EGALITARIANISME: ANALISIS WACANA FILM BARBIE THE MOVIE DAN KETERKAITANNYA TERHADAP FEMINISMEMASKUNILISME TOXIC Warniar Nurdin Universitas Negeri Makassar (UNM). Makassar. Indonesia Email: wziyan83@gmail. Gustia Evyanasari Indah Universitas Negeri Makassar (UNM). Makassar. Indonesia Email: gustiaevyanasari@gmail. Arini Junaeny3 Universitas Negeri Makassar (UNM). Makassar. Indonesia Email: arinijunaeny@unm. ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis wacana film AuBarbie the MovieAy dan keterkaitannya dengan konsep egalitarianisme serta pengaruhnya terhadap feminisme dan maskunilisme toxic. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan analisis wacana kritis Fairclough untuk mengkaji struktur teks, narasi, dialog dan pesan dalam film AuBarbie the MovieAy. Data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk deskriptif yang menggambarkan adegan- adegan dan dialog dalam film yang mencerminkan konsep egalitarianisme, feminisme, maskunilisme dan maskunilisme toxic. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam film AuBarbie the MovieAy mengandung elemen egalitarianisme melalui representasi kesetaraan gender di berbagai adegan, seperti penggambaran kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Selain itu film ini tidak hanya mengeksplorasi tentang perjuangan kesetaraan gender melalui karakter Barbie, tetapi juga menggambarkan dinamika kompleks antara feminisme dan maskunilisme toxic. Kata Kunci: Egalitarianisme. Feminisme. Maskunilisme PENDAHULUAN Salah satu industri yang kini menjadi bagian dalam media massa dalam komunikasi ialah industri film. Industri film ini juga dapat dikatakan sebagai sebuah produk budaya yang cukup terbilang Hal ini disebabkan film dapat menjadi pemegang peran penting yang dapat membangun suatu realitas media yang cukup beragam. Realitas media sendiri merupakan karakter tertentu yang di dalamnya terdapat isi yang mewakili produk tertentu dari suatu media tersebut (Bungin, 2007 dalam Suwarti, 2. Film 50 | P a g e kini menjadi sebuah media baru yang biasa digunakan oleh para sutradara dalam menyampaikan sebuah pesan bagi para Dimasa kini, media film dapat dan mudah dalam mengangkat suatu fenomena yang selalu ada di tengahtengah masyarakat (Effendy, 2. Film sendiri memiliki banyak genre seperti halnya horor, komedian, animasi, documenter, thriller, romansa ataupun Baru-baru ini, terdapat sebuah film yang menggemparkan seluruh dunia. Film tersebut berjudul AuBarbie the Movie Live ActionAy. Mendengar atau membaca kata Barbie saja kita dapat mengetahui inilah yang menjadi penyebab mengapa film ini menjadi sorotan mancanegara. Film yang tayang pada 19 Juli 2023 ini diperankan oleh Margot Robbie dan Ryan Gosling cukup menyita perhatian dari banyak masyarakat terkhusus pada kaum perempuan di semua kalangan umur. Film yang menceritakan tentang bagaimana petualangan Margot Robbie atau Barbie mencoba untuk kembali tampil sempurna. Hal menariknya, film ini tidak mewakili kartun-kartun Barbie yang biasa kita nonton, melainkan pada film Barbie the Movie Live Action ini lebih menguak dan memasukkan beberapa isu sosial yang cukup mendalam di dalamnya. Film ini dapat dikatakan memiliki konflik berat, namun penyajiannya diberikan nuasa berwarna merah muda sehingga dapat menyegarkan dan membuat bahagia Mencapai sebuah kesetaraan sosial telah menjadi tujuan yang diinginkan serta dimimpikan oleh setiap individu dalam upaya menciptakan kondisi masyarakat yang bersifat adil dan juga menyeluruh. Konsep atau prinsip kesetaraan ini bukan hanya dilihat melalui cakupannya terhadap hal-hal ataupun perlakuan, namun juga memuat adanya kesetaraan di