Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 ANALISIS GENDER AND DEVELOPMENT (GAD) TERHADAP MEKANISME BIAS GENDER DALAM PEMILIHAN JURUSAN DI MADRASAH ALIYAH NEGERI Salmayunicha Listie Putri1. Rika Yunianingsih2. Dwi Gustavina Syahbani3. Maulidha Putri Cahyani4. Josephine Oktavidhani Purnomo5. Albar Kresna Lukito Nugroho6. Amanda Aulia Wibowo7. Suci Iriani Sinuraya8 Universitas Tidar Magelang Email: salmayunicha. putri@students. id, rika. yunianingsih@students. syahbani@students. id, maulidhaputricahyani@students. purnomo@students. nugroho@students. id, amanda. wibowo@students. suciiriani@untidar. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika kesetaraan gender di MAN 1 Magelang dengan fokus pada bagaimana norma budaya dan struktur sosial memengaruhi pemilihan jurusan serta pengalaman siswa. Meskipun secara formal seluruh jurusan terbuka bagi laki-laki dan perempuan, temuan menunjukkan bahwa stereotip, subordinasi, marginalisasi,dan kekerasan simbolik masih direproduksi melalui budaya sekolah, arahan guru, serta persepsi sosial yang melekat pada bidang keahlian tertentu. Dengan menggunakan pendekatan Gender and Development (GAD), penelitian ini menunjukkan bahwa ketidaksetaraan bukan bersumber dari kemampuan biologis, melainkan konstruksi sosial yang menempatkan laki-laki dan perempuan dalam peran berbeda. Melalui metode deskriptif kualitatif dengan wawancara, observasi, dan studi literatur, penelitian menemukan bahwa akses yang setara belum menghasilkan partisipasi setara karena internalisasi norma patriarki masih Pendekatan GAD terbukti relevan untuk mengungkap akar ketimpangan dan menekankan kebutuhan transformasi relasi kuasa, perubahan budaya sekolah, serta penguatan kapasitas guru. Penelitian ini merekomendasikan integrasi pendidikan kesadaran gender dan rekonstruksi pemahaman tentang pekerjaan berbasis gender untuk mewujudkan lingkungan madrasah yang inklusif dan setara. Kata kunci: kesetaraan gender, pendidikan madrasah, gender dan pembangunan Abstract This study aims to analyze gender equality dynamics at MAN 1 Magelang, focusing on how cultural norms and social structures influence subject selection and student experiences. Although formally all subjects are open to both males and females, findings show that stereotypes, subordination, marginalization, and symbolic violence are still reproduced through school culture, teacher guidance, and social perceptions attached to certain fields of expertise. Using the Gender and Development (GAD) approach, this study shows that inequality does not stem from biological abilities, but rather from social constructs that place men and women in different roles. Through qualitative descriptive methods involving interviews, observations, and literature studies, the study found that equal access has not resulted in equal participation because the internalization of patriarchal norms remains strong. The GAD approach has proven relevant in uncovering the roots of inequality and emphasizing the need for a transformation of power relations, changes in school culture, and the strengthening of teacher capacity. This study recommends the integration of gender awareness education and the reconstruction of understanding of gender-based work to create an inclusive and equitable madrasah environment. Keywords: gender equality, madrasah education, gender and development (GAD) Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 sekolah Islam masih terbatas. Kajian yang ada, seperti penelitian Haslita et al. kesetaraan gender sebagai keadaan bebas kesempatan yang setara. Meskipun berguna untuk pengukuran, pendekatan tersebut lebih berfokus pada hasil akhir daripada mengeksplorasi proses sosio kultural di dalam ekosistem madrasah itu Sementara itu, banyak penelitian lain masih terkonsentrasi pada isu kepemimpinan atau kesenjangan dalam