Pemaknaan Perilaku Seks Bebas oleh Dewasa Muda yang Belum Menikah . Ajeng Pradipta Fitriana Pemaknaan Perilaku Seks Bebas oleh Dewasa Muda yang Belum Menikah Ajeng Pradipta Fitriana1. Taufik2 Magister Profesi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta email: t100215019@student. Abtrak Artikel INFO Diterima : 19 Desember 2022 Direvisi : 31 May 2023 Disetujui : 08 Juni 2023 DOI: http://dx. org/10. v1 4i2. Keterbukaan informasi yang dapat diperoleh membuat seseorang dapat mengakses berbagai macam informasi tidak terkecuali informasi mengenai isu-isu seksual. Hal ini tidak jarang menyebabkan banyak yang menjadi penasaran untuk mencoba melakukan perilaku seks bahkan sebelum mereka menikah. Sehingga terjadi tolak belakang antara perilaku yang dilakukan dikalangan masyarakat dengan norma yang ada di Indonesia yang terutama norma agama. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 6 orang dewasa muda . orang laki-laki dan 3 orang perempua. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara semi terstruktur dan data akan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian ini mengungkapkan perilaku seks bebas sebagai salah satu reaksi partisipan terhadap pola asuh yang mengekang ataupun yang membebaskan. Ketidakkonsistenan penggunaan alat kontrasepsi terutama kondom perlu menjadi perhatian lebih untuk mencegah penyebaran penyakit menular seksual. Pemikiran terbuka mengenai keperawanan dan isu seksual membuat partisipan tertarik mencoba untuk melakukan perilaku seks hingga ke tahap berhubungan badan baik dengan kekasih ataupun teman kencan semalam. Implikasi dari penelitian ini perlunya dewasa muda untuk lebih selektif dalam menyerap informasi untuk lebih memahami baik atau buruk perilaku yang akan dilakukan agar terhindar dari kemungkinan terkena dampak negatif dari informasi tersebut. Kata kunci: Dewasa muda. Perilaku Seks Bebas. Perilaku Seks Pranikah The Meaning of Free Sexual Behavior by Young Adults Who Have Not Marry Abstract Information that can be obtained allow people to access various kinds of information, including information on sexual issues. This causes many to become curious to try sexual behavior even before they get married. There is a backlash between the behavior carried out among the community and the norms exist in Indonesia, especially religious norms. This research is qualitative research with phenomenological approach. Participants in this study were 6 young adults . men and 3 wome. Data collection method uses semi-structured interviews and data will be analyzed using thematic analysis techniques. Results of this study revealed free sex behavior as one of the participantsAo reactions to parenting styles that were either restrictive or liberating. Inconsistency in using condoms, needs to be of more concern to prevent the spread of sexually transmitted diseases. Open-mindedness about virginity and sexual issues made participants interested in trying to engage in sexual behavior to the point of having sex with either lovers or onenight stands. The implication of this research is young adults need to be more selective in absorbing information to understand good or bad behavior that will be carried out in order to avoid the possibility of being negatively affected by this information. Keywords: Free-Sex Behavior. Premarital Sex. Young Adults Pendahuluan Penelitian mengenai perilaku seksual diawali karena keprihatinan para peneliti mengenai peningkatan kasus HIV/AIDS yang ada di dunia. Mengutip dari laman Kementerian Kesehatan RI . yang mengambil data dari Global School Health Survey 2015, terdapat masalah kesehatan reproduksi dan perilaku berisiko pada remaja seperti: 3,3% remaja berusia 15 hingga 19 tahun yang mengidap AIDS, hanya sekitar 9,9% perempuan dan Jurnal Psikologi. Volume 19 Nomor 1. Juni 2023 10,6% laki-laki berusia 15 hingga 19 tahun yang memiliki pemahaman mengenai HIV AIDS, dan sebanyak 4,5% remaja laki-laki dan 0,7% remaja perempuan telah melakukan hubungan seksual pranikah. Berdasarkan survei pada Oktober 2013 yang telah dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Kementerian Kesehatan, didapatkan hasil bahwa sebanyak 63% remaja telah melakukan perilaku seks pranikah dengan kekasih ataupun orang sewaan (Kemenko PMK, 2. Penelitian mengenai isu ini pernah dilakukan oleh Hisan dan Sari . dan mendapatkan hasil bahwa subjek yang tidak melakukan perilaku seks pranikah memiliki pertimbangan akan masa depan lebih tinggi dibandingkan dengan subjek yang melakukan perilaku seks bebas. Beberapa penelitian lainnya mencoba mencari tahu hubungan beberapa variabel dengan perilaku seksual bebas dan untuk mengambil kesimpulan mengenai alasan yang membuat seseorang rentan melakukan perilaku seksual berisiko antara lain: paparan pornografi (Yunengsih & Setiawan, 2. religiusitas (Panting & Sui Mien, 2. , faktor-faktor keluarga yang didalamnya termasuk komunikasi orangtuaanak, hubungan antara orangtua-anak, pengasuhan orang tua, dan struktur keluarga (Lianawati et al. , 2018. Gustina, 2017. peran teman sebaya (Lianawati et al. , 2. penyalahgunaan NAPZA (Mwangi et al. , 2. pernah mengalami pelecehan seksual dan PTSD (Weiss et al. , 2. dan alasan-alasan lainnya yang tentu saja perlu adanya penelitian Sebenarnya topik mengenai masalah seksual masih dianggap tabu untuk dibicarakan di Indonesia karena disini masih menganut paham-paham Ketimuran. Orang tua maupun pihak sekolah kurang memberikan pemahaman kepada anak mengenai perilaku seksual serta bahaya yang mungkin terjadi maupun memberikan Pendidikan seks usia Pengetahuan ini cukup penting diberikan kepada anak mengingat menurut data kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tiap tahunnya terdapat peningkatan jumlah individu yang melakukan perilaku seks berisiko, terjangkit HIV/AIDS dan melakukan aborsi tidak aman. Faktanya, pembicaraan mengenai topik seksual dalam keluarga berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang memiliki komunikasi terbuka dengan anaknya, cenderung memiliki anak dengan perilaku seksual bebas yang rendah (Kholifah, 2. Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak mengenai topik perilaku seksual terutama penggunaan alat pengaman . akan membuat anak cenderung memahami bahaya perilaku tersebut atau pun jika melakukan perilaku seksual dengan pasangannya, mereka akan cenderung menggunakan kondom (Grossman et al. Pengaruh teman sebaya juga diteliti sebagai salah satu penyebab utama mengapa seseorang melakukan perilaku tersebut. Dengan adanya perilaku serupa yang dilakukan oleh teman sebaya terutama teman satu kelompok kecil, maka perilaku seksual berisiko ini akan dianggap oleh seseorang sebagai perilaku yang wajar dilakukan (Lianawati et al. , 2. Terlebih apabila terdapat teman yang memiliki kehamilan yang tidak diharapkan, namun tetap mendapatkan dukungan dari orang-orang sekitarnya. Penelitian selanjutnya oleh Wong . mendapatkan hasil masih banyaknya subjek yang kurang memiliki pengetahuan mengenai isu seksual dan alat kontrasepsi. Banyak yang melakukan hubungan seksual tanpa pengaman pada tahap intercouse, mereka hanya berpatokan kepada periode menstruasi, metode alamiah dan praktik pencegahan kehamilan tradisional. Temuan lainnya yaitu berbagai kategori yang mempengaruhi individu bersikap dan berperilaku seksual antara lain tingkat religiusitas, etnis dan agama, norma dan tekanan teman sebaya, serta pemantauan orang tua. Hasil lainnya yang didapatkan adalah berkaitan dengan penggunaan alat kontrasepsi seperti kondom. Masih banyak subjek yang merasa malu saat Pemaknaan Perilaku Seks Bebas oleh Dewasa Muda yang Belum Menikah . Ajeng Pradipta Fitriana akan membeli kondom, selain itu mereka masih belum banyak pengetahuan mengenai infeksi menular seksual dan masih menjunjung kemanjuran metode tradisional. Jumlah masyarakat yang melakukan perilaku seks bebas terus meningkat sehingga menyebabkan kasus HIV/AIDS di Indonesia terus bertambah tiap tahunnya. Hal ini membuat Kementerian Koordinator bidang Pengembangan Manusia dan Kebudayaan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk membuat Program Pencegahan Perilaku Berisiko Seks Bebas pada Pemuda. Fakta di lapangan berupa hasil survei statistik maupun hasil penelitian yang menunjukkan banyaknya masyarakat yang melakukan perilaku seks bebas tentu saja bertolak belakang dengan budaya ketimuran yang menjunjung mengenai etika, moral dan menjunjung sikap untuk melakukan hubungan seksual ketika dalam jalinan pernikahan. Kontradiksi inilah yang menjadi landasan mengapa penelitian ini perlu dilakukan agar mencari tahu alasan dan faktor pendorong yang mendasari dewasa muda melakukan hubungan seks bebas serta pemaknaan mereka mengenai perilaku Pengertian ataupun pembahasan mengenai perilaku seksual sebenarnya erat kaitannya dengan konteks kebudayaan dimana individu tersebut tinggal, baik itu membolehkan atau menolak beberapa atau banyak bentuk dari perilaku tersebut. Walaupun pada kenyataannya pengekspresian perilaku seksual itu bermacam-macam bentuknya, beberapa pengekspresian itu memang ada yang bisa dilakukan dengan bebas, namun sebagian lain masih dipandang sebagai suatu penyimpangan yang ada pada kebudayaan tersebut (Nascimento et al. Di Indonesia sendiri, pembahasan mengenai perilaku seksual masih tabu untuk dibicarakan terutama untuk mereka yang belum terikat pernikahan. Perilaku seks bebas merupakan suatu bentuk pembebasan seks yang dianggap tidak wajar baik oleh negara maupun agama (Christy & Sudarji, 2. Menurut Desmita . perilaku seks bebas merupakan bentuk-bentuk pengekspresian dan pelepasan dorongan seksual seperti berkencan intim, berciuman, hingga melakukan kontak seksual yang diakibatkan dari kematangan fungsi organ seksual yang dinilai tidak sesuai dengan Di Indonesia, pengekspresian seks bebas ini dianggap sebagai sebuah perilaku yang tidak sesuai dengan kebudayaan yang ada dan dianggap sebagai perilaku yang Sehingga, perilaku seks bebas adalah perilaku seksual yang dilakukan oleh individu pengekspresian dorongan seksual baik dengan pasangan yang sama maupun dengan berganti-ganti pasangan yang dipandang tidak sesuai norma agama dan Perilaku seksual sendiri memiliki beberapa bentuk perilaku seperti berpelukan, berciuman, masturbasi, petting, ciuman di bibir yang dalam, menstimulasi alat kelamin, oral sex, anal sex, dan seksual intercouse (Ilbert & Marfuah, 2. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku seks bebas oleh dewasa muda yang belum menikah adalah pengekspresian dorongan seksual dimulai dari berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, cuddling hingga melakukan hubungan seksual penetrasi yang dilakukan diluar ikatan pernikahan baik dilakukan dengan pasangan yang sama ataupun pasangan yang berbeda dan dipandang tidak sesuai norma agama dan negara darimana dewasa muda tersebut Fokus penelitian terdahulu pada perilaku seks bebas pada remaja putri, sedangkan fokus penelitian ini pada perilaku seks bebas yang dilakukan dewasa muda baik perempuan maupun laki-laki. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah . apa faktor pendorong dewasa muda melakukan perilaku seks . bagaimana dinamika pengambilan keputusan dewasa muda untuk melakukan perilaku seks bebas?. bagaimana pemaknaan perilaku seks bebas pada dewasa muda yang belum menikah?. Jurnal Psikologi. Volume 19 Nomor 1. Juni 2023 Metode Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan Konsep utama dalam pendekatan fenomenologi adalah mengenai Makna adalah hal esensial yang muncul dari pengalaman kesadaran manusia. Pendekatan ini menekankan pada bagaimana seseorang menginterpretasikan berupa apa yang dialami dan bagaimana ia memaknai fenomena yang terjadi pada diri mereka menurut sudut pandang yang mereka pahami (Helaluddin, 2. Pengambilan partisipan dalam penelitian ini adalah menggunakan purposive sampling dengan kriteria partisipan adalah laki-laki dan perempuan pada tahap perkembangan dewasa muda yaitu berusia 18-40 tahun, pernah melakukan hubungan seksual pranikah, tidak sedang dalam ikatan pernikahan dan bersedia menjadi informan penelitian. Tabel 1. Karakteristik partisipan Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki Jakarta Laki-laki Salatiga Perempuan Yogyakarta Freelancer designer Maret 2022 Perempuan Purbalingga ASN Akhir Tahun 2021 Perempuan Jakarta Job seeker Maret 2022 Partisipan Domisili Usia Pekerjaan Jakarta Karyawan swasta Terakhir Tahun 2020 Karyawan swasta Akhir tahun 2021 Karyawan swasta Maret 2022 Hasil Faktor pendorong perilaku seks bebas Faktor pendorong perilaku seks bebas terbagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang dipengaruhi oleh kondisi biologis dan psikologis seseorang. Sedangkan faktor eksternal dipengaruhi oleh faktor nilai, budaya, norma, pengaruh masyarakat serta pengalaman-pengalaman yang dirasakan oleh Faktor internal Beberapa alasan dari dalam diri yang mendorong partisipan untuk melakukan perilaku seks bebas sebagai berikut: AuKarena emang ya pasti ada rasa horny ya. Ketika aku lagi berdua sama diakan pasti muncul hasrat seksual itu. Au (S5. AuAku yang juga tidak terlalu religious. Menurutku ini juga faktor pendorong juga sih ya. Ay (S5. AuDengan begitu aku menyadari bahwa ada sesuatu hal yang harus aku lakuin gitu. Misal nih, weekend, nothing to do, enggak ada apa-apa. Aku akan berusaha mencari kegiatan dan ternyata itu. Ay (S4. AuTerus karena dia bilangnya. Aokalau kamu sayang sama aku ya kamu harusnya mau dong sama aku. Percaya sama aku. Ao. bilangnya kaya gitu. Nah, karena aku tu bucin bangetkan mbak orangnya, bucin Aku kan sayang banget sama dia. Ay (S6. Faktor internal diantaranya adalah kebutuhan biologis dan munculnya hasrat seksual menjadi faktor utama seluruh partisipan melakukan perilaku seks bebas. Selain itu, kurang merasa dekat dengan Pemaknaan Perilaku Seks Bebas oleh Dewasa Muda yang Belum Menikah . Ajeng Pradipta Fitriana Tuhan, memiliki waktu luang karena tidak adanya kegiatan lain yang dilakukan dan sebagai cara untuk menunjukkan rasa kasih sayang yang besar kepada pasangan menjadi faktor pendorong dalam diri partisipan untuk melakukan perilaku seks bebas. Faktor eksternal Beberapa alasan dari luar diri yang mendorong partisipan untuk melakukan perilaku seks bebas sebagai berikut: Kurangnya pengawasan orang tua Kurangnya pengawasan yang diberikan orang tua terutama bagaimana kebiasaan partisipan saat berpacaran membuat mereka bebas melakukan tindakan apapun. AuA. Semua-mua aku sama pacarku. Jadi waktu itu orang tua tu perhatiannya ke aku tu kendor banget sih, kaya enggak di pantau gimana pertemanan, gimana aku pacaran itu enggak Ay (S6. Perilaku seks sebelumnya Perilaku seks yang sebelumnya sudah biasa dilakukan mengarahkan partisipan untuk mencoba melakukan hubungan seksual. AuPertamanya enggak langsung gitukan, pertamanya ya pegangan tangan dulu. Terus baru ngajakin pelukan, terus Nah lama-lama setelah dia minta ciuman itu terus dia baru bilang mau minta berhubungan seksual gitu. Ay (S6. Pengaruh orang lain Pengaruh keluarga dan teman dekat yang melakukan perilaku seks bebas membentuk pandangan baru bagi partisipan mengenai perilaku seks Ditambah dengan pengaruh film dan cerita dewasa membuat para partisipan penasaran untuk melakukan perilaku yang sama. AuKeluarga saya apalagi anak-anaknya pakde saya terutama yang cowok emang korban seks bebas mbak. Kaya hamil duluan sama pacarnya, kaya gitu Ay (S3. AuAda bacaan dewasakan, temen-temen pada baca itu. Terus aku diajarin. Terus akukan jadi tertarikkan, terus bacanya kan yang dewasa-dewasa gitukan. Terus normal dong kitanya jadi pengen Ay (S6. Dinamika pengambilan keputusan untuk melakukan perilaku seks bebas Dinamika dewasa muda saat mengambil keputusan untuk pertama kali melakukan perilaku seks bebas diawali dari pikiran kemudian mengarahkan kepada tindakan melakukan seks, upaya dalam mencegah kehamilan serta dampak yang dirasakan oleh partisipan setelah mencoba melakukan perilaku seks bebas. Pola pikir sebelum melakukan perilaku seks bebas Partisipan menganggap bahwa tidak masalah melakukan perilaku seksual diluar ikatan pernikahan. Pemikiran ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang telah disebutkan sebelumnya. AuA. Nah mungkin itu juga kali ya, aku jadi mikir oh berarti m seksual diluar nikah itu its okay gitu. Berarti sejak SMA aku udah mikir seksual diluar nikah itu enggak apaapa asalkan kita saling suka, suka sama suka gitu. Itu merubah pandanganku. Ay (S6. Tindakan untuk melakukan perilaku seks Keseluruhan partisipan mengatakan mereka sudah terbiasa menghabiskan waktu berdua didalam ruangan tertutup Jurnal Psikologi. Volume 19 Nomor 1. Juni 2023 dengan melakukan beberapa hal seperti berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, cuddling hingga akhirnya melakukan hubungan seksual baik di rumah, di kos, di mobil ataupun menyewa AuDeket, kita sering bareng, sering nginep Dari situkan ya mulai