Journal Genta Mulia Volume 16. Number 1, 2024 pp. P-ISSN 23553790 E-ISSN: 25794655 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KELAS V DI SDN PAGADUNGAN 2 Al Fitri Chahyani*1. Neng Hanifiah Radhia Robbi2, dan RifaAoa Noveyanti3. Patra Aghtiar Rakhman4 1234PGSD. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Indonesia * Corresponding Author: alfitrichahyani11@gmail. Abstrak Dalam penelitian ini bertujuan untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang dilakukan peserta didik kelas V SDN Pagadungan 2 Kabupaten Pandeglang dalam menulis. Kesalahankesalahan tersebut meliputi penggunaan huruf kapital dan tanda baca. Metodologi penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu menganalisis dan menilai data secara objektif berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. Selain itu, informasi yang dikumpulkan digambarkan melalui deskripsi verbal. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 35 tulisan peserta didik telah dianalisis. Dalam hal penggunaan huruf kapital, peserta didik melakukan 353 kesalahan pada teks narasi mereka, dan terdapat 84 kesalahan pada penempatan tanda baca dalam penulisan yang mereka buat. Untuk meningkatkan kemampuan menulis, peneliti menerapkan media pembelajaran interaktif, yang menghasilkan peningkatan di mana 85,7% atau 30 dari 35 peserta menjadi mahir dalam penggunaan tanda baca dan huruf kapital. Kata Kunci : Huruf kapital, tanda baca, media interaktif. Abstract This study aims to find errors made by fifth grade students of SDN Pagadungan 2 Pandeglang Regency in writing. These errors include the use of capital letters and punctuation. The methodology of this study is a descriptive qualitative approach, namely analyzing and assessing data objectively based on the results of observations in the field. In addition, the information collected is described through verbal The findings of this study indicate that as many as 35 student writings have been analyzed. In terms of the use of capital letters, students made 353 errors in their narrative texts, and there were 84 errors in the placement of punctuation in the writing they made. To improve writing skills, researchers applied interactive learning media, which resulted in an increase in which 85. 7% or 30 out of 35 participants became proficient in the use of punctuation and capital letters. Keywords : Capital letters, punctuation, interactive media. PENDAHULUAN Di negara Indonesia ini, pendidikan formal diwajibkan selama sembilan tahun dan dimulai dari tingkat pendidikan dasar. Tingkat pendidikan dari kelas satu sampai kelas enam merupakan sekolah dasar sebelum melanjutkan ke sekolah menengah pertama selama tiga Sesuai dengan misi yang terkandung didalamUndang-Undang Dasar 1945, pendidikan di sekolah dasar memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa kesetiaan, cinta, dan kebanggaan terhadap bangsa dan negara, serta membekali peserta didik dengan kualitas yang kompeten, kreatif, sopan, serta mampu menyelesaikan tantangan lingkungan dengan baik. Pendidikan di tingkat sekolah dasar memiliki peran yang sangat signifikan. Hal ini dikarenakan pendidikan ini menjadi landasan bagi kemajuan akademis dan interaksi sosial anak-anak. Selain itu, pendidikan ini memberikan bekal berupa keterampilan dasar, pengetahuan, serta nilai-nilai yang akan membentuk watak serta akhlak mereka dan mempersiapkan untuk menghadapi tantangan di masa depan, baik baik dalam kehidupan Al Fitri Chahyani 1. Penerapan media pembelajaran interaktif sehari-hari maupun pada tingkat Pendidikan yang lebih tinggi nantinya. Dengan beragamnya mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar, peluang untuk mewujudkan potensi dan citacita seseorang akan semakin besar. Salah satu mata pelajaran terpenting yang diajarkan di sekolah dasar adalah Bahasa Indonesia. Mempelajari Bahasa Indonesia sejak usia dini sangat penting untuk dapat berkomunikasi secara efektif dalam situasi sehari-hari, oleh karena itu mengikuti kelas Bahasa Indonesia sangat dianjurkan. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang mempersatukan dan mencerminkan identitas nasional Indonesia. Octrivianty . Menulis adalah keterampilan berbahasa yang melibatkan penggunaan bahasa tulis sebagai media komunikasi dan penyampaian pesan. Isi dari sebuah tulisan adalah pesannya. Tulisan merupakan simbol bahasa yang dapat diamati, diakui secara umum, dan disepakati. Manusia dapat berkomunikasi satu sama lain melalui tulisan. Penulisan harus mengikuti peraturan Bahasa Indonesia. Menulis yang baik merupakan tanggung jawab kita sebagai pengguna bahasa untuk mengikuti standar baku bahasa yang diuraikan dalam PUEBI, atau Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. PUEBI adalah seperangkat aturan yang mencakup semua hal untuk merepresentasikan bunyi ujaran dan hubungan antara pemisahan dan penggabungan bunyi bahasa. Secara teknis, ejaan mengacu pada penggunaan tanda baca, huruf, dan kata. Penulisan yang mempertimbangkan penggunaan huruf, tanda baca, dan elemen lainnya dianggap sebagai penulisan yang baik. Setiap pengguna bahasa Indonesia, terutama peserta didik, harus mahir menggunakan huruf kapital dan tanda baca saat menulis paragraf. Peserta didik. Agar bisa meningkatkan kemampuan berbahasa dengan baik, kita juga perlu memahami cara menggunakan tanda baca selain huruf besar. Biasanya, huruf kapital digunakan untuk memulai kalimat, nama diri, dan hal-hal lainnya. Tidak seperti huruf-huruf lain yang umumnya digunakan untuk memulai kalimat, menyebut nama orang, menunjukkan lokasi, dan hal sejenisnya. Dalam meningkatkan kemampuan menulis, memanfaatkan media yang menarik bagi peserta didik lebih efektif. Media pembelajaran mengacu pada alat apa pun yang mengomunikasikan pesan dan dapat melibatkan pikiran, emosi, fokus, dan motivasi peserta didik, sehingga menumbuhkan pengalaman belajar yang penuh perhatian, disengaja, terorganisasi, dan sistematis. Guru dan peserta didik, peserta didik dan media, serta pendidik dan media semuanya berinteraksi selama proses pembelajaran. Guru dan peserta didik harus berinteraksi agar pembelajaran dapat berlangsung. Guru akan menggunakan berbagai teknik dan materi pengajaran untuk berhasil menyampaikan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Jika peserta didik awalnya mengalami kebosanan dan menganggap proses pembelajaran tidak menarik, maka pembelajaran interaktif dapat berfungsi sebagai bentuk media alternatif yang menarik minat mereka, kemudian meningkatkan pemahaman dan kinerja akademis mereka, yang dipengaruhi oleh preferensi belajar mereka, karena beberapa memahami konsep lebih cepat melalui metode visual, auditori, cetak, atau audiovisual (Hakim & Haryudo 2014:. Berdasarkan pengalaman yang saya peroleh di kelas, khususnya di kelas V SDN Pagadungan 2, saya menemukan bahwa masih terdapat kesalahan dalam tanda baca dan huruf kapital. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan lebih lanjut dalam pemahaman peserta didik terhadap komponen-komponen ini. Ketika peserta didik menggunakan huruf kapital dan tanda baca secara tidak tepat dalam tulisan mereka, mereka membuat banyak Penyebabnya adalah kurangnya efektivitas dan interaktivitas dalam materi ajar guru, serta rendahnya kesadaran peserta didik mengenai pentingnya penggunaan huruf kapital dan tanda baca. Akibatnya, peserta didik sering kesulitan saat harus memahami penggunaan tanda baca dan huruf kapital yang tepat. Umumnya, guru-guru perlu memberikan perhatian lebih pada kepentingan mengajarkan peserta didik cara menulis dengan huruf kapital dan tanda baca. Bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi, para peneliti terinspirasi untuk melakukan penelitian dengan judul yang menarik, yaitu "Penerapan Media Pembelajaran Interaktif untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis P-ISSN: 23553790. E-ISSN : 25794655 Al Fitri Chahyani 1. Penerapan media pembelajaran interaktif Kelas V di SDN Pagadungan 2". Pengembangan media interaktif ini menggabungkan teks narasi seperti cerita pendek, berfokus pada masalah tanda baca dan huruf kapital, khususnya untuk kelas V semester 1. Media yang dikembangkan harus melalui proses validasi yang mencakup masukan dari pakar media dan materi. Tujuan dari uji