Hubungan Perilaku Cuci Tangan dan Faktor Risiko Lingkungan Terhadap Kejadian Penyakit Tifoid: Sebuah Studi Literatur The Relationship of Handwashing Behavior and Environmental Risk Factors Against Typhoid: A Literature Study Fuad Farizi. Kholis Ernawati. Dian Mardhiyah. Arsyad. Ichsan Maulana. Elvira Eldysta Fakultas Kedokteran. Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia Correspondence: fuadfarizi@hotmail. kholisernawati2@gmail. KATA KUNCI Tifoid. Perilaku Cuci Tangan. Lingkungan KEYWORDS Typhoid. Hand-Washing Behavior. Environment ABSTRAK Latar Belakang: Demam tifoid merupakan penyakit demam akut yang disebabkan bakteri salmonella typhi dimana penyakit ini disebarkan melalui rute fekal-oral yang memiliki potensi epidemik. Faktor risiko terjadinya tifoid bisa diakibatkan berdasarkan perlaku cuci tangan dan higenitas serta Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menelaah adanya hubungan perilaku cuci tangan dan faktor risiko lingkungan terhadap kejadian penyakit tifoid dengan pendekatan studi literatur. Metode: Artikel penelitian dicari pada empat data base journal yaitu Pubmed. Pan African Medical, dan Google Scholar. Syarat artikel yaitu merupakan artikel original research dan terbit dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2020. Pencarian artikel menggunakan keyword yaitu tifoid, perilaku cuci tangan, lingkungan, dan metode case control. Analisis data dilakukan dengan mengelompokkan artikel. Hasil: Dari penelusuran literatur didapatkan 8 artikel yang terdiri dari: Pubmed 3 artikel . Pan African Medical 1 artikel, dan Google Scholar 4 artikel. Variabel-variabel yang berhubungan dengan tifoid ada pada 8 artikel yaitu variabel kebiasaan perilaku cuci tangan setelah makan maupun setelah buang air besar dan faktor lingkungan . aitu kewaspadaan dan pengetahuan yang kurang, sering jajan atau makan makanan yang kurang higenis, kuku kotor, sumber air dan sanitasi atau higenitas yang buruk, tempat pembuangan sampah dan limbah, dan pengolahan makana. ABSTRACT Background: Typhoid fever is an acute disease caused by salmonella typhi bacteria, where the disease is spread via the fecal-oral route, which has epidemic potential. The risk factors for typhoid can be caused by washing hands and hygiene and the environment. Purpose: This study examines the relationship between handwashing behavior and environmental risk factors for typhoid disease with a literature study approach. Methods: Research articles were searched in four database journals, namely Pubmed. Pan African Medical, and Google Scholar. The terms of the paper are original research articles and published from 2015 to 2020. Search for items using keywords, namely typhoid, handwashing behavior, environment, and casecontrol methods. The data analysis was done by grouping the Results: From the literature search, eight articles consisted of three reports of Pubmed, one piece of Pan African Medical, and four papers of Google Scholar. The variables related to typhoid are in 8 items, namely the habit of washing hands after eating and after defecating and environmental factors (. , lack of awareness and knowledge, often to buy street food or eat unhygienic food, dirty fingernails, common water source, and hygiene or sanitation, landfills, and food processin. PENDAHULUAN Demam tifoid masih umum terjadi di negara berkembang. WHO menyatakan penyakit demam tifoid di dunia mencapai 11-20 juta kasus per tahun yang mengakibatkan sekitar 128. 000 - 161. 