Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 DOI http://dx. org/10. 36722/sh. Dinamika Interaksi Orang tua-Anak dan Dampaknya Dalam Membentuk Perilaku Sosial Anak Usia 11-15 tahun Vicky Purwadi Putra Sawaludin1*. Madania1. Saniyya Khoirun Amala1. Arina Athiyallah1 Psikologi Islam. Fakultas Psikologi Islam. Institut Agama Islam Pemalang. Jl. Paduraksa - Keramat No. Area Sawah / Kebun. Kabupaten Pemalang. Jawa Tengah 52318. Penulis untuk Korespondensi/E-mail: kakvickypps@gmail. Abstract Ae ParentAechild interaction during the social development stage of children aged 11Ae15 plays a crucial role in shaping social skills. This study employed a qualitative approach with a case study method involving three families in Karawang. Madura, and Boyolali. The subjects consisted of fathers, mothers, and children . total of nine participant. with children aged 11Ae15, selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews and limited observation. Validity was ensured using source triangulation, technique triangulation, and member checking. Data analysis followed a thematic approach based on Miles and HubermanAos model, including data reduction, data display, and reflective conclusion drawing. The findings revealed five main themes: . emotional relationships between parents and children. daily activities and togetherness. family decision-making. parenting styles and family values. childrenAos social relationships. Authoritarian parenting produced obedient but withdrawn children, permissive parenting provided freedom but weakened structure, while authoritative parentingAibalancing firmness, warmth, and spiritual valuesAishaped children to be more confident, empathetic, and adaptive. Democratic parentAechild interaction with emotional involvement was proven to support social development in children aged 11Ae15. The implications suggest that families need to strengthen open communication and value-based parenting, schools and communities should provide spaces for childrenAos participation, and public policy should encourage responsive parenting programs. Abstrak - Interaksi orang tua-anak berperan penting dalam membentuk keterampilan sosial. Penelitian ini bertujuan mengkaji dinamika interaksi orang tuaAeanak dan dampaknya terhadap pembentukan perilaku sosial anak usia 11Ae15 tahun. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan pada tiga keluarga di Karawang. Madura dan Boyolali, melibatkan sembilan partisipan . yah, ibu, ana. yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi terbatas dengan validitas dijaga melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik dan member Analisis tematik berdasarkan model Miles & Huberman menghasilkan lima tema utama: . hubungan emosional orang tuaAeanak. aktivitas harian dan kebersamaan. pengambilan keputusan . pola asuh dan nilai keluarga. hubungan sosial anak. Pola asuh otoriter membentuk anak patuh namun tertutup, pola permisif memberi kebebasan tetapi melemahkan struktur, sedangkan pola menyeimbangkan ketegasan, kehangatan dan nilai spiritual mendorong anak lebih percaya diri, empatik dan adaptif. Interaksi demokratis dengan keterlibatan emosional terbukti paling mendukung perkembangan sosial anak. Temuan ini menegaskan pentingnya komunikasi terbuka dan pola asuh berbasis nilai dalam keluarga, serta perlunya dukungan sekolah, komunitas dan kebijakan publik untuk memperkuat program parenting yang responsif. Penelitian ini memberikan kontribusi perspektif kualitatif dalam konteks budaya Indonesia, mengisi celah kajian yang selama ini didominasi pendekatan Keywords - Authoritative Parenting Style. ChildrenAos Social Behaviour. Emotional Involvement. Family Education. ParentAeChild Interaction. Received: 08 November 2025. Acepted: 28 November 2025. Published: 31 March 2026 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 PENDAHULUAN erkembangan sosial anak usia 11Ae15 tahun merupakan fase krusial dalam membentuk kemampuan berinteraksi, memahami emosi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial (Rachman. Sumarwan. Latifah, & Herawati, 2. Masa ini disebut sebagai periode transisi menuju remaja yaitu anak mulai membangun identitas sosial, belajar berempati dan mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal yang akan memengaruhi kesejahteraan jangka panjang (Yong. Lin. Toh, & Marsh, 2. Salah satu faktor utama yang menentukan proses tersebut adalah kualitas interaksi antara anak dan orang tua. Interaksi yang hangat, responsif dan konsisten terbukti mendukung perkembangan keterampilan sosial anak, sementara interaksi yang menghambatnya (Indanah & Yulisetyaningrum. Pada era digital, tantangan baru muncul dalam bentuk keterbatasan waktu orang tua dan penggunaan teknologi yang berlebihan. Kondisi ini berpotensi mengurangi frekuensi dan kualitas interaksi langsung antara orang tua dan anak, sehingga berdampak pada perkembangan sosialemosional anak (Salisah. Darmiyanti, & Arifudin. Oleh karena itu, diperlukan pola asuh yang adaptif dan reflektif dan mampu mengintegrasikan ketegasan, kehangatan, serta pengelolaan waktu dan teknologi secara bijak dalam dinamika keluarga Dinamika interaksi orang tua-anak tercermin dalam pola komunikasi sehari-hari, pemberian apresiasi, serta keterlibatan emosional dalam aktivitas Penelitian terbaru menegaskan pentingnya interaksi orang tua-anak dalam membentuk keterampilan sosial. Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan komunikasi terbuka, dukungan emosional konsisten dan pola asuh autoritatif cenderung lebih percaya diri dan adaptif secara Sebaliknya, interaksi yang bersifat satu arah atau dominatif sering kali membuat anak kesulitan mengekspresikan emosi dan membangun relasi sosial yang sehat. Studi kuantitatif yang dilakukan oleh Alfi. Krisnatuti, dan Defina . terhadap 312 remaja di Bogor menemukan bahwa interaksi positif dengan orang tua meningkatkan empati dan keterampilan sosial, sedangkan penggunaan media sosial berlebihan memperlemah relasi keluarga, hal ini menunjukkan bahwa remaja dengan interaksi positif bersama orang tua memiliki keterampilan sosial lebih tinggi, sedangkan Syafira. Anggraini, dan Rahmi . meneliti 120 anak usia sekolah dasar di Padang menunjukkan kualitas hubungan orang tua-anak berhubungan langsung dengan kemampuan berempati anak. Kusuma. Dimyati, dan Harun . pada 150 anak usia sekolah dasar di Yogyakarta menemukan bahwa perhatian orang tua terhadap keterampilan sosial anak selama pandemi Covid-19 berperan sebagai faktor protektif terhadap risiko gangguan mental. Regina dan Hidayat . meneliti 200 anak usia dini di Kendari menemukan pola asuh autoritatif berhubungan dengan perilaku sosial yang lebih adaptif. Penelitian Internasional seperti Tejada . menekankan bahwa interaksi orang tua-anak memengaruhi regulasi emosi dan perilaku sosial remaja, dengan gaya asuh autoritatif terbukti paling mendukung perkembangan sosial. Zheng . juga menegaskan peran mediasi regulasi emosi dalam hubungan antara gaya asuh dan keterampilan sosial anak. Putnick. Bornstein. Lansford. Chang. Deater-Deckard. Di Giunta. Dodge. Malone. Oburu, dan Pastorelli . melalui studi lintas budaya 200 keluarga di sembilan negara, menunjukkan bahwa penerimaan orang tua berhubungan dengan perilaku prososial anak, menegaskan konsistensi fenomena ini secara global. Berbagai studi penelitian diatas telah membahas pola asuh dan perkembangan sosial anak, sebagian besar masih bersifat kuantitatif dan berfokus pada outcome perilaku yang terukur. Kajian naratif yang menggali dinamika emosional dan komunikasi dalam keluarga Indonesia yang religius dan kolektif masih terbatas. Gap penelitian ini menunjukkan perlunya pendekatan kualitatif untuk memahami bagaimana komunikasi emosional, keterlibatan orang tua dan pola pengasuhan membentuk perilaku sosial anak dalam konteks budaya lokal. Dengan demikian, penelitian ini hadir untuk mengisi celah Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah penelitian ini adalah . bagaimana bentuk komunikasi orang tua-anak berkontribusi terhadap pembentukan perilaku sosial anak usia 11Ae15 tahun. bagaimana keterlibatan emosional orang tua memengaruhi perkembangan keterampilan sosial dan . faktor internal maupun eksternal apa yang memengaruhi kualitas interaksi keluarga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji secara mendalam pola interaksi orang tua-anak dalam pembentukan perilaku sosial anak usia 11Ae15 tahun, faktor-faktor memengaruhi kualitas interaksi tersebut. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Manfaat penelitian dapat dikategorikan ke dalam empat aspek yaitu . Secara teoritis, penelitian ini memperkaya literatur psikologi perkembangan dengan perspektif kualitatif tentang interaksi keluarga, . Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi acuan bagi orang tua, pendidik, dan konselor dalam merancang pola pengasuhan yang lebih empatik. Secara sosial, penelitian ini berkontribusi pada upaya pencegahan gangguan sosial-emosional anak dengan menekankan pentingnya keterlibatan orang tua. Secara kebijakan, temuan penelitian ini dapat menjadi dasar bagi perumusan program intervensi berbasis keluarga yang responsif terhadap kebutuhan perkembangan sosial anak di Indonesia. Memahami secara lebih mendalam terkait dinamika interaksi orang tua-anak dalam membentuk perilaku sosial anak usia 11Ae15 tahun, diperlukan landasan teoritis yang menjelaskan proses pembelajaran sosial, keterikatan emosional, serta pengaruh lingkungan keluarga dan sosial. Beberapa hal berikut menguraikan tinjauan pustaka yang relevan. Dinamika Interaksi Orang tua-Anak Interaksi orang tuaAeanak merupakan inti pembentukan perilaku sosial. Baumrind . menegaskan tiga pola pengasuhan yaitu otoriter yang menghasilkan anak patuh namun tertutup, permisif yang memberi kebebasan tetapi melemahkan struktur dan autoritatif yang menyeimbangkan kontrol serta kehangatan sehingga anak lebih mandiri dan adaptif. Bowlby . melalui teori kelekatan menunjukkan bahwa ikatan emosional aman mendorong relasi sosial sehat, sedangkan kelekatan tidak aman berpotensi menimbulkan masalah perilaku. Vygotsky . menekankan bahwa perkembangan sosial-kognitif anak terjadi melalui interaksi dengan orang tua Zone Proximal Development. Bronfenbrenner . menambahkan bahwa dinamika keluarga dipengaruhi oleh sistem sosial lebih luas, mulai dari lingkungan terdekat hingga Dengan demikian, interaksi orang tuaAeanak harus dipahami sebagai proses multidimensi yang membentuk perilaku sosial anak. Temuan Izzati. Hernawati, & Islamiah . menunjukkan bahwa kualitas kelekatan ibu-anak dan interaksi dengan pengasuh berpengaruh signifikan terhadap perkembangan sosial-emosional anak prasekolah. Santana-Ferrandiz. Ibanez-Perez, & Moret-Tatay . melalui tinjauan sistematis menekankan bahwa empati dan sensitivitas orang tua menjadi kunci pembentukan kelekatan dan keterampilan sosial. serta Yu. Liao. Liu, & Li . menemukan bahwa stres pengasuhan dapat menurunkan kompetensi sosial-emosional anak, tetapi dapat dimediasi oleh refleksi orang tua dan kualitas hubungan orang tuaAeanak. Dengan demikian, interaksi orang tuaAeanak harus dipahami sebagai proses multidimensi yang tidak hanya dipengaruhi pola asuh dan ikatan emosional, tetapi juga sensitivitas, stres pengasuhan, serta dukungan sosial yang membentuk perilaku sosial anak. Teori Pembentukan Perilaku Sosial Anak Perilaku sosial anak terbentuk melalui proses belajar yang dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungan, khususnya keluarga. Bandura . melalui Social Learning Theory menjelaskan bahwa anak belajar perilaku sosial melalui observasi, modeling dan proses kognitif seperti perhatian, retensi, reproduksi, dan motivasi. Konsep reciprocal determinism menunjukkan bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh interaksi dinamis antara faktor pribadi, lingkungan sosial dan perilaku itu sendiri. Bowlby . menekankan pentingnya keterikatan emosional antara anak dan orang tua sebagai dasar pembentukan hubungan sosial yang sehat. Bronfenbrenner . melalui Ecological Systems Theory menyoroti pengaruh sistem keluarga sebagai lingkungan mikro yang paling dekat dengan anak. Erikson . juga menegaskan bahwa dukungan orang tua berperan penting dalam membentuk inisiatif dan kepercayaan diri anak pada tahap perkembangan sosial-emosional. Penelitian terbaru memperkuat teori klasik ini. Rachman. Sumarwan. Latifah dan Herawati . melalui tinjauan sistematis menemukan bahwa dukungan emosional orang tua berperan sebagai faktor protektif terhadap gangguan sosial-emosional Yong. Lin. Toh dan Marsh . menegaskan bahwa anak usia 11Ae15 tahun di Asia keterampilan sosial dan regulasi emosi yang sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi keluarga. Pola Asuh dan Interaksi Orang Tua-Anak Baumrind . mengklasifikasikan pola asuh menjadi autoritatif, otoriter, permisif dan neglectful. Pola asuh autoritatif yang menggabungkan kehangatan dan batasan yang jelas, terbukti mendukung perkembangan kepercayaan diri dan keterampilan sosial anak. Darling dan Steinberg . menambahkan bahwa pola asuh berfungsi sebagai konteks yang memengaruhi internalisasi nilai sosial dan pengendalian diri. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Penelitian terbaru menunjukkan konsistensi dengan teori tersebut. Alfi. Krisnatuti dan Defina . menemukan bahwa remaja dengan pola asuh autoritatif memiliki keterampilan sosial lebih tinggi dibandingkan dengan pola asuh permisif atau Regina dan Hidayat . menegaskan bahwa pola asuh autoritatif pada anak usia dini di Kendari berhubungan dengan perilaku sosial yang lebih adaptif. Louw. , & Rahmatulloh. menyoroti bahwa pola asuh keluarga Gen-Z di Lampung memengaruhi perilaku sosial mahasiswa menunjukkan relevansi lintas generasi. Komunikasi Emosional dan Keterlibatan Orang Tua Komunikasi emosional yang terbuka, empatik dan penuh kehangatan memungkinkan anak merasa dihargai, didengar dan dipahami. Penelitian Putnick dkk . menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam aktivitas sehari-hari meningkatkan kemampuan komunikasi dan empati anak. Penelitian terbaru menegaskan hal tersebut. Syafira. Anggraini, dan Rahmi . menemukan bahwa kualitas hubungan orang tua-anak berhubungan langsung dengan kemampuan berempati anak usia sekolah Kusuma. Dimyati, dan Harun . menekankan bahwa perhatian orang tua terhadap keterampilan sosial anak selama pandemi Covid-19 berperan sebagai faktor protektif terhadap risiko gangguan mental. Shafira Zein. Maulidiya Juniar. Fadillah, dan Syarif Hidayatullah . juga berhubungan dengan kemampuan sosial-emosional anak usia dini. Pengaruh Lingkungan Sosial dan Teknologi Selain faktor internal keluarga, lingkungan sosial dan perkembangan teknologi turut memengaruhi kualitas interaksi orang tua-anak. Bronfenbrenner . menekankan bahwa sistem ekologi yang lebih luas, seperti komunitas