validasi ini adalah untuk mengidentifikasi kekurangan pada media interaktif guna mengarahkan penyempurnaan. Produk yang lolos tahap validasi dan kebenaran kemudian dianggap layak atau siap dievaluasi oleh guru kelas sebagai calon pengguna ataupun peneliti. METODE PENELITIAN Pergeseran cara masyarakat memandang realitas dan peristiwa telah mengakibatkan munculnya metode penelitian kualitatif. Realitas sosial dalam pandangan ini dianggap holistik, kompleks, dinamis, dan kaya akan makna. Paradigma postpositivisme termasuk di antara kerangka kerja tersebut. Kerangka kerja sebelumnya yang disebut paradigma positivis berfokus pada pemahaman gejala yang lebih seragam, tidak berubah, dan jelas. Baik positivisme maupun postpositivisme menawarkan kerangka kerja untuk metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Tulisan ini membahas pendekatan penelitian kualitatif. Seorang ahli mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai investigasi apa pun yang bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami pengalaman para partisipan. Penelitian ini berfokus pada pemahaman perilaku, sikap, dan tindakan subjek yang terlibat. (Sugiyono, 2015:. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan tujuan menggambarkan suatu unsur tertentu secara jelas dan ringkas. Prosedur yang diikuti untuk menguraikan entitas, kejadian, atau konteks sosial tertentu yang menjadi fokus penelitian muncul dalam bentuk narasi. Dalam istilah yang lebih sederhana, informasi atau detail yang diidentifikasi oleh peneliti kualitatif disampaikan menggunakan kata-kata atau Pengamatan lapangan, wawancara subjek, dan informasi yang diperoleh dari jurnal dan situs web lain merupakan sumber data yang digunakan penulis untuk menganalisis penelitian ini. Fokus penelitian ini berkaitan dengan entitas yang terlibat dalam penelitian. Dalam analisis ini, entitas yang diteliti adalah peserta didik Sekolah Dasar. (Handayani 2020:. menggambarkan populasi sebagai keseluruhan kelompok elemen yang diteliti yang memiliki kesamaan ciri. Elemen-elemen tersebut dapat mencakup individu dalam suatu kelompok, peristiwa, atau entitas kolektif lainnya. Peserta didik SDN Pagadungan 2 merupakan populasi penelitian ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh (Siyoto & Sodik 2015:. , sampel merupakan bagian dari populasi yang dipilih berdasarkan standar tertentu agar dapat mewakili populasi tersebut secara adil. Dalam penelitian ini, peserta didik Sekolah Dasar Pagadungan 2 menjadi sampel. Metodologi penelitian melibatkan pendekatan yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi dan mengusulkan solusi terhadap masalah yang ada. Peneliti melakukan studi awal, merumuskan masalah, menetapkan tujuan, mengumpulkan data, mengolah dan menganalisisnya, serta terlibat dalam diskusi, menyimpulkan dengan rekomendasi yang terkait dengan topik yang diangkat peneliti, yang menggunakan data kualitatif untuk penelitian ini dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis peserta didik dengan penggunaan huruf kapital dan tanda baca yang tepat. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan PUEBI, kami menemukan 35 peserta didik kelas 5 di SDN Pagadungan 2. Kabupaten Pandeglang, yang menjawab survei kami dengan penggunaan huruf kapital dan tanda baca yang salah. Berikut ini adalah contoh tanggapan responden peserta didik. Tabel 1 Hasil Responden 1 P-ISSN: 23553790. E-ISSN : 25794655 | 10 Al Fitri Chahyani 1. Penerapan media pembelajaran interaktif Responden dari Kesalahan yang dilakukan peserta peserta didik didik saat menulis di sebuah kebun binatang, ada seekor kelinci yang sangat lucu. Kelinci itu memiliki bulu yang putih bersih dan mata yang besar dan bulat. Kelinci itu sangat suka bermain. Ia sering berlari-lari mengejar ekornya sendiri. ia juga sering melompat-lompat dengan anak-anak menyukai kelinci itu! Mereka sering datang ke kebun binatang hanya untuk melihat kelinci itu. Saran untuk peningkatan peserta Di sebuah kebun binatang, ada seekor kelinci yang sangat lucu. Kelinci itu memiliki bulu yang putih bersih dan mata yang besar dan bulat. Kelinci itu sangat suka