1271 JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Nopember 2025 PENGEMBANGAN DESA WISATA BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL DI DESA WISATA BATUJAI LOMBOK TENGAH Oleh Ihyana Hulfa1. Baiq Nikmatul Ulya 2. Hasnia Minanda3 1,2,3 Universitas Mataram E-mail: 1ihyanahulfa@unram. id, 2Minanda@unram. id, 3bn_ulya@unram. Article History: Received: 01-08-2025 Revised: 30-08-2025 Accepted: 03-09-2025 Keywords: Desa Wisata. Partisipasi Masyarakat, 4A. Batujai Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi, partisipasi masyarakat, serta tantangan dalam pengembangan Desa Wisata Batujai. Lombok Tengah, dengan pendekatan konsep 4A (Attractions. Accessibility. Amenities. Ancillary Service. Metode penelitian menggunakan Participatory Action Research (PAR) melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa partispasi masyarakat berada pada tahap aksidental dalam acara budaya desa. Desa Batujai memiliki potensi wisata alam serta kekayaan budaya seperti tradisi bubus desa, nyongkolan, kesenian local, menenun dengan pewarna alami, kerajinan enceng gondok. Namun, partisipasi masyarakat lebih dominan pada tahap pelaksanaan kegiatan adat atau festival, sedangkan keterlibatan dalam perencanaan, pengelolaan, dan evaluasi masih terbatas. Kondisi ini berimplikasi pada rendahnya kontinuitas atraksi wisata dan lemahnya pengelolaan destinasi secara Tantangan utama pengembangan Desa Batujai meliputi keterbatasan sumber daya manusia, minimnya fasilitas wisata, keterbatasan modal, serta risiko komersialisasi budaya apabila tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini merekomendasikan strategi peningkatan partisipasi masyarakat melalui pelatihan, penguatan kelembagaan Pokdarwis, pemanfaatan teknologi digital untuk promosi, serta kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan swasta. Dengan penerapan prinsip CBT dan optimalisasi 4A. Desa Batujai berpotensi menjadi destinasi wisata berkelanjutan berbasis kearifan PENDAHULUAN Keberadaan desa wisata saat ini memmiliki daya tarik yang baik. Bukan saja karena potensi alam yang terbentng antara desa satu dengan desa yang lain, namun kekayaan budaya dan kearifan lokal menjadi keunikan tersendiri untuk memikat minat wisatawan berkunjung ke desa wisata. Oleh karena itu, prinsip utama yang perlu diperhatikan oleh desa wisata tanpa terkecuali desa wisata Batujai adalah bagaimana tradisi maupun budaya masyarakat harus tetap dijaga dan dijalankan. Hal tersebut merupakan salah satu yang menghidupkan suasana desa tetap terjaga sehingga konsep a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Nopember 2025 yang dapat dikembangkan terkait dengan pengembangan desa wisata ini adalah konsep partisipasi masyarakat lokal. Dalam Kamus Besar Indonesia (KBBI) partisipasi adalah turut berberan serta dalam sebuah kegiatan, keikutsertaan dalam melakukan observasi, berupa pengamatan yang aktif dan turut serta dalam kehidupan lapangan atau objek yang diamatu 3 Teori partisipasi adalah teori yang membicarakan mengenai proses keterlibatan individu dalam berbagai kegiaatan yang berkaitan dengan kemasyarakat. Ini terkait dengan peran individu sebagai makhluk sosial yang tidak dapat melepas diri dari keadaan di sekelilingnya. Partisipasi dapat didefinisikan menjadi empat afirmasi yang merangkum pentingnya partisipasi dalam pengembangan (Gow & Vansant, 1. : . Orang-orang dianggap penting dalam menyelesaikan masalah, . Masyarakat lokal cendrung menjadi lebih baik dalam konteks lingkungan mereka sendiri, . Orang-orang yang menyediakan tenaga kerja sukarela, waktu, uang dan bahan untuk suatu proyek, . Orang lokal yang melakukan control terhadap kualitas dan manfaat pengembangan sampai terbentuknya sebuah keberlangsungan. Konsep partisipasi masyarakat telah diimplementasikan di seluruh dunia sejak tahun 1970-an dan digunakan secara luas di bidang pembangunan termasuk pembangunan pedesaan. Pengembangan desa wisata membutuhkan partisipasi masyarakat lokal dalam keseluruhan tahap pembangunan mulai tahap perncanaan, implementasi, dan pengawasan tanpa mengabaikan masyarakat lokal sehingga pengembangannya dapat berjalan dengan baik. Minimnya partisipasi masyarakat dalam proses pengembangan tersebut, dapat mengakibatkan masyarakat kurang merasa memiliki . ens of belongin. terhadap hasil-hasil pembangunan, bahkan lebih lanjut menimbulkan akibat yang fatal dalam arti politis, yaitu memunculkan sikap apatis, frustasi, dan kecemburuan sosial sehingga dapat menghambat pengembangan desa tanpa terkecuali desa wisata Batujai. Sejatinya pengembangan desa wisata Batujai sejak tahun 2019 terus berbenah terutama pada pembangunan fisik seperti homestay dan fasilitas pendukung lainnya. Desa wisata Batujai adalah sebuah desa yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa ini terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah seperti persawahan yang hijau dan sangat luas, selain sawah yang luas ini juga menyajikan keunikan dari aktivitas para petaninya. Keindahan alam berikutnya adalah bendungan Batujai, potensi yang dapat dikembangan disini adalah aktivitas nelayan dan bumi perkemahan dengan pemandangan padang rumput dan sunrisenya. Kearifan lokal yang ada di desa wisata Batujai juga menjadi kekuatan dalam pengembangannya menjadi desa wisata. Kearifan lokal yang dimaksud adalah keseharian masyarakat desa Batujai yang bertani dan nelayan, hal lain yang dapat dikembangkan terkait dengan kearifan lokal adalah tradisi Bubus Desa serta keterampilan menyensek dengan pewarna alami dari tanaman yang dilakukan oleh para ibu Ae ibu yang ada di desa wisata Batujai serta pengelolaan enceng gondok menjadi sendal dan tas yang unik. Kekayaan alam dan kearifan yang dimiliki oleh desa wisata Batujai masih belum dikelola secara maksimal sehinggan kunjungan wisatawannya masih belum stabil dan masih menyasar wisatawan lokal. Berdasarkan hasil wawancara terdahulu yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa perlu adanya model pengembangan yang tepat dalam pengembangan pariwisata di desa wisata Batujai dengan memanfaatkan pontensi alam, dan kearifan lokal menggunakan konsep partisipasi yang bermuara kepada masyarakat lokal. Seperti yang dijabarkan oleh Paul dalam (Ie, 2. memberi makna partisipasi harus mencakup kemampuan rakyat untuk mempengaruhi kegiatan-kegiatan sedemikian rupa sehingga siklur aktivitas masyarakat terus berjalan dan diharapkan dapat memberikan pengalamam yang berbeda setiap wisatawan yang datang berkunjung ke desa wisata Batujai. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Nopember 2025 LANDASAN TEORI Partisipasi dapat didefinisikan menjadi empat afirmasi yang merangkum pentingnya partisipasi dalam pengembangan (Gow & Vansant, 1. : . Orang-orang dianggap penting dalam menyelesaikan masalah, . Masyarakat lokal cendrung menjadi lebih baik dalam konteks lingkungan mereka sendiri, . Orang-orang yang menyediakan tenaga kerja sukarela, waktu, uang dan bahan untuk suatu proyek, . Orang lokal yang melakukan control terhadap kualitas dan manfaat pengembangan sampai terbentuknya sebuah keberlangsungan. Konsep partisipasi masyarakat telah diimplementasikan di seluruh dunia sejak tahun 1970-an dan digunakan secara luas di bidang pembangunan termasuk pembangunan pedesaan. Menurut Cohen dan Uphoff yang dikutip oleh Astuti . , partisipasi masyarakat dapat dikategorikan ke dalam empat bentuk, yaitu partisipasi dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan, pemanfaatan, dan evaluasi. Partisipasi dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan keterlibatan masyarakat dalam merumuskan ide atau gagasan yang menyangkut kepentingan bersama, misalnya menghadiri rapat, berdiskusi, memberikan saran, atau menolak suatu program. Sementara itu, partisipasi dalam pelaksanaan mencakup mobilisasi sumber daya, pengelolaan administrasi, koordinasi, serta penerapan program yang telah disepakati. Bentuk partisipasi ini merupakan tindak lanjut nyata dari keputusan yang telah dibuat. Pengembangan desa wisata membutuhkan partisipasi masyarakat lokal dalam keseluruhan tahap pembangunan mulai tahap perncanaan, implementasi, dan pengawasan tanpa mengabaikan masyarakat lokal sehingga pengembangannya dapat berjalan dengan baik. Minimnya partisipasi masyarakat dalam proses pengembangan tersebut, dapat mengakibatkan masyarakat kurang merasa memiliki . ens of belongin. terhadap hasil-hasil pembangunan, bahkan lebih lanjut menimbulkan akibat yang fatal dalam arti politis, yaitu memunculkan sikap apatis, frustasi, dan kecemburuan sosial sehingga dapat menghambat pengembangan desa tanpa terkecuali desa wisata Batujai. Sejatinya pengembangan desa wisata Batujai sejak tahun 2019 terus berbenah terutama pada pembangunan fisik seperti homestay dan fasilitas pendukung lainnya. Konsep 4A (Cooper et al. , 2. mengatakan untuk memenuhi segala asas kebutuhan pariwisata keberlanjutan perlu didukung oleh 4A komponen utama dalam pariwisata yaitu Attraction (Daya Tari. Amenity (Fasilita. Accessibility (Aksesibilita. dan Anciliary (Lembaga pelayana. Attraction/ atraksi atau juga dikenal sebagai daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menarik seseorang atau sekelompok orang untuk mengunjungi suatu destinasi, site, objek, tempat, atau kawasan, dapat berupa kekayaan alam, kekayaan budaya, ataupun hasil kreasi manusia. Amenities/ amenitas merupakan kelengkapan fasilitas berupa sarana dan prasarana yang harus disediakan oleh pengelola untuk memenuhi kebutuhan wisatawan (Rosyidie, dkk. , 2. Access atau aksesibilitas