Vol. 2 No. Putry. Priyono. Legowo Volume 2 No. 1 April 2022 PARAVISUAL : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Multimedia e-ISSN: 2797-6335 p-ISSN: 2797-6769 DOI: http://dx. org/10. 30591/paravisual. Politeknik Harapan Bersama available at: http://ejournal. id/index. php/paravisual MOTIF BATIK POLITEKNIK HARAPAN BERSAMA DAN PEMAKNAANNYA SEBAGAI REPRESENTASI DAERAH TEGAL Dessy Ratna Putry 1*. Dedit Priyono2. Wicaksono Wisnu Legowo3 1Politeknik Harapan Bersama. Tegal. Indonesia 2Politeknik Harapan Bersama. Tegal. Indonesia 3SPASI Moving Image. Tegal. Indonesia *e-mail: dessyratnaputry@poltektegal. Abstrak: Makna simbolis menjadi penting untuk ditelaah dalam sebuah penelitian mendalam dan terstruktur. Tulisan ini membahas bagaimana motif-motif batik dimaknai secara simbolis untuk diidentifikasi lebih lanjut sebagai bentuk representasi identitas suatu wilayah, dalam hal ini khususnya Kota Tegal. Jawa Tengah. Motif-motif batik yang diciptakan khusus ini direncanakan akan digunakan sebagai motif seragam pakaian dinas di lingkungan Politeknik Harapan Bersama. Kota Tegal. Penelitian ini menggunakan pendekatan pemaknaan dalam teori semiotika visual pada analisis tekstual maupun kontekstual. Definisi makna itu sendiri adalah arti atau maksud dari suatu hal yang ada di dalam sebuah objek. Sementara pemaknaan itu sendiri adalah upaya untuk menerangkan arti atau makna itu sendiri. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan relasi antara karya desain motif batik dengan objek-objek yang ditandai merepresentasikan kekhasan suatu daerah. Dalam hal ini adalah Kota Tegal yang terkenal dengan monumen tahu aci, monumen poci, gunung slamet dan pantai Keempat simbol tersebut dianalisis secara kontekstual sosial budaya sebagai bentuk representasi identitas dari Kota Tegal. Jawa Tengah. Kata kunci: representasi, motif batik, tegal Abstract: Makna simbolis becomes important to be studied in an in-depth and structured method of data collection. This research discusses how batikAos patterns are symbolically interpreted and can be taught from one person to another means as an identity of a region, especially in Tegal. Jawa Tengah. These batikAos patterns are planned to be used as an academia civitas of Politeknik Harapan BersamaAos uniform as an outward symbol of This research applies a visual semiotic approach in which the signs in textual and contextual data are examined in batikAos patterns. The definition of meaning itself is the intent of something that is in an object. This view of makna simbolis argues to conceive of cultures as defined by interpreting batikAos patterns. This research shows that batikAos patterns are manifested in society as a local wisdom of a region. Description about symbolic meaning in batikAos patterns was observed in four iconic objects: Monumen Tahu Aci. Monumen Poci. Gunung Slamet, and Pantai Utara. The four iconic objects are analyzed in a sociocultural textual and contextual as an identity and representation of Tegal. Jawa Tengah. Keywords: representation, batikAos patterns, tegal Putry. Priyono. Legowo Vol. 2 No. PENDAHULUAN Pembacaan makna pada suatu disiplin ilmu dengan berbagai wacana sosial budaya disebut dengan semiotika visual. Secara harfiah semiotika berasal dari bahasa Yunani, yaitu semeion dengan dua tokoh terkenalnya, ialah Saussure dan Peirce. Dua tokoh tersebut memiliki pemikirannya masing-masing terkait dengan semiotika. Saussure memiliki pemahaman bahwa tanda merupakan satu kesatuan dari dua hal, yaitu penanda . dan petanda . penanda mengandung