dalam hal yang menghendaki penghapusan seluruh bentuk diskriminasi yang di dasarkan atas faktor-faktor seperti jenis kelamin, ras, etnis, agama dan juga orientasi seksual pada setiap individu. Di dalam setiap wacana kesetaraan, ada tiga konsep utama yang menjadi perhatian akan penciptaan adanya kesetaraan tersebut. Adapun tiga konsep tersebut ialah egalitarianisme, feminisme serta maskunilisme. Ketiganya ini termaksud pada kerangka kerja yang berbeda, namun saling berkaitan dalam kesetaraan pada gender dan juga sosial. Egalitarianisme landasan filosofis akan penegasan yang menyatakan bahwa setiap individu mempunyai hak dan juga nilai yang sama dan berhak dalam mendapatkan sebuah perlakuan setara dalam setiap aspek yang ada di dalam kehidupan. Hal ini menjadikan bahwa tidak adanya alasan pada perlakuan yang membedakan pada pemberian hal yang berbeda hanya berdasarkan pada jenis kelamin, ras, etnis ataupun status Sedangkan di sisi lain, feminisme ialah sebuah aksi yang muncul sebagai sebuah gerakan sosial dan politik khusus yang memberikan penekanan akan pentingnya sebuah pemerolehan dan pencapaian kesetaraan gender, yang fokus utamanya dalam perjuangan hak-hak Selain itu, maskunilisme ialah tanggapan yang muncul sebagai suatu respons akan feminisme. Maskunilisme ini sendiri akan sering kali menyoroti akan isuisu yang memberikan pengaruh terhadap kaum laki-laki secara khusus di dalam Hal ini akhirnya mendukung adanya penelitian pada film AuBarbie the Movie Live ActionAy sendiri yang cukup memuat dari tiga konsep tersebut sehingga film ini cocok dijadikan sebagai objek kajian dalam penelitian untuk mencari analisis wacana melalui egalitarianisme dan hubungannya terdapat feminisme-maskunilisme di dalam filmnya. Sebagaimana hasil dari 51 | P a g e pengkajian penelitian terdahulu terdapat beberapa penelitian yang telah mengkaji tentang Dualisme Realitas : Feminisme Barbie the Movie (Studi analisis semiotika film Barbie 2. yang dikaji oleh Syarifuddin . Kesetaraan gender Egalitariasnime dalam narasi film Barbie melalui perspektif konstruktivisme yang dikaji oleh Pohan at al. dan Analysis of Gender Equality in The Film Barbie the Movie yang dikaji oleh Alviyanti . Berdasarkan penelitian terdahulu yang meneliti mengenai film Barbie the Movie yang dimana penelitian sebelumnya lebih cenderung fokus pada representasi kesetaraan gender dan feminisme dalam film Barbie, namun belum ada yang meneliti secara khusus menganalisis hubungan antara egalitarianisme dalam wacana film tersebut dengan konsep feminisme-maskunilisme toxic, dapat dilihat pada judul penelitian AuDualisme Realitas : Feminisme Barbie The Movie . tudi analisis semiotika film Barbie 2. Ay dan AuKesetaraan Gender Egalitarianisme Dalam Film Barbie Melalui Perspektif KonstruktivismeAy yang dimana kedua penelitian tersebut menyoroti representasi kesetaraan gender dan feminisme dalam film Barbie, namun belum mengeksplorasi tentang bagaimana wacana film tersebut dapat mempengaruhi konsep feminismemaskunilisme toxic. Sedangkan pada penelitian dengan judul AuyAnalysisi of Gender Equality in The Film Barbie The MovieAy membahas mengenai bagaimana film Barbie menginspirasi kesetaraan gender, namun di dalam penelitian tersebut belum menyelidiki adanya pesanpesan dalam wacana film yang dapat feminismemaskunilisme toxic. Oleh karena itu, melalui penelitian ini penulis akan mengisi kesenjangan yang ada di penelitian Maka, rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini ialah Egalitarianisme: Analisis Wacana Film Barbie the Movie dan Keterkaitannya Terhadap Feminisme-Maskunilisme Toxic. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui wacana apa saja yang terdapat di dalam scene film Barbie the Movie yang Egalitariasnime terhadap feminisme dan maskunilisme TINJAUAN LITERATUR 1 Egalitarianisme Egalitarianisme pandangan akan pernyataan manusia untuk ditakdirkan memiliki derajat yang sama dengan manusia lainnya. Di dalam pengertian doktrin sendiri, egaliter ini memiliki pernyataan bahwa pada dasar dan hakikatnya manusia sendiri adalah sama dalam status nilai maupun moral secara fundamental (Rawls, 1971. Sen. Egalitarianisme sendiri diambil dari kata egalitarian. Sedangkan pada kata egalitarian berasal dari kata AuegaliterAy yang mana dalam kamus bahasa Indonesia sendiri memiliki makna yaitu kesetaraan atau kesamaan (Anderson, 2. Egalitarian ini sendiri merupakan sebuah istilah untuk memberikan suatu memperlihatkan perilaku serta keyakinan yang dimiliki tentang apa itu sebuah kesetaraan pada derajat manusia (Novita. Kata egalitarian pertama kali dikenal selama peristiwa di Perancis, hal ini terutama dalam permasalahan revolusi Perancis yang dikenal dengan nama Declaration des Droits de IAohomme et du Citoyen (Pernyataan akan hak-hak manusia serta warga negar. Egalitarianisme ialah sebagai suatu landasan filosofis akan penegasan yang menyatakan bahwa setiap individu mempunyai hak dan juga nilai yang sama dan berhak dalam mendapatkan sebuah perlakuan setara dalam setiap aspek yang 52 | P a g e ada di dalam kehidupan, baik itu aspek dalam dimensi agama, politik, ekonomi, sosial maupun budaya (Itman, 2. Hal ini menjadikan bahwa tidak adanya alasan yang membedakan akan perlakuan atau pemberian hal yang berbeda hanya berdasarkan pada jenis kelamin, ras, etnis ataupun status sosial. Egalitarianisme sendiri mungkin berfokus terhadap adanya pendapatan, yang masuk akan gagasan berbagai sistem ekonomi dan politik. Adanya permasalahan dan kekerasan dari faktorfaktor seperti agama, sosial, politik, ekonomi, etnik serta pada aspek budaya. Permasalahan yang muncul dari aspek pemahaman yang memiliki sifat dogmatis secara literal, spekulatif serta adanya pandangan dari perspektif radikal (Novarian, 2. Pada sebuah buku yang berjudul A Theory of Justic terbitan 1971 juga mendefiniskan bahwa egalitarianisme merupakan sebuah prinsip pembagian ketidaksetaraan yang paling besar keuntungannya diperoleh bagi yang tidak diuntungkan (Rawls, 2. Dimana intinya, sebuah keadilan dalam kesetaraan di nilai dari aspek masyarakat yang mana diisi oleh setiap individu yang memiliki kebebasan serta kesempatan yang sama dalam mencapai keuntungan dari adanya sumber daya yang tersedia. 2 Feminisme Istilah feminisme sendiri pertama kali dipergunakan pada zaman literatur barat baru atau lebih tepatnya pada tahun mempertegas akan penuntutan kesetaraan hukum politik seimbang dengan laki- laki (Eri, 2010 dalam Zahrania, 2. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah feminisme sendiri ialah sebuah kelompok gerakan yang mana perempuan menuntut akan adanya sebuah persamaan hak sepenuhnya sama dan tidak dibedakan antara kaum perempuan dan laki-laki dari segi apapun itu, feminisme sendiri kerap kali dianggap sebagai pandangan yang ketidakadilan yang sering kali diterima oleh beberapa atau sebagian dari kaum perempuan hanya dikarenakan jenis (Kamus Besar Bahasa Indonesia, n. Definisi dari feminisme menurut dia ialah keyakinan akan perempuan mengalami ketidakadilan sosial yang sifatnya sistematis karena jenis kelamin mereka (Richard, 2. Pada intinya feminisme sendiri ialah aksi yang muncul dari sebuah gerakan sosial dan politik khusus dimana ia memberikan sebuah penekanan akan betapa pentingnya pemerolehan serta pencapaian dari kesetaraan gender, yang