Media Sosial dalam Promosi Kesehatan di Indonesia: Penerapan Kontemporer. Tantangan, dan Pemanfaatan Strategis Sry Ade Muhtya Gobel1*. Ria Amelia Saleh2. Sulastri Djafar3. Aldi Moha4 Program Sarjana Terapan Promosi Kesehatan. Universitas Bina Taruna Gorontalo. Kota Gorontalo. Indonesia1,2,3,4 Received : 14/08/2025 Revised : 10/10/2025 Accepted : 30/11/2025 Published : 31/12/2025 Corresponding Author: Author Name*: Sry Ade Muhtya Gobel Email*: sryabel. gobel@gmail. DOI: A 2025 The Authors. This open access article is distributed under a (CC-BY Licens. Phone*: 6282247042884 Abstrak: Perkembangan media sosial telah mengubah praktik promosi kesehatan di Indonesia, khususnya dalam menjangkau remaja sebagai pengguna aktif platform Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan kontemporer media sosial dalam promosi kesehatan di Indonesia, mengidentifikasi tantangan yang muncul, serta mengeksplorasi pemanfaatan strategisnya untuk meningkatkan keterlibatan dan perubahan perilaku kesehatan. Penelitian menggunakan metode integrative review terhadap studi dan praktik promosi kesehatan berbasis media sosial di Indonesia periode 2020Ae2023, dengan sintesis tematik data kualitatif dan kuantitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa media sosial efektif dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi kesehatan remaja, namun masih dihadapkan pada tantangan misinformasi, rendahnya literasi kesehatan digital, serta keterbatasan evaluasi dampak jangka panjang. Pembahasan menegaskan pentingnya pemanfaatan strategis media sosial melalui penguatan literasi kesehatan digital, pendekatan sensitif konteks sosial budaya, dan desain intervensi yang interaktif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial memiliki potensi strategis dalam promosi kesehatan di Indonesia apabila dikelola secara terencana, berbasis bukti, dan berkelanjutan. Kata Kunci: Media sosial. promosi kesehatan. literasi kesehatan digital. Indonesia. Pendahuluan Adopsi teknologi digital yang meluas telah secara signifikan mengubah pola interaksi sosial dan penyebaran informasi, sekaligus menghadirkan peluang dan tantangan bagi inisiatif kesehatan masyarakat. Di Indonesia, pertumbuhan pesat pengguna internet dan media sosial menunjukkan potensi besar platform digital sebagai sarana intervensi promosi kesehatan. Lanskap digital ini menuntut pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan secara efektif untuk memfasilitasi penyebaran informasi kesehatan dan mendorong perilaku hidup sehat di tengah masyarakat. Seiring dengan perkembangan tersebut, platform media sosial semakin diakui sebagai alat yang kuat untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu-isu kesehatan penting dan mempromosikan gaya hidup sehat (Roy & Malloy, 2. Sebagai contoh, pemanfaatan Instagram oleh organisasi kesehatan di Indonesia telah terbukti ___________ How to Cite: Gobel. Saleh. Djafar. , & Moha. Media sosial dalam promosi kesehatan di Indonesia: Penerapan kontemporer, tantangan, dan pemanfaatan strategis. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. , 1. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. mampu melibatkan ribuan peserta dalam program edukasi kesehatan, menunjukkan potensi media sosial sebagai medium komunikasi kesehatan yang partisipatif (Mukti & Putri, 2. Selain itu, karakter dinamis platform seperti TikTok dimanfaatkan secara strategis oleh berbagai pelaku usaha kebugaran di Indonesia untuk mempertahankan keterlibatan audiens selama pandemi COVID-19. Fenomena ini menunjukkan kemampuan adaptif media sosial tidak hanya dalam konteks pemasaran, tetapi juga sebagai sarana penyuluhan dan promosi kesehatan yang relevan dengan situasi krisis kesehatan masyarakat (Ardiantono et al. , 2. luar peningkatan kesadaran, peran media sosial dalam mendorong perubahan perilaku kesehatan semakin mendapat perhatian, dengan sejumlah studi yang menyoroti potensinya dalam