000 kematian (World Health Organisation, 2. Kasus demam tifoid di Indonesia dilaporkan dalam surveilans tifoid dan paratifoid nasional. Penyakit ini mencapai tingkat prevalensi 358 - 810 dari 000 penduduk di Indonesia. Kasus demam tifoid ditemukan di Jakarta sekitar 182, 5 kasus setiap hari. Di antaranya, sebanyak 64% infeksi demam tifoid terjadi pada penderita berusia 3 - 19 tahun. Namun, rawat inap lebih sering terjadi pada orang dewasa . % dibanding anak 10%) dan lebih Kematian akibat infeksi demam tifoid di antara pasien rawat inap bervariasi antara 3,1 - 10,4% . ekitar 5 - 19 kematian sehar. (Prehamukti. Demam merupakan penyakit demam akut yang disebabkan bakteri salmonella typhi dimana penyakit ini disebarkan melalui rute fekaloral yang memiliki potensi epidemik (Sudoyo dkk. , 2. Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan pembersihan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. Mencuci tangan dengan sabun dikenal juga sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan karena tangan seringkali menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan kontak langsung ataupun kontak tidak langsung . enggunakan permukaan-permukaan lain seperti handuk. Tangan yang bersentuhan langsung dengan kotoran manusia dan binatang, ataupun cairan tubuh seperti ingus, dan makanan/minuman yang terkontaminasi saat tidak dicuci dengan sabun dapat memindahkan bakteri . alah satunya e. penyebab diare dan salmonella penyebab tifoid dsb. ), virus (SARS, influenza ds. , dan parasit pada orang lain yang tidak sadar (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan analisis kecenderungan secara rerata nasional, terdapat peningkatan proporsi penduduk berperilaku cuci tangan secara benar pada tahun 2018 . ,8%) dibandingkan tahun 2013 . ,0 %) dan 2007 . ,2. Peningkatan tertinggi proporsi benar terjadi di Bal. 30% pada tahun 2007 menjadi 67,3% pada 2013 serta 67. 4% pada tahun 2018 (Kemenkes RI, 2. Faktor risiko lingkungan seperti permasalahan lingkungan saat ini ada di berbagai tempat. Permasalahan itu menyangkut pencemaran, baik pencemaran tanah, air, udara dan suara. Pencemaran Pencemaran tanah misalnya, banyaknya sampah yang tertimbun di tempat sampah, apabila tidak ditangani dengan baik akan menurunkan tingkat kesehatan masyarakat. Sampah juga banyak yang berserakan di saluran yang 100% air limbah di buang ke sungai melalui saluran terbuka/got dan banyak air yang tergenang di saluran, karena sampah di buang di tempat sampah yang tidak tertutup rapat . %), sehingga tempat tersebut sangat potensial untuk berkembang biak vektor seperti lalat (Maghfiroh and Siwiendrayanti. Berdasarkan latar belakang di atas maka tujuan artikel ini adalah studi literatur tentang hubungan perilaku cuci tangan dan faktor risiko lingkungan terhadap kejadian penyakit tifoid. METODE Pencarian literatur baik internasional maupun nasional dengan menggunakan database dari Plos One. Pubmed. Pan African Medical, dan Google Scholar. Syarat artikel yaitu merupakan artikel original research dan terbit dari tahun 2015 sampai dengan tahun Pencarian artikel menggunakan keyword tifoid, perilaku cuci tangan, lingkungan, dan metode case control. Analisis data dilakukan dengan deskriptif naratif berdasarkan variabel tifoid, faktor risiko perilaku cuci tangan, dan faktor risiko lingkungan, dan hubungan antara faktor cuci tangan dan lingkungan dengan tifoid. HASIL Hasil dari penelusuran literaratur didapatkan 8 literatur (Tabel . terdiri dari 4 literartur dari jurnal internasional