fokus utamanya ada di dalam hak-hak perjuangan seorang perempuan. Istilah feminisme sendiri hingga sekarang masih perdebatan, namun walaupun demikian, istilah ini masih dapat digunakan apabila terjadi sebuah ketimpangan gender terjadi konflik penindasan terhadap kalangan 3 Maskunilisme Toxic Maskunilisme ialah tanggapan yang muncul sebagai suatu respons akan Maskunilisme ini sendiri akan sering kali menyoroti akan isu-isu yang memberikan pengaruh terhadap kaum laki-laki secara khusus di dalam Maskunilisme ialah sebuah peran atau perilaku yang akan dianggap harus sesuai dengan penampilan untuk anak laki-laki pada suatu masyarakat (Michael, 2. Namun, singkatnya maskunilisme teracu pada suatu ekspektasi 53 | P a g e dibebankan kepada laki-laki. Pada lingkup masyarakat, anak laki-laki dan laki-laki cenderung diharapkan untuk selalu menjadi pribadi yang kuat, aktif, agresi dan Hal inilah yang menjadikan dipaksakan oleh sosialisasi, media teman sebaya serta sejumlah pengaruh lainnya (Smith, 2. Maskunilisme sendiri merupakan sebuah stereotype mengenai peranan lakilaki yang dapat menjadi sebuah pertentangan dengan feminisme yang sebagai stereotype pada perempuan. Sehingga dapat didefinisikan bahwa maskunilisme ialah bagaimana menjadi seorang laki-laki yang diterima apa adanya oleh pandangan masyarakat. Mac Innes . alam Beynon, 2002:. mengemukakan bahwa maskunilisme sendiri lahir dan terbentuk dari adanya fantasi tentang bagaimana seorang laki-laki itu harus berbuat seperti apa dan bagaimana tindakannya. Contoh yang paling umum dapat dilihat pada menganggap bahwa seorang laki-laki dilarang memainkan permainan boneka atau masak-masak yang identic dengan Selain itu, contoh lainnya ialah bagaimana seorang laki-laki dituntut tidak cengeng dan harus kuat dari seorang Sedangkan maskunilisme toxic ialah dimana penekanan dari maskunilisme menjadi aspek buruk sehingga berubah menjadi maskunilisme yang tidak sehat bagi laki-laki dewasa serta anak-anak sehingga munculnya sebuah kekerasan, dominasi, ketidakmampuan emosional serta hak seksual selain itu akan memicu terjadinya budaya patriarki. Umumnya istilah ini sering dikaitkan pada nilai-nilai yang harus ada dalam diri seorang laki-laki. Pada konsep maskunilisme toxic sering dipandang sebagai sebuah kelemahan, identiknya sering dikaitkan dengan kekuatan, ketangguhan atau wibawa. Oleh karena itu, laki-laki harus menyimpan dan berusaha mengelola emosi dalam kondisi apapun khususnya sebuah kesedihan yang seperti ada dalam budaya patriarki. Selain itu, maskunilisme toxic sendiri juga dapat tercerminkan anggapan bahwa seorang laki-laki harus menjauhi yang namanya aktivitas yang mencerminkan keidentikan dari kaum Perempuan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif menurut Kriyantono . ialah penelitian yang menggambarkan hal dengan apa adanya menggunakan data kualitatif yang nantinya akan menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata baik yang sifatnya tertulis maupun lisan dari orang yang sedang diamati (Wibisnono dan Sari, 2. Objek yang diteliti di dalam penelitian ini ialah film Barbie the Movie yang rilis pada 19 Juli 2023 yang tayang di beberapa bioskop. Penelitian metode penelitian Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA) yaitu dengan Menganalisis struktur teks film Barbie, termasuk narasi, dialog, dan pesan-pesan yang disampaikan. Mengidentifikasi cara-cara kesetaraan gender dan feminismemaskunilisme toxic dalam wacana Film Barbie. Membedah konstruksi kekuasaan, ideologi, dan resistensi yang mungkin terdapat dalam wacana film tersebut. Meneliti bagaimana konflik kepentingan tercermin dalam wacana film Barbie