kissing, pelukan, akhirnya ngelakuin itu. Au (S5. Cara mencegah kehamilan Terdapat tiga cara yang dilakukan para partisipan untuk mencegah kehamilan seperti menggunakan alat kontrasepsi, mengeluarkan sperma diluar dan menggunakan perhitungan periode AuEnggak sama sekali sih. Alasan tidak menggunakan karena memang ngerasa enggak perlu. Memang nggak buang sperma di dalam, jadi mungkin itu cara untuk menghindari kehamilan. Ay (S4. Dampak yang dirasakan setelah melakukan perilaku seks bebas Dampak yang dirasakan oleh partisipan setelah melakukan perilaku seks bebas adalah keseluruhan mengatakan bahwa mereka merasa ketagihan untuk melakukan perilaku yang sama. AuAda sih, sebenernya tu bikin ketagihan jadi kaya pengen melakukan hubungan seksual, jadi kecanduan sih. Ay (S6. Faktor pendorong untuk berhenti melakukan perilaku seks bebas Beberapa partisipan mengatakan bahwa mereka berkomitmen untuk berhenti atau pun berusaha mengurangi melakukan perilaku seks bebas dengan beberapa alasan sebagai berikut: Usia Usia dan pemikiran yang semakin dewasa membuat para partisipan tidak hanya memikirkan mengenai hubungan seks, melainkan mereka mulai memikirkan untuk membangun hubungan yang lebih serius. AuPertama umur karena udah mulai kena half-time crisis ya udah enggak bisa mikir hal sependek seks gitu aja A. Ay (S2. Takut tertular penyakit Alasan selanjutnya para partisipan mencoba untuk berhenti melakukan perilaku seks bebas adalah mereka takut jika mereka tertular penyakit seksual karena bergonta-ganti pasangan saat melakukan hubungan AuDan yang kedua karena penyakit jugakan, bahayakan. Kalau sering gonta-ganti partner kan ngeri. Walaupun aku juga pernah sekali cek gitu. Tapi aku juga enggak mau semakin memperlebar risikonya. Ay (S5. Anak Partisipan 4 berusaha untuk berhenti melakukan perilaku seks bebas karena mencoba untuk menjadi ibu yang baik sehingga dapat dicontoh oleh anaknya di kemudian hari. Au. sekarang juga udah punya anak Jadi berpikirnya bahwa aku harus menjadi versi yang lebih baik gitu sih. Maksudnya aku akan membesarkan orang dengan cara yang baik gituAAy (S4. Faktor lainnya Dan terdapat beberapa alasan lain yang menjadi alasan para partisipan mencoba untuk berhenti melakukan perilaku seks bebas seperti orang tua, merasa jenuh, ingin mendapat hidayah serta perasaan bersalah baik kepada diri sendiri, keluarga maupun kepada Tuhan. Pemaknaan Perilaku Seks Bebas oleh Dewasa Muda yang Belum Menikah . Ajeng Pradipta Fitriana Pemaknaan perilaku seks bebas P e r a s a a n y a n g d i r a s a k a n s e t e l a h melakukan perilaku seks bebas Dua perasaan yang muncul dari seluruh partisipan setelah mereka melakukan perilaku seks bebas untuk pertama kali adalah ada yang merasa menyesal dan merasa kotor, namun ada juga yang merasa biasa saja, tidak menyesal ataupun tidak merasa takut. AuPerasaannya ya biasa si dalam artian karena kebutuhannya juga terpenuhi ya terus kalau dari saya sendiri juga tidak ada rasa ketakutan sih. Ay (S1. AuWaktu pertama abis melakukan, perasaanku tu campur aduk ya. Kaya merasa bersalah, tiba-tiba aku merasa duh aku kotor banget ya jadi cewe. Aku nangis, abis yang pertama itu aku nangis mbakA. Ay (S6. Penilaian terhadap perilaku seks bebas yang dilakukan Lima dari enam partisipan menilai bahwa perilaku seks bebas yang mereka lakukan merupakan hal yang wajar. Sedangkan partisipan 4 menganggap bahwa perilaku yang ia lakukan dosa dan tidak sesuai dengan kebudayaan di Indonesia. AuHeem heem wajar sih. Ya wajar hari Ya sebenernya enggak wajar sih, tapi mau gimana pun udah banyak yang melakukan gitukan. Ya walaupun di agama apapun enggak dibenarkan ya, tapi ya bagi orang-orang yang bandel begini ya Ay (S6. Pembahasan Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami lebih mendalam mengenai pengalaman, perasaan serta pemaknaan yang dirasakan oleh dewasa muda yang belum menikah berkaitan dengan perilaku seks bebas yang mereka lakukan. Berdasarkan alasan serta dinamika pengambilan keputusan dewasa muda yang belum menikah untuk melakukan perilaku seks bebas. Faktor internal yang muncul seperti kebutuhan biologis munculnya hasrat seksual dan meningginya libido, rasa penasaran anak muda mengenai bagaimana rasa melakukan hubungan seksual mendorong partisipan untuk melakukan perilaku seks Ditambah dengan beberapa partisipan telah terbiasa untuk menginap bersama lawan jenis serta melakukan perilaku seks sebelumnya seperti berpegangan tangan, berpelukan, berciuman baik di pipi atau di bibir, cuddling hingga masturbasi membuat partisipan semakin penasaran untuk mencoba melakukan hubungan seksual. Pemikiran terbuka mengenai isu seksual serta keperawanan menjadi faktor internal lain yang mendorong partisipan untuk melakukan perilaku seks bebas. Seperti yang dikatakan oleh partisipan 5 yang menganggap bahwa dirinya merupakan orang yang memiliki pandangan terbuka mengenai seksualitas serta tidak memandang keperawanan menjadi hal sakral bagi seorang perempuan. Selain itu, beberapa partisipan merasa kurang taat dalam menjalankan ibadah terutama ibadah wajib ataupun merasa kurang memahami ilmu agama sehingga hal ini membuat mereka melakukan perilaku seks bebas. Seluruh partisipan memiliki keinginan untuk melakukan apa yang diinginkan pasangan dari mereka. Hal ini menurut Baron & Branscombe . disebut dengan kebutuhan afiliasi yaitu kebutuhan dasar mencari dan mempertahankan hubungan interpersonal dengan orang lain. Seseorang dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi cenderung untuk membuat situasi afeksi yang menyenangkan agar mendapatkan penerimaan serta pujian dari orang lain (Satria et al. , 2. Kesamaan dari partisipan