Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 Jiwa Manusia dalam Pemikiran Metafisika St. Thomas Aquinas Antonius Alex Lesomar Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik St. Yohanes Penginjil. Ambon alex_lesomar@yahoo. Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk menampilkan gagasan St. Thomas Aquinas mengenai jiwa manusia. Selain itu, tulisan ini merupakan suatu respon atas berbagai kesalahpahaman tentang jiwa manusia. Jiwa, bagi St. Thomas, bukan hanya sebagai prinsip kehidupan, aktivitas dan organisasi tubuh tapi lebih dari itu yakni sebagai prinsip dari eksistensinya. Jiwa sebagai prinsip eksistensi yang memiliki karekter intelektual atau spiritual adalah substansi tidak lengkap yang memiliki kecenderungan natural untuk bersatu dengan tubuh membentuk substansi manusia lengkap. Kesatuan jiwa dan tubuh adalah kesepadanan partikular yang tidak dapat ditransmisikan kepada yang lainnya. Sebagai substansi, jiwa adalah immortal. ia tidak dapat hancur karena eksistensinya berasal dari eksistensi sang Absolut. Untuk tiba pada pencapaian gagasan Aquinas mengenai jiwa maka metode yang digunakan adalah analisa teks, historisme dan ekplanasi. Kata kunci: Jiwa, tubuh, immortalitas, substansi, commensuratio Abstract This article aims to present St. Thomas AquinasAo notion about human soul. In addition, it is also a response to various misunderstandings of the human soul. The soul, for St. Thomas, is not only the principle of life, activity and organization of the body but more than that, namely as the principle of human existence. The soul as the principle of human existence that has an intellectual or spiritual character is an incomplete substance that has a natural tendency to unite with the body to form a complete human substance. The unity of soul and body is a particular equivalence that cannot be transmitted to others. As a substance, the soul is immortal. it cannot be destroyed because its existence comes from the existence of the Absolute. To arrive at the achievement of AquinasAo ideas about the soul, the methods used are text analysis, historicism and explanation. Keywords: Soul, body, immortality, substance, commensuratio PENDAHULUAN Jiwa telah menjadi problem filsafat semenjak filsafat Yunani kuno hingga masa kita Tentunya, ada beragam pendirian atas problem jiwa. Ada pandangan materialistic, seperti dalam sekolah Stoik,1 dan juga dualism, seperti dalam pandangan Plato. 2 Pada masa modern dan kontemporer berkembang pula pandangan yang menolak eksistensi jiwa manusia. Geovanni Reale. A History of Ancient Philosophy The System of Hellenistic Age (New York: State University of New York, 1. , 257. Geovanni Reale. A History of Ancient Philosophy The School of Imperial Age (New York: State University of New York, 1. , 62-64. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 karena dipengaruhi ilmu pengetahuan dengan pendekatan empirik. Jiwa adalah sesuatu yang ilusif dan omong kosong untuk dibicarakan karena ia tak bisa ditemukan secara empirik. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan eksistensi jiwa manusia serta esensinya yang adalah spiritual atau rasional. Artikel ini dimaksudkan juga sebagai bantahan atas anggapan bahwa esensi jiwa adalah material, dan juga perlawanan terhadap sikap penegasian atas eksistensi jiwa manusia. Untuk alasan inilah maka gagasan St. Thomas Aquinas dieksplorasi dan ditampilkan sebagai refleksi akan hakikat spiritual jiwa manusia. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: apa pemahaman Aquinas mengenai jiwa manusia? METODE PENELITIAN Untuk mengulas problem ini digunakan beberapa metode antara lain: metode analisa teks, eksplanasi dan historisme. Melalui metode analisa teks, gagasan St. Thomas dianalisa dan disarikan dari sejumlah karyanya dan juga sejumlah sumber sekunder yang mengulas karyakarya St. Thomas. Metode eksplanasi digunakan pula untuk menjelaskan berbagai gagasan St. Thomas mengenai jiwa. Selain kedua metode itu, metode historisme juga digunakan untuk menampilkan beberapa gagasan tentang jiwa yang pernah hadir dalam sejarah filsafat. HASIL DAN PEMBAHASAN Jiwa manusia adalah bentuk . dari tubuhnya Dalam teori hilomorfismenya. Aristoteles mengatakan bahwa semua being baik yang berjiwa maupun yang tak berjiwa dikomposisikan oleh materi (Yun. Lat. dan forma (Yun. Lat. Keduanya adalah faktor sub-ontik eksistensi being . Forma adalah prinsip organisasi bagi materi. Dalam konteks being yang berjiwa seperti tumbuhan, hewan dan manusia, forma adalah jiwa (Yun. Jiwa dikatakan juga sebagai kesempurnaan (Yun. atau aktualitas pertama dari suatu tubuh organik (Yun. Karena itu, secara khusus dalam antropologinya, ia beranggapan bahwa jiwa adalah prinsip dari organisasi tubuh dan prinsip dari kehidupan bagi tubuh natural serta sumber aktivitas manusia. 3 Kenyakinan ini menunjukkan bahwa jiwa terhubung secara erat dengan Gagasan Aristoteles yang begitu menekankan kesatuan jiwa dan tubuh adalah respon atas pendirian Plato mengenai jiwa yang memiliki eksistensi independen dan kekal. tubuh hanyalah penjara bagi jiwa. Karena itu, bagi sang filsuf dari Stagira, jikalau tubuh mengalami kematian maka jiwa pun hancur. Konsekuensinya, jiwa dapat binasa atau tidak 4 Dengan demikian, boleh dikatakan manusia adalah produk dari alam. Aquinas tidak hanya mengikuti pandangan sang pemikir dari Stagira tetapi ia menampilkan kebaruan konsepsinya tentang jiwa manusia. Menurutnya, jiwa bukan hanya prinsip kehidupan, prinsip organisasi tubuh dan aktivitas manusia. Lebih dari itu, jiwa adalah prinsip eksistensi manusia. Eksistensi manusia dijamin pertama-tama bukan karena komposisi jiwa dan tubuhnya, akan tetapi oleh jiwa yang menjiwai atau menghidupi tubuh. Prinsip jiwa yang khas manusia ini berbeda dengan mahkluk atau entitas berjiwa lainnya, yang mana eksistensi mereka dijamin oleh komposisi tubuh dan jiwa, dan bukan hanya jiwa sendiri. 5 Bagi Lih. Aristotle. De Anima, trans. and com. Christopher Shields (Oxford: Clarendon Press, 2. I, 412a 25Ae Copleston. A History of Philosophy Greek and Rome From the Pre-Socratics to Plotinos. Volume I (New York: Doubleday, 1. , 327Ae328. Kees Bertens. Sejarah Filsafat Yunani dari Thales ke Aristoteles, edisi revisi (Yogyakarta: Kanisius, 1. , 180. Lih. Bertens. Sejarah Filsafat Yunani, 180Ae181. Lih. Linda L. Farmer. AuStraining the Limits of Philosophy: Aquinas on the Immortality of the Human Soul,Ay Faith and Philosophy: Journal of the Society of Christian Philosophers. Vol. 20 : Iss. Article 5 . : 210. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 Aquinas, jiwa adalah forma dari tubuh. Ia katakan: Auanima igitur est quo corpus humanum habet esse actu. Huiusmodi autem forma est. Est igitur anima humana corporis forma (Therefore, the soul is where the human body actually has to be. And this is the form. Therefore the human soul is the form of the bod. 6 Forma membuat sesuatu ada sebagaimana adanya. Jiwa manusia sebagai forma dari tubuh membuat manusia ada dan hidup sebagai manusia. Jiwa mengoranisir, memberi hidup dan mengaktivasi fungsi-fungsi dari organ tubuh. Di saat jiwa berhenti untuk mengorganisir dan memberi hidup pada materi yang menjadi tubuh manusia maka manusia mengalami kematian. Karena itu, tubuh tanpa