pendidikan agama tradisional. Di sisi lain, topik seperti stereotip gender dalam pemilihan jurusan memang telah diteliti di konteks pendidikan umum seperti studi kuantitatif oleh Madina & Palilu . pada SMK Negeri di Sorong yang stereotip terhadap pilihan jurusan. Namun, celah penelitian yang jelas adalah belum ada kajian mendalam yang menyelidiki dinamika gender dalam pemilihan jurusan di Madrasah Aliyah, yang unik karena mengintegrasikan kurikulum umum, keagamaan, dan kejuruan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut kesetaraan gender dan transformasi hubungan sosial budaya di MAN 1 Magelang. Secara spesifik, penelitian ini berupaya mengungkap . mengapa kebijakan inklusif secara formal belum mampu mengubah pola pikir dan praktik sehari hari serta . bagaimana bias gender tetap direproduksi melalui mekanisme budaya di madrasah. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan Gender and Development (GAD) sebagai lensa analisis utama. Berbeda dengan pendekatan Women in Development (WID) yang berfokus pada integrasi GAD transformasi relasi kuasa dan struktur sosial yang menjadi akar ketidaksetaraan. Pendekatan ini dipilih karena masalah di PENDAHULUAN Pendidikan sebagai pondasi utama pembangunan bangsa dimana isu kesetaraan gender menjadi masalah utama saat ini. Ketika akses dan kualitas pendidikan antara perempuan dan lakilaki tidak setara, maka potensi manusia dan efektivitas pembangunan menjadi tidak optimal. Sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 11 Tahun 2010, pentingnya pengarusutamaan gender diintegrasikan ke seluruh aspek pendidikan mulai dari pengelolaan, proses pembelajaran, hingga partisipasi masyarakat guna memastikan terciptanya kesempatan yang setara bagi laki-laki memperoleh manfaat pembangunan (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2. Dalam keagamaan, kesetaraan gender menjadi isu penting karena masih sering dihadapkan pada nilai-nilai sosial dan budaya yang menempatkan peran laki-laki dan perempuan secara berbeda di ruang MAN 1 Magelang merupakan madrasah aliyah negeri dengan program reguler (IPA. IPS. Agama, dan Bahas. dan keterampilan seperti Teknik Instalasi Listrik. Teknik dan Bisnis Sepeda Motor. Teknik Komputer dan Jaringan. Tata Busana, dan Tata Boga. Pemilihan MAN 1 Magelang sebagai lokasi studi kasus didasarkan pada penerapan prinsip kesetaraan gender yang tampak dalam kegiatan pendidikan dan tata kelolanya, di mana secara struktural seluruh jurusan siswa-siswi diskriminasi gender. Namun masih terlihat adanya gap antara kesadaran individu . dengan bias budaya masyarakat yang masih tradisional sehingga memengaruhi pilihan jurusan oleh siswa. Penelitian tentang kesetaraan gender di lingkungan madrasah atau Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 MAN 1 Magelang telah bergeser dari sekadar kesenjangan akses menuju persoalan norma budaya, hubungan kuasa, dan internalisasi nilai-nilai patriarki yang Melalui pendekatan GAD, penelitian ini akan menganalisis manifestasi empat bentuk ketidakadilan gender yaitu stereotip, subordinasi, marginalisasi, dan kekerasan simbolik dalam ekosistem Pada akhirnya, analisis ini rekomendasi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi mampu mendorong perubahan relasi sosial dan pemberdayaan kritis seluruh komunitas sekolah. pengajar Tata Bog. dari MAN 1 Magelang. Pemilihan ini bertujuan untuk berdasarkan gender dan bidang keahlian yang kerap mengalami polarisasi sosial. Observasi difokuskan di ruang lobby merepresentasikan kesenjangan antara kebijakan inklusif dan praktik keseharian yang masih dipengaruhi bias budaya. Setiap wawancara berlangsung rata-rata 45 menit untuk menggali pengalaman dan pandangan informan. Data sekunder diperoleh melalui kebijakan dan pustaka akademik, termasuk kerangka teori Gender and Development (GAD), mengidentifikasi prinsip dan konsep