Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 80-92 Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Available online http://journal. stt-abdiel. id/JA Tubuh. Kuasa, dan Kecantikan: Membaca Ratu Wasti melalui Lensa Naomi Wolf The Beauty Myth Adila Sekar Pambayun DOI: https://doi. org/10. 37368/ja. Program Studi Filsafat Keilahian Universitas Kristen Duta Wacana pambayun@student. Abstrak Penelitian ini mengkaji tokoh Ratu Wasti dalam Kitab Ester sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi patriarki, dengan menyoroti peran konstruksi sosial atas kecantikan perempuan melalui perspektif Naomi Wolf. Dalam narasi Alkitab, penolakan Wasti untuk mempertontonkan kecantikannya di depan publik menjadi titik awal pembacaan kritis terhadap relasi kuasa antara tubuh perempuan dan sistem kerajaan yang bersifat patriarkal. Menggunakan teori The Beauty Myth dari Naomi Wolf, studi ini menafsirkan kecantikan sebagai alat kontrol yang dilegitimasi oleh struktur sosial dan budaya, di mana tubuh perempuan dikomodifikasi dan dikendalikan demi kepentingan laki-laki dan kekuasaan. Wasti, yang menolak menjadi objek tontonan, muncul sebagai figur resistensi terhadap mitos kecantikan dan norma gender yang menindas. Dengan pendekatan hermeneutika feminis, artikel ini bertujuan menggugat normalisasi kontrol atas tubuh perempuan dalam teks-teks keagamaan dan budaya populer, serta mengangkat Ratu Wasti sebagai ikon pembebasan yang relevan bagi perjuangan perempuan masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan Wasti merupakan bentuk dekonstruksi terhadap sistem nilai yang menempatkan kecantikan sebagai alat subordinasi perempuan. Sikapnya menegaskan bahwa tubuh perempuan memiliki otonomi dan martabat yang tidak dapat dinegosiasikan oleh kuasa patriarkal. Bagi perempuan masa kini, pelajaran dari Wasti adalah pentingnya mendefinisikan ulang makna kecantikan dan privilege yang menyertainya. Kecantikan tidak boleh menjadi alat untuk menindas, melainkan ekspresi kebebasan dan kekuatan. Kata Kunci: feminisme. naomi wolf. ratu wasti. resistensi perempuan. Abstract This study examines Queen Vashti in the Book of Esther as a symbol of resistance against patriarchal domination, focusing on the role of socially constructed beauty standards through the lens of Naomi WolfAos theory. VashtiAos refusal to display her beauty before a male audience marks a critical point for analyzing power relations between womenAos bodies and the patriarchal royal system. Drawing on Naomi WolfAos The Beauty Myth, this research interprets beauty as a tool of control legitimized by social and cultural structures, wherein women's bodies are commodified and regulated for the benefit of male authority. VashtiAos defiance positions her as a figure of resistance against oppressive beauty norms and gender expectations. Employing a feminist hermeneutical approach, this paper challenges the normalization of control over womenAos bodies in religious texts and popular culture, elevating Queen Vashti as an icon of liberation relevant to contemporary feminist struggles. The findings reveal that VashtiAos act represents a deconstruction of value systems that position beauty as an instrument of female subordination. Her stance affirms that womenAos bodies possess autonomy and dignity that cannot be negotiated by patriarchal authority. For modern women. VashtiAos story underscores the importance of redefining the meaning of beauty and the privileges attached to it. Beauty should not serve as a tool of oppression but as an expression of freedom and strength. Keywords: feminism. naomi wolf. queen Vashti. female resistance. How to Cite: Pambayun. Adila Sekar. AuTubuh. Kuasa, dan Kecantikan: Membaca Ratu Wasti melalui Lensa Naomi Wolf The Beauty Myth. Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, no. : 80-92. ISSN 2685-1253 (Onlin. ISSN 2579-7565 (Prin. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 80-92 Pendahuluan Fenomena beauty privilege atau keistimewaan yang diperoleh individu dengan penampilan menarik sering kali terlihat dalam berbagai kasus yang menjadi perhatian Misalnya, dalam kasus promosi situs judi online oleh aktris Wulan Guritno, alihalih mendapatkan sanksi tegas, pemerintah justru mempertimbangkan menjadikannya duta antijudi online. Perlakuan istimewa ini memicu perdebatan di kalangan netizen, dengan banyak yang mengaitkan keputusan tersebut dengan penampilan fisiknya yang menarik. Contoh lain adalah kasus Oklin Fia, seorang selebgram yang membuat konten kontroversial dengan menjilat es krim di depan kemaluan. Meskipun tindakannya menuai kecaman luas, permintaan maafnya diterima oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan beberapa netizen berpendapat bahwa kelonggaran tersebut dipengaruhi oleh beauty 2 Fenomena serupa juga terlihat dalam kasus Zaskia Gotik, yang pernah membuat pernyataan yang dianggap menghina lambang negara. Setelah meminta maaf. Zaskia tidak hanya dimaafkan, tetapi bahkan didapuk sebagai duta Pancasila, yang lagi-lagi memunculkan dugaan bahwa penampilan fisiknya memengaruhi penerimaan publik. Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana "cantik" sering kali menjadi faktor yang memengaruhi penilaian masyarakat, di mana pelaku dengan penampilan menarik cenderung mendapatkan perlakuan lebih lunak atau mudah dimaafkan dibandingkan mereka yang tidak memenuhi standar kecantikan yang diterima secara sosial. Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut, akhirnya muncul slogan dikalangan netizen "kalau kamu cantik, setengah permasalahan hidupmu selesai" yang mencerminkan pandangan sosial yang semakin memperkuat konstruksi kecantikan sebagai elemen penting dalam menentukan nilai perempuan. Pernyataan ini tidak hanya mencerminkan ekspektasi sosial terhadap perempuan untuk memenuhi standar kecantikan tertentu, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kecantikan sering dianggap sebagai "mata uang sosial" 4 yang memberikan keuntungan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan personal Herny. AuPerlakuan Beda Pemerintah pada Wulan Guritno dan Selebgram Daerah yang Promosikan Judi Online. Warganet Sebut Beauty Privilege,Ay Liputan6, 2023, https://liputan6. com/lifestyle/read/5389693/perlakuan-beda-pemerintah-pada-wulan-guritno-dan-selebgramdaerah-yang-promosikan-judi-online-warganet-sebut-beauty-privilege?utm_source=chatgpt. Reza Sulaiman. AuKasus Jilat Es Krim Oklin Fia Dimaafkan MUI. Warganet Bandingkan dengan Lina Mukherjee: Gara-gara Good Looking?Ay Suara. Agustus 2023, https://w. com/lifestyle/2023/08/31/191000/kasus-jilat-es-krim-oklin-fia-dimaafkan-mui-warganetbandingkan-dengan-lina-mukherjee-gara-gara-good-looking?utm_source=chatgpt. Sanjaya Ferryanto. AuHina Lambang Negara. Zaskia Gotik Akhirnya Dimaafkan,Ay KapanLagi. com, 9 April David Frederick dkk. AuBeauty Standards,Ay dalam The International Encyclopedia of Human Sexuality, ed. oleh Anne Bolin dan Patricia Whelehan, 1 ed. (Wiley, 2. , 4. Adila Sekar Pambayun: Tubuh. Kuasa, dan Kecantikan: Membaca Ratu Wasti melalui Lensa A hingga karier. Dalam masyarakat yang patriarkal dan materialistis, slogan semacam ini menjadi pengingat bahwa kecantikan perempuan sering kali dikaitkan dengan kesuksesan, penerimaan, dan bahkan hak istimewa. Akibat dari pandangan ini, banyak perempuan merasa terdorong untuk memenuhi standar kecantikan yang ditetapkan oleh masyarakat. Fenomena ini terlihat jelas dari maraknya praktik sulam alis, penggunaan nail art, eyelash extension, dan berbagai bentuk perawatan kecantikan di klinik estetika. Perempuan berlomba-lomba untuk mencapai "kesempurnaan fisik" yang ideal, sering kali dengan mengorbankan waktu, biaya, dan kesehatan mental mereka. Industri kecantikan, yang memanfaatkan insecurity perempuan terhadap tubuh mereka sendiri, dengan terus mempromosikan gagasan bahwa kecantikan adalah sesuatu yang harus dicapai, bukan sesuatu yang inheren dalam diri setiap orang. Fenomena ini sangat relevan dengan teori Naomi Wolf dalam The Beauty Myth, di mana ia menyatakan bahwa mitos kecantikan diciptakan untuk menahan perempuan dalam sistem patriarki dengan membuat perempuan percaya bahwa kecantikan adalah kunci untuk keberhasilan hidup, masyarakat secara tidak langsung menempatkan perempuan dalam siklus tanpa akhir untuk mencapai standar yang tidak realistis. 5 Fokus pada kecantikan ini mengarah pada objektifikasi seksual yang rutin terhadap perempuan. Objektifikasi seksual mengacu pada pandangan terhadap perempuan semata-mata sebagai objek untuk kepuasan seksual, tanpa memperhatikan pikiran, perasaan, dan emosinya. Lebih jauh lagi, tekanan ini tidak hanya berdampak pada keuangan, tetapi juga kesehatan mental perempuan. Banyak yang mengalami gangguan citra tubuh . ody image issue. , kecemasan, dan bahkan depresi karena merasa gagal memenuhi ekspektasi sosial. 7 Di sisi lain, fenomena ini juga meminggirkan perempuan yang tidak memiliki akses ke layanan kecantikan karena keterbatasan ekonomi atau memilih untuk tidak mematuhi standar tersebut, sehingga mereka sering kali dianggap kurang berharga dalam masyarakat. Fenomena standar kecantikan ini telah lama menindas perempuan, sehingga diskusi mengenai hal ini menjadi salah satu aspek penting dalam kajian gender dan feminisme, karena ia menggambarkan bagaimana tubuh perempuan sering kali dipandang sebagai objek estetika yang harus memenuhi kriteria tertentu untuk diterima dan dihargai oleh Dalam banyak budaya, terutama dalam masyarakat patriarkal, kecantikan Naomi Wolf. Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan (HarperCollins Publisher, 1. Frederick dkk. AuBeauty StandardsAy, 4. Mariana Merino dkk. AuBody Perceptions and Psychological Well-Being: A Review of the Impact of Social Media and Physical Measurements on Self-Esteem and Mental Health with a Focus on Body Image Satisfaction and Its Relationship with Cultural and Gender Factors,Ay Healthcare 12, no. : 1396. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 80-92 perempuan tidak hanya dinilai berdasarkan penampilan fisik mereka, tetapi juga sering kali menjadi ukuran nilai sosial dan pribadi mereka. Hal ini mengarah pada fenomena di mana perempuan merasa terpaksa untuk mengikuti standar yang tidak realistis dan seringkali Standar kecantikan yang menindas ini sering kali dipelihara oleh industri media, fashion, dan kecantikan, yang terus mempromosikan gambaran tubuh perempuan yang sangat sempit, seperti tubuh kurus, kulit putih, dan fitur wajah tertentu. Ini membentuk persepsi bahwa perempuan yang tidak sesuai dengan standar ini dianggap kurang berharga atau tidak cukup baik. 8 Kecantikan menjadi alat kontrol yang digunakan untuk mempertahankan ketidaksetaraan gender, di mana perempuan diharuskan untuk berkompetisi dalam memenuhi ideal kecantikan tersebut, sementara laki-laki jarang dihadapkan pada standar fisik yang seketat itu. Selain itu, standar kecantikan yang ditentukan secara sosial juga membentuk cara perempuan memandang tubuh mereka sendiri, sering kali mengarah pada gangguan citra tubuh, rendahnya harga diri, dan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Dalam konteks ini. Naomi Wolf, dalam bukunya The Beauty Myth, menyebut kecantikan sebagai "mitos" yang digunakan untuk menahan perempuan dalam sistem patriarkal, mengalihkan perhatian mereka dari pencapaian pribadi atau profesional ke obsesi terhadap penampilan fisik. 9 Fenomena ini menunjukkan bagaimana konstruksi sosial kecantikan bukan hanya sekadar masalah estetika, tetapi juga terkait erat dengan kekuasaan dan kontrol terhadap perempuan dalam Kajian tentang politik tubuh perempuan semakin penting dalam konteks pemahaman tentang bagaimana standar kecantikan dibentuk oleh konstruksi sosial yang berakar dalam sistem patriarkal. Dalam banyak budaya, tubuh perempuan sering kali dijadikan objek estetika yang dinilai berdasarkan nilai-nilai visual yang ditentukan oleh masyarakat, media, dan budaya dominan. 10 Standar kecantikan yang dipaksakan ini tidak hanya membatasi ekspresi diri perempuan, tetapi juga memperkuat ketidaksetaraan gender dan kontrol terhadap otonomi tubuh perempuan. Dalam masyarakat patriarkal, tubuh perempuan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang harus dilihat dan dinilai, yang membentuk persepsi perempuan sebagai objek daripada subjek yang memiliki kendali atas Erisa Nada Dewanti dkk. AuRasisme dan Standar Kecantikan di Indonesia Pandangan Audre Lorde,Ay Journal of Feminism and Gender Studies 5, no. : 40Ae48. Wolf. Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan, 36. Laras Shinta Prasetya. AuMitos Kecantikan Perempuan Dalam Karya Seni Tiga Dimensi,Ay Jurnal Brikolase 15, no. : 71Ae92. Adila Sekar Pambayun: Tubuh. Kuasa, dan Kecantikan: Membaca Ratu Wasti melalui Lensa A tubuhnya sendiri. Oleh karena itu, kritik terhadap fenomena ini perlu dilanjutkan dengan cara yang lebih luas. Objektifikasi tubuh perempuan juga dialami oleh tokoh Alkitab, yaitu Ratu Wasti. Ratu Wasti dalam Kitab Ester dikenal sebagai tokoh yang berani menolak perintah Raja Ahasyweros untuk memamerkan kecantikannya di depan para pejabat dan bangsawan dalam sebuah pesta. Meskipun alasan penolakannya tidak dijelaskan secara eksplisit dalam teks, tindakan Wasti dapat dilihat sebagai bentuk perlawanan terhadap objektifikasi tubuh Meskipun ia hanyalah Autokoh pendukungAy dalam kitab Ester, namun bagi para teolog feminis Wasti lebih mencerminkan perjuangan perempuan karena ia tidak tunduk pada perintah Ahasyweros yang menjadikannya objek seks. Di mata teolog feminis, penolakan wasti merupakan repesentasi penolakan terhadap kehendak laki-laki untuk menjadikan perempuan sebagai budak seks mereka. Dalam kajian tafsir Alkitab, kisah Wasti jarang sekali dibahas sebab kebanyakan lebih tertarik dengan kisah heroik Ester dan melihat Wasti hanya sebagai batu loncatan kisah heroik tersebut. Oleh karena itu terdapat banyak celah penelitian untuk studi lebih Pertama, keterbatasan teks yang hanya memuat kisah Wasti dalam satu pasal saja menyebabkan interpretasi terhadap tokoh ini sering bergantung pada sumber-sumber intertekstual dan tradisi rabinik. Namun, tradisi tersebut cendeerung menampilkan Wasti dalam citra negatif sebagai figur yang tidak taat kepada suaminya atau penguasa laki-laki. Hal ini menimbulkan kesenjangan antara teks Alkitabiah asli dan interpretasi tradisional, di mana aspek keberanian dan agensi Wasti seringkali diabaikan. 