Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 1-12 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/index. php/psikohumanika PENGALAMAN VAGUEBOOKING PENGGUNA MEDIA SOSIAL DENGAN KEPRIBADIAN HISTRIONIC DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESEHATAN MENTAL Yenny1. Dearly2. Christiany Suwartono3. Sri Wahyuning Astuti4* Fakultas Psikologi. Universitas Mercu Buana Fakultas Psikologi. Universitas Katholik Atmajaya Fakultas Komunikasi dan Bisnis. Universitas Telkom ARTICLE INFO ABSTRACT Article History Be accepted: July 2023 Approved: May 2024 Published: June 2024 The experience of using social media is very diverse, including Vaguebooking. Vaguebooking is a term that is often used to describe posts on social media that someone makes without clear information to attract the attention of their This upload is a sign that someone is experiencing mental problems. The desire to attract attention is generally done by those who have a histrionic personality, which is always wanting to attract attention and attention. This study aims to determine the influence of Vaguebooking on the mental health of social media users with histrionic personality as a mediator variable. This research method uses a Correlational Quantitative approach. The respondents Keywords : in this study were 200 people, which were taken using purposive random sampling using Google Forms. The scale used in this study was the mental health. Vaguebooking Scale ( = 0. Histrionic Personality was measured using social media. the Brief Histrionic Personality Scale ( = 0. , and mental health was measured using Well Being from the Organization for Economic Co-operation and Development ( = 0. The results of the study show that there is a positive influence between the Vague Booking Experience and Mental Health. Histrionic personality as a variable mediator also contributed directly by 78%. Alamat Korespondensi: Jl. Meruya Ilir Jakarta Barat Jl. Sudirman Jakarta Jl. Telekomunikasi E-mail: puc@mercubuana. dearly@mercubuana. csuwartono@gmail. sriwahyuning@telkomuniversity. p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 Yenny1. Dearly2. Christiany Suwartono3. Sri Wahyuning Astuti4* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 INFO ARTIKEL Sejarah Artikel Diterima : Juli 2023 Disetujui: Mei 2024 Dipublikasikan: Juni 2024 Kata Kunci: media sosial. Hal 1-12 ABSTRAK Pengalaman menggunakan media sosial sangat beragam diantaranya Vaguebooking. Vaguebooking adalah istilah yang sering sekali digunakan untuk menggambarkan postingan di media sosial yang dilakukan seseorang tanpa informasi yang jelas dengan tujuan untuk menarik perhatian dari pembacanya. Unggahan ini menjadi penanda bahwa seseorang tengah mengalami masalah Keinginan untuk menarik perhatian umumnya dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian histrionic yaitu selalu ingin menarik perhatian dan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Vaguebooking terhadap Kesehatan mental pengguna media sosial dengan keperibadian histrionic sebagai variabel mediator. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Kuantitatif Korelasional. Responden dalam penelitian ini berjumlah 200 orang, yang diambil dengan menggunakan purposive random sampling dengan menggunakan Gform. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Vaguebooking ( = 0,. Kepribadian Histrionic diukur dengan menggunakan the brief histrionic personality scale ( = 0,. dan kesehatan mental diukur dengan menggunakan Well Being dari the Organization for Economic Co-operation and Development ( = 0,. Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh positif antara Pengalaman Vague Booking dengan Kesehatan Mental. Kepribadian Histrionic sebagai mediator variabel juga memberikan sumbangan langsung sebesar PENDAHULUAN Penggunaan Media Sosial menghasilkan pengalaman yang beragam bagi penggunanya. Inklusi dan ekslusi sosial adalah dua hal yang terkait dengan penggunaan media sosial. Baik inklusi maupun ekslusi keduanya terbukti berkontribusi besar terhadap pembangunan manusia khusunya terkait perkembangan mental mereka. Kesehatan mental adalah Aukeadaan kesejahteraan di mana individu menyadari dirinya kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat bekerja secara produktif dan bermanfaat, dan mampu memberikan kontribusi untuk dirinya sendiri (Astleitner et al. , 2. Sejumlah penelitian terkait efek penggunaan media sosial memiliki temuan yang sangat beragam terhadap Kesehatan mental. Beberapa hasil diantaranya terkait kecilnya pengaruh penggunaan media sosial dengan Kesehatan mental hingga tingginya pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental seseorang. Beberapa hasil penelitian tidak cukup mendukung kesimpulan bahwa penggunaan media sosial memiliki pengaruh terhadap perkembangan Hasil penelitian longlitudinal terkait penggunaan media sosial dan Kesehatan mental juga menunjukkan hasil yang negatif (Astuti et al. , 2. Model seperti itu meningkatkan kekuatan penelitian yang lebih jelas dan membantu untuk mengidentifikasi faktor yang tidak diketahui atau untuk mengintegrasikan temuan penelitian yang tersebar. Beberapa model terkait penelitian efek media sosial terhadap Kesehatan mental telah membedakan antara faktor biologis dan sosial, proses psikologis dan indikator Kesehatan jiwa (Cunningham. Hudson. , & Harkness, 2. Sebagai contoh di tahun 2018 Glaser menfokuskan penelitiannya pada Kecanduan media sosial dan modal sosial. Kualitas tidur, harga diri yang rendah, citra tubuh, jenis kelamin intensitas penggunaan media sosial, kebutuhan media sosial, dan perbandingan sosial juga menjadi bahan kajian yang memediasi efek penggunaan media sosial dengan Kesehatan mental (Glaser. Liu. Hakim. Vilar. , & Zhang. Ambiguitas ini tentu saja memberikan kesempatan kepada peneliti lain untuk mengeksplore fenomena ini. Peneliti kedepan harus lebih fokus pada pengujian model proses psikologis yang memediasi penggunaan media sosial dan kesehatan mental. Pemesanan samar-samar adalah bentuk unik dari ambiguitas strategis ditemui di Facebook. Pemesanan samar-samar terjadi ketika sebuah posting atau komentar di Facebook sengaja tidak Yenny1. Dearly2. Christiany Suwartono3. Sri Wahyuning Astuti4* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 1-12 jelas dan memungkinkan multitafsir. Individu dalam jaringan pengguna Facebook yang menghadapi pesan strategis ambigu tanpa konteks harus mengajukan pertanyaan untuk mengungkap maksud sebenarnya dari pesan tersebut. Karena Facebook adalah konteks di mana individu berinteraksi dengan beberapa jenis pengguna berbeda di situs mereka (Child & Starcher. Seiring dengan perkembangan penggunaan media. Vaguebooking sekarang meluas ke media sosial yang lain mulai dari twitter. Tik Tok dan Twitter. Penelitian terkait penggunaan twitter dengan status Vaguebooking yang dilakukan penggunanya dilakukan di Korea Selatan. Hasil temuan penelitian menunjukkan isi tweet diantaranya ada yang menunjukkan pesan dan ekspresi bunuh diri yang akan dilakukan oleh pemilik twitter. Pesan ini dilakukan secara terus menerus atau Vaguebooking (Kim et al. , 2. Pengalaman beragam dari penggunaan media sosial menjadi kajian serius para peneliti. Sejumlah penelitian