dan 4 literatur dari jurnal nasional. Database yang digunakan mencakup Pubmed 3 artikel. Pan African Medical 1 artikel, dan Google Scholar 4 artikel minimal 5 tahun terakhir. Ditemukan 8 artikel berhubungan dengan penyakit tifoid, 7 artikel yang berhungan dengan faktor risiko cuci tangan terhadap kejadian tifoid. Aspek risiko yang terkait dengan tifoid yaitu kebiasaan perilaku cuci tangan setelah makan maupun setelah buang air besar . dan faktor lingkungan seperti kewaspadaan dan pengetahuan yang kurang . , sering jajan atau makan makanan yang kurang higenis . , kuku kotor, sumber air dan sanitasi atau higenitas yang buruk . , tempat pembuangan sampah dan limbah . , dan kebersihan dari pengolahan makanan . Tabel 1. Artikel Hasil Penelitian Tentang Perilaku Cuci Tangan dan Faktor Risiko Lingkungan Terhadap Tifoid Kode Nama Peneliti Judul Lokasi Artikel Penelitian Penelitian Maghfiroh dan Hubungan Semarang Siwiendrayanti Cuci Tangan. Tempat Sambah. Kepemilikan SPAL. Sanitasi Makanan Demam Tifoid Metode Kesimpulan Case control Ada hubungan antara praktik cuci tangan sebelum makan . =0,. , praktik cuci tangan setelah buang air besar . =0,. , kondisi tempat sampah . =0,. , dan pengolahan makanan . =0,. , dengan kejadian demam tifoid. Kode Artikel Nama Peneliti Judul Penelitian Lokasi Penelitian Seran. Hubungan Langowan Palandeng dan Personal Barat Hygene Kallo . Kejadian Demam Tifoid Wilayah Kerja Puskesmas Tumaratas Nuruzzaman dan Syahrul Analisis Risiko Kejadian Demam Tifoid Berdasarkan Kebersihan Diri Dan Kebiasaan Surabaya Metode Kesimpulan Tidak ada hubungan antara kepemilikan sarana pembuangan air limbah . =0,. , pemilihan bahan makanan . =0,. , penyimpanan bahan makanan . =0,. , makanan masak . =0,. , dan sanitasi dapur . =0,. dengan kejadian demam Kuantitatif Ada hubungan antara kebiasaan mencuci tangan kasus kontrol. sebelum makan . =0,. , kebiasaan mencuci bahan mentah langsung konsumsi . =0,. dan kebiasaan makan di luar rumah . =0,. dengan kejadian demam Tidak ada hubungan antara kebiasaan mencuci tangan setelah BAB . =0,. Observasional Ada hubungan antara mencuci dengan case tangan sesudah control study buang air besar yang kurang baik di rumah OR = 3,67. 95% CI . ,29 < OR < 10,. kebiasaan mencuci Kode Artikel Nama Peneliti Judul Penelitian Jajan Di Rumah Lokasi Penelitian Metode Prehamukti . Faktor Semarang Lingkungan dan Perilaku Kejadian Demam Tifoid Analitik kasus kontrol Nyamusore . Risk factors of Salmonella Typhi in Mahama Case-control Rwanda Kesimpulan tangan sebelum makan yang kurang baik di rumah OR = 4,33. 95% CI . ,54 < OR < 12,. , kuku pendek kotor OR = 7,79. 95% CI . ,46 < OR < 46,. sering jajan saat di rumah OR = 3,89. 95% CI ,39 < OR < 11,. membeli jajan di pedagang kaki lima saat di rumah OR = 3,95. 95% CI . ,40 < OR < 11,. kemasan jajan yang terbuka saat dibeli di rumah OR = 3,5. CI . ,26 < OR < 9,. dengan risiko demam tifoid. Ada hubungan antara perilaku jajan di rumah makan . =0,. , perilaku jajan di pedagang kaki lima . =0,. , dan kebiasaan cuci tangan dengan sabun sebelum makan . =0,. dengan kejadian demam tifoid. Faktor risiko dari transmisi demam tifoid . < 0. yaitu kewaspadaan yang kurang terhadap demam tifoid . = 0. Kode Artikel Nama Peneliti Judul Penelitian Rwanda: matched casecontrol study Lokasi Penelitian Typhoid fever Zerihun. Aselefech dan outbreak Taklu . in Ofla Woreda. Southern Zone of Tigray Region. Ethiopia, 2016: An 1:2 casecontrol Brainard dkk. Typhoid fever outbreak in . Democratic