yang relevan guna membedah permasalahan Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data dalam deskripsi naratif dan tematik, serta verifikasi dan penarikan kesimpulan. Keabsahan triangulasi sumber dan metode. Berpijak pada kerangka teori GAD, analisis yang observasi, dan kajian literatur ini ketidakadilan, tetapi juga mengungkap akar permasalahan struktural dan kultural yang melestarikannya. METODE Penelitian metode deskriptif kualitatif untuk berdasarkan perspektif partisipan di lingkungan alamiahnya, dengan data primer berbentuk narasi verbal dan tindakan empiris (Waruwu dkk. , 2. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada kesesuaiannya untuk mengeksplorasi pengalaman personal, serta sistem nilai yang hidup dalam konteks pendidikan. Dengan merujuk potensi metodologisnya dalam mengembangkan teori sosial yang kontekstual (Waruwu dkk. , 2. pendekatan ini dijadikan landasan utama Secara spesifik, tujuan penelitian adalah menyelidiki konstruksi pandangan sosial tentang kesetaraan gender di MAN 1 Magelang guna mendalam dan relevan dengan realitas pendidikan kejuruan di Indonesia. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara dan observasi secara langsung. Partisipan dipilih secara purposive sampling, terdiri dari 5 siswa . perempuan dari Tata Boga dan Tata Busana. 3 laki-laki dari TKJ. TITL, dan TBSM) dan 3 guru . laki-laki pengajar TITL dan TBSM. 1 perempuan HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Pemetaan Masalah Gender di MAN 1 Magelang Hasil penelitian menunjukkan bahwa persoalan gender di MAN 1 Magelang tidak lagi terletak pada akses terhadap pendidikan, tetapi pada budaya sekolah, persepsi sosial, dan relasi kuasa pembelajaran serta interaksi harian. Konstruksi sosial masih menempatkan laki-laki dan perempuan dalam peran yang berbeda, sehingga kesetaraan gender sulit diwujudkan meskipun kebijakan formal Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 telah dirancang bersifat netral. Program keterampilan yang secara administratif terbuka bagi seluruh siswa tetap berjalan dalam struktur yang memuat bias gender, tercermin dari pembagian tenaga pengajar, pola bimbingan, dan penilaian kelayakan siswa ketika memasuki jurusan Bentuk-bentuk gender di MAN 1 Magelang dapat dibagi ke dalam empat kategori utama, yaitu marginalisasi, dan kekerasan simbolik. Selain itu, bias gender juga dapat diidentifikasi melalui struktur program segregasi tenaga pengajar, hambatan representasi, dan reproduksi persepsi maskulinitas dalam bidang teknik. Analisis data menunjukkan bahwa bias tersebut terwujud dalam empat area utama Stereotip Gender Stereotip mengenai klasifikasi jurusan sebagai ranah maskulin atau feminin masih kuat di lingkungan sekolah, menurut merupakan salah satu siswi jurusan Tata Boga, ia menolak stereotip bahwa perempuan harus bisa masak. Dia menganggap hal tersebut keliru karena memasak merupakan keterampilan universal yang dapat dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki. Selain itu, siswi FA, yang merupakan salah satu siswi di jurusan Tata Busana, memahami bahwa jurusan Tata Busana kerap menjahit dan desain busana secara Hal ini membuktikan bahwa jurusan Tata Boga dan Tata Busana di lingkungan umum bahkan, di lingkungan pendidikan, masih dianggap lebih sesuai bagi perempuan, sedangkan bidang teknik seperti Otomotif dan Instalasi Listrik dianggap sebagai wilayah laki-laki. Bias ini tidak hanya antarsiswa, tetapi juga melalui arahan guru pembimbing yang mendorong siswi memilih jurusan Berdasarkan keterangan siswa FSP. Aubanyak calon siswi yang sebenarnya ingin masuk TITL, tetapi dibelokkan ke jurusan yang dianggap lebih cocok untuk perempuan,Ay sehingga hanya tersisa tiga siswa yang akhirnya masuk ke program keterampilan Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL). Kondisi ini menunjukkan bahwa bias gender struktural