telah dilakukan terkait dengan pengalaman menggunakan media sosial. Mulai dari Vaguebooking, victim of ghosting dan fear of missing out. Meski Ketiganya memiliki karakter dan ciri khusus yang mempengaruhi perkembangan Kesehatan mental penggunanya, namun Vaguebooking menjadi kebiasaan yang sering dilakukan pengguna media sosial karena terkait kepuasaan diri dan ketagihan. Vaguebooking adalah istilah yang sering sekali digunakan untuk menggambarkan postingan di media sosial yang dilakukan seseorang. Vaguebooking adalah Unggahan pada media sosial yang tidak memberikan informasi yang jelas, yang bertujuan untuk menarik perhatian dari pembacanya. Umumnya unggahan ini menjadi penanda bahwa seseorang tengah mengalami masalah mental (Glaser. Liu. Hakim. Vilar. , & Zhang, 2. Vaguebooking seringkali juga dianggap strategi komunikasi pengguna media sosial agar mendapatkan respon maupun perhatian dari pengguna media sosial yang lain. Pesan yang mereka sampaikan di media sosial yang mereka miliki sengaja dibuat kabur meski tidak melanggar aturan apapun. Tentu saja pesan yang kabur ini memungkinkan banyak atribusi makna dari follower atau pembaca mereka. Meski dianggap ambigu namun Vaguebooking dianggap sebagai salah satu cara untuk menghindari isu sentitif namun merasa pelu dikatakan. Secara strategis pesan ambigu juga dapat membantu menghindari perasaan terluka atau pengungkapan terlalu banyak informasi sensitif (Keohane et al. , 2. Vaguebooking juga bisa berupa memposting gambar namun tanpa caption yang jelas, sehingga memunculkan multitafsir. Namun, apapun bentuknya, seringkali Vaguebooking ini dianggap sebagai salah satu upaya untuk menarik perhatian pengguna media sosial yang lain. Pengguna media sosial yang melakukan pesan Vaguebooking ini sejatinya ingin menginformasikan kepada pengguna media sosial lain ingin mendapatkan perhatian (Berryman et al. , 2. Keinginan untuk menarik perhatian umumnya dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian histrionic. American Psychiatric Association menjelaskan ciri utama gangguan kepribadian ini adalah kebutuhan yang kuat untuk menjadi pusat perhatian dan mendapatkan Kepribadian histrionik menggambarkan seseorang yang harga dirinya bergantung pada penilaian orang lain. Orang dengan type ini umumnya juga berbuat dramatis. Orang dengan Gangguan Kepribadian Histrionik sebenarnya memiliki keterampilan sosial yang baik, namun mereka cenderung menggunakan keterampilan ini untuk memanipulasi orang lain. Sehingga mereka bisa menjadi pusat perhatian. Individu dengan HPD senang menunjukkan emosi yang berlebihan, kecenderungan menganggap segala sesuatu secara emosional, dan merupakan pencari perhatian. Sehingga, jika seseorang senang meng-update status atau kondisinya di media sosial, mungkin saja ia mengidap HPD (Olson & Maio, 2. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan ada hubungan positif antara kepribadian histrionik dan Vaguebooking pengguna media sosial. Mereka yang memiliki kepribadian Histrionik ini sering sekali memanipulasi media sosial mereka dalam rangka mendapatkan perhatian orang lain. Saat mendapatkan komentar atau pertanyaan dari apa yang diposting di media sosial, maka mereka akan merasa senang. Mereka bahkan tidak segan-segan untuk selalu Yenny1. Dearly2. Christiany Suwartono3. Sri Wahyuning Astuti4* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 1-12 melihat berapa banyak yang melihat postingan yang dilakukan dan berapa banyak yang memberikan komentar (Astleitner et al. , 2. Meskipun tidak melanggar aturan, namun Vaguebooking dianggap sebagai Perilaku yang mengganggu pengguna