makna tertentu yang telah disepakati bersama secara sosial budaya. Sedangkan Pierce memiliki pemahaman bahwa tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain dalam batas-batas tertentu . Dengan demikian, apabila ditarik benang merahnya dari kedua tokoh sekaligus kedua pemahaman tersebut, maka semiotika dalam hal ini dimaknai sebagai suatu teori keilmuan yang di dalamnya terdapat upaya untuk mengejawantahkan objek sebagai bentuk representasi dari suatu hal yang dibangun berdasarkan pemahaman yang telah disepakati bersama secara sosial-budaya dalam Lebih jauh, sebagai sebuah disiplin keilmuan, yaitu ilmu tentang tanda, semiotika pada dasarnya memiliki prinsip, sistem, aturan dan prosedurprosedur keilmuan yang khusus juga baku. Namun, definisi ilmu dalam ilmu semiotika tidak dapat disejajarkan dengan ilmu alam . atural scienc. yang pada umumnya menuntut ukuran-ukuran matematis yang pasti guna menghasilkan sebuah pengetahuan objektif sebagai sebuah kebenaran tunggal. Semiotika adalah ilmu yang dibangun oleh pengetahuan yang terbuka bagi ragam interpretasi . Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa bagaimana interpretasi dimunculkan senada dengan bagaimana konstruk sosial dan budaya masyarakat di dalamnya tertanam dan bertumbuh. Pada praktiknya, semiotika visual membutuhkan objek untuk terjadinya proses pemaknaan di dalamnya. Objek tersebut dalam penelitian ini ialah motif batik, khususnya motif batik yang dirancang sebagai seragam dinas di kalangan sivitas akademika Politeknik Harapan Bersama (PHB). Tegal. Sebagai salah satu entitas budaya, batik sarat akan makna dalam proses penciptaan dan penggunaannya yang direlasikan dengan representasi identitas suatu wilayah. Representasi menurut Hall adalah upaya menghadirkan kembali makna pada suatu hal yang ditampilkan, dimana lekat dengan media dan bersifat tidak mutlak atau dengan kata lain dapat berubah. Dalam representasi itu sendiri terdapat peta konseptual berupa gambaran mental dari objek, proses yang digunakan untuk memahami-memberikan makna serta mengategorikan sesuatu . Dengan demikian yang dimaksud representasi identitas dalam penelitian ini adalah bagaimana motif batik mampu menghadirkan kembali atau mewakili identitas yang bersifat kelokalan suatu daerah, khususnya di Tegal. Jawa Tengah. Merunut pada sejarahnya. Tegal merupakan daerah yang berada di pesisir utara Pulau Jawa yang memiliki akses dengan negara-negara lain terutama dalam hubungan dagang. Oleh karena itu tidak heran apabila di Tegal pun lahir batik yang dikembangkan oleh kelompok pengusaha Indonesia Belanda dan pengusaha China sebagaimana daerah-daerah pesisir utara Jawa lainnya, seperti di Pekalongan. Semarang dan Lasem. Batik kali pertama dikenal di Tegal yaitu pada akhir abad kesembilanbelas yang mana saat itu masih didominasi oleh motif batik keraton yang cenderung berwarna hijau atau kecokelatan. Pada tahun 1908 batik diperkenalkan oleh RA. Kardinah yang juga membangun sekolah kepandaian putri pribumi yang Bernama Wismo Pranowo, tempat diajarkannya praktik membatik. Kemudian kreasi batik Tegalan mulai Putry. Priyono. Legowo Vol. 2 No. berkembang dari sana. Proses pengenalan dan pendidikan tersebut, menurut sejarahnya menghasilkan ciri khas batik Tegalan yang berwarna-warni, mengarah pada motif rengrengan besar dan melebar. Warna lembut dan kontras adalah ciri khas motif gaya pesisiran yang dimaknai sebagai kesan tegas dan lugas seperti karakter masyarakat Tegal pada umumnya . Hal ini menandakan bahwa suatu entitas budaya tidak dapat terlepas dari bagaimana