Republic of Congo: Case control and Ethiopia Risk Factors of Typhoid Infection in Indonesian Archipelago Indonesia Alba dkk. Metode Case-control Democratic Ecological Republic of analysis and a case-control Congo Case-control Kesimpulan tidak konsistennya mencuci tangan sehabis dari toilet/latrine . = . dan makan makanan di rumah . < 0. atau pasar . = 0. Tidak mencuci tangan sehabis dari toilet [AOR 4. CI . ] dan higenitas yang kurang pada lingkungan sekitar dan rumah [AOR 95%CI . ] berhubungan dengan kejadian Kejadian tifoid ada dengan sumber air . < 0. , urin atau kotoran yang terlihat pada toilet/latrine, memilih sumber air karena bisa melindungi dari hal yang buruk. Kejadian tifoid dengan perilaku cuci tangan, kurangnya pengetahuan akan penularan tifoid, lingkungan yang buruk dan higenitas p<0. Dari hasil penelusuran literatur pada tabel 1 maka dapat dikelompokkan berdasarkan hasil penelitian variabel yang berhubungan dan variabel yang tidak berhubungan dengan tifoid (Tabel Tabel 2. No Kode Artikel Berdasarkan Kelompok Variabel dan Nama Variabel Klasifikasi Variabel yang berhubungan dengan Variabel yang tidak berhubungan dengan Variabel Cuci tangan Sumber air dan sanitasi atau higenitas yang buruk Tempat pembuangan sampah dan Pengolahan makanan Kewaspadaan dan pengetahuan yang Kuku kotor Sering jajan atau makan makanan yang kurang higenis Kepemilikan sarana pembuangan air Pemilihan dan tempat penyimpanan bahan makanan Penyimpanan makanan masak Sanitasi dapur Mencuci tangan sesudah BAB PEMBAHASAN Teori Sehat-sakit Hendrik L. Blum menyebutkan terdapat empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Dari bagian tersebut dapat dilihat bahwa faktor yang paling mempengaruhi derajat kesehatan Kode variabel 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 6, 7, 8 1, 2 5, 8 2, 3, 4, 5 adalah faktor lingkungan, kemudian disusul oleh faktor perilaku, pelayanan kesehatan dan terakhir faktor keturunan. Faktor lingkungan berperan dalam menentukan status kesehatan seperti ekonomi, faktor pelayanan kesehatan pelayanan pemulihan kesehatan, pen154 cegahan penyakit, pengobatan dan perawatan kesehatan contohnya puskesmas, faktor perilaku dalam hal ini faktor yang sangat berpengaruh adalah faktor pemahaman, dan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan, faktor keturunan adalah faktor yang telah ada dalam diri manusia yang dibawa sejak lahir (Notoadmodjo, 2. Demam Tifoid Tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman salmonella typhi atau salmonella paratyphi. Salmonella typhi disebarkan melalui rute fekal-oral yang memiliki potensi epidemi. Kasus demam tifoid di Indonesia dilaporkan dalam Nasional. Penyakit ini mencapai tingkat prevalensi 358 - 810/100. 000 penduduk Indonesia. Kasus ditemukan di Jakarta sekitar 182,5 kasus setiap hari. Diantaranya, sebanyak 64% infeksi demam tifoid terjadi pada penderita berusia 3 - 19 tahun. Namun, rawat inap lebih sering terjadi pada orang dewasa . % dibanding anak 10%) dan lebih parah. Kematian akibat infeksi demam tifoid di antara pasien rawat inap bervariasi antara 3,1 - 10,4% . ekitar 5 19 kematian sehar. (Prehamukti, 2. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat, lingkungan yang kumuh, tempat-tempat . umah makan, restora. yang kurang serta perilaku masyarakat yang tidak (Kemenkes RI, 2. Dapat dilihat bahwa aspek lingkungan dan aspek perilaku menjadi dua aspek yang berkaitan dengan demam tifoid. Faktor risiko cuci tangan yang signifikan dengan tifoid Terdapat 7 artikel yang menemukan hubungan signifikan antara faktor risiko cuci tangan dengan tifoid . erdasarkan tabel . Pada artikel dengan kode no. menunjukkan bahwa responden dengan praktik cuci tangan sebelum makan yang kurang baik mempunyai risiko 5,278 kali lebih besar menderita demam tifoid daripada responden dengan praktik cuci tangan sebelum makan yang baik yaitu menggunakan air mengalir, menggunakan sabun, dan menggunakan praktik 7 langkah mencuci tangan (Maghfiroh dan Siwiendrayanti, 2. Hal ini selaras dengan kode artikel no. 2 yaitu kebiasaan kurang baik mencuci tangan sebelum makan 5,200 kali beresiko mendapat demam tifoid daripada responden yang memiliki kebiasaan yang baik mencuci tangan sebelum Kebiasaan yang kurang baik ketika mencuci tangan sebelum makan di mana mereka tidak mencuci tangan dengan sabun dan menggosok sela-sela jari dan kuku sehingga kuman salmonella typhi ini dapat saja masih ada di bagian tersebut (Seran. Palandeng and Kallo. Lalu kode artikel no. menunjukan, anak yang memiliki kebiasaan mencuci tangan sesudah buang air besar yang kurang baik . idak dengan air mengalir dan sabu. saat berada di rumah sebagian besar terdiagnosis menderita demam tifoid dan persentase terkena penyakit tifoid lebih besar dibandingkan dengan anak yang memiliki kebiasaan mencuci tangan sesudah buang air besar dengan baik . enggunakan air mengalir dan (Nuruzzaman dan Syahrul, 2. Hal ini sejalan dengan kode artikel no. penelitian (Prehamukti, 2. menunjukkan hubungan signifikan . <0,. antara kurangnya kebiasaan cuci tangan pakai sabun dengan kejadian demam tifoid. Alasan responden tidak mencuci tangan sebelum makan adalah suatu kebiasaan karena memakan menggunakan sendok, sehingga merasa tidak lagi diperlukan proses mencuci tangan dengan sabun. Menurut penelitian pada mahasiswa Universitas Halu Oleo menunjukkan responden yang tidak memperhatikan higenitas perseorangan dapat menyebabkan terjadinya demam tifoid, yang berdasarkan contoh dil apangan responden tidak mencuci tangan menggunakan sabun sebelum mengonsumsi makanan yang akan dikonsumsi. Hal ini yang menyebabkan adanya responden yang mengalami demam tifoid. Pada artikel dengan kode no. 8 menunjukan, persentase untuk mencuci tangan diperkirakan sebanyak 62% mengurangi pencegahan terjadinya infeksi, orang yang dilaporkan jarang atau tidak pernah mencuci tangannya dengan sabun mempunyai angka tiga kali lipat lebih tinggi terkena tifoid dibadingkan orang yang sering mencuci tangan dengan sabun, 2 dari 3 kasus dalam penyakit tifoid ini sebenarnya bisa dicegah dengan melakukan cuci tangan dengan sabun secara rutin (Alba dkk. Faktor Risiko Lingkungan yang Memiliki Hubungan dengan Kejadian Tifoid yaitu: Sumber air dan sanitasi atau higenitas yang buruk Ada 3 artikel . erdasarkan tabel . yang signifikan dengan tifoid. Artikel tersebut yaitu pada artikel kode no. menunjukan masih banyak masyarakat desa yang kesulitan mendapatkan akses air bersih untuk minum atau untuk sehari-hari, mengambil air langsung dari sungai yang tercemar faecal coliform (Zerihun. Aselefech dan Taklu, 2. Hal ini selaras dengan artikel no. 7 yang menunjukkan sumber air yang terkontaminasi menjadi rute penting terjadinya transmisi tifoid. Memilih air yang aman adalah solusi menurunkan risiko tifoid (Brainard dkk. , 2. Pada artikel no. 8 menunjukkan akses air bersih dan sanitasi di Indonesia meningkat akhir-akhir ini dan menurut survey kesehatan dan demografi tahun 2012, tiga dari empat rumah tangga sudah mempunyai akses air bersih