penerimaan dan membatasi akses perempuan pada bidang teknik sebenarnya ada. Subordinasi Perasaan tidak pantas yang muncul ketika siswi mempertimbangkan jurusan teknik memperlihatkan bentuk subordinasi yang bekerja Guru menyebutkan bahwa rasa tidak percaya diritersebut bukan akibat ketidakmampuan teknis, tetapi karena posisi mereka sebagai minoritas gender. Kondisi ini menunjukkan bahwa inferioritas yang dirasakan bersumber dari internalisasi norma, bukan dari Marginalisasi Siswa yang memilih jurusan di luar stereotip gender sering kelompok kecil yang rentan terhadap komentar atau jarak sosial, terutama ketika minimnya Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 kehadiran perempuan di jurusan teknik memperkuat kesan bahwa ruang tersebut bukan untuk Ketiadaan perempuan dalam bidang otomotif juga mengurangi legitimasi sosial bagi siswi yang sebenarnya Hal ini selaras dengan pernyataan siswa AR yang menyebut. Aubanyak perempuan sebenarnya ingin masuk otomotif, tetapi mereka tidak percaya diri karena takut jadi satu-satunya perempuan di kelas. Ay Menurut AR . urusan TBSM) dan MAZH . urusan TKJ), kondisi tersebut menunjukkan perlunya sekolah mengenai peluang perempuan di bidang teknik agar rasa tidak percaya diri dapat berkurang dan minat siswi untuk memasuki siswa sebenarnya lebih progresif dibanding struktur sekolah, namun tidak didukung oleh sistem sehingga potensi perubahan tidak berkembang optimal. Analisis Masalah Pendekatan Gender and Development (GAD) Pendekatan GAD dimulai dari perspektif holistik dengan melihat keseluruhan organisasi sosial, kehidupan ekonomi, dan politik untuk memahami pembentukan aspek-aspek tertentu dalam Oleh karena itu. GAD memandang kesetaraan gender sebagai proses pergeseran distribusi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya (Rathgeber, 1. Ketimpangan yang terjadi bukan akibat sifat alami biologis, melainkan hasil dari struktur sosial. Dalam konteks MAN 1 Magelang. GAD mengungkap bahwa: Akses menjamin hasil yang setara. Kebijakan madrasah yang netral gender ternyata tidak cukup untuk mengubah relasi kuasa dan norma budaya di tingkat siswa, sehingga bias gender tetap direproduksi dalam praktik pendidikan. Hal ini tampak dari rendahnya partisipasi siswi di jurusan otomotif akibat persepsi sosial bahwa bidang tersebut tidak sesuai dengan peran Stereotip dan subordinasi mencerminkan kegagalan sistem pendidikan dalam membongkar norma gender. Perasaan Autidak pantasAy siswi memilih jurusan Otomotif internalisasi norma patriarki yang diabaikan oleh kebijakan netral Dengan demikian. GAD tidak hanya menyoroti akses, tetapi juga menggugat struktur dominasi laki-laki di ranah publik dan kemunduran perempuan pada ranah domestik (Astuti, 2. Kekerasan Simbolik Kekerasan simbolik terlihat ketika siswa menginternalisasi keyakinan bahwa bidang tertentu hanya layak ditekuni oleh gender tertentu. Berdasarkan keterangan Guru IA. BS, dan N, yang menyatakan bahwa jurusan teknik bersifat AukotorAy atau AuberatAy meneguhkan sehingga perempuan dianggap kurang cocok untuk masuk ke jurusan tersebut. Padahal, aspek pekerjaan teknik kini sudah banyak bergeser ke kerja presisi yang tidak selalu memerlukan kekuatan fisik. Selain empat bentuk ketidakadilan tersebut, muncul dua temuan penting. Pertama, pengajaran jurusan domestik, sementara laki-laki hampir seluruh bidang teknik. Pola ini memperkuat konstruksi profesi berbasis gender. Kedua, kesadaran gender Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 Fokus pada transformasi relasi Analisis GAD menyimpulkan bahwa intervensi yang dibutuhkan bukan lagi sekadar membuka pintu bagi perempuan untuk masuk ke jurusan "maskulin" . ffirmative actio. , tetapi merekonstruksi pemahaman seluruh komunitas sekolah tentang makna "pekerjaan laki-laki" "pekerjaan Solusinya terletak kurikulum dan pengembangan kapasitas guru