Ia sering berlari-lari mengejar ekornya sendiri. Ia juga sering melompat-lompat dengan anak-anak menyukai kelinci itu. Mereka sering datang ke kebun binatang hanya untuk melihat kelinci itu. Terdapat beberapa kesalahan dalam penyusunan teks narasi pada tabel yang menunjukkan data peserta didik 1, terutama dalam penggunaan huruf kapital dan tanda Selain itu, saran perbaikan berdasarkan PUEBI disertakan pada kolom berikut. Tabel 2. Analisis Penggunaan Responden peserta didik 1 Responden Analisis penggunaan Huruf Kapital Tanda Baca AK. STB NHNB NO NT Titik Koma Titik Dua Berdasarkan data pada tabel, responden peserta didik 1 diketahui melakukan dua kesalahan pada awal dan tengah kalimat, satu kesalahan penggunaan tanda baca, serta masing-masing satu kesalahan penggunaan titik dan koma. No Hasil dari nalisis Jumlah yang ditemukan Huruf Kapital Nama tentang Tempat Nama tentang Orang Nama tentang Hari dan Nama Bulan Setelah Tanda Baca Awal kalimat. Tengah Kalimat Total: Tanda Baca: Koma Titik Dua Titik Total: Dari tabel tersebut terlihat bahwa keterampilan menulis teks narasi peserta didik ditunjukkan oleh hasil pemeriksaan penggunaan huruf kapital dan tanda baca pada lembar penilaian tes. Analisis data, termasuk persentasenya, ditunjukkan pada tabel Sebanyak 62% huruf kapital digunakan pada awal kalimat, sedangkan 18% terletak di tengah kalimat. Sementara itu, 9% dipakai untuk menuliskan nama hari dan bulan, 2% untuk menuliskan nama orang, dan 14% untuk menuliskan nama tempat. Terkait dengan P-ISSN: 23553790. E-ISSN : 25794655 | 11 Al Fitri Chahyani 1. Penerapan media pembelajaran interaktif kesalahan tanda baca, sebanyak 57% terjadi kesalahan penggunaan titik, 22% dengan koma, dan 1% dengan penggunaan titik dua di SDN Pagadungan 2 Kabupaten Pandeglang. Kategori Range Tuntas Tidak Tuntas Jumlah 65 Ae 100 0 Ae 64 Pretest Frekuensi Presentasi (%) 22,86 % 77,14 % Sebelum menggunakan media pembelajaran, tabel di atas menampilkan temuan awal kemampuan peserta didik dalam penggunaan huruf kapital dan tanda baca. Hanya delapan peserta didik, atau sekitar 22,86%, yang berhasil, sedangkan dua puluh tujuh peserta didik, atau sekitar 77,14%, tidak mencapai tingkat kesempurnaan dalam penggunaan huruf kapital dan tanda baca. Data dikumpulkan selama satu hari penuh pada hari Sabtu, 12 Oktober 2024. Peneliti telah memberikan surat izin penelitian kepada sekolah pada tanggal 7 September 2024. Surat tersebut telah disusun dengan tujuan yang baik, yaitu untuk meminta izin untuk melakukan penelitian sambil menjelaskan alasan serta tujuan dari penelitian yang direncanakan. Peneliti kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada sejumlah peserta didik, mengingatkan mereka tentang pentingnya penggunaan huruf kapital dan tanda baca serta cara menulis teks Selanjutnya, para peserta didik melakukan revisi terhadap teks narasi yang disediakan oleh peneliti, dengan memperbaiki tanda baca dan huruf kapital agar lebih tepat. Wawancara juga bertujuan untuk menilai pemahaman peserta didik dalam membuat teks narasi, terutama dalam penggunaan tanda baca dan huruf kapital yang tepat. Pada hari Sabtu, peneliti mengumpulkan dokumentasi dengan menghimpun karya tulis peserta didik berupa karangan sederhana dari total 35 peserta didik. Ada banyak cara berbeda untuk menggunakan huruf kapital dan tanda baca dalam sebuah cerita selama proses penulisan. Hasil penelitian yang dilakukan pada Kamis, 24 Oktober 2024 telah disampaikan kepada kepala sekolah untuk memberitahukan bahwa penelitian tersebut telah selesai. Walau demikian, bila terdapat data yang belum lengkap, peneliti dapat kembali ke sekolah. Peneliti akan memusatkan perhatian pada tanda baca tertentu, yakni titik, koma, serta titik dua. Kesalahan yang sering dilakukan peserta didik saat menulis narasi dengan huruf kapital dan tanda baca dijelaskan di bawah Menurut PUEBI, peneliti sampai pada kesimpulan bahwa para peserta didik mengalami kesulitan dengan penggunaan huruf kapital dan tanda baca setelah mencermati wawancara dan menganalisis tulisan para peserta didik. Berikut penjelasan lengkap yang diberikan oleh peserta peserta didik pertama: Huruf kapital dapat digunakan sebagai huruf pertama kalimat dan sebagai huruf pertama nama tempats, sesuai dengan prosedur PUEBI. Penulisan pada teks sebelumnya perlu sedikit perbaikan untuk menjaga kepatutan. Huruf "d, i, dan a" pada kata-kata "di", "ia", dan "anak-anak" sebaiknya ditulis dengan huruf kecil karena posisinya bukan di awal kalimat. Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEBI), disebutkan bahwa penggunaan huruf kapital hanya terbatas pada awal kalimat. Huruf "A" pada kata "Anak-anak" idealnya ditulis dengan huruf kapital sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang menekankan penggunaan huruf besar sebagai penanda Menulis tanda baca dengan benar sesuai PUEBI "Tanda koma dipakai diantara nama dan alamat bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, serta nama tempat P-ISSN: 23553790. E-ISSN : 25794655 | 12 Al Fitri Chahyani 1. Penerapan media pembelajaran interaktif dan wilayah atau negeri yang di tulis berurutan". Karena berfungsi sebagai tanda baca penghubung, lebih baik koma diletakkan setelah kata "sendiri". Karena frasa tersebut berada di akhir kalimat, "itu" harus diikuti titik. Kategori Range Tuntas Tidak Tuntas Jumlah 65 Ae 100 0 Ae 64 Pretest Frekuensi Presentasi (%) 85,7 % 14,3 % Kemampuan peserta didik dalam penggunaan huruf kapital dan tanda baca menggunakan sumber belajar interaktif ditampilkan dalam tabel di atas. Sebanyak 30 peserta didik atau 85,7% berhasil menyelesaikan tugas ini. Sementara itu, sebanyak 14,3% peserta didik atau 5 orang tidak menyelesaikan latihan penggunaan huruf kapital dan tanda baca. Peserta didik yang belum menyelesaikan tugas akan segera mendapatkan bantuan tambahan dari guru kelas. SIMPULAN DAN SARAN Hal ini dapat disimpulkan dari pembahasan sebelumnya dan temuan penelitian bahwa proses pembelajaran menulis di kelas V SDN Pagadungan 2 berlangsung dengan baik. Untuk mengumpulkan informasi untuk penelitian ini, guru kelas V di SDN Pagadungan 2 diobservasi dan diwawancarai tentang pendekatan mereka dalam mengajar menulis. Penelitian ini menunjukkan bagaimana penggunaan media interaktif dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas V di SDN Pagadungan Penggunaan sumber belajar interaktif untuk materi teks narasi dapat membantu peserta didik menulis lebih baik, terutama dalam hal tanda baca dan penggunaan huruf kapital. Karena itulah, peserta didik akan merasakan kebahagiaan yang lebih saat belajar. Temuan konsisten dari penelitian yang menunjukkan variasi nyata dalam hasil belajar antara kelas yang menggunakan media interaktif dan kelas yang tidak menggunakan media interaktif semakin mendukung kesimpulan ini. Peningkatannya mencapai 22,86% karena dari total 35 peserta, awalnya hanya 8 peserta yang mampu menguasai penggunaan peserta didik pada tanda baca dan huruf kapital dengan benar, namun kini sudah mencapai 30 peserta dari total Untuk memaksimalkan pemanfaatan media pembelajaran interaktif yang menggabungkan media konvensional, presentasi PowerPoint. Wordwall, dan audio visual, disarankan agar pengajar menciptakan pengalaman belajar yang holistik dengan memanfaatkan kekuatan masing-masing media. Penggunaan media konvensional, seperti buku dan papan tulis, dapat berfungsi sebagai landasan yang kuat untuk memperkenalkan ide-ide atau konsep awal, sebelum beralih ke presentasi PowerPoint yang dirancang menarik dengan grafik dan animasi, sehingga peserta didik dapat lebih mudah memahami materi dan terlibat secara visual. Selanjutnya. Wordwall dapat digunakan untuk membuat kuis interaktif dan permainan yang memungkinkan peserta didik berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, mendukung pemahaman konsep melalui aktivitas yang menyenangkan. Di samping itu, mengintegrasikan media audio visual, seperti video pembelajaran atau rekaman presentasi akan memberikan dimensi tambahan yang membantu peserta didik yang lebih suka belajar melalui visual dan auditori, serta mengatasi berbagai gaya belajar yang ada. Dengan menyediakan akses ke semua media ini secara terintegrasi, termasuk sesi tanya jawab dan diskusi