terkait dengan isu-isu gender. HASIL DAN DISKUSI 1 Hasil Berikut adalah poin-poin 54 | P a g e maskunilisme-maskunilisme toxic dalam film Barbie the Movie Live Action. feminisme terdiri atas empat poin. Kemudian pada maskunilisme terdiri atas sepuluh poin. Berikut deskripsi penjelasan pada bagian pembahasan. Berdasarkan pada tabel di bawah dapat dilihat bahwa egalitarianisme memiliki empat poin. Pada bagian Table 1 Hasil Penellitian Egalitarianisme Feminisme Maskunilisme toxic Adanya perubahan Para anak berusaha Ken yang berusaha pola pikir perempuan merusak mainan bayi. menunjukkan kepada terhadap kesetaraan. Barbie jika ia pemberani. Terdapat perbedaan kesetaraan hak antara dunia manusia dan dunia Barbie. Barbie menjadi pelopor bahwa perempuan bisa menjadi apa saja. Ken yang tidak pandai Terus adanya celah kesalahan dan tuntutan bagi seorang Barbie menunjukkan feminisme energinya ketika dipandang aneh oleh lelaki pekerja. Ken dianggap tidakmampu melakukanCartwheel. Memberikan kesempatan jabatan kepada para KenAos di dunia Barbie. Para Barbie mengatur rencana melawan patriarki di bawah pimpinan Ken. Ken yang dianggap penakut karena tidak ikut menemani Barbie ke dunia manusia. Pandangan Ken sudah berubah bahwa seorang laki-laki dapat pemimpin Mendapat gaji dan pangkat tinggi hanya berbekal kepercayaan sebagai laki-laki. Munculnya budaya patriarki akibat maskunilisme toxic. Para Barbie bersikap seperti pelayan kepada para Ken. Barbie presiden yang kebingungan setelah melihat Ken menangis. 55 | P a g e 2 Pembahasan Egalitarianisme Gambar 1 Potongan film pada durasi Hal ini juga menjadikan Barbie sebagai agen perubahan untuk merubah pola pikir para perempuan yang akhirnya memiliki keinginan untuk setara dengan apa yang dimiliki oleh laki-laki. Bukti lainnya ditampilkan dengan adanya scene para Barbie mengenakan berbagai jenis model pakaian dari berbagai profesi. Oleh karena itu, adegan ini menunjukkan sekilas mengenai bagaimana kemudian sebuah kesetaraan itu hadir tidak terlepas dari gender baik perempuan atau laki- lak Gambar 2 Potongan film pada durasi 32 Ae 41. Bahwa Sasha menentang ucapan Barbie yang mengatakan wanita bisa menjadi apa saja. Hal ini dikarenakan terjadi ketidaksetaraan yang ada di dunia manusia, berbeda dengan dunia Barbie yang membuat perempuan bisa menjadi apa saja yang mereka impikan. Kenyataannya, di dunia manusia perempuan masih dianggap rendah oleh kaum laki-laki. Hal ini di dukung oleh dialog Sasha yang mempertegas bahwa Barbie mewakili budaya yang salah dengan budayanya. Gambar 3 Potongan film pada durasi 04- 01. Pada durasi film . 04 Ae 01. terdapat scene yang menunjukkan bahwa menjadi perempuan tidak akan pernah mendapat kesetaraan yang sama dengan apa yang dimiliki oleh lakilaki. Hal ini dibuktikan dengan adanya scene dialog panjang yang dilontarkan oleh Gloria yang mengatakan bahwa menjadi perempuan cukup melelahkan. Perempuan harus selalu tampil cantik, tapi jangan terlalu karena akan membuat orang lain iri atau dikira sedang menggoda. Ini membuktikan bahwa menjadi perempuan akan selalu memiliki celah kesalahan dan tidak akan pernah menjadi sosok yang sempurna. Gambar 4 Potongan film pada durasi Pada durasi film . 49 Ae 01. adalah scene dimana kondisi dunia Barbie kini mulai kembali seperti sebelum budaya patriarki yang di bawa oleh Ken. Namun, bedanya pada situasi Ken jabatan layaknya para Barbie. Hal ini dibuktikan dengan adegan serta dialog para Ken meminta kepada Barbie presiden untuk menjadikan mereka sebagai hakim. Walaupun hanya menduduki posisi hakim tingkat rendah, namun scene ini menunjukkan bahwa 55 | P a g e terjadinya kondisi setara tanpa melihat adanya perbedaan gender, ras maupun status sosial seseorang. Feminisme Gambar 5 Potongan film pada durasi Pada durasi film di menit . 