Safira. A eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 PARENTAL INTERPERSONAL COMMUNICATION IN THE PREVENTION OF EARLY MARRIAGE AMONG ADOLESCENTS IN MEDAN SUNGGAL Arina Safira 1*. Indira Fatra Deni 2 1,2. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan *) corresponding author Keywords Abstract Early marriage prevention, parental communication, social Preventing early marriage poses significant challenges for parents in Medan Sunggal, exacerbated by social influences and peer pressure. Effective communication emerges as a crucial strategy in navigating these complexities, bridging generational gaps and addressing the impact of social media on This study examines the experiences of parents in Medan Sunggal through qualitative interviews with individuals such as Ibu SR and Pak RD. Their insights highlight the effective use of open dialogue and real-life examples to educate children about the risks of early marriage. Parental efforts in fostering open communication have proven instrumental in helping adolescents understand the importance of delaying marriage until they are emotionally and financially prepared. By discussing future plans and illustrating real-world consequences, parents strengthen familial bonds and empower children to make informed decisions amidst societal pressures. INTRODUCTION Pernikahan dini merupakan masalah yang mengkhawatirkan di banyak komunitas, termasuk di Kecamatan Medan Sunggal. Dampak negatif pernikahan dini terhadap anak remaja termasuk penghentian pendidikan, risiko kesehatan tinggi, dan kemungkinan terjerumus dalam kemiskinan. Pernikahan dini menjadi tantangan serius di Kecamatan Medan Sunggal dan banyak komunitas lainnya, dengan dampak yang merugikan terhadap anak remaja yang meliputi penghentian pendidikan, risiko kesehatan yang tinggi, dan potensi kemiskinan. Anak-anak remaja yang menikah pada usia yang masih sangat muda seringkali terpaksa menghentikan pendidikan mereka, mengurangi peluang masa depan yang lebih cerah. Selain itu, mereka juga berisiko menghadapi komplikasi kesehatan yang serius, baik secara fisik maupun mental, serta kemungkinan terjerumus dalam kemiskinan karena belum siap secara finansial untuk menghadapi tanggung jawab sebagai pasangan dan orang tua. Oleh karena itu, perlunya upaya yang serius dalam pencegahan pernikahan dini, dengan memperkuat peran orang tua dan meningkatkan komunikasi interpersonal untuk membimbing anak-anak remaja menghindari praktik pernikahan dini dan menggapai masa depan yang lebih baik (Siregar et al. , n. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, 251 | P a g e Safira. A eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 terlihat bahwa 33,76% pemuda Indonesia menikah pada usia 19-21 tahun, sementara 27,07% memiliki usia pernikahan pertama di rentang 22-24 tahun, dan 19,24% menikah pada usia 16-18 tahun. Saat dianalisis berdasarkan jenis kelamin, perbedaan usia pernikahan antara pemuda laki-laki dan perempuan terlihat signifikan. Pemuda laki-laki cenderung menikah lebih tua, dengan 35,21% menikah pada usia 22-24 tahun, dan 30,52% pada usia 25-30 tahun. Di sisi lain, 37,27% pemuda perempuan menikah pada usia 19-21 tahun, dan 26,48% menikah pada usia 16-18 tahun. Data ini menggambarkan dinamika pernikahan pemuda di Indonesia dan menunjukkan pentingnya pemahaman akan faktorfaktor yang memengaruhi keputusan pernikahan, terutama terkait usia dan jenis kelamin. Tabel 1. Data Pernikahan Dini Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 Total Pemuda Pemuda Laki-laki Usia Pernikahan . (%) Pemuda Perempuan (%) (%) Peran orang tua dalam membimbing anak-anak mereka sangatlah penting, terutama dalam konteks pencegahan pernikahan dini. Komunikasi interpersonal yang terbuka antara orang tua dan anak remaja menjadi kunci penting dalam membentuk pemahaman yang mendalam, sikap yang positif, dan perilaku yang sehat terkait dengan institusi pernikahan. Melalui dialog yang terbuka, orang tua dapat memberikan informasi yang jelas mengenai risiko dan konsekuensi dari pernikahan dini, serta memperkuat nilai-nilai yang mendorong anak untuk menunda pernikahan hingga mereka siap secara fisik, emosional, dan mental. Selain itu, orang tua juga dapat memberikan contoh dan mendukung anak-anak mereka dalam membangun keterampilan interpersonal, pengambilan