Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 SENTUHAN NILAI NILAI CULTURAL TIONGHOA PADA SEMANGKUK TIMLO SOLO Agung Wibiyanto. Ichwan PrastowoA. Wahyu Tri HastiningsihiA. Nawangsih Edynna Putri4 Politeknik Indonusa Surakarta Email Correspondence:agungadrianus@gmail. ABSTRACT The purpose of writing this article is to review the touch of Chinese Cultural values in the Timlo Solo menu. The research method used is qualitative with descriptive analysis with literature The results of this article are the authentic Chinese value in the Timlo menu is in the basic ingredients such as dried tuberose, pindang eggs, vermicelli, dried wood ear mushrooms which do have symbolic values in Chinese culture such as positive energy, both health and prosperity. Meanwhile. Timlo itself is also inspired by soup, where this soup is also one of the Chinese identities, especially reminiscent of the soup menu in Shandong which is combined with Guangdong/Cantonese soup which does have a strong spice flavor and always uses dried tuberose in the raw materials for processing the soup itself. Not only that, if you look at the cooking technique. Timlo itself is also inseparable from the Chinese cooking method, namely for red stewing, boiling and braising. These three methods can indeed be applied in processing the timlo product menu, only in red stewing the typical red color is not displayed considering that the strength of timlo is clear and there is no play of color in the product, which is a combination of soup and soto. Keywords: Timlo Solo. Cultural Values. Chinese INTRODUCTION Untuk menjelaskan nuansa nuansa budaya pada makanan memang cukup banyak dilihat dari beberapa sudut pandang dari pandangan yang bagaimana cara publik memandang konteks makanan tersebut. Hal ini memang cukup menarik mengingat bagaimanapun juga banyak terjadi akulturasi budaya yang ada di seluruh wilayah di Indonesia tak terkecuali pada menu makanan yang dihasilkan. Apalagi hal ini banyak ditemui di kota kota besar yang ada di Indonesia seperti halnya Medan. Palembang. Pekanbaru. Jakarta. Semarang. Solo dll. Jika melihat Solo. Solo sendiri memang terkenal dengan nilai nilai budaya Jawa yang menaunginya serta tidak kalah menariknya. Solo tradisional yang merupakan warisan dari Mataram sejak perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi Mataram timur yang terkenal menjadi Solo dan Mataram Barat yang terkenal menjadi Yogyakarta. Sebagai salah satu pewaris dari Mataram Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Islam. Solo Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 perekonomian Solo. Maka dengan orientasi mengadopsi nilai budaya, sosial dan politik di penjelasan di atas, pola pemukiman yang masa Mataram, di mana hal ini tercermin di terbentuk di Solo tentunya juga menjadi dalam tata ruang pemerintahan istana serta perhatian tersendiri, di mana ada tempat bagaimana juga menata masyarakatnya yang berada di luar istana. (Afwakhoir 2. menampung para keturunan asing yang Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Litiloly 2. menyebutkan bahwa pola menetap di Solo baik itu dari Cina. Bugis, keturunan timur tengah dll. (Hartati 2. pemukiman Mataram ini memang bermula Salah satu entitas besar yang akan sejak Mataram beribukota di Plered yang dikaji dalam tulisan ini ialah para migran sekarang menjadi salah satu wilayah di Tionghoa baik yang sudah menetap ataupun Daerah Istimewa Yogyakarta. Dijelaskan baru datang di wilayah Solo,di mana lokasi secara lebih lanjut, pola pemukiman tersebut pemukiman yang disediakan baik oleh sudah mencerminkan status sosial yang mendiami wilayah wilayah baik di seputaran ditempatkan di wilayah timur di sebelah kompleks