kelompok, diharapkan selain meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi pelajaran, peserta didik juga akan merasa lebih terlibat dan bersemangat untuk belajar, yang P-ISSN: 23553790. E-ISSN : 25794655 | 13 Al Fitri Chahyani 1. Penerapan media pembelajaran interaktif akan mengarah pada hasil belajar yang lebih baik. SIMPULAN DAN SARAN Hal ini dapat disimpulkan dari pembahasan sebelumnya dan temuan penelitian bahwa proses pembelajaran menulis di kelas V SDN Pagadungan 2 berlangsung dengan baik. Untuk mengumpulkan informasi untuk penelitian ini, guru kelas V di SDN Pagadungan 2 diobservasi dan diwawancarai tentang pendekatan mereka dalam mengajar menulis. Penelitian ini menunjukkan bagaimana penggunaan media interaktif dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas V di SDN Pagadungan Penggunaan sumber belajar interaktif untuk materi teks narasi dapat membantu peserta didik menulis lebih baik, terutama dalam hal tanda baca dan penggunaan huruf kapital. Karena itulah, peserta didik akan merasakan kebahagiaan yang lebih saat belajar. Temuan konsisten dari penelitian yang menunjukkan variasi nyata dalam hasil belajar antara kelas yang menggunakan media interaktif dan kelas yang tidak menggunakan media interaktif semakin mendukung kesimpulan ini. Peningkatannya mencapai 22,86% karena dari total 35 peserta, awalnya hanya 8 peserta yang mampu menguasai penggunaan peserta didik pada tanda baca dan huruf kapital dengan benar, namun kini sudah mencapai 30 peserta dari total Untuk memaksimalkan pemanfaatan media pembelajaran interaktif yang menggabungkan media konvensional, presentasi PowerPoint. Wordwall, dan audio visual, disarankan agar pengajar menciptakan pengalaman belajar yang holistik dengan memanfaatkan kekuatan masing-masing media. Penggunaan media konvensional, seperti buku dan papan tulis, dapat berfungsi sebagai landasan yang kuat untuk memperkenalkan ide-ide atau konsep awal, sebelum beralih ke presentasi PowerPoint yang dirancang menarik dengan grafik dan animasi, sehingga peserta didik dapat lebih mudah memahami materi dan terlibat secara visual. Selanjutnya. Wordwall dapat digunakan untuk membuat kuis interaktif dan permainan yang memungkinkan peserta didik berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, mendukung pemahaman konsep melalui aktivitas yang menyenangkan. Di samping itu, mengintegrasikan media audio visual, seperti video pembelajaran atau rekaman presentasi akan memberikan dimensi tambahan yang membantu peserta didik yang lebih suka belajar melalui visual dan auditori, serta mengatasi berbagai gaya belajar yang ada. Dengan menyediakan akses ke semua media ini secara terintegrasi, termasuk sesi tanya jawab dan diskusi kelompok, diharapkan selain meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi pelajaran, peserta didik juga akan merasa lebih terlibat dan bersemangat untuk belajar, yang akan mengarah pada hasil belajar yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Andriani. , & -. Pengembangan Media Pembelajaran Power Point Interaktif Melalui Pendekatan Saintifik untuk Pembelajaran Tematik Integratif Peserta didik Kelas 2 SDN Bergas Kidul 03 Kabupaten Semarang. Scholaria: Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 6. , 143Ae157. Retriever https://doi. org/10. 24246/j. (Diakses 15 November 2. Annisa Rahmadani. Irlyanova Sabina. Novita Sari Nasution, & Juni Sahla Nasution. Evaluasi Pembelajaran pada Keterampilan Menulis di Kelas Tinggi. JISPENDIORA Jurnal Ilmu Sosial Pendidikan Dan Humaniora, 3. , 150Ae157. Retriever from: https://doi. org/10. 56910/jispendiora. 1510 (Diakses 15 November 2. Hakim. BR, & Haryudo. SI . Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Animasi Flash Pada Standar Kompetensi Instalasi Instalasi Penerangan Listrik Bangunan Sederhana Di Smk Walisongo 2 Gempol. Jurnal Pendidikan Teknik Elektro, 03. , 15Ae21. https://ejournal. id/index. php/KP/article/view/6584 (Diakses 22 November P-ISSN: 23553790. E-ISSN : 25794655 | 14 Al Fitri Chahyani 1. Penerapan media pembelajaran interaktif Handayani. Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: CV. Pustaka