Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Oktober 2025: 200-208 ANALISIS HISTORIS TENTANG PASUNDA BUBAT Nina Herlina Guru Besar Ilmu Sejarah di Departemen Sejarah & Filologi Universitas Padjadjaran E-mail: nina. herlina@unpad. ABSTRAK. Yang dimaksud dengan Pasunda Bubat adalah peristiwa sejarah yang terjadi pada pertengahan abad ke14 di Lapangan Bubat, wilayah Kerajaan Majapahit di Kabupaten Mojokerto sekarang. Istilah Pasunda Bubat diambil dari naskah kuno Sirat Pararaton atau Katuturan ira Ken Angrok, yang ditulis pertamakalinya pada abad ke-15. Pasunda Bubat menunjuk pada peristiwa yang terjadi dengan orang Sunda di . Bubat, yang dikisahkan secara singkat dalam salah satu bab naskah tersebut, yaitu suatu peristiwa berdarah ketika Prabu Maharaja. Raja Sunda Galuh mengantarkan puterinya Dyah Pitaloka atau Citraresmi yang dilamar oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk untuk dijadikan permaisurinya. Mahapatih Gajah Mada yang tidak setuju dengan perkawinan tersebut menghadapi rombongan Raja Sunda dengan senjata. Kisah berakhir dengan tragis: seluruh rombongan dari Tatar Sunda tak ada yang tersisa. Tragedi ini menyisakan Audendam sejarahAy selama ratusan tahun hingga kini. Hingga tahun 2018, tidak ada nama Jalan Gajah Mada. Jalan Hayam Wuruk. Jalan Majapahit, di Tatar Sunda. Setelah dilakukan penelitian mendalam tentang Pasunda Bubat dan kemudian diseminarkan secara nasional di Bandung tahun 2018, barulah nama Jalan Majapahit. Jalan Citraresmi, dan Jalan Hayam Wuruk, dipakai di Kota Bandung. Namun nama Gajah Mda tetap ditolak masyarakat untuk dipakai sebagai nama jalan di Tatar Sunda. Kata Kunci: Kerajaan Majapahit. Kerajaan Galuh. Pararaton. dendam Sejarah. Raja Hayam Wuruk. Dyah Pitaloka THE PASUNDA INCIDENT ASTRACT. The Pasunda Bubat incident was a significant historical event that took place in the mid-14th century on the Bubat Field, an area within the Majapahit Kingdom, now located in the present-day Mojokerto District. The term "Pasunda Bubat" originates from the ancient manuscript Sirat Pararaton . lso known as Katuturan ira Ken Angro. , written in the 15th century. This incident refers to a violent conflict between the Sundanese and the Majapahit at Bubat Field, briefly recounted in a chapter of the manuscript. According to the text. Prabu Maharaja. King of the Sundanese Kingdom of Galuh, brought his daughter Dyah Pitaloka (Citraresm. to Majapahit in response to King Hayam Wuruk's marriage proposal. However. Majapahit's Prime Minister. Gajah Mada, opposed the marriage and intercepted the Sundanese royal entourage with armed troops. The confrontation ended in tragedy, with the entire Sundanese party This event left a "historical grudge" . endam sejara. that persisted for centuries. Notably, until 2018, no streets in the Sundanese region were named after Gajah Mada. Hayam Wuruk, or Majapahit. Only after a comprehensive study of the Pasunda Bubat incidentAipresented at a national seminar in Bandung in 2018Aiwere the names Majapahit. Citraresmi, and Hayam Wuruk adopted for streets in Bandung, though the name Gajah Mada remains excluded. Keywords: Majapahit Kingdom. Galuh Kingdom. Pararaton. historical dendam. King Hayam Wuruk. Dyah Pitaloka PENDAHULUAN Dalam Ilmu sejarah, dikenal istilah sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber yang berasal dari masa ketika sebuah peristiwa terjadi, baik yang dialami sendiri oleh penulisnya, didengar atau disaksikan sendiri. Sementara sumber