Jurnal AUDHI Vol. No. Juli 2023. Pages 21-36 p-ISSN: 2662-2469. e-ISSN: 2774-8243 https://jurnal. id/index. php/AUDHI UPAYA GURU DALAM MENGOPTIMALKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA 5-6 TAHUN DI RA AL-IZZAH KOTA SERANG Desy Nurfitriani1. Kristiana Maryani2. Cucu Atikah3 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Jl. Ciwaru Raya. Cipare. Kec. Serang. Kota Serang. Banten. Email: 2228190001@untirta. Abstrak - Kemandirian adalah suatu sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung dengan orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Kemandirian juga merupakan sikap yang harus dibentuk oleh guru dan orang tua untuk membangun kepribadian anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kemandirian anak usia 5-6 tahun, upaya guru dalam mengoptimalkan kemandirian anak usia 5-6 tahun, bentuk kerjasama guru dan orangtua dalam mengoptimalkan kemandirian anak, dan upaya guru dalam mengevaluasi kemandirian anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan menggunakan metode observasi, wawancara dan Peneliti menggunakan instumen pendukung berupa pedoman observasi dan pedoman Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan menggunakan field Hasil dari penelitian ini adalah kemandirian anak sudah berkembang sesuai harapan terlihat ketika anak mampu berinisiatif, anak memiliki rasa percaya diri, anak tidak bergantung pada orang lain, dan anak mampu menyelesaikan masalah. Upaya guru dalam mengoptimalkan kemandirian anak dilakukan melalui pembiasaan terkait dengan kegiatan anak dalam kesehariannya. Kerjasama antara guru dan orangtua dilakukan dengan menjalin komunikasi secara berkesinambungan baik itu secara langsung maupun melalui WA Grup serta pertemuan rutin komite Dan evaluasi guru terhadap kemandirian anak dilaksanakan dengan cara pengumpulan dan pengolahan informasi yang diantaranya dengan menggunakan catatan anekdot. Kata kunci Ae Anak usia 5-6 tahun, kemandirian. upaya guru Abstract - Independence is an attitude and behavior that is not easily dependent on other people in completing their tasks. Independence is also an attitude that must be formed by teachers and parents to build a child's personality. The purpose of this study was to analyze the independence of children aged 5-6 years, the efforts of teachers in optimizing the independence of children aged 5-6 years, the forms of cooperation between teachers and parents in optimizing children's independence and teacher's efforts in evaluating children's independence. This research uses a qualitative approach with the type of research that is descriptive qualitative research. Data collection techniques were carried out using observation, interview and documentation methods. Researchers used supporting instruments in the form of observation guidelines and interview guidelines. The analysis technique used is descriptive analysis using field research. The results of this study are that children's independence has developed according to expectations seen when children are able to take initiative, children have self-confidence, children do not depend on other people, and children are able to solve problems. children in their daily life without depending on others. The form of cooperation between teachers shows that it has been implemented well, this is done by means of the teacher establishing continuous communication with parents, both directly and through the WA Group and regular school committee meetings. And the teacher's evaluation of children's independence that has been carried out well by the way the teacher carries out the process of collecting and processing information to determine the level of achievement of child development, one of which is done by using anecdotal notes. Keywords - children aged 5-6 year. teacher efforts. Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. PENDAHULUAN ational Association for the Education Young Children . alam Susanto, 2. menyatakan bahwa anak usia dini atau "early childhood" merupakan anak yang berada pada rentang usia nol sampai dengan delapan Pada masa tersebut terjadi proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Proses pembelajaran terhadap anak harus memperhatikan segala karakteristik yang dimiliki dalam tahapan perkembangan anak (Susanto, 2. Anak memiliki karakteristik tertentu yang tidak sama dengan orang dewasa, rasa ingin tahu, antusias, dinamis dan selalu aktif terhadap apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dimana mereka selalu bereksplorasi dan belajar dalam kesehariannya (Chairilsyah, 2. Masa usia dini merupakan masa yang tepat untuk memberikan pendidikan, karena pada masa ini anak sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Anak belum mendapat banyak pengaruh negatif dari luar atau lingkungannya sehingga baik orangtua maupun guru akan lebih mudah dalam mengarahkan dan membimbing anak-anaknya, terutama dalam hal penanaman karakter mandiri (Fadlilah. Khoirida, 2. Kemandirian anak pada usia 56 tahun diartikan sebagai kemampuan anak dalam menguasai diri sendiri untuk dapat melakukan berbagai aktivitas sehari-hari dengan sedikit atau tanpa bimbingan dari orang lain khususnya orangtua, yang tetap disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kemampuan anak itu sendiri (Kusuma, 2. Kemandirian merupakan salah satu aspek yang harus dimiliki oleh setiap anak, hal tersebut berguna untuk membantu anak mencapai tujuan hidupnya sebagai bentuk kesiapan diri untuk menjalani kehidupan di masa mendatang (Abidah, 