istana. Seperti yang diketahui,di pasar Gedhe yang menjadi Pecinan. Menurut dalam menjalankan roda ekonomi kerajaan di pandangan yang dikemukakan (Susilowati, waktu itu ada dua hal besar yang patut Soedewo, and Koestoro 2. ,di mana dari menjadi perhatian tersendiri yakni pertama tinjauan historis mengenai pola kedatangan ialah adaya sungai besar yang menjadi migrasi keturunan Tionghoa ini sudah cukup komoditas aksesibilitas perdagangan dan lama dan tercatat dalam beberapa sumber yang kedua ialah adanya pasar sebagai sejarah baik dari prasasti di masa lampau dan tempat untuk transaksi jual beli komoditas catatan bangsa bangsa Barat seperti halnya barang yang diperdagangkan di wilayah Tom Pires dll. Berdasarkan polanya dari Ketika otoritas berubah yakni analisis(Lombard 1. Dennys Lombard, setelah perjanjian Giyanti, maka untuk pola besar tersebut ada dua dalam ejaan wilayah di Solo, dua hal besar tersebut yakni Tionghoanya atau dialek Hokkiennya yakni dengan adanya sungai Bengawan Solo dan pertama ialah Huashang dan Huagong. Jika ditelaah secara lebih lanjut Huashang dapat Gedhe Kasunanan Belanda diartikan sebagai salah satu bentuk pola Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 migrasi orang Tionghoa yang didasarkan dibawa ke tanah rantau, di mana budaya asal pada perdagangan maritim yang merebak juga dibawa dan bersentuhan dengan budaya sejak era akhir kekaisaran Tang sampai lokal baru di tanah yang baru pula. Konteks dengan pertengahan masa kekaisaran Ming ini dapat diimplementasikan dalam beberapa dan bisa dikatakan juga telah berlangsung hal salah , di mana salah satunya ialah dalam selama kurang lebih 8 abad. Sementara untuk bentuk menu makanan. Hal ini didasarkan pola yang kedua yakni Huagong yakni pada penjelasan di atas baik secara langsung sebuah pola migrasi yang terbentuk atas dua maupun tidak langsung dari dua pola migrasi kepentingan yang hampir sama,di mana di atas tercermin pada individualnya sendiri dalam faktor internal yakni merujuk pada yakni para perantau Tionghoa yang memang situasi di daratan Tiongkok yang tidak stabil membawa budaya asal masing masing(Putri, akibat perang berkepanjangan, ekonomi Djuanaidi, and Humaidi 2. (Rustini and runtuh dll di era akhir kekaisaran Ming Muliani 2. (Mariati and Andreas 2. sampai dengan akhir abad 19 yang memaksa Dalam bentuk menu makanan, tentunya para para penduduk Tiongkok diwilayah propinsi perantau Tionghoa ini juga memahami bahan Fujian dan Guangdong yang notabene bahan makanan yang akan diolah dan juga maritim untuk pindah ke wilayah baru, di mana salah satunya ke nusantara. (Zhu et al. menyajikannya di tanah rantau tak terkecuali 2. (Szuwalski et al. (Chen et al. di wilayah Solo. Hal ini ditunjang pula 2. Untuk faktor eksternal, kejadian atau momentum dalam faktor internal tersebut dimanfaatkan oleh pemerintah VOC dan perempuan perempuan lokal (Noviopy. Rato, kolonial Belanda untuk mendatangkan para and Hadi 2. Maka dari hasil perkawinan imigran tersebut di dalam membangun ini tidak hanya konteks peranakan saja jaringan ekonomi yang akan dibangun namun juga membawa budaya baru tak pemerintah Belanda di Nusantara baik di masa VOC maupun pemerintah Hindia makanan yang bisa dirasakan atau dinimkati Belanda. (Rudiansyah and Sijabat 2. oleh setiap kalangan tidak terbatas pada etnis (Chen et al. etinis tertentu. (Agustina Mellyani and Dewi Dengan adanya kedatangan para Ayu Kusumaningrum 2 2. imigran tersebut tentunya banyak hal yang Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Sesuai dengan apa yang dibicarakan perlu kritik sumber atau analisis tertentu yang tersebut, maka untuk di wilayah Solo sendiri bisa dipakai di dalam penulisan artikel ini. telah