keputusan yang baik, dan rasa percaya diri yang kuat, yang merupakan faktor-faktor penting dalam menghadapi tekanan sosial atau budaya yang mungkin mendorong pernikahan dini. Dengan demikian, komunikasi interpersonal yang efektif antara orang tua dan anak remaja bukan hanya membantu mencegah pernikahan dini, tetapi juga memperkuat hubungan keluarga dan memberikan pondasi yang kokoh bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka menuju masa dewasa (Lestari, 2. Penelitian tentang komunikasi interpersonal orang tua dalam pencegahan pernikahan dini terhadap anak usia remaja di Kecamatan Medan Sunggal sangat penting untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang masalah ini di tingkat lokal. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya pencegahan pernikahan dini dan peningkatan kesejahteraan anak remaja di komunitas tersebut. Sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana komunikasi interpersonal memengaruhi hubungan antara orang tua dan anak, serta mengidentifikasi peran penting komunikasi interpersonal dalam mencegah pernikahan usia dini pada anak remaja. Selain 252 | P a g e Safira. A eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan yang mungkin dihadapi oleh orang tua dalam menerapkan komunikasi interpersonal guna mencegah pernikahan usia dini pada anak remaja. Dengan demikian, fokus utama dari penelitian ini adalah untuk memahami dinamika komunikasi antara orang tua dan anak, serta untuk mengeksplorasi bagaimana komunikasi interpersonal dapat menjadi faktor kunci dalam mencegah pernikahan usia dini di kalangan remaja. THEORY OF THE RESEARCH Komunikasi Interpersonal Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran pesan, gagasan, dan informasi antara dua atau lebih individu yang terlibat dalam interaksi langsung atau tatap muka. Ini melibatkan berbagai elemen seperti ucapan, ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan bahasa tubuh lainnya yang digunakan untuk menyampaikan makna dan membangun hubungan Komunikasi interpersonal mencakup aspek-aspek seperti mendengarkan, berbicara, memahami, dan memberikan umpan balik, dan sangat penting dalam membentuk hubungan sosial, membangun kepercayaan, dan memperkuat ikatan antarindividus. (Budyatna, 2. Menurut Hafied Cangara, komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang terjadi antara dua individu atau lebih dalam suatu konteks yang melibatkan pertukaran pesan, emosi, dan informasi secara langsung. Ini melibatkan aspekaspek seperti penggunaan bahasa verbal dan non-verbal, mendengarkan, memahami, dan memberikan respons terhadap pesan yang disampaikan oleh pihak lain. Komunikasi interpersonal memainkan peran penting dalam membentuk hubungan antarindividu, memfasilitasi pemahaman, serta menciptakan dan memelihara ikatan sosial dan emosional. (Suzanna et al. , 2. Jadi. Komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang terjadi antara dua individu atau lebih dalam suatu konteks yang melibatkan pertukaran pesan, gagasan, emosi, dan informasi secara langsung. Ini melibatkan penggunaan bahasa verbal dan non-verbal, mendengarkan, memahami, dan memberikan respons terhadap pesan yang disampaikan oleh pihak lain. Komunikasi interpersonal merupakan fondasi dari hubungan antarindividu yang sehat dan produktif, serta memainkan peran penting dalam membentuk ikatan sosial, memperkuat kerja tim, dan membangun kepercayaan. (Hardiyanto et al. , 2. Konsep Komunikasi Interpersonal Orang Tua Komunikasi interpersonal orang tua merupakan fenomena yang melibatkan pertukaran pesan baik secara verbal maupun nonverbal antara orang tua, yang membentuk pola komunikasi khas dalam konteks keluarga. Teori ini mendasarkan diri pada pentingnya aspek-aspek seperti pemahaman, penghargaan, serta dukungan antar orang tua dalam mendukung perkembangan anak. Dalam kerangka komunikasi interpersonal orang tua, pemahaman melibatkan kemampuan untuk mengerti perspektif, kebutuhan, dan perasaan masing-masing anggota keluarga. Penghargaan mengacu pada pengakuan atas keunikan dan kontribusi setiap individu dalam keluarga, serta pentingnya memberikan apresiasi terhadap pencapaian dan upaya bersama. Dukungan dalam komunikasi orang tua menekankan pentingnya memberikan sokongan emosional, fisik, dan psikologis satu sama lain, sehingga menciptakan