sekunder adalah sumber yang berasal dari masa jauh sesudah peristiwa itu terjadi atau sumber primer yang sudah diolah oleh seorang penulis kisah. Sumber-sumber tertulis tentang Pasunda Bubat, ternyata merupakan sumbersumber sekunder, yaitu Sirat Pararaton atau Katuturan ira Ken Angrok (Carita Parahiyangan. Tatwa SuNsa, dan Kidung SuNsa atau Kidung SuNsAyana. Akan tetapi nama tempat di mana perang itu terjadi, yaitu lapangan Bubat, selain disebutkan di dalam sumber-sumber tersebut, masih ada sumber lain yang menyebutkannya yaitu Kakawin NAgarakutygama dan Bujangga Manik. Kecuali naskah Carita Parahiyangan dan Bujangga Manik yang berbahasa Sunda Kuna, naskahnaskah lainnya itu berbahasa Jawa Kuna. Bahasa Jawa Kuna naskah-naskah tersebut sering disebut pula secara khusus dengan istilah Bahasa Jawa Tengahan (Djafar, 2. Ada beberapa versi Serat Pararaton, empat buah naskah lontar tersimpan di Perpustakaan Analisis Historis Tentang Pasunda Bubat (Nina Herlin. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Nasional RI Jakarta, yang berasal dari tahun 1610 dan 1613, dan ada yang paling baru ditulis tahun Selain itu, ada pula tujuh naskah yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, yang berasal dari tahun 1896. Bagian inti Serat Pararaton yang bersifat historis diduga disusun sekitar 1474-1486 berupa chronicle, sedang bagian sastra sejarahnya antara 1500-1613 (Kasdi, 2. Naskah Sirat Pararaton pertama kali diteliti oleh J. Brandes dan hasil penelitiannya diterbitkan pada tahun 1897. Antara tahun 19121913 Commissie voor Volkslectuur di Batavia menerbitkan terjemahan Serat Pararaton dalam bahasa Jawa, karya R. Mangkudimedja. Selanjutnya, naskah ini dikerjakan oleh. Krom dengan bantuan Prof. Mr. Dr. Jonker dan Ng. Poerbatjaraka, diterbitkan pada tahun 1920. Pada tahun 1965 terbit pula terjemahan Pararaton dalam Bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh R. Pitono Hardjowardojo berdasarkan teks Jawa Kuna dan terjemahan dalam bahasa Belanda edisi Brandes-Krom. Selanjutnya, terbit pula Pararaton hasil garapan Ki J. Padmapuspita berupa teks Jawa Kuna yang diambil dari Pararaton edisi BrandesKrom . dan disertai dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Yang paling akhir , pada tahun 2009 terbit pula hasil garapan Agung Kriswanto terhadap naskah Pararaton koleksi Perpustakaan Nasional RI . 19 L . disertai terjemahannya dalam bahasa Indonesia (Djafar, 2. Berdasarkan sumber-sumber yang telah disebutkan di atas, akan dianalisis untuk membuat rekonstruksi peristiwa Pasunda Bubat dalam bentuk historiografi. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri dari empat tahapan, yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi (Garraghan, 1957. Gottschalk, 1. Tahap pertama, heuristik yaitu menelusuri dan menghimpun sumber sejarah yang relevan dengan pokok masalah yang diteliti. Untuk memperoleh sumber yang otentik, dilakukan kritik eksternal sedangkan untuk memperoleh sumber yang kredibel, dilakukan kritik internal. Untuk memperoleh fakta sejarah, data yang sudah melalui tahap kritik, dikoroborasi dengan sumber pembanding yang tidak saling berkaitan. Fakta tersebut kemudian diinterpretasi, baik secara analisis maupun sintesis. Rangkaian fakta yang telah diinterpretasi secara logis, kemudian direkonstruksi menjadi historiografi tentang Pasunda Bubat. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam Serat Pararaton edisi Brandes. Pasunda Bubat dikisahkan sebagai berikut: AuKemudian PasuNsa-Bubat. Bhre Prabhu (Hayam Wuru. menginginkan putri Sunda. Patih Madu diutus mengundang orang Sunda. Orang Sunda berpikir bahwa akan berbesanan. Datanglah Raja Sunda ke Majapahit. Sang Ratu Maharaja tidak mempersembahkan putrinya. Orang Sunda harus disambut dengan upacara kebesaran jika akan menyerahkan putrinya. Patih Majapahit tidak mau jika . utri Sund. akan dinikahkan . engan Raja Majapahi. karena putri raja dianggap sebagai Orang Sunda tidak mau memberikan. Patih Gajah Mada memberitahukan ulah orang Sunda. Bhra Parameswara dari Wengker mengatakan. AuJanganlah khawatir kakanda raja, saya akan melawan bertempur. Ay Setelah Gajah Mada memberitahukan ulah orang Sunda lalu pasukan Majapahit mengepung orang Sunda. Orang Sunda akan menyerahkan putri raja, tetapi dihalangi oleh para menak yang sanggup mati bersimbah darah di Bubat dan tidak akan tunduk. Para pemimpin orang Sunda antara lain Larangagung. Tuhan . aksudnya Tohaan= orang yang dihormati Aepen. ) Sohan. Tuhan Gempong. Payji Milong. Urang Tobongbarang. Rangga Cahot. Tuhan Usus. Tuhan Sohan. Urang Pangulu. Urang Saya. Rangga Kaweni. Urang Siring. Satrajali. Jagatsaya. Semua orang Sunda menyerang sambil bersorak. Diiringi bunyi reyong, sorak-sorai bagaikan guntur. Sang Prabu Maharaja telah tewas lebih dahulu bersama Tuhan Usus. Bhra Parameuwara datang ke Bubat, tidak mengetahui bahwa masih banyak orang Sunda yang tersisa, dan para pemimpin menak menyerang ke selatan. Orang Sunda binasa. Pasukan Majapahit yang menghadang memperoleh kemenangan, mereka Arya Sintong. Patih Gowi. Patih Margaliwih. Patih Titig. Jaran Bhaya. Semua mantri Araraman berperang di atas kuda. Orang Sunda terdesak, bergerak ke arah barat-daya menuju tempat Gajah Mada. Orang Sunda yang sampai di depan kereta gugur. Bagaikan lautan darah dan gunung bangkai, orang Sunda gugur semua tak tersisa, pada tahun oaka sanga-turangga-paksawani, 1279. Bersamaan saatnya peristiwa Dompo Analisis Historis Tentang Pasunda Bubat (Nina Herlin. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 dan peristiwa Sunda. Setelah itulah Gajah Mada amukti palapaAy. (Djafar, 2014. Munandar 2. Kisah Pasunda Bubat, dimuat pula dalam naskah Carita Parahiyangan, meskipun amat sangat ringkas. Naskah ini kini tersimpan di Perpustakaan Nasional RI dengan no. PLT7 (Behrend, 1998: . dan disebut juga sebagai naskah Carita Parahyangan (Kropak . karena naskah ini tersimpan di dalam kropak Naskah ini telah digarap oleh K. Holle . Pleyte . Ng. Poerbatjaraka . Noorduyn . dan Atja . Menurut Atja . naskah ini merupakan salah satu naskah Sunda Kuna yang unicum dan diperkirakan ditulis pada abad ke-16. Dalam naskah ini hanya tertulis Auurang reya sa. kan nu angkat ka jawa, mumul nu lakian di sunda, panprang di majapahit. (Mulanya banyak orang yang pergi ke Jawa, karena tidak mau bersuamikan orang Sunda. Jadilah perang di Majapahi. (Djafar, 2014. Munandar 2. Yang menarik. Pasunda Bubat ini dikisahkan secara panjang lebar dalam naskah Kidung SuNsa (Kidung SuNsAyan. Naskah sastra berbahasa Jawa Kuna (Tengaha. dan beraksara Bali ini ada beberapa versi yang kini tersimpan di Perpustakaan Nasional RI (PNRI). Jakarta, dan di Perpustakaan Universitas Leiden. Di antara naskah-naskah tinggalan Dr. Brandes di PNRI kini masih terdapat dua naskah dan dalam koleksi CC Berg di Leiden ada tujuh naskah. Naskah dalam bentuk kidung ini sudah digarap oleh C. Berg dan diterbitkan pada tahun 1927 dan 1928 (Djafar. Romo Zoetmulder telah membuat ikhtisar isi Kidung