JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Kepemimpinan Kepala Desa dan Peningkatan Public Trust: Studi Kasus Desa Timoreng Panua Ramlah Sahrir. Herman Dema. Akhmad Yasin Kepemimpinan Kepala Desa dan Peningkatan Public Trust: Studi Kasus Desa Timoreng Panua Ramlah Sahrir. Herman Dema. Akhmad Yasin. Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang. Sidenreng Rappang. Indonesia ramlahsahrir@icloud. hermandema1010@gmail. akhmadyasin02@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya kepemimpinan kepala desa dalam meningkatkan public trust di Desa Timoreng Panua. Public trust merupakan elemen penting dalam keberhasilan kepemimpinan, karena masyarakat yang mempercayai pemimpinnya akan lebih aktif dalam mendukung kebijakan dan program yang ada. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap kepala desa, perangkat desa, dan masyarakat. Menurut Robbins, gaya kepemimpinan kepala desa dapat dibagi menjadi empat jenis yaitu kharismatik, transformasional, transaksional, dan visioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transaksional merupakan gaya yang paling dominan diterapkan oleh kepala desa, dengan pemberian penghargaan dan sanksi yang didasarkan pada kinerja masyarakat dan perangkat desa. Selain itu, gaya kepemimpinan transformasional juga berperan penting dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Faktor-faktor yang paling dominan yang mempengaruhi public trust di desa ini adalah kebaikan hati dan keadilan, diikuti oleh kejujuran, komitmen yang kredibel, dan kompetensi. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pembangunan infrastruktur belum optimal, public trust terhadap kepala desa tetap tinggi karena pendekatan yang transparan, adil, dan humanis. Penelitian ini juga merekomendasikan agar kepala desa memperkuat komunikasi visi pembangunan yang lebih terarah dan berkelanjutan, dan melibatkan masyarakat dalam setiap tahap perencanaan untuk memperkuat ikatan sosial dan meningkatkan hasil pembangunan jangka panjang di desa. Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan. Kepala Desa. Public Trust Abstract This study aims to analyze the leadership style of village heads in improving public trust in Timoreng Panua Village. Public trust is an important element in successful leadership, as people who trust their leaders will be more active in supporting existing policies and programs. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection through in-depth interviews and observations of the village head, village officials, and the community. According to Robbins, the leadership style of village heads can be divided into four types: charismatic, transformational, transactional, and visionary. The results of the study indicate that the transactional leadership style is the most dominant style applied by village heads, with rewards and sanctions based on the performance of the community and village officials. Additionally, the transformational leadership style also plays an important role in increasing community participation in The most dominant factors influencing public trust in this village include kindness and fairness, followed by honesty, credible commitment, and competence. Overall, the research results indicate that despite suboptimal infrastructure development, community trust in village heads remains high due to transparent, fair, and humanistic approaches. The study also recommends that village heads strengthen communication of a more focused and sustainable development vision, and involve the community in every stage of planning to strengthen social bonds and enhance long-term development outcomes in the village. Keyword: Leadership Style. Village Head. Public Trust Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Kepemimpinan Kepala Desa dan Peningkatan Public Trust: Studi Kasus Desa Timoreng Panua Ramlah Sahrir. Herman Dema. Akhmad Yasin PENDAHULUAN Kepemimpinan merupakan suatu seni atau proses yang melibatkan kemampuan untuk memotivasi, mempengaruhi, mengkoordinasi, serta memberikan dorongan, perintah, dan bimbingan kepada individu atau kelompok dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, tanpa adanya paksaan (Andreansyah and Muttaqien 2. Sebagai sebuah kekuatan, kepemimpinan tercermin dalam kemampuan seseorang dalam memimpin, yang dapat mempengaruhi perilaku orang lain, khususnya dalam konteks pekerjaan atau organisasi. Kepemimpinan diperlukan oleh seorang pemimpin untuk menjalankan tugas-tugas dalam suatu organisasi (Ahmad Prayudi. Warsani Purnama Sari 2. Di tingkat desa, kepemimpinan memainkan peran yang sangat penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Kepala desa, sebagai pemimpin lokal, bertanggung jawab dalam merumuskan kebijakan, memfasilitasi partisipasi masyarakat, dan memastikan transparansi dalam pengelolaan pemerintahan desa. Dengan adanya otonomi daerah di Indonesia, peran kepala desa semakin penting karena mereka bertugas sebagai ujung tombak dalam pembangunan dan pelayanan publik yang lebih dekat dengan masyarakat (Thomassawa and Lagantondo 2. Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda, dipengaruhi oleh watak dan latar belakang masing-masing. Watak adalah nilai-nilai yang dimiliki seseorang sejak lahir, sementara latar belakang mencakup pengalaman, pendidikan, pengaruh lingkungan, dan kondisi organisasi (Andika. S, and Sulistio 2. Perbedaan ini menciptakan beragam gaya kepemimpinan yang memengaruhi cara pemimpin berinteraksi dengan anggotanya. Gaya kepemimpinan ini, seperti otokratis, demokratis, transaksional, transformasional, dan karismatik, memiliki dampak besar terhadap keberhasilan atau kegagalan organisasi (Asnawai, 1999 dalam Ferdinandito & Haryani, 2. Kajian teoritis dan literatur akademik telah lama mengidentifikasi bahwa gaya kepemimpinan memainkan peran penting dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap integritas, kapabilitas, dan akuntabilitas pemimpin. Penelitian oleh (Widjajanti and Sugiyanto 2. menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh positif terhadap penerapan prinsip good governance dan peningkatan kepercayaan masyarakat. Demikian pula, (Ferdinandito and Haryani 2. menekankan pentingnya servant leadership dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik. Namun, sebagian besar penelitian ini lebih fokus pada konteks kelembagaan formal atau pelayanan administratif kota, belum banyak yang secara spesifik meneliti gaya kepemimpinan kepala desa dalam konteks desa yang memiliki karakteristik sosial, budaya, dan politik lokal yang khas. Kepemimpinan kepala desa memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan desa, terutama dalam membangun public trust yang menjadi fondasi keberhasilan pembangunan berbasis masyarakat (Andriani and Kurniadi 2. Kepercayaan masyarakat terhadap kepala desa mencerminkan legitimasi dan akseptabilitas terhadap seluruh proses dan hasil kebijakan di tingkat lokal. Dalam konteks desa, keberhasilan pembangunan bukan hanya ditentukan oleh program kerja semata, melainkan juga oleh sejauh mana pemimpin mampu menggalang kepercayaan, partisipasi, dan dukungan dari masyarakat (Febrian and Ekowati 2. Desa Timoreng Panua di Kabupaten Sidenreng Rappang adalah contoh nyata dari situasi ini. Meskipun menghadapi tantangan seperti ketimpangan infrastruktur dan partisipasi warga yang belum maksimal dalam musyawarah desa, kepala desa Hasanuddin tetap dipercaya dan terpilih untuk dua periode kepemimpinan. Fakta sosial ini menjadi indikasi adanya kekuatan kepemimpinan yang melampaui sekadar kinerja pembangunan fisik. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana gaya kepemimpinan berkontribusi terhadap pembentukan kepercayaan publik secara lebih mendalam, terutama dalam konteks pemerintahan desa yang memiliki kedekatan sosial dan hubungan emosional yang erat antara pemimpin dan warganya (Bagus and Sasmito 2. Berbagai literatur dan kajian akademik menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan sangat memengaruhi cara masyarakat menilai integritas, kompetensi, dan akuntabilitas seorang Penelitian terdahulu telah banyak membahas pentingnya kepemimpinan transformasional dalam mendorong prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik serta Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Kepemimpinan Kepala Desa dan Peningkatan Public Trust: Studi Kasus Desa Timoreng Panua Ramlah Sahrir. Herman Dema. Akhmad Yasin meningkatkan kepercayaan publik. Selain itu, model kepemimpinan pelayanan atau servant leadership juga diakui mampu memperkuat kualitas pelayanan publik (Widjajanti and Sugiyanto Demikian pula, (Ferdinandito and Haryani 2. menekankan pentingnya servant leadership dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik. Namun demikian, sebagian besar studi tersebut lebih banyak menyoroti konteks pemerintahan formal di tingkat kota atau institusi administratif, bukan pada ranah desa yang memiliki dinamika tersendiri. Hal ini menciptakan ruang kosong dalam kajian akademik mengenai bagaimana gaya kepemimpinan kepala desa, dengan segala nuansa sosial dan budaya lokal, mampu membangun dan mempertahankan kepercayaan Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian terkait bagaimana gaya kepemimpinan kepala desa secara langsung membentuk dan mempertahankan public trust. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dimensi public trust dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari transparansi dan komunikasi, hingga konsistensi tindakan pemimpin dalam memenuhi janji-janjinya. (Malawat et al. menemukan bahwa di Desa Danda Jaya, tingginya kepercayaan masyarakat pada kepala desa ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu transparansi, kemampuan, dan kebaikan hati. Sebaliknya, studi (Lagantondo 2. menemukan bahwa gaya kepemimpinan partisipatif, meskipun diterapkan, belum sepenuhnya efektif karena tidak adanya tindakan yang konkret dalam membangun kepercayaan publik. Evaluasi ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang dipilih dan diimplementasikan secara tepat akan berdampak signifikan terhadap tingkat kepercayaan publik. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara lebih terarah, bagaimana gaya kepemimpinan kharismatik, transaksional, transformasional, dan visioner yang diterapkan oleh kepala desa dapat memengaruhi indikator public trust seperti credible commitment, benevolence, honesty, competence, dan fairness sebagaimana dikemukakan oleh Kim . yang dikutip dalam (Sius et al. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pendekatannya yang mengkaji hubungan antara berbagai gaya kepemimpinan kepala desa kharismatik, transaksional, transformasional, dan visioner dengan dimensi-dimensi spesifik dari public trust sebagaimana dirumuskan oleh Kim . Dalam literatur sebelumnya, kajian tentang kepercayaan publik umumnya dilakukan di wilayah perkotaan atau konteks kelembagaan formal. Sedangkan, penelitian ini secara eksplisit menghadirkan konteks desa yang memiliki dinamika sosial, budaya, dan politik yang khas. Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan mampu mengisi kesenjangan dalam literatur sekaligus menghasilkan temuan kontekstual yang dapat menjadi dasar rekomendasi praktis bagi peningkatan kualitas kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan desa di Indonesia. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan utama yaitu Bagaimana gaya kepemimpinan kepala desa dalam meningkatkan public trust di Desa Timoreng Panua Kecamatan Panca Rijang Kabupaten Sidenreng Rappang? Secara teoritis, penelitian ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transaksional dan transformasional lebih berpeluang membentuk kepercayaan publik dibanding gaya lainnya. Transaksional berperan dalam penguatan hubungan sebab-akibat antara kerja dan hasil yang terukur, sementara transformasional berfokus pada pemberdayaan dan inspirasi kepada masyarakat. Argumen utama yang diangkat adalah bahwa dalam konteks desa yang penuh dinamika sosial dan hubungan interpersonal yang kuat, kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya bukan hanya hasil dari efektivitas program kerja, tetapi juga ditentukan oleh nilai-nilai personal dan sosial yang ditunjukkan pemimpin dalam keseharian. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan tidak hanya memberikan kontribusi pada pengembangan teori kepemimpinan lokal, tetapi juga menjadi acuan kebijakan dan strategi praktis bagi kepala desa dalam membangun legitimasi dan efektivitas pemerintahan desa yang berkelanjutan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengeksplorasi gaya kepemimpinan kepala desa dalam membangun kepercayaan publik di Desa Timoreng Panua. Kecamatan Panca Rijang. Kabupaten Sidenreng Rappang. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap fenomena sosial Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Kepemimpinan Kepala Desa dan Peningkatan Public Trust: Studi Kasus Desa Timoreng Panua Ramlah Sahrir. Herman Dema. Akhmad Yasin yang kompleks, melalui interpretasi makna yang diberikan oleh informan terhadap tindakan dan sikap kepala desa. Objek dalam penelitian ini mencakup gaya kepemimpinan kepala desa dengan fokus pada gaya transformasional, transaksional, kharismatik, dan visioner serta dimensidimensi public trust berdasarkan model Kim . , yaitu credible commitment, benevolence, honesty, competence, dan fairness. Sumber data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan kepala desa dengan alasan kepala desa menjadi informan kunci pada penelitian ini. Peniliti dapat menggali informasi terkait gaya kepemimpinan yang diterapkan dan strategi membangun kepercayaan publik di Desa Timoreng Panua, serta empat perangkat desa dan satu masyarakat dengan alasan beberapa perangkat desa dan masyarakat dapat memberikan perspektif tambahan tentang gaya kepemimpinan kepala desa, pelaksanaan program serta dampaknya terhadap kepercayaan masyarakat. Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui dokumentasi berupa laporan APBDes, notulen musyawarah, serta spanduk program desa. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama yaitu observasi, wawancara, dan Wawancara menjadi teknik utama karena memberikan keleluasaan bagi informan untuk mengemukakan pengalaman dan persepsinya secara alami dan mendalam (Hasan et al. Peneliti menyusun pedoman wawancara berdasarkan indikator gaya kepemimpinan dan public trust. Observasi dilakukan untuk mengetahui perilaku kepala desa dalam konteks sosial sehari-hari, sedangkan dokumentasi digunakan untuk memverifikasi dan melengkapi informasi dari wawancara. Deskripsi fokus dalam penelitian ini mencakup dua variabel yaitu gaya kepemimpinan kepala desa sebagai pola pendekatan dalam memimpin dan mempengaruhi masyarakat, dan public trust sebagai tingkat keyakinan masyarakat terhadap integritas dan kompetensi pemerintah desa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April dan Mei 2025, mencakup tahapan perumusan masalah, studi pustaka, pengumpulan data lapangan, dan penyusunan laporan. Proses analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Abdussamad Data yang diperoleh dari wawancara direkam, ditranskripsi, lalu dikoding menggunakan perangkat lunak NVivo 12 Pro, yang memungkinkan pengelompokan tema dan sub-tema berdasarkan gaya kepemimpinan dan indikator public trust. Tahapan pengolahan data dimulai dari open coding, axial coding, hingga selective coding untuk menyusun narasi tematik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan kepala desa Timoreng Panua lebih dominan menggunakan gaya kepemimpinan transaksional. Gaya ini terlihat dari pola hubungan timbal balik yang diterapkan antara kepala desa dan masyarakat, yang menekankan pada imbalan bagi warga yang berpartisipasi dalam program pembangunan desa, serta teguran bagi mereka yang tidak melaksanakan tugas dengan baik. Dalam penelitian ini, gaya kepemimpinan transformasional juga terlihat cukup signifikan, terutama dalam hal menginspirasi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Namun, meskipun gaya transaksional mendominasi, gaya kepemimpinan kharismatik dan visioner tetap berperan dalam menciptakan pengaruh sosial dan memotivasi masyarakat. Gaya kepemimpinan kharismatik tercermin dari daya tarik pribadi kepala desa yang mampu menciptakan rasa kedekatan dan rasa hormat dari Sedangkan gaya kepemimpinan visioner meskipun tidak terlalu menonjol, tetap memiliki kontribusi dalam perencanaan jangka panjang pembangunan desa (Hadi 2. Public trust terhadap kepemimpinan kepala desa di Desa Timoreng Panua dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yang diukur berdasarkan lima indikator utama yaitu komitmen yang kredibel, baik hati, kejujuran, kompetensi, dan keadilan. Dari hasil analisis, terlihat bahwa sikap baik hati dan keadilan adalah dua faktor yang paling dominan dalam membangun public trust. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan publik tidak hanya dipengaruhi oleh pencapaian pembangunan fisik, tetapi juga oleh sikap moral dan perhatian yang tulus dari pemimpin terhadap warganya dan masyarakat merasa lebih percaya terhadap kepala desa karena mereka merasa dihargai dan diperlakukan secara adil dalam setiap kebijakan yang diambil. Selain itu, kejujuran Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Kepemimpinan Kepala Desa dan Peningkatan Public Trust: Studi Kasus Desa Timoreng Panua Ramlah Sahrir. Herman Dema. Akhmad Yasin juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan public trust. Kepala desa Timoreng Panua menunjukkan transparansi dalam pengelolaan dana dan informasi program-program desa melalui mekanisme publikasi yang jelas. Masyarakat juga menilai bahwa kepala desa cukup kompeten dalam menyelesaikan berbagai masalah yang muncul di desa, meskipun terdapat keterbatasan dalam pelaksanaan pembangunan fisik, seperti infrastruktur. Gambar 1. 