22 Ae 02. terdapat scene dimana pola pikir anakanak sudah mulai berubah. Mereka yang awalnya hanya bermain boneka dengan memerankan sosok ibu saja, kini mulai berubah. Hal ini menunjukkan bahwa dulunya perempuan hanya dituntut menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak saja. Hingga pada akhirnya hadir Barbie membawa perubahan terhadap pola pikir bahwa perempuan dapat untuk memiliki profesi layaknya laki-laki. Ini menjadikan sebuah gerakan feminisme kini mulai bergerak mencapai tahap kesetaraan. Gambar 6 Potongan film pada durasi Pada durasi film menit . 50 Ae 03. terdapat scene yang menjadi alasan anak- anak yang awalnya memainkan Hadirnya Barbie menjadi sebuah pelopor bahwa seorang perempuan kini dapat menjadi apa saja yang mereka inginkan. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya scene Barbie yang mengenakan berbagai macam baju dari profesi yang berbeda-beda. Ini juga perempuan tidak hanya memiliki kewajiban menjadi seorang ibu yang mengurus anak, namun juga bisa menjadi lebih daripada itu. Perempuan juga memiliki hak kebebasan dalam menentukan profesi yang mereka sukai. Gambar 7 Potongan film pada durasi Pada durasi film . 10 Ae 29. terdapat scene yang menunjukkan bahwa Barbie merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang begitu ia dan Ken tiba di dunia manusia. Akibat pandangan memulihkan dirinya dengan menunjukkan feminim energi dengan pergi ke kumpulan para pekerja jalan yang mulanya ia kira adalah perempuan. Namun karena dipandang aneh oleh para pekerja itu. Barbie akhirnya mengatakan bahwa ia dan Ken tidak memiliki jenis kelamin. Tindakan ini sebagai bentuk pertahanan feminim energi Barbie dari pandangan aneh para laki- laki pekerja. Gambar 8 Potongan film pada durasi 43- 01. feminim energi dengan pergi ke kumpulan para pekerja jalan yang mulanya ia kira adalah perempuan. Namun karena dipandang aneh oleh 56 | P a g e para pekerja itu. Barbie akhirnya mengatakan bahwa ia dan Ken tidak memiliki jenis kelamin. Tindakan ini sebagai bentuk pertahanan feminim energi Barbie dari pandangan aneh para laki- laki pekerja. Pada durasi film . 43 Ae 01. terdapat scene puncak dari unsur feminisme, dimana Barbie melakukan rencana melakukan aksi menghapus dari dunia manusia ke dunia para Barbie. Barbie berusaha untuk membuat dan mengembalikan memperoleh halnya kembali dan tidak hidup dibawah bayang-bayang keluarga Ken. Hal ini dikarenakan budaya patriarki yang di bawa oleh Ken membuat para Barbie seperti pelayan yang hanya memiliki tugas melayani keluarga Ken. Maskunilisme-maskunilisme Toxic Gambar 9 Potongan film pada durasi Pada durasi film . 56 Ae 09. terdapat scene yang menunjukkan bahwa Ken ingin menunjukkan kepada Barbie bahwa ia sosok yang pemberani dengan cara berselancar di derasnya ombak. Di scene ini terselip unsur maskunilisme dimana sosok laki-laki di pandang harus pemberani dan pantang menyerah. Gambar 10 Potongan film pada durasi Pada durasi film di menit . 37 Ae 10. terdapat sebuah scene dimana Ken laki-laki dikarenakan ia tidak mampu untuk Dibuktikan dengan dialognya yang berkata kepada Ken AuTerlalu banyak Pantai untukmu. KenAy. Faktanya bahwa sosok Ken yang diperankan oleh Ryan Gosling ini memiliki perbedaan dengan peran Ken lainnya. Sosok Ken (Ryan Goslin. nyatanya hanya memiliki profesi sebagai AuPantaiAy dibandingkan dengan sosok Ken lain yang memiliki profesi seperti peselancar, pemandu pantai atau Sehingga dapat dikatakan pula bahwa sosok Ken yang diperankan oleh Ryan Gosling tidak dapat melakukan hal apapun kecuali hanya merengek dan mendekati Barbie. Scene ini mengandung unsur dari maskunilisme toxic yang melihat bagaimana pandangan seseorang apabila tidak mencerminkan sifat laki-laki maka akan dijadikan sebagai objek ejekan atau Gambar 11 Potongan film pada durasi Pada durasi di menit . 