media sosial lainnya. Hal ini karena dalam satu kurun waktu mereka memposting informasi maupun status yang ambigu dalam satu waktu hingga berkali-kali sehingga memenuhi beranda orang lain. Orang dengan Vaguebooking bahkan sering kali meluapkan apapun yang dirasakan di media sosial, baik itu bermaksud untuk menyindir orang lain, kekesalan maupun kemarahan (Berryman et al. , 2. Perilaku Vaguebooking pada mereka yang juga mengalami Gangguan kepribadian Histrionic, jika dilakukan terus menerus dikhawatirkan akan berpengaruh pada Kesehatan mental Secara mental, penggunaan media sosial berlebihan dapat menyebabkan depresi, kecemasan, dan OCD (Obsessive Compulsive Disorde. karena ada ketidakmampuan mengontrol perilaku berulang untuk mengakses medsos dan seterusnya. Meski masih menimbulkan banyak ambiguitas, namun sejumlah penelitian menemukan ada korelasi positif penggunaan media sosial dengan Kesehatan mental mereka. Perilaku mengakses media sosial yang terus menerus yang sudah pada taraf heavy menyebabkan gangguan kesehatan baik fisik maupun mental. Depresi, kesepian dan gangguan kepribadian diantaranya menjadi rangkaian symptom yang banyak muncul. Praktisnya, mereka yang menggunakan media sosial mulai dengan melakukan scrolling dengan jangka waktu yang lama dan terus menerus akan mempengaruhi pola pikir, perasaan dan perilaku. Paparan media sosial dalam hal ini membuat mereka memiliki keinginan untuk memperolah capaian yang sama dengan apa yang disaksikan sehingga melakukan perbandingan sosial, lebih luas mereka akan menciptakan impression yang seolah olah dengan memposting maupun melakukan update status seolah-olah (Hofer & Hargittai, 2. Fenomena ini menjadi semakin besar pengaruhnya pada individu yang memiliki gangguan kepribadian khususnya histrionic maupuan narsistic. Kedua kepribadian ini menggunakan media sosial sebagai ajang untuk memuaskan kebutuhan tampil dan mencari perhatian (Savci et al. , 2. Menerima like di media sosial menghasilkan perasaan senang secara fisiologis dengan memicu siklus penghargaan. Perasaan senang ini disebabkan oleh aliran dopamin di pusat penghargaan di otak. Manusia dikontrol oleh perasaan menyenangkan, sehingga cenderung mengejar hal-hal yang menyenangkan. Seseorang yang berusaha mengubah kebiasan buruk tahu bagaimana berat untuk melakukannya (Grau. Kleiser. , & Bright, 2. Hal tersebut adalah karena dopamine mengantar manusia bertindak sesuatu yang menimbulkan penghargaan yaitu Kepuasan ketika menggunakan media sosial menimbulkan rasa ingin mengulang untuk mendapatkan kepuasan yang sama lagi, karena manusia disetir oleh perasaan senang dan kepuasan (Cunningham et al. , 2. Kecanduan media sosial inilah yang menimbulkan masalah kesehatan mental diantaranya depresi, fear of missing out, kesepian dan perilaku merenung. Sejumlah perilaku lain juga dilaporkan muncul diantaranya peningkatan narsistic dan histrionic. Media sosial bagi sebagain orang menjadi alat untuk memuaskan kebutuhan mereka untuk selalu menjadi pusat perhatian (Zsila et al. , 2. Berdasarkan latar belakang diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman Vaguebooking pengguna media sosial dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental dengan Kepribadian histrionic sebagai variabel mediator. Penelitian ini juga hendak mengetahui gambaran kepribadian histrionic dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental pengguna media Hipotesis dalam penelitian ini adalah kepribadian histrionic memediasi vaguebooking dan Kesehatan Mental Pengguna media sosial. Yenny1. Dearly2. Christiany Suwartono3. Sri Wahyuning