Nursing Arts Vol 18. No 2. Desember 2024 ISSN: 1978-6298 (Prin. ISSN: 2686-133X . ANALISIS DETERMINAN SUMBER INFORMASI DAN PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS PADA REMAJA Wahyuni Maria Prasetyo Hutomo1. Sariana Pangaribuan2. Irfandi Rahman3. Baktianita Ratna Etnis4. Lusi Priskila Manas5 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Papua Email Korespondensi: yunihutomo92@gmail. Artikel history Dikirim. October 30th, 2024 Ditinjau. December 10th, 2024 Diterima. December 21st, 2024 ABSTRACT The 2023 data from the Indonesian Ministry of Health shows a significant increase in HIV cases among adolescents aged 15-24. This study aims to analyze the determinants of information sources and knowledge about HIV/AIDS among adolescents at SMK Negeri 3 Sorong. The research method used is descriptive, with a sample size of 85 selected through simple random sampling. The instrument used is a questionnaire on HIV/AIDS knowledge. The results of this study show that the majority of adolescents obtain information about HIV/AIDS through social media, with knowledge being sufficient . 8%) and good . 5%). Additionally, 9% of adolescents also get information from the internet, showing sufficient knowledge . 5%). Furthermore, 14. 1% of adolescents receive information from peers, with sufficient knowledge . 2%) and good knowledge . 4%). It can be concluded that adolescents primarily access HIV/AIDS information through social media and the internet, while information from peers, parents. TV, and radio remains low. Keywords: Source of Information. HIV/AIDS. Knowledge. Adolescents ABSTRAK Data Kementerian Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan peningkatan signifikan kasus HIV pada remaja usia 15-24 tahun. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan sumber informasi dan pengetahuan HIV/AIDS pada remaja di SMK Negeri 3 Sorong. Metode penelitian yang digunakan penelitian deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 85 dengan metode simple random sampling. Instrumen menggunakan kuesioner pengetahuan tentang HIV/AIDS. Hasil penelitian menunjukan sumber informasi tentang HIV/AIDS lebih banyak melalui media sosial dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS cenderung cukup . 8%) dan baik . 5%). Terdapat . 9%) remaja juga mendapatkan sumber informasi dari internet dan menunjukan pengetahuan cukup . 5%). Terdapat . 1%) remaja yang juga mendapatkan informasi dari teman sebaya dengan pengetahuan cukup . 2%) dan baik . 4%) dibandingkan dengan sumber informasi dari Orang Tua. TV dan radio cenderung rendah. Dapat disimpulkan bahwa remaja mengakses informasi tentang HIV/AIDS lebih banyak melalui media sosial, internet, dibandingkan dengan sumber informasi dari teman sebaya. Orang Tua. TV dan radio yang cenderung rendah Kata Kunci: Sumber Informasi. HIV/AIDS. Pengetahuan. Remaja Wahyuni Maria Prasetyo Hutomo dkk. Analisis Derterminan Sumber Informasi PENDAHULUAN Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang sistem pertahanan imun tubuh (CD. , infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan penyakit yang disebabkan oleh HIV (Mariani et al. , 2. Menurut World Health Organisation (WHO, 2. terdapat beberapa negara di dunia yang angka persentase dari orang yang terinfeksi HIV yaitu, negara Afrika 25,6 juta. Amerika 3,8 juta. Eropa 3,0 juta. Mediterania 490. 000 orang. Pasifik Barat 2,2 juta orang. Asia Tenggara 3,9 dengan jumlah kasus 39,0 juta orang, dan Indonesia masuk dalam peringkat ke-5 . kasus HIV di dunia. Communicable disease . enyakit infeks. dengan angka kematian tergolong tinggi. HIV-AIDS telah tersebar di seluruh negara di dunia. Indonesia sebagai negara berkembang menjadi salah satu negara dengan tingkat penyebaran infeksi HIV-AIDS. Ketidaktahuan Masyarakat tentang infeksi dipengaruhi beberapa hal terutama oleh pengetahuan yang kurang, dari pengetahuan yang kurang bisa berpengaruh terhadap stigma (Elisanti, 2. Terjadi peningkatan kasus HIV-AIDS, terutama di kalangan remaja, yang merupakan usia yang memiliki mobilitas sosial yang paling tinggi dibandingkan dengan usia lainnya. Masa remaja adalah fase yang paling rentan terhadap penularan HIV-AIDS (Pratiwi & Basuki, 2. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Indonesia dan berbagai lembaga kesehatan menunjukkan bahwa kasus HIV di kalangan remaja Indonesia mengalami peningkatan yang Per tahun 2023, remaja berusia 15-24 tahun menjadi salah satu kelompok paling rentan, dengan sekitar 16,1% dari seluruh kasus baru berada dalam kelompok usia ini. Faktorfaktor penyebab termasuk penggunaan narkoba suntik dan perilaku seksual berisiko, terutama di lingkungan yang minim akses informasi terkait pencegahan HIV dan kesehatan reproduksi (UNAIDS, 2. Data mengenai kasus HIV/AIDS di Indonesia bagian timur menunjukkan angka yang signifikan dalam beberapa provinsi. Papua, masih memiliki jumlah kasus HIV/AIDS yang cukup tinggi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, dengan infeksi tertinggi terutama pada kelompok usia produktif . -49 tahu. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, faktor risiko utama penularan HIV di Papua meliputi transmisi melalui hubungan heteroseksual dan risiko lainnya seperti penggunaan narkoba suntik dalam kelompok populasi tertentu. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) juga mengalami kenaikan kasus HIV/AIDS dalam beberapa tahun terakhir. Data dari BPS NTT menunjukkan bahwa kasus HIV di daerah ini 101 Nursing Arts. Vol. Nomor 2. Desember 2024 hlm: 99-108 memerlukan penanganan serius, terutama dalam upaya pencegahan dan pengobatan secara komprehensif (SIHA, 2. Di Papua Barat, kasus HIV/AIDS di kalangan remaja memang menjadi isu yang signifikan, di mana prevalensi HIV mencapai 2,3% dari populasi. Menurut Dinas Kesehatan Papua Barat, terdapat sekitar 20. 045 kasus HIV/AIDS yang memerlukan deteksi dini. Data kasus ini sebagian besar tercatat di daerah seperti Kota Sorong dan Manokwari. Sementara itu, dari seluruh kasus HIV/AIDS di Provinsi Papua, terdapat lebih dari 967 kasus yang teridentifikasi, dengan banyak di antaranya terjadi pada remaja dan kalangan muda yang rentan terhadap infeksi HIV melalui hubungan berisiko dan penggunaan narkoba suntik (IDAI, 2. Pengetahuan yang benar tentang cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS dapat membantu remaja menghindari perilaku berisiko, seperti hubungan seksual tanpa kondom atau penggunaan jarum suntik bergantian. Tanpa pemahaman ini, remaja lebih mungkin terlibat dalam perilaku yang dapat meningkatkan risiko infeksi HIV(Pasa, 2. Penelitian terbaru tentang pengetahuan remaja Indonesia mengenai HIV/AIDS menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki pengetahuan yang cukup, meski terdapat perbedaan dalam sumber informasi dan kedalaman pemahaman. Di beberapa wilayah, remaja menerima informasi utama dari sekolah atau media sosial. Studi sebelumnya menemukan bahwa sebagian besar siswa memiliki perilaku pencegahan yang baik terhadap HIV/AIDS sejalan dengan tingkat pengetahuan mereka, di mana 46,3% siswa memiliki pengetahuan cukup mengenai HIV/AIDS. Hasil penelitian juga mengungkap bahwa pengetahuan yang baik cenderung meningkatkan perilaku pencegahan, seperti yang terlihat dari responden di Yogyakarta dan Pangandaran, di mana 76,6% remaja menunjukkan perilaku positif dalam pencegahan HIV/AIDS(Kumalasary, 2021. Kuswanti. Melina, & Mulaicin, 2. Menurut Rahmi and Skripsa . , sebagian besar berumur 17 tahun . ,7%) dan berjenis kelamin perempuan . ,5%). Perilaku Pencegahan HIV/AIDS sebagian besar berada pada kategori kurang baik . ,8%), dan keterpaparan sumber informasi tentang HIV/AIDS sebagian besar berada pada kategori tidak sering . ,1%). Menurut Nurwati and Rusyidi . , kurangnya pengetahuan remaja tentang pencegahan dan penanganan HIV/AIDS dapat berdampak negatif pada perilaku remaja, maka remaja sering melakukan hubungan seksual lebih dari satu orang tanpa menggunakan alat pelindung berupa kondom dapat meningkatkan resiko penularan HIV dan menggunakan narkoba. Menurut hasil penelitian terdapat metode yang dapat digunakan dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang HIV. Sumber informasi tentang HIV/AIDS bagi remaja sangat penting karena mereka merupakan kelompok Wahyuni Maria Prasetyo Hutomo dkk. Analisis Derterminan Sumber Informasi yang rentan terhadap penularan HIV akibat faktor seperti kurangnya edukasi kesehatan seksual, tekanan dari lingkungan, dan perubahan perilaku saat masa remaja. Menurut Yuningsih. Angrainy. Nova. Noviawanti, and Knowledge . , mayoritas remaja mendapatkan sumber informasi tentang pencegahan penularan HIV/AIDS dari tenaga kesehatan sebanyak 72% dan Pengetahuan remaja mayoritas baik sebanyak 72% dan pengetahuan kurang 28% dan remaja yang memiliki peran orangtua sebanyak 64. Di wilayah terpencil, khususnya di Indonesia Timur, akses terhadap fasilitas kesehatan dan informasi berbasis teknologi tentang HIV/AIDS masih terbatas. Banyak remaja mungkin hanya memiliki informasi dari media sosial yang tidak selalu menyajikan data akurat, sehingga mereka rentan terhadap mitos atau kesalah pahaman tentang HIV/AIDS (IDAI, 2. Berdasarkan data tersebut, peneliti ingin mengetahui bagaimana derterminan sumber informasi dan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada remaja. METODE Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif, dengan Jenis penelitian ini survei deskriptif (Soendari & Herdan, 2. Metode dan jenis penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan determinan sumber informasi dengan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. Penelitian dilakukan di SMK Negeri 3 Sorong pada bulan Juli 2024. Populasi pada penelitian ini adalah remaja kelas 11 berjumlah 340 orang. Sampel kemudian ditentukan berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Isaac dan Michael (Amin. Garancang, & Abunawas, 2. Pada penelitian ini dari 340 populasi yang menjadi sampel sebanyak 85 dengan menggunakan tnilai kritis 0,05. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan probability sampling dengan metode simple random sampling , mode pengambilan secara acak (Ramdhan, 2. Kuesioner pengetahuan tentang HIV/AIDS yang diadopsi dari Putri . , kuesioner terdiri dari 20 item pertanyaan dan 6 sumber informasi antara lain orang tua, teman sebaya, tv, radio, media sosial, dan Untuk Kuesioner pengetahuan tentang HIV/AIDS memiliki pertanyaan positif terdiri dari nomor 1,2,3,4,5,7,9,11,12,13,14,15,18, dan pertanyaan negatif terdiri dari nomor 6,8,10,16,17,19,20. Di dalam kuesioner yang digunakan terdapat dua pilihan jawaban benar dan salah serta menggunakan skala guttman. Jika responden menjawab dengan benar diberi skor . , jika responden menjawab salah diberi skor . sedangkan untuk pertanyaan negatif nilai benar diberi skor . nilai salah diberi skor . Analisis univariat yaitu dimana peneliti 103 Nursing Arts. Vol. Nomor 2. Desember 2024 hlm: 99-108 mau melihat karakteristik responden berdasarkan distribusi umur, jenis kelamin, sumber informasi dan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Karakteristik Umur 14-17 Tahun 18-21 Tahun Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Sumber Informasi HIV/AIDS Orang Tua Teman Sebaya Radio Media Sosial Internet Total Pengetahuan Pengetahuan Kurang <55% Pengetahuan cukup 56-75% Pengetahuan baik 76-100% Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan tabel 1 menunjukkan Informasi tentang karakteristik responden meliputi jenis kelamin, umur, sumber informasi, pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS diperoleh sebagian besar responden adalah remaja dengan umur 14-17 tahun . 6%). Lebih dari separuhnya berjenis kelamin laki-laki . 3%). Sumber informasi terbanyak dari media social . 2%), sementara orang tua . 9%). TV . 