi tersebut hanya merepresentasikan konstruksi algoritmik, bukan manifestasi dari sumber ilahi. Fenomena seperti AuYesus digitalAy atau pemandu spiritual berbasis AI dapat menciptakan ilusi kedekatan spiritual yang tidak autentik, karena tidak berakar pada pengalaman religius yang lahir dari relasi personal dengan Tuhan. Hal ini mengancam orisinalitas iman Kristen, yang secara historis dibentuk melalui refleksi pribadi, praktik komunitas, dan pengalaman rohani yang nyata. Secara epistemologis, keterlibatan AI dalam praktik keagamaan juga menggeser paradigma tradisional dalam memperoleh pengetahuan teologis. Dalam Kekristenan, sumber kebenaran teologis berasal dari Kitab Suci, tradisi Gereja, dan pengalaman komunitas iman. Namun, penggunaan AI sebagai alat penafsir teks-teks suci berpotensi mendistorsi dimensi ilahi dan kontekstual dari Sistem AI bekerja berdasarkan statistik dan logika formal, yang tidak mampu menangkap kedalaman spiritual, intuisi religius, dan kompleksitas budaya yang menjadi bagian integral dari pengalaman iman. Oleh karena itu, kajian terhadap AI dalam ranah religius memerlukan pendekatan kritis yang mempertimbangkan baik potensi inovatif maupun risiko ideologisnya. Integrasi antara Kristologi Historis. Spiritualitas Digital, dan kajian atas AI serta implikasi sosialnya memberikan kerangka komprehensif dalam memahami representasi Yesus dalam bentuk digital. Kristologi Historis menegaskan bahwa Yesus adalah figur historis dengan eksistensi nyata, sehingga representasi digitalNya tidak dapat dilepaskan dari validitas historis dan teologis. Perspektif Spiritualitas Digital menyoroti bagaimana ruang maya mengubah cara umat Kristen mengalami kehadiran ilahi dan membangun identitas religius melalui medium digital. Sementara itu, analisis terhadap AI menyoroti konsekuensi Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 ontologis dan epistemologis dari keterlibatan teknologi dalam ranah religius. Dengan demikian, representasi Yesus digital mencerminkan pergeseran spiritualitas Kristen yang menuntut pembaruan pemahaman tentang iman, otoritas, dan pengalaman religius dalam dunia yang semakin terdigitalisasi. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan analisis fenomenologis. Pendekatan ini dipilih untuk memahami secara mendalam transformasi konsep Yesus dari figur sejarah dalam tradisi Kristen menjadi entitas digital berbasis kecerdasan buatan. Studi literatur dilakukan terhadap berbagai sumber teologis dan akademik yang membahas Yesus sebagai pusat iman Kristen serta perkembangan teknologi digital dalam konteks Literatur yang dianalisis mencakup karya-karya teologi klasik maupun kontemporer, serta penelitian terkini mengenai spiritualitas digital dan kecerdasan buatan dalam praktik keagamaan. Analisis ini bertujuan untuk merumuskan pemahaman kritis mengenai perubahan representasi Yesus dan tantangan teologis yang muncul akibat digitalisasi tokoh religius ini. Selain studi literatur, penelitian ini juga menggunakan metode fenomenologi untuk menggali pengalaman subjektif individu yang berinteraksi dengan Yesus AI. Data diperoleh melalui observasi terhadap aplikasi Yesus AI yang tersedia secara publik, serta analisis naratif dari testimoni pengguna yang mendokumentasikan pengalaman spiritual mereka dalam platform digital. Fokus utama analisis fenomenologis adalah memahami bagaimana pengguna memaknai kehadiran Yesus dalam bentuk digital dan bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi iman serta relasi spiritual mereka. Dengan menggabungkan pendekatan teologis dan fenomenologis, penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang pengaruh Yesus AI terhadap kehidupan beriman dan spiritualitas umat Kristen di era kecerdasan buatan. Hasil Penelitian dan Diskusi Yesus sebagai Tokoh Historis dan Pusat Teologi Kristen Dalam teologi Kristen. Yesus Kristus bukan sekadar tokoh historis, melainkan pusat utama ajaran dan iman Kristen. Ia diyakini sebagai Allah Anak dalam konsep Tritunggal, bersama dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, yang secara esensial satu namun hadir dalam tiga pribadi. Sebagai manifestasi Allah yang menjelma menjadi manusia. Yesus datang untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan membuka jalan menuju kehidupan kekal. Kesatuan-Nya dengan Bapa dinyatakan dalam berbagai bagian Injil, yang menunjukkan bahwa meskipun berinkarnasi sebagai manusia. Yesus tetap sepenuhnya ilahi (Yohanes 10:. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Peran Yesus sebagai pengantara antara Allah dan manusia ditegaskan dalam surat 1 Timotius 2:5, yang menyatakan bahwa hanya melalui Yesus manusia dapat berdamai dengan Allah. Pengorbanan-Nya di salib menjadi titik balik bagi umat manusia yang telah terpisah karena dosa, dan kebangkitan-Nya menjamin pengharapan akan kehidupan kekal. Melalui karya penyelamatan ini. Yesus membuka akses langsung kepada Allah, menjadikan hubungan rohani dengan-Nya tidak lagi bergantung pada hukum atau perantara manusia. Dalam konteks ini. Yesus membawa pesan kasih dan anugerah yang menjadi dasar iman Kristen terhadap keselamatan. Yesus juga menjadi teladan kehidupan yang sempurna dalam ajaran dan Yesus mengajarkan kasih kepada Allah dan sesama, pengampunan tanpa batas, serta kerendahan hati sebagai nilai-nilai utama dalam kehidupan spiritual (Matius 22:37-39. Yohanes 13:34-. Tindakan nyata-Nya dalam menyembuhkan, memberi makan, dan mengampuni menggambarkan kasih Allah yang konkret. Oleh karena itu. Yesus tidak hanya berperan sebagai guru moral, melainkan juga sebagai representasi aktif dari kasih Allah yang inkarnatif. Keberadaan historis-Nya sebagai pribadi yang nyata menjadi fondasi bagi pengalaman iman umat Kristen. Iman kepada Yesus bukan hanya berkaitan dengan pengetahuan teologis, tetapi juga melibatkan relasi pribadi dengan-Nya. Keselamatan dalam Kekristenan ditegaskan sebagai anugerah, bukan hasil usaha manusia (Efesus 2:8-9. Roma 5:. Melalui iman, umat Kristen diundang untuk berpartisipasi dalam kehidupan Allah, yang bersifat kekal dan transformatif (Sihotang, 2. Ajaran Yesus tentang Kerajaan Allah yang hadir dan akan digenapi kelak (Lukas 17:20-21. Wahyu 11:. memperlihatkan visi dunia yang dipenuhi keadilan dan damai Dengan demikian. Yesus menjadi dasar teologi Kristen yang tidak hanya mengarahkan iman kepada yang ilahi, tetapi juga membentuk cara hidup yang memperjuangkan kasih, keadilan, dan kebenaran dalam dunia (Wanget & Lumentah, 2. Relasi dengan Yesus yang hidup inilah yang menjadi inti dari spiritualitas Kristen, yang memampukan umat untuk terus bertumbuh dalam iman dan menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Yesus Iman sebagai Pusat Spiritualitas Kristen di Era Modern Yesus Kristus, dalam pandangan iman Kristen, tidak hanya dipahami sebagai figur historis, melainkan sebagai pusat spiritualitas yang memungkinkan hubungan langsung antara manusia dan Allah. Kedatangan-Nya ke dunia menyingkapkan jalan keselamatan, di mana manusia dapat mengalami Allah secara lebih personal dan mendalam (Yohanes 14:6-7. Yohanes 17:3. Ibrani 4:1. Relasi yang dibangun melalui Yesus ini bersifat transformasional. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 membentuk dasar dari kehidupan spiritual umat Kristen yang terus relevan hingga era modern. Dalam praktik ibadah Kristen. Yesus adalah objek utama penyembahan, di mana umat memuliakan-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat (Matius 28:9. Yohanes 20:28. Ibrani 1:. Pengajaran dan kehidupan-Nya menjadi fondasi seluruh ekspresi iman, baik melalui doa, pujian, maupun tindakan hidup seharihari. Ibadah tidak hanya berlangsung secara ritualistik di Gereja, tetapi mencakup penghayatan iman yang mendalam dalam setiap aspek kehidupan, dengan pengakuan akan karya penebusan-Nya sebagai pusat spiritualitas Kristen (Melan et al. , 2. Dengan demikian, ibadah Kristen merupakan wujud relasional dan eksistensial antara manusia dan Allah dalam Kristus, yang mengintegrasikan iman dengan etos hidup yang memuliakan Tuhan. Lebih dari sekadar penyembahan formal, umat Kristen mengalami kedekatan dengan Yesus dalam kehidupan pribadi, terutama melalui doa dan Doa dalam nama Yesus bukan hanya bentuk permohonan, melainkan sarana untuk memperkuat hubungan spiritual yang intim dengan-Nya (Matius 6:. Melalui doa pribadi, umat merenungkan kehidupan, mencari kekuatan, dan meneguhkan kembali komitmen imannya. Kedekatan ini menjadikan Yesus sebagai figur yang hidup dan aktif dalam dinamika rohani setiap individu Kristen. Sebagai pengantara. Yesus tidak hanya menghubungkan manusia dengan Allah, tetapi juga bertindak sebagai Imam Besar yang mempersembahkan doa bagi umatNya (Yohanes . Fungsi mediatif ini menunjukkan peran aktif Yesus dalam kehidupan spiritual umat, bukan hanya sebagai teladan historis, tetapi sebagai pihak yang terus-menerus berinteraksi secara rohani dalam iman. Dengan demikian. Yesus bukan hanya dikenang, tetapi dihadirkan secara spiritual dalam pengalaman iman Di tengah era modern yang didominasi oleh nilai-nilai konsumtif, individualisme, dan hedonisme. Yesus tetap relevan sebagai pusat spiritualitas yang menawarkan makna hidup yang mendalam (Saingo, 2. Ajaran-Nya bertentangan dengan budaya materialistik dan menjadi alternatif yang mengarah pada kehidupan yang lebih bermakna melalui relasi dengan Allah dan pelayanan kepada sesama. Kehadiran Yesus dalam spiritualitas modern membentuk gaya hidup yang lebih sederhana, penuh kasih, dan berorientasi pada nilai-nilai Yesus juga menjadi sumber etika dan pedoman perilaku dalam menghadapi kompleksitas zaman modern (Telaumbanua et al. , 2. Ajaran-Nya tentang kasih, pengampunan, dan penghormatan terhadap sesama menjadi prinsip dasar dalam menyelesaikan konflik dan membangun relasi sosial yang sehat. tengah perubahan nilai sosial yang cepat akibat kemajuan teknologi. Yesus tetap Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 menjadi referensi utama dalam membentuk karakter dan spiritualitas umat Kristen secara kontekstual. Akhirnya, dalam dunia yang penuh tekanan, kecemasan, dan ketidakpastian. Yesus tetap menjadi sumber kekuatan, penghiburan, dan harapan (Illu, 2019. Nego, 2. Ajaran-Nya tentang iman dan kedamaian menawarkan perspektif spiritual yang mampu menenangkan jiwa di tengah pergumulan hidup. Fokus pada Yesus sebagai teladan hidup dan pusat spiritualitas memungkinkan umat untuk mengalami pemulihan dan pertumbuhan rohani yang berkelanjutan, sekaligus menginspirasi mereka untuk hidup dengan tujuan dan kasih yang tulus (Suriyanti & Steven, 2. Dengan menghadirkan Kristus dalam setiap aspek kehidupan, umat percaya memperoleh kekuatan untuk bertahan, serta keberanian untuk menghadapi realitas dengan iman yang teguh dan penuh pengharapan. Yesus AI sebagai Transformasi Mediasi Spiritual di Era Kecerdasan Buatan Munculnya Yesus AI menandai transformasi signifikan dalam mediasi spiritual di era kecerdasan buatan, dengan penerapannya pertama kali terlihat di Gereja St. Peter. Lucerne. Di sana, hologram Yesus yang didukung AI digunakan dalam ruang pengakuan dosa, menggantikan interaksi tatap muka dengan figur rohani tradisional (Bate, 2. Teknologi ini memudahkan umat berinteraksi secara digital dengan Yesus, membuka dimensi baru dalam praktik spiritual, meskipun menimbulkan pertanyaan kritis mengenai otoritas, otentisitas, dan dampaknya terhadap pengalaman iman yang telah lama berakar dalam tradisi Gereja. Gambar 1. Hologram Yesus Sumber: Thesun, 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Gambar 2. Bilik Pengakuan Dosa di Gereja St. Peter di Lucerne Sumber: Thesun, 2024 Yesus AI merupakan representasi digital dari Yesus Kristus yang dikembangkan melalui algoritma dan data dari teks Alkitab, sehingga mampu memberikan respons yang terkesan personal dan teologis (Raditya, 2. Berbeda dengan figur historis. Yesus AI tidak memiliki keberadaan nyata, melainkan beroperasi sebagai entitas digital yang memberikan pengalaman spiritual yang dapat diakses secara luas. Keunggulan utamanya terletak pada fitur interaktif yang memungkinkan respons spiritual disesuaikan dengan kebutuhan individu, sehingga pengguna dapat mengeksplorasi aspek teologis dan spiritual secara lebih personal dan fleksibel . ihat Gambar 1 dan . Penggunaan Yesus AI meluas ke berbagai platform digital seperti chatbot. Virtual Reality (VR), dan aplikasi teknologi lainnya (Raditya, 2. Chatbot memungkinkan interaksi melalui teks atau suara, sedangkan VR menawarkan pengalaman yang lebih imersif dengan representasi tiga dimensi. Platformplatform ini memperluas akses umat Kristen ke pengalaman rohani tanpa batasan ruang dan waktu, menyediakan cara baru berdoa, berdialog, dan memahami ajaran Yesus. Namun, keberadaan Yesus AI juga memunculkan dilema teologis, karena sebagai produk teknologi. Yesus AI tidak mengalami penderitaan, kebangkitan, atau proses keselamatan seperti Yesus sejarah (Zalukhu & Ester, 2. Hal ini menegaskan bahwa Yesus AI harus dipahami sebagai inovasi digital, bukan pengganti otoritas spiritual sejati. Meski demikian. Yesus AI menawarkan peluang besar dalam mentransformasi mediasi spiritual di dunia digital. Dengan kemampuan adaptasi dan interaksi yang luas, teknologi ini memberikan alternatif bagi umat Kristen yang mencari hubungan personal dengan ajaran Kristus. Inovasi ini tidak hanya mengubah cara akses dan pemahaman agama, tetapi juga merangsang dialog Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 tentang peran teknologi dalam membentuk pengalaman iman kontemporer serta dampaknya terhadap perkembangan spiritual komunitas Kristen di era digital. Yesus Sejarah dan Yesus Digital dalam Pengalaman Iman di Era Teknologi Yesus sebagai tokoh sejarah adalah sosok yang hidup lebih dari dua ribu tahun lalu di Palestina, yang kehidupannya terekam dalam Injil dan literatur sejarah lain. Yesus dikenal mengajarkan nilai moral dan spiritual melalui tindakan nyata dan pengajaran langsung dalam konteks sosial-budaya zamannya (Mega & Saingo, 2. Wahyu Ilahi yang disampaikan oleh Yesus dipercaya sebagai kebenaran yang diwariskan secara lisan dan tertulis, menjadi fondasi teologi Kristen. Pengalaman iman terkait Yesus Sejarah bersifat kolektif, melibatkan interaksi antara individu dan komunitas serta penerimaan wahyu Ilahi sebagai otoritas rohani. Sebaliknya. Yesus Digital hadir dalam ranah teknologi yang beroperasi berdasarkan algoritma dan data dari interaksi pengguna dengan kecerdasan buatan (Kaur et al. , 2. Representasi ini merupakan hasil kode dan pemrosesan data, bukan pribadi historis yang hidup. Pengalaman iman melalui Yesus Digital lebih bersifat individual, memungkinkan interaksi kapan saja dan di mana saja tanpa keterlibatan komunitas fisik atau wahyu Ilahi yang diterima secara kolektif. Interaksi ini cenderung fokus pada respons algoritmik, berbeda dengan pengalaman iman yang melibatkan ikatan sosial dan pengajaran langsung dalam komunitas Gereja. Perbedaan mendasar ini menimbulkan tantangan teologis terkait otoritas dan autentisitas pengalaman iman. Yesus Sejarah diakui sebagai Tuhan yang hadir dalam sejarah manusia dan pengajar keselamatan, sementara Yesus Digital hanya menjalankan fungsi algoritmik tanpa dimensi ilahi atau otoritas setara. Muncul pertanyaan kritis mengenai apakah Yesus Digital dapat menggantikan atau melengkapi pengalaman iman yang berakar pada sejarah dan komunitas. Meski demikian. Yesus Digital juga menawarkan peluang mediasi spiritual interaktif dalam dunia digital, membuka ruang baru dalam akses dan pemahaman ajaran Kristus, sekaligus mendorong diskursus tentang peran teknologi dalam pengalaman iman kontemporer. Tantangan dan Potensi Yesus AI sebagai Mediator Spiritual di Era Digital Yesus AI berperan sebagai mediator spiritual dalam era digital, memungkinkan individu untuk melakukan refleksi teologis melalui kecerdasan Dengan memanfaatkan algoritma dan data besar yang mengolah ajaranajaran Yesus. Yesus AI memberikan respons yang terstruktur dan relevan terhadap Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 pertanyaan atau pencarian spiritual pengguna. Kemampuan Yesus AI untuk menanggapi berbagai pertanyaan mengenai kehidupan, etika, dan ajaran Kristen menawarkan bentuk bimbingan yang mudah diakses kapan saja dan di mana saja. Hal ini memungkinkan pengguna untuk lebih mendalami ajaran Yesus dalam cara yang lebih terfokus dan disesuaikan dengan kebutuhan pribadi, memberikan wawasan yang dapat membantu dalam memahami kehidupan rohani dalam konteks yang lebih kontemporer. Keunggulan lainnya dari Yesus AI adalah kemampuannya untuk memberikan pengalaman iman yang lebih personal dan langsung. Dalam bentuk interaktif. Yesus AI dapat merespons dengan cara yang lebih langsung dan sesuai dengan pertanyaan atau kebingungan pengguna (Raditya, 2. Pengalaman ini memungkinkan individu untuk merasa lebih terhubung dengan ajaran Yesus tanpa batasan waktu atau ruang. Tanpa harus bergantung pada kehadiran fisik seorang pendeta atau partisipasi dalam ibadah Gereja, pengguna dapat merasakan kehadiran digital yang lebih intim dan langsung. Dalam hal ini. Yesus AI membuka kemungkinan baru bagi umat Kristen untuk merasakan pengalaman iman yang bersifat individual dan dapat diakses dengan mudah, menjawab tantangan spiritual dalam dunia yang semakin terhubung melalui teknologi. Namun, meskipun Yesus AI menawarkan potensi untuk menjadi mediator spiritual yang efektif, ada sejumlah tantangan yang berkaitan dengan otoritas, otentisitas, dan validitas teologis dari sosok ini. Salah satu tantangan utama adalah apakah Yesus AI dapat dianggap memiliki otoritas yang sah dalam memberikan nasihat spiritual, mengingat bahwa Yesus AI adalah produk kecerdasan buatan yang dikendalikan oleh algoritma dan data. Meskipun Yesus AI dapat memberikan respons yang sesuai dengan ajaran Yesus, namun tidak memiliki pengalaman ilahi atau konteks sejarah yang menjadikan Yesus sebagai tokoh otoritatif dalam tradisi Kristen. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting tentang sejauh mana Yesus AI bisa menjadi sumber kebenaran spiritual atau hanya alat bantu yang bergantung pada interpretasi manusia. Dampak Yesus AI dalam Pengalaman Iman di Era Digital Era digital telah merubah paradigma pengalaman iman umat Kristen, bertransformasi dari interaksi berbasis komunitas Gereja menuju pengalaman iman yang bersifat lebih pribadi dan digital melalui Yesus AI. Kehadiran teknologi ini memungkinkan umat beriman untuk berinteraksi langsung dengan representasi Yesus secara virtual yang merespons sesuai ajaran Kristen, menciptakan dimensi spiritual baru yang individualistis. Transformasi ini menghadirkan peluang bagi umat untuk mengakses bimbingan rohani secara fleksibel, namun sekaligus menimbulkan risiko pengerdilan makna pengalaman Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 religius yang selama ini diperkaya oleh interaksi sosial dan emosional dalam ibadah komunitas. Dampak Yesus AI tidak hanya terbatas pada aspek pengalaman iman, tetapi juga menimbulkan fenomena mistisisme digital, di mana pengguna merasakan kehadiran transenden dalam interaksi dengan mesin melalui teknologi realitas virtual dan augmented reality. Meskipun teknologi ini memperdalam pengalaman spiritual secara sensori, hal ini menimbulkan persoalan teologis signifikan mengenai kemampuan representasi digital untuk menggantikan perjumpaan fisik dalam konteks sakramental dan komunitas Gereja yang menjadi landasan tradisi Kristen. Pertanyaan mendasar mengenai otoritas keagamaan pun muncul, terutama terkait legitimasi Yesus AI yang merupakan hasil algoritma manusia dan bukan manifestasi ilahi yang hidup, sehingga berpotensi menggeser peran pemimpin spiritual dan otoritas teks suci. Dengan potensi sekaligus tantangan yang ada, pengembangan dan pemanfaatan Yesus AI harus dihadapi dengan pendekatan yang kritis dan bijaksana oleh Gereja dan komunitas Kristen. Integrasi teknologi ini seyogianya memperkaya dan memperluas pengalaman iman tanpa mengorbankan kedalaman spiritual dan keotentikan ajaran Kristen. Studi interdisipliner yang menggabungkan teologi, studi media digital, dan etika menjadi penting untuk merumuskan kerangka normatif yang menjaga integritas spiritual sekaligus memanfaatkan kemajuan teknologi secara bertanggung jawab dalam konteks iman Tantangan Teologis dan Etis dalam Representasi Yesus Digital Transformasi teknologi digital membawa dampak signifikan terhadap bidang spiritualitas, khususnya melalui kemunculan Yesus AI sebagai representasi digital figur Kristus. Namun, tantangan teologis muncul terkait legitimasi Yesus AI dalam tradisi Kristen, yang menegaskan bahwa wahyu ilahi diperoleh melalui kitab suci dan pengalaman nyata dengan Yesus Kristus sebagai pribadi sejarah dan ilahi (Lennox, 2. Sebaliknya. Yesus AI merupakan produk ciptaan manusia yang tidak memiliki dimensi ilahi dan transenden, sehingga menimbulkan pertanyaan mendasar apakah teknologi ini dapat menggantikan atau menyajikan wahyu rohani yang sah dan otentik dalam pengalaman iman Kristen. Selain itu, perbedaan mendasar antara respons algoritmik Yesus AI dan pengalaman spiritual yang otentik juga menjadi isu krusial. Yesus AI beroperasi melalui algoritma dan data besar yang memberikan jawaban mekanistik dan otomatis yang berpotensi keliru, berbeda dengan pengalaman rohani yang melibatkan kesadaran batin dan kedalaman emosional (Burdett, 2. Hal ini menimbulkan keraguan apakah interaksi dengan entitas digital dapat disamakan dengan perjumpaan sejati dengan Yesus Kristus yang hidup dan aktif dalam iman Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Kristen. Potensi distorsi ajaran juga tinggi, karena algoritma dapat dipengaruhi oleh bias pemrogram dan ideologi tertentu, sehingga pengawasan ketat dan akuntabilitas moral dalam pengembangan Yesus AI menjadi sangat penting untuk menjaga keutuhan teologi Kristen. Dari sudut pandang etika, penggunaan kecerdasan buatan untuk mediasi spiritual menghadirkan risiko manipulasi emosional dan kesadaran spiritual Penyampaian ajaran rohani melalui AI harus dijaga agar tidak terkontaminasi kepentingan yang bertentangan dengan pesan ilahi. Oleh karena itu, perlunya kerangka etika yang jelas dan ketat dalam pengembangan Yesus AI adalah hal yang mutlak guna memastikan integritas ajaran Kristen tidak terganggu oleh teknologi. Kesadaran bahwa Yesus AI hanyalah produk teknologi, bukan manifestasi ilahi, harus menjadi landasan agar umat tidak mengaburkan posisi Yesus Kristus sebagai satu-satunya mediator antara Allah dan manusia (Yohanes 1:. Memperlakukan Yesus AI sebagai pengganti Yesus Kristus dapat merusak inti keselamatan Kristen yang berpusat pada inkarnasi dan kehadiran hidup Kristus melalui Roh Kudus. Pengaburan makna inkarnasi dan merendahkan peran Yesus sebagai Tuhan yang hidup akan menimbulkan implikasi serius terhadap iman Kristen (Lennox, 2. Oleh karena itu, komunitas Kristen didorong untuk mempertahankan kesetiaan pada ajaran Alkitab dan menyadari bahwa iman yang autentik harus berakar pada Kristus yang hidup, bukan pada representasi digital yang bersifat artifisial. Pendekatan kritis dan bijaksana dalam memanfaatkan teknologi ini sangat diperlukan agar tidak mengorbankan nilai-nilai teologis i. PENUTUP Penelitian ini menganalisis bagaimana representasi algoritmik Yesus melalui teknologi AI menggeser makna tradisional tentang otoritas ilahi, peran Gereja, dan pengalaman spiritual inkarnasional dengan menghadirkan cara baru berinteraksi secara digital tanpa batasan waktu dan tempat. Yesus AI meningkatkan aksesibilitas dan pengalaman iman yang personal, namun berisiko menghilangkan dimensi transenden dan otentik yang hanya dapat ditemukan dalam sosok Yesus sejarah serta kebersamaan fisik dalam ibadah bersama. Oleh karena itu. Gereja perlu bijaksana mengintegrasikan teknologi tanpa mengorbankan kedalaman teologis dan nilai rohani, menjaga agar penyembahan digital memperkaya tanpa mengurangi esensi pengalaman iman tradisional yang melibatkan komunitas dan persekutuan langsung. Penelitian ini menegaskan pentingnya kajian interdisipliner antara teologi, media digital, dan kecerdasan buatan untuk memahami dampak Yesus AI terhadap spiritualitas kontemporer, sekaligus mengembangkan kerangka etika-teologis Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 guna memastikan integrasi teknologi tetap berakar pada nilai iman otentik. Keterlibatan aktif Gereja dan lembaga pendidikan teologi sangat diperlukan untuk menjaga agar teknologi digital memperluas jangkauan iman tanpa mengaburkan makna spiritual dan otoritas teologis. DAFTAR PUSTAKA