Astuti4* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 1-12 METODE Partisipan Partisipan pada penelitian ini adalah mereka yang aktif menggunakan media sosial baik itu facebook, twitter maupun Instagram dengan tanpa batasan rentang usia. Subjek memiliki pengalaman vaguebooking Partisipan dalam penelitian ini diambil secara random atau menggunakan teknik random sampling, yakni dengan menggunakan bantuan Google Form yang disebar pada mahasiswa yang berkuliah di wilayah Jabodetabek dan Bandung. Hasil Google form setelah melalui proses screening mendapatkan jumlah responden sebanyak 200 orang. Pengukuran Skala Vaguebooking hasil adaptasi dari Hermann Astleitner . , yang terdiri dari 11 item pertanyaan yang 3 diantaranya merupakan adaptasi ulang dari Berryman et al. ( = Variabel Kepribadian Histrionic diukur dengan menggunakan the brief histrionic personality scale (Ferguson & Negy, 2. yang terdiri dari 4 item ( = 0,. Sementara itu untuk mengukur kesehatan mental menggunakan pendekatan alat ukur Well Being dari the Organization for Economic Co-operation and Development (OECD, 2. yang terdiri dari 22 item (Astleitner et al. , 2. ( = 0,. Analisis Data Pengujian data penelitian menggunakan uji normalitas, linieritas, regresi berganda untuk hipotesis mayor, korelasi product moment dari Karl Pearson untuk hipotesis minor, dan uji deskriptif statistik untuk melihat gambaran kategorisasi serta sumbangan efektif dari masing masing variabel. Analisis data dilakukan dengan bantuan program komputer Jamovi. HASIL Berdasarkan hasil perhitungan dari kuesioner yang ada, jumlah responden terbanyak adalah wanita yakni sebesar 145 orang dan laki-laki sebanyak 55 orang. Karakteristik kepemilikan media responden sangat beragam, namun umumnya mereka memiliki media sosial lebih dari 3 yaitu sebanyak 105 orang, disusul 3 media sosial sebanyak 56 orang dan 2 media sosial sebanyak 27 orang, sedangkan sisanya mengaku hanya memiliki 1 media sosial yaitu sebanyak 12 orang. Sementara itu berdasarkan sebaran media sosial yang dimiliki, umumnya responden memiliki mesia sosial yang memang tengah booming atau diminati oleh banyak orang. Hampir setiap responden memiliki Instagram dan TikTok sebagai alat interaksi sekaligus upload status, foto, dan video, sedangkan sisanya dengan sebaran variatif antara Facebook. Twitter, dan Namun demikian, 8 responden tercatat memiliki hampir semua media sosial. Sementara itu, hasil reliabilitas alat ukur setelah dilakukan perhitungan statistik adalah sebagai berikut: Tabel 1. Reliabilitas alat ukur Reliability Vaguebooking Kepribadian Histrionic Kesehatan Mental Berdasarkan hasil perhitungan statistik, nilai reliabilitas alat ukur untuk Vaguebooking sebesar ,8584, kepribadian histrionic ,722 dan kesehatan mental . 655, dengan nilai seperti yang tertera di tabel yakni diatas 0,600 maka alat ukur bersifat reliable dan mengukur apa yang seharusnya diukur. Yenny1. Dearly2. Christiany Suwartono3. Sri Wahyuning Astuti4* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Total Subjek Mean 26,06 Tabel 2. Vaguebooking Responden Skor Skor Terendah Tertinggi Hal 1-12 Standar Deviasi Berdasarkan tabel diatas, skor mean Vaguebooking sebesar 26,06 (SD=7,. , dengan rentang skor terendah berada diangka 11 dan skor tinggi adalah 42. Sementara itu hasil kategorisasi Intensitas penggunaan media responden dijelaskan dalam tabel dibawah ini Tabel 3. Kategorisasi Vaguebooking Skor Kategori Frekuensi Presentase X < 18,5 19 O x< 34 34,5O X Tinggi Total Responden yang berada dalam rentang Tinggi pernah mengalamai Vaguebooking berjumlah 31 orang yaitu 15,4 %, sedangkan 121 orang berada pada rentang sedang atau sejumlah 63% dan 41 orang dalam kategori rendah atau sebesar 21,5%. Variabel Histrionic Tabel 4. Gambaran Histrionic dan Kesehatan Mental Responden Total Mean Skor Skor Subjek Tertinggi Standar Deviasi Kesehatan 50,64 8,375 Mental Berdasarkan tabel diatas, skor mean Histrionic sebesar 8,08 (SD=3,. dan Skor Mean Kesehatan Mental Sebesar 50. 