1 Visualisasi Diagram Indikator Gaya kepemimpinan Sumber: Hasil Analisis Nvivo 12 Pro, 2025 Gaya Kepemimpinan Kepala Desa Berdasarkan konsep Robbins . yang dikutip dalam (Hadi 2. terdapat empat gaya kepemimpinan yakni gaya kepemimpinan kharismatik, gaya kepemimpinan transformasional, gaya kepemimpinan transaksional dan gaya kepemimpinan visioner. Gaya Kepemimpinan Kharismatik Gaya Kepemimpinan Kharismatik merupakan kemampuan seorang pemimpin untuk mempengaruhi dan menginspirasi bawahannya melalui daya tarik personal, kepercayaan diri yang tinggi, serta komunikasi yang kuat dan meyakinkan. Menurut Robbins . , pemimpin kharismatik mampu menggerakkan pengikutnya melalui penyampaian visi yang kuat dan keteladanan dalam bertindak. Gaya kepemimpinan kharismatik mampu menciptakan loyalitas dan keterikatan emosional yang tinggi antara pemimpin dan pengikut (Bayu. Zaqi, and Kushartono 2. Hasil analisis terkait indikator gaya kepemimpinan kharismatik memiliki persentase sebesar 23%. Pemimpin kharismatik ditandai oleh pengaruh personal yang kuat, kepercayaan diri tinggi, serta kemampuan komunikasi yang menginspirasi. Wawancara dengan perangkat desa . Mei 2. menunjukkan bahwa kepala desa memiliki daya tarik interpersonal yang tinggi, dihormati, serta disenangi masyarakat karena kepribadiannya yang santai namun tetap responsif terhadap kebutuhan publik. Karakter ini membentuk keterikatan emosional yang kuat antara pemimpin dan masyarakat, mencerminkan esensi dari kepemimpinan kharismatik. Kehadiran kepala desa yang ramah dan terbuka menurunkan jarak sosial antara pemimpin dan warga, menjadikannya simbol teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks pemerintahan desa, karakter kharismatik ini menjadi modal penting untuk menciptakan loyalitas dan keterlibatan aktif warga. Gaya Kepemimpinan Transformasional Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Kepemimpinan Kepala Desa dan Peningkatan Public Trust: Studi Kasus Desa Timoreng Panua Ramlah Sahrir. Herman Dema. Akhmad Yasin Gaya Kepemimpinan Transformasional yakni pemimpin yang menginspirasi dan mengkomunikasikan kepada pengikutnya untuk melakukan tanggung jawab yang melebihi kepentingan pribadi mereka demi kepentingan organisasi. Kepemimpinan transformasional dapat mengubah pola pikir pengikutnya dari cara berpikir dengan pola lama menjadi baru dalam hal menyelesaikan masalah. Selain itu, pemimpin juga dapat membuat pengikut bergairah dalam bekerja, dan mampu membangkitkan semangat pengikutnya (Bayu. Zaqi, and Kushartono 2. Sejalan dengan penelitian (Dema et al. mengungkapkan bahwa Gaya kepemimpinan transformasional mempunyai pemimpin atau leader dengan gaya persuasif, dimana pemimpin dapat mengajak bawahannya untuk ikut berpartisipasi dalam mencapai tujuan organisasi. Pemimpin transformasional memperhatikan kebutuhan dan masalah perkembangan individu pengikut dengan membantu mereka memandang masalah lama dengan cara baru, serta dapat membangkitkan, menggairahkan, dan menginspirasi pengikut untuk melakukan upaya ekstra dalam mencapai tujuan kelompok sasaran. Hasil analisis terkait indikator gaya kepemimpinan transformasional memiliki persentase sebesar 24%. Pemimpin transformasional mampu mendorong perubahan melalui visi bersama dan pemberdayaan kolektif (Dema. Hamid, and Barisan 2. Dari hasil wawancara kepala desa . Mei 2. , diketahui bahwa kepala desa aktif menyampaikan visi kepada perangkat desa dan warga, serta mendorong keterlibatan semua pihak untuk mewujudkannya. Ia menekankan bahwa jabatan yang diemban adalah bentuk pelayanan, bukan kekuasaan, yang memperlihatkan nilai integritas dan keteladanan. Sikap kepala desa yang menginspirasi memperkuat kepercayaan publik, yang merupakan fondasi utama dalam membangun partisipasi masyarakat. Visi kolektif yang diusung juga memberikan arah pembangunan desa yang berkelanjutan dan inklusif. Gaya Kepemimpinan Transaksional Gaya Kepemimpinan Transaksional adalah pemimpin yang dapat memotivasi pengikut mereka untuk menuju sasaran yang ditetapkan dengan memperjelas tugas dan tanggung jawab Pemimpin transaksional menjanjikan imbalan yang memiliki kinerja yang baik dan pemimpin juga akan mengakui pencapaian yang diraih pengikutnya. Bass & Avolio . dalam teori Full Range Leadership, yang menyebutkan bahwa pemimpin