kehidupan masyarakat di dalamnya. Beranjak dari pemahaman tersebut, diketahui bahwa batik memiliki sejarah panjang dalam definisinya, baik dari aspek corak maupun dari asal daerahnya. Sebagai sebuah warisan budaya, kata AubatikAy itu sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu mbat dan tik: ngembat yang artinya melempar berkali-kali dan tik yang artinya titik. Jadi, batik secara harfiah diartikan sebagai proses melempar . goresan canting berkali-kali ke dalam titik-titik yang berpola dengan indah dan terstruktur . Definisi secara kebahasaan ini ditandai sebagai bentuk penggambaran sejarah asal daerah batik meskipun tentu saja masih menimbulkan perdebatan sekaligus membuka peluang pengetahuan lainnya. Kehadiran batik di Jawa terbilang minim pencatatan sejarahnya dan Dalam hal ini G. Rouffaer, seorang peneliti sekaligus pustakawan Belanda berpendapat bahwa teknik batik kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilanka pada abad keenam atau ketujuh. Namun di sisi lain. A Brandes seorang arkeolog Belanda menyebutkan bahwa sebelum ada pengaruh dari India. Indonesia . aat itu masih dikenal dengan sebutan Nusantar. telah memiliki sepuluh kebudayaan yang diakui, yaitu wayang, gamelan, puisi, mata uang logam, pelayaran, ilmu falak, budi daya padi, irigasi, pemerintahan dan batik. Sementara itu menurut F. Sutjipto, seorang arkeolog Indonesia mengatakan bahwa batik berasal dari tradisi kuno daerah Toraja. Flores. Halmahera dan Papua. Kemudian dari pendapat lain menyebutkan bahwa relief-relief yang ada pada Candi Prambanan dan Candi Borobudur ditemukan adanya ukiran-ukiran yang menampakkan motif-motif serupa motif batik. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa motif batik telah ada di masa pembangunan candi-candi tersebut. Sementara itu, pada masa kejayaan Hindu sekitar abad ketigabelas di Jawa Timur, keberadaan seni batik dapat dilihat pada pakaian yang dihias dengan motif-motif pada arca bangunan-bangunan candi. Hal ini menunjukkan bahwa kala itu keberadaan batik sudah ada untuk mencerminkan norma dan budaya suatu kelompok masyarakat . Dari sekian banyak pendapat terkait dengan sejarah awal mula kehadiran batik, maka dapat kita simpulkan bahwa sulit untuk menandai waktu dan tempat yang tepat. Oleh karenanya hal ini dikembalikan pada sudut pandang peneliti untuk menyepakati perihal kesejarahan tersebut tanpa menutup kemungkinan adanya perubahan pengetahuan yang sebelumnya telah diyakini bersama. Berbicara mengenai kesejarahan kapan dan di mana kali pertama batik hadir, diketahui bahwa terdapat dua daerah di Jawa yang dikenal sebagai daerah penghasil batik, yaitu Yogyakarta dan Surakarta (Sol. untuk daerah selatan Jawa serta daerah utara Jawa, yaitu Pekalongan. Lasem dan Cirebon. Merunut bagaimana batik digunakan dalam keseharian, pada sejarahnya batik tulis selalu diasosiasikan dengan keraton. Hal ini diperkuat melalui narasi sejarah bahwa perjalanan lahirnya batik di daerah Yogyakarta dan Surakarta mengalami pengaruh dari India sekitar abad ke-600 hingga 1500 SM yang bermuara sebagai pusat kebudayaan di Jawa. Pun ditandai dengan adanya perubahan menuju ajaran agama Islam yang terjadi beberapa abad lalu, di mana keraton tetap menjadi pusat budaya Hindu-Jawa kuno . Putry. Priyono. Legowo Vol. 2 No. Penggolongan wilayah Aupesisir dan keratonAy di Jawa itu sendiri nyatanya memengaruhi warna dan desain pola batik. Umumnya batik pesisir memiliki warna yang cerah dan mencolok berupa gradasi warna biru yang berkombinasi dengan warna merah atau merah kecokelatan . Selain