64 (SD=8,. Sementara itu hasil kategorisasi Histrionic dan Kesehatan Mental responden dijelaskan dalam tabel dibawah ini Tabel 5. Kategorisasi Histrionic Skor Kategori Frekuensi Presentase X<5 Rendah 5 O x< 11 Sedang 5 O X Tinggi Total Responden yang berada dalam rentang kepribadian histrionic tinggi berjumlah 40 orang dan rendah 50 orang, sementara responden dengan rentang histrionic berada pada level sedang berjumlah 110 orang atau sebesar 55%. Yenny1. Dearly2. Christiany Suwartono3. Sri Wahyuning Astuti4* Hal 1-12 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Tabel 6. Kategorisasi Kesehatan Mental Responden Skor Kategori Frekuensi Presentase X < 42 Rendah 42,5 O x< 59 Sedang 59,5 O X Tinggi Total Sementara itu pada tabel kesehatan mental, rata-rata responden berada pada rentang sedang yaitu sebanyak 146 orang atau 73,2% dan kategori rendah dan tinggi sama yakni sebanyak 27 atau sebanyak 13. 5% orang. Tabel 7. Uji beda Kesehatan Mental berdasarkan jenis kelamin Subjek Mean Standar Deviasi Laki Laki Perempuan Sig Berdasarkan tabel diatas, terlihat nilai signifikansi 2 arah . -taile. 062 > 0. Sehingga tidak terdapat perbedaan skor point yang berarti antara laki laki dan perempuan. Hasil Analisis Data dan Uji Hipotesis Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk menguji normal atau tidaknya suatu sebaran data menggunakan uji Shapiro-Wilk dari Jamovi. Apabila nilai probabilitas uji Shapiro-Wilk dari lebih besar dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa data terdistribusi normal, dan sebaliknya apabila nilai probabilitas uji Shapiro-Wilk kurang dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa data tidak terdistribusi dengan normal Kesehatan Mental Histrionic Tabel 8. Uji Normalitas Kolmogrov-smirnov Sig 0, 972 Kesimpulan Terdistribusi Normal Terdistribusi Normal Berdasarkan table diatas nilai probabilitas > 0. 005 maka data terdistrusi dengan normal. Yenny1. Dearly2. Christiany Suwartono3. Sri Wahyuning Astuti4* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 1-12 Uji Analisis Path Analisis Jalur Persamaan Regresi dengan variabel mediator dapat digambarkan sebagai Gambar 1: Analisis Path Tabel 9. Analisis Path Estimate SE Vaguebooking Ie Histrionic (Jalur . 0,245 0221 11,051 <. Ie Kesehatan Histrionic Mental 0,204 0,2359 0,865 . Vaguebooking Ie Kesehatan Mental 0,177 0,0937 1,885 0,059 . Berdasarkan Tabel diatas dapat disimpulkan, karena jalur a dan b signifikan, maka ada peran mediasi dari variabel Kepribadian Histrionic. Variabel mediator dalam hal ini Kepribadian Histrionic memberikan efek langsung sebesar 78% dan efek tidak langsung 22%. Hasil tersebut sekaligus menggambarkan bahwa efek mediasi yang ditimbulkan adalah partial. Effect Indirect Direct Total Estimate 0,1766 0,2265 Tabel 10. Mediasi Variabel % mediation Dengan hasil diatas, maka hipotesis yang menyebutkan bahwa kepribadiaon histrionic memediasi Vaguebooking dan Kesehatan Mental diterima. Yenny1. Dearly2. Christiany Suwartono3. Sri Wahyuning Astuti4* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 1-12 PEMBAHASAN Pengalaman maupun motivasi penggunaan media sosial bagi seseorang sangat beragam. Selain memenuhi kebutuhan untuk selalu terhubung, penggunaan media sosial memiliki