Community Empowerment through the Waste Bank Program by CSR of PT Pertamina Patra Niaga Bitumen Plant Gresik Luluk Atun Jahiroh¹*, Wildan Andaru Article Info *Correspondence Author (1)Community Development Officer PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plantg Gresik (2) Jr. Spv. HSSE PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plant Gresik How to Cite: Jahiroh, L.A., & Andaru, W. (2025). Community Empowerment through the Waste Bank Program by CSR of PT Pertamina Patra Niaga Bitumen Plant Gresik. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 4 (3), 3343 Abstract The waste management issue in Padeg Village, Gresik Regency, has become increasingly complex due to the suboptimal management of the Temporary Disposal Site (TPS). The accumulated waste is often burned in the open, directly impacting both the environment and the health of nearby residents. PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plant Gresik has taken part in addressing this issue through its Corporate Social Responsibility (CSR) program by supporting the establishment and development of the Pandean Pas Waste Bank. This study aims to describe the implementation of PT Pertamina Patra – Niaga Bitumen Plant Gresik’s CSR program in community empowerment through public participation in the Pandean Pas Waste Bank Program. The research methid employed is descriptive, qualitative, with data collected through observation, interviews, and documentation studies. The results indicate that the CSR program has successfully increased active community participation at every stage of the empowerment process. The Pandean Pas Waste Bank program has effectively reduced household waste generation, produced organic compost, and contributed to environmental sustainability. The company’s CSR initiative has not only improved waste management practices but also enhanced the capacity, participation, and independence of the Padeg Village community in preserving environmental sustainability. Keywords: CSR, Community Empowerment, Waste Bank Article History Submitted: 22 September 2025 Received: 24 September 2025 Accepted: 13 October 2025 Correspondence E-Mail: Lulukar07@gmail.com Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol.4 No. 3 (2025) pp. 33-43 https://doi.org/10.55381/jpm/v4i3.527 https://prospectpublishing.id/ojs/index.php/jpm/index p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Creative Commons Share Alike CC-BY-SA: This work is licensed under a Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Creative Commons Attribution- Share-Alike 4.0 International License (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/) which permits non-commercial use, reproduction, and distribution of the work without further permission provided the original work is attributed as specified on the Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat and Open Access pages. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Bank Sampah oleh CSR PT Pertamina Patra Niaga Bitumen Plant Gresik Luluk Atun Jahiroh & Wildan Andaru Info Artikel *Korespondensi Penulis (1)Community Development Officer PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plantg Gresik (2) Jr. Spv. HSSE PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plant Gresik Email Korespondensi: Lulukar07@mail.com Abstrak Masalah pengelolaan sampah di Desa Padeg, Kabupaten Gresik, menjadi semakin kompleks akibat pengelolaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang kurang optimal. Tumpukan sampah tersebut dibakar secara terbuka yang berdampak langsung pada lingkungan sekaligus kesehatan masyarakat sekitar. PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plant Gresik turut berperan dalam mengatasi permasalahan tersebut melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan mendukung pembentukan dan pengembangan Bank Sampah Pandean Pas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program CSR PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plant Gresik dalam pemberdayaan masyarakat melalui partisipasi masyarakat pada program Bank Sampah Pandean Pas. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program CSR tersebut berhasil meningkatkan partisipasi aktif masyarakat pada setiap tahap proses pemberdayaan masyarakat. Program Bank Sampah Pandean Pas telah berhasil mengurangi timbulan sampah rumah tangga, menghasilkan kompos organik, serta berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Inisiatif CSR yang dilakukan oleh perusahaan tidak hanya memperbaiki praktik pengelolaan sampah, tetapi juga meningkatkan kapasitas, partisipasi, dan kemandirian masyarakat Desa Padeg dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kata Kunci: CSR; Pemberdayaan Masyatrakat; Bank Sampah 34 © Jahiroh, et al. Pendahuluan Krisis iklim menjadi sesuatu yang aktual untuk diperbincangkan saat ini. Menurut laporan WMO (World Meteorological Organization), 2023 tercatat sebagai tahun terpanas dalam catatan modern with dengan suhu rata-rata global sekitar 1,45 °C di atas masa praindustri. Hal ini menjadi tantangan global yang memiliki dampak luas pada setiap aspek hidup manusia. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi dapat melebar ke aspek ekonomi dan sosial. Perubahan iklim dapat dicermati dengan meningkatnya suhu global, cuaca ekstrem, dan kenaikan air laut. Kondisi ini semakin diperburuk oleh aktivitas sehari-hari individu yang tidak dilakukan secara tanggung jawab seperti penggunaan plastik sekali pakai oleh individu sehari-hari yang tidak berkelanjutan dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca (IPPC, 2021). Perilaku konsumsi masyarakat modern cenderung menghasilkan sampah yang berlebih. Hal ini diperkuat dari data Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia pada tahun 2024, bahwa terdapat timbulan sampah sejumlah 35 juta ton per tahun dengan sampah rumah tangga yang mendominasi hingga 53,77% (SIPSN, 2024). Gambar 1. Data Timbulan Sampah di Indonesia tahun 2024 Sumber: SIPSN KLHK, 2024 Gambar 2. Komposisi Sampah Berdasarkan Sumber Sampah di Indonesia tahun 2024 Sumber: SIPSN KLHK, 2024 Timbulan sampah tersebut sebagian besar sampah masih ditangani melalui pembuangan di TPA dengan metode open dumping yang menghasilkan emisi metana (CH₄), gas rumah kaca dengan efek pemanasan global 25 kali lebih besar daripada karbon dioksida (CO₂). Selain itu, sampah plastik menimbulkan masalah jangka panjang karena sulit terurai 35 © Jahiroh, et al. dan berdampak pada pencemaran tanah, air, dan laut (Budihardjo & Soemirat, 2020). Dengan demikian, permasalahan sampah tidak hanya terkait kebersihan lingkungan, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap krisis iklim. Perlu dipahami bahwa apabila krisis iklim bukan sekedar isu lingkungan, melainkan juga persoalan keadilan sosial maka dampaknya dapat menjangkau seluruh kelas sosial. Krisis ini bahkan dapat menjadikan kelompok rentan lebih terdampak secara tidak proporsional. Oleh karena itu perlu upaya yang masif dalam memerangi permasalahan krisis iklim ini sebagai usaha kolektif dalam memberikan hak-hak setiap individu untuk mendapatkan keadilan sosial (Natasha, 2022). Pola konsumsi yang bertanggung jawab melalui pengelolaan sampah telah diatur oleh pemerintah melalui Perpres Nomor 97 tahun 2017. Peraturan ini mengatur tentang pengelolaan sampah dengan cara pemilahan - pengumpulan - pengangkutan ke TPA atau Tempat Pembuangan Akhir. Namun tidak semua TPA di daerah mampu menampung dan atau menjangkau sampah dari seluruh masyarakat di daerah. Salah satunya sampah yang ada di Desa Padeg, Kabupaten Gresik. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Desa Padeg, Iswoyo mengatakan bahwa seluruh sampah dari masyarakat Desa Padeg dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara di Desa Padeg. Namun tempat sementara tersebut kini menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hal ini karena TPA terdaftar di daerah Gresik tidak dapat melakukan pengangkutan yang menjangkau ke desa tersebut. Pemdes telah berusaha mengkomunikasikan kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik untuk masalah tersebut, tetapi masih belum terdapat solusi. Pemdes mengkhawatirkan timbunan sampah di desa tersebut jika tidak ditangani secara serius ke depannya akan menjadi masalah baru. Oleh karena itu perlu upaya untuk mengurangi timbunan sampah di desa tersebut. PT Pertamina Patra Niaga - Bitumen Plant Gresik merupakan salah satu entitas bisnis yang merupakan Badan Usaha Milik Negara yang beroperasi di Kabupaten Gresik. Dalam kepatuhannya kepada Undang-undang No. 40 tahun 2007, perusahaan menjalankan tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) yang ditujukan kepada masyarakat Kabupaten Gresik. Desa Padeg menjadi salah satu desa yang menjadi sasaran kegiatan CSR yang diawali dengan melakukan social mapping untuk memetakan permasalahan dan potensi di desa tersebut. Hasil dari social mapping telah merumuskan masalah-masalah prioritas terutama permasalahan timbulan sampah. Menanggapi permasalahan timbulan sampah di Desa Padeg yang menjadi komponen pemicu krisis iklim, perusahaan membantu pemerintah dan masyarakat mencari solusi melalui pembentukan Bank Sampah Pandean Pas yang mengedepankan konsep pemberdayaan masyarakat yaitu suatu pendekatan yang berfokus pada peningkatan kapasitas, partisipasi, dan kemandirian masyarakat melalui edukasi, pelatihan, serta keterlibatan aktif dalam setiap tahapan pengelolaan sampah dimana kelompok menjadi subjek yang berdaya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Metode Penelitian ini berorientasi pada pendekatan pemberdayaan masyarakat oleh PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plant Gresik menggunakan desain kualitatif dengan analisis deskriptif yang dalam mengelola program CSR Bank Sampah Pandean Pas. Konsep pemberdayaan masyarakat menurut Twelvetrees (1991) yaitu sebuah ide untuk membantu komunitas masyarakat dengan menggunakan aksi-aksi kolektif. Pemberdayaan masyarakat sebagai aksi kolektif artinya tidak hanya memberikan bantuan secara instan tetapi menciptakan ruang bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam mengidentifikasi masalah merumuskan solusi, dan mengambil keputusan atas arah yang akan dilakukan. Dengan demikian, pemberdayaan menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas, kemandirian, serta rasa kepemilikan masyarakat terhadap pembangunan di lingkungannya. Dalam konteks pengelolaan sampah, pemberdayaan berbasis kolektif ini sangat relevan karena masalah 36 © Jahiroh, et al. sampah merupakan isu bersama yang membutuhkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat. Melalui aksi kolektif seperti bank sampah, masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan dengan cara pengolahan sampah yang diproduksi setiap hari dan menciptakan solidaritas sosial yang berkelanjutan. Selanjutnya konsep pemberdayaan masyarakat menurut Jim Ife (1995) yaitu memberikan intervensi kepada masyarakat berupa fasilitas, peluang, pengetahuan, dan kemampuan untuk meningkatkan kapasitas diri agar dapat berpartisipasi dalam menentukan masa depan dan suatu hal yang mempengaruhi kehidupannya. Dengan demikian pemberdayaan masyarakat ini erat kaitan nya dengan partisipasi. Partisipasi dalam hal ini keikutsertaan masyarakat dalam mengambil keputusan serta mengelola aksi kolektif yang dijalankan. Partisipasi aktif masyarakat memang sangat dibutuhkan dalam pemberdayaan masyarakat. Partisipasi tersebut menjadi sebuah kunci keberhasilan dari sebuah