jiwa hanyalah sebagai bangkai atau jenasah. Meski demikian, manusia bukan hanya jiwanya tetapi juga tubuh, karena manusia mengekspresikan atau mengeksekusi tindakan-tindakan jiwa melalui tubuh. Manusia bukan spirit/roh murni seperti malaikat yang terpenjara dalam tubuh manusia, seperti yang dipahami kaum spiritualis radikal, tetapi ia adalah kesatuan/synolon dari tubuh dan jiwa. Substansialitas Jiwa Manusia adalah suatu kesatuan atau keseluruhan yang memiliki hanya satu forma substantial yaitu jiwa. Jiwa dikatakan sebagai forma substantial karena jiwalah yang membawa manusia kepada eksistensinya. Aktivitas-aktivitas seperti mempersepsikan secara sensorik, mengetahui secara rasional . aya dapat mengkonsepkan, berargumentasi, dl. dan membuat keputusan secara bebas adalah aktivitas jiwa substansial manusia. Jadi, jiwa memiliki fungsi spiritualnya sendiri serta membentuk tubuh dengan semua fungsi-fungsi korporalnya. Tanpa jiwa mustahil manusia itu hadir sebagai manusia dan menjadi penyebab dari aktivitasaktivitasnya. Dengan demikian, jiwa adalah substansi dalam arti sebagai penyebab atau sumber dari aktivitas-aktivitas manusia. Akan tetapi, jiwa bukanlah substansi yang lengkap karena substansi lengkap terdiri dari tubuh dan jiwa, dan itulah manusia utuh. Selain itu, jiwa bukanlah unsur tambahan untuk tubuh yang telah terbentuk. sebaliknya, tubuh dienergikan Jiwa adalah forma dari tubuh sebagaimana Aquinas tekankan: Necesse est dicere quod intellectus, qui est intellectualis operationis principium, sit humani corporis forma. (It is necessary to say that the intellect, which is the principle of intellectual activity, is the form of the human body. 9 Meskipun jiwa substansial adalah prinsip yang mengenergikan, mengorganisir tubuh ia tidaklah terpisah dari tubuh. Jiwa memiliki kecenderungan natural untuk bersatu dengan tubuh. Keduanya bersatu membentuk substansi manusia dan kesatuannya tidaklah aksidental melainkan esensial. Tentunya, pandangan ini sangat berbeda dan ditolak oleh para pengikut Neoplatonik yang memisahkan begitu tajam antara jiwa dari tubuh. Immortalitas Jiwa Mengenai immortalitas jiwa. Aquinas menjelaskannya dengan istilah inkoruptabilitas atau AuketakdapathancuranAy jiwa. Immortalitas didemonstrasikan olehnya sejauh inkoruptabilitas itu ada. Untuk tiba pada pemahaman jiwa yang tak dapat hancur, ia memperlihatkan koruptabilitas dari benda-benda, termasuk tubuh manusia. Baginya, sesuatu dapat hancur, rusak atau binasa karena dua hal yaitu oleh dirinya sendiri . er s. dan oleh aksiden . er acciden. 11 Tubuh hancur dan hilang karena perubahan-perubahan material yang St. Thomas Aquinas. Quaestio https://w. org/qda01. html, diakses pada 1 Mei 2024. Stefan Swiezawski. St. Thomas Revisited, translated by Theresa Sandok (New York: Peter Lang, 1. , 98. Lih. Andrzej Maryniarczyk. AuThe Dispute over Delayed Animation,Ay Studia Gilsoniana 9, no. 3 (JulyAe September 2. : 425. St. Thomas Aquinas. Summa Theologiae. IA q. 76 a. 1 co. https://w. org/sth1075. diakses pada 13 Juni 2024. Swiezawski. St. Thomas Revisited, 99. Aquinas. Summa Theologiae. IA q. 75 a. 6 co. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 terjadi secara natural. Tubuh tidak menghadirkan eksistensinya dari dirinya sendiri. Jiwa lah prinsip eksistensi dan tubuh memiliki eksistensinya secara eksklusif melalui jiwa. Destruksi yang diterima tubuh tidak mencakup kehancuran jiwa sebagai substansi yang hidup pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, tubuh dapat terpisah dari jiwa dan hancur tetapi eksistensi jiwa tidak dapat dipisahkan dari esensi jiwa itu sendiri. Jiwa yang eksis melalui dirinya sendiri . er s. tidak muncul dan kemudian dapat hancur, kecuali oleh dirinya, tetapi itu adalah Jiwa tidak dapat muncul sebagai ada melalui perubahan-perubahan material yang sifatnya per accidens karena ia memiliki eksistensi immaterial. 