perempuan maupun laki-laki adalah adanya keinginan dari pasangan mereka untuk melakukan hubungan seksual pranikah sehingga para partisipan yakin untuk melakukan perilaku seks bebas. Jurnal Psikologi. Volume 19 Nomor 1. Juni 2023 Kurangnya pendidikan seks yang didapatkan partisipan dari orang tua menjadi faktor pendorong lainnya. Tiga dari enam partisipan menganggap bahwa isu seksual merupakan hal yang tabu dibicarakan dalam keluarga sehingga orang tua tidak pernah memberikan penjelasan mengenai hal Keluarga yang masih menganggap tabu untuk membicarakan mengenai isu seksual serta tidak adanya Pendidikan seks dari kedua orang tua secara lengkap akan mendorong seorang anak untuk mencari tahu secara mandiri mengenai isu seksual guna memenuhi rasa penasaran yang dimiliki. Hal ini menyebabkan anak akan memiliki pengertian yang berbeda dari poin yang sebenarnya dimaksud dalam suatu informasi karena tidak adanya pendampingan orang tua ketika anak menerima mengenai informasi tersebut. Hal ini menurut penelitian Vashistha dan Rajshree . karena anak yang tidak didampingi oleh orang tuanya ketika mendapatkan informasi mengenai seksual cenderung akan membuat simpulan yang tidak akurat karena anak membuat kesimpulan berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki, dimana pengetahuan tersebut belum tentu merupakan pengetahuan yang benar. Kurangnya rasa kasih sayang yang didapatkan partisipan dari orang tua menyebabkan mereka berusaha mencari cara untuk memenuhi rasa kebutuhan akan kasih sayang tersebut, salah satu cara adalah dengan mendapatkan kasih sayang dari Dan bentuk pengekspresian kasih sayang yang mereka lakukan adalah dengan melakukan hubungan seksual. Melakukan hubungan seksual merupakan cara yang dilakukan individu terutama perempuan untuk membentuk hubungan emosional secara mendalam dengan pasangannya (Brousseau et al. , 2. Hubungan anak dan orang tua yang meliputi kehangatan yang diberikan orang tua, pola pengasuhan orang tua dan kedisiplinan yang diterapkan menurut penelitian yang dilakukan oleh (Moussa, 2. berpengaruh kepada perilaku berisiko dan penggunaan obat-obatan terlarang yang dilakukan oleh Pada penelitian ini tipe pengasuhan orang tua cukup mempengaruhi bagaimana partisipan memutuskan untuk melakukan Pengasuhan orang tua merupakan interaksi antara anak dengan orang tua dengan cara mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan normanorma yang ada dalam masyarakat. Dalam penelitian ini terdapat satu partisipan yang mendapatkan kekerasan oleh orang tua dan sejak masuk di bangku SMA ia telah hidup sendiri sehingga tidak terlalu dekat dengan orang tua. Selain itu, tiga dari enam partisipan memiliki orang tua yang menerapkan pola asuh permisif dimana anak sangat dibebaskan dalam mengambil Namun, dua partisipan lain mendapatkan pengawasan yang sangat ketat cenderung mengekang kegiatan sehingga partisipan merasa sangat tidak nyaman dengan larangan yang diberikan oleh orangtua. Penelitian yang dilakukan oleh (Moussa, 2. yang meneliti hubungan antara kehangatan orang tua, tipe pengasuhan permisif dan kedisiplinan dengan penggunaan obat-obatan terlarang dan perilaku seksual berisiko pada remaja menunjukkan hasil yang signifikan. Dimana orang tua yang terlalu mengontrol atau yang sama sekali tidak mengontrol dan membiarkan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anaknya, membuat remaja akan semakin mungkin untuk melakukan perilaku seksual berisiko ataupun menggunakan obatobatan terlarang. Pengekangan yang dilakukan membuat partisipan melakukan perilaku seks bebas sebagai upaya perlawanan dan pengekspresian rasa muak yang dirasakan terhadap cara orang tua memperlakukan mereka. Sedangkan orang tua partisipan yang memberikan kebebasan penuh memunculkan pemikiran pada partisipan bahwa mereka dapat melakukan apapun yang mereka inginkan asalkan bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Walaupun menurut Pemaknaan Perilaku Seks Bebas oleh Dewasa Muda yang Belum Menikah . Ajeng Pradipta Fitriana Ugoji & Ebenuwa-Okoh . anak dengan tipe pengasuhan orang tua permisif biasanya bergantung kepada orang lain dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah sehingga mereka lebih mudah untuk terbawa pengaruh lingkungan sekitar. Kurangnya pengawasan dari orang tua baik saat para partisipan kuliah di luar kota atau saat orang tua sibuk menyebabkan seluruh partisipan mudah untuk melakukan perilaku yang sebelumnya sulit untuk dilakukan ketika berada di rumah. Hal ini dimanfaatkan seluruh partisipan untuk membuat celah dalam melakukan perilaku seks bebas. Kontrol yang kurang oleh orang tua kepada anak yang tinggal jauh dengan mereka ditambah dengan kurangnya pengawasan dari sekitar membuat individu berani memutuskan melakukan sesuatu tanpa didasari oleh pemikiran yang matang sebelumnya (Yudia et al. , 2. Selain itu, kesempatan lain yang dimanfaatkan para partisipan dalam melakukan perilaku seks bebas antara lain suasana yang mendukung . eperti tidak adanya orang disekitar baik pengawasan orang tua maupun orang-orang di kos, terpengaruh minuman beralkohol, suasana yang dingi. Selain itu, salah satu partisipan mengatakan adanya kepercayaan yang diberikan oleh orang tua yang menganggap dirinya tidak akan melakukan hal negatif dengan pacar saat berada berdua di dalam rumah memberi kesempatan mereka untuk melakukan hubungan seksual. Hal ini menurut Paikoff . disebut dengan situations of sexual possibility yaitu karena rendahnya kontrol orang disekitar dan monitor dari orang tua terhadap perilaku anak membuat anak dapat menciptakan situasi yang memungkinkan untuk melakukan perilaku seksual. Para partisipan