program pemberdayaan masyarakat. Partisipasi sendiri jika ditinjau lebih jauh terdiri dari dua bagian, yaitu partisipasi internal dan partisipasi eksternal. Partisipasi internal yaitu terdapat perasaan memiliki pada suatu kelompok sehingga ikut terlibat aktif dalam kelompok tersebut. Perasaan ini yang membuat terbentuknya identitas pada suatu kelompok. Adapun partisipasi eksternal yaitu keterlibatan suatu individu terhadap komunitas luar (Erickson, dalam Suparjan dan Hempri, 2003). Dalam konteks Bank Sampah Pandean Pas, partisipasi internal muncul melalui kesadaran warga Desa Padeg untuk memilah sampah dari rumah tangga mereka sendiri dan berkontribusi pada kegiatan bank sampah, sedangkan partisipasi eksternal terlihat dari kerja sama masyarakat dengan pihak desa, perusahaan, dan jaringan bank sampah lain untuk memperluas manfaat program dan atau melakukan pembelajaran dari bank sampah yang memiliki pencapaian dan inovasi lebih baik. Konsep pemberdayaan masyarakat yang mengedepankan partisipasi aktif menjadi landasan utama PT Pertamina Patra Niaga - Bitumen Plant Gresik dalam menginisiasi kegiatan CSR untuk masyarakat. Program Bank Sampah Pandean Pas ini digagas pada tahun 2022 untuk menjawab permasalahan sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sementara yang menjadi Tempat Pembuangan Akhir di Desa Padeg, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik. Program telah dijalankan melalui partisipasi aktif dari pemangku kepentingan sejak melakukan perencanaan, implementasi kegiatan, monitoring, hingga evaluasi. Melalui penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan proses pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh pihak perusahaan dan dapat memberikan rekomendasi yang komprehensif untuk mencapai tujuan mengentaskan permasalahan lingkungan di Desa Padeg. Pembahasan Desa Padeg berlokasi di Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Lokasi desa berjarak 10 km dari pusat Kota Gresik. Jumlah penduduk di desa tersebut yaitu 2541 jiwa dengan total 699 Kepala Keluarga. Tingginya jumlah penduduk di desa tersebut berkorelasi positif dengan jumlah konsumsi harian. Konsumsi tersebut meliputi kebutuhan pangan, barang rumah tangga, hingga produk sekali pakai. Hal ini berimplikasi langsung terdapat timbulan sampah di TPS Desa Padeg. Menurut Pak Shodiqin selaku petugas yang setiap hari mengambil sampah di masyarakat untuk dibuang di TPS, setiap harinya terdapat rata-rata 150 kg sampah yang ia kumpulkan dari rumah-rumah warga. Bisa dibayangkan apabila sampah tersebut tidak diolah dan langsung dibuang di TPS. Mirisnya TPS ini berlokasi 100 meter saja dengan pemukiman warga dan juga tidak pernah mendapatkan perlakuan serius. Sampah-sampah tersebut dibiarkan menumpuk yang kemudian dibakar. Kedekatan jarak tersebut berimplikasi pada meningkatnya risiko kesehatan masyarakat. Menurut World Health Organization (WHO, 2018), paparan limbah padat yang tidak 37 © Jahiroh, et al. terkelola dengan baik dapat menyebabkan penyebaran penyakit infeksi, meningkatkan prevalensi gangguan pernapasan akibat emisi gas dan bau menyengat, serta memicu perkembangan vektor penyakit seperti lalat, nyamuk, dan rodensia. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan TPS dengan jarak yang sangat dekat terhadap pemukiman dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat sekitar Gambar 3 TPS Desa Padeg Sumber: Dokumen PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plant Gresik, 2025 Permasalahan ini apabila terus dibiarkan tentu akan berdampak pada pencemaran lingkungan dan naiknya emisi gas rumah kaca sehingga menjadi penyumbang permasalahan krisis iklim. Berangkat dari permasalahan tersebut PT Pertamina Patra Niaga - Bitumen Plant Gresik dan Pemerintah Desa Padeg bekerja sama untuk membuat program pengelolaan sampah yang komprehensif dengan