dan teman sebaya, berperan dalam perkembangan sosial anak. Penelitian terbaru menyoroti tantangan era digital. Salisah. Darmiyanti dan Arifudin . menegaskan penggunaan teknologi yang tidak terarah dapat mengurangi kualitas interaksi keluarga, namun jika diarahkan secara bijak dapat mendukung pembentukan karakter anak generasi Alpha. Tejada . menekankan bahwa interaksi orang tua-anak yang sehat menjadi faktor utama mengembangkan regulasi emosi dan keterampilan sosial remaja di tengah pengaruh teknologi. Sintesis teori klasik dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa perkembangan sosial anak usia 11Ae15 tahun dipengaruhi oleh tiga faktor utama . Kualitas komunikasi emosional dan keterlibatan orang tua, . Pola asuh yang diterapkan dan . Pengaruh lingkungan sosial serta teknologi. Dengan demikian, penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa interaksi orang tua-anak merupakan proses timbal balik yang kompleks, yang perlu dikaji secara kualitatif dalam konteks budaya Indonesia. Perkembangan sosial anak usia 11Ae15 tahun merupakan fase kritis yang dipengaruhi oleh kualitas interaksi dengan orang tua. Teori klasik seperti Social Learning Theory Bandura . Attachment Theory Bowlby . Ecological Systems Theory Bronfenbrenner . , serta tahapan psikososial Erikson . menegaskan bahwa pembelajaran sosial, keterikatan emosional dan dukungan keluarga menjadi fondasi utama pembentukan perilaku sosial anak. Pola asuh autoritatif yang dikemukakan Baumrind . dan diperluas oleh Darling dan Steinberg . juga terbukti mendukung perkembangan keterampilan sosial dan regulasi diri. Penelitian mutakhir memperkuat relevansi teori Rachman. Sumarwan. Latifah dan Herawati . menunjukkan bahwa dukungan emosional orang tua berperan sebagai faktor protektif terhadap gangguan sosial-emosional Yong. Lin. Toh dan Marsh . menegaskan bahwa anak usia 11Ae15 tahun keterampilan sosial dan regulasi emosi yang sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi keluarga. Temuan Alfi. Krisnatuti dan Defina . Syafira. Anggraini dan Rahmi . , serta Kusuma. Dimyati dan Harun . menegaskan bahwa interaksi positif orang tuaAeanak berhubungan langsung dengan empati, keterampilan sosial dan kesehatan mental anak. Sintesis teori klasik dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa perkembangan sosial anak usia 11Ae15 tahun dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu kualitas komunikasi emosional dan keterlibatan orang tua, pola asuh yang diterapkan, serta pengaruh lingkungan sosial dan teknologi. Namun, sebagian besar penelitian masih bersifat kuantitatif dan berfokus pada outcome perilaku yang Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan untuk mengisi celah tersebut dengan pendekatan kualitatif, guna menggali dinamika komunikasi emosional dan pola interaksi orang tuaAeanak dalam Indonesia religius dan kolektif. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 METODE Penelitian ini menggunakan Pendekatan Kualitatif dengan Metode Studi Kasus. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggali secara mendalam dinamika interaksi antara orang tua dan anak serta dampaknya terhadap perilaku sosial anak usia 11Ae15 tahun. Studi kasus memungkinkan peneliti menangkap makna, pengalaman dan konteks sosial secara holistik, sehingga fenomena yang kompleks dapat dipahami secara lebih komprehensif dalam kehidupan keluarga. Subjek penelitian . terdiri dari tiga keluarga, masing-masing terdiri dari 1 anak, 1 ayah dan 1 ibu yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria yang relevan dengan tujuan penelitian. Kriteria tersebut meliputi 1 anak . alam 1 keluarg. yang berada dalam rentang usia 11Ae15 tahun dengan keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, serta kesediaan keluarga untuk persetujuan melalui informed consent. Selain itu, variasi latar belakang pekerjaan orang tua juga menjadi pertimbangan agar penelitian dapat memperkaya data dan menangkap dinamika interaksi dalam konteks yang beragam. Secara lebih rinci, sesuai dengan tabel 1, kriteria subjek penelitian berikut. Tabel 1. Kriteria Subjek Penelitian (Partisipa. Inisial/Usia Anak Ayah Ibu Pendidikan Pekerjaan Ayah Ibu Tempat Keluarga 1 Keluarga 2 Keluarga 3 I/12 tahun K/40 tahun MI/33 tahun 6 SD A/11 tahun S/ 48 tahun R/42 tahun 5 SD C/15 tahun U/ 40 tahun MC/37 tahun 3 SMP Karyawan Pedagang Pengasuh Pondok Pabrik/petani Pesantren Ibu Rumah Ibu Rumah Ibu Rumah Tangga Tangga Tangga Karawang. Madura. Boyolali. Jawa Jawa Barat Jawa Timur Tengah Penelitian dilakukan di Karawang (Jawa Bara. Madura (Jawa Timu. dan Boyolali (Jawa Tenga. Pemilihan lokasi didasarkan pada kedekatan peneliti dengan konteks sosial-budaya setempat, sehingga memudahkan akses dan meningkatkan akurasi interpretasi data. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 9 subjek penelitian . terdiri dari anak, ayah dan ibu dari tiga keluarga yang dilaksanakan pada 18-20 mei 2025. Wawancara dilaksanakan secara terpisah dengan durasi 45Ae60 menit/ menggunakan pedoman semiterstruktur yang memuat tema hubungan emosional, aktivitas harian, pengambilan keputusan, pola asuh dan hubungan sosial anak, untuk menjaga independensi jawaban, wawancara anak dilakukan terlebih dahulu, kemudian ibu dan terakhir ayah. Data yang diperoleh diintegrasikan melalui triangulasi sumber dengan membandingkan jawaban anak, ibu dan ayah pada tema yang sama. Proses integrasi dilakukan dengan menyusun matriks tematik yang menempatkan perspektif setiap anggota keluarga dalam kolom berbeda, sehingga titik temu maupun perbedaan dapat terlihat secara Hasil analisis kemudian ditulis dalam bentuk narasi keluarga yang utuh, sehingga dinamika interaksi tidak hanya dipahami dari satu sudut pandang, melainkan sebagai proses multidimensi yang mencerminkan hubungan emosional, komunikasi dan nilai keluarga secara menyeluruh. Peneliti berperan sebagai instrumen utama . uman instrumen. yang terlibat langsung dalam proses pengumpulan dan analisis data. Instrumen bantu yang digunakan meliputi pedoman wawancara, formulir informed consent, alat perekam audio, serta catatan lapangan. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dengan melibatkan anak, ayah dan ibu. triangulasi teknik dengan menggabungkan wawancara dan dokumentasi serta member checking untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti sesuai dengan pengalaman subjek. Data dianalisis menggunakan pendekatan tematik, yang melibatkan tiga tahap utama, . Reduksi data untuk menyaring informasi relevan, . Penyajian data dalam bentuk narasi deskriptif dan kategori tematik, serta . Penarikan kesimpulan secara reflektif (Miles dan Huberman, 2. yaitu mengaitkan temuan lapangan dengan teori klasik Bandura. Bowlby. Bronfenbrenner. Erikson, serta untuk memperkaya analisis, temuan ini dikaitkan dengan penelitian internasional dan nasional terbaru . dari referensi open access. Integrasi penelitian terbaru ini memberikan konteks yang lebih luas dan memperkuat validitas kesimpulan yang ditarik dari data lapangan. Dengan demikian, analisis ini tidak hanya mendalam tetapi juga relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan terkini. Penelitian ini memperhatikan prinsip etika penelitian kualitatif dengan menjaga kerahasiaan identitas informan melalui penggunaan kode, serta Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 memastikan data hanya digunakan untuk kepentingan akademik. Seluruh subjek