lingkungan yang mendukung bagi perkembangan dan kesejahteraan anakanak. Dengan demikian, komunikasi interpersonal orang tua bukan hanya tentang pertukaran pesan, tetapi juga tentang menciptakan hubungan yang penuh pengertian, penghargaan, dan dukungan dalam lingkungan keluarga (Rompas et al. , 2. Komunikasi 253 | P a g e Safira. A eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 interpersonal orang tua merupakan fenomena yang melibatkan lebih dari sekadar pertukaran kata-kata di antara orang tua dalam lingkungan keluarga. Lebih jauh lagi, komunikasi ini mencakup seluruh spektrum interaksi verbal dan nonverbal, yang meliputi ekspresi emosional yang dalam, bahasa tubuh yang menggambarkan perasaan, serta tingkat pemahaman yang mendalam antara kedua belah pihak. Dalam setiap pertukaran komunikasi, baik yang terucap maupun yang tersirat, terdapat penafsiran yang saling berdampingan, refleksi nilai-nilai, dan penegasan norma-norma keluarga (Mizani, 2. Definisi Pernikahan Dini Pernikahan dini merujuk pada praktik perkawinan yang melibatkan satu atau kedua pasangan yang masih berusia relatif muda, biasanya di bawah usia legal untuk menikah di suatu negara atau wilayah. Usia yang dianggap sebagai pernikahan dini dapat bervariasi tergantung pada konteks budaya, hukum, dan norma-norma sosial suatu masyarakat. Praktik pernikahan dini sering kali melibatkan individu yang belum cukup matang secara fisik, emosional, atau psikologis untuk mengambil tanggung jawab perkawinan dan kehidupan keluarga. Dalam banyak kasus, pernikahan dini juga dapat mengakibatkan dampak negatif bagi pendidikan, kesehatan, dan perkembangan sosial ekonomi pasangan yang terlibat (Maiaweng, 2. Pernikahan dini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk tekanan sosial, budaya, dan ekonomi. Dalam beberapa masyarakat, pernikahan dini dipandang sebagai tradisi atau norma sosial yang dianggap wajar, sementara dalam konteks lain, pernikahan dini dapat menjadi hasil dari tekanan ekonomi, konflik, atau Dalam situasi di mana pernikahan dianggap sebagai cara untuk meningkatkan status sosial atau mempertahankan keamanan ekonomi, remaja sering kali terjebak dalam pernikahan yang tidak diinginkan atau dipaksa, yang berpotensi membawa dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan mereka. METHOD OF THE RESEARCH Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk memahami fenomena secara komprehensif dalam konteks alam tertentu. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, pengumpulan data melibatkan pengumpulan bahasa tertulis atau lisan dari tokoh atau informan yang diamati, menggunakan teknik seperti wawancara dan dokumentasi. Studi ini mengutamakan analisis induksi kualitatif, berfokus pada generalisasi hasil akhir yang diperoleh dari data. Berlokasi di kawasan Medan Sunggal, penelitian ini dilakukan secara kondisional, menyesuaikan dengan waktu, situasi, dan kondisi yang relevan dengan Subjek penelitian meliputi orang tua remaja dari Kecamatan Medan Sunggal sebagai informan utama, didukung oleh remaja itu sendiri. Data dikategorikan menjadi dua jenis utama: data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan orang tua dan remaja yang dipilih, serta ditambahkan dengan testimoni yang direkam dalam bentuk audio. Data sekunder, yang terdiri dari dokumen, foto, rekaman audio, atau video, melengkapi dan memperkuat temuan utama. Sumber data mencakup subjek manusia . rang tua dan remaj. , suasana dan kondisi komunikasi interpersonal, serta dokumentasi seperti foto kegiatan dan arsip resmi. Melalui kombinasi sumber-sumber ini, peneliti memperoleh pemahaman yang mendalam tentang fokus penelitian. Penelitian ini menggunakan berbagai metode kualitatif untuk pengumpulan data, termasuk wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Wawancara dengan subjek penelitian memberikan wawasan mendalam tentang pengalaman, persepsi, dan sikap mereka terkait topik penelitian. Observasi memungkinkan pengamatan langsung interaksi antara orang tua 254 | P a g e Safira. A eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 dan remaja, mengungkap dinamika komunikasi interpersonal dalam lingkungan mereka. Analisis dokumen melibatkan penelitian terhadap dokumen-dokumen relevan seperti catatan atau arsip resmi, yang memberikan informasi tambahan tentang konteks