Sunda sebagai berikut (Munandar, 2. AuHayam Wuruk. Raja Majapahit, merencanakan untuk Utusan-utusan dikirimkan ke segala jurusan dan telah membawa kembali gambar-gambar mengenai berbagai puteri, tetapi tak seorang pun berkenan di Lalu ia mendengar desas-desus bahwa Raja Sunda mempunyai seorang puteri yang tersohor karena Seorang pelukis ulung diutus untuk membuat lukisannya. Akan tetapi pada waktu lukisan itu datang, tiba pula kedua pangeran dari Kahuripan dan Daha, paman-paman Hayam Wuruk yang mengunjungi kemenakannya guna menyatakan keprihatinan mereka bahwa ia belum memiliki seorang Langsung Sang Raja jatuh cinta pada puteri yang menjadi model bagi lukisan itu. Madhu, seorang mantri senior, diutus menghadap Raja Sunda, membawa sepucuk surat untuk meminang sang puteri. Ia tiba di sana setelah mengadakan pelayaran laut selama enam hari dan menyampaikan surat itu waktu diadakan audensi . pacara penerimaan tamu-tam. Sang Raja senang sekali bahwa puterinya dipilih menjadi permaisuri Raja Majapahit yang berkuasa itu, lalu memberitahukan lamaran tersebut kepada Sang Ratu dan Sang Puteri. Dalam urusan ini Sang Puteri tidak banyak komentarnya, dan uraian orang tuanya yang menyanjung-nyanjung calon suaminya, ditanggapi dengan suatu sembah saja tanpa mengatakan apa pun. Madhu kembali dengan sepucuk surat yang memberitahukan kedatangan sang puteri. Tak lama berselang. Sang Raja, ratu dan puteri bertolak, disertai dua ratus kapal, belum lagi kapal-kapal kecil lainnya. Ketika mereka naik kapal, kelihatan pertanda-pertanda buruk. Kapal yang ditumpangi Sang Raja adalah sebuah jung buatan Cina seperti banyak mulai dipakai setelah perang Wijaya. Di Majapahit diadakan persiapan-persiapan besar-besaran untuk menyambut para tamu. Sepuluh hari kemudian akuwu . epala des. Bubat muncul dengan berita bahwa tamu-tamu telah tiba. Raja beserta kedua pamannya bermaksud untuk berangkat seketika itu juga guna menyongsong mereka. Semua berkumpul di bale agung dan para mantri bergembira ria. Tetapi tiba-tiba semua berdiam diri, ketika mereka melihat bahwa raut muka Gajah Mada dengan jelas memperlihatkan, bahwa ia tidak suka dengan perkembangan terakhir. Ia mencela sang raja dan mengusulkan, agar beliau tinggal di Majapahit dan menunggu saja. Tidak tepat, katanya, bila sang maharaja merendahkan diri menyongsong seorang vassal . aja Siapa tahu apakah orang-orang Sunda itu tidak datang sebagai musuh yang menya-mar sebagai sahabat? Raja yang masih muda itu dan yang mudah sekali dipengaruhi oleh patihnya dan tidak mampu menyelami maksudnya, lupa akan laporan Madhu serta surat Raja Sunda, lalu memutuskan untuk tinggal di Majapahit dan membatalkan segala Para mantri lainnya terperanjat ketika mendengar perintah yang tak terduga itu, tetapi mereka terlalu takut terhadap raja beserta patihnya sehingga mereka tidak melawannya. Di Bubat segala sesuatu dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Sang Mempelai beserta Desas-desus mengenai apa yang terjadi di Majapahit bocor juga dan orang menduga bahwa Raja Majapahit mengingkari janjinya. Patih Anepakin bersama tiga pejabat tinggi lainnya beserta 300 prajurit bersenjata lengkap diutus ke ibukota. Setibanya di sana mereka langsung menuju tempat kediaman sang patih dan memasuki rumahnya, setelah pasukan pengawal tidak menghiraukan permohonan mereka untuk menghadap. Anipaken memberitahukan, bahwa Analisis Historis Tentang Pasunda Bubat (Nina Herlin. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 ia telah datang untuk mengurus sesuatu masalah, dan datang ke Majapahit dan menerima Raja Hayam Wuruk sebagai menantunya. Gajah Mada memberi jawaban penuh penghinaan pribadi kepada utusan dari Sunda: Ini bukan cara yang diharapkan dari sebuah negeri yang harus tunduk kepada Majapahit. Seperti negaranegara vassal lainnya. Raja Sunda pun harus datang dan menyerahkan persembahannya sebagai tanda bahwa ia tunduk kepada Raja Majapahit yang kemudian bersedia menerima sang puteri sebagai persembahan orangorang Sunda. Menyusullah pertengkaran mulut penuh kata kasar, dan karena Smaranata Brahmin keraton turun tangan, maka dapat dihindarkan terjadinya pertempuran pada saat itu dan di tempat itu juga. Orang-orang Sunda kembali setelah mereka diberitahu, bahwa keputusan terakhir dari Raja Majapahit akan disampaikan kepada mereka dalam waktu dua hari. Raja Sunda tidak berkhayal, bahwa perselisihan ini masih dapat diselesaikan secara damai. Ia sama sekali tidak bersedia memenuhi permintaan Majapahit dan berlaku seperti seorang vassal, sesuai dengan tuntutan patih Majapahit. Kepada para mantrinya Raja Sunda memberitahukan untuk gugur sebagai seorang ksatriya: mereka menyatakan, bahwa mereka semua akan Raja lalu menjumpai Sang Ratu beserta puterinya dan memberitahukan kepada mereka mengenai perkembangan yang naas itu. satu-satunya yang dapat diperbuat adalah gugur untuk melindungi kehormatannya. Ia mendesak agar mereka pulang ke Sunda, tetapi Sang Ratu beserta putrinya menolak untuk berpisah dengannya. Semua bersiap-siap menghadapi perang yang tak terelakkan lagi. Tentara Majapahit pun disiapsiagakan dan menuju Bubat. Pasukan yang paling depan ialah prajurit-prajurit biasa, kemudian para tanda dan mantri, kemudian Gajah Mada, sang patih, dan akhirnya ketiga Pada saat terakhir dua utusan dikirim ke tempat perkemahan orang-orang Sunda bersama seratus prajurit, tetapi pesan yang mereka bawa sama dengan syarat-syarat yang telah ditolak oleh pihak Sunda dan kita dapat membayangkan, bahwa dengan marah sekali lagi mereka tolak syarat-syarat itu. Sisa pupuh ini membahas pertempuran yang menewaskan banyak prajurit Majapahit, tetapi akhirnya semua orang Sunda dimusnahkan. Anepakin ditewaskan oleh Gajah Mada. Raja Sunda Gugur setelah dengan gagah berani melawan kedua besannya. Raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya mantri Sunda yang dapat meloloskan diri dari pembantaian karena ia berpura-pura mati di tengah-tengah mayatmayat, lalo ia membawa berita malapetaka itu kepada sang Ratu beserta puterinya. Kedua-duanya memutuskan untuk mengikuti raja ke alam maut . Sang Ratu khawatir kalau-kalau putrinya dihalangi melaksanakan niat itu kalau ia kelihatan bersama dengan ibunya menuju medan pertempuran. Ia minta kepada puterinya untuk mendahului ke alam maut dan minta kepada ayahnya agar ia sudi menantikan istrinya sebelum mereka bertolak dalam perjalanan penuh mara bahaya itu ke alam maut. Sang puteri menuruti permintaan ibunya lalu menikam diri. Kemudian Sang Ratu, isteri Sang Raja bersama semua isteri para mantri menuju medan pertempuran dan melakukan bunuh diri di atas jenazah suami-suami Hayam Wuruk dilanda rasa sedih dan sesal, setelah cita-citanya yang paling indah tidak terpenuhi seperti yang dibayangkannya, melainkan berakhir dengan pertempuran sedemikian tragis. Karena tidak melihat jenazah Sang Puteri di antara para bela, harapan bahwa ia mungkin masih hidup lalu dapat dijadikan isterinya, membumbung tinggi lagi. Akan tetapi, setelah