penelitian . memberikan persetujuan penuh melalui informed consent, termasuk izin rekaman wawancara dan hak untuk menghentikan partisipasi kapan saja tanpa konsekuensi. Data disimpan secara aman dan tidak disebarkan di luar konteks Prosedur ini dilakukan untuk menjamin integritas ilmiah sekaligus melindungi hak dan privasi subjek penelitian . HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan dalam bab ini tidak hanya menyajikan temuan lapangan, tetapi juga mengaitkannya dengan Bandura. Bowlby. Bronfenbrenner. Erikson. Baumrind dan Darling & Steinberg sebagai teori dasar, serta diperkuat dengan penelitian mutakhir. Dengan demikian, hasil penelitian dapat ditafsirkan secara reflektif untuk menunjukkan bagaimana interaksi orang tuaAeanak berperan dalam membentuk perilaku sosial anak pada masa transisi menuju remaja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tiga keluarga dengan latar belakang berbeda yaitu buruh pabrik dan petani di Karawang, pedagang di Madura, serta pengasuh pondok pesantren di Boyolali, diperoleh gambaran mendalam mengenai dinamika interaksi orang tua dan anak usia 11Ae15 tahun, ditemukan lima tema utama yang secara langsung menjawab rumusan masalah penelitian ini, yaitu bagaimana bentuk interaksi orang tua dan anak berkontribusi terhadap pembentukan perilaku sosial anak usia 11Ae15 tahun. Kelima tema tersebut meliputi, . Hubungan emosional antara orang tua dan anak, . Aktivitas harian dan kebersamaan keluarga, . Pengambilan keputusan dalam keluarga, . Pola asuh dan nilai-nilai keluarga, serta . Hubungan sosial anak. Masing-masing tema diuraikan secara naratif untuk menggambarkan dinamika interaksi yang khas dalam setiap keluarga. Hubungan Emosional Orang tua-Anak Hubungan emosional adalah ikatan afektif antara orang tua dan anak yang ditandai oleh kelekatan, rasa aman dan keterbukaan dalam komunikasi, sebagaimana Bowlby . menegaskan bahwa kelekatan aman . ecure attachmen. mendorong anak untuk lebih percaya diri dalam menjalin relasi sosial, sedangkan kelekatan tidak aman berpotensi menimbulkan masalah perilaku. Penelitian mutakhir juga menegaskan hal ini. Zhu. Deng dan Wan . melalui meta-analisis menemukan bahwa kualitas hubungan emosional orang tuaAeanak berpengaruh langsung terhadap perilaku digital anak, termasuk Dengan demikian hubungan emosional bukan hanya memengaruhi relasi tatap muka, tetapi juga perilaku anak dalam ruang digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hubungan emosional yang sehat ditandai oleh kehangatan, empati dan konsistensi. Sehingga hubungan emosional antara anak dan orang tua merupakan fondasi utama dalam pembentukan perilaku sosial anak. Berdasarkan hasil wawancara terhadap tiga keluarga dengan latar belakang berbeda, ditemukan bahwa kualitas hubungan emosional sangat dipengaruhi oleh pola komunikasi, bentuk apresiasi, serta harapan relasional yang dimiliki masing-masing anggota keluarga. Temuan di lapangan pada keluarga pertama, anak menunjukkan kecenderungan tertutup secara Ia menyatakan. AuSama temenA tapi nggak nyaman dua-duanyaAy (I, . , dan ketika ditanya apakah lebih memilih memendam perasaan, ia menjawab sambil tersenyum kecil. AuIya. Ay Sikap ini mencerminkan minimnya ruang aman untuk mengekspresikan emosi. Sang ayah mengakui. AuSaya lebih senang anak saya ngaji daripada cerita ngalor ngidulAy (K, . , sementara ibu berusaha membuka komunikasi, namun mengakui bahwa respons anak sering terbatas: AuKadang buat dulu hatinya senang biar dia ngomongA tapi dijawabnya hanya sebatas keperluanAy (MI, . Keluarga kedua, pola komunikasi cenderung satu Anak hanya berbicara jika dipancing. Ibu menyampaikan. AuKadang dibujuk, kadang nggak mauA kadang anaknya bicara sendiriAy (R, . , sementara ayah menambahkan. AuKalau nggak diajak ngomong, nggak ngomongAy (S, . Ketika ditanya apakah kebutuhan emosional anak sudah terpenuhi, ibu menjawab. AuNggak tau, soalnya anaknya Ay Hubungan emosional dalam keluarga ini tampak dangkal dan tidak berkembang secara alami. Sebaliknya, hubungan emosional yang sehat dan terbuka. Ayah menyatakan. AuKadang nggak usah ditanya, dia cerita Meskipun lebih terbuka ke ibunyaAy (U, . Ibu menekankan pentingnya kedekatan sejak dini: AuKalau sejak kecil anak sudah merasa dekat dan nyaman, insya Allah dia akan terbukaAy (MC, . Dalam keluarga ini, keterbukaan emosi dibangun melalui komunikasi intens, sentuhan afektif, dan pembagian peran yang seimbang antara ayah dan Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Berdasarkan sisi apresiasi dan dukungan, keluarga pertama menunjukkan pola penguatan yang terbatas. Ayah menyatakan. AuKalau mau dikasih pujian, pencapaiannya apa yaA nggak adaAy (K, . Anak pun menegaskan. AuNggak dikasih apa-apa. Ay Keluarga kedua menunjukkan pola serupa, dengan ayah berkata. AuCuma doa,Ay dan ibu menambahkan. AuCuma kasih ciuman. Ay Sebaliknya, keluarga ketiga memberikan apresiasi secara verbal dan simbolik. Ibu menyatakan. AuSekecil apapun, berusaha dirayakan walaupun sederhana,Ay dan ayah menambahkan. AuSeringnya secara verbalAy (U, . Praktik ini memperkuat perilaku positif anak dan membentuk rasa dihargai. Terkait harapan relasi ideal, anak dari keluarga pertama menginginkan hubungan yang lebih hangat dan bersahabat dengan orang tua, seperti Auteman. Ay Ayah menekankan nilai kejujuran: AuYang penting nggak ada dusta di antara kitaAy (K, . Di keluarga kedua, ketiga anggota berharap hubungan lebih dekat, namun belum ada strategi khusus. Sementara itu, keluarga ketiga menunjukkan harapan yang lahir dari relasi yang sudah kuat. Anak menyatakan. AuUdah deket sih, tapi biar lebih dekat lagi,Ay dan orang tua berharap hubungan keluarga menjadi bagian dari nilai spiritual dan dakwah. tua mendukung perkembangan sosial-emosional anak di Indonesia. Sejalan dengan itu. Rachman. Sumarwan. Latifah dan Herawati . menemukan bahwa dukungan emosional orang tua berperan sebagai faktor protektif terhadap gangguan sosial-emosional Yong. Lin. Toh, dan Marsh . menegaskan bahwa kualitas interaksi keluarga memengaruhi regulasi emosi anak usia 11Ae15 tahun. Alfi. Krisnatuti dan Defina . menunjukkan bahwa interaksi positif orang tuaAeremaja meningkatkan empati dan keterampilan sosial. Temuan ini konsisten dengan keluarga ketiga yang menunjukkan praktik komunikasi intens dan apresiasi verbal sebagai faktor penguat keterbukaan Selain itu, penelitian Putnick dkk. dalam konteks lintas budaya menegaskan bahwa penerimaan orang tua berhubungan dengan perilaku prososial anak. Hal ini tercermin dalam keluarga ketiga, anak merasa dihargai dan didukung, sehingga lebih terbuka dan prososial. Sebaliknya, keluarga pertama dan kedua menunjukkan keterbatasan dalam memberikan penguatan, sehingga anak kurang merasa dihargai. Data lapangan menunjukkan perbedaan kualitas kelekatan emosional antar keluarga. Anak dari keluarga pertama cenderung menutup diri, keterbukaan komunikasi. Temuan ini sejalan dengan teori Attachment Bowlby . yang menekankan keterikatan aman terbentuk melalui responsivitas orang tua terhadap kebutuhan emosional anak. Minimnya validasi emosional pada keluarga pertama dan kedua mencerminkan pola insecure attachment yang menurut penelitian Zhu. Deng dan Wan . berhubungan dengan kesulitan regulasi emosi di era digital. Sebaliknya keterbukaan keluarga ketiga menunjukkan secure attachment yang mendukung kepercayaan diri anak dalam relasi Hasil temuan ini menunjukkan bahwa hubungan emosional