warna, desain pola batik pesisiran dikenal lebih beragam. Seperti yang disebutkan oleh Roojen bahwa setiap orang yang membuat batik di sepanjang pesisir utara Jawa menghasilkan beragam desain yang berbeda. Perbedaan juga terlihat pada kecenderungan para pembatik dalam membuat desainnya. Para pembatik di wilayah sekitar keraton cenderung mengikuti tradisi dan membuat batik dengan pola-pola yang telah baku di lingkungan keraton. Sementara itu, para pembatik di daerah pesisir memiliki kecenderungan lebih dinamis dalam menciptakan pola desainnya yang dikenal lebih bebas . Narasi ini menunjukkan bahwa keanekaragaman warna maupun desain pola batik di Jawa bergantung pada unsur wilayahnya. 1 Rumusan Masalah Motif batik dalam sejarah, persebaran dan pemaknaannya menjadi penting untuk ditelaah dalam sebuah penelitian. Oleh karenanya dalam hal ini dirumuskan permasalahan bagaimana motif batik Politeknik Harapan Bersama merepresentasikan identitas daerah Tegal yang ditandai oleh empat objek ikonik, yaitu: Gunung Slamet. Pesisir Pantai Utara. Monumen Tahu Aci dan Monumen Poci. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori semiotika visual. di mana pemaknaan yang ada dalam tanda memuat gagasan wacana sosial budaya di suatu daerah. Adapun untuk analisis yang dilakukan guna mencapai tujuan penelitian ini berupa analisis struktural. Analisis tersebut terdiri dari penciptaan desain motif batik hingga pengidentifikasian pokok permasalahan berdasarkan karakteristik dalam teori semiotika visual. Hal ini didukung oleh data-data dari beragam buku, jurnal, skripsi maupun situs website yang ditelusuri melalui internet guna mendapatkan penjabaran yang komprehensif mengenai makna simbolis motif batik sebagai representasi kelokalan/kedaerahan. Kemudian menyimpulkan narasi-narasi yang telah disebutkan dari awal hingga hasil dan pembahasannya sebagai jawaban atas keseluruhan pertanyaan dalam penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Dari telaah pendahuluan, rumusan masalah hingga metode penelitian, maka diperoleh hasil dan pembahasan sebagai berikut: 1 Hasil Proses pembentukan ide dalam pembuatan motif batik ini berujung pada empat objek ikonik di wilayah Tegal, yaitu . monumen tahu aci, sebagai simbol makanan khas daerah Tegal . ahu ac. yang diminati banyak orang dan dikenal sebagai oleh-oleh khas daerah. monumen tugu poci, poci atau tempat air minum yang terbuat dari tembikar, biasanya untuk menyeduh teh ini identik dengan budaya minum teh di Tegal, meminum teh yang diseduh langsung dari poci lalu dituangkan ke dalam cangkir biasanya dengan tambahan gula batu sebagai pemanisnya. gunung slamet, menurut informasinya membentang di Vol. 2 No. Putry. Priyono. Legowo lima kabupaten, yaitu Banyumas. Pemalang. Tegal. Purbalingga dan Brebes ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah yang dapat dinikmati keindahannya dari Tegal dan sekitarnya. pantai utara, diambil karena wilayah Tegal berada di pesisir pantai utara Jawa yang menjadikannya ikonik. Kemudian langkah berikutnya adalah membuat sketch manual dari beberapa objek ikonik tersebut hingga menjadi motif batik yang utuh, sebagai berikut: No. Gambar Motif Batik Detail Motif Batik Makna Gambar segitiga yang bergabung merupakan metafora dari gunung dan ombak di lautan. Gunung dan ombak di lautan kondisi alam di Tegal yang terletak di antara Gunung Slamet dan Pantai Utara Laut Jawa. Unsur gunung dan ombak di lautan ini dibentuk menyerupai tahu aci . akanan khas Tega. yang Pada bagian bawah terdapat logo Politeknik Harapan Bersama dengan ornamen