tiba di pesanggrahan dan menemukan jenazahnya, ia jatuh pingsan. setelah sadar kembali ia mengungkapkan rasa sedihnya dengan sebuah ratapan yang mengharukan. ia berharap agar ia segera dapat menggabungkan diri dengannya, lalu dipersatukan dengan kekasihnya untuk selama-lamanya. Kemudian upacara mendoakan arwah dilakukan. Semenjak saat itu Sang Raja merana dan tidak lama kemudian meninggal dunia. Deskripsi panjang lebar mengenai upacara perabuan Sang Raja. Kedua paman mengadakan perundingan dengan para mantri senior mereka. mereka yakin bahwa Gajah Madalah yang merupakan biang keladi semua malapetaka itu, lalu memerintahkan supaya ia dibunuh. Para mantri mempersiapkan pasukan-pasukannya, lalu mengepung kepatihan . umah kediaman sang pati. dan meruntuhkan temboknya. Pada saat itu Gajah Mada sadar, bahwa Aotelah tiba waktunya bagi dia, patih Kerajaan Majapahit dan inkarnasi Narayana (Wisn. , untuk pulang ke Surga Wisnu. ia mengenakan lencana-lencana keagamaan dengan tali kastanya lengkap dengan tasbihnya. Sambil berdiri di halaman dalam ia melakukan yoga lalu menghilang ke ketiadaan. Ketika pasukan-pasukan masuk menyerbu, mereka tidak menemukan seorang pun. Di seluruh negeri diadakan pencarian, tetapi sia-sia. Kedua paman yang menyerupai AoSiva-BuddhaAo tidak mau tinggal lebih lama lagi di Majapahit yang demikian penuh kenang-kenangan sedih, lalu pulang ke Kahuripan dan DahaAy (Zoetmulder, 1982: 528Ai. Sumber sejarah terakhir yang mengkisahkan Pasunda Bubat adalah naskah Tatwa SuNsa. Ada dua naskah yang tersimpan di Analisis Historis Tentang Pasunda Bubat (Nina Herlin. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Perpustakaan Universitas Leiden. Isi naskah merupakan fragmen dari kisah putri Sunda yang gagal menikah dengan Raja Hayam Wuruk dari Majapahit karena terjadinya Perang Bubat seperti yang diuraikan dalam naskah Kidung SuNsa (SuNsAyan. (Djafar, 2. Peristiwa Pasunda Bubat, hanya dikisahkan dalam naskah-naskah yang tergolong sumber sekunder di atas. Hingga saat ini tidak ada sumber primer yang menyebutkan adanya peristiwa Namun demikian, tidak berarti bahwa peristiwa itu tidak pernah terjadi. Dalam Serat Pararaton, disebutkan bahwa Pasunda Bubat terjadi bersamaan dengan Peristiwa yang disebut Padompo, yaitu penyerbuan pasukan Majapahit ke Dompo, yang terjadi tahun 1297 Saka atau 1357 Masehi. Penulisan Serat Pararaton sendiri dilakukan paling cepat lebih dari seratus tahun setelah peristiwanya itu terjadi . , ketika Majapahit sedang mengalami keruntuhannya. Siapakah penulis naskah ini? Sebagaimana kebanyakan historiografi . enulisan sejara. tradisional, biasanya anonim. Namun mengapa peristiwa yang dapat dikatakan sebagai aib bagi Majapahit diungkapkan dalam naskah ini? Kemungkinan besar yang menulis naskah atau yang menyuruh menulis naskah ini adalah pihak yang bersebrangan dengan Majapahit. Jadi, tidak mengherankan bila peristiwa yang dianggap aib bagi musuh diungkap dalam naskah ini. Dalam kurun waktu seratus tahunan, tentulah masih ada yang bisa menceritakan kisah tragis yang menimpa Raja Sunda tersebut. Kesimpulannya: Inti Pasunda Bubat dalam naskah Serat Pararaton adalah peristiwa sejarah, meski detailnya mungkin rekaan Namun mengapa dalam Carita Parahyangan yang berasal dari Tatar Sunda, hanya dikisahkan sangat ringkas? Peristiwa Pasunda Bubat tentulah sebuah peristiwa besar, yang sangat menyedihkan. Jadi, mungkin saja, urang Sunda ingin melupakan peristiwa tersebut meskipun agak mengherankan bahwa