penelitian. Kombinasi metodologis ini memfasilitasi perolehan data yang komprehensif dan mendalam untuk analisis studi. RESULT AND DISCUSSION Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana komunikasi interpersonal orang tua dapat berperan dalam pencegahan pernikahan dini di kalangan remaja di Kecamatan Medan Sunggal. Melalui wawancara mendalam dan observasi langsung, berbagai aspek komunikasi antara orang tua dan anak remaja diidentifikasi dan dianalisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif antara orang tua dan remaja memainkan peran penting dalam memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran tentang risiko pernikahan dini. Orang tua yang secara aktif terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka, memberikan informasi yang akurat, serta berdiskusi secara terbuka tentang dampak negatif pernikahan dini, mampu menurunkan keinginan remaja untuk menikah di usia muda. Namun, penelitian ini juga menemukan adanya tantangan yang dihadapi orang tua dalam membangun komunikasi yang efektif dengan anak remaja mereka. Beberapa orang tua mengalami kesulitan dalam menjalin komunikasi yang terbuka dan jujur karena perbedaan pandangan dan kurangnya waktu yang dihabiskan bersama. Untuk mengatasi tantangan ini, orang tua perlu mengadopsi strategi komunikasi yang lebih fleksibel dan memahami perspektif anak-anak mereka. Dengan demikian, orang tua dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi remaja untuk berdiskusi tentang masalah mereka, termasuk isu pernikahan dini. Penelitian ini menyoroti pentingnya peran komunikasi yang terbuka, jujur, dan suportif dalam mendukung perkembangan dan kesejahteraan remaja, serta mengurangi risiko pernikahan dini di kalangan remaja di Kecamatan Medan Sunggal. 1 Peran Orang Tua dalam Pencegahan Pernikahan Dini di Medan Sunggal Penelitian di Kecamatan Medan Sunggal menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang baik antara orang tua dan anak usia remaja sangat berperan dalam mencegah pernikahan dini. Orang tua yang secara aktif berbicara dengan anak-anak mereka tentang dampak negatif pernikahan dini, termasuk risiko kesehatan, pendidikan, dan sosial, mampu memberikan pemahaman yang lebih baik kepada anak-anak mereka. Data yang dikumpulkan melalui wawancara mengungkapkan bahwa banyak orang tua menggunakan pendekatan dialog terbuka dan memberikan nasihat yang relevan terkait masa depan anak. Penelitian di Kecamatan Medan Sunggal menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang baik antara orang tua dan anak usia remaja sangat berperan dalam mencegah pernikahan dini. Orang tua yang secara aktif berbicara dengan anak-anak mereka tentang dampak negatif pernikahan dini, termasuk risiko kesehatan, pendidikan, dan sosial, mampu memberikan pemahaman yang lebih baik kepada anak-anak mereka. Data yang dikumpulkan melalui wawancara mengungkapkan bahwa banyak orang tua menggunakan pendekatan dialog terbuka dan memberikan nasihat yang relevan terkait masa depan anak. Seperti halnya yang disampaikan oleh Ibu SR dalam wawancara peneliti, ia menyebutkan 255 | P a g e Safira. A eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 "Saya selalu berusaha untuk terbuka dengan anak-anak saya. Kami sering duduk bersama di sore hari dan berbicara tentang banyak hal, termasuk pernikahan dini. Saya jelaskan kepada mereka bahwa menikah di usia muda bisa menghambat pendidikan dan karir mereka di masa depan. Saya juga sering membagikan artikel atau cerita nyata tentang risiko kesehatan dan sosial dari pernikahan dini. Pendekatan komunikasi yang terbuka dan relevan antara orang tua dan anak usia remaja terbukti efektif dalam mencegah pernikahan dini di Kecamatan Medan Sunggal. Pendekatan ini membantu meningkatkan kesadaran tentang risiko-risiko yang terkait dengan pernikahan dini, seperti dampak negatif terhadap kesehatan, pendidikan, dan aspek Komunikasi yang baik juga memberikan pemahaman yang lebih baik kepada anakanak mengenai pentingnya menyelesaikan pendidikan dan mempersiapkan masa depan sebelum memutuskan untuk menikah. Ibu SR juga menambahkan dalam wawancara yaitu, "Iya, sangat efektif. Anak-anak saya jadi lebih mengerti tentang pentingnya menyelesaikan pendidikan mereka dulu. Mereka juga lebih terbuka untuk berbagi masalah mereka dengan saya, sehingga