berkaitan kemudahan akses destinasi wisata, meliputi alat transportasi dan infrastruktur pendukungnya. Sementara ancillary service berkaitan dengan fasilitas umum lainnya yang mendukung pariwisata (Cooper, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Prabawati . menemukan bahwa pemenuhan aspek atraksi dan amenitas mendapat respon yang sangat bagus dari pelaku pariwisata, sedangkan penyediaan aksesibilitas dan ansiliari masih belum Menurut Sugiama . ancillary atau fasilitas pendukung adalah mencakup keberadaan dari berbagai organisasi yang memfasilitasi dan mendorong pengembangan serta pemasaran dari suatu destinasi wisata. METODE PENELITIAN https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Nopember 2025 Penelitian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahap penelitian. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu mengkaji pengembangan desa wisata berbasis partisipasi masyarakat lokal. Jenis data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, pengurus Pokdarwis, aparat desa, serta pelaku usaha lokal. observasi partisipatif terhadap aktivitas wisata, budaya, dan ekonomi serta dokumentasi lapangan berupa catatan kegiatan, foto, dan kondisi sarana Data sekunder diperoleh dari publikasi BPS, laporan desa, jurnal penelitian terkait pariwisata berbasis masyarakat, serta literatur tentang teori partisipasi dan Komponen 4A Pariwisata. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu mengorganisasi data wawancara, observasi, dan dokumentasi ke dalam tema-tema penelitian, khususnya yang terkait dengan komponen 4A (Attractions. Accessibility. Amenities. Ancillary Service. Selain itu, teori partisipasi masyarakat menurut Cohen dan Uphoff . digunakan sebagai kerangka untuk menilai tingkat keterlibatan masyarakat pada tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pemanfaatan hasil pengembangan wisata. HASIL DAN PEMBAHASAN Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata Batujai Partisipasi masyarakat merupakan elemen kunci dalam keberhasilan pengembangan desa Masyarakat Desa Batujai sudah terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, maupun Namun, keterlibatan tersebut masih bersifat insidental. Masyarakat cenderung aktif ketika ada momentum tertentu, seperti festival budaya, karnaval, atau kegiatan adat tahunan, sementara pada hari-hari biasa keterlibatan mereka menurun. Kondisi ini membuat desa wisata tidak memiliki kontinuitas dalam menghadirkan atraksi yang konsisten dan menarik bagi Dengan demikian, meskipun masyarakat Batujai menunjukkan antusiasme dalam pelaksanaan acara budaya, peran mereka dalam aspek pengelolaan strategis masih terbatas. Secara umum, bentuk partisipasi masyarakat lebih banyak terwujud dalam kegiatan budaya, gotong royong, dan dukungan acara. Misalnya, dalam kegiatan nyongkolan dan bubus desa, masyarakat ikut serta menjaga kelestarian adat serta menyediakan konsumsi atau penampilan budaya seperti Partisipasi ini penting karena mencerminkan adanya rasa memiliki . ense of belongin. terhadap budaya lokal. Akan tetapi, keterlibatan ini belum menjangkau ranah manajerial seperti perencanaan wisata, pemasaran, atau penyusunan paket wisata. Akibatnya, partisipasi masyarakat masih berada di level pelaksanaan, bukan pengambilan keputusan strategis. Hal ini menegaskan adanya kesenjangan antara potensi partisipasi yang besar dengan peran nyata dalam tata kelola Temuan di Batujai konsisten dengan teori partisipasi menurut Cohen dan Uphoff . , yang membedakan partisipasi ke dalam empat tahapan: pengambilan keputusan, implementasi, evaluasi, dan pemanfaatan hasil. Berdasarkan kerangka ini, masyarakat Batujai lebih banyak terlibat dalam tahap implementasi, tetapi kurang berperan dalam pengambilan keputusan maupun Kondisi ini berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara program desa wisata dengan kebutuhan masyarakat lokal. Partisipasi yang terbatas hanya pada tingkat pelaksana berimplikasi pada lemahnya rasa tanggung jawab jangka panjang, sehingga keberlanjutan desa wisata masih bergantung pada dorongan pihak luar, bukan inisiatif internal masyarakat. Jika dibandingkan dengan studi di Desa Giyanti (Wonosob. , terlihat kontras yang cukup a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Nopember 2025 Di sana, penerapan Community-Based Tourism (CBT) dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara penuh mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Model ini menghasilkan pemberdayaan yang lebih merata, karena masyarakat merasa memiliki kendali atas arah pengembangan wisata. Sementara itu, pengalaman di Desa Aik Bukaq (Lombok Tenga. mengungkap bahwa rendahnya partisipasi komunitas seringkali dipicu oleh persepsi negatif tentang pariwisata dan keterbatasan peran pokdarwis dalam merangkul masyarakat luas. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa Batujai masih menghadapi persoalan serupa, terutama dalam membangun sistem partisipasi yang inklusif dan berkelanjutan. Keterbatasan informasi dan kapasitas juga turut memengaruhi rendahnya partisipasi masyarakat Batujai. Sebagian warga masih menganggap bahwa pengembangan wisata adalah tanggung jawab pokdarwis atau pemerintah desa, sehingga mereka kurang terdorong untuk berperan aktif secara mandiri. Kondisi ini memperlihatkan adanya kebutuhan mendesak untuk menerapkan strategi pemberdayaan Tanpa adanya peningkatan kesadaran, keterampilan, dan rasa kepemilikan, partisipasi masyarakat hanya akan bersifat seremonial, yang berarti tidak mampu menjadi motor penggerak utama dalam pengembangan desa wisata. Analisis Komponen 4A dalam Pengembangan Desa Wisata Attractions (Daya Tari. Atraksi wisata di Batujai cukup beragam, mulai dari keindahan bendungan, padang savana, hingga tradisi budaya seperti peresean, nyongkolan, dan bubus desa. Selain itu, terdapat potensi kerajinan lokal berupa tenun songket denan pewarna almi dan pengolahan eceng gondok menjadi sendal dan tas. Potensi ini sebenarnya mampu menjadi daya tarik unggulan, tetapi belum dikemas dalam bentuk yang menarik bagi wisatawan. Saat ini, bendungan hanya digunakan sebagai tempat rekreasi sederhana, tanpa aktivitas tambahan seperti wisata perahu, paket edukasi pertanian, atau wisata kuliner. Minimnya pengemasan atraksi berdampak pada rendahnya minat wisatawan untuk berkunjung kembali. Hal ini sesuai dengan pendapat Yoeti . bahwa atraksi merupakan unsur utama yang menentukan keberhasilan sebuah destinasi. Tanpa atraksi yang terstruktur, destinasi hanya akan menjadi tempat singgah sementara, bukan tujuan wisata utama. Selain atraksi utama, kegiatan budaya lokal yang rutin diselenggarakan sebenarnya berpotensi menarik wisatawan. Namun, kurangnya kalender event dan promosi membuat kegiatan ini hanya diketahui oleh masyarakat lokal. Padahal, apabila dipublikasikan secara luas, kegiatan budaya dapat menjadi atraksi unggulan tahunan yang meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Hal ini menegaskan pentingnya integrasi antara pokdarwis, masyarakat, dan pemerintah desa dalam mengelola atraksi. Masalah lain adalah regenerasi budaya lokal. Misalnya, tradisi menenun songket mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Jika tidak segera direvitalisasi, atraksi berbasis budaya ini bisa Menurut Pitana dan Gayatri . , pariwisata budaya hanya dapat bertahan jika masyarakat lokal merasa bangga dan terus melestarikannya. Oleh karena itu, program pelatihan dan fasilitasi regenerasi menjadi sangat penting di Batujai. Penelitian di Desa Sade (Lombok Tenga. membuktikan bagaimana kearifan local bangunan tradisional, tarian gendang beleq, tenun, dan peresean dapat menjadi daya tarik budaya efektif, apabila dipadukan dengan partisipasi komunitas dan penyediaan fasilitas pendukung yang memadai. Hasanah . Kekayaan budaya dan kearifan lokal yang lekat dengan identitas Desa Wisata Batujai seharusnya menjadi kekuatan dalam menyusun paket wisata autentik dan atraktif. Hal ini konsisten dengan temuan dalam pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal di Nglanggeran, yang menyoroti pentingnya pelestarian sarana prasarana tradisional agar daya tarik budaya tidak memudar. Tanpa pengemasan yang efektif seperti kalender event budaya, storytelling, atau personifikasi identitas desa . isalnya a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Nopember 2025 melalui festival tahunan atau tur buday. , atraksi Batujai hanya menjadi pemandangan pasif bagi Padahal, literatur menegaskan pentingnya inovasi atraksi dalam menarik kunjungan berulang. Riyanto . Oleh karena itu, pengembangan atraksi di Batujai perlu difokuskan pada revitalisasi budaya lokal . isalnya bubus desa, tenun, makan brangkat, peresea. , dibarengi penyusunan paket wisata tematis seperti eduwisata pertanian dan budaya agar daya tarik tidak hanya ada secara fisik, tetapi juga secara naratif dan emosional. Accessibility (Aksesibilita. Aksesibilitas menuju Desa Batujai relatif mudah karena lokasinya tidak jauh dari pusat Kabupaten Lombok Tengah dan dapat ditempuh kurang dari 15 menit dari Bandara Internasional Lombok. Jalan utama menuju desa sudah beraspal dan cukup lebar, sehingga kendaraan roda empat maupun bus wisata bisa masuk dengan nyaman. Namun, meskipun akses utama cukup memadai, jalan-jalan kecil menuju beberapa titik atraksi seperti hamparan savana atau tepi waduk masih belum tertata. Hal ini menjadi tantangan ketika wisatawan ingin berkunjung lebih dekat ke lokasi karena kondisi jalan tanah yang kurang bersahabat saat musim hujan. Selain kondisi jalan, ketersediaan transportasi