dalam kisah super singkat itu seakan ada AucelaanAy bagi kaum perempuan Sunda yang dianggap materialistis. Kisah panjang lebar tentang Pasunda Bubat dalam Kidung Sunda/Kidung Sundayana, yang sangat memedihkan hati orang Sunda yang membacanya dan mungkin menyulut AukemarahanAy ataupun Aurasa dendamAy, tampaknya didasarkan atas kisah dalam naskah yang lebih tua. Serat Pararaton. Dan atas prakarsa para ahli Belanda pula, naskah Kidung Sunda ini kemudian diterbitkan oleh Volkslectuur . ekarang dinamai Balai Pustak. Menurut salah satu sumber, disebutkan bahwa buku berjudul Kidung Sunda ini dijadikan bahan bacaan bagi siswa-siswa Algemene Middelbare School . ekolah setingkat SMA Kita bisa membuat interpretasi atas adanya fenomena ini. Apakah motivasi pemerintah kolonial menerbitkan dan menjadikan buku ini sebagai bacaan siswa-siswa. Maka dugaan pun muncul: pemerintah kolonial yang sudah terbiasa melakukan politik divide et impera . ecah dan kuasa. , sengaja menghidupkan konflik antar suku (Sunda dan Jaw. dan memelihara Audendam sejarahAy ini dengan menerbitkan naskah yang memanas-manasi hati orang Sunda. Jangan lupa bahwa, bersamaan dengan itu , ditiup-tiupkan pula pamali . , pamali laki-laki Sunda menikah dengan perempuan Jawa. Suka atau tidak suka, rupanya masyarakat pun termakan dengan isu-isu ini. Isu AuPerang BubatAy pun sering diangkat ke permukaan dalam situasi kondisi politik tertentu, misalnya pada tahun 1950-an ketika muncul konflik anti Jawa di Tatar Sunda yang dipicu oleh kecenderungan Presiden Soekarno untuk bersikap bias condong ke etnis Jawa. Isu muncul kembali ketika muncul fenomena kepemimpinan nasional yang memarginalkan suku Sunda seperti muncul dalam dua dekade terakhir Terlepas dari itu semua, para sejarawan, arkeolog, filolog, berusaha untuk meneliti Pasunda Bubat untuk mendapatkan kisah historis yang tergolong Auwie est eigentlicht gewesenAy . ebagaimana ia terjad. , seperti kata Leopold von Ranke. Oleh karena ketiadaan sumber primer, dan hanya mengandalkan sumber-sumber sekunder maka pendekatan yang lebih bersifat hermeneutis pun dilakukan, yaitu dengan mencoba menyelami kondisi sosiopolitik budaya, yang berlaku pada waktu peristiwa itu terjadi . , dan melakukan komparasi-komparasi historis dengan peristiwa sejaman yang memiliki sumber Beberapa prasasti terkait Majapahit pertengahan abad ke-14 dapat menjelaskan posisi Gajah Mada dan hubungannya dengan sumpah Amukti Palapa sehingga dapat dibuat interpretasi tentang motivasi Gajah Mada untuk menghadapi Raja Sunda dengan senjata. Selain itu, berita-berita asing maupun lokal, dapat menjelaskan dugaan kuat tentang rute perjalanan Raja Sunda menuju Bubat. Pada awal tahun 2018. Pemerintah Provinsi Jawa Barat meminta penulis untuk mengadakan Analisis Historis Tentang Pasunda Bubat (Nina Herlin. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 penelitian mendalam tentang Pasunda Bubat. Kemudian diseminarkan secara nasional. Para penanggap dalam Seminar Nasional tersebut menyampaikan tanggapan yang beragam, mulai dari yang emosional hingga yang moderat. Ada penanggap yang menyebut Gajah Mada adalah penjahat, menyebut Pasunda Bubat adalah AupembokonganAy Majapahit terhadap Pajajaran. Ada juga yang berpendapat bahwa dendam sejarah sangat berbahaya jika terus dipelihara. Apalagi jika untuk kepentingan yang kurang jelas dan tidak mendatangkan keuntungan apa-apa, kecuali dendam itu sendiri. Selain itu, ada yang berpendapat bahwa kita tidak perlu khawatir berlebihan