JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Anora Rizky Wahyu Esa1. Novi Trisnawati2 PENGARUH TEACHING FACTORY. PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) DAN SELF EFFICACY TERHADAP KESIAPAN KERJA SISWA JURUSAN MANAJEMEN PERKANTORAN SMK NEGERI 1 REJOTANGAN Anora Rizky Wahyu Esa