umum menuju Desa Batujai masih terbatas. Wisatawan yang datang biasanya harus menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa mobil, sebab tidak ada layanan transportasi reguler dari bandara atau terminal ke desa. Kondisi ini sesuai dengan temuan Kementerian Pariwisata . yang menyatakan bahwa aksesibilitas bukan hanya soal infrastruktur jalan, tetapi juga keterhubungan transportasi publik yang memadai. Tanpa dukungan transportasi umum, desa wisata berpotensi kehilangan segmen wisatawan backpacker atau wisatawan dengan anggaran terbatas. Di sisi lain, peluang pengembangan aksesibilitas cukup besar dengan adanya tren wisata minat khusus yang berkembang di Lombok. Misalnya, wisatawan yang datang ke Desa Sade atau Desa Ende biasanya menggunakan paket tur yang sudah dilengkapi dengan transportasi. Hal ini bisa menjadi peluang bagi Pokdarwis Batujai untuk bekerja sama dengan agen perjalanan lokal guna menyediakan transportasi terpadu. Menurut Yoeti . , integrasi akses transportasi dalam paket wisata dapat meningkatkan daya tarik destinasi karena wisatawan merasa lebih nyaman dan Selain transportasi fisik, aksesibilitas digital juga menjadi aspek penting dalam pariwisata Sayangnya. Desa Batujai masih minim promosi online dan peta digital yang memudahkan wisatawan menemukan informasi dan lokasi atraksi. Beberapa titik atraksi bahkan belum terdaftar di Google Maps, sehingga menyulitkan wisatawan mandiri. Padahal, literatur pariwisata menekankan pentingnya digital accessibility sebagai faktor utama dalam decision making wisatawan (Gyssling & Hall, 2. Jika peta digital, informasi transportasi, dan panduan wisata tersedia secara daring, maka kunjungan wisatawan akan lebih meningkat. Dengan demikian, strategi peningkatan aksesibilitas di Batujai tidak hanya menitikberatkan pada perbaikan infrastruktur jalan, tetapi juga perlu memperkuat sistem transportasi wisata serta akses digital. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, agen perjalanan, dan penyedia teknologi menjadi langkah strategis agar wisatawan dapat menjangkau desa dengan lebih mudah. Jika aksesibilitas diperkuat. Batujai akan lebih kompetitif dibandingkan desa wisata lain di Lombok. Amenities (Fasilitas Penunjan. Ketersediaan fasilitas penunjang merupakan faktor penting dalam kenyamanan wisatawan. Saat ini. Desa Batujai memiliki beberapa warung makan sederhana, area parkir dekat waduk, serta homestay terbatas yang dikelola oleh masyarakat. Namun, fasilitas tersebut masih jauh dari standar pariwisata modern. Misalnya, penginapan yang ada belum memiliki fasilitas kamar mandi dalam, akses Wi-Fi, atau standar kebersihan yang konsisten. Menurut Karyono . , fasilitas yang baik a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Nopember 2025 akan meningkatkan length of stay wisatawan karena mereka merasa nyaman untuk tinggal lebih Salah satu potensi yang mulai berkembang adalah keberadaan kafe terapung di Waduk Batujai. Kafe ini menjadi daya tarik baru, terutama bagi generasi muda, karena menawarkan pengalaman bersantai di atas air. Namun, konsep ini masih perlu ditingkatkan agar lebih profesional, seperti menambah menu khas lokal, meningkatkan standar pelayanan, dan memperhatikan keamanan. Pengalaman dari destinasi wisata Danau Toba menunjukkan bahwa pengembangan kafe dan restoran dengan nuansa khas mampu meningkatkan kepuasan wisatawan secara signifikan (Sinaga, 2. Selain kuliner, fasilitas dasar seperti toilet umum, pusat informasi wisata, serta tempat istirahat masih sangat minim di Batujai. Kondisi ini seringkali menjadi keluhan wisatawan, terutama wisatawan domestik yang datang bersama keluarga. Dalam literatur pariwisata disebutkan bahwa tourist amenities seperti toilet, area bersih, dan ruang interaksi merupakan elemen krusial yang menentukan kualitas pengalaman wisatawan (Cooper et al. , 2. Jika hal ini diabaikan, wisatawan cenderung tidak akan berkunjung kembali. Pengembangan homestay berbasis masyarakat juga menjadi peluang besar bagi Batujai. Dengan jumlah wisatawan yang diprediksi akan meningkat, kebutuhan akomodasi ramah lingkungan dan terjangkau sangat tinggi. Desa wisata di Bali seperti Penglipuran telah membuktikan bahwa homestay berbasis kearifan lokal mampu mendukung ekonomi keluarga sekaligus menjaga nilai tradisi. Model ini dapat ditiru oleh Batujai dengan menyesuaikan konteks budaya Sasak dan potensi lokal. Oleh karena itu, strategi pengembangan fasilitas di Batujai sebaiknya meliputi peningkatan kualitas homestay, pembangunan fasilitas dasar wisata, serta inovasi kuliner khas lokal. Dengan adanya fasilitas yang memadai, wisatawan akan merasa nyaman dan memiliki alasan untuk memperpanjang waktu tinggal mereka. Hal ini tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat citra