banyak bermunculan produk produk Kritik sumber memang harus dikemukakan di dalam penulisan artikel ini mengingat imigran khususnya dari Tionghoa yang banyak data data yang didapatkan baik dalam menjelma dalam beberapa bentuk makanan bentuk buku ataupun jurnal yang memang baik itu makanan berat dan juga kue kue. Dari perlu ditelaah ulang mengingat kekurangan penjabaran tersebut, memang telah banyak di sana sini yang masih cukup banyak. Oleh bermunculan pula kajian kajian budaya sebab itu, data data baik dari buku maupun dalam bentuk makanan khususnya dari corak jurnal yang telah dianalisis melalui kritik Tionghoa namun tidak banyak hal yang sumber akan direduksi di dalam penulisan diketahui khususnya dari menu produk Timlo artikel ini. Solo. Maka daripada itu, di dalam penjelasan artikel ini akan dijabarkan pula simbolik RESULTS AND DISCUSSION simbolik tertentu di dalam semangkuk penyajian timlo dari sudut pandang nilai nilai Tionghoa berakulturasi dengan nilai nilai lokal Jawa Jika melihat dari sumber sumber sejarah yang berseliweran akan keberadaan para imigran yang datang bergelombang dari daratan Tiongkok memang cukup banyak yang ada di wilayah Solo. didokumentasikan baik dalam pemberitaan di RESEARCH METHODS beberapa prasasti prasasti maupun catatan Di dalam penulisan artikel ini, memang menggunakan metode kualitatif dengan studi kepustakaan. Maka data data yang didapatkan sebagai rujukan di dalam penulisan artikel ini menggunakan data data baik dari buku ataupun jurnal sesuai dengan irisan tema yang terkait di dalam penjabaran artikel ini. Tentunya di dalam menganalisis mengutip saja secara deskriptif namun juga perjalanan yang didokumentasikan oleh bangsa bangsa Barat seperti halnya Tom Pires. Vasco Da Gama dll. Sesuai dengan konteks tersebut, maka telah dijelaskan juga di dalam pengantar latar belakang dalam artikel ini telah banyak bermunuculan akulturasi budaya budaya baru khususnya dalam bentuk makanan yang dibawa oleh para imigran, salah satunya ialah para imigran Tionghoa. (Rahman and Selviyanti Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 2. Telah disinggung pula bahwa salah satu bentuk akulturasi makanan yang ada di ambil bunga sedap malam, jamur kuping yang sudah dipotong lalu tiriskan Solo yang masih memiliki entitas Tionghoa haluskan bumbu mulai dari bawang putih yang cukup kuat ialah timlo. Memang tidak dengan garam lalu tumis hingga berubah ada sumber yang jelas di dalam menguraikan warna menjadi kuning dan masukkan ke asal usul menu ini dan yang ada hanya dalam kaldu sayuran sumber sumber lisan yang mengungkapkan Masukkan semua bahan tersebut dengan bahwa nama Timlo sendiri mengingatkan api yang sedang sampai semuanya matang produk para imigran akan Kimlo(Rahmawati setelah matang, hidangkan dengan taburan 2. yang notabene di daerah daratan bawang goreng dan seledri ( untuk 4-5 Tiongkok sana merupakan salah satu jenis Jika dikaji kembali baik dari bahan bahan dasar dan pengolahan Timlo yang Timlo dan Nuansa Makasan Tionghoa diulas dari beberapa sumber akan diuraikan Dengan melihat bahan dan dan seperti di bawah ini : bagaimana pengolahan timlo yang telah Table 1 Komposisi Bahan Bahan Pembuatan dipaparkan di atas, maka dapat digeneralkan Timlo Solo bahwa terdapat nuansa benang merah dalam INGRIDIENDS QTY semangkuk Timlo. Jika dilihat dari simbolik 1 liter 25 gr dapur dan bumbu apalagi dengan nuansa ke Kaldu sayuran Bunga Jamur kuping Telur Pindang daun bawang Kecap manis dilepaskan dari kehidupan sosial religi yang Bawang putih Merica bulat Bawang goreng 25 gr 50 gr 10 butir 2 batang 2 batang 2 sendok 4 siung 2 sendok 2 sendok Tionghoaan mereka, memang tidak bisa Hal ini mengandung maksud bahwa simbolik