tujuan yang lain. Bagi sebagian orang penggunaan media sosial untuk menarik perhatian orang lain. Banyak cara dilakukan untuk menarik perhatian orang lain di media sosial diantaranya dengan mengupdate status secara terus menerus atau Vaguebooking. Vaguebooking umumnya dilakukan untuk menyindir atau menarik perhatian orang lain. Selain status yang ditulis tidak jelas, mereka terus menerus menulis status secara impulsif (Child & Starcher, 2. Berdasarkan hasil perhitungan statistik, responden berada dalam kategori sedang untuk vaguebooking, kesehatan mental maupun histrionic. Selain itu ada mediasi langsung dari kepribadian histrionic terhadap vaguebooking dan kesehatan mental dengan sumbangan langsung sebsar 78% dan tidak langsung sebesar 22%. Dalam sehari rata-rata responden membuka media sosial 1 kali sehari yaitu sebanyak 148 orang, sedangkan sisanya yakni sebanyak 39 orang memiliki kebiasaan yang merata yakni membuka media sosial 2-3 kali sehari, dan 4-5 kali sehari sebanyak 13 orang. Dari segi waktu, responden membuka media sosial paling banyak dikisaran 3-5 jam per hari buka yakni sebanyak 63 orang, disusul 5-8 jam sebanyak 57 orang, 1-3 jam sebanyak 45 orang, lebih dari 10 jam sebaanyak 16 orang, 10 jam sebanyak 12 orang, dan sisanya 7 orang membuka kurang dari 1 jam. Untuk aktifitas saat menggunakan media sosial, memang sangat beragam umumnya responden membuka media sosial untuk melakukan semua aktifitas yang bisa dilakukan di media sosial, mulai dari melihat beranda, upload status, melakukan komunikasi, bermain game, belanja online hingga sharing dan update berita. Responden yang masuk dalam kategori ini adalah sebanyak 43 orang, disusul mereka yang membuka media sosial hanya untuk melihat beranda sebanyak 83 orang, dan hanya melakukan satu aktifitas yakni update berita sebanyak 24 orang, melakukan komunikasi dengan follower sebanyak 18 orang, bermain game sebanyak 13 orang, upload status, foto, video sebanyak 11 orang, dan sharing status sebanyak 7 orang. Banyak temuan yang menghubungkan kebiasaan Vaguebooking dengan kepribadian Gangguan kepribadian histrionik adalah gangguan klinis yang diakui oleh Diagnostik dan Manual Statistik Gangguan Mental. Gangguan ini ditandai dengan kebutuhan menjadi pusat Individu dengan gangguan kepribadian histrionik sering memenuhi kebutuhan akan perhatian ini melalui ekspresi emosi yang berlebihan. Individu dengan kepribadian Histrionic mungkin merasa frustrasi ketika orang tidak memperhatikan mereka (Parsafar & Davis, 2. Individu histrionik juga kesulitan mengukur seberapa intim hubungan itu, dan mungkin mencari tahu dukungan emosional dari orang-orang yang tidak dekat dengan mereka (Sprock, 2. Pesan yang disampaikan yang tidak jelas biasanya merupakan perilaku mencari perhatian dan terlalu mendramatisir. Pesan tersebut juga umumnya dilakukan untuk mencari dukungan emosi atau interaksi dengan pengguna lain. Seperti halnya perilaku Vaguebooking yang merupakan perilaku yang mencari perhatian dan terlalu mendramatisir dan sering digunakan untuk secara tidak langsung menawar dukungan emosional atau interaksi dari pengguna lain (Savci et al. Kondisi tersebut, sejalan dengan temuan dari Chloe Berryman yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepribadian histrionic dengan kecenderungan Vaguebooking. Umumnya mereka yang melakukan perilaku Vaguebooking memiliki kepribadian Menulis pesan secara implisit dianggap sebagai salah satu cara untuk menarik perhatian orang lain. Responden berharap dengan menulis pesan yang tidak lengkap atau implisit orang yang membaca pesan akan penasaran dan pada akhirnya akan