12 Kedua, pendekatan tafsir feminis dan teologi tubuh terhadap kisah Wasti jarang digunakan dna belum berkembang secara mendalam. Kajian yang ada umumnya berhenti pada penegasan bahwa tindakan Wasti merupakan perlawanan terhadap sistem patriakal yang menundukkan tubuh 13 Namun, penelitian tersebut belum banyak mengeksplorasi implikasi teologis dan sosial dari tindakan Wasti, terutama dalam kaitannya dengan konstruksi sosial mengenai kecantikan dan kuasa tubuh perempuan di masyarakat kontemporer. Ketiga, terdapat kekosongan penelitian yang mengkaji secara kritis konteks budaya dan politik Persia kuno dalam relasinya dengan isu gender dan kekuasaan. Robert Setio. AuWasti sebagai Kristik Ideologi,Ay Studia Philosophica et Theologica 11, no. , 43. Setio. Wasti sebagai Kristik Ideologi. Art Thomas Sundriati Mangore. AuKeberanian Ratu Wasti: Reinterpretasi Ester 1:1-22 Dari Perspektif Teologi Tubuh,Ay Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 10, no. : 115Ae126. Mahattama Banteng Sukarno. AuIdeologi dalam Kitab Ester: Analisa Wacana Kritis Norman Fairclough terhadap Narasi Kepahlawanan pada Peredaksian Pertama,Ay Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 1, no. : 130Ae53. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 80-92 Maka, studi ini akan menelaah teks tentang Ratu Wasti dalam kerangka fenomenologis yang memusatkan perhatian pada pengalaman tubuh perempuan di bawah tekanan standar kecantikan yang menindas. Melalui pendekatan ini, penelitian berupaya memahami bagaimana konstruksi sosial tentang kecantikan telah membatasi kebebasan dan agensi perempuan, menjadikan tubuh mereka sebagai objek kontrol dan representasi kekuasaan patriarkal. Dalam konteks tersebut, tokoh Wasti diposisikan sebagai figur yang melakukan dobrakan terhadap struktur penindasan tersebut. Tindakannya menolak perintah Raja Ahasuerus untuk mempertontonkan kecantikannya bukan pembangkangan personal, melainkan simbol perlawanan terhadap sistem yang menjadikan kecantikan sebagai alat subordinasi. Dengan demikian. Wasti menjadi representasi dari subjek perempuan yang menyadari otonomi tubuhnya dan menolak tunduk pada definisi kecantikan yang dikonstruksi oleh kekuasaan laki-laki. Penelitian ini menelaah teks tentang Ratu Wasti dalam Kitab Ester pasal 1:1-22, khususnya ayat-ayat yang menarasikan penolakannya untuk tampil di hadapan Raja Ahasuerus, dengan menggunakan kerangka fenomenologis yang menyoroti pengalaman tubuh perempuan di bawah tekanan standar kecantikan yang menindas. Melalui pendekatan ini, penelitian berupaya memahami bagaimana konstruksi sosial mengenai kecantikan membatasi kebebasan dan agensi perempuan, menjadikan tubuh mereka sebagai objek kontrol dan representasi kekuasaan patriarkal. Dalam konteks tersebut, tokoh Wasti diposisikan sebagai figur yang melakukan dobrakan terhadap struktur penindasan tubuh perempuan, di mana tindakannya bukan sekadar bentuk pembangkangan personal, melainkan simbol perlawanan terhadap sistem yang menjadikan kecantikan sebagai alat Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka, menggunakan teks Alkitab sebagai sumber data utama dan literatur pendukung seperti karya Naomi Wolf The Beauty Myth, tafsir feminis, serta kajian teologi tubuh dan budaya patriarki sebagai sumber sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pembacaan kritis terhadap teks-teks primer dan sekunder yang relevan. Pengabsahan data dilakukan dengan triangulasi teori melalui perpaduan hermeneutika feminis, fenomenologi tubuh, dan kritik sosial Naomi Wolf, serta dengan membandingkan hasil pembacaan feminis terhadap tafsir tradisional untuk menjaga validitas temuan. Analisis data dilakukan secara hermeneutis dan kritis melalui tiga tahap, yaitu analisis tekstual untuk menafsirkan struktur naratif Kitab Ester, analisis kontekstual untuk memahami latar sosial-budaya Persia kuno, dan analisis teologis-feminis untuk mengungkap makna teologis dari tindakan Adila Sekar Pambayun: Tubuh. Kuasa, dan Kecantikan: Membaca Ratu Wasti melalui Lensa A Wasti sebagai bentuk resistensi terhadap konstruksi kecantikan