dapur dan bumbu yang makanan mengingat bagaimanapun juga dalam tradisi manapun bumbu bumbu makanan tentunya berada di areal dapur dan juga areal ini terpisah dari bangunan rumah Sumber : hasil olahan penulis, 2024 utama serta memudahkan keluar masuknya Untuk pengolahannya adalah sebagai berikut bangunan rumah utama. Maka bisa dikatakan Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 juga bahwa dapur juga bisa disebut dengan daging babi diganti dengan ayam atau sapi gudang bumbu baik itu bumbu untuk karena mayoritas konsumen di wilayah Solo masakan Tionghoa, bumbu lokal dan juga bumbu dari Barat / Eropa dan hal ini penggunaan bahan babi dalam bentuk menandakan juga bahwa akulturasi yang Walaupun demikian Timlo sendiri diimplementasikan dalam bentuk makanan seperti halnya Timlo merupakan sebuah Tionghoaannya meskipun sudah tidak lagi inovasi tersendiri yang memadukan beberapa menggunakan bahan berbaku babi. Konteks budaya baik budaya Tionghoa. Barat dan ini cukup menarik, mengingat pula bahwa juga lokal. Nilai ketionghoaan Tiimlo secara Islam makro memang cukup kompleks, di mana Tionghoa mempunyai ciri khas tersendiri dan dalam masakan Tionghoa sendiri memang ada ragam beberapa jenis dan hampir secara pengolahan makanan. keseluruhan juga hasil akulturasi budaya dengan budaya lokal setempat(Vonthron. Ulasan Teknik Pemasakan, dan simbolik Perrin, and Soulard 2. Namun di sisi komponen Bahan pada masakan Timlo yang lain, keotentikan masakan Tionghoa Ketujuh teknik tersebut meliputi stir memang bercirikhas dengan penggunaan frying, deep frying, kukus, red stewing, bahan bahan yang cukup banyak dan rebus, panggang dan braising. Dari ketujuh teknik ini memang sudah menggambarkan tingkat olahan yang akan dimasak tergantung dari kesulitan pengolahan menu makanan Penggunaan daging pada masakan Tionghoa Jika mengulas secara lebih dalam khususnya di Indonesia terlebih di wilayah untuk menu produk makanan Timlo sendiri Solo banyak yang disesuaikan dengan norma memang ada tiga teknik pengolahan yang dan tradisi lokal setempat mengingat jika terkait dengan pengolahan menu Timlo yakni red stewing, rebus dan juga braising. menggunakan daging babi. Melihat hal Walaupun ketiga teknik ini berbeda namun tersebut, kemungkinan besar untuk sup memiliki konsep yang hampir mirip, di mana Kimlo untuk red stewing sendiri merupakan teknik Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 memasak khususnya dalam perebusan. Untuk sendiri tidak dapat dipungkiri bahwa inovasi warna merah sendiri memang hal ini produk ini terinspirasi dari sup dan itupun merupakan bumbu campuran dari beberapa citra Tionghoa di semua produk sup masih bahan bumbu bumbu yang ada semisal daun mengakar kuat. Apabila melihat asal usul sup ketumbar, kecap asin, gula dll. Sedangkan sendiri juga merupakan produk dari daratan teknik perebusan juga merupakan teknik Tiongkok, di mana masing masing wilayah tersendiri mengingat teknik ini cukup mudah mempunyai ciri khas produk kulinernya yakni hanya dengan merebus bahan makanan sendiri sendiri. Merujuk pada sup itu sendiri sampai matang sepenuhnya. Untuk yang memang merupakan ciri khas kuliner yang ketiga ialah braising,di mana untuk braising melekat pada wilayah Shandong, di mana sendiri merupakan teknik mengolah makanan segala jenis sup bisa ditemui di wilayah dengan memasukkan semua bahan makanan tersebut dan juga otomatis masyarakat di beserta bumbu dan direbus secara bersamaan wilayah tersebut cukup familiar di dalam dengan suhu yang sedang sampai semuanya mengolah beberapa macam sup. Seiiring matang dengan sempurna. dengan perkembangan waktu, inovasi sup Dengan sendiri juga berjalan, sehingga hal ini tersebut, maka dalam mengolah