saya bisa memberikan nasihat yang tepat waktu. Hal yang sama juga disampaikan oleh Bapak RD bahwa, "Saya sering mengajak anak-anak berdiskusi saat makan malam. Saya coba jelaskan dampak negatif pernikahan dini dengan contoh-contoh nyata dari lingkungan sekitar atau berita yang kami baca bersama. Saya juga tekankan pentingnya pendidikan dan karir sebelum memutuskan untuk menikah. Bapak RD juga menambahkan bahwa, "Pada awalnya tidak selalu mudah, tapi dengan pendekatan yang terus menerus dan terbuka, mereka mulai memahami. Saya juga berusaha mendengarkan pendapat dan kekhawatiran mereka. Ini membantu saya memberikan nasihat yang lebih relevan dan mereka merasa lebih dihargai. 2 Tantangan dan Teknik Komunikasi dalam Pencegahan Pernikahan Dini di Medan Sunggal Meskipun komunikasi yang baik dapat membantu dalam pencegahan pernikahan dini, orang tua di Medan Sunggal menghadapi beberapa tantangan. Tantangan utama termasuk pengaruh negatif dari lingkungan sosial dan teman sebaya yang mendorong pernikahan dini. Beberapa orang tua mengungkapkan kesulitan dalam menjembatani kesenjangan generasi dan memahami pengaruh media sosial terhadap anak-anak mereka. Namun, banyak orang tua yang berhasil menggunakan teknik komunikasi seperti diskusi tentang rencana masa depan, memberikan contoh nyata tentang risiko pernikahan dini, dan memastikan bahwa anak-anak merasa didengarkan dan dihargai. Teknik-teknik ini terbukti efektif dalam membantu anak-anak memahami pentingnya menunda pernikahan sampai mereka siap secara emosional dan finansial. 256 | P a g e Safira. A eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 Seperti yang dijelaskan oleh Ibu SR dalam wawancara bahwa, "Saya merasa penting untuk terus terbuka dengan anak-anak saya tentang risiko pernikahan Kami sering berdiskusi tentang rencana masa depan mereka dan saya selalu memberikan contoh konkret tentang kasus-kasus di sekitar kami. Saya yakin bahwa dengan berbicara secara terbuka, anak-anak lebih mungkin untuk memahami pentingnya menunda pernikahan hingga mereka siap secara emosional dan finansial. Pak RD juga menjelaskan dalam wawancara bahwa, "Saya melihat tantangan besar dari pengaruh lingkungan sosial yang mendorong pernikahan dini di kalangan remaja. Namun, kami mencoba untuk tetap dekat dengan anakanak kami dengan berbicara secara terbuka dan mengakomodasi perbedaan generasi. Saya yakin bahwa dengan memberikan pengertian yang baik dan memastikan mereka merasa didengarkan, kami dapat membantu anak-anak untuk membuat keputusan yang lebih baik untuk masa depan mereka. Di sisi lain. Pak RD menyoroti tantangan besar yang dihadapi dari pengaruh lingkungan sosial yang mendorong pernikahan dini di kalangan remaja. Namun demikian, ia menegaskan bahwa komunikasi terbuka dan pengertian yang diberikan kepada anak-anak dapat membantu mereka membuat keputusan yang lebih matang untuk masa depan Dengan demikian, upaya orang tua di Medan Sunggal dalam menghadapi tantangan pencegahan pernikahan dini menunjukkan pentingnya komunikasi yang terbuka dan pemahaman yang mendalam tentang kondisi sosial anak-anak mereka. Melalui diskusi yang terbuka tentang rencana masa depan dan pemberian contoh nyata, mereka tidak hanya membantu anak-anak memahami risiko pernikahan dini, tetapi juga memperkuat ikatan keluarga yang kokoh. Dengan pendekatan ini, diharapkan anak-anak dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan matang untuk masa depan mereka, menjauhkan mereka dari tekanan untuk menikah terlalu dini dan memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. DISCUSSION Penelitian ini menyoroti pentingnya komunikasi yang baik dan dialog terbuka antara orang tua dan anak remaja dalam upaya mencegah pernikahan dini. Melalui pendekatan ini, orang tua dapat secara aktif memberikan informasi dan nasihat kepada anak-anak mereka tentang konsekuensi negatif yang mungkin timbul akibat pernikahan dini. Misalnya, mereka dapat menyoroti risiko terhadap kesehatan fisik dan mental yang mungkin dihadapi oleh anak-anak mereka jika menikah pada usia yang terlalu muda. Selain itu, orang tua juga bisa membahas dampak negatif terhadap pendidikan dan karir anak-anak mereka, serta bagaimana pernikahan dini dapat membatasi peluang mereka untuk mengembangkan potensi secara maksimal. Pendekatan komunikasi yang terbuka ini