yang menindas tubuh Pembahasan Mitos Kecantikan-Naomi Wolf Naomi Wolf, dalam bukunya The Beauty Myth, mengungkapkan bahwa mitos kecantikan perempuan tidak hanya sekadar persoalan estetika, tetapi merupakan alat kekuasaan yang digunakan oleh institusi patriarkal untuk mempertahankan kontrol atas 15 Wolf berpendapat bahwa seiring dengan berkurangnya nilai sosial primer perempuan di ruang publik . eperti peran reproduksi atau kewajiban domestik yang mulai terpinggirka. mitos kecantikan hadir untuk mendefinisikan ulang nilai sosial 16 Kini, nilai perempuan ditempatkan pada standar kecantikan tertentu yang ditetapkan oleh masyarakat patriarkal, memaksa perempuan untuk terus-menerus memenuhi tuntutan tersebut demi dianggap berharga. Wolf juga menyoroti bagaimana seksualitas perempuan dipengaruhi oleh mitos ini. Seksualitas yang seharusnya menjadi sumber kekuatan dan kebebasan perempuan berubah menjadi alat kontrol, di mana kecantikan mengambil alih peran utama. Perempuan diajarkan untuk melihat tubuh mereka bukan sebagai bagian integral dari diri mereka, tetapi sebagai objek yang harus dinilai berdasarkan pandangan laki-laki. 17 Pandangan ini membuat perempuan secara tidak sadar memandang rendah tubuh mereka sendiri, hanya untuk memastikan bahwa tubuh tersebut sesuai dengan standar kecantikan yang diinginkan oleh laki-laki. Akibatnya, perempuan terjebak dalam siklus yang membuat mereka terus-menerus merasa kurang dan tidak cukup baik, sementara mitos kecantikan ini menjadi alat institusional untuk melanggengkan kekuasaan laki-laki. Dalam konteks ini, mitos kecantikan berfungsi sebagai mekanisme patriarkal yang tidak hanya mengontrol tubuh perempuan secara fisik tetapi juga memengaruhi cara mereka memandang diri mereka sendiri. Konstruksi sosial ini menciptakan ketergantungan perempuan pada pengakuan eksternal, terutama dari laki-laki, yang pada akhirnya membatasi kebebasan dan agensi perempuan atas tubuh dan identitas mereka sendiri. Irwan Abdullah menyebutkan bahwa perempuan sesungguhnya merupakan produk dari kehidupan sosial sehingga ia tersubordinasi oleh kepentingan-kepentingan dan harapan-harapan umum yang ingin Wolf. Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan, 29. Wolf Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan, 36. Wolf. Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan, 272. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 80-92 melihat perempuan sebagai objek. 18 Dalam konstruksi ini, perempuan sering kali tersubordinasi oleh kepentingan-kepentingan dan harapan-harapan yang menjadikannya sebagai objek, baik secara fisik maupun simbolik. Tubuh perempuan tidak lagi hanya milik mereka sendiri, tetapi dijadikan alat untuk memenuhi ekspektasi sosial, seperti standar kecantikan, peran domestik, atau simbol status laki-laki. Harapan ini menciptakan tekanan besar pada perempuan untuk memenuhi konstruksi ideal yang dirancang oleh institusi patriarki, sehingga perempuan kehilangan agensi mereka atas tubuh dan hidupnya sendiri. Subordinasi ini terlihat jelas dalam mitos kecantikan yang menggiring perempuan untuk terus berupaya mencapai standar kecantikan tertentu demi pengakuan sosial. Perempuan tidak lagi dilihat sebagai individu yang utuh, melainkan sebagai objek estetika yang dinilai berdasarkan kemampuan mereka untuk memenuhi harapan masyarakat, khususnya laki-laki. Dalam struktur ini, perempuan menjadi "produk sosial" yang keberadaannya ditentukan oleh sejauh mana mereka mampu mematuhi norma-norma patriarkal, mulai dari penampilan fisik hingga perilaku yang diharapkan. Akibatnya, tubuh perempuan menjadi ruang politik di mana berbagai kepentinganAibaik ekonomi, budaya, maupun sosialAiberkumpul dan berusaha mengontrol. Perempuan terus-menerus berada dalam situasi yang meminggirkan mereka dari pusat pengambilan keputusan atas tubuh mereka sendiri, menjadikan mereka lebih sebagai objek pasif daripada subjek aktif. Proses ini mempertegas bahwa subordinasi perempuan bukanlah sesuatu yang inheren, melainkan hasil dari struktur sosial yang didesain untuk mempertahankan dominasi patriarki dan menempatkan perempuan dalam posisi inferior. Narasi Ratu Wasti dalam Ester 1: 1-21 Ester 1: 1-21 merupakan kisah yang mencerminkan bagaimana kekuasaan, gender dan kecantikan dapat menjadi alat penindasan terhadap perempuan. Konteks pesta Raja Ahasyweros adalah perayaan kekuasaan dan kemegahan, di mana raja menggunakan kekayaan dan keindahan untuk memperkuat otoritasnya, hal ini dapat dilihat dalam ayat 48 di mana dijelaskan bahwa raja Ahasyweros mengadakan pesta bagi para pembesar dan bangsawan selama 180 hari . ekitar 6 