melibatkan masyarakat. Kegiatan tersebut dimulai dari tahun 2022 dengan melalui proses musyawarah untuk merumuskan program bersama yaitu Bank Sampah Pandean Pas. Proses Perumusan Program Bank Sampah Pandean Pas dengan Melibatkan Stakeholder Pada tahun 2022 PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plant Gresik telah melakukan pengkajian social mapping di Desa Padeg. Social Mapping merupakan penelitian sosial yang dilakukan untuk mengetahui kondisi sebuah wilayah dalam hal ini desa secara objektif dan komprehensif. Hasil dari penelitian sosial tersebur berupa potret desa, potensi, hingga permasalahan yang dialami oleh masyarakat di desa tersebut. Kegiatan penelitian dilakukan oleh pihak eksternal perusahaan yaitu akademisi dari Universitas Negeri Semarang sehingga diharapkan potret desa digambarkan dengan sebenar-benarnya tanpa memihak kelompok tertentu. Dari hasil kajian social mapping tersebut, diketahui permasalahan sampah menjadi salah satu masalah yang penting diperhatikan. Masyarakat Desa Padeg saat itu belum melakukan pengolahan sampah sehingga seluruh sampah dibuang ke TPS Desa Padeg. Hal ini menyebabkan tumpukan sampah di TPS Desa Padeg yang juga tidak dikelola lebih lanjut. Dengan dasar hasil social mapping tersebut, pihak perusahaan mengundang pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk merumuskan program Corporate Social Responsibility (CSR) melalui kegiatan Foccus Group Discussion (FGD). Dalam kegiatan ini dihadiri oleh Pemerintah 38 © Jahiroh, et al. Desa yang berperan membuat kebijakan, pendukung dalam level administratif, dan pengawas kegiatan yang akan dijalankan. Selain itu terdapat anggota PKK dan juga Pengurus Badan Permusyawarahan Desa yang mewakili sektor masyarakat yang bertugas memberikan masukan serta mengemban peran subjek kegiatan yang akan dilakukan. Selanjutnya dari PT Pertamina Patra Niaga Bitumen Plant Gresik selaku perusahaan yang akan memfasilitasi melalui program CSR yang menggandeng PT Pertamina Training & Counsalting untuk penyaluran dana dan berbagai bantuan yang akan diberikan. Selanjutnya dari pihak akademisi dari Universitas Negeri Semarang yang memberikan gagasan serta saran kegiatan dengan mempertimbangkan pengetahuan akademis yang mereka pelajari serta pengalaman empiris di lapangan, sehingga rekomendasi yang diberikan lebih aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Selanjutnya para stakeholder sepakat untuk merumuskan program bersama yaitu Bank Sampah yang dikelola oleh Kader Bank Sampah Pandean Pas. Kegiatan utama yang dilakukan yaitu memilah sampah khususnya sampah anorganik dengan melibatkan seluruh masyarakat Desa Padeg. Hal penting yang difasilitasi oleh perusahaan yaitu pembentukan kelompok, peningkatan keahlian kelompok melalui pelatihan pengolahan sampah, edukasi jenis-jenis sampah, kemudian pemberian sarana fasilitas seperti gedung bank sampah dan timbang. Program ini terus berkembang hingga kini. Pada setiap awal tahun dilakukan FGD perencanaan yang melibatkan perusahaan, pemerintah, kelompok bank sampah pandean pas, serta stakeholder swasta yang memiliki visi yang sama untuk mengentaskan permasalahan sampah. Gambar 4 FGD Perencanaan Kegiatan Bank Sampah Sumber: Dokumen PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plant Gresik, 2025 Implementasi Program Bank Sampah dengan Partisipasi Aktif Masyarakat Proses penyadaran masyarakat mengenai pentingnya memilah sampah merupakan kunci dari kegiatan bank sampah. Pendekatan yang digunakan untuk melakukan penyadaran yaitu melalui edukasi. Edukasi dilakukan pada saat berbarengan pada kegiatan rutin desa, seperti pertemuan PKK Desa Padeg. Pemberian pengetahuan mengenai sampah dan pemilahan sangat bermanfaat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan Bank Sampah yang merupakan kolaborasi bersama antara perusahaan, pemerintah, dan 