2. Selain itu, kemandirian mempunyai fungsi yang sangat penting bagi setiap individu dalam mempersiapkan diri untuk menjalani masa depan dengan baik dimulai dari mengenal diri sendiri (Wiyani. Kemandirian memusat pada kemampuan anak untuk melayani dirinya sendiri. Kemandirian anak juga ditunjukkan dengan adanya kemampuan dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah. Covey . alam SaAodiyah, 2. , menegaskan bahwa kemandirian memiliki ciri-ciri, yang diantaranya: . Secara fisik mampu bekerja sendiri, . Secara mental dapat berpikir sendiri, . Secara kreatif mampu mengekspresikan gagasannya dengan cara yang mudah dipahami, dan . Secara emosional kegiatan yang dilakukannya dipertanggung- jawabkan sendiri. Sementara itu, menurut Barnadib dalam Mulyaningtyas dan Hadiyanto . alam Asmanita, 2. , kemandirian adalah perilaku hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri, dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Kemandirian merupakan hal atau keadaan yang dapat berdiri sendiri dan merupakan karakter yang memungkinkan anak untuk tidak bergantung pada orang lain. Melalui penanaman kemandirian, anak bisa menjalani kehidupan tanpa bergantung kepada orang lain. Tabel 1. Indikator dan sub indikator kemandirian anak (Barnadib dalam Asmanita, 2. Indikator Kemampuan Berinisiatif Percaya Diri Tidak Bergantung pada Orang Sub-Indikator Anak melakukan hal-hal yang baru Anak mampu melakukan sesuatu atas dasar kemauannya sendiri Anak saling berbagi Anak mampu menghasilkan suatu karya Anak berani tampil didepan kelas Anak berani mengungkapkan pendapat Anak mampu mengerjakan tugasnya sendiri Anak mampu melepas dan memasang sepatu sendiri Anak mampu cuci tangan sendiri Anak mampu makan dan minum sendiri Anak mampu membuka makanannya sendiri Anak mampu merapihkan mainannya sendiri Anak mampu mengambil wudhu sendiri Anak mampu praktek shalat sendiri Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. Kemampuan Mengatasi Masalah Anak mampu melakukan aktivitas ke toilet sendiri Anak mampu membuang sampah pada tempatnya Anak mampu mengisi ulang air minumnya Anak mampu bermain lego dan balok Anak mampu mengatasi masalah yang secara tidak sengaja dilakukan Guru selaku tokoh utama dalam penerapan program pendidikan anak di sekolah memiliki peranan yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Guru membiasakan anak untuk berperilaku mandiri dalam setiap aktivitasnya (Arsyiah, 2. Seorang guru harus mampu dan terampil dalam menyusun berbagai strategi pembelajaran untuk anak, menciptakan suasana belajar yang menarik kemandirian dengan aktivitas belajar yang dilakukan di dalam maupun di luar kelas (Thamrin, 2. Menurut Zahra Idris dan Lisma Jamal . alam Shabir, 2. , guru merupakan seseorang yang bimbingan kepada anak didiknya dalam lingkup perkembangan jasmani dan rohani untuk mencapai tingkat kedewasaan, memenuhi tugasnya sebagai ciptaan Tuhan, menjadi individu yang mandiri, dan individu yang berjiwa sosial. Kemudian. Minarti . mengutip pendapat dari ahli bahasa Belanda, yaitu J. Gericke dan T. Roorda, memberikan pengertian bahwa guru berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya berat, besar, penting, baik sekali, terhormat, dan pengajar. Guru merupakan unsur penting dalam kegiatan Menurut Djamarah . alam Lase, 2. , guru adalah seseorang yang memiliki kewajiban untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya. Selain daripada orangtua ataupun keluarga, guru juga merupakan komponen penting dalam dunia pendidikan seorang anak. Sehingga dengan memberikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, guru turut terlibat dalam mencerdaskan anak. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap 10 anak di RA Al-Izzah Kota Serang memperlihatkan masih terdapat anak usia dini yang memiliki tingkat kemandirian yang rendah pada saat anak berada di sekolah. Hal tersebut dapat dilihat dari interaksi anak dengan orang lain seperti belum berani menyapa orang yang baru dikenalnya, belum bisa melakukan aktivitas ke toilet sendiri, tidak ingin berbagi mainan dengan temannya, tidak merapikan mainannya kembali, membuang sampah tidak pada tempatnya, selalu meminta bantuan dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, dan belum berani untuk maju ke depan kelas. Sedangkan dari hasil observasi tersebut pula guru di RA Al-Izzah memperlihatkan bahwa guru tidak hanya sekedar menyampaikan materi. Guru menyusun dan menyiapkan proses kegiatan Dalam mengoptimalkan kemandirian anak, guru membiasakan anak seperti memakai dan melepas sepatu sendiri, mengumpulkan tugas rumah tanpa arahan, meletakkan tas pada tempatnya, merapihkan alat tulis sesudah digunakan, merapihkan kembali alat main kedalam box, makan dan minum sendiri, praktek berwudhu dan sholat, serta anak diajarkan untuk tidak bergantung kepada orang lain. Terdapat beberapa penelitian serupa tentang upaya guru dalam mengoptimalkan kemandirian anak yang menunjukkan hasil sesuai dengan Penelitian yang telah dilakukan Pertama, hasil penelitian Amanda . yang menunjukkan bahwa anak-anak sudah dapat melakukan aktivitas secara mandiri tanpa bantuan orang dewasa. Begitupun untuk peran guru dalam mengoptimalkan kemandirian Guru memiliki peran sebagai motivator, pembimbing, dan inspirator dimana peran guru tersebut sangat membantu anak untuk menerapkan kemandirian dalam kehidupannya sehari-hari. Kedua, hasil penelitian Ilvina . , yang menunjukkan bahwa upaya guru mengembangkan kemandirian anak usia dini sudah dilaksanakan dengan optimal, yaitu melalui metode pembiasaan, metode bermain peran dan metode pemberian tugas. Ketiga, penelitian Anggraeni . , yang menunjukan upaya guru menggunakan strategi Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. yaitu dengan mempersiapkan RPPH dan media yang menarik. Guru selalu mengintegrasikan kemandirian, dan menciptakan suasana belajar yang menarik. Serta, faktor pendukung melatih kemandirian anak adalah kurikulum TK, semangat dan kesadaran guru sangat tinggi, dan sarana prasarana yang sudah memadai untuk melatih kemandiran. Berdasarkan kajian dari ketiga hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa perlu adanya perhatian khusus terhadap aspek kemandirian karena kemandirian tidak terjadi begitu saja melainkan harus adaupaya yang dilakukan. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik dan pembimbing anak di sekolah memiliki peran yang sangat strategis dalam mengembangkan kemandirian anak. Rendahnya disebabkan oleh pola asuh orang tua, anak yang terlalu dimanjakan, orang tua sering melarang anak, kurangnya pembiasaan saat di rumah, dan anak yang merasa minder dengan teman sebayanya (Abidah, 2. Selain itu dalam lingkup pendidikan upaya yang dapat dilakukan guru pembimbing dalam mengoptimalkan kemandirian anak dengan memberikan contoh secara konsisten kepada anak dan memberikan pembiasaan dan pengulangan. Mulyasa . alam Iswantiningtyas, 2. menyatakan bahwa dalam menanamkan kemandirian pada anak, guru dapat melakukannya dengan pembiasaan. Pembiasaan merupakan suatu yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang agar pembiasaan tersebut dapat menjadi kebiasaan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Bogdan Taylor . alam Moleong, mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau kalimat tertulis maupun lisan dari orangorang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan . ield researc. yang digunakan dalam mengumpulkan data. Penelitian kualitatif deskriptif dilakukan untuk membuat deskripsi, gambaran secara sistematis, faktual dan akurat yang berdasarkan fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diamati yaitu mengenai upaya guru dalam mengoptimalkan kemandirian anak usia 5-6 tahun di RA Al-Izzah Kota Serang. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri. Adapun subjek yang terlibat dalam penelitian ini yaitu 1 guru kelas B8, 10 orangtua dan 10 anak kelas B8 di RA Al-Izzah Kota Serang. Pengumpulan data diperoleh berdasarkan hasil dari observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis data Miles dan Huberman yang dilakukan dengan cara interaktif dan berjalan secara terus menerus sampai tuntas sehingga pemerolehan datanya sudah jenuh (Sugiyono, 2. Kegiatan dalam analisis data di antaranya: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis upaya guru dalam mengoptimalkan kemandirian anak usia 5-6 tahun, serta untuk mengetahui bentuk kerjasama antara guru dan orangtua dalam mengoptimalkan kemandirian anak dan juga untuk mengetahui evaluasi guru terhadap anak dalam mengoptimalkan kemandirian anak di sekolah. Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. Tabel 2. Kisi-Kisi Instrumen Upaya Guru Dalam Mengoptimalkan Kemandirian Anak Usia 5-6 Tahun Di RA AlIzzah Kota Serang No. Pertanyaan Bagaimana kondisi awal kemandirian anak usia 5-6 tahun di RA Al-Izzah? Seberapa pentingnya kemampuan kemandirian pada anak? Upaya apa saja yang digunakan dalam mengoptimalkan kemandirian anak usia 5-6 Apakah guru membuat rencana pembelajaran sebelum melaksanakan kegiatan? Bagaimana cara guru dalam menyiapkan rencana pembelajaran? Bagaimana cara guru mensetting kelas dalam pembelajaran anak usia 5-6 tahun? Faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat dalam mengoptimalkan kemandirian pada anak usia 5-6 tahun? Bagaimana cara guru menghadapi hambatan yang dialami dalam mengoptimalkan kemandirian anak usia 5-6 tahun? Bagaimana cara guru menjalin kerjasama dengan orang tua dalam upaya mengoptimalkan kemandirian anak? Sejauh ini kemandirian apa saja yang sudah dimiliki anak dikelas B8? (Sumber: Arsyiah, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan dalam penelitian ini dijabarkan berdasarkan pengolahan data yang telah diperoleh selama peneliti melaksanakan penelitian di RA Al-Izzah Kota Serang. Hasil penelitian ini akan fokus pada pembahasan mengenai kemandirian anak, upaya guru dalam mengoptimalkan kemandirian anak, bentuk kerjasama antara guru dan orangtua dalam mengoptimalkan kemandirian anak, serta upaya guru dalam mengevaluasi kemandirian anak usia 5-6 tahun kelompok B8 di RA AlIzzah Kota Serang. Pertanyaan Bagaimana cara guru mengevaluasi kemandirian pada anak? Bagaimana cara guru memahami karakter setiap anak? Sejak kapan guru menerapkan kegiatankegiatan yang menjadi pembiasaan anak setiap hari? Bagaimana cara guru menyusun strategi dalam pembelajaran? Bagaimana guru menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan saat didalam Bagaimana cara guru memadukan pembelajaran kemandirian anak dengan aktivitas anak baik saat dikelas maupun diluar kelas? Bagaimana cara guru memanfaatkan sarana prasarana yang ada disekolah? Bagaimana cara guru memberikan contoh yang konkrit dalam segala hal yang Apakah guru membuat media/alat untuk pembelajaran anak? Bagaimana cara guru memotivasi anak? Data mengenai kemandirian anak usia 5-6 tahun Kemandirian anak di kelas B8 RA Al-Izzah Kota Serang sudah dikatakan berkembang sesuai harapan. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan anak dalam melakukan berbagai kegiatan secara mandiri. Anak mampu berinisiatif Kemampuan anak melakukan hal-hal yang baru dapat dilihat dari catatan dokumentasi serta catatan wawancara guru sebagai berikut. AuDengan mengenalkan beberapa kegiatan yang menyenangkan seperti kegiatan dalam sentra dan anak akan terus menerus mampu melakukan hal baru tersebut. Ay (CWG. Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. jurnal di pagi hari. Anak membuat berbagai macam gambar ataupun tulisan serta anak bebas memberikan warna apa saja pada jurnal Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. Gambar 1. Anak melakukan hal-hal baru Anak mampu melakukan sesuatu atas dasar kemauannya sendiri, terlihat pada saat membersihkan bekas makanannya dan juga saat anak menutup pintu kelas. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. AuDengan adanya suatu kegiatan, anak dapat menghasilkan suatu karya. Seperti saat anak mengerjakan jurnal dan saat pembelajaran di Ay (CWG. AuDengan menawarkan berbagai jenis kegiatan, nah kegiatan mana dulu yang anak Ay (CWG . Gambar 4. Anak menghasilkan suatu karya Anak memiliki rasa percaya diri Gambar 2. Anak melakukan sesuatu atas dasar kemauannya sendiri Anak saling berbagi, ketika makan bersama anak-anak saling berbagi makanan dengan teman dan guru. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. AuDengan kita sering memberikan contoh untuk berbagi makanan atau dengan bercerita kalau berbagi makanan nanti kita akan dibalas Allah karena sudah mau berbagi makanan. Ay Anak berani tampil di depan kelas, saat anakanak melakukan kegiatan shalat dhuha berjamaah bersama seluruh kelompok A dan B, melakukan kegiatan peragaan busana saat acara parade astronot, dan tampil sebagai tim marching band RA Al-Izzah di Alun-alun Kota Serang. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. AuMemotivasi anak, membacakan buku pilar karakter mandiri, dan memberikan tepuk tangan karena sudah berani maju di depan Ay (CWG. (CWG. Gambar 5. Anak berani tampil di depan kelas Gambar 3. Anak saling berbagi Anak mampu menghasilkan suatu karya, terlihat pada saat anak-anak mengerjakan Anak berani mengungkapkan pendapat, terlihat pada saat anak melakukan kegiatan refleksi diakhir pembelajaran, dimana guru menanyakan tentang bagaimana kegiatan belajar hari ini. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. AuDengan sering diajak komunikasi dan distimulus untuk dapat mengungkapkan pendapat saat bercerita kembali serta diberikan tepuk tangan kepada anak yang sudah berani mengungkapkan pendapatnya. (CWG. Gambar 8. Anak melepas dan memasang sepatu Gambar 6. Anak berani mengungkapkan pendapat Anak mampu mengerjakan tugasnya sendiri. Pada saat anak melakukan kegiatan klasikal, guru memberikan anak tugas di buku masingmasing. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. Anak mampu mencuci tangan sendiri. Ketika jam makan Bersama, anak-anak mencuci tangannya sendiri secara bergantian dengan teman-temannya. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. AuDengan mempraktekkan cara mencuci tangan dengan bersih dan melakukannya setiap saat sebelum dan sesudah makan dengan mengantri mencuci tangan. Ay (CWG. AuDengan dimotivasi dan diberikan arahan untuk menyelesaikan tugas hingga tuntas. (CWG. Gambar 9. Anak cuci tangan sendiri Gambar 7. Anak menyelesaikan tugasnya sendiri Anak tidak bergantung pada orang lain Anak mampu melepas dan memasang sepatu sendiri, pembiasaan tersebut dilakukan anak saat hendak masuk dan keluar kelas. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara sebagai berikut. Anak mampu makan dan minum sendiri. Ketika makan anak-anak terlihat sudah mampu melakukannya sendiri tanpa ada bantuan dari Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. AuDengan mencontohkan dan mempraktekkan makan bersama menggunakan tangan kanan dan duduk di kursi di saat makan dan minum. (CWG. AuDengan dipraktekkan langsung terus menerus oleh anak, nanti akan bisa memakai sepatunya Ay (CWG. Gambar 10. Anak makan dan minum sendiri Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. Anak mampu membuka makanannya sendiri. Pada saat makan bersama, anak akan membuka makanannya tanpa dibantu oleh guru. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan lapangan catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. AuDengan memberikan contoh dan anak makanannya sendiri. Ay (CWG. Gambar 13. Anak mengambil wudhu sendiri Anak mampu praktek shalat sendiri, terlihat guru yang sedang mengawasi anak ketika shalat dengan sesekali memperbaiki gerakan shalat dan bacaan shalat anak yang masih kurang tepat. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut: Gambar 11. Anak makan dan minum sendiri AuDengan terbiasa sholat berjamaah anak anak mampu praktek shalat sendiri. Ay (CWG. Anak mampu merapihkan mainannya sendiri. Pada saat anak bermain di dalam kelas dan menggunakan, baik itu menggunakan alat main seperti leggo, masak-masakan, kursi dan meja mereka, telah diajarkan untuk merapihkannya Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. AuDengan membacakan pilar karakter untuk bertanggung jawab dan memberikan tugas kepada anak untuk merapihkan mainannya dulu sebelum bermainAy (CWG. Gambar 14. Anak mampu praktek shalat sendiri Anak mampu melakukan aktivitas ke toilet Saat anak ingin ke toilet, terlebih dahulu anak meminta izin pada guru lalu kemudian guru akan mempersilahkan anak tersebut untuk melakukannya sendiri. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. AuDengan mengajarkan kepada anak jika ingin bab atau bak langsung ke kamar mandi, jika tidak bisa untuk membersihkannya sendiri nanti di ajarkan dulu dan dipraktekkan kepada Ay (CWG. Gambar 12. Anak merapihkan mainannya sendiri Anak mampu mengambil wudhu sendiri. Ketika waktu jam shalat guru akan meminta anak untuk bergantian mengambil wudhu. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. AuDengan mempraktekkan wudhu dan menempelkan poster tata cara wudhu di atas keran air wudhu. Ay (CWG. Gambar 15. Anak melakukan aktivitas ke toilet Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. Anak mampu membuang sampah pada tempatnya, terlihat saat anak selesai makan, anak membuang sampah bekas makanannya ke tempat sampah. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. AuDengan bermain bersama dan membacakan aturan untuk bermain, anak dapat bermain leggo dan balok dengan aman. Ay (CWG. AuDengan mempraktekkan membuang sampah pada tempatnya dan sering membacakan hadist tentang kebersihan. Ay (CWG. ) Gambar 18. Anak bermain leggo dan balok Gambar 16. Anak membuang sampah pada Anak mampu mengisi ulang air minumnya, terlihat saat anak yang hendak minum tetapi air minumnya habis, anak tersebut langsung meminta izin dengan guru untuk mengisi air lalu kemudian gurupun mempersilahkan anak Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut: Anak mampu mengatasi masalah yang secara tidak sengaja dilakukan, terlihat saat anak tidak sengaja menumpahkan air ke lantai lalu kemudian guru meminta anak untuk bertanggung jawab membersihkan air tersebut dengan kain pel. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut: AuDengan menyampaikan kepada anak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan di berikan solusi agar tidak mengulangnya kembaliAy (CWG. AuDengan mempraktekkan cara mengisi ulang botol kepada anak dan anak jangan ragu untuk anak mempraktekkan sendiri mengisi ulang botol minumnya. Ay (CWG. Gambar 19. Anak mengatasi masalah yang secara tidak sengaja dilakukan Gambar 17. Anak mengisi ulang air minumnya Anak mampu mengatasi masalah Anak mampu bermain lego dan balok. Pada saat jam istirahat terlihat anak sedang menyusun bangunan dari balok dengan rapi dan teliti hingga terbentuknya sebuah bangunan berdasarkan imajinasi anak. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan catatan wawancara guru sebagai berikut. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secara konsisten melalui pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan guru. Berbagai macam aktivitas kemandirian anak tentu tidak terjadi begitu saja, tetapi pihak sekolah memberikan pendekatan pada anak saat baru pertama masuk sekolah yang disebut dengan masa taAoaruf. Masa taAoaruf dilakukan selama 3 minggu. Anak-anak melakukan aktivitas dengan bimbingan guru, dilakukan terus menerus dan selanjutnya menjadi pembiasaan. Hal ini juga diperkuat oleh catatan wawancara guru sebagai AuDi sini kita ada yang namanya masa taAoaruf ya atau perkenalan yang paling itukan 3 minggu pertama ya. 3 minggu pertama itu Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. betul-betul membangun bonding dengan iya mempelajari karakter anak iya gitu. Dan biasanya dimasa taAoaruf ada kegiatan dimana anak-anak diajarkan untuk melakukan aktivitas mandiri. Ay (CWG. Hal ini sesuai dengan pendapat Sukiman . yang menyebutkan bahwa hal-hal yang dapat mempengaruhi kemandirian anak seperti perilaku sehari-hari orang tua, guru, lingkungan, pembiasaan yang dilakukan di keluarga, sekolah, dan masyarakat, serta pengalaman anak dalam menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Kemandirian yang merupakan kemampuan atau keterampilan yang dimiliki anak untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, baik yang terkait dengan aktivitas bantu diri maupun aktivitas dalam kesehariannya tanpa tergantung pada orang lain (Astuti dalam Wiyani, 2. Menurut Martinis & Jamilah . , pemberian kebiasaan yang baik harus diberikan kepada anak sesuai dengan usia dan Selanjutnya kemandirian akan muncul dengan sendirinya melalui pembiasaan yang dilakukan oleh guru. Dari pembiasaan yang dilakukan, maka anak akan berfikir secara kreatif untuk melakukan hal yang positif (Melinda & Suwardi, 2. Upaya guru dalam mengoptimalkan kemandirian anak usia 5-6 tahun Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi pada saat penelitian diketahui bahwa upaya guru dalam mengoptimalkan kemandirian anak usia 5-6 tahun sudah terlaksana dengan baik. Terbentuknya kemandirian anak di sekolah diawali dengan pendampingan yang dilakukan guru seperti mengajarkan anak untuk memiliki sikap inisiatif, percaya diri, tidak bergantung pada orang lain dan mengatasi masalahnya sendiri. Upaya mengoptimalkan kemandirian anak dengan cara memahami karakter setiap anak terlebih Hal tersebut dilakukan dengan mengamati anak dalam melakukan berbagai kegiatan, misalnya pada saat guru melakukan kegiatan refleksi selesai belajar, guru mengajak anak berkomunikasi seperti menceritakan kembali tentang kegiatan yang telah dilakukan hari ini dan menanyakan bagaimana pendapat anak mengenai kegiatan Dengan begitu, guru akan mengetahui sifat dan gaya belajar anak melaui aktivitas yang disukai saat belajar. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan lapangan, catatan dokumentasi, dan hasil wawancara dengan guru kelas sebagai berikut: AuYa karna kita ketemu anak tiap hari, jadi kita guru-guru juga memahami dan mempelajari karakter anak setiap hari. Disini kita ada yang namanya masa taAoaruf ya atau perkenalan yang paling itukan 3 minggu pertama ya, 3 minggu pertama itu betul-betul membangun bonding dengan anak iya mempelajari karakter anak iya gitu. Dan biasanya dimasa taAoaruf ada kegiatan dimana anak-anak diajarkan untuk melakukan aktivitas mandiri. (CWG. Gambar 20. Guru memahami karakter setiap anak Selain memahami karakter anak, guru memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengoptimalkan kemandirian anak. Guru menggunakan buku panduan IHF dengan menerapkan 9 pilar salah satunya menanamkan karakter mandiri. Selain itu guru memberikan pembiasaan pada anak untuk melakukan berbagai kegiatan secara mandiri baik dalam pembelajaran misalnya pembiasaan yang dilakukan anak dengan menyimpan sepatu di rak sepatu yang berada di depan kelas. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi kemudian didukung oleh hasil wawancara dengan guru kelas sebagai berikut: AuPembiasaan itu kita lakuin pas taAoaruf juga ya di 3 minggu pertama. Kayak nyimpen tas digantungan sesuai nama-nama mereka, nyimpen sepatu di rak sepatu kayak gitu-gitu itu dimasa taAoaruf. Ay (CWG. Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. Gambar 21. Guru mampu dan keterampilan dalam mengoptimalkan kemandirian anak Seorang guru harus mampu dan terampil dalam pembelajaran, dengan begitu guru dapat menciptakan pembelajaran yang lebih efektif agar anak tertarik untuk mengikuti kegiatan Strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru kelas B8 RA Al-Izzah yaitu pijakan pada model pembelajaran sentra. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi kemudian didukung oleh hasil wawancara dengan guru kelas sebagai berikut: AuKalo strategi lebih ke metodenya. Kalo model sentra, salah satu strateginya adalah pijakan. Kayak pijakan lingkungan main, pijakan sebelum main, pijakan saat main, dan pijakan setelah main. Misalnya untuk pijakan lingkungan main, guru harus pandai-pandai menata alat main dan menyesuaikan dengan ruangan yang adaAy (CWG. Gambar 22. Guru menyusun berbagai strategi dalam pembelajaran Guru mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan. Terlihat pada saat pembelajaran, guru melakukan transisi antara rumah dan sekolah. Transisi ini digunakan guru agar anak memiliki kesiapan untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu guru juga menyediakan ragam pembelajaran yang mendukung anak terus aktif dalam mengikuti Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi kemudian didukung oleh hasil wawancara dengan guru kelas sebagai AuSebelum anak-anak memerlukan transisi antara rumah dan sekolah, yaitu jurnal. Transisi ini penting agar anak siap untuk mengikuti pembelajaran di Selain itu guru harus menyediakan ragam main yang dapat memenuhi intensitas dan densitas bermain anak kayak misalnya pas KBM kita pakai sentra jadi anak bisa lebih aktif saat belajar. Bisa juga ngajak anak bercakap-cakap, seperti ituAy (CWG. Gambar 23. Guru menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan Guru mampu memadukan pembelajaran kemandirian dengan aktivitas belajar baik saat dalam di dalam kelas maupun di luar kelas. Terlihat pada saat pembelajaran guru memberikan anak kebebasan untuk melakukan berbagai aktivitas tetapi guru tetap mengawasi Lalu untuk kegiatan saat KBM guru melakukan motorik yang bisa dilakukan dikelas maupun diluar kelas. Pada kegiatan motorik hal tersebut tidak terdapat di dalam catatan lapangan karena kegiatan sudah selesai dilakukan sebelum peneliti melakukan observasi namun untuk kegiatan bermain dapat dilihat dari hasil serta catatan dokumentasi yang didukung oleh hasil wawancara dengan guru kelas sebagai berikut: AuGini, kita sama anak-anak itu kayak perjanjian kalau sedang belajar fokus, kalau kalian lagi main silahkan. Dan kalau mau main kita kasih kebebasan aja ke anak, dia mau ngelakuin apa tapi tetap diawasin jangan sampai terjadi sesuatu hal-hal yang berbahaya baik itu membahayakan dirinya ataupun Jadi anak dibiarin bermain bebas. Untuk yang KBM, itu ada motorik jadi anak dikasih kegiatan yang sudah ada jadwalnya misal hari ini kegiatan motoriknya mengumpulkan balok sambil melompati pot bunga itu kita lakuin di luar kelas. Ay (Ibu Ratu. Guru kelas B. Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. Gambar 24. Guru memadukan pembelajaran kemandirian dengan aktivitas belajar anak baik saat dalam di dalam kelas maupun di luar kelas Guru mampu memberikan contoh yang konkrit dalam segala hal yang diajarkan. Guru mengajarkan anak satu hal yang lebih real dalam kehidupan sehari-hari seperti saat anakanak makan. Anak-anak diajarkan untuk Guru menyiapkan gunting di setiap meja yang sebelumnya guru menjelaskan bahwa itu adalah benda tajam dan memakainya harus hati-hati. Guru memberi penjelasan kepada anak bagaimana cara menggunakan dan cara memberikan benda tersebut pada temannya agar mereka tidak terluka. Setelah guru mengenalkan benda tersebut, keesokan harinya guru menempatkan gunting di tempat yang seharusnya dimana anak mengambil sendiri tanpa disiapkan oleh guru. Guru menanamkan pada anak bahwasanya kita bukan hanya harus menjaga keselamatan diri sendiri tetapi keselamatan teman juga serta ada sopan santun jika ingin memberi sesuatu. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi yang didukung oleh hasil wawancara dengan guru kelas sebagai berikut: AuKalau saya sih ya ngajarin hal konkrit ke ke arah yang lebih real dalam kehidupan sehari-hari seperti saat anak-anak lagi makan. Pas mereka mau buka makanannya pake guntingkan itu juga benda yang nyata jadi pertama saya ajarkan mereka cara memegang dan mengasih benda tersebut ke orang seperti apa agar tidak melukai orang Ay (CWG. Guru mampu membuat media/alat untuk pembelajaran anak, terlihat guru membuat APE untuk sentra persiapan membuat pakaian astronot untuk sub-tema BBM, dari kardus atau bahan bekas. Selain itu guru juga memanfaatkan laptop ataupun handphone yang bisa menampilkan gambar dan video untuk menunjang proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi kemudian didukung oleh hasil wawancara dengan guru kelas sebagai berikut: AuIya pasti, guru-guru disini buat media/APE nya sentra masing-masing dan sekolah juga kasih kebebasan untuk berkreasi mau pakai bahan apa yang akan digunakan itu terserah Malah kadang ada yang udah dari jauh-jauh hari mau beli apa kayak gitu gitu nyiapin bahan-bahan yang mau dipakai. (CWG. Gambar 26. Guru membuat media/alat untuk pembelajaran anak Guru mampu memanfaatkan sarana prasarana di sekolah. Dalam pembelajaran, guru dapat memanfaatkan sarana prasarana apa saja yang Seperti menggunakan pot bunga pada kegiatan Hal ini didukung oleh hasil wawancara serta dokumentasi sebagai berikut: AuYa bisa bisa menggunakan alat atau media atau sumber apa saja sesuai kebutuhan. Jadi tidak ada urutan baku. yang penting sesuai Contohnya, ya kayak pas anakanak belajar motorik kan saya pakai pot bunga, terus kadang juga pakai alat bermain kayak jaring laba-laba, ban mobil, gitu aja. (CWG. Gambar 25. Guru memberikan contoh yang konkrit dalam segala hal yang diajarkan Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. AuCuman tiap anak kan namanya dapet berbeda-beda, menanganinya pun berbeda. Kayak disini misalnya dari 10 anak ada 4 perempuan dan ada 6 laki-laki, cara menghadapinya berbeda. Jadi triknya itu tergantung kasusnya, tergantung kejadiannyaAy. (CWG. Gambar 27. Guru memanfaatkan sarana prasarana di sekolah Guru mampu memotivasi anak. Dalam hal ini guru memberikan pujian kecil . ontoh: hebat, goo. dan guru memberikan semangat pada anak untuk menyelesaikan tugasnya dengan Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi dan terdapat dimana guru memberikan reward berupa barang pada anak sebagai bentuk apresiasi telah mengikuti pembelajaran di semester 2, kemudian didukung oleh hasil wawancara dengan guru kelas sebagai berikut: AuKayak biasanya saya kasih contoh temannya yang sudah mandiri lalu ngajak yang lain untuk melakukan hal yang sama . ontoh: ayo kamu juga bisa, coba dulu yu. Dan kalo saya yang paling penting itu kasih pujiannya tepat sama satu lagu tidak berlebihan. Jadi jangan sampe anak ngelakuin sesuatu karna ingin Tadi pun saya kasih mereka kotak pensil untuk baru sekali itu loh sebelumnya saya ga pernah kasih karna ini juga sudah diakhir pembelajaran semester jadi ya gapapa lah sesekali saya kasih mereka. Ay (CWG. Gambar 28. Guru memotivasi anak Guru mampu memecahkan masalah serta mencari solusi seputar pembelajaran, terlihat ketika anak kesulitan membaca huruf hijaiyah sambung dan guru mengajarkan anak satu persatu sambil membantu anak menyebutkan huruf hijaiyah. Hal ini dapat dilihat dari hasil catatan dokumentasi kemudian didukung oleh hasil wawancara dengan guru kelas sebagai Gambar 29. Guru memecahkan masalah serta mencari solusi seputar pembelajaran Guru berperan penting dalam mengoptimalkan kemandirian anak, sebagaimana yang dijelaskan oleh Shertzer dan Stone . alam Susanto, 2. mengenai bentuk bimbingan mengoptimalkan kemandirian anak salah Pembiasaan adalah salah satu faktor yang paling penting dalam membentuk sikap kemandirian anak. Karena munculnya sikap kemandirian anak tentu tidak langsung ada dengan sendirinya dalam diri anak akan tetapi perlu ada bimbingan dari orangtua di rumah maupun guru di sekolah dengan cara Selain pembiasaan dalam mengoptimalkan kemandirian anak, guru sebagai penanggung jawab kegiatan di sekolah harus mampu kemandirian pada anak didiknya seperti yang dikemukakan oleh Yamin dan Sanan . alam Thamrin, 2. dimana guru diharapkan dapat melatih dan membiasakan anak berperilaku mandiri dalam setiap aktivitasnya. Seorang guru harus mampu dan terampil dalam menyusun berbagai strategi pembelajaran, menciptakan suasana belajar, dan mampu mengintegrasikan pembelajaran kemandirian dengan aktivitas belajar di dalam kelas maupun di luar kelas. Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. Bentuk kerjasama antara guru dan kemandirian anak Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi bahwa salah satu bentuk kerjasama antara guru dan orangtua adalah dengan cara berkesinambungan baik itu secara langsung maupun melalui WA Group yang dibuat oleh guru kelas untuk saling mengirim informasi terkait dengan perkembangan anak di sekolah maupun di rumah. Selain itu pihak sekolah juga mengadakan pertemuan rutin bulanan dengan komite sekolah untuk membicarakan mengenai program sekolah, perkembangan, dan kemajuan anak. Sebagaimana yang diungkapan oleh Ibu Ratu Ratna Komalasari. Pd. , selaku guru kelas B8 sebagai berikut: AuKerja sama antara guru dan orang tua serta kepercayaan orang tua pada guru untuk mendidik anak-anak mereka itu penting. Seperti yang dikatakan tadi, hal yang paling utama itu adalah komunikasi. Komunikasi dengan orang tua itu yang diperlukan untuk mengetahui progres perkembangan anak. (CWG. Selain itu peneliti juga melakukan wawancara dengan orangtua/walimurid dari salah seorang anak kelas B8 sebagai berikut: AuYa kadang suka berdiskusi ya, sama guru disini seperti apa gitu, ya pokoknya saling berkomunikasi aja deh sama guru terkait perkembangan