12 Karena itu, jiwa tidak dapat hancur atau hilang karena kehancuran atau perubahan tubuh. Aquinas memberi pernyataan yang jelas tentang ini: AuOmnis igitur intellectualis substantia est incorruptibilis (Therefore every intellectual substance is incorruptibl. Ay13 Jiwa yang adalah intelektual atau spiritual tidak mungkin mengalami kehancuran karena ia memiliki kehidupan dalam dirinya. Pembicaraan tentang kehancuran dan kebinasaan jiwa secara aksidental maupun esensial adalah tidak mungkin. Kebinasaan jiwa hanya dapat dikaitkan dengan intervensi khusus dari sang Absolut karena jiwa yang hidup dalam dirinya sendiri tidak dapat kehilangan Menurut Aquinas, tindakan dari eksistensi bukanlah hasil dari komposisi materi dan forma. Eksistensi adalah tindakan dari esensi, yang bersama dengan esensi itu menyebabkan sesuatu yang konkrit ada. 14 Eksistensi dari benda-benda atau ada bersumber dari Ipsum Esse (Existence itsel. , yakni sang Absolut. Jiwa yang adalah esensi dari manusia dan prinsip dari eksistensinya serta ada dalam eksistensinya berasal dari Ipsum Esse. Dengan demikian, sang Absolutlah alasan utama untuk jiwa dan eksistensi sebagai tindakan Hanya Dia lah yang dapat membinasakan jiwa. Fakultas (Kemampua. dari Jiwa Aristoteles mengatakan bahwa esensi jiwa adalah kekuatan/fakultasnya. St. Agustinus memahami bahwa pikiran, pengetahuan dan cinta pada hakikatnya ada di dalam jiwa. Memori, kecerdasan dan kehendak ada dan bersatu dalam pikiran/mind. Menurut Aquinas. Fakultas jiwa bukanlah jiwa itu sendiri. 16 Fakultas adalah kemampuan yang dimiliki jiwa untuk menjalankan fungsi-fungsi spesifik. Berbagai operasi atau aktifitas memperlihatkan adanya berbagai fakultas jiwa. Dalam pandangan Aquinas manusia sebagai substansi hidup dikonstitusikan oleh materi . dan spirit . Karena itu, ada fakultas dan operasinya yang berkaitan dengan elemen tubuh manusia, dan ada fakultas-fakultas dan operasi spiritual yang bertemu di dalam jiwa intelektual manusia sebagai forma substansial. Kita tidak pernah mengalami jiwa. Akan tetapi, berbicara tentang jiwa, kita mengikuti prinsip filosofis, operari sequitur esse . indakan membutuhkan/mengikuti esse/eksistens. Operari tidak dapat berdiri sendiri tanpa esse. Eksistensi tindakan berasal dari eksistensi subjek. Dengan demikian, esse dapat dicapai dan dipahami melalui operari. Selaras dengan prinsip di atas maka kita dapat menangkap eksistensi jiwa melalui aktivits-aktivitas yang lahir dari Ibid. , bdk. Mieczyslaw A. Krapiec. I-Man: An Outline of Philosophical Anthropology (New Britain: Mariel Publication, 1. , 117. Aquinas. Summa Theologiae. IA q. 75 a. 6 co. Lih. Thomas Aquinas. Scriptum super Sententiis, lib. 3 d. 6 q. 2 a. 2 co. https://w. org/snp3006. html, diakses pada 20 Juli 2024. Lih. , juga Andrzej Maryniarczyk SDB. Discovery of the Internal Structure of Being, trans. , by Hugh McDonald (Lublin-Roma:Polskie Towarzystwo Tomasza Z Akwinu, 2. , 194. Lih. Krapiec. I-Man, 117. Aquinas. Summa Theologiae. IA q. 77 a. 1 co Ibid. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 fakultas-fakultas jiwa. Atau dengan kata lain, aktivitas manusia adalah jalan masuk untuk menangkap dan memahami jiwa manusia. Atas dasar refleksi pada aktivitas manusia maka kita dapat menentukan fakultas dari jiwa yang menjadikan manusia berbeda dari mahkluk ciptaan lainnya. Ada aktivitas yang berasal dari kesatuan tubuh dan jiwa seperti reproduksi, pertumbuhan, pencerapan dan segala bentuk selera dan nafsu. Aktivitas-ativitas ini berasal dari kesatuan utuh tubuh dan jiwa. Tubuh tidak bisa sendiri mejadi penyebab dari aktivitas ini karena ia bukanlah prinsip aktivitas. Begitupun jiwa. Jiwa tidak dapat sebagai penyebab tunggal aktivitas-aktivitas ini karena membutuhkan tubuh sebagai medianya. Selain itu, ada pula aktivitas-aktivitas immaterial yang hanya bersumber dari jiwa tanpa kaitan dengan tubuh seperti berpikir, memahami dan 19 Jadi, ada satu jiwa tetapi ada berbagai fakultas yang teridentifikasi dari aktivitas-aktivitas spesifiknya, antara lain: fakultas vegetatif . , sensitif . , apetitif . , intelektual . dan lokomotif . otivum secundum locu. Commensuratio (Kesepadana. Jiwa Menurut Aquinas, jiwa sebagai forma substantial manusia, yang tidak dapat hancur dan binasa sekaligus sebagai prinsip kehidupan dan organisasi dari tubuh serta eksistensi manusia, bersepadanan dengan tubuh partikular. Jiwa partikular mengambil materi dari prime matter atau materi primer dan membentuk tubuh partikular. Itu berarti satu jiwa partikular hanya bersesuaian dengan suatu tubuh partikular tertentu dan bukan yang lainnya. 20 Prinsip dasar yang ditekankan Aquinas adalah suatu jiwa yang telah sekali bersatu dengan tubuh membentuk seorang pribadi manusia tidak dapat membentuk pribadi manusia yang lainnya. Dalam doktrin commensuratio ini. Aquinas memiliki pendirian akan adanya kesesuaian setiap jiwa dengan setiap fetus atau embrio. Sejak embrio, jiwa telah bersatu dan bersesuaian membentuk embrio tersebut yang menjadi cikal bakal manusia partikular yang konkrit. Sang pencipta. Tuhan lah yang menciptakan kesesuaian ini dalam kandungan seorang ibu. Sejak manusia sebagai embrio dalam kandungan sampai wafat, ada banyak perubahan yang dialami akan tetapi ada sesuatu yang tetap bertahan dan bersesuaian dengan tubuh yakni jiwa. Ajaran Aquinas ini tentunya berseberangan dengan konsep metempsikosis atau transmigrasi jiwa. Konsep seperti ini dapat dijumpai dalam beberapa agama tradisional maupun dalam pemikiran filsafat Pythagoras. Plato dan juga neo Platonisme yang meyakini adanya perpindahan jiwa. Bagi St. Thomas kalau jiwa disatukan dengan tubuh yang baru lagi maka manusia itu direkonstitusi setiap waktu. Dan ini tentu tidak sejalan dengan teori commensuratio Aquinas. KESIMPULAN Kesangsian bahkan penolakan akan adanya eksistensi jiwa, serta pandangan materialistik tentang jiwa dapat dipertentangkan dengan pandangan Aquinas yang meneguhkan eksistensi dan peran jiwa spiritual manusia. Pencerahan dari gagasan Aquinas memperlihatkan bahwa jiwa bukanlah hasil dari imaginasi ataupun hanya sekedar gejala-gejala psikis yang muncul akibat fungsi dari organ-organ tubuh tertentu. Sebaliknya, jiwa adalah substansi tidak lengkap sekaligus sebagai elemen konstitusional bersama tubuh dalam membentuk manusia Ibid. 77, 5. Ibid. Lih. Swiezawski. St. Thomas Revisited, 102. Ibid. Ibid. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 utuh sebagai substansi. Jiwa itu spiritual atau rasional. Ia adalah prinsip kehidupan, organisasi tubuh dan eksistensi manusia, serta eksistensinya berasal dari eksitensi sang Absolut. Banyaknya kesangsian dan penolakan atas eksistensi jiwa menjelaskan bahwa jiwa tak dapat digapai dengan pendekatan dan instrumen ilmu pengetahuan alam maupun sosial. Eksistensi jiwa dan penjelasan akan kebenarannya sebagai esensi dari manusia hanya dapat diperoleh melalui refleksi dan penjelasan filosofis terutama berdasarkan metafisika realistik yang juga dikembangkan oleh St. Thomas Aquinas. DAFTAR PUSTAKA