05 Ae 13. yang berlatar ruangan pesta, ditunjukkan Ken lain sedang memamerkan keahliannya dalam aksi Cartwheel kepada Barbie. Setelahnya ia mengejek dan merendahkan Ken (Ryan Goslin. bahwa ia tidak mampu dalam melakukan aksi demikian. Hal ini dibuktikan dengan dialognya yang berkata AuPasti kau tidak bisa melakukan membalik seperti itu. Ken!Ay. Ken (Ryan Goslin. di sini di anggap remeh karena tidak dapat mencerminkan perilaku dan fisik dari seorang laki-laki. Ini masuk ke dalam unsur maskunilisme toxic. 57 | P a g e Gambar 12 Potongan film pada durasi Pada durasi film di menit . 40 Ae 24. terdapat scene yang menunjukkan bahwa Ken lain merendahkan Ken (Ryan Goslin. dengan berkata ia akan tersesat sebab Barbie akan meninggalkan dirinya ke dunia Ken lain juga berkata bahwa Ken (Ryan Goslin. adalah sosok penakut sebab tidak pergi menemani Barbie di dunia Hal ini dibuktikan dengan dialog Ken yang mengatakan bahwa. AuApa kau takut? Aku yakin kau takut! Dan aku yakin Barbie-pun tidak ingin jika Ken (Ryan Goslin. ikut dengannyaAy. Hal ini mendorong Ken (Ryan Goslin. melakukan taruhan agar tetap terlihat berani di mata Ken dan tidak di anggap remeh. Ini ada unsur maskunilisme-nya dimana Ken (Ryan Goslin. mau membuktikan bahwa ia adalah laki-laki yang pemberani dengan cara menemani Barbie menuntaskan masalahnya di dunia manusia. Gambar 13 Potongan film pada durasi Pada durasi film di menit . 02 Ae 31. menunjukkan sebuah scene dimana memperlihatkan bahwa kini Ken sudah mulai tertarik dengan apa yang ada di dunia manusia, dimana pada dunia ini didominasi oleh kaum laki-laki. Ken menilai bahwa dunia ini adalah kebalikan dari apa yang selama ini dia rasakan di dunia Barbie. Selain itu, terdapat scene yang menunjukkan seorang pria menganggap rendah kalangan wanita. Gerakan tangan atasan yang menolak berbicara dengan karyawan wanita di tiru oleh Ken yang menganggap hal tersebut keren. Ini menunjukkan bahwa unsur maskunilisme yang menganggap laki-laki masih memiliki derajat tinggi di banding dengan Gambar 14 Potongan film pada durasi Pada durasi film menit ke . 06 Ae 34. memperlihatkan bahwa kini Ken sudah mulai tertanam di pikirannya bahwa seorang laki-laki memiliki wewenang menjadi pemimpin dunia. Hal ini dibuktikan dengan Ken setelah melihat papan Billboard yang di dominasi oleh kaum laki-laki. Hal ini yang kemudian melahirkan maskunilisme toxic yang akhirnya melahirkan budaya patriarki. Maskunilisme toxic yang lahir dari Ken di akibatkan oleh adanya pengelolahan emosi yang tidak stabil. Hal ini juga dapat kita lihat ketika Ken kagum dengan apa yang di keterbalikan dengan apa yang terjadi di dunia Barbie. Ken merasa jauh lebih dihargai di banding saat ia masih berada di dunia Barbie yang sering diremehkah. Gambar 15 Potongan film pada durasi 58 | P a g e Pada durasi film di menit . 10 Ae 43. dimana terdapat sebuah scene yang menunjukkan bahwa Ken benar-benar tertarik dengan peruntungannya sebagai laki-laki dengan membawa budaya Bahkan ia tidak segan-segan ingin menjadi dokter bedah hingga karyawan dengan kedudukan dan gaji tertinggi hanya dengan kepercayaan dirinya sebagai seorang pria. Hal ini justru ditolak ketika ia masih berada di dunia manusia, dikarenakan kesetaraan sudah sedikit masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu. Ken akhirnya memutuskan untuk membawa budaya patriarki yang ia pelajari ke dunia Barbie. Ken merasa itu dapat menjadi sesuatu yang baru sehingga mudah diterima oleh penduduk dunia Barbie. Gambar 16 Potongan film pada durasi Pada durasi film di menit . 