transaksional memotivasi pengikut melalui transaksi yang jelas, seperti memberikan imbalan atas pencapaian dan memberikan teguran atas kesalahan. Dua komponen utama dari gaya ini adalah penghargaan bersyarat dan pengawasan dan intervensi terhadap penyimpangan (Ari Sedana and Riana 2. Hasil analisis terkait indikator gaya kepemimpinan transaksional memiliki persentase sebesar Gaya kepemimpinan transaksional tampak melalui praktik pemberian imbalan atas kinerja baik serta teguran untuk pelanggaran ringan. Berdasarkan hasil wawancara kepala desa dan perangkat desa . Mei 2. , kepala desa memberikan insentif seperti uang atau makanan kepada aparat maupun warga yang berkontribusi dalam kegiatan desa. Sanksi yang diberikan terbatas pada peringatan lisan, menunjukkan pendekatan humanis dalam pengelolaan sumber daya manusia. Pendekatan ini sejalan dengan model Full Range Leadership (Bass & Avolio, 1. , yang menekankan pada contingent reward dan management by exception. Jika dibandingkan dengan studi (Lagantondo 2. di Desa Tampemadoro, sistem transaksional di Desa Timoreng Panua dinilai lebih efektif karena menumbuhkan kedisiplinan dan motivasi partisipatif melalui sistem penghargaan yang konkret. Gaya Kepemimpinan Visioner Gaya kepemimpinan visioner adalah pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menciptakan visi yang realistis, menarik dan kredibel mengenai masa depan organisasi. Visi memberikan gairah yang baru untuk menuju masa depan yang lebih baik, selain itu visi juga menjadi lompatan besar ke masa depan dengan membangkitkan keterampilan dan sumber daya. Kepemimpinan Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Kepemimpinan Kepala Desa dan Peningkatan Public Trust: Studi Kasus Desa Timoreng Panua Ramlah Sahrir. Herman Dema. Akhmad Yasin visioner memiliki cara dan kualitas sendiri dalam melaksanakan pekerjaan, yaitu kemampuan mengungkapkan visi dengan perilaku tidak hanya verbal dan memiliki kemampuan memperluas visi ke berbagai konteks (Asih Widi Lestari. Febianus Angga Saputra, and Firman Firdausi 2. Hasil analisis terkait indikator gaya kepemimpinan visioner memiliki persentase sebesar 18%. Kepemimpinan visioner menekankan pada kemampuan merancang dan mengomunikasikan arah masa depan secara berkelanjutan. Dalam wawancara dengan kepala desa . Mei 2. , diketahui bahwa proses perumusan visi dilakukan melalui musyawarah bersama warga dan perangkat desa, lalu ditindaklanjuti dengan langkah konkret ke pihak pemerintah daerah. Namun, hasil analisis menunjukkan bahwa aspek ini kurang menonjol dibandingkan gaya lainnya. Sebagian informan seperti perangkat desa menyatakan bahwa visi kepala desa hanya disampaikan saat kampanye atau forum terbatas, dan tidak dikomunikasikan secara konsisten. Hal ini menunjukkan lemahnya aspek naratif dan inspiratif dalam penyampaian visi jangka Menurut Robbins & Judge . , pemimpin visioner idealnya mampu menginternalisasi visi ke dalam setiap tindakan dan komunikasi sehari-hari agar mampu membangkitkan semangat Tanpa komunikasi yang berkesinambungan, masyarakat sulit memahami arah strategis pembangunan desa secara menyeluruh (Maulidah et al. Hasil analisis gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Kepala Desa Timoreng Panua dalam upaya meningkatkan public trust di Desa Timoreng Panua menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transaksional merupakan gaya yang paling dominan digunakan. Hal ini ditunjukkan oleh persentase tertinggi pada indikator transaksional dibandingkan dengan gaya kepemimpinan lainnya. Di posisi selanjutnya, gaya kepemimpinan transformasional menempati urutan kedua, diikuti oleh gaya kepemimpinan kharismatik pada urutan ketiga, sementara gaya kepemimpinan visioner berada pada posisi paling rendah. Secara umum, gaya kepemimpinan transaksional mencerminkan bahwa kepala desa lebih sering membangun hubungan timbal balik dengan masyarakat melalui pendekatan berbasis imbalan dan hukuman. Artinya, kepala desa memberikan penghargaan, pujian, atau insentif kepada masyarakat atau perangkat desa apabila tugas dan tanggung jawab dilaksanakan dengan baik, dan sebaliknya akan memberikan teguran atau sanksi jika terjadi kelalaian atau penyimpangan. Pendekatan ini cenderung menekankan pada kepatuhan terhadap aturan, pencapaian target secara efisien, serta stabilitas dalam pelaksanaan program desa. Gambar 1. 