7%) dan radio . %) paling sedikit dibandingkan dengan sumber informasi yang lain. Wahyuni Maria Prasetyo Hutomo dkk. Analisis Derterminan Sumber Informasi Tabel 2. Pengetahuan Responden tentang HIV/AIDS Benar HIV/AIDS dapat ditularkan melalui transfusi darah. HIV/AIDS dapat ditularkan dengan menggunakan jarum suntik secara bersama-sama. HIV/AIDS dapat menular apabila kita melakukan ciuman bibir. Hubungan seksual merupakan salah satu faktor penularan HIV. HIV/AIDS dapat menular melalui dudukan toilet. HIV dapat ditularkan oleh ibu pengidap HIV pada bayi yang Penyakit HIV/AIDS dapat disembuhkan Penderita HIV/AIDS dapat menularkan HIV melalui batuk atau Penderita HIV dapat terlihat seperti orang yang sehat. Penderita AIDS biasanya mengalami diare berkepanjangan selama lebih dari 1 bulan. Penderita AIDS dapat mudah terinfeksi oleh penyakit menular Orang yang baru terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala sakit. Berenang di kolam renang bersamaan dengan penderita HIV/AIDS dapat menyebabkan seseorang tertular HIV. Berhubungan seksual tanpa alat kontrasepsi . dengan pengguna NAPZA suntik dapat mengurangi resiko tertular HIV. Gejala awal terinfeksi virus HIV sama dengan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus biasa. Penggunaan kondom saat berhubungan seksual tidak dapat menurunkan resiko tertular HIV. Cara agar tidak tertular HIV/AIDS adalah menghindari untuk berjabat tangan dengan seseorang yang mengidap HIV/AIDS. Pertanyaan HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. HIV merupakan virus penyebab AIDS. Salah Pada penelitian ini ditemukan sebagian besar belum memiliki pengetahuan yang baik tentang HIV/AIDS, terdapat 64. masih memiliki pemahaman Penggunaan kondom saat berhubungan seksual tidak dapat menurunkan resiko tertular HIV, 51. 7% masih memiliki pamahaman bahwaa cara ara agar tidak tertular HIV/AIDS adalah menghindari untuk berjabat tangan dengan seseorang yang mengidap HIV/AIDS. Secara keseluruhan, pemahaman remaja mengenai HIV/AIDS masih memerlukan peningkatan, terutama dalam aspek pencegahan dan 105 Nursing Arts. Vol. Nomor 2. Desember 2024 hlm: 99-108 risiko penularan. Peningkatan program edukasi melalui sekolah dan komunitas lokal diharapkan mampu mengurangi kasus HIV/AIDS di kalangan remaja. Tabel 3. Determinan Sumber Informasi dan Pengetahuan tentang HIV/AIDS di Kalangan Remaja Sumber Informasi HIV/AIDS Orang Tua Teman Sebaya Radio Media Sosial Internet Total Pengetahuan kurang<55% Pengetahuan Pengetahuan cukup 5675% Total Pengetahuan baik 76-100% Hasil distribusi frekuensi pada variebel pengetahuan berdasarkan sumber informasi lebih banyak bersumber dari media sosial dibandingkan sumber informasi yang lain. Hasil penelitian ini menunjukan sumber informasi tentang HIV/AIDS didapatkan remaja lebih banyak melalui media sosial, dimana hasil penelitian menunjukan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS cenderung cukup . 8%) dan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS baik . 5%). Selanjutnya terdapat . 9%) remaja yang juga mendapatkan sumber informasi dari internet dan menunjukan pengetahuan tantang HIV/AIDS cukup . 5%). Terdapat . 1%) remaja yang juga mendapatkan informasi dari teman sebaya dengan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS cenderung cukup . 2%) dan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS baik . dibandingkan dengan sumber informasi dari Orang Tua. TV dan radio cenderung rendah. Temuan dalam penelitian ini yaitu remaja lebih banyak mendapatkan infromasi tentang HIV/AIDS melalui media sosial. Penelitian menunjukkan bahwa keterpaparan informasi dari media ini dapat meningkatkan pengetahuan dan mempengaruhi sikap remaja terhadap pencegahan HIV. Media massa dan sosial berperan penting dalam menambah pemahaman yang tepat tentang HIV/AIDS, terutama di kalangan remaja di wilayah perkotaan yang memiliki akses lebih luas dibandingkan mereka yang tinggal di distrik. Menurut Nurwati dan Rusyidi . , kurangnya pengetahuan remaja tentang pencegahan dan penanganan HIV/AIDS dapat berdampak negatif pada perilaku mereka. Hal ini sejalan dengan teori Green Wahyuni Maria Prasetyo Hutomo dkk. Analisis Derterminan Sumber Informasi dalam (Fabanyo & Anggreini, 2. bahwa faktor perilaku dibentuk oleh faktor predisposisi yaitu pengetahuan. Jika remaja memiliki pengetahuan yang kurang tentang HIV/AIDS, mereka dapat mengarah pada perilaku yang kurang aman dan tidak bertanggung jawab terhadap kesehatan mereka. Kurangnya pengetahuan ini dapat mempengaruhi sikap dan tindakan mereka, yang pada akhirnya berisiko meningkatkan prevalensi HIV/AIDS di kalangan remaja. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar remaja belum tahu banyak tentang HIV/AIDS. Remaja masih percaya bahwa menggunakan kondom saat berhubungan seksual tidak dapat mengurangi resiko tertular HIV dan masih percaya bahwa menghindari berjabat tangan dengan orang yang mengidap HIV/AIDS adalah cara terbaik untuk mencegah Secara keseluruhan, pemahaman remaja tentang HIV/AIDS masih perlu ditingkatkan, terutama tentang cara mencegah penularan dan pencegahan. Penelitian ini juaga menunjukan bahwa sumber informasi tentang HIV/AIDS dari orang tua. TV, dan radio cenderung rendah di kalangan remaja karena beberapa alasan, termasuk keterbatasan komunikasi, ketidaknyamanan membahas topik HIV/AIDS, dan perubahan pola konsumsi Menurut Sanggara. Dolifah, and Yuliana . Banyak orang tua merasa tabu atau tidak nyaman membicarakan topik HIV/AIDS karena terkait dengan seksualitas, yang sering dianggap sensitif dalam budaya Indonesia. Akibatnya, komunikasi antara orang tua dan remaja mengenai kesehatan seksual atau HIV/AIDS menjadi terbatas, meskipun peran orang tua sebenarnya sangat penting untuk memberikan informasi yang akurat dan mendukung kesehatan anak mereka Menurut Ismayati. Rifai, and Rahayu . , dengan meningkatnya penggunaan internet dan media sosial, remaja lebih banyak mengakses informasi melalui platform digital dibandingkan dengan TV dan radio. Menurut survei, remaja menghabiskan sebagian besar waktu mereka di media sosial dan internet, sehingga mereka lebih jarang menerima informasi dari media tradisional seperti televisi atau radio. Media sosial memungkinkan akses cepat dan visual yang lebih menarik bagi remaja dibandingkan dengan media tradisional yang kurang interaktif terbatasan Konten HIV/AIDS di TV dan Radio Menurut E. Putri. Madani. Dewi, and Miolda . Di Indonesia, sumber informasi tentang HIV/AIDS yang paling sering diakses remaja berasal dari media sosial, seperti Instagram dan WhatsApp, di mana remaja menghabiskan waktu rata-rata 4-6 jam per hari. Media sosial menjadi efektif karena menawarkan informasi kesehatan secara mudah diakses dan dinamis. Selain itu, remaja juga memperoleh informasi dari kampanye dan program 107 Nursing Arts. Vol. Nomor 2. Desember 2024 hlm: 99-108 kesehatan di sekolah serta melalui media massa tradisional seperti TV dan radio, yang menyebarkan kesadaran seputar penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Penelitian mengenai pentingnya edukasi HIV/AIDS melalui media sosial menunjukkan bahwa media ini sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja tentang HIV/AIDS, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya penggunaan media sosial untuk menjangkau remaja secara efektif, karena platform ini memungkinkan penyebaran informasi yang luas dan akses yang mudah (Ismayati et al. , 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang juga menunjukan bahwa media sosial memiliki potensi besar untuk menormalisasi percakapan tentang kesehatan seksual dan menurunkan stigma terkait HIV/AIDS. Edukasi melalui media sosial juga dinilai efektif dalam memperbaiki persepsi dan sikap remaja tentang HIV/AIDS, sehingga mereka lebih cepat mengenal tentang pentingnya pencegahan HIV/AIDS diusia remaja. SIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja mengakses informasi tentang HIV/AIDS lebih banyak melalui media sosial dan bahwa pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS cenderung cukup dan sebagian kecil baik dan sebagiannya lagi kurang. Sebagian remaja juga lebih memilih mengetahui tentang HIV/AIDS dari internet dan teman sebaya mereka dibandingkan dengan sumber informasi dari Orang Tua. TV dan radio yang cenderung rendah. Saran untuk dapat melakukan penelitian lanjut tentang manfaat pembuatan konten yang interaktif danmenarik, pemanfaat influencer atau tokoh muda. Integrasi dengan platform lain yang populer di kalangan remaja dalam meningkatakan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. UCAPAN TERIMA KASIH