Batujai sebagai destinasi wisata berdaya saing tinggi. Ancillary Services (Layanan Tambaha. Layanan tambahan dalam pariwisata mencakup berbagai aktivitas yang dapat memperkaya pengalaman wisatawan, mulai dari pemandu wisata, paket edukasi, hingga atraksi tambahan seperti cooking class atau workshop kerajinan. Saat ini. Desa Batujai baru memiliki layanan pemandu wisata yang bersifat sukarela, biasanya dari anggota Pokdarwis atau pemuda desa. Layanan ini belum dikelola secara profesional sehingga kualitas pelayanan sangat bergantung pada individu. Menurut Kotler . , kualitas layanan tambahan adalah elemen penting yang menentukan kepuasan wisatawan karena menjadi sentuhan personal antara tuan rumah dan tamu. Potensi pengembangan layanan tambahan di Batujai sangat besar, terutama dalam bidang edukasi. Misalnya, wisatawan dapat diajak belajar menenun songket, membuat anyaman eceng gondok, atau mengikuti prosesi adat Bubus Desa dalam bentuk simulasi. Aktivitas ini akan menciptakan pengalaman yang autentik sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal. Studi di Desa Sade menunjukkan bahwa wisata berbasis learning by doing mampu meningkatkan kepuasan wisatawan sekaligus melestarikan budaya lokal (Hasanah, 2. Selain itu. Batujai memiliki peluang untuk mengembangkan cooking class berbasis kuliner khas Sasak, seperti ayam rarang, beberuk terong, dan plecing kangkung. Wisata kuliner berbasis partisipatif saat ini menjadi tren global karena wisatawan ingin merasakan pengalaman langsung memasak dan menikmati hidangan tradisional. Menurut Richards . , food tourism bukan hanya tentang makan, tetapi juga tentang memahami budaya melalui proses memasak. Dengan adanya layanan ini. Batujai dapat menonjolkan identitas kulinernya dan menarik wisatawan domestik maupun Layanan tambahan lain yang bisa dikembangkan adalah penyewaan perahu untuk menikmati a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Nopember 2025 Waduk Batujai atau paket fotografi di padang savana. Wisatawan modern cenderung mencari spot foto menarik untuk media sosial, sehingga penyediaan layanan fotografi profesional bisa menjadi peluang usaha baru bagi pemuda desa. Selain itu, workshop ekowisata seperti penanaman pohon di sekitar waduk atau pembersihan sampah juga bisa menjadi atraksi tambahan dengan nilai edukasi lingkungan. Dengan pengembangan layanan tambahan yang inovatif. Desa Batujai tidak hanya mengandalkan atraksi alam dan budaya, tetapi juga menawarkan pengalaman unik yang Hal ini sesuai dengan teori Pine & Gilmore . tentang experience economy, bahwa wisatawan modern tidak hanya membeli produk, tetapi juga pengalaman. Oleh karena itu, jika layanan tambahan dikelola secara profesional. Desa Batujai akan memiliki keunggulan kompetitif dalam menarik wisatawan jangka panjang. Strategi Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata Membangun Rasa Kepemilikan Melalui Pemberdayaan Partisipatif Pemberdayaan partisipatif merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas partisipasi masyarakat dalam pengembangan desa wisata. Studi Nurmita Sari et al. di Desa Ilan Batu Uru memperlihatkan bahwa ketika masyarakat dilibatkan secara penuh dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan, mereka akan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih kuat terhadap keberhasilan destinasi. Rasa kepemilikan . ense of ownershi. inilah yang akan mendorong mereka untuk tidak sekadar menjadi pelaksana, tetapi juga pengendali dan pengawas jalannya pengembangan wisata. Dalam konteks Batujai, strategi ini dapat diterapkan melalui musyawarah desa yang secara rutin melibatkan seluruh elemen masyarakat. Forum semacam ini bukan hanya wadah untuk menyampaikan aspirasi, tetapi juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk menentukan arah pengembangan wisata, misalnya dalam penentuan atraksi budaya, paket wisata, maupun model tata Dengan demikian, keputusan yang dihasilkan bukan berasal dari segelintir pihak, melainkan merupakan kesepakatan kolektif. Selain itu, pendekatan ini dapat memperkuat legitimasi pengembangan desa wisata. Ketika masyarakat merasa memiliki peran dalam setiap tahapan pembangunan, tingkat kepercayaan antarwarga dan terhadap pemerintah desa akan meningkat. Hal ini juga dapat mengurangi konflik internal yang sering muncul akibat perbedaan kepentingan. Dengan kata lain, pemberdayaan partisipatif bukan hanya memperluas partisipasi, tetapi juga membangun harmoni sosial yang menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pariwisata di Batujai. Integrasi CBT dan Sociopreneurship Konsep Community-Based Tourism (CBT) yang dipadukan dengan sociopreneurship atau wirausaha sosial dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan peran masyarakat. Studi di Desa Bandasari