2 Visualisasi Diagram Indikator Gaya kepemimpinan Sumber: Hasil Analisis Nvivo 12 Pro, 2025 Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Kepemimpinan Kepala Desa dan Peningkatan Public Trust: Studi Kasus Desa Timoreng Panua Ramlah Sahrir. Herman Dema. Akhmad Yasin Public Trust Berdasarkan konsep Kim . yang dikutip dalam (Rizal 2. terdapat lima indikator kepercayaan publik yakni komitmen yang kredibel, baik hati, kejujuran, kompetensi dan keadilan. Komitmen yang Kredibel (Credible Commitmen. Menurut Kim . komitmen yang kredibel merupakan salah satu indikator utama dalam membangun kepercayaan publik. Kepercayaan publik tumbuh dari persepsi bahwa pemimpin benar-benar peduli terhadap kepentingan masyarakat dan tidak hanya mengejar kepentingan Lebih lanjut. Fukuyama . menyebutkan bahwa kepercayaan merupakan hasil dari ekspektasi perilaku yang konsisten dalam jangka waktu tertentu, yang didasari oleh nilai-nilai moral, integritas, dan tanggung jawab sosial pemimpin. Hasil analisis terkait indikator komitmen yang kredibel memiliki persentase sebesar 20%. Wawancara dengan salah satu masyarakat menunjukkan bahwa kepala desa dinilai memiliki komitmen yang konsisten dalam menjalankan tugas pemerintahan. Meski keterbatasan anggaran menyebabkan beberapa janji belum terealisasi, konsistensi perilaku dan sikap yang tidak berubah sepanjang masa jabatan membuat masyarakat tetap menaruh kepercayaan. Hal ini selaras dengan gagasan Fukuyama . bahwa kepercayaan lahir dari ekspektasi akan konsistensi moral dan tanggung jawab dalam jangka panjang (Mansyur 2. Baik Hati (Benevolenc. Salah satu indikator penting dalam membangun kepercayaan publik adalah sikap baik hati pemimpin. Menurut Dwiyanto . , benevolence adalah salah satu indikator kepercayaan publik yang terlihat dari persepsi salah satu masyarakat bahwa pemimpin memiliki niat baik dan tulus terhadap kepentingan warganya, bahkan dalam situasi di mana warga tidak bisa mengawasi atau menuntut secara langsung. Lebih jauh. Berman . dan Montgomery et al. dalam kerangka public trust menyatakan bahwa ketulusan tanpa motivasi ekstrinsik dalam membantu masyarakat menjadi fondasi penting dalam pembentukan trust (Rizal 2. Hasil analisis terkait indikator baik hati memiliki persentase sebesar 30%. Aspek benevolence terlihat dari pesepsi perangkat desa dan masyarakat bahwa tindakan spontan kepala desa yang sering membantu warga secara personal, seperti memberikan bantuan sembako atau meminjamkan kendaraan Tindakan ini mencerminkan empati yang tidak bersifat administratif, tetapi lahir dari inisiatif pribadi. Temuan ini memperluas pemahaman dari penelitian (Malawat et al. , di mana benevolence lebih banyak diwujudkan melalui program struktural. Kejujuran (Honest. Menurut Dwiyanto . kejujuran adalah salah satu indikator krusial dalam membangun kepercayaan publik. Warga akan kehilangan kepercayaan jika menilai bahwa pemimpin tidak jujur atau menutupi informasi penting. Kejujuran di sini tidak hanya dimaknai sebagai tidak berbohong, tetapi juga tidak menyembunyikan informasi penting dan bertanggung jawab terhadap segala tindakan pemerintahan. Hal ini sejalan dengan pendapat Berman . dan Nye . yang menyatakan bahwa persepsi masyarakat terhadap integritas dan transparansi pejabat publik merupakan pilar utama dalam pembentukan public trust. Transparansi yang dilakukan oleh kepala desa melalui mekanisme publikasi anggaran mencerminkan bentuk konkret dari kejujuran sebagai nilai moral dan administratif (Sirajuddin and Atrianingsi 2. Hasil analisis terkait indikator kejujuran memiliki persentase sebesar 19%. Kejujuran kepala desa terwujud dalam praktik transparansi publik, seperti pengumuman anggaran melalui spanduk APBDes dan papan proyek. Informasi ini disampaikan secara terbuka kepada masyarakat, membuktikan akuntabilitas pemimpin desa dalam pengelolaan dana dan Praktik ini sejalan dengan teori Dwiyanto . dan Nye . bahwa transparansi memperkuat legitimasi kepemimpinan. Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Kepemimpinan Kepala Desa dan Peningkatan Public Trust: Studi Kasus Desa Timoreng Panua Ramlah Sahrir. Herman Dema. Akhmad Yasin Kompetensi (Competenc. Menurut Kim . yang dijelaskan oleh Dwiyanto . , kompetensi merupakan salah satu dari lima indikator utama pembentuk public trust. Kompetensi di sini diartikan sebagai kemampuan institusi pemerintah dan para pejabatnya dalam memahami masalah yang dihadapi masyarakat serta mampu menyelesaikannya secara efektif. Dalam konteks ini, masyarakat tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga menilai proses penyelesaian masalah, komunikasi, dan efektivitas dalam pelaksanaan program. Hasil analisis terkait indikator kompetensi memiliki persentase sebesar 9%. Kompetensi kepala desa ditunjukkan melalui keberhasilan menyelesaikan konflik sosial secara dialogis dan damai, serta pelaksanaan program desa yang sesuai rencana. Kemampuan ini bukan hanya mencerminkan kecakapan administratif, tetapi juga kapasitas sosial dan emosional dalam membangun harmoni di masyarakat pedesaan, sebagaimana dikemukakan oleh Kim . Keadilan (Fairnes. Menurut Kim . yang dijelaskan dalam Dwiyanto . , keadilan adalah salah satu indikator penting dalam membangun kepercayaan masyarakat. Keadilan dinilai dari apakah pemerintah memperlakukan warganya secara adil dan tidak diskriminatif, terutama dalam pelayanan publik dan pembagian bantuan. Masyarakat akan merasa percaya jika melihat bahwa semua orang diperlakukan sama, dan tidak ada pilih kasih dalam program atau kebijakan desa. Jika keadilan terjaga, kepercayaan warga juga akan tetap tinggi (Thahir Haning. Hasniati, and Tahili 2. Hasil analisis terkait indikator keadilan memiliki persentase sebesar 22% dengan masing-masing informan yaitu 20%. Keadilan sebagai indikator penting public trust, tercermin dari perlakuan kepala desa yang setara terhadap seluruh warga tanpa diskriminasi. Warga merasa dilayani secara adil, baik dalam urusan bantuan maupun pelayanan lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi keadilan dalam proses dan relasi interpersonal mampu menjaga kepercayaan publik, bahkan ketika capaian pembangunan belum maksimal. Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan public trust di Desa Timoreng Panua dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, dengan tingkat dominasi yang bervariasi antar individu. Secara umum, terdapat lima indikator utama yang diukur yaitu komitmen yang kredibel, baik hati, kejujuran, kompetensi dan keadilan. Dari keseluruhan data yang dianalisis, terlihat bahwa sikap baik hati dan keadilan menjadi faktor yang paling sering muncul sebagai indikator dominan dalam membangun public trust. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan transaksional merupakan gaya yang paling banyak diterapkan oleh kepala desa dalam interaksinya dengan Gaya ini tercermin melalui pemberian imbalan untuk partisipasi aktif serta teguran bagi yang melanggar. Walaupun gaya transaksional mendominasi, kepala desa juga menunjukkan unsur kepemimpinan transformasional dalam memotivasi perubahan sosial dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Selain itu, gaya kepemimpinan kharismatik turut berperan dalam membangun kedekatan emosional antara pemimpin dan Secara keseluruhan, gaya kepemimpinan kepala desa yang berbasis pada penghargaan, motivasi, dan kedekatan pribadi efektif dalam menjaga kepercayaan publik. Dari sisi kontribusi, penelitian ini memberikan sumbangan signifikan terhadap literatur kepemimpinan dan kepercayaan publik, terutama di tingkat pemerintahan desa. Penelitian ini mengonfirmasi pentingnya aspek humanis, seperti sikap baik hati dan keadilan, dalam membangun public trust. Kepemimpinan yang mampu mengedepankan nilai-nilai transparansi, keadilan, dan integritas, seperti yang diterapkan oleh kepala desa Timoreng Panua, terbukti efektif dalam memperkuat hubungan antara pemimpin dan masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pendekatan kualitatif dengan teknik observasi dan wawancara, telah Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Kepemimpinan Kepala Desa dan Peningkatan Public Trust: Studi Kasus Desa Timoreng Panua Ramlah Sahrir. Herman Dema. Akhmad Yasin memberikan wawasan mendalam tentang dinamika kepemimpinan lokal dan pentingnya komunikasi yang efektif dalam membangun kepercayaan. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa kelemahan, yang menjadi rekomendasi untuk penelitian selanjutnya. Salah satunya adalah pentingnya kepala desa dalam meningkatkan komunikasi visi jangka panjang kepada masyarakat, agar warga dapat terlibat lebih aktif dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan. Penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian dengan membandingkan gaya kepemimpinan di desa lain, guna melihat apakah faktor lokal turut memengaruhi efektivitas gaya kepemimpinan tertentu dalam meningkatkan kepercayaan publik. DAFTAR PUSTAKA