orang tuaAeanak menjadi fondasi utama pembentukan perilaku sosial anak usia 11Ae15 tahun. Keterbukaan emosi anak sangat dipengaruhi oleh pola komunikasi, bentuk apresiasi dan harapan relasional dalam keluarga. Anak yang tumbuh dalam interaksi hangat, demokratis dan penuh apresiasi cenderung lebih percaya diri, empatik, serta adaptif, sedangkan anak yang kurang mendapat validasi emosional menunjukkan kecenderungan tertutup dan defensif. Dengan demikian, interaksi orang tuaAe anak harus dipahami sebagai proses multidimensi yang melibatkan kelekatan, modeling dan dukungan sosial, serta menjadi strategi efektif dalam sosialemosional remaja awal. Bandura . melalui Social Learning Theory mengekspresikan emosi melalui observasi dan Ketika orang tua menunjukkan komunikasi hangat dan apresiatif, anak meniru pola tersebut dalam interaksi sosial. Sebaliknya, pola komunikasi yang dingin atau satu arah cenderung menghasilkan anak yang pendiam dan defensif. Temuan ini diperkuat Supriyadi dan Maesyaroh . menemukan bahwa pola asuh hangat orang Aktivitas Harian dan Kebersamaan Keluarga Aktivitas harian dan kebersamaan adalah rutinitas fisik maupun interaksi sosial yang dilakukan keluarga secara konsisten. Vygotsky . menekankan bahwa interaksi sehari-hari berfungsi sebagai scaffolding, anak belajar keterampilan sosial dan kognitif melalui bimbingan orang tua. Kebersamaan yang berkualitas, seperti makan bersama atau kegiatan religius, memperkuat rasa memiliki dan keterhubungan emosional. Hosokawa. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Tomozawa dan Katsura . menambahkan bahwa rutinitas keluarga yang konsisten, seperti makan bersama atau kegiatan religius, berhubungan dengan perilaku anak yang lebih stabil dan kesejahteraan psikososial yang lebih baik. Kebersamaan yang berkualitas memperkuat rasa memiliki dan keterhubungan emosional dalam Aktivitas harian dan kebersamaan keluarga menjadi aspek penting dalam membentuk relasi emosional dan pembelajaran sosial anak. Berdasarkan hasil wawancara, ketiga keluarga menunjukkan pola yang berbeda dalam hal kehadiran fisik, jenis aktivitas bersama dan manajemen waktu keluarga. Temuan lapangan keluarga pertama menghadapi tantangan besar dalam hal kebersamaan fisik. Sang ayah bekerja dengan ritme yang padat. AuSaya nggak pulang dua, tiga hari. Tidur di masjid pabrik sampai siang, bada dzuhur ke sawah, sampai maghrib balik lagi ke pabrikAy (K, . Ketika berada di rumah, interaksi dengan anak lebih difokuskan pada kegiatan belajar agama, khususnya hafalan AlQurAoan: AuSuruh ngapal ajaA sampai malam jam 11, apalagi kalau salahnya banyakAy (K, . Aktivitas ini dilakukan dengan tekanan tinggi dan minim kehangatan emosional. Sementara itu, ibu lebih sering bersama anak sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan usaha jualan makanan ringan. Anak kadang membantu membereskan rumah atau menjaga adik, namun tidak banyak momen kebersamaan yang bersifat reflektif atau Keluarga kedua juga menunjukkan keterbatasan dalam kebersamaan fisik. Ayah bekerja sebagai pedagang pentol keliling dan hanya memiliki waktu luang di akhir pekan: AuCuma Sabtu MingguA sampai malam jam sembilanAy (S, . Aktivitas bersama anak cenderung sederhana dan spontan. Anak menyebut bahwa kegiatan favoritnya adalah Aumain tebak-tebakanAy, sementara ibu menyebut. AuSuruh buatin mainanAy (R, . Ayah menggambarkan momen favoritnya dengan anak sebagai interaksi ringan: AuFavorit anak-anak paling minta duit jajanAy (S, . Interaksi ini menunjukkan bahwa kedekatan dibangun melalui humor dan kebutuhan praktis, bukan melalui kegiatan yang mendalam secara emosional. Keluarga ketiga menunjukkan pola kebersamaan yang lebih terstruktur dan bermakna. Meskipun anak tinggal di pesantren dan waktu bersama terbatas, orang tua berkomitmen untuk membangun interaksi yang berkualitas. Aktivitas rutin seperti kajian kitab dan tilawah dilakukan setiap malam setelah Ayah menyampaikan. AuBiasanya habis maghrib ada kesepakatan, nggak boleh ada HP Ngaji bersama, motivasi, nanya keadaan satu per satuAy (U, . Pola ini menunjukkan adanya struktur waktu keluarga yang mendukung pembentukan nilai spiritual sekaligus memperkuat relasi emosional. Keluarga pertama lebih menekankan kepatuhan, sedangkan keluarga ketiga menyeimbangkan ketegasan dengan kehangatan. Hal ini konsisten dengan klasifikasi Baumrind . , pola otoriter menghasilkan anak patuh tetapi tertutup, sementara pola autoritatif mendorong kemandirian dan adaptasi sosial. Data lapangan memperkuat teori tersebut, anak dari keluarga ketiga lebih percaya diri dan terbuka, sesuai dengan temuan Alfi. Krisnatuti dan Defina . bahwa pola asuh autoritatif meningkatkan keterampilan sosial remaja. Integrasi nilai spiritual dalam keluarga ketiga juga memperluas konsep Baumrind dengan konteks budaya Indonesia, menunjukkan bahwa religiusitas dapat menjadi faktor protektif dalam pembentukan perilaku sosial. Hal ini sejalan dengan teori ekologi perkembangan Bronfenbrenner . yang menekankan bahwa interaksi dalam microsystem keluarga menjadi faktor utama pembentukan perilaku sosial anak. Ketika orang tua hadir secara konsisten dalam aktivitas harian, anak memperoleh rasa aman dan keterhubungan yang lebih kuat. Erikson . juga menegaskan bahwa pada tahap remaja awal, anak membutuhkan dukungan relasi untuk membangun identitas sosial yang sehat. Penelitian mutakhir mendukung temuan ini. Studi oleh Fegter dan Richter . menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam aktivitas sehari-hari meningkatkan keterampilan sosial anak, meskipun waktu bersama terbatas. Penelitian oleh Yong dkk. menekankan bahwa kualitas interaksi keluarga lebih berpengaruh terhadap regulasi emosi anak dibandingkan durasi kebersamaan semata. Hasil temuan ini menegaskan bahwa aktivitas harian dan kebersamaan keluarga merupakan fondasi penting dalam pembentukan relasi emosional dan keterampilan sosial anak usia 11Ae15 tahun. Keluarga pertama dan kedua menghadapi keterbatasan waktu akibat tuntutan pekerjaan sehingga interaksi lebih bersifat fungsional dan minim refleksi emosional. Sebaliknya, keluarga ketiga menunjukkan bahwa Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 kualitas waktu lebih berpengaruh daripada kuantitas, dengan rutinitas terstruktur seperti kajian kitab dan tilawah yang memperkuat nilai spiritual sekaligus kedekatan emosional. Pengambilan Keputusan dalam Keluarga Pengambilan keputusan adalah proses menentukan pilihan dalam keluarga yang melibatkan peran orang tua dan anak. Menurut Bronfenbrenner . , keputusan keluarga dipengaruhi oleh sistem mikro . ubungan langsung orang tuaAeana. dan makro . ilai buday. Pola demokratis yaitu anak dilibatkan dalam diskusi, meningkatkan rasa tanggung jawab dan keterampilan sosial. Bosch. Siebel. Heiser, dan Inhestern . melalui tinjauan sistematis menunjukkan bahwa intervensi yang melibatkan anak dalam proses pengambilan keputusan meningkatkan partisipasi, rasa tanggung jawab dan keterampilan sosial mereka. Pengambilan keputusan dalam keluarga merupakan cerminan dari dinamika kekuasaan, partisipasi anak, serta nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga keluarga memiliki pendekatan yang berbeda dalam melibatkan anak, baik dalam keputusan sehari-hari maupun dalam hal yang lebih prinsipil. Keluarga pertama, keputusan keluarga sepenuhnya didominasi oleh ayah. Anak menyebut. AuAbah. Ay (I, . sebagai penentu utama dan ayah menegaskan. AuKalau