anak. Kalau makan kan memang udah dari awal diajarkan sendiri ya, jadi yang dilakukan sudah dibiasakan juga di Ay (CWG. Gambar 30. Bentuk kerjasama antara guru dan Sebagaimana yang dijelaskan oleh Shertzer dan Stone . alam Susanto, 2. , bahwa salah bentuk bimbingan guru adalah memberikan informasi. Hal ini diperlukan oleh orangtua dan anak baik informasi tentang perkembangan anak maupun programprogram yang akan dilaksanakan di sekolah. Keberhasilan program-program di sekolah tidak lepas dari dukungan orangtua dirumah. Dengan melibatkan orangtua dalam setiap kegiatan maka akan mempermudah guru maupun orangtua dalam mengoptimalkan kemandirian anak. Dan, hal ini merupakan pendidikan anak di RA Al-Izzah Kota Serang. Upaya guru dalam kemandirian anak Upaya guru dalam mengevaluasi kemandirian anak adalah dengan melakukan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan tingkat pencapaian perkembangan anak yang salah satunya dilakukan dengan menggunakan catatan anekdot. Sebagaimana yang diungkapan oleh Ibu Ratu Ratna Komalasari. Pd. , selaku guru kelas B8 sebagai berikut: AuKemandirian anak itukan tujuannya satu, anak bisa ngurus diri sendiri sebagai bekal Untuk cara mengevaluasinya kalau di kelas sejauh mana ia bisa ngurus diri sendiri dimulai dari menyimpan tas, nyimpan buku ngaji, mengambil sesuatu yang menjadi kebutuhan dia tanpa banyak diberitahu karna dia sudah tau ya sama ketoilet sendiri. Seperti misalnya disini ada 2 anak yang masih harus dibimbing, sebenarnya mereka sudah tau cuman harus dibimbing. Mengevaluasinya bukan secara keseluruhan ya tapi terarah, karna per-anak ini memiliki karakter yang beda-beda jadi saya bisa lihat Auoh ini udah bagus nihAy. Kalau untuk format penilaian yang digunakan disini ada 3 ya, ceklis Ae hasil karya Ae catatan anekdot. Biasanya kalau kemandirian kita masuknya kecatatan anekdot, kadang-kadang ada yang kemandiriannya seperti apa melakukan sesuatu apakah dia dibantu apakah dibimbing gitukan, seperti itu aja. Jadi untuk format karakter kita lebih banyak menggunakan catatan anekdot begitu. Sementara untuk ke orang tua, kita mengevaluasi atau melaporkannya itu melalui raport itu untuk laporan yang terjadwal ya. Tapi tentu kalau ada kasus atau kejadian tertentu ya bisa Received 09 Juni 2023. Accepted 22 Juli 2023. Published 25 Juli 2023 Nurfitriani. Maryani. Atikah. Vol. No. 1, 2023, pp. dilaporkan saat itu juga, begitu dan biasanya saya mengisi penilaian catatan anekdot setelah pembelajaran selesai atau pas anak anak sudah pulangAy (CWG. Di bawah ini merupakah format catatan anekdot yang digunakan guru dalam mengevaluasi kemandirian anak. (Segala bentuk administrasi pembelajaran tidak dapat dipublikasikan atau disebarluaskan melalui Tabel 3. Format catatan anekdot Sebagaimana yang diungkapkan oleh James Brown . alam Tasaik & Tuasikal, 2. bahwa menjelaskan tugas dan peran guru salah satunya adalah mengevaluasi kegiatan anak. Guru sebagai evaluator yang baik, hendaknya melakukan penilaian untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai apa tidak, apakah materi yang diajarkan sedah dikuasai atau belum oleh anak, dan apakah metode yang digunakan sudah cukup tepat (Rusman, 2. Dengan demikian hasil dari evaluasi guru dapat memberikan informasi mengenai keefektifan pelaksanaan layanan program stimulasi dalam hal kemandirian dan pencapaian hasil-hasilnya oleh setiap anak. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian anak usia 5-6 tahun kelas B8 di RA Al-Izzah Kota serang sudah berkembang sesuai harapan. Hal ini dapat terlihat ketika anak-anak sudah mampu melakukan berbagai kegiatan secara mandiri tanpa bantuan dari orang lain. Kemampuan tersebut muncul karena pembiasaan yang dilakukan guru sejak anak pertama kali memasuki sekolah atau yang disebut dengan masa taAoaruf. Di dalam proses mengoptimalkan kemandirian anak, upaya yang guru lakukan meliputi memahami karakter setiap anak, menyusun berbagai strategi dalam pembelajaran, menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan, memadukan pembelajaran kemandirian dengan aktivitas belajar anak baik saat di dalam kelas maupun di luar kelas, memberikan contoh yang konkrit dalam segala hal yang diajarkan, membuat media/alat untuk pembelajaran anak, memanfaatkan sarana prasarana di sekolah, memotivasi anak dan memecahkan masalah serta mencari solusi seputar pembelajaran yang dimana hal tersebut sudah terlaksana dengan baik. Selain itu kerjasama antara guru dan orangtua dalam mengoptimalkan kemandirian anak salah satunya adalah dengan menjalin komunikasi yang berkesinambungan terkait program dan perkembangan anak disekolah yang juga sudah terlaksana dengan baik. Upaya guru dalam mengevaluasi kemandirian anak merupakan upaya dalam memberikan informasi terkait perkembangan anak yang dituliskan dalam bentuk catatan anekdot. Adapun saran yang dapat diberikan sebagai berikut: pertama, bagi sekolah, diharapkan dapat untuk selalu mengawasi dan kerjasama dengan guru agar mutu pembelajaran lebih Kedua, bagi guru, diharapkan lebih dapat mengoptimalkan dan mendorong kemandirian anak baik didalam kelas maupun di luar kelas. Selanjutnya, bagi orangtua, diharapkan dapat bekerja sama dengan pihak sekolah untuk melakukan pembiasaan di rumah terkait kegiatan yang dilakukan di Terakhir, bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menindaklanjuti penelitian ini dengan berbagai litelatur dan variasi yang lebih mendalam guna pemahaman lebih lanjut tentang upaya guru dalam mengoptimalkan kemandirian anak. DAFTAR PUSTAKA