mempromosikan praktik kesehatan yang lebih berkelanjutan (Ghahramani et al. , 2. Kondisi ini menjadi semakin signifikan mengingat besarnya jumlah pengguna media sosial di Indonesia yang memanfaatkan platform digital sebagai sumber utama informasi, sehingga menyediakan ruang strategis bagi pelaksanaan kampanye kesehatan masyarakat berbasis digital (Savira, 2. Meskipun menawarkan peluang yang besar, pemanfaatan media sosial untuk promosi kesehatan juga menghadirkan tantangan sosial, etis, dan regulasi yang kompleks. Lingkungan digital yang bersifat tanpa batas menuntut pendekatan inovatif dalam mendorong perubahan perilaku serta membangun penerimaan masyarakat terhadap promosi kesehatan digital sebagai bagian dari norma sosial yang baru. Sejalan dengan perkembangan lingkungan daring yang semakin partisipatif, keterlibatan digital masyarakat menunjukkan bahwa sebagian besar individu, khususnya remaja dan dewasa muda, menjadikan media sosial sebagai sumber utama informasi kesehatan (Nugroho et al. , 2. Tingginya ketergantungan terhadap media sosial ini menegaskan urgensi penelitian yang komprehensif mengenai efektivitas serta strategi optimal pemanfaatan media sosial dalam promosi kesehatan di Indonesia. Promosi kesehatan berbasis media sosial yang efektif tidak hanya berfokus pada penyebaran informasi, tetapi juga memerlukan pemahaman terhadap kebutuhan komunitas pada berbagai tingkat sosial dan lingkungan. Media sosial memiliki kemampuan untuk melampaui batas geografis dan hambatan akses, sehingga mendukung penyebaran informasi kesehatan yang lebih luas dan Selain itu, platform digital memungkinkan pengumpulan data kesehatan masyarakat secara real time serta pelaksanaan intervensi yang lebih terarah sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan segmen populasi tertentu (Ghahramani et al. , 2. Pendekatan ini membuka peluang bagi strategi kesehatan masyarakat yang lebih adaptif dan selaras dengan meningkatnya kebutuhan akan edukasi serta intervensi kesehatan yang bersifat personal dan kontekstual (Lisnarini et al. , 2. Di sisi lain, tantangan signifikan tetap muncul, terutama terkait penyebaran misinformasi kesehatan, keterbatasan kontrol kualitas konten, serta kesenjangan akses digital yang masih terjadi. Faktor-faktor tersebut berpotensi Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. melemahkan efektivitas promosi kesehatan jika tidak diantisipasi secara sistematis (Hematabadi et al. , 2. Oleh karena itu, penguatan strategi moderasi konten dan peningkatan literasi kesehatan digital menjadi elemen penting agar masyarakat mampu memilah informasi kesehatan yang akurat dan kredibel. Karakter visual dan interaktif media sosial, khususnya pada platform seperti Instagram, dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan kesehatan melalui infografik, gambar, dan video pendek yang menarik, sehingga meningkatkan pemahaman dan retensi informasi di kalangan remaja dan kelompok sasaran lainnya (Lisnarini et al. , 2. Namun demikian, bukti mengenai dampak jangka panjang promosi kesehatan berbasis media sosial terhadap perubahan perilaku yang berkelanjutan masih terbatas. Banyak evaluasi kampanye kesehatan digital yang masih berfokus pada hasil jangka pendek dan belum didukung oleh metrik komprehensif untuk menilai keterlibatan, penerimaan, serta penerjemahan pesan kesehatan ke dalam praktik perilaku nyata. Kondisi ini menuntut pergeseran pendekatan dari kampanye yang berorientasi pada peningkatan kesadaran semata menuju strategi yang lebih menekankan evaluasi hasil perilaku secara sistematis dan terukur (Ghahramani et al. , 2. Selain itu, dinamika algoritma media sosial yang terus berubah turut menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi kesehatan dalam memperluas jangkauan audiens dan menilai keberhasilan kampanye promosi kesehatan. Oleh karena itu, organisasi kesehatan masyarakat perlu mengadopsi strategi komunikasi yang lebih adaptif dengan memanfaatkan umpan balik secara real time serta menyesuaikan pesan dengan karakteristik audiens yang beragam (Vassallo et al. , 2. Pendekatan ini menjadi krusial dalam menghadapi misinformasi kesehatan yang berpotensi mengikis kepercayaan publik dan mendorong praktik kesehatan yang merugikan, sehingga dapat menghambat pencapaian tujuan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan integrative review untuk menganalisis peran media sosial dalam promosi kesehatan di Indonesia selama periode 2020Ae2023. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan sintesis komprehensif terhadap temuan penelitian dari berbagai desain studi, baik kuantitatif, kualitatif, maupun mixed methods, sehingga sesuai untuk mengkaji fenomena kompleks dan multidimensional seperti promosi kesehatan berbasis media sosial. Kajian dilakukan melalui systematic literature review yang diintegrasikan dengan analisis tematik, guna mengidentifikasi pola, tren, serta tantangan utama dalam praktik promosi kesehatan digital. Sintesis data dilakukan dengan mengombinasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, di mana analisis konten tematik digunakan sebagai metode utama untuk menginterpretasikan makna, strategi komunikasi, dan dinamika keterlibatan audiens dalam konteks media sosial (Creswell & Poth, 2. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Analisis temuan dipandu oleh kerangka Technology Acceptance Model dan konsep literasi kesehatan digital untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan teknologi, keterlibatan pengguna, serta potensi perubahan perilaku kesehatan, khususnya pada kelompok remaja. Pendekatan ini memastikan bahwa hasil penelitian tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga analitis dan kontekstual, sesuai dengan tujuan promosi kesehatan masyarakat dalam lingkungan digital yang terus berkembang. Hasil Penelitian Tinjauan sistematis mengidentifikasi sejumlah tema utama dalam konteks Indonesia, dengan penekanan kuat pada pemanfaatan media sosial khususnya Instagram sebagai sarana penyebaran informasi kesehatan dan peningkatan keterlibatan audiens, terutama di kalangan remaja (Lisnarini et al. , 2. Platform ini berfungsi sebagai medium komunikasi kesehatan yang efektif, ditandai dengan tingginya tingkat partisipasi pengguna pada berbagai kampanye edukasi Pada isu tertentu, seperti pendidikan seksual, tingkat keterlibatan audiens dilaporkan mencapai rata-rata 14,43%, menunjukkan potensi media sosial dalam menjangkau dan melibatkan kelompok sasaran secara signifikan (Mukti & Putri, 2. Topik kesehatan yang disampaikan melalui media sosial di Indonesia bersifat beragam, mencakup isu kelebihan berat badan dan obesitas, penghentian merokok, pencegahan kanker dan diabetes, kesehatan gigi dan mulut, gangguan makan, pencegahan COVID-19, serta kesehatan mental dan kesejahteraan. Keberagaman ini menegaskan luasnya aplikasi media sosial dalam mendukung promosi kesehatan masyarakat lintas isu dan lintas konteks (Ghahramani et al. Secara spesifik, akun Instagram seperti @siapnikah_official berperan penting dalam menyediakan edukasi pranikah dan informasi kesehatan reproduksi bagi remaja. Keberadaan akun ini berkontribusi pada peningkatan literasi kesehatan dan kesiapan remaja dalam menghadapi tahapan kehidupan tertentu, khususnya yang berkaitan dengan pernikahan dan kesehatan reproduksi (Lisnarini et al. , 2. Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya efektif untuk promosi kesehatan secara umum, tetapi juga relevan dalam menyampaikan pesan kesehatan yang kontekstual sesuai tahap perkembangan Demikian pula, @tabu. id berkembang sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas yang dipercaya oleh remaja. Platform ini memanfaatkan pendekatan visual dan interaktif untuk menyampaikan isu sensitif, sehingga memudahkan remaja dalam mengakses, memahami, dan mendiskusikan topik kesehatan yang sebelumnya dianggap tabu (Sofian et al. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa pengaruh media sosial terhadap kesejahteraan digital remaja bersifat signifikan, sehingga memerlukan perhatian khusus terhadap dampak positif maupun potensi risikonya. Kerentanan remaja terhadap pengaruh lingkungan digital menegaskan pentingnya intervensi literasi kesehatan digital yang mampu membekali mereka dengan keterampilan evaluasi Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. kritis dalam memilah informasi kesehatan yang akurat dan tepercaya. Integrasi pendekatan digital dan interaktif, seperti penggunaan aplikasi seluler dan teknologi berbasis realitas virtual, terbukti mendukung peningkatan literasi kesehatan remaja. Pendekatan ini memungkinkan penyampaian informasi kesehatan yang lebih personal, mudah diakses, dan sesuai dengan karakteristik remaja yang melek teknologi. Metode pembelajaran interaktif, termasuk simulasi dan role-playing, dilaporkan meningkatkan keterlibatan serta retensi pengetahuan kesehatan secara signifikan (Mancone et al. , 2. Temuan lain menunjukkan bahwa peningkatan literasi kesehatan digital berkontribusi pada kemampuan remaja dalam mengakses, memahami, dan memproses informasi kesehatan secara efektif, yang selanjutnya berpengaruh terhadap pengambilan keputusan kesehatan dan perilaku jangka panjang (Hasanatuludhhiyah et al. , 2. Dalam konteks ini, tenaga kesehatan, khususnya perawat kesehatan masyarakat, memiliki peran strategis dalam memperkuat literasi kesehatan digital, komunikatif, dan kritis pada remaja agar mereka mampu mengenali informasi kesehatan yang andal dan membuat keputusan yang Hasil kajian juga menyoroti pentingnya intervensi pendidikan yang dirancang secara kolaboratif antara remaja dan tenaga kesehatan untuk menjembatani kesenjangan antara persepsi literasi kesehatan digital dan keterampilan evaluasi kritis yang sebenarnya dibutuhkan. Intervensi semacam ini berfokus pada penguatan keterampilan kognitif dan analitis, sehingga remaja mampu menilai kredibilitas, relevansi, dan kualitas informasi kesehatan yang mereka temui di media sosial (Taba et al. , 2. Selain faktor individu, hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan keluarga turut memengaruhi literasi dan perilaku kesehatan remaja. Literasi kesehatan orang tua berkontribusi terhadap pola pencarian dan penggunaan informasi kesehatan oleh remaja, sehingga pendekatan promosi kesehatan yang berpusat pada keluarga menjadi relevan untuk memperkuat hasil intervensi berbasis media sosial (Mancone et al. , 2. Secara keseluruhan, hasil kajian ini menunjukkan bahwa promosi kesehatan berbasis media sosial di Indonesia memiliki potensi besar dalam meningkatkan literasi kesehatan dan keterlibatan Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada penguatan literasi kesehatan digital dan kritis, serta dukungan lingkungan sosial yang memungkinkan remaja menavigasi lanskap informasi kesehatan digital secara aman dan bertanggung jawab Pembahasan Penelitian Penerapan kontemporer media sosial dalam promosi kesehatan bagi remaja Indonesia, menganalisis berbagai tantangan yang muncul dalam lingkungan digital, serta mendiskusikan strategi penggunaan yang dapat memaksimalkan dampak dan keterlibatan audiens. Pembahasan ini secara khusus menyoroti bagaimana platform media sosial dimanfaatkan untuk menyebarkan konten terkait kesehatan, memfasilitasi keterlibatan komunitas, dan mendukung perubahan perilaku di kalangan remaja. Selain itu, bagian ini mengeksplorasi Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. peran literasi kesehatan digital dalam memungkinkan remaja untuk berpartisipasi secara efektif dalam promosi kesehatan melalui media sosial, terutama dalam membedakan informasi kesehatan yang kredibel dari misinformasi (Taba et al. Penelitian ini menguraikan bagaimana pendidikan kesehatan berbasis sekolah dapat melengkapi inisiatif digital tersebut dengan mendorong kemampuan berpikir