anak mau ngomong ya silakan, tapi tetap harus dalam batasan Allah dan Rasul-Nya. Ay (K, . Ibu berusaha lebih fleksibel dengan menyatakan. AuKadang saya tanya dulu anaknya, tapi kalau sudah diputuskan ya ikut. Ay (MI, . , namun tetap mengikuti keputusan suami. Pola ini menunjukkan bahwa anak tidak memiliki ruang diskusi yang cukup, sehingga partisipasi terbatas dan nilai yang ditekankan lebih normatif serta otoritatif. Keluarga kedua, pola pengambilan keputusan lebih terbuka, meski belum sepenuhnya partisipatif. Anak menyatakan. AuKalau sama ibu kadang ditanya, tapi nggak sering. Ay (A, . Ibu berusaha melibatkan anak dalam hal-hal kecil, seperti memilih makanan atau kegiatan akhir pekan, dengan mengatakan. AuKadang saya tanya, kamu mau makan apa, atau mau main apa. Ay (R, . Namun ayah lebih pasif dan cenderung mengambil keputusan sendiri. AuKalau saya sih langsung aja, nggak nanya-nanya. Ay (S, . Pola ini menunjukkan adanya upaya melibatkan anak, tetapi belum menjadi kebiasaan konsisten, sehingga keputusan masih cenderung sepihak. Berbeda dengan keduanya, keluarga ketiga menunjukkan pola pengambilan keputusan yang lebih demokratis dan berbasis nilai. Anak menyatakan. AuKalau ada sesuatu biasanya dibicarakan dulu, kadang sama ibu dulu, kadang langsung sama ayah. Ay (C, . Ayah menegaskan. AuKita biasa musyawarah, anak juga ditanya Apalagi kalau menyangkut sekolah atau kegiatan dakwah. Ay (U, . Ibu menambahkan. AuKalau anak nggak pernah diajak mikir, nanti nggak bisa mandiri. Ay (MC, . Pola ini menunjukkan adanya musyawarah keluarga yang menanamkan nilai tanggung jawab, kepercayaan dan keterlibatan anak dalam proses pengambilan keputusan. Secara keseluruhan, pengambilan keputusan dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh gaya komunikasi dan sistem nilai yang dianut orang tua. Keluarga pertama menunjukkan pola otoriter yang menekankan kepatuhan tanpa ruang diskusi, keluarga kedua berada di antara otoriter dan permisif dengan keterlibatan terbatas, sementara keluarga ketiga menerapkan pendekatan partisipatif yang mendukung perkembangan kognitif dan sosial anak. Partisipasi anak dalam pengambilan keputusan tidak hanya membentuk rasa percaya diri, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran sosial yang penting dalam membangun relasi yang sehat dan bertanggung jawab di masa depan. Aktivitas ini tidak hanya memperkuat nilai spiritual, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kelekatan emosional dan komunikasi terbuka. Manajemen waktu pada keluarga pertama dan kedua belum memiliki struktur yang mendukung interaksi Kesibukan orang tua menjadi hambatan Ibu dari keluarga pertama menyatakan. AuKarena anak tiga ituA aktivitasnya beda-beda, nggak sama. Ay (MI, . Ayah menegaskan bahwa tanggung jawab utama adalah pekerjaan. AuKalau pabrik itu kan prioritas. Ay (K, . Di keluarga kedua, waktu bersama bergantung pada jadwal kerja ayah dan tidak ada rutinitas khusus yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Sebaliknya, keluarga ketiga menunjukkan pengelolaan waktu yang lebih Kesepakatan untuk tidak menggunakan HP saat waktu keluarga, serta rutinitas kajian dan tilawah, menunjukkan adanya struktur yang mendukung pembentukan nilai dan relasi. Anak merasa dihargai dan diperhatikan, meskipun waktu bersama tidak selalu panjang. Temuan ini sejalan dengan teori Baumrind . dan Darling & Steinberg . , yang menekankan bahwa pola autoritatif . angat namun tega. paling Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 efektif dalam membentuk kompetensi sosial dan regulasi diri. Erikson . juga menegaskan bahwa pada tahap remaja awal, anak membutuhkan dukungan relasi yang memberi ruang eksplorasi Penelitian terbaru memperkuat temuan ini. Khofifah. Alfiasari, dan Islamiah . menunjukkan bahwa gaya pengasuhan berbasis emosi berpengaruh pada kontrol diri, empati dan kompetensi moral remaja. Sutaria . menegaskan bahwa gaya pengasuhan berdampak langsung pada perilaku sosial anak, pola permisif sering menghasilkan anak pasif, sementara pola autoritatif memperkuat keterampilan sosial. UNICEF Indonesia . menekankan pentingnya partisipasi bermakna anak dalam pengambilan keputusan, bukan sekadar formalitas. Liu dkk. menemukan bahwa keterlibatan aktif orang tua dalam keputusan meningkatkan kesejahteraan psikososial remaja. Hasil temuan ini menunjukkan bahwa pola mencerminkan dinamika kekuasaan, partisipasi anak dan nilai yang dianut orang tua. Keluarga pertama menampilkan pola otoriter yang menekankan kepatuhan tanpa ruang diskusi, keluarga kedua berada di antara otoriter dan permisif dengan keterlibatan anak yang terbatas, sedangkan keluarga ketiga menerapkan pola demokratis berbasis nilai yang menumbuhkan tanggung jawab, kepercayaan dan kemandirian anak. Pola Asuh dan Nilai-Nilai Keluarga Pola asuh adalah strategi orang tua dalam mendidik anak, sedangkan nilai-nilai keluarga adalah prinsip moral, religius dan sosial yang ditanamkan. Baumrind . mengklasifikasikan pola asuh menjadi otoriter, permisif dan autoritatif. Pola kehangatan, paling efektif dalam membentuk anak yang mandiri dan adaptif. Nilai keluarga berfungsi sebagai kerangka normatif yang membimbing perilaku anak dalam masyarakat. Penelitian lintas budaya oleh Patil. Gautam dan Jahagirdar . menegaskan bahwa pola autoritatif tetap relevan di berbagai konteks budaya, meskipun nilai keluarga lokal turut memengaruhi praktik pengasuhan. Pola asuh yang diterapkan orang tua membentuk karakter dan nilai sosial anak melalui keseimbangan antara kontrol, kehangatan dan konsistensi aturan. Pada keluarga pertama, pola asuh cenderung otoriter dengan penekanan kuat pada ketaatan religius dan Ayah menjadi figur dominan dalam menetapkan keputusan dan nilai. AuKalau anak mau ngomong ya silakan, tapi tetap harus dalam batasan Allah dan Rasul-NyaAy (K, . Interaksi instruktif tampak dalam praktik murajaah malam hari. AuSuruh ngapal ajaA sampai malam jam 11, apalagi kalau salahnya banyakAy (K, . Ibu berperan lebih lembut namun tetap mengikuti arahan suami. Pola ini menekankan kepatuhan, tetapi anak kurang mengekspresikan diri. Dinamika ini sesuai dengan temuan Baumrind . bahwa pola otoriter menghasilkan kepatuhan jangka pendek, tetapi membatasi inisiatif dan kepercayaan diri anak. Keluarga kedua menunjukkan pola permisif yang memberi kebebasan pada anak dalam hal-hal kecil tanpa batasan yang tegas. Anak menyatakan. AuAku boleh main sampai malam, asal bilang aja. Kadang orang tua nggak nanya-nanya jugaAy (A, . Ibu hanya memberi arahan jika diperlukan. AuKadang saya biarin aja, asal dia tahu batasnyaAy (R, . , sedangkan ayah lebih banyak berinteraksi dalam konteks humor atau kebutuhan praktis. Kebebasan ini tidak diimbangi struktur atau penguatan nilai yang konsisten, sehingga anak kurang mendapatkan rambu yang jelas untuk menilai konsekuensi Sutaria . menegaskan bahwa pola permisif sering menghasilkan anak yang pasif dan kurang terlatih dalam mengelola perilaku sosial. Berbeda dari keduanya, keluarga ketiga menerapkan pola autoritatif yang menyeimbangkan ketegasan dan kehangatan emosional. Ayah dan ibu berbagi peran secara sadar. AuYang lembut-lembut bagian ibunya, yang tegas biar sayaAy (U, . , serta menekankan kedekatan afektif sejak dini. Ibu menegaskan. AuDekat nggak cuma dari segi fisik aja, tapi dari segi mental, hati semua dipenuhi. Seperti banyak memeluk, banyak membelai, itu nanti akan terasa sampai besarAy (MC, . Nilai