untuk menjadi agen perubahan sosial. Pendidikan ini jumlah perempuan di jurusan maskulin, tetapi menumbuhkan kesadaran kritis terhadap bias, mencegah praktik diskriminatif. Hal ini sejalan dengan pandangan Caroline Moser (Peten et al. , 2. bahwa GAD berfokus pada perubahan relasi kekuasaan dan distribusi sumber daya yang adil antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan GAD paling relevan untuk menjawab tantangan di MAN 1 Magelang karena fokusnya pada transformasi relasi sosial dan budaya, yang merupakan akar masalah Dengan penerapan GAD secara menyeluruh. MAN dapat bertransformasi dari sekadar lembaga yang menyediakan akses formal menjadi institusi yang aktif menghambat potensi siswa, baik laki-laki maupun perempuan. hubungan sosial, dan struktur sekolah yang masih mereproduksi bias gender. Meskipun kebijakan madrasah bersifat marginalisasi, dan kekerasan simbolis dalam praktik lapangan tetap ada dan membentuk bagaimana siswa memaknai jurusan dan bidang keahlian. Tampaknya pembagian besar yang dikonstruksi secara sosial antara laki-laki dan perempuan inilah yang menjadi salah satu faktor kuat yang menghalangi perempuan memasuki sektor teknik, sementara laki-laki tetap "layak" menempati ruang publik dan teknis. Melalui pendekatan Gender and Development (GAD), penelitian ini menegaskan bahwa ketidaksetaraan yang terjadi bukan disebabkan oleh perbedaan kemampuan atau biologi, melainkan oleh struktur sosial yang telah menormalkan pembagian peran berdasarkan gender. Akses yang setara tidak otomatis menghasilkan kesempatan dan hasil yang setara karena norma budaya masih membentuk kepercayaan diri, pilihan karier, dan pola interaksi siswa dan guru. GAD menekankan bahwa perubahan tidak dapat dicapai hanya pada tingkat administratif, tetapi harus dicapai melalui perubahan relasi kuasa, persepsi dan pandangan komunitas sekolah tentang pekerjaan, kompetensi, serta nilai-nilai maskulinitas dan femininitas. Oleh karena itu, pendekatan GAD merupakan kerangka kerja yang paling relevan untuk mengatasi tantangan gender di MAN 1 Magelang. Upaya menuju kesetaraan gender harus diarahkan pada perubahan budaya sekolah melalui pendidikan kesadaran gender, penguatan perspektif guru, dan penghapusan segregasi stereotip. Dengan transformasi struktural dan budaya ini, madrasah mampu berkembang menjadi lembaga yang tidak hanya menyediakan akses pendidikan, tetapi juga membangun lingkungan inklusif yang memungkinkan setiap siswa, baik laki-laki maupun KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa isu gender di MAN 1 Magelang tidak lagi terletak pada akses pendidikan, melainkan terletak pada norma budaya. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 mengembangkan potensi mereka tanpa terkekang oleh konstruksi gender Students in Sorong Cit. Soscied, 7. https://jurnal. id/inde php/jsoscied/article/view/828 Peraturan Menteri Nomor 11 Tahun 2010. June . JDIH Kemen pA. https://jdih. id/dokum en-hukum/produk-hukum/peraturanmenteri-nomor-11-tahun-2010 Palan Peten. Dionisius Lamawuran, . Adrianus. , & Ratumakin. Penanganan Stunting Dalam Budaya Patriarki: Analisis Gender Program Gerobak Cinta Kabupaten Flores Timur. Jurnal Trias Politika, 7. , 262Ae281. https://w. id/ind php/jurnaltriaspolitika/article/vie w/5618/pdf Rathgeber. WID. WAD, GAD: Trends in Research and Practice. The Journal of Developing Areas, 24. , 489-502. https://scihub. se/storage/moscow/2896/c3e4c5 42a4f72986176a2441b386849b/10. 307@4191904. pdf#navpanes=0&vie w=FitH Saragih. Pendidikan Akhlak Dalam Keluarga pada Masyarakat Adat Muslim Simalungun. http://repository. id/12204/1 /DISERTASI Jilid. Waruwu. Pu`at. Utami. Yanti. , & Rusydiana. Metode Penelitian Kuantitatif: Konsep. Jenis. Tahapan dan Kelebihan. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 10. , 917Ae932. https://doi. org/10. 29303/jipp. DAFTAR PUSTAKA