bula. untuk memamerkan harta kekayaannya. tengah pameran kekuasaan ini. Wasti diminta hadir dengan mahkota kerajaan . , disebutkan juga dalam ayat selanjutnya bahwa Wasti merupakan perempuan yang sangat cantik hingga raja ingin sekali memamerkan kecantikan itu kepada para tamu undangannya Irwan Abdullah. Seks. Gender dan Reproduksi Kekuasaan (Yogyakarta: Tarawang Press, 2. , 43. Adila Sekar Pambayun: Tubuh. Kuasa, dan Kecantikan: Membaca Ratu Wasti melalui Lensa A . Sejarawan Yunani Plutarch, sebagaimana dikutip oleh Taylor, menjelaskan bahwa dalam tradisi Persia kuno, istri sah raja biasanya hanya hadir hingga jamuan berubah menjadi pesta mabuk-mabukan, saat para penari dan selir dipanggil. besar inilah alasan Wasti menolak tampil, karena ia menolak diperlakukan seperti seorang penghibur atau objek tontonan. 19 Berdasarkan kedua ayat tersebut maka terlihat bahwa undangan kepada Wasti untuk hadir di pesta Ahasyweros bukan sebagai pemimpin atau individu yang bermartabat, tetapi sebagai "benda" untuk dipamerkan. Ditegaskan bahwa dalam tradisi Yahudi-Persia, tubuh perempuan sering kali dipandang sebagai bagian dari kekayaan atau simbol status yang bisa dipamerkan. 20 Ratu yang cantik itu direduksi menjadi salah satu ornamen dari kejayaan kerajaan. Permintaan ini mencerminkan bagaimana perempuan sering kali diharuskan memenuhi standar kecantikan yang tidak hanya memaksa mereka tampil sempurna, tetapi juga tunduk kepada keinginan laki-laki. Keputusan Wasti untuk tidak hadir membuat Raja Ahasyweros marah besar. Bagi sang raja dan penasihatnya, penolakan itu dianggap sebagai ancaman terhadap tatanan sosial yang menempatkan laki-laki sebagai kepala dan penguasa atas perempuan. Keadaan semakin diperparah dengan keberadaan salah satu penasihat raja yang memperbesar masalah ini dengan mempolitisasi tindakan Wasti. Ia berpendapat bahwa penolakan Wasti akan menjadi contoh buruk bagi semua perempuan di kerajaan, mendorong mereka untuk melawan suami-suami mereka . Menurut Fox, perkataan Memukan dalam ayat 16 menggambarkan penerapan hukum yang tegas dalam konteks politik seksual, yang mencerminkan identitas laki-laki dalam struktur pemerintahan raja. Secara ironis, penolakan Wasti justru dimanfaatkan sebagai alat negosiasi antara raja dan laki-laki lainnya, yang memperkuat posisi Wasti sebagai objek dalam politik seksual tersebut. Tindakan ini menjadikan Wasti sebagai simbol pembelajaran bagi perempuan di seluruh wilayah kekuasaan raja, agar mereka tetap berada dalam batasan-batasan ekonomi domestik yang telah ditentukan. 21 Dengan demikian, keputusan untuk mencabut gelar ratu Wasti bukan hanya hukuman personal tetapi juga strategi untuk menjaga status quo, di mana perempuan diharapkan tunduk dan patuh. Dalam perspektif teologi tubuh, kisah ini ini menyoroti bagaimana tubuh perempuan bukan hanya locus penindasan tetapi juga arena Marion Ann Taylor. Ruth. Esther, ed. oleh Tremper Longman dan Scot McKnight. The Story of God Bible Commentary (Zondervan, 2. , 212. Art Thomas Sundriati Mangore. AuKeberanian Ratu Wasti: Reinterpretasi Ester 1:1-22 Dari Perspektif Teologi Tubuh,Ay Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 10, no. April 2. : 121. Anita Rushadi Simatupang. AuJangan Paksa Aku: Hermeneutik Feminis Terhadap Ester 1: 1-22,Ay Jurnal teologi Anugerah 9, no. , 53. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 80-92 pertarungan antara kekuasaan patriarkal dan hak perempuan atas integritas tubuh mereka. Dalam artian, tubuh perempuan merupakan tempat terjadinya pertarungan antara kekuasaan patriakal, yaitu sistem sosial yang mengatur, mengontrol, atau mengeksploitasi tubuh perempuan sesuai norma atau kepentingan laki-laki atau institusi dominan . ermasuk agama atau negar. , dengan hak perempuan atas tubuh mereka sendiri, termasuk hak untuk menentukan apa yang terjadi pada tubuh mereka, mengekspresikan seksualitas, serta memperoleh perlindungan dan martabat. Penolakan Ratu Wasti atas titah Raja Ahasyweros bukan hanya sebuah tindakan penolakan terhadap permintaan pribadi raja, tetapi lebih dalam lagi, ini merupakan afirmasi kuat terhadap kontrolnya atas tubuhnya sendiri. 