tanggung jawab, spiritualitas dan kelekatan emosional ditanamkan melalui interaksi harian dan rutinitas religius keluarga. Pola ini sesuai dengan temuan Darling dan Steinberg . yang menegaskan bahwa pola autoritatif paling efektif dalam membentuk kompetensi sosial dan regulasi diri. Penelitian Khofifah. Alfiasari dan Islamiah . juga menunjukkan bahwa gaya pengasuhan berbasis emosi memperkuat kontrol diri, empati dan kompetensi moral remaja. Secara keseluruhan, dinamika pola asuh ini berdampak langsung pada perkembangan anak. Pola otoriter pada keluarga pertama menumbuhkan kepatuhan, tetapi membatasi kepercayaan diri dan inisiatif anak. Pola permisif pada keluarga kedua Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 internalisasi nilai dan kontrol diri. Pola autoritatif pada keluarga ketiga menyeimbangkan kontrol dan kehangatan, sehingga anak lebih mandiri, empatik, dan terampil secara sosial. Temuan ini konsisten dengan penelitian Alfi. Krisnatuti dan Defina . , yang menegaskan bahwa interaksi positif orang tuaAeremaja meningkatkan empati dan keterampilan sosial, serta Rachman. Sumarwan. Latifah dan Herawati . , yang menunjukkan bahwa dukungan emosional orang tua berperan sebagai faktor protektif terhadap gangguan sosialemosional remaja. Penelitian internasional oleh Yong. Lin. Toh dan Marsh . juga menekankan bahwa kualitas interaksi keluarga lebih berpengaruh terhadap regulasi emosi anak dibandingkan durasi kebersamaan semata. Hasil temuan ini menegaskan bahwa pola asuh dan nilai-nilai keluarga berperan langsung dalam membentuk karakter, kepercayaan diri dan keterampilan sosial anak usia 11Ae15 tahun. Keluarga pertama dengan pola otoriter menekankan kepatuhan normatif dan disiplin religius, namun membatasi ruang dialog sehingga anak cenderung patuh tetapi kurang percaya diri. Keluarga kedua dengan pola permisif memberi kebebasan tanpa struktur yang jelas, sehingga anak kurang memiliki kontrol diri dan internalisasi nilai. Sebaliknya, menyeimbangkan ketegasan, kehangatan dan nilai empatik dan adaptif. Hubungan Sosial Anak Hubungan sosial anak adalah kemampuan anak untuk berinteraksi, beradaptasi dan membangun relasi dengan teman sebaya maupun lingkungan Erikson . menekankan bahwa masa remaja adalah tahap pencarian identitas, hubungan sosial menjadi arena penting untuk menguji peran dan nilai diri. Anak yang memiliki dukungan emosional keluarga lebih mampu membangun hubungan sosial yang sehat dan produktif. Kong. Su. Wang, dan Jia . menunjukkan bahwa kualitas hubungan orang tuaAeanak, tekanan belajar dan penggunaan gawai berpengaruh terhadap gejala depresi pada anak sekolah dasar, menegaskan bahwa hubungan sosial anak tidak dapat dipisahkan dari dinamika keluarga dan faktor eksternal. Hubungan sosial anak mencerminkan hasil dari proses interaksi yang berlangsung di dalam Kualitas relasi anak dengan teman sebaya, kemampuan beradaptasi dan kepercayaan diri dalam lingkungan sosial sangat dipengaruhi oleh pola komunikasi, apresiasi dan keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak. Pada Keluarga pertama, anak menunjukkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Ketika ditanya tentang kenyamanan berbicara dengan teman, ia menjawab. AuSama temenA tapi nggak nyaman dua-duanya. Ay (I, . Jawaban ini menunjukkan bahwa anak tidak hanya tertutup terhadap orang tua, tetapi juga terhadap teman Minimnya dukungan emosional dan apresiasi dari orang tua, serta interaksi yang bersifat instruktif dan menekan, tampaknya berdampak pada rendahnya rasa percaya diri anak dalam menjalin hubungan sosial. Anak lebih banyak memendam perasaan dan tidak memiliki model komunikasi yang bisa ditiru dalam membangun relasi sosial yang Temuan ini sejalan dengan Bowlby . yang menekankan bahwa keterikatan emosional yang aman menjadi dasar bagi kemampuan anak menjalin relasi sosial. Keluarga kedua menunjukkan pola hubungan sosial yang pasif. Anak tidak secara eksplisit menyatakan kesulitan dalam bergaul, namun orang tua mengakui bahwa anak cenderung pendiam dan tidak suka diajak bicara: AuNggak seneng diajak omongAy (R. Ayah menambahkan. AuKalau nggak diajak ngomong, nggak ngomongAy (S, . Meskipun tidak ada indikasi penolakan sosial, anak tampak belum memiliki keterampilan sosial yang aktif. Minimnya komunikasi terbuka dan apresiasi dari orang tua membuat anak kurang terbiasa mengekspresikan diri, yang berpotensi menghambat kemampuan adaptasi sosial di luar rumah. Penelitian Rachman. Sumarwan. Latifah dan Herawati . menunjukkan bahwa dukungan emosional orang tua berperan sebagai faktor protektif terhadap gangguan sosial-emosional remaja, sehingga minimnya dukungan dapat melemahkan kemampuan anak Berbeda dengan dua keluarga sebelumnya, anak dari keluarga ketiga menunjukkan kemampuan sosial yang lebih matang. Ia merasa nyaman berbicara dengan orang tua dan terbuka terhadap lingkungan: AuKalau ada sesuatu biasanya dibicarakan duluAy (C. Orang tua juga aktif membangun relasi sosial anak melalui kegiatan bersama, seperti kajian keluarga dan interaksi dengan komunitas pesantren. Ayah menyatakan. AuKita biasa musyawarah, anak juga ditanya pendapatnya. Apalagi kalau menyangkut sekolah atau kegiatan dakwahAy (U, . Ibu menambahkan bahwa anak-anaknya tidak memiliki rahasia dan terbuka dalam berbagai hal. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 termasuk akses terhadap media digital: AuPin HP pun saya tahu. Kapanpun mau akses, saya bisaAy (MC. Pola ini menunjukkan bahwa anak memiliki kepercayaan diri, keterbukaan dan kemampuan beradaptasi yang baik dalam lingkungan sosial. Hal ini sejalan dengan temuan Alfi. Krisnatuti dan Defina . , yang menegaskan bahwa interaksi positif orang tuaAeremaja meningkatkan empati dan keterampilan sosial. Penelitian Yong. Lin. Toh dan Marsh . juga menekankan bahwa kualitas interaksi keluarga lebih berpengaruh terhadap regulasi emosi anak dibandingkan durasi kebersamaan semata. Secara keseluruhan, hubungan sosial anak sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi dalam keluarga. Anak yang mendapatkan dukungan emosional, apresiasi dan keterlibatan aktif dari orang tua cenderung memiliki keterampilan sosial yang lebih Keluarga ketiga menunjukkan bahwa pembiasaan komunikasi terbuka, penguatan positif dan partisipasi dalam kegiatan sosial dapat membentuk anak yang percaya diri dan mampu menjalin relasi yang sehat. Sebaliknya, keluarga pertama dan kedua menunjukkan bahwa minimnya interaksi emosional dan apresiasi dapat menghambat perkembangan sosial anak, terutama dalam hal ekspresi diri dan adaptasi terhadap lingkungan luar. Analisa dari kelima tema temuan lapangan dan pembahasan diatas, menegaskan bahwa dinamika keluarga merupakan faktor kunci dalam pembentukan karakter, keterampilan sosial dan kepercayaan diri anak. Tiga keluarga yang diteliti memperlihatkan pola pengasuhan yang berbeda . toriter, menghasilkan dampak yang kontras terhadap perkembangan sosial-emosional anak. Keluarga pertama, pola otoriter dengan dominasi ayah menekankan kepatuhan religius dan disiplin. Anak diarahkan secara instruktif, tetapi minim ruang dialog dan dukungan emosional. Hal ini menciptakan relasi yang kaku, anak patuh namun tertutup dan kurang percaya diri. Dinamika ini sejalan dengan temuan Baumrind . bahwa pola otoriter menghasilkan kepatuhan jangka pendek tetapi membatasi inisiatif dan otonomi anak. Minimnya dukungan afektif juga memperlemah keterikatan emosional yang