bahwa kisah Pasunda Bubat akan menimbulkan konflik sosial di antara masyarakat Sunda dan Jawa. Bahkan sebaliknya, bila kisah itu dibaca dengan tenang dan kemudian direnungkan, sesungguhnya banyak pesan berharga yang bisa ditemukan pembaca dari etnis manapun mereka berasal. Pendapat lainnya yang juga menarik, adalah bahwa Pasunda Bubat telah menghasilkan kreatifitas di bidang sastra, teater, dan berpendapat bahwa tidak perlu dilakukan rekonsiliasi secara formal karena dikhawatirkan akan membangkitkan kembali dendam yang terpendam. Apalagi bila rekonsiliasi ditandai dengan penyematan nama Gajah Mada. Hayam Wuruk. Majapahit untuk nama-nama jalan di Jawa Barat. bukan mustahil jika dendam yang hampir padam malah menyala kembali. Seorang pakar pemerintahan berpendapat bahwa dengan diproklamirkannya NKRI, sebenarnya sebagai upaya melakukan shortcut terhadap masa lalu di belakang Indonesia. Pasunda Bubat bukan untuk dilupakan namun untuk dipetik berbagai pelajaran masa lalu, guna menjalani masa depan yang lebih baik sebagai bangsa Indonesia dengan keragaman etnisitas, sukubangsa, bahasa, agama dan kepercayaan. Mengenai rekonsiliasi antara masyarakat Sunda dan masyarakat Jawa terkait peristiwa masa lalu, cukup dengan memahami informasi yang relatif jelas ikhwal peristiwa tersebut dan Seorang pakar sosiologi, berpendapat segenap luka masa silam Antara Sunda dan Jawa pada akhirnya menjadi jembatan cultural strategy of self-definition. Tanpa harus ada paksaan. Apalagi rekayasa politik. Kesimpulan akhir seminar tersebut adalah sebagai berikut: Peristiwa yang disebut Pasunda Bubat dalam naskah Serat Pararaton adalah sebuah peristiwa sejarah yang terjadi di Lapangan Bubat . ang terletak di sebelah utara ibukota Kerajaan Majapahit. Trowula. pada tahun 1357, ketika Prabu Maharaja. Raja Sunda Galuh mengantarkan puterinya Dyah Pitaloka atau Citraresmi yang dilamar oleh Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk untuk menjadi permaisurinya. Namun karena Raja Hayam Wuruk sudah dipertunangkan dengan sepupunya. Indudewi atau Paduka Sori. Orang tua Hayam Wuruk. Tribuwanatunggadewi, diduga telah membuat Gajah Mada bertindak untuk menggagalkan perkawinan tersebut dan memaksa agar Dyah Pitaloka mau menjadi selir Hayam Wuruk dan dianggap sebagai Kemungkinan besar Gajah Mada memiliki motivasi lain yaitu mewujudkan sumpah amukti palapa-nya untuk mengalahkan Raja Sunda, dengan memanfaatkan situasi tersebut. Demi mempertahankan harga diri. Prabu Maharaja dan pasukannya memilih untuk melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan. Terjadilah tragedi terbesar dalam Sejarah Kerajaan Galuh: semua rombongan Raja Galuh gugur di Bubat, tetapi Kerajaan Galuh tetap menjadi kerajaan yang Ada upaya Aeupaya dari pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk mempertajam konflik Sunda-Jawa dengan menerbitkan naskah Kidung Sunda yang mengekploitasi kisah tragis tersebut sehingga menimbulkan dendam sejarah dari pihak Sunda kepada Jawa. Pada bulan Mei 2018, hasil seminar penulis diskusikan bersama tokoh-tokoh Jawa Barat. Hasilnya: Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, membuat surat keputusan untuk mengganti nama Jalan Cimandiri menjadi Jalan Hayam Wuruk. Jalan Pusdai menjadi Jalan Citraresmi, dan Jalan Gasibu menjadi Jalan Majapahit. Namun Gajah Mada tidak dijadikan nama jalan di Kota Bandung karena masyarakat tetap menolak nama tokoh yang dianggap sebagai dalang pembunuhan Raja Galuh dan rombongannya. DAFTAR PUSTAKA