39 © Jahiroh, et al. masyarakat. Fasilitas pelatihan yang telah diberikan yaitu Pelatihan Pengolahan Sampah Anorganik dan Organik. Kegiatan utama diberikan kepada 20 kader Bank Sampah Pandean Pas. Gambar 5 SK Pengurus Bank Sampah Sumber: Dokumen Pemerintah Desa Padeg, 2022 Pelatihan dilakukan setiap tahun nya sesuai kebutuhan kader bank sampah. Pelatihan yang pernah dilakukan antara lain, Pelatihan pengolahan sampah organik melalui biopori; Pelatihan pengolahan sampah buah-buah an menjadi eco enzyme; dan Pelatihan pengolahan sampah organik menjadi kompos pada level rumah tangga. Pada pelatihan tersebut mendatang praktisi Bank Sampah di Kabupaten Gresik berdasarkan rekomendasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik maupun kunjungan ke lokasi bank sampah lain sehingga dapat meningkatkan pengetahuan kader bank sampah dan berdiskusi dengan praktisi bank sampah lain nya. Melalui kegiatan ini para kader bank sampah menjadi lebih paham mengenai pemilahan sampah anorganik dan organik serta pengolahannya. 40 © Jahiroh, et al. Gambar 6 Pelatihan Pengolahan Sampah Organik Sumber: Dokumen PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plant Gresik, 2025 Dalam usaha mencapai kebermanfaatan yang lebih besar, penyebarluasan pengetahuan kepada masyarakat di Desa Padeg dilakukan melalui kolaborasi bersama PKK Desa Padeg. Dalam hal ini Kader Bank Sampah mayoritas juga merupakan anggota PKK. Oleh karena itu penyebaran pengetahuan seringkali digabungkan dengan kegiatan PKK Desa dimana para kader tersebut menjadi pembicara untuk menyebarkan edukasi mengenai sampah pada anggota PKK lain pada tingkat desa. Kolaborasi dilakukan berdasarkan rekomendasi dari Pemerintah Desa Padeg yang turut mengawal setiap kegiatan bank sampah. Melalui kegiatan ini masyarakat menjadi lebih paham pentingnya pemilihan dan pengolahan sampah sehingga memunculkan minat nya untuk berpartisipasi pada kegiatan bank sampah. Kegiatan bank sampah pada perkembangannya dilakukan di setiap RW yang dikelola oleh kader bank sampah. Pada setiap RW terdapat 2 (dua) anggota kader bank sampah yang kegiatannya dibantu oleh istri ketua RW. Pengumpulan sampah setiap RW dilakukan 2 minggu hingga 1 bulan sekali, tergantung banyaknya sampah yang telah dipilah oleh warga. Rata-rata pada 7 RW di Desa Padeg dapat memilah sampah anorganik sebanyak 250 kg per bulan. Secara kumulatif dalam 1 bulan Bank Sampah Pandean Pas, dapat menghimpun sampah anorganik sebanyak 1750 kg. 41 © Jahiroh, et al. Gambar 7 kegiatan rutin bank sampah Sumber: Dokumen PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plant Gresik, 2024 Masyarakat setiap RW secara aktif melakukan pemilahan sampah dan menjualnya ke Bank Sampah Pandean Pas. Sampah tersebut selanjutnya dijual kepada pengepul di hari yang sama sampah dikumpulkan. Inisiatif ini dilakukan agar sampah tidak menumpuk dan menjadi permasalahan baru bagi lingkungan. Permasalahan sampah anorganik di Desa Padeg mayoritas telah teratasi dengan adanya bank sampah ini. Oleh karena itu sejak tahun 2024, intervensi pengolahan sampah organik terus digaungkan oleh perusahaan. Kegiatan pengolahan sampah organik dirancang bersama kader bank sampah dengan tujuan pengurangan frekuensi sampah yang dibuang ke TPS Desa Padeg. Pada tahun 2025 ini pengolahan sampah organik telah digencarkan dengan melakukan pengkomposan level rumah tangga. Pengkomposan dilakukan dengan media sederhana yang sangat memungkinkan dilakukan oleh masyarakat. Media yang digunakan menggunakan galon bekas serta kompos starter yang difasilitasi oleh perusahaan. Kondisi saat ini 20 kader bank sampah telah melakukan kegiatan mengompos dengan memanfaatkan sampah organik rumah tangga. Data dari hasil monitoring kepada masyarakat dikatakan bahwa, saat ini 90% sampah di rumah telah terolah. Alhasil hanya 10% sampah residu