tidak hanya memberikan informasi tentang risiko-risiko pernikahan dini, tetapi juga membantu membangun pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya menunda pernikahan hingga usia yang lebih matang. Dengan berdiskusi secara terbuka, orang tua dapat membantu anak-anak mereka membuat keputusan yang lebih bijaksana dan berdasarkan pertimbangan yang matang terkait masa depan mereka. Ini juga menciptakan lingkungan di mana anak-anak 257 | P a g e Safira. A eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 merasa didukung dan dapat mencari nasihat ketika mereka menghadapi tekanan atau godaan untuk menikah pada usia yang terlalu dini. Dengan demikian, komunikasi interpersonal yang efektif antara orang tua dan anak remaja menjadi kunci dalam upaya mencegah pernikahan dini dan mempromosikan perkembangan yang sehat secara fisik, mental, dan sosial bagi generasi muda. Dalam konteks pencegahan pernikahan dini di Medan Sunggal, tantangan yang dihadapi oleh orang tua tidaklah sedikit. Meskipun komunikasi yang efektif dapat menjadi kunci utama dalam mengatasi masalah ini, ada pengaruh negatif yang kuat dari lingkungan sosial dan teman sebaya yang mendorong remaja untuk menikah secara dini. Orang tua mengakui kesulitan dalam mengatasi kesenjangan generasi dan memahami dampak media sosial terhadap anak-anak mereka. Namun, ada banyak orang tua yang berhasil menghadapi tantangan ini dengan menggunakan teknik komunikasi yang tepat. Salah satu pendekatan yang terbukti efektif adalah dengan terus terbuka dan aktif berdiskusi dengan anak-anak mengenai rencana masa depan mereka. Misalnya, mereka memberikan contoh konkret tentang risiko yang terkait dengan pernikahan dini, sambil memastikan bahwa anak-anak merasa didengarkan dan dihargai dalam setiap percakapan. Pendekatan ini tidak hanya membantu anak-anak memahami pentingnya menunda pernikahan sampai mereka siap secara emosional dan finansial, tetapi juga menguatkan hubungan antara orang tua dan Sebagai contoh. Ibu SR mengungkapkan bahwa ia secara terbuka membahas risiko pernikahan dini dengan anak-anaknya, menggunakan contoh kasus konkret dari lingkungan sekitar mereka. Pendekatan ini, menurutnya, membuka peluang bagi anak-anak untuk memahami konsekuensi dari keputusan mereka. CONCLUSION Dalam konteks pencegahan pernikahan dini di Medan Sunggal, tantangan yang dihadapi oleh orang tua sangatlah signifikan. Meskipun demikian, komunikasi yang efektif dapat menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini. Orang tua menghadapi pengaruh negatif dari lingkungan sosial dan teman sebaya yang mendorong remaja untuk menikah secara Mereka juga menghadapi kesulitan dalam menjembatani kesenjangan generasi dan memahami dampak media sosial terhadap anak-anak mereka. Namun, melalui teknik-teknik komunikasi seperti berdiskusi tentang rencana masa depan dan memberikan contoh nyata tentang risiko pernikahan dini, banyak orang tua berhasil membantu anak-anak mereka memahami pentingnya menunda pernikahan sampai mereka siap secara emosional dan Pendekatan ini tidak hanya memperkuat ikatan antara orang tua dan anak, tetapi juga memberikan anak-anak kesempatan untuk mengambil keputusan yang lebih baik untuk masa depan mereka. Di sisi lain, pengalaman orang tua seperti yang dijelaskan oleh Ibu SR dan Pak RD menunjukkan bahwa tantangan dari pengaruh lingkungan sosial yang mendorong pernikahan dini tidak bisa diabaikan. Meskipun demikian, dengan komunikasi yang terbuka dan pengertian yang diberikan kepada anak-anak, orang tua mampu mengatasi hambatan ini. Diskusi terbuka mengenai risiko pernikahan dini dan penggunaan contoh konkret dari kasus di sekitar mereka membantu anak-anak untuk lebih memahami konsekuensi dari keputusan mereka. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesiapan mereka secara emosional dan finansial, tetapi juga membantu mereka dalam menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar. Dengan demikian, komunikasi yang terbuka dan mendalam antara orang tua dan anak merupakan pondasi yang penting dalam upaya pencegahan pernikahan 258 | P a g e Safira. A eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 dini, memberikan perlindungan yang lebih baik bagi anak-anak untuk berkembang dan mengambil peran yang lebih mandiri dalam menentukan masa depan mereka. REFERENSI