menanyakan atau menjalain komunikasi lebih lanjut (Berryman et al. , 2. Yenny1. Dearly2. Christiany Suwartono3. Sri Wahyuning Astuti4* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 1-12 Pesan yang tidak jelas dan dilakukan terus menerus menurut Chandler McClellan mengiindikasikan adanya masalah yang serius. Hasil kajian terhadap 176 juta tweet selama tahun 2011 hingga 2014 menyebutkan, umumnya pesan yang disampaikan oleh pemilik media sosial mengindikasikan adanya masalah yang sangat seris. Chandler McClellan, seorang peneliti di Pusat Statistik dan Kualitas Kesehatan Perilaku, bagian dari Administrasi Layanan Penyalahgunaan Zat dan Kesehatan Mental AS menjelaskan bahwa isi pesan dalam media sosial dapat diperiksa untuk menentukan siapa yang beresiko tinggi mengalami depresi atau bunuh diri (McClellan et al. , 2. Depresi adalah indikasi seseorang memiliki kondisi kesehatan mental tidak seimbang. Hermann Astleitner dalam penelitiannya menunjukan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara Vaguebooking yang dilakukan pengguna media sosial dengan kondisi kesehatan mental mereka (Astleitner et al. , 2. Semakin sering seseorang melakukan Vaguebooking, maka kondisi kesehatan mental mereka semakin rendah. Hasil penelitian ini juga menghasilkan temuan ada pengaruh yang signifikan antara Vaguebooking yang dilakukan responden dengan kondisi kesehatan mental mereka (Berryman et al. , 2. Menulis pesan bagi pengguna media sosial adalah hak masing-masing pengguna media Namun batasan bahwa hak penggunaan media sosial dibatasi oleh aturan tertentu juga harus diperhatikan oleh setiap pengguna media sosial. Menulis status dengan impulsif dan ambigu hanya akan membuat orang lain terganggu. Menulis status hanya untuk menarik perhatian orang lain juga memerlukan penanganan yang serius karena mengindikasikan adanya gangguan kesehatan mental (Shabahang et al. , 2. Isu kesehatan mental menjadi hal yang perlu diperhatikan mengingat penggunaan media sosial yang sangat masiv yang memberikan beragam efek. Efek penggunaan media sosial dengan sejumlah gejala kesehatan mental sellau menarik untuk mendapatkan bahan kajian. Karena itulah diperlukan intervensi yang serius terhadap penggunaan media sosial dan kaitannya dengan Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan detox media sosial, yakni hanya memilih media sosial yang benar benar dibutuhkan, dan memiliki batasan waktu atas penggunaan media sosial (Astuti & Subandiah, 2. SIMPULAN Vaguebooking memiliki hubungan positif dengan kepribadian Histrionic dan Kesehatan mental penggunanya. Hal ini karena pengguna yang melakukan perilaku Vaguebooking memiliki ciri yang hampir sama dengan perilaku kepribadian histrionic. Perilaku Vaguebooking umumnya sering sekali memposting status secara random dan terus menerus dengan maksud mendapatkan perhatian dari pengguna media sosial yang lain. Sama halnya dengan histrionic, mereka cenderung mencari perhatian dengan melakukan Tindakan apapun. Media sosial dalam hal ini menjadi alat bagi individu yang memiliki kepribadian histrionic untuk mencari perhatian dengan mengupdate status secara terus menerus tanpa pesan yang jelas. Kedua perilaku tersebut memiliki pengaruh dengan kondisi kesehatan mental. Pengguna media sosial yang secara terus menerus memuaskan histrionic nya akan mengalami gangguan mental, diantaranya depresi dan fear of missing out. Pesan yang disampaikan dalam media sosial memiliki kaitan dengan depresi maupun bunuh diri. Yenny1. Dearly2. Christiany Suwartono3. Sri Wahyuning Astuti4* Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 1-12 DAFTAR PUSTAKA