untuk minum dan 68% rumah tangga sudah mempunyai fasilitas toilet sendiri, selanjutnya kebanyakan rumah tangga . %) sudah mempunyai sabun dan air di rumah tinggal sendiri dan hanya 6% yang tanpa sabun . ir saj. Tentu saja hal ini masih memerlukan promosi kesehatan dan higenitas yang luas di masyarakat (Alba dkk. , 2. Tempat pembuangan sampah dan Artikel yang menemukan hubungan signifikan antara tempat pembuangan sampah dan limbah dengan tifoid ada 1 artikel . erdasarkan tabel . , yaitu kode artikel no. Artikel tersebut menunjukkan responden dengan kondisi tempat pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat mempunyai risiko 3,263 kali lebih besar menderita demam tifoid daripada responden dengan kondisi tempat pembuangan sampah yang memenuhi syarat. Pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan lingkungan dapat mengakibatkan sampah digunakan untuk sarang dan tempat perkembang biakan vektor penyakit demam tifoid, yaitu Lalat biasa hidup di tempat-tempat kotor dan suka akan bau busuk. Bau busuk ini mengundang lalat untuk mencari makan dan berkembang biak (Maghfiroh dan Siwiendrayanti, 2. Pengolahan makanan Artikel yang menemukan hubungan signifikan antara pengolahan makanan dengan kejadian tifoid ada 2 artikel . erdasarkan tabel . yaitu pertama kode artikel no. 1, yang menunjukkan responden mempunyai cara pengolahan makanan yang tidak memenuhi syarat mempunyai risiko 9,615 kali lebih besar menderita demam tifoid daripada responden dengan kondisi tempat pembuangan sampah yang memenuhi Selain dari pengolahan makanan, faktor sanitasi makanan keseluruhan juga dapat mempengaruhi penyebab terjadi demam tifoid (Maghfiroh dan Siwiendrayanti, 2. Yang kedua kode artikel no. 2 menunjukkan responden yang mempunyai kebiasaan kurang baik mencuci bahan makan mentah langsung konsumsi memiliki resiko 5,200 kali mendapat demam tifoid daripada responden yang memiliki kebiasaan yang baik mencuci bahan makan mentah langsung makanan mentah dengan salmonella typhi dapat terjadi dari tempat hidup atau asal bahan makanan tersebut. Kewaspadaan yang kurang Artikel yang menemukan hubungan signifikan antara kewaspadaan dan pengetahuan yang kurang dengan kejadian tifoid ada 2 artikel . erdasarkan tabel . yaitu pada kode artikel no. Kedua artikel tersebut menunjukan bahwa kewaspadaan yang kurang secara signifikan berhubungan dengan penyakit tifoid karena kewaspadaan yang kurang dapat menimbulkan minimnya kepatuhan dari masyarakat terhadap pencegahan dan mengontrol kejadian tifoid (Nyamusore dkk. , 2. Pada pengetahuan dan sikap pada dasarnya dapat menimbulkan pengaruh bagi pembangunan efektivitas intervensi kesehatan (Alba dkk. , 2. Kuku kotor Artikel yang menemukan hubungan signifikan antara kuku kotor dengan kejadian tifoid ada 1 artikel . erdasarkan tabel . yaitu pada kode artikel no. Artikel tersebut menunjukkan bahwa anak yang memiliki kondisi kuku jari tangan panjang kotor mempunyai risiko 6,07 kali mengalami demam tifoid dibandingkan anak yang memiliki kondisi kuku jari tangan pendek bersih dan hasil tersebut signifikan, anak yang memiliki kondisi kuku jari tangan pendek kotor mempunyai risiko 7,79 kali mengalami demam tifoid dibandingkan anak yang memiliki kondisi kuku jari tangan pendek bersih dan hasil tersebut Kuku yang panjangnya melebihi tiga millimeter dari ujung jari bisa menyimpan bakteri dan jamur berbahaya, kuku merupakan tempat potensial bagi kuman serta bakteri bersarang yang menyebabkan berbagai penyakit mudah datang (Nuruzzaman