menu produk Timlo Timlo, bisa jadi dengan ketiga teknik tersebut perpaduan dari nuansa kuliner Shandong dan telah mencerminkan keotentikan seni atau juga Guangdong. teknik memasak Tionghoa yang cukup khas Jika dibedah, terlihat bahwa citra rasa Ketiga metode tersebut memang sup Shandong terbilang cukup kaya akan bisa diterapkan di dalam mengolah menu rempah terlebih di dalam menonjolkan produk timlo hanya saja di dalam red stewing merica dan ketumbar. Di sisi lain untuk tidak ditampilkan warna khas merahnya masakan Guangdong lebih menonjolkan mengingat kuat timlo ialah bening dan tidak kualitas rasa kaldu di dalam masakannya ada permainan warna di dalam produk yang bersifat berkuah. Maka daripada itu tersebut merupakan perpaduan dari sup dan perpaduan ini nantinya melahirkan inovasi Memang sekilas jika melihat Timlo sup dari utara dan selatan Tiongkok yang ialah sejenis sup namun juga bukan dikatakan memang dibawa oleh para imigran Tiongkok sebagai sup apalagi jika melihat kuahnya untuk keluar dari negeri mereka sesuai yang bening. Walaupun demikian, timlo dengan penyebab yang telah dikemukakan di Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Uraian ini nantinya melahirkan sup Bahan dasar yang lain seperti Kimlo yang ada di Palembang dan juga halnya soun yang panjang, ini nilainya Timlo yang ada di wilayah Solo. Dilihat dari hampir sama seperti makna pada bakmi, di hal tersebut, dengan melihat dari beberapa mana soun panjang ini tidak boleh dipotong komponen bahan bahan pembuatan Timlo sudah terlihat bagaimana keotentikan culture menerangkan arti panjang umur bagi yang Tionghoa mulai dari bunga sedap malam. Beberapa nuansa Tionghoa telur pindang dan berbagai jamur baik itu yang cukup kental ini juga berpadu dengan jamur kuping dan jamur kering ditambah juga nuansa Barat yang ada di dalam produk citra rasa kaldu baik kaldu ayam dan juga kaldu sayuran. Telur pindang sendiri juga ornamennya dapat ditemui dari komponen merupakan menu sentuhan dari Tionghoa sosis di dalamnya. tersebut,di yang disajikan dalam ornamen produk Timlo. Memang secara tidak langusng pula, di mana bentuknya kecoklatan yang telah komponen sosis merupakan warisan dari dibumbui rempah dan juga kecap. Sementara budaya Barat yang diwujudkan dalam bentuk itu untuk bunga sedap malam sendiri Sosis dalam budaya Barat ini merupakan salah satu ciri khas yang dipakai memang telah mengalami akulturasi dengan dalam produk makanan Tionghoa khususnya dalam mengolah beberapa macam sup. pembuatannya mulai dari kulit sosis sampai Sesuai dengan namanya yakni dalam bahasa dengan isian daging cincang merupakan Mandarin AuHua Diao Ji TangAy, komponen sajian khas yang melambangkan hasil budaya bunga sedang malam yang telah dikeringkan Barat dengan lokal dan memang semula ini di zaman dahulu memng sudah terkenal ditujukan kepada kaum bangsawan keraton terlebih di dalam beberapa macam perayaan serta menjadi hidangan khas istana/ keraton. Tionghoa seperti halnya tahun baru Imlek. Namun secara perlahan lahan sosis ini juga perayaan pernikahan dll. Sesuai dengan dikenal di luar istana dengan berbagai inovasi simbolisnya, dengan mengolah sup dengan sebagai pendamping makanan yang lain. menggunakan bahan dasar bunga sedap Dalam komponen isi produk Timlo, sosis malam yang telah dikeringkan ini akan juga digunakan yang lazim dikenal sebagai sosis Solo. Sesuai dengan namanya yakni keberuntungan dan kesehatan bagi yang Sosis Solo, tentunya ini berbeda dengan sosis Maksudnya Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 pada umumnya yang dibicarakan di atas berdiri sendiri, melainkan menjadi satu tersebu di mana perbedaannya terletak pada kesatuan yang harmonis, dan rasa makanan Kulit