menjadi dasar relasi sosial sehat (Bowlby, 1. Keluarga kedua, pola permisif memberi kebebasan longgar tanpa struktur yang jelas. Anak memiliki otonomi dalam hal-hal kecil, tetapi kurang mendapatkan arahan dan penguatan nilai yang Akibatnya, anak tampak pasif dan kurang terlatih dalam keterampilan sosial. Sutaria . menegaskan bahwa pola permisif sering menghasilkan anak dengan kontrol diri lemah dan keterampilan sosial terbatas. Minimnya komunikasi terbuka juga mengurangi kesempatan anak untuk belajar mengekspresikan diri, sebagaimana ditunjukkan oleh Rachman. Sumarwan. Latifah dan Herawati . , bahwa dukungan emosional orang tua berperan sebagai faktor protektif terhadap gangguan sosial-emosional remaja. Sebaliknya, pada keluarga ketiga, pola autoritatif kehangatan ibu. Anak dilibatkan dalam musyawarah keluarga, mendapatkan apresiasi dan merasakan kedekatan emosional melalui rutinitas religius. Relasi ini menghasilkan anak yang terbuka, percaya diri dan adaptif. Dinamika ini sesuai dengan temuan Darling dan Steinberg . yang menegaskan bahwa pola autoritatif paling efektif dalam membentuk kompetensi sosial dan regulasi diri. Penelitian Khofifah. Alfiasari dan Islamiah . juga menunjukkan bahwa pengasuhan berbasis emosi memperkuat kontrol diri, empati dan kompetensi moral remaja. Temuan Alfi. Krisnatuti dan Defina . menambahkan bahwa interaksi positif orang tuaAeremaja meningkatkan empati dan keterampilan sosial, sementara Yong. Lin. Toh dan Marsh . menekankan bahwa kualitas interaksi keluarga lebih berpengaruh terhadap regulasi emosi anak dibandingkan durasi kebersamaan semata. Hasil dari penelitian ini secara keseluruhan menunjukkan bahwa dinamika interaksi orang tuaanak melalui komunikasi orang tuaAeanak, keterlibatan emosional, serta faktor internal dan eksternal keluarga merupakan penentu utama dalam pembentukan perilaku sosial anak usia 11Ae15 tahun. Bentuk komunikasi yang instruktif dan minim dialog, sebagaimana terlihat pada keluarga dengan pola otoriter, berdampak menghasilkan anak yang patuh namun tertutup. Hal ini sejalan dengan temuan Baumrind . bahwa pola otoriter menumbuhkan kepatuhan jangka pendek tetapi membatasi inisiatif dan kepercayaan diri. Minimnya dukungan afektif juga memperlemah keterikatan emosional yang menjadi dasar relasi sosial sehat (Bowlby, 1. Sebaliknya, pola permisif yang memberi kebebasan longgar tanpa struktur membuat anak cenderung pasif dan kurang terlatih dalam keterampilan sosial. Anak memiliki otonomi dalam hal-hal kecil, tetapi tidak mendapatkan arahan yang konsisten. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Dinamika ini sesuai dengan penelitian Sutaria . , yang menegaskan bahwa pola permisif sering menghasilkan anak dengan kontrol diri lemah dan keterampilan sosial terbatas. Minimnya komunikasi terbuka juga mengurangi kesempatan anak untuk belajar mengekspresikan diri. Rachman. Sumarwan. Latifah dan Herawati . bahwa dukungan emosional orang tua berperan sebagai faktor protektif terhadap gangguan sosial-emosional Berbeda dari keduanya, pola autoritatif yang kehangatan ibu menghasilkan anak yang lebih terbuka, percaya diri, dan adaptif. Anak dilibatkan dalam musyawarah keluarga, mendapatkan apresiasi, serta merasakan kedekatan emosional melalui rutinitas religius, praktik keagamaan seharihari seperti doa bersama dan teladan orang tua berperan dalam internalisasi nilai (Imamah. Athiyallah. Mujahidin, & Sunandar, 2. Pola ini sesuai dengan temuan Darling dan Steinberg . yang menegaskan bahwa pola autoritatif paling efektif dalam membentuk kompetensi sosial dan regulasi diri. Penelitian Khofifah. Alfiasari dan Islamiah . juga menunjukkan bahwa pengasuhan berbasis emosi memperkuat kontrol diri, empati dan kompetensi moral remaja. Temuan Alfi. Krisnatuti dan Defina . menambahkan bahwa interaksi positif orang tuaAeremaja meningkatkan empati dan keterampilan sosial, sementara Yong. Lin. Toh dan Marsh . menekankan bahwa kualitas interaksi keluarga lebih berpengaruh terhadap regulasi emosi anak dibandingkan durasi kebersamaan semata. Implikasi dari temuan ini bersifat multidimensional. Bagi keluarga, diperlukan pola pengasuhan demokratis yang menyeimbangkan kontrol dan kehangatan, sehingga anak tidak hanya diarahkan tetapi juga dilibatkan dalam komunikasi dan pengambilan keputusan. Bagi sekolah dan komunitas, penting menyediakan ruang partisipasi anak dalam kegiatan sosial yang melatih keterampilan komunikasi, empati dan tanggung Bagi kebijakan publik, penelitian ini menekankan pentingnya program parenting yang mendorong pola pengasuhan berbasis nilai dan komunikasi terbuka, agar keluarga menjadi lingkungan utama pembentukan karakter sosialemosional anak. Hambatan penelitian ini terutama terletak pada keterbatasan jumlah partisipan yang membuat temuan belum dapat digeneralisasi, kesibukan orang tua yang membatasi waktu observasi sehingga rutinitas keluarga tidak sepenuhnya terungkap, serta sensitivitas isu internal yang membuat beberapa dinamika komunikasi dan konflik tidak ditampilkan secara terbuka. Selain itu, keterbatasan akses terhadap literatur internasional juga membatasi perspektif global, sehingga penelitian lanjutan perlu dilakukan dengan cakupan keluarga lebih luas, waktu observasi lebih panjang dan strategi membangun kepercayaan yang lebih mendalam dengan partisipan agar hasilnya lebih komprehensif. KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa interaksi orang tuaAeanak berperan langsung dalam membentuk perilaku sosial anak usia 11Ae15 tahun. Komunikasi yang terbuka dan partisipatif mendorong anak menjadi lebih percaya diri, empatik dan adaptif, sementara komunikasi yang instruktif dan minim dialog menghasilkan anak patuh tetapi tertutup dan pola permisif yang longgar melemahkan struktur sehingga anak cenderung pasif. Keterlibatan emosional orang tua terbukti memperkuat keterampilan sosial anak, sedangkan minimnya dukungan afektif melemahkan ekspresi diri dan relasi sosial. Faktor internal seperti pola asuh dan nilai keluarga, serta faktor eksternal berupa lingkungan sosial, komunitas religius dan media digital, turut memengaruhi kualitas interaksi Pola pengasuhan autoritatif yang menyeimbangkan ketegasan, kehangatan dan nilai spiritual muncul sebagai model ideal dalam membentuk anak yang mandiri, terbuka dan bertanggung jawab. Sejalan dengan hambatan penelitian, saran yang dapat diajukan adalah perlunya memperluas jumlah dan variasi partisipan agar hasil lebih representatif, memperpanjang durasi observasi untuk menangkap dinamika keluarga secara utuh, membangun kepercayaan dengan pendekatan partisipatif agar isu internal lebih autentik, serta mengintegrasikan literatur lokal dan sumber open access internasional untuk memperkaya perspektif. Dengan strategi ini, penelitian lanjutan akan lebih komprehensif dan mampu memperkuat kontribusi teoretis, praktis dan kebijakan dalam mengembangkan pola komunikasi dan pengasuhan yang relevan dengan konteks sosial budaya Indonesia. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada para informan yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini, serta kepada dosen pembimbing dan pihak institusi yang memberikan dukungan akademik dan logistik selama proses penyusunan artikel. Penghargaan khusus juga disampaikan kepada Ibu Arina Athiyallah, dosen Psikologi Islam Institut Agama Islam Pemalang, yang telah memberikan bimbingan berharga dalam penyusunan jurnal ini. REFERENSI