yang dibuang ke TPS Desa Padeg. Partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah, dan pengolahan sampah organik ini akibat dari manfaat yang dirasakan oleh masyarakat itu sendiri. Pengurangan 90% sampah di rumah membuat masyarakat merasa lebih berdaya dan berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Kebermanfaatan lai yaitu masyarakat kini mempunyai pupuk hasil dari pengolahan sampah organik yang bisa dimanfaatkan langsung untuk tanaman buah dan sayur di sekitar tempat tinggalnya. Proses Monitoring dan Evaluasi Perjalanan pengelolaan program mulai tahun 2022 hingga tahun 2025 ini tidak lepas dari monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh perusahaan, pemerintah, dan kelompok masyarakat itu sendiri. Monitoring penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana program dijalankan, apa saja permasalahan yang muncul dalam program, apa peluang baru yang bisa dikembangkan, hingga apa saja hasil yang telah dicapai oleh kelompok. Fokus utama yang dilakukan saat monitoring yaitu mengetahui kapan bank sampah dijalankan pada setiap RW nya, berapa volume sampah yang terkumpul dan atau terpilah, serta data nasabah bank sampah pada setiap RW. Monitoring program CSR bagi perusahaan merupakan sebuah kewajiban yang menjadi salah satu uraian pekerjaan utama bagi Community Development Officer 42 © Jahiroh, et al. di lingkungan kerja Pertamina Grup terutama. Dalam proses monitoring ini dilakukan dengan rutin mengunjungi kegiatan minimal sebulan sekali dan berkomunikasi aktif melalui whatsapp grup. Proses ini cukup banyak memberikan data mengenai perkembangan program dan menjadi bahan untuk melakukan inovasi program ke depannya. Dalam kegiatan bank sampah khususnya pengumpulan bank sampah anorganik telah mampu menghimpun 1750 kg di Desa Padeg. Angka tersebut merupakan kontribusi besar kepada lingkungan, yaitu pengurangan emisi sebesar 5,07 ton CO₂ apabila sampah tersebut dibakar atau tidak diolah. Kesimpulan Program CSR PT Pertamina Patra Niaga – Bitumen Plant Gresik melalui Bank Sampah Pandean Pas terbukti mampu menjawab permasalahan timbulan sampah di Desa Padeg sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat. Melalui pendekatan pemberdayaan, masyarakat tidak hanya dilibatkan dalam perencanaan hingga implementasi, tetapi juga mendapatkan pengetahuan, keterampilan, serta manfaat ekonomi dan lingkungan. Hasilnya, tingkat pengurangan sampah rumah tangga pada kelompok Bank Sampah Pandean Pas mencapai 90%, yang berimplikasi pada berkurangnya pencemaran dan kontribusi terhadap mitigasi krisis iklim. Kolaborasi perusahaan, pemerintah desa, kader bank sampah, dan warga menunjukkan bahwa program CSR berbasis pemberdayaan dapat menciptakan keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang efektif. Daftar Pustaka Change, N. I. P. O. C. (2023b). Climate Change 2021 – The Physical science basis. https://doi.org/10.1017/9781009157896 Climate change indicators reached record levels in 2023: WMO. (2024, March 18). World Meteorological Organization. https://wmo.int/news/media-centre/climatechange-indicators-reached-record-levels-2023-wmo Ife, J. (1995). Community development: Creating Community Alternatives: Vision, Analysis, and Practice. Muslihun, M., Anggoro, D. D., & Kismartini, K. (2020). Kajian Lingkungan dalam Kebijakan Kantong Plastik Berbayar di Kota Semarang. http://eprints.undip.ac.id/82313/ Natasha, D. (2022). Manifestasi Gerakan Sosial Baru dalam Krisis Iklim (Studi Kasus: Extinction Rebellion Indonesia). Jurnal PolGov, 4(1), 169–209. https://doi.org/10.22146/polgov.v4i1.3465 SIPSN - Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional. (n.d.). https://sipsn.menlhk.go.id/ Suparjan, & Suyatno, H. (2003). Pengembangan masyarakat: dari pembangunan sampai pemberdayaan. Twelvetrees, A. C. (1991). Community work. Palgrave. 43