menunjukkan bahwa integrasi keduanya mampu mendorong masyarakat tidak hanya terlibat sebagai penyedia atraksi, tetapi juga sebagai pelaku usaha berbasis komunitas. Model ini memastikan bahwa keuntungan ekonomi dari pariwisata dapat menyebar lebih merata di tingkat Di Batujai, penerapan strategi ini dapat dilakukan dengan membentuk usaha komunitas berbasis budaya, seperti kelompok kuliner tradisional, kerajinan tangan, hingga pengelolaan Keuntungan dari usaha tersebut bisa dikelola secara kolektif untuk kepentingan bersama, misalnya pengembangan fasilitas desa wisata atau pelatihan sumber daya manusia. Dengan demikian, pariwisata tidak hanya dipandang sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan ekonomi lokal. Selain itu, integrasi CBT dan sociopreneurship dapat memperkuat kemandirian desa wisata. Masyarakat Batujai tidak perlu sepenuhnya bergantung pada investor atau pihak eksternal, karena mereka memiliki kapasitas untuk menciptakan peluang ekonomi secara mandiri. Strategi ini sekaligus menumbuhkan kebanggaan komunitas, karena produk wisata yang ditawarkan merupakan hasil karya mereka sendiri, yang berakar pada kearifan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Nopember 2025 Pemberdayaan Melalui Penguatan SDM dan Kelembagaan Lokal Sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor utama dalam menentukan kualitas layanan dan pengelolaan destinasi wisata. Studi pengembangan desa wisata Pemuteran menunjukkan bahwa pemberdayaan yang terintegrasi meliputi peningkatan SDM, penguatan kelembagaan, sarana prasarana, serta akses informasi mampu menciptakan model pengelolaan yang berkelanjutan. Bagi Batujai, strategi ini dapat diwujudkan melalui program pelatihan hospitality, manajemen homestay, dan pemasaran digital yang melibatkan kelompok pemuda maupun perempuan desa. Pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan individu, tetapi juga memperluas kesempatan kerja dan Selain itu, penguatan kelembagaan seperti Pokdarwis perlu menjadi prioritas. Pokdarwis dapat didorong agar lebih inklusif, representatif, dan mampu merangkul seluruh elemen Penguatan SDM dan kelembagaan akan memberikan dampak ganda. Pertama, meningkatkan daya saing desa wisata karena layanan yang diberikan lebih profesional. Kedua, menciptakan keberlanjutan kelembagaan yang tidak bergantung pada figur tertentu, melainkan pada sistem yang terstruktur. Dengan demikian, partisipasi masyarakat dapat terkelola dengan baik dan menjadi motor penggerak pembangunan pariwisata di Batujai. Digitalisasi dan Promosi Berbasis Teknologi Pemanfaatan teknologi digital menjadi strategi yang tidak bisa diabaikan dalam pengembangan desa wisata modern. Studi E-Journal Sisfokomtek menekankan bahwa optimalisasi desa wisata berbasis kearifan lokal harus diiringi dengan digitalisasi, baik untuk promosi, manajemen, maupun partisipasi masyarakat. Dengan media sosial, website resmi, dan platform pariwisata daring, desa wisata dapat memperluas jangkauan promosi sekaligus memperkenalkan identitas budaya yang Untuk Batujai, digitalisasi dapat diterapkan melalui pembuatan konten kreatif seperti video atraksi budaya, kisah bubus desa, atau aktivitas keseharian petani dan nelayan. Konten ini dapat dipublikasikan di YouTube. Instagram, dan TikTok untuk menarik minat wisatawan, khususnya generasi muda. Selain promosi, teknologi digital juga bisa digunakan dalam pengelolaan data wisatawan, reservasi homestay, hingga pemasaran produk lokal. Lebih jauh, digitalisasi juga dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam bentuk baru, yaitu keterlibatan virtual. Masyarakat tidak hanya menjadi pelaku atraksi, tetapi juga produsen konten yang mempromosikan desa mereka. Dengan begitu, pengembangan wisata tidak hanya bergantung pada kunjungan fisik, tetapi juga membangun citra digital yang kuat sebagai desa wisata berbasis partisipasi. Kolaborasi Multi Pihak Pengembangan desa wisata tidak bisa hanya mengandalkan masyarakat lokal atau pemerintah desa, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Murphy . dalam konsep tourism: a community approach menekankan bahwa partisipasi masyarakat harus diperkuat melalui dukungan akademisi, pemerintah, media, dan sektor swasta. Kolaborasi ini penting untuk mengatasi keterbatasan modal, kapasitas SDM, maupun jaringan pemasaran yang sering dihadapi desa wisata. Dalam konteks Batujai, kolaborasi dapat diwujudkan melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, misalnya Universitas Mataram STP Mataram atau Poltekpar Lombok, untuk mendukung riset dan pendampingan pengembangan atraksi serta manajemen. Pemerintah daerah dapat berperan menyediakan regulasi yang kondusif dan infrastruktur pendukung, sementara sektor swasta dapat masuk sebagai mitra dalam pengembangan homestay, kuliner, atau transportasi wisata. Dengan adanya kolaborasi multi pihak, pengembangan desa wisata Batujai tidak hanya ditopang oleh partisipasi masyarakat lokal, tetapi juga memiliki dukungan teknis, finansial, dan jaringan promosi yang lebih luas. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Batujai sebagai bagian dari destinasi unggulan di Lombok Tengah. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Nopember 2025 Diversifikasi Atraksi dan Usaha Wisata Salah satu tantangan utama Desa Batujai adalah atraksi wisata yang bersifat musiman, seperti padang savana yang hanya muncul saat musim kemarau. Untuk mengatasi hal ini, strategi diversifikasi atraksi dan usaha wisata menjadi penting. Butler . dalam tourism area life cycle menekankan bahwa destinasi yang tidak melakukan diversifikasi berisiko mengalami kejenuhan dan penurunan kunjungan wisatawan. Di Batujai, diversifikasi bisa dilakukan dengan mengembangkan paket wisata yang menggabungkan alam, budaya, dan ekonomi kreatif. Misalnya, wisatawan dapat mengikuti workshop menenun songket dengan bahan pewarna alami, kelas memasak nasi ngendang, atau tur sejarah tentang Bubus Desa. Atraksi tambahan seperti pemanfaatan dan pengolahan enceng gondok menjadi kerajinan, atau festival budaya tahunan juga dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan. Diversifikasi juga berarti memperluas peluang usaha bagi masyarakat. Selain warung atau usaha kuliner, masyarakat bisa mengembangkan homestay, jasa pemandu wisata, hingga penyewaan transportasi lokal seperti sepeda atau perahu. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari pariwisata dapat dirasakan lebih merata, sekaligus meningkatkan ketahanan desa wisata terhadap fluktuasi musiman. Penguatan Identitas Budaya dan Storytelling Identitas budaya adalah aset utama yang membedakan desa wisata satu dengan yang lain. Richards . menegaskan bahwa wisata berbasis pengalaman . xperience econom. menuntut desa wisata untuk menghadirkan cerita otentik yang dapat menyentuh wisatawan. Storytelling menjadi strategi penting untuk memperkuat identitas dan menambah nilai atraksi budaya. Untuk Batujai, storytelling dapat dikembangkan dari tradisi bubus desa, sejarah sumur cikal bakal desa, hingga kisah pusaka keris yang dimandikan setiap tahun. Cerita-cerita ini dapat dikemas dalam bentuk pertunjukan, tur naratif, atau media digital yang menarik. Keterlibatan tokoh masyarakat, dalang lokal, dan generasi muda dalam menyampaikan cerita akan memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus menjaga keberlanjutan budaya. Dengan penguatan identitas budaya melalui storytelling, pariwisata Batujai tidak hanya menawarkan atraksi fisik, tetapi juga menghadirkan pengalaman emosional yang membekas di hati wisatawan. Hal ini dapat meningkatkan loyalitas pengunjung, memperkuat diferensiasi destinasi, dan memastikan bahwa pengembangan desa wisata tetap berakar pada kearifan lokal. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Wisata Batujai memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata unggulan di Lombok Tengah. Keberadaan Bendungan Batujai, panorama savana, aktivitas budaya seperti nyongkolan dan bubus desa, serta potensi kuliner lokal menjadi daya tarik utama yang dapat diintegrasikan ke dalam paket wisata berbasis kearifan lokal. Namun, potensi ini belum dikelola secara optimal karena keterbatasan fasilitas, aksesibilitas yang masih perlu ditingkatkan, dan minimnya dukungan amenitas Partisipasi masyarakat Desa Batujai relatif tinggi dalam kegiatan sosial-budaya, tetapi masih bersifat insidental dan belum menyentuh aspek strategis seperti perencanaan, manajemen, dan Masyarakat lebih sering terlibat dalam implementasi kegiatan, sementara ruang untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan masih terbatas. Tantangan utama dalam pengembangan Desa Batujai sebagai desa wisata berkelanjutan mencakup kapasitas SDM yang terbatas, rendahnya modal finansial, serta risiko komersialisasi budaya yang dapat mengikis nilai-nilai lokal. Namun, peluang tetap terbuka lebar dengan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Nopember 2025 adanya dukungan digitalisasi, praktik Community-Based Tourism (CBT), serta pengalaman sukses desa wisata lain di Lombok dan daerah lain di Indonesia yang bisa dijadikan rujukan. Dengan mengintegrasikan konsep 4A, prinsip CBT, dan strategi digitalisasi. Desa Batujai memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi destinasi wisata partisipatif dan berkelanjutan. Hal ini hanya dapat terwujud apabila masyarakat lokal diberdayakan secara menyeluruh, pemerintah desa memberikan fasilitasi kebijakan yang jelas, serta adanya kolaborasi dengan pihak akademisi, swasta, dan stakeholder pariwisata lainnya. DAFTAR PUSTAKA