mengatakan bahwa teman memberikan pengaruh cukup besar pada pola pikir dan keputusan mereka untuk melakukan perilaku seks bebas. Bahkan salah satu partisipan mengatakan bahwa saat duduk di bangku SMA, banyak teman yang sering menceritakan mengenai pengalaman seks pribadinya ataupun menceritakan pengalaman seks teman satu kelas mereka kepada partisipan. Hal ini membuat partisipan akhirnya memiliki pandangan bahwa perilaku seks bebas memang wajar dilakukan oleh orang seusianya. Hasil penelitian oleh Arifain et al. teman menjadi faktor pendorong individu untuk melakukan perilaku seks bebas karena individu akan mengikuti perilaku yang dilakukan temannya walaupun perilaku tersebut belum pernah mereka lakukan. Hal ini semata-mata agar individu tidak merasa ketinggalan zaman dan tertinggal dari apa yang dilakukan temannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak partisipan mengatakan bahwa melihat konten dewasa baik dari film dan cerita dewasa memunculkan hasrat untuk mencoba melakukan perilaku yang sama. Selain itu dua dari partisipan mengatakan bahwa mereka telah ketagihan untuk melihat film dewasa. Tidak jarang mereka mencari kepuasan dengan melakukan masturbasi saat menonton film dewasa tersebut. Pengaruh konten dewasa menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Yudia et al. memberikan pengaruh yang besar kepada individu untuk mendapatkan informasi mengenai perilaku seksual sehingga individu mencoba untuk meniru dan mencoba perilaku yang mereka lihat. Seluruh partisipan mengatakan bahwa munculnya ketertarikan secara fisik akan menimbulkan ketergugahan seksual mereka. Hal ini menyebabkan para partisipan memiliki keinginan untuk melakukan hubungan seksual dengan orang tersebut. Seperti yang dikatakan partisipan 5 bahwa dirinya hanya akan tergugah secara seksual apabila ia menilai sang partner atraktif di matanya. Di dalam Islam dikatakan bahwa pandangan merupakan pintu masuk dari munculnya syahwat dalam diri seseorang dan dapat merusak hatinya seperti yang tertulis dalam QS. An-Nur: 3031. Dalam surah ini Allah memerintahkan kaum muslimin hendaknya untuk menundukan pandangan agar membantu mereka dalam menjaga kesucian serta kemaluan mereka. Hal Jurnal Psikologi. Volume 19 Nomor 1. Juni 2023 ini juga dibuktikan dari penelitian sebelumnya bahwa ketertarikan kepada pasangan secara fisik dan biologis menimbulkan rangsangan seksual yang kuat terhadap individu dan terdapat beberapa preferensi perilaku seksual seperti kontak fisik, berciuman, necking, petting, seks oral dan puncak dari preferensi seksual tersebuat adalah sexual intercouse (Setiyaningrum, 2. Jika dituliskan secara runtut pemikiran untuk melakukan perilaku seks bebas yang dilakukan oleh seluruh partisipan penelitian diawali dari pemikiran bahwa hasrat seksual merupakan kebutuhan dalam diri yang penting untuk dipenuhi. Ditambah dengan adanya pengamatan terhadap lingkungan di sekitar seperti perilaku keluarga dan teman yang melakukan hubungan seksual pranikah menghasilkan pandangan baru bagaimana diri memandang mengenai perilaku seks bebas. Walaupun muncul pertentangan mengenai perilaku seks bebas dimana perilaku seks bebas tidak diperbolehkan baik dari sisi agama apapun maupun budaya di Indonesia. Namun munculnya pandangan baru serta merasa diri sudah dewasa sehingga pantas memilih pilihan hidupnya dan siap bertanggung jawab atas segala konsekuensi membuat tidak muncul keraguan dalam melakukan apa yang dirasa benar dan apa yang dipercayai. Hal ini memunculkan pengabaian terhadap apa yang dipikirkan oleh orang lain dan menganggap bahwa hal ini merupakan urusan privasi diri dengan Tuhan dan pasangan. Pemikiran seluruh partisipan bahwa dengan berpacaran dan lalai melakukan ibadah wajib sudah melakukan dosa, maka tidak akan menjadi masalah bagi mereka untuk melakukan dosa lainnya yaitu dengan melakukan perilaku seks bebas. Hal ini jika dilihat dari sudut pandang Islam pernah disinggung oleh Syekh Nawawi Al-Bantani yang dalam kitab Nashaihul Ibad pernah menuliskan. AuJanganlah kalian meremehkan dosa-dosa kecil . angan menghitungnya sebagai dosa keci. , sebab dosa-dosa kecil itu dapat memunculkan beragam dosa besar . an juga kerap kali terdapat murka Allah dalam dosa kecil it. Ay. Pemenuhan kebutuhan dengan cara melakukan hubungan seksual yang dilakukan partisipan dalam penelitian ini biasanya dilakukan dengan pacar maupun dengan teman kencan semalam. Saat melakukan perilaku seks bebas dengan teman semalam biasanya tidak akan melibatkan perasaan satu sama lain dan hanya murni untuk pemenuhan kebutuhan fisik. Hal ini menurut Setiyaningrum . dikarenakan kesulitan individu dalam mengendalikan diri membuat pacaran tidak hanya sebagai pelengkap nuansa psiko-sosial, melainkan pada dewasa ini pula berpacaran dilakukan sebagai pelengkap kebutuhan Sehingga, banyak dari orang yang berpacaran melakukan penyimpangan perilaku seksual untuk penyaluran hasrat seksual agar mendapatkan kepuasan seksual. Selain itu, ketika partisipan penelitian ini merasa tidak puas dengan pasangannya, biasanya mereka akan melakukan masturbasi dengan menonton video dewasa untuk memuaskan diri mereka. Pada penelitian ini didapatkan pola yang sama dari keseluruhan partisipan yaitu langkah pertama adalah melakukan pendekatan baik melalui pesan singkat ataupun bertemu secara Dari sini biasanya telah dilontarkan pula candaan yang sarat akan muatan Jika mendapatkan sinyal positif maka akan dilanjutkan ke tahap kedua yaitu mulai melakukan kontak fisik seperti berpegangan tangan, berpelukan, berciuman hingga adanya rangsangan yang diberikan oleh pasangan yang pada akhirnya memunculkan keinginan untuk