dan Syahrul, 2. Sering jajan atau makan makanan yang kurang higenis Artikel yang menemukan hubungan signifikan antara kuku kotor dengan kejadian tifoid ada 4 artikel . erdasarkan tabel . yaitu pada kode artikel no. Artikel-artikel tersebut menunjukan bahwa responden yang mempunyai frekuensi kebiasaan makan di luar rumah. Ou3 kali dalam seminggu mempunyai resiko 5,000 kali lebih besar terkena demam tifoid dari responden yang tidak memiliki kebiasaan makan di luar rumah Ou3 kali dalam seminggu. Ketika seseorang makan di tempat umum dan makanannya disajikan oleh penderita tifus laten . yang kurang menjaga kebersihan saat memasak, mengakibatkan penularkan bakteri salmonella typhi pada pelanggannya (Seran. Palandeng dan Kallo, 2. Hal ini selaras dengan artikel no. 3 yang menunjukkan anak yang membeli jajan di pedagang kaki lima mempunyai risiko 3,95 kali mengalami demam tifoid dibandingkan dengan anak yang membeli jajan di swalayan saat berada di Makan di rumah akan memperkecil kemungkinan terjangkit demam tifoid karena makanan atau minuman yang diolah dirumah sangat kecil terkontaminasi bakteri salmonella typhi sehingga makanan atau minuman (Nuruzzaman dan Syahrul, 2. Pada menunjukkan bahwa orang dewasa yang jajan di rumah makan Ou 3 kali seminggu berisiko 4,9 kali lebih besar terkena demam tifoid dibandingkan dengan orang dewasa yang jajan di rumah makan <3 kali seminggu. Sebagian responden yang sering jajan di rumah makan sering mendapati lalat yang berkeliaran dan hinggap di makanan yang terbuka. Hal ini dapat menjadi media transmisi penyakit yang disebabkan oleh vektor . Sanitasi makanan yang buruk dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada orang yang mengonsumsinya (Prehamukti. Pada artikel no. 5, di Rwanda makanan dan minuman yang diambil dari pasar telah terkontaminasi, faktor lingkungan dan lalat rumah turut serta Sebaiknya dilakukan regulasi dalam kesehatan dan kebersihan makanan di pasar dengan melibatkan komunitas di pasar serta penyediaan fasilitas sanitasi dan kebersihan seperti tempat cuci Edukasi pada penjual makanan dan minuman serta intervensi lingkungan terutama pada musim hujan dan kelembapan/temperature meningkat yang kemungkinan terjadi banyak lalat (Nyamusore dkk. , 2. Faktor Risiko Lingkungan yang tidak Memiliki Hubungan dengan Kejadian Tifoid . Kepemilikan sarana pembuangan air limbah Artikel yang tidak menemukan hubungan signifikan antara kepemilikan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian tifoid ada 1 artikel . erdasarkan tabel . yaitu pada kode artikel no. Artikel tersebut menunjukkan hasil uji chi-square variabel kepemilikan sarana pembuangan air limbah, diperoleh p value = 0,725, hal ini berarti tidak ada hubungan antara kepemilikan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian demam tifoid. Keadaan kasus dan kontrol tidak jauh berbeda. Dimana pada kasus dan kontrol jumlah kepemilikan sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat jauh lebih banyak dibandingkan dengan keepmilikan sarana pembuangan air limbah yang memenuhi syarat. Air limbah harus ditangani supaya mencegah pengotoran sumber air tanah, menjaga kebersihan makanan supaya sayuran dan bahan makanan lain tidak terkontaminasi, melindungi ikan dari pencemaran, mencegah perkembangbiakan bibit penyekit . isal: lalat, cacing, dst. menghilangkan bau dan pemandangan (Maghfiroh Siwiendrayanti, 2. Pemilihan dan tempat penyimpanan bahan makanan Artikel yang tidak menemukan hubugan signifikan antara pemilihan dan tempat penyimpanan bahan makanan dengan kejadian tifoid ada 1 artikel . erdasarkan tabel . yaitu pada kode artikel no. Artikel tersebut menunjukkan, dari hasil uji chi-square variabel penyediaan bahan makanan diperoleh p value sebesar 0,639. Karena p value > . sehingga Ho diterima. Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara penyediaan bahan makanan dengan kejadian demam tifoid. Pada hasil penelitian ini, responden kasus maupun kontrol mempunyai kondisi yang tidak jauh berbeda, dimana pada responden kasus maupun kontrol penyediaan bahan makanan yang memenuhi syarat jauh lebih banyak dibandingkan dengan penyediaan bahan makanan yang tidak memenuhi syarat. Makanan yang akan diolah di rumah tangga ataupun yang akan langsung dikonsumsi hendaknya dipilih makanan yang memenuhi syarat mutu, kesehatan dan keamanan makanan (Maghfiroh dan Siwiendrayanti, 2. Penyimpanan makanan masak Artikel yang tidak menemukan hubungan signifikan antara penyimpanan makanan masak dengan kejadian tifoid ada 1 artikel . erdasarkan tabel . yaitu pada kode artikel no. Artikel tersebut menunjukkan, dari hasil uji chisquare variabel penyimpanan bahan makanan diperoleh p value = 0,737, karena p value > . sehingga Ho Hal ini berarti tidak ada hubungan antara penyimpanan bahan makanan dengan kejadian demam tifoid. Pada hasil penelitian ini, responden kasus maupun kontrol mempunyai kondisi yang tidak jauh berbeda, di mana pada responden kasus maupun kontrol penyimpanan bahan makanan yang memenuhi syarat jauh lebih banyak dibandingkan dengan penyimpanan bahan makanan yang tidak memenuhi Bahan makanan yang diproduksi dalam skala besar atau dibeli oleh dilakukan pengolahan atau konsumsi, penyimpanan yang baik (Maghfiroh dan Siwiendrayanti, 2. Sanitasi dapur Artikel yang tidak menemukan hubungan signifikan antara sanitasi dapur dengan kejadian tifoid ada 1 artikel . erdasarkan tabel . yaitu pada kode artikel no. Artikel tersebut menunjukan, dari hasil uji chi-square variabel sanitasi dapur diperoleh p value 0,584, karena p value > . sehingga Ho Hal ini berarti dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara sanitasi dapur dengan kejadian demam Pada hasil penelitian ini, responden kasus maupun kontrol mempunyai kondisi yang tidak jauh berbeda, di mana pada responden kasus maupun kontrol sanitasi dapur yang tidak memenuhi syarat jauh lebih banyak dibandingkan dengan sanitasi dapur yang memenuhi syarat. Dapur merupakan tempat pengolahan makanan yang harus memenuhi syarat higenitas dan sanitasi, diantaranya konstruksi dan perlengkapan yang ada (Maghfiroh dan Siwiendrayanti, 2. jumlah yang cukup untuk menginfeksi namun tidak benar-benar masuk dalam tubuh (Seran. Palandeng dan Kallo, . Mencuci tangan sesudah BAB Artikel yang tidak menemukan hubungan signifikan antara mencuci tangan sesudah BAB dengan kejadian tifoid ada 1 artikel . erdasarkan tabel . yaitu pada kode artikel no. 2, tidak ada hubungan antara kebiasaan mencuci tangan setelah BAB dengan kejadian demam tifoid . > . ) di Langowan Barat. Menurut asumsi peneliti, meskipun persentase responden lebih banyak memiliki kebiasaan yang kurang baik dalam mencuci tangan setelah BAB namun kemungkinan mereka tidak terserang demam tifoid karena BAB mereka tidak mengandung salmonella typhi, atau terdapat salmonella typhi namun sudah mati, atau terdapat salmonella typhi yang masih hidup namun dalam jumlah yang tidak cukup untuk menginfeksi, atau terdapat salmonella typhi yang masih hidup dalam DAFTAR PUSTAKA