23 Dalam budaya patriarkal yang mendominasi saat itu, di mana perempuan sering kali dipandang sebagai properti atau objek dari suami, tindakan Wasti menyentuh inti dari perjuangan terhadap penindasan dan ketidakadilan sosial. Dalam tradisi Yahudi, di mana istri sering dianggap sebagai milik suami, tindakan Wasti menantang norma ini dengan menegaskan bahwa tubuh perempuan tidak bisa dianggap sebagai milik publik atau sebagai instrumen kekuasaan laki-laki. Dengan menolak tampil di hadapan para pejabat dan bangsawan. Wasti tidak hanya mempertanyakan otoritas suaminya, tetapi juga mengangkat isu penting tentang otonomi tubuh perempuan dalam masyarakat yang menganggap tubuh perempuan sebagai objek yang dapat diperdagangkan atau dieksploitasi. Keputusan ini menunjukkan bahwa Wasti memiliki karakter yang sangat kuat dan 24 Walaupun dia harus menghadapi konsekuensi besar, yaitu kehilangan posisinya sebagai istri dan ratu. Wasti lebih memilih untuk mempertahankan harga dirinya dan martabat tubuhnya daripada menyerah pada tuntutan sosial yang menempatkannya pada posisi sebagai objek seksual semata. Tindakan ini bisa dilihat sebagai bentuk pemberontakan terhadap sistem patriarkal yang telah lama mengatur tubuh perempuan dan memperlakukan mereka sebagai milik suami atau sebagai alat untuk memperkuat status sosial laki-laki. Dengan menolak titah raja. Wasti tidak hanya membangkang terhadap perintah suaminya, tetapi juga menggugah pemikiran tentang kekuasaan dan dominasi yang sering diterapkan pada tubuh perempuan. Sundriati Mangore. Keberanian Ratu Wasti: Reinterpretasi Ester 1:1-22 Dari Perspektif Teologi Tubuh. Asnath Niwa Natar. AuPerempuan melawan: Tafsir terhadap ratu Wasti dan dewi Drupadi dalam perspektif feminis,Ay KURIOS 9, no. , 629. Natar. Perempuan melawan: Tafsir terhadap ratu Wasti dan dewi Drupadi dalam perspektif feminis, 629. Adila Sekar Pambayun: Tubuh. Kuasa, dan Kecantikan: Membaca Ratu Wasti melalui Lensa A Wasti dan Beauty Privilege: Perlawanan terhadap Standar Kecantikan Kisah Ratu Wasti dalam Ester 1 tidak hanya berbicara tentang perlawanan terhadap patriarki, tetapi juga menyingkapkan dinamika beauty privilege keistimewaan yang diberikan kepada individu berdasarkan kesesuaian mereka dengan standar kecantikan Berdasarkan keseluruhan narasi dalam kisah Ratu Wasti, dapat diasumsikan bahwa satu-satunya keistimewaan dari Wasti ialah kecantikannya . , sehingga itulah yang hendak dipamerkan oleh Ahasyweros. Namun, seperti yang terlihat dalam kisah ini, keistimewaan tersebut sering kali menjadi pedang bermata dua, terutama bagi perempuan. Sebagai seorang ratu yang digambarkan "cantik sekali," Wasti adalah simbol keistimewaan kecantikan yang ideal menurut standar kerajaan Persia. Kecantikan fisiknya memberinya status dan pengakuan, bahkan mahkota sebagai permaisuri. Namun, keistimewaan ini tidak datang tanpa tuntutan. Privilege kecantikan sering kali memerangkap perempuan dalam peran pasif, dimana nilai mereka diukur bukan berdasarkan kemampuan, kecerdasan, atau kontribusi mereka, melainkan pada penampilan yang sesuai dengan selera laki-laki yang Beauty privilege sering kali bersifat manipulatif. Dalam sistem patriarki seperti yang tergambar dalam Ester 1, perempuan yang dianggap "cantik" diberi akses ke ruang kekuasaan, tetapi hanya sejauh mereka mematuhi aturan yang ditetapkan laki-laki. Ketika Wasti menolak perintah untuk memamerkan kecantikannya, kecantikannya tidak lagi Sebaliknya, ia dihukum dengan dicabutnya gelar ratu dan digantikan oleh perempuan lain yang dianggap lebih layak, mungkin tidak hanya dalam kecantikan, tetapi juga dalam hal kepatuhan. Privilege kecantikan tidak terjadi dalam ruang hampa. ditentukan oleh standar sosial yang sering kali tidak realistis dan membatasi perempuan. Standar ini menuntut perempuan untuk selalu "ideal" dalam penampilan, sikap, bahkan cara mereka menjalani hidup. Namun, seperti yang ditunjukkan Wasti, memenuhi standar ini bukanlah jaminan kebebasan atau martabat. Ketika Wasti menolak untuk tunduk pada permintaan raja, ia menantang sistem yang menggunakan kecantikan sebagai alat kontrol. Penolakannya menunjukkan bahwa privilege kecantikan, meskipun sering dipandang sebagai keuntungan, sebenarnya dapat menjadi jebakan yang membatasi perempuan dari menjalani hidup dengan otonomi penuh. Ester 1 memperlihatkan bagaimana standar kecantikan digunakan sebagai alat Ratu Wasti tidak hanya diharapkan untuk tampil cantik tetapi juga untuk meneguhkan otoritas laki-laki dengan menampilkan kecantikan itu sesuai keinginan raja. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 80-92 Dalam hal ini, kecantikan bukan tentang individualitas atau ekspresi diri, tetapi tentang kepatuhan terhadap keinginan dan kebutuhan laki-laki. Ketika Wasti menolak untuk menampilkan dirinya, ia mengungkap betapa tidak adilnya sistem yang mengukur nilai perempuan hanya berdasarkan fisiknya. Lebih jauh lagi, kisah ini menunjukkan bagaimana perempuan yang menolak tunduk pada standar ini sering kali dihukum dan disingkirkan dari ruang kekuasaan. Meskipun Wasti kehilangan gelarnya sebagai ratu, tindakannya tetap menjadi simbol perlawanan. Ia menunjukkan bahwa perempuan memiliki pilihan untuk tidak tunduk pada standar yang mereduksi martabat mereka. Kisah Wasti mengingatkan kita bahwa perlawanan terhadap penindasan, betapapun kecilnya, adalah langkah penting untuk memperjuangkan kebebasan dan kesetaraan. Kesimpulan Kisah Ratu Wasti menggambarkan keteguhan seorang perempuan yang memilih mempertahankan martabat dan integritas tubuhnya daripada tunduk pada sistem patriarkal yang menjadikannya objek tontonan. Sikapnya menjadi simbol perlawanan terhadap konstruksi sosial dan beauty privilege yang hingga kini masih menekan perempuan, terutama dalam budaya modern yang mengagungkan kecantikan sebagai sumber nilai dan Wasti mengajarkan bahwa menolak tunduk pada standar yang menindas adalah bentuk pembebasan, sekaligus afirmasi terhadap otonomi tubuh dan kebebasan perempuan. Dengan demikian, kisah ini tidak hanya memiliki makna historis-teologis, tetapi juga relevan bagi perjuangan perempuan masa kini yang berupaya merebut kembali agensinya di tengah tekanan sosial dan budaya yang homogen. Keterbatasan penelitian ini terletak pada pendekatannya yang berbasis fenomenologi, sehingga tidak banyak membahas aspek tafsir Alkitab secara mendalam, khususnya konteks sosial masyarakat Persia dalam teks Ester. Oleh karena itu, penelitian ini dapat diperluas di masa mendatang dengan mempertimbangkan kajian tafsir kontekstual, analisis historis-sosiologis, serta studi resepsi terhadap figur Wasti dalam tradisi keagamaan dan budaya modern, agar pemahaman terhadap kisah ini menjadi lebih komprehensif dan berlapis. Kepustakaan Abdullah. Irwan. Seks. Gender dan Reproduksi Kekuasaan. Tarawang Press, 2001. Dewanti. Erisa Nada. Ahmad Fauzi, dan Fatimah Tazuroh. AuRasisme dan Standar Kecantikan di Indonesia Pandangan Audre Lorde. Ay Journal of Feminism and Gender Studies 5, no. : 40Ae48. Adila Sekar Pambayun: Tubuh. Kuasa, dan Kecantikan: Membaca Ratu Wasti melalui Lensa A Ferryanto. Sanjaya. AuHina Lambang Negara. Zaskia Gotik Akhirnya Dimaafkan. Ay KapanLagi. com, 9 April 2016. Frederick. David. Megan Forbes. Brooke Jenkins. Tania Reynolds, dan Tia Walters. AuBeauty Standards. Ay Dalam The International Encyclopedia of Human Sexuality, 1 , disunting oleh Anne Bolin dan Patricia Whelehan. Wiley, 2015. https://doi. org/10. 1002/9781118896877. Herny. AuPerlakuan Beda Pemerintah pada Wulan Guritno dan Selebgram Daerah yang Promosikan Judi Online. Warganet Sebut Beauty Privilege. Ay Liputan6, 2023. https://liputan6. com/lifestyle/read/5389693/perlakuan-beda-pemerintah-pada-wulanguritno-dan-selebgram-daerah-yang-promosikan-judi-online-warganet-sebut-beautyprivilege?. Merino. Mariana. Josy Francisco Tornero-Aguilera. Alejandro Rubio-Zarapuz. Carlota Valeria Villanueva-Tobaldo. Alexandra Martyn-Rodryguez, dan Vicente Javier Clemente-Suyrez. AuBody Perceptions and Psychological Well-Being: A Review of the Impact of Social Media and Physical Measurements on Self-Esteem and Mental Health with a Focus on Body Image Satisfaction and Its Relationship with Cultural Gender Factors. Ay Healthcare . https://doi. org/10. 3390/healthcare12141396. Natar. Asnath Niwa. AuPerempuan melawan: Tafsir terhadap ratu Wasti dan dewi Drupadi dalam perspektif feminis. Ay KURIOS 9, no. Prasetya. Laras Shinta. AuMitos Kecantikan Perempuan Dalam Karya Seni Tiga Dimensi. Ay Jurnal Brikolase 15, no. : 71Ae92. Setio. Robert. AuWasti sebagai Kristik Ideologi. Ay Studia Philosophica et Theologica 11, no. : 39Ae58. Simatupang. Anita Rushadi. AuJangan Paksa Aku: Hermeneutik Feminis Terhadap Ester 1: Ay Jurnal Teologi Anugerah 9, no. : 45Ae56. Sukarno. Mahattama Banteng. AuIdeologi dalam Kitab Ester: Analisa Wacana Kritis Norman Fairclough terhadap Narasi Kepahlawanan pada Peredaksian Pertama. Ay Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 1, no. : 130Ae53. Sulaiman. Reza. AuKasus Jilat Es Krim Oklin Fia Dimaafkan MUI. Warganet Bandingkan dengan Lina Mukherjee: Gara-gara Good Looking?Ay Suara. Agustus 2023. https://w. com/lifestyle/2023/08/31/191000/kasus-jilat-eskrim-oklin-fia-dimaafkan-mui-warganet-bandingkan-dengan-lina-mukherjee-garagara-good-looking?. Sundriati Mangore. Art Thomas. AuKeberanian Ratu Wasti: Reinterpretasi Ester 1:1-22 Dari Perspektif Teologi Tubuh. Ay Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 10, no. 115Ae26. https://doi. org/10. 5281/ZENODO. Taylor. Marion Ann. Ruth. Esther. Disunting oleh Tremper Longman dan Scot McKnight. The Story of God Bible Commentary. Zondervan, 2020. Wolf. Naomi. Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan. HarperCollins Publisher, 1990.