melakukan perilaku yang lebih jauh. Dan tahapan terakhir adalah melakukan hubungan Menurut para partisipan tahapan melakukan hubungan seksual lebih mudah dilakukan ketika dirinya dan pasangannya menghabiskan waktu berdua terutama di dalam kamar dengan keadaan rumah yang kosong ataupun tempat kos yang bebas dan tidak dijaga. Dalam HR. Al-Bukhari Pemaknaan Perilaku Seks Bebas oleh Dewasa Muda yang Belum Menikah . Ajeng Pradipta Fitriana sebenarnya Nabi Shallallahu alaihi wassalam pernah bersabda. AuJanganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, kecuali kehadiran laki-laki yang merupakan mahram . erempuan tersebu. Ay. Dari hadits Riwayat ini dapat dipahami bahwa sebenarnya Allah telah mencoba mengatur umatnya agar terhindar dari melakukan perilaku maksiat dengan cara melarang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berkumpul terutama dalam ruangan tertutup tanpa adanya laki-laki yang merupakan mahram dari perempuan. Hadits lainnya yang mengungkapkan hal serupa ialah HR At-Tirmidzi yang berbunyi. AuTidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiga dari mereka adalah syetanAy. Pengalaman partisipan ketika menghabiskan waktu di dalam kamar hanya berdua dengan lawan jenis membuat mereka lebih mudah khilaf sehingga akan terdorong untuk melakukan perilaku seks baik itu berpelukan, berciuman, cuddling hingga melakukan hubungan seksual karena partisipan merasa tidak ada orang lain yang dapat menghentikan perbuatannya. Dalam penelitian ini terdapat tiga cara yang dilakukan seluruh partisipan untuk mencegah kehamilan. Cara penggunaan pencegah kehamilan juga berbeda-beda untuk setiap partisipan. Untuk penggunaan alat pengaman berupa kondom dipergunakan ketika partisipan melakukan perilaku seks bebas dengan teman kencan semalam, yang tidak melibatkan perasaan dan hanya melakukan perilaku seks tersebut untuk bersenangsenang. Alasan lebih lanjut penggunaan kondom adalah usaha pencegahan tertularnya penyakit menular seksual. Untuk cara kedua yaitu mengeluarkan sperma diluar vagina yang biasanya dilakukan ketika melakukan hubungan seksual dengan kekasih. Cara ketiga adalah menggunakan perhitungan kalender. Ketika memutuskan untuk tidak menggunakan kondom dan mengeluarkan sperma didalam, maka cara yang akan dilakukan partisipan adalah dengan menghitung mengenai masa subur pasangannya. Di dalam Islam terdapat larangan melakukan perbuatan zina yaitu pada QS Al-Isra: 32. Seluruh partisipan sebenarnya mengetahui bahwa perilaku seks bebas yang mereka lakukan dilarang dan dianggap dosa dalam agama baik agama yang mereka anut maupun agama yang ada di Indonesia. Walaupun telah memahami bahwa perilaku ini merupakan perilaku yang tidak diperbolehkan baik dari segi agama maupun budaya, para partisipan memiliki pemikiran tersendiri mengenai bagaimana cara untuk memaknai perilaku seks bebas yang dilakukan. Partisipan laki-laki memaknai perilaku seks bebas sebagai sebuah pelampiasan kebutuhan biologis sedangkan dua dari tiga partisipan perempuan memaknai perilaku seks bebas sebagai sebuah upaya untuk mempererat hubungan dengan pasangan. Terdapat dua jenis perasaan yang muncul dari partisipan dalam penelitian ini. Yang pertama adalah perasaan bersalah terhadap diri sendiri, kepada keluarga, kepada pasangannya dan kepada Tuhan. Perasaan bersalah kepada diri sendiri memunculkan perasaan lain yaitu perasaan bahwa dirinya sudah kotor dan perasaan takut bagaimana jika pacarnya tidak menjadi suaminya Perasaan bersalah kepada keluarga muncul karena merasa telah mengecewakan kepercayaan yang diberikan keluarga. Perasaan bersalah kepada pasangan dirasakan salah satu partisipan laki-laki yang menganggap dirinya sudah merusak seorang perempuan yang dijaga keluarganya. Dan perasaan bersalah kepada Tuhan dirasakan partisipan yang menganggap perilaku yang ia lakukan merupakan dosa dan dilarang oleh agama, namun ia telah melanggar larangan Hasil serupa pernah di dapatkan oleh Syarif . alam Mulyawati & Sukmasari, 2. yang menyatakan bahwa secara psikologis melakukan perilaku seks bebas dapat membuat seseorang merasa kehilangan harga diri, perasaan takut dikucilkan oleh sekitar, munculnya rasa dosa dan perasaan takut terjadi kehamilan yang tidak direncanakan. Jurnal Psikologi. Volume 19 Nomor 1. Juni 2023 Perasaan kedua yang muncul dari beberapa partisipan adalah perasaan tidak bersalah, tidak takut dan perasaan tidak Perasaan ini muncul karena anggapan bahwa perilaku seks bebas dengan pasangan adalah murni atas keinginan bersama dan terdapat konsen kedua belah pihak sehingga tidak menimbulkan perasaan bersalah baik kepada diri sendiri maupun terhadap pasangan. Sebelum melakukan perilaku seks penetrasi kepada pasangan, partisipan selalu melakukan penegasan bahwa apapun yang terjadi tidak akan ada yang bertanggung jawab dengan risiko yang mungkin muncul atas satu sama lain. Kesepakatan inilah yang memunculkan rasa tidak bersalah setelah melakukan perilaku seks Keyakinan diri melakukan perilaku seks bebas dengan cara yang bersih menimbulkan perasaan tidak takut. Dan perasaan tidak menyesal muncul karena memiliki pikiran terbuka mengenai tidak ada salahnya jika melakukan perilaku seks sebelum ia menikah. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Diniaty . jika salah satu pihak tidak memberikan peluang untuk pasangannya melakukan perilaku-perilaku yang mengarah pada perilaku seks bebas, maka tidak niat untuk melakukan perilaku tersebut pun tidak akan terlaksana. Dalam penelitian ini tidak ada yang menormalisasi perilaku seks bebas, namun karena perilaku seks bebas ini sudah dilakukan oleh banyak orang lalu mengubah penilain pribadi partisipan dalam memandang perilaku seks bebas. Yaitu pemikiran bahwa perilaku seks bebas merupakan hal yang biasa dilakukan dan tidak ada salahnya jika melakukan hal serupa. Perilaku seks bebas ini wajar dilakukan oleh siapapun karena pemikiran bahwa perilaku seks bebas sebagai salah satu bentuk pengekspresian hasrat biologis yang dirasakan dalam diri dan sudah dirancang oleh Tuhan untuk dipenuhi. Apabila kebutuhan biologis ini tidak terpenuhi maka akan mengganggu kebutuhan-kebutuhan diri Di era sekarang ini dimana semua orang mudah untuk mengakses hal-hal yang terjadi diluar sana membuat anak sekolah pun sudah bisa memahami mengenai perilaku seks bebas. Walaupun muncul kesepakatan bahwa tidak seharusnya anak dibawah umur sudah melakukan perilaku seks bebas, karena mereka belum memahami mengenai konsen dan bahaya melakukan perilaku seks bebas. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa perilaku seks bebas sudah banyak dilakukan bahkan di dalam lingkungan terdekat banyak partisipan. Hasil serupa pernah didapatkan oleh Christy dan Sudarji . yang dalam penelitian mereka partisipan menganggap perilaku seks yang dilakukan merupakan hal wajar dilakukan bahkan sebelum menikah karena perilaku tersebut merupakan wujud puncak cinta mereka. Hal ini tidak terlepas dari peranan globalisasi yang mempengaruhi pola pikir partisipan. Pada penelitian ini satu dari enam partisipan tidak membenarkan dan tidak mewajarkan perilaku seks bebas dilakukan oleh orang lain. Penilaian ini muncul atas dasar pemikiran bahwa perilaku seks bebas yang dilakukan sesuai dengan ajaran dan sudah seharusnya orang lain menjalankan norma kebudayaan dan norma agama yang telah ada. Karena batasan yang diberikan dalam norma-norma tersebut sudah tepat dan dimaksudkan untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dampak yang paling terasa setelah aktif melakukan perilaku seks adalah seluruh partisipan menjadi ketagihan untuk melakukan perilaku yang sama yaitu dengan melakukan perilaku seks baik melakukan hubungan seksual ataupun melakukan masturbasi. Mereka melakukan hubungan seksual baik dengan kekasih, teman ataupun teman kencan semalam. Menurut Rahadi & Indarjo . perasaan ketagihan untuk melakukan hubungan seks menyebabkan individu akan terus melakukan perilaku seks bebas dengan pacarnya dan atau dengan teman kencan Hal ini karena perilaku seks bebas yang dilakukan berulang membuat individu terbiasa dan menjadikan perilaku tersebut sebagai sebuah kebutuhan. Pemaknaan Perilaku Seks Bebas oleh Dewasa Muda yang Belum Menikah . Ajeng Pradipta Fitriana Beberapa partisipan mulai mencoba untuk mengurangi ataupun berhenti melakukan perilaku seks bebas. Hal ini didorong oleh beberapa alasan seperti semakin bertambahnya usia menghasilkan pola pikir yang lebih dewasa dimana muncul pemikiran bahwa hidup bukan hanya untuk melakukan seks dan berfokus untuk mendapatkan hubungan yang serius dan berkomitmen. Pikiran ini memunculkan upaya seperti mencoba membatasi untuk bertemu dengan teman yang memberi pengaruh negatif ataupun mencoba untuk berhenti mendatangi klub malam. Alasan selanjutnya adalah takut tertular penyakit seksual karena seringnya berganti pasangan saat berhubungan seksual. Dengan bergonta-ganti pasangan yang tidak diketahui apaka terbebas dari penyakit seksual atau tidak sehingga hal ini menimbulkan kesadaran bahwa melakukan perilaku seks bebas memperbesar kemungkinan seseorang dapat tertular penyakit seksual. Dan yang terakhir adalah pemahaman bahwa perilaku seks bebas yang dilakukan adalah dosa. Sehingga memunculkan keinginan untuk mendapatkan hidayah agar bisa benar-benar berhenti melakukan perilaku seks bebas. Dalam penelitian ini terdapat keterbatasan yakni wawancara dilakukan dalam jaringan sehingga tidak dapat mengamati perilaku serta ekspresi partisipan. Saran pertama diberikan untuk peneliti selanjutnya untuk bisa melakukan wawancara di luar jaringan sehingga dapat sekaligus melakukan observasi kepada partisipan dan dapat menggunakan kriteria berbeda seperti perilaku seks bebas pada partisipan yang telah menikah. Saran selanjutnya bagi orang tua diharapkan dapat melakukan fungsi pengawasan dan Pendidikan dengan cara yang tepat yaitu tidak terlalu mengekang ataupun terlalu membebaskan anak dan mendampingi anak saat mengolah informasi mengenai isu seksual. Dan dewasa muda untuk lebih bijaksana dalam mengolah informasi yang didapatkan dan dalam mencari Kesimpulan Perilaku seks bebas sebagai salah satu reaksi partisipan terhadap orang tua dengan tipe pengasuhan yang mengekang ataupun tipe pengasuhan yang membebaskan. Ketidakkonsistenan penggunaan alat kontrasepsi terutama kondom saat partisipan melakukan perilaku seks bebas dengan alasan merasa tidak memerlukannya perlu menjadi perhatian lebih untuk mencegah penyebaran penyakit menular seksual. Sebenarnya terdapat banyak faktor baik internal maupun eksternal yang membuat partisipan melakukan perilaku seks bebas. Kurangnya pengetahuan mengenai isu seksual dan kurangnya pengawasan yang diberikan oleh orang tua membuat partisipan mencoba untuk mencari informasi mengenai seksual secara mandiri sehingga menyebabkan partisipan membuat kesimpulan informasi berdasarkan keterbatasan pengetahuan yang mereka miliki. Hal ini berdampak pada partisipan yang mulai memiliki pandangan terbuka mengenai perilaku seksual dan membuat mereka penasaran untuk mencoba melakukan perilaku seks seperti apa yang mereka lihat baik dari media sosial ataupun perilaku orang di sekeliling mereka. Walaupun demikian partisipan berusaha untuk berhenti melakukan perilaku seks bebas dan berharap mendapatkan hidayah. Daftar Pustaka