25 Ae 58. terdapat scene Barbie telah kembali ke dunia asalnya di temani oleh Gloria dan Sasha. Awalnya ia akan menunjukkan kepada Gloria betapa hebatnya dunia Barbie, namun justru ia melihat hal Terdapat banyak hal berubah, hal ini di dukung oleh adanya scene yang di dominasi oleh laki-laki hingga adanya minuman keras yang digunakan dan ditawarkan oleh para Barbie. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa ajaran patriarki yang di bawa oleh Ken kini sudah menyebar di dunia Barbie. Karena ini adalah budaya yang bisa dibilang baru di dunia Barbie, akhirnya tidak mendapat penolakan dari yang lainnya. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya scene ini maskunilisme yang berubah menjadi toxic sehingga melahirkan yang namanya budaya patriarki. Gambar 17 Potongan film pada durasi Pada durasi film . 00 Ae 01. terdapat scene yang menunjukkan bahwa dunia Barbie benar-benar berubah banyak setelah adanya budaya patriarki yang di bawa oleh Ken. Dimana para Barbie tunduk kepada keluarga Ken dan memiliki peran layaknya pelayan laki-laki. Hal ini dibuktikan dengan adanya adegan para Barbie yang menggunakan pakaian layaknya seorang Maid saat Barbie tiba di Ini kembali lagi ke prinsip patriarki yang berpikiran bahwa tugas perempuan hanya sebagai pembantu rumah tangga, mengurus anak dan suami. Gambar 18 Potongan film pada durasi 34- 01. Pada durasi film . 34 Ae 01. terdapat scene yang menunjukkan Ken bersedih hingga menangis setelah KenAos Kingdom telah diruntuhkan. Hal ini dibuktikan dengan dialog Barbie presiden yang mengatakan AuApakah dia (Ke. menangis?Ay diikuti dengan raut wajahnya yang kebingungan. Di sini terlintas unsur maskunilisme yang mana orang-orang menaruh kepercayaan bahwa sosok lakilaki tidak akan pernah menangis. Sosok 59 | P a g e penggambaran laki-laki ialah pemberani, kuat, tidak cengeng dan tidak bermain permainan perempuan. Padahal dasarnya mengutarakan sebuah perasaan adalah hal wajar dilakukan bahkan tidak memandang dar jenis gendernya KESIMPULAN Dalam film AuBarbie the MovieAy analisis wacana menjadi fokus utama, khususnya mengkaji hubungan antara maskunilisme dan maskunilisme toxic. Meskipun estetika merah jambu yang menarik secara visual dari film ini memberikan hiburan, film ini juga mengatasi masalah sosial yang signifikan. Dengan menerapkan pendekatan analisis wacana kritis Fairclough, penelitian ini menggali gambaran kesetaraan gender dalam berbagai adegan di sepanjang film Egalitarianisme di dalam film digambarkan melalui adegan-adegan yang menunjukkan perempuan dan laki-laki harus memiliki hak dan kesempatan yang setara tanpa diskriminasi berdasarkan Di dalam film ini Barbie menjadi tokoh protagonis yang dimana menjadi simbol feminisme saat ia berupaya menantang stereotip masyarakat dan memperjuangkan kesetaraan. Selain itu dapat diketahui melalui film ini juga menyampaikan pesan kuat bahwa perempuan mampu menekuni profesi apapun yang mereka inginkan dan menghilangkan prasangka bahwa peran mereka hanya sebatas menjadi ibu rumah tangga saja. Di sisi lain Maskunilisme toxic digambarkan melalui karakter Ken yang merasa harus menunjukkan keberanian dan kekuatan berlebihan, serta bagaimana Ken menciptakan dinamika patriarki di dunia Barbie. Penelitian ini juga mengisi kesenjangan yang ada pada penelitian egalitarianisme dalam konteks feminisme dan maskunilisme toxic dan memberikan representasi kesetaraan gender dalam media populer. References