pada sosis Solo ini merupakan adalah hasil dari suatu keharmonisan. Oleh mirip dengan kulit pada martabak walaupun sebab itu secara lebih lanjut, jenis makanan isi dalam nya bisa dikatakan hampir sama apapun yang dihidangkan dipengaruhi oleh dengan daging ayam cincang dan juga kondisi, situasi, kelas sosial, pekerjaan, dan cincangan telur. Dari beberapa komponen jenis kelamin. Dalam jamuan tertentu, jenis yang telah disebutkan mulai dari bahan bahan hidangan menunjukkan penghargaan kepada dasar sampai dengan pengolahan dan juga sang tamu. Konsep makanan adalah sesuatu makna simbolik yang dimulai dari dapur yang dihasilkan melalui usaha bersama yang sampai bahan bahan dasar produk timlo telah kemudian disatukan dalam olahan di dapur menunjukkan nilai nilai culture Tionghoa. yang sama. Keluarga dalam masyarakat Secara Tionghoa diumpamakan sebagai peralatan kesimpulan bahwa produk menu Timlo masak berupa tungku sehingga keluarga sebagai salah satu produk inovasi hasil diartikan sebagai lingkungan kebersamaan akulturasi dengan budaya Tionghoa yang yang mengelola makanan dalam satu tungku. memegang peranan cukup penting. Makanan CONCLUSIONS dalam budaya Tionghoa memang sudah Produk menu Timlo merupakan hasil dipandang sebagai pemersatu keluarga dan akulturasi budaya Tionghoa, lokal dan juga juga struktur sosial di dalamnya yang juga Barat yang termanifestasikan ke dalam bentuk produk makanan. Tidak ada sumber sebuah keluarga Tionghoa. Maka bisa yang pasti yang menyebutkan Timlo dibawa dikatakan juga bahwa makanan produk dan dikenalkan di wilayah Solo. Namun hal Tionghoa yang termanifestasi dalam ajaran ini bisa diketahui dari beberapa catatan Konfusius memang cukup menghargai seni catatan historis yang berseliweran akan Hal ini juga pernah dikemukakan oleh Konfusius yang memaparkan bahwa makanan yang benar bergantung pada upaya memang cukup banyak didokumentasikan percampuran bermacam-macam rasa dan baik dalam pemberitaan di beberapa prasasti Masing-masing bumbu tidak dapat prasasti maupun catatan perjalanan yang Tiongkok Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 didokumentasikan oleh bangsa bangsa Barat yang memang memiliki citra rasa rempah seperti halnya Tom Pires. Vasco Da Gama yang kuat dan selalu menggunakan bunga Telah disinggung pula bahwa salah satu sedap malam kering di dalam bahan baku bentuk akulturasi makanan yang ada di Solo pengolahan sup itu sendiri. Tidak hanya itu yang masih memiliki entitas Tionghoa yang saja, jika melihat dari teknik memasaknya, cukup kuat ialah timlo. Seperti pada produk Timlo sendiri juga tidak lepas dari metode Tionghoa memasak ala Tionghoa yakni untuk red Tionghoa Konfusius memang cukup menghargai seni memasak. Hal ini juga pernah dikemukakan oleh Konfusius stewing, perebusan dan braising. Dengan melihat ketiga teknik tersebut, maka dalam mengolah menu produk Timlo, bisa jadi mencerminkan keotentikan seni atau teknik makanan yang benar bergantung pada upaya Tionghoa percampuran bermacam-macam rasa dan Ketiga metode tersebut memang Masing-masing bumbu tidak dapat bisa diterapkan di dalam mengolah menu berdiri sendiri, melainkan menjadi satu produk timlo hanya saja di dalam red stewing kesatuan yang harmonis, dan rasa makanan tidak ditampilkan warna khas merahnya adalah hasil dari suatu keharmonisan. Jika mengingat kuat timlo ialah bening dan tidak merujuk pada menu Timlo, nilai keotentikan ada permainan warna di dalam produk Tionghoa di dalam menu Timlo ini ialah di tersebut merupakan perpaduan dari sup dan bahan bahan dasarnya seperti bunga sedap malam kering, telur pindang, soun, jamur kuping kering yang memang memiliki nilai nilai simbolis pada budaya Tionghoa seperti REFERENCES