kritis serta membekali remaja dengan keterampilan yang diperlukan untuk menavigasi kompleksitas informasi kesehatan online (Ajani. Mengingat bahwa remaja di Indonesia sering menggunakan media sosial untuk memperoleh informasi Kesehatan termasuk melalui platform seperti TikTok dan Discord maka sangat penting untuk mengembangkan program edukasi yang terarah. Program tersebut tidak hanya harus membekali remaja dengan keterampilan untuk mengevaluasi informasi kesehatan secara kritis, tetapi juga memberdayakan mereka agar menjadi peserta aktif dalam pengelolaan kesehatan pribadi. Hal ini melibatkan integrasi literasi media ke dalam kurikulum pendidikan kesehatan, sehingga membantu remaja mengurai lanskap informasi digital yang kompleks dan mengidentifikasi sumber yang tepercaya. Selain itu, melihat penggunaan media sosial yang sangat meluas di kalangan remaja Indonesia, platform-platform ini berfungsi sebagai saluran penting untuk inisiatif promosi kesehatan, sehingga dibutuhkan pemahaman yang cermat tentang potensi dan tantangan yang dimilikinya. Penggunaan platform seperti Instagram. Twitter, dan TikTok memungkinkan penyebaran cepat konten terkait kesehatan di antara remaja, menjadikannya bagian sentral dari strategi promosi kesehatan modern (Wulandari et al. , 2. Meskipun menawarkan peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menjangkau remaja dengan pesan kesehatan, lanskap digital ini juga menghadirkan tantangan berupa kelebihan informasi dan penyebaran klaim kesehatan yang tidak terverifikasi (Lisnarini et al. , 2. Untuk memanfaatkan peluang tersebut secara optimal, diperlukan pemahaman mendalam tentang strategi komunikasi yang spesifik untuk setiap platform serta konteks sosial budaya yang memengaruhi perilaku kesehatan remaja Indonesia. Selain itu, efektivitas media sosial dalam promosi kesehatan di kalangan remaja sangat bergantung pada pembuatan konten yang sensitif secara budaya serta integrasi elemen interaktif yang dapat meningkatkan keterlibatan dan partisipasi aktif. Oleh karena itu, intervensi tidak hanya harus berfokus pada penyebaran informasi kesehatan yang akurat, tetapi juga pada penguatan literasi kesehatan digital untuk memberdayakan remaja agar dapat mengevaluasi dan memanfaatkan informasi online dalam jumlah besar yang mereka temui setiap Komponen penting dari intervensi ini adalah pengembangan program pelatihan berbasis modul yang menarik untuk meningkatkan literasi kesehatan, sehingga memungkinkan remaja membedakan informasi kesehatan yang andal dari misinformasi yang banyak beredar di platform digital. Program-program ini harus dirancang agar selaras dengan kebiasaan konsumsi digital remaja. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. menggunakan format interaktif dan konten yang relevan dengan minat serta kebutuhan kesehatan mereka (Andersen et al. , 2. Pendekatan semacam ini memastikan bahwa upaya promosi kesehatan tidak hanya mudah diakses tetapi juga efektif dalam membekali remaja dengan keterampilan yang diperlukan untuk membuat keputusan kesehatan yang tepat di lingkungan digital yang kompleks. Strategi komprehensif ini sangat penting untuk mengurangi risiko yang terkait dengan sifat konten digital yang tidak teratur serta memaksimalkan potensi media sosial sebagai alat kemajuan kesehatan Masyarakat. Keterhubungan digital yang sangat intens pada Generasi Z, yang ditandai dengan tingginya kepemilikan smartphone, menegaskan urgensi memahami bagaimana remaja menavigasi dan memaknai platform online untuk informasi kesehatan terkait gaya hidup. Simpulan Dalam konteks promosi kesehatan di Indonesia, penelitian ini menganalisis penerapan kontemporer, tantangan, dan pemanfaatan strategis media sosial sebagai sarana promosi kesehatan, khususnya bagi remaja, pada periode 2020Ae2023. Berdasarkan hasil integrative review, media sosial terbukti menjadi ruang utama dalam penyebaran informasi kesehatan dan pembentukan sikap serta perilaku kesehatan remaja, dengan karakteristik komunikasi yang visual, interaktif, dan partisipatif. Platform digital memungkinkan jangkauan yang luas dan keterlibatan yang tinggi, namun sekaligus menghadirkan kompleksitas baru dalam bentuk kelebihan informasi, misinformasi, dan paparan pesan persuasif yang tidak selalu mendukung kesehatan. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas promosi kesehatan berbasis media sosial tidak semata ditentukan oleh intensitas paparan informasi, tetapi sangat bergantung pada tingkat literasi kesehatan digital dan efikasi diri remaja. Kemampuan remaja untuk mengakses, menilai kredibilitas, serta menginterpretasikan informasi kesehatan secara kritis menjadi faktor penentu dalam menerjemahkan keterlibatan digital menjadi perilaku kesehatan yang Oleh karena itu, media sosial tidak dapat dipahami hanya sebagai saluran komunikasi, melainkan sebagai lingkungan sosial digital yang membentuk cara remaja memaknai kesehatan dan membuat keputusan terkait kesehatannya. Pembahasan ini juga menegaskan bahwa strategi promosi kesehatan yang efektif perlu mempertimbangkan keragaman latar belakang sosial, budaya, dan gender remaja Indonesia. Perbedaan preferensi komunikasi, pola konsumsi media, serta respons terhadap konten termasuk pemasaran makanan di media sosialAi menunjukkan bahwa pendekatan yang seragam berpotensi tidak efektif dan bahkan memperlebar kesenjangan kesehatan. Dengan demikian, pemanfaatan strategis media sosial dalam promosi kesehatan harus mengintegrasikan pendekatan yang sensitif terhadap konteks sosial budaya, sekaligus memperkuat literasi kesehatan digital sebagai bentuk perlindungan terhadap risiko informasi yang menyesatkan. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pemanfaatan media sosial dalam promosi kesehatan di Indonesia menawarkan peluang besar untuk meningkatkan keterlibatan dan jangkauan pesan kesehatan, namun keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas intervensi yang dirancang. Pendekatan interdisipliner yang menggabungkan perspektif kesehatan masyarakat, studi media, dan psikologi remaja menjadi kunci dalam merancang strategi promosi kesehatan digital yang tidak hanya informatif, tetapi juga Untuk itu, penelitian lanjutan diperlukan guna menguji secara lebih mendalam hubungan antara keterlibatan media sosial dan perubahan perilaku kesehatan melalui studi longitudinal, analisis dosisAerespon, serta rancangan eksperimental yang mampu menjelaskan hubungan kausal. Upaya tersebut penting agar media sosial dapat dimanfaatkan secara strategis dan berkelanjutan sebagai instrumen promosi kesehatan yang efektif dan berkeadilan bagi remaja Indonesia. Rekomendasi Berdasarkan temuan penelitian ini, penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan kajian promosi kesehatan berbasis media sosial di Indonesia melalui beberapa arah utama. Pertama, penggunaan desain longitudinal diperlukan untuk memahami dampak jangka panjang keterlibatan remaja di media sosial terhadap literasi kesehatan digital, efikasi diri, dan keberlanjutan perubahan perilaku kesehatan. Kedua, penelitian dengan desain eksperimental, termasuk randomized controlled trials, perlu dilakukan untuk menguji hubungan kausal serta mengidentifikasi komponen intervensi media sosial yang paling efektif, seperti jenis konten, format pesan, dan tingkat Ketiga, kajian mengenai literasi kesehatan digital dan efikasi diri remaja perlu diperdalam guna mendukung perancangan intervensi yang tidak hanya informatif, tetapi juga memberdayakan. Keempat, penelitian ke depan disarankan mengadopsi pendekatan yang sensitif terhadap gender dan konteks sosial budaya agar strategi promosi kesehatan lebih inklusif dan relevan. Terakhir, diperlukan evaluasi integrasi literasi kesehatan digital dalam kurikulum pendidikan dan layanan kesehatan remaja untuk memperkuat promosi kesehatan berbasis media sosial secara berkelanjutan. Referensi