lainnya yaitu kue gemblong dan satu set perangkat minum teh poci, khas Tegal. Logo Politeknik Harapan Bersama yang dijadikan sebagai motif batik kegunaan batik sebagai seragam dinas bagi sivitas Kue gemblong dan seperangkat minum teh poci unsur kelokalan kuliner khas Tegal. Motif yang sama dengan sebelumnya, tetapi ini versi tahu aci dalam jarak dekat. Vol. 2 No. Putry. Priyono. Legowo Ragam perwarnaan dalam desain batik ini dilakukan guna memberi alternatif 2 Pembahasan Batik Politeknik Harapan Bersama ini digagas sebagai upaya mengejawantahkan suatu karya visual yang memiliki makna, tujuan dan manfaat sebagai seragam dinas sivitas akademika Politeknik Harapan Bersama yang mengusung tema kelokalan daerah Tegal di mana institusi ini berdiri. Proses pembuatan sketsa batik ini diawali dengan riset terlebih dahulu sebelum kemudian dilakukan proses pengerjaan sketsa dasar secara manual yang dilanjutkan dengan penggambaran secara digital . dengan menggunakan aplikasi Adobe Photoshop dalam perangkat laptop. Secara keseluruhan penggarapan desain motif batik ini meliputi proses manual dan digital dengan penggambaran sebagai berikut: Proses pembuatan sketsa batik manual: Membuat grid di atas kertas dengan perbandingan 5:5 kotak, kemudian pola dasar berupa objek geometris segitiga dan lingkaran membentuk base mandala di sisi kanan atau pada posisi RoT p1 kanan. Kemudian membuat detail objek tahu aci berupa kurva dan titik dengan range memenuhi 3:3 kotak, lalu menarik kurva memanjang membentuk sulur dari titik tengah mandala ke arah kiri, membuat motif gribikan dan juga sulur sebagai isen-isen dengan memerhatikan posisi grid dan objek utama dengan perbandingan 1:1 diagonal. Proses pembuatan dasar motif/pattern batik digital: Melakukan scan motif batik dengan resolusi 300ppi, lalu menyisipkan hasil scan motif batik manual . isa yang berwarna maupun yang hitam puti. pada lembar kerja di Adobe Ilustrator, memastikan posisi scan motif batik dan artboard sesuai, kemudian mengunci layer sample batik agar tidak mengganggu proses tracing, menambahkan layer di atas layer sample batik, menggunakan pen tool untuk menjiplak bentuk objek tahu aci, pastikan setiap bagian berada dalam path yang berbeda agar mudah untuk diberi warna. Langkah selanjutnya ialah menyesuaikan ukuran pen tool jika nampak kurang sesuai dengan pola manual. Dalam proses ini gunakan tools transform, pathfinder dan align untuk menyesuaikan posisi setiap bagian objek, menambahkan layer di bawah layer tahu aci untuk membuat bagian kurva di sebelah kiri, kemudian membuat kurva Putry. Priyono. Legowo Vol. 2 No. dengan brush tool agar lebih terkesan halus. Kemudian beri warna di setiap objek sesuai dengan desain manual, lalu kunci layer tahu aci dan layer kurva. Langkah berikutnya adalah membuat layer baru di bawah layer kurva. Buat objek persegi dengan ukuran maksimal pada bagian pola gribikan, lalu duplikasi dengan menu transform hingga membentuk dasar pola gribikan. Kemudian buat garis diagonal, perbesar ukurannya sehingga nampak seperti memotong pola dasar gribikan. Dalam proses ini, gunakan menu pathfinder untuk mempermudah proses pemotongan grouping objek gribikan. Gunakan clipping mask untuk mengubahnya menjadi objek tunggal, lalu buat pola repetisi gribikan dengan menu pattern sesuai dengan ukuran dasar pola batik. Kemudian tambahkan layer di atas layer gribikan, buat kurva membentuk sulur dan daun kecil, lalu buat repetisi dari motif dasar tersebut, buat objek jajar genjang untuk dasar area clipping mask pada pola sulur, ubahlah rangkaian pola sulur dengan menu clipping mask, lalu grouping dengan pola gribikan. Kemudian buat layer pada posisi paling atas, lalu masukan logo PHB dan terakhir grouping semua layer dan jadikan pattern dengan menu pattern. Pembuatan desain batik digital Buat objek dasar persegi sesuai dengan ukuran artboard baru dengan perbandingan ukuran cetak kain, lalu sisipkan pattern batik yang telah dibuat, kemudian atur pattern batik sesuai dengan pola. Langkah selanjutnya, tambahkan bagian untuk wiru dengan menambahkan layer dan membuat objek persegi panjang dengan rectangle tool dan sisipkan motif yang berasal dari logo PHB yang sudah dibuat monotone, lalu layouting sesuai dengan desain yang sudah dirancang. Terakhir, simpan dan eksport hasil desain batik tersebut. Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat kita relasikan bahwa pembuatan motif batik ini menjadi penting sebagaimana dengan makna, tujuan dan manfaat di dalamnya untuk merepresentasikan identitas daerah Tegal. Seperti yang disampaikan oleh Kurniawan bahwa ragam motif batik yang tercipta sudah seharusnya menyesuaikan dengan nilai-nilai sosial budaya tiap daerah, sehingga budaya bangsa Indonesia yang kaya dan beragam ini mampu mendorong lahirnya ragam motif batik yang lebih luas dan tentu saja mengusung unsur-unsur kelokalan di tiap daerah. Berangkat dari narasi tersebut, seperti yang dikabarkan melalui banyak media bahwa pemerintah Indonesia telah mengajukan batik ke badan dunia UNESCO sebagai representative list of intagible cultural heritage. Dan hasil yang diperoleh pada tanggal 2 Oktober 2009 ialah batik ditahbiskan sebagai global cultural heritage yang berasal dari Indonesia dan pemerintah menetapkan hari tersebut sebagai Hari Batik Nasional . Hal ini dapat kita tandai sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa Indonesia di kancah dunia. Ditahbiskannya batik sebagai global cultural heritage tidak terlepas dari ornamen-ornamen di dalamnya. Penerapan motif batik sebagai ornamen pokok merupakan Aupemeran utamaAy yang memuat filosofi dari makna batik itu sendiri yang diselingi dengan ornamen tambahan agar harmonis secara keseluruhan. Ragam motif di Indonesia sebagai salah satu wujud kearifan lokal daerah atau ciri khas daerah merepresentasikan bagaimana daerah tersebut lahir . ari unsur sejarahny. dan bertumbuh . ari unsur sosial budaya masyarakatny. Putry. Priyono. Legowo Vol. 2 No. SIMPULAN Penjelajahan semiotika visual pada motif batik sebagai representasi identitas kedaerahan lahir dengan relasi wacana sosial budaya. Penanda beberapa objek yang ikonik di daerah ini mengejawantahkan pembacaan makna yang telah disepakati bersama. Lebih jauh, motif batik dalam penelitian ini digagas dari rancangan pembuatan seragam dinas di lingkungan sivitas akademika Politeknik Harapan Bersama. Hal ini sekaligus menandakan adanya upaya dalam institusi sebagai cerminan dari bagaimana daerah Tegal dan sekitarnya lahir dan terus bertumbuh. Pengembaraan ide-ide kreatif diawali dari penemuan dan pengenalan persoalan komunikasi visual dengan penyusunan konsep kreatif yang berlandaskan karakter target sasaran. Proses tersebut ditempuh hingga ditentukannya visualisasi desain guna mencapai sebuah komunikasi visual yang di dalamnya ada makna, tujuan, manfaat, komunikatif dan estetis. Pada akhirnya teknis visual yang menekankan pada aspek desain secara spesifik dengan mengusung nilai-nilai kelokalan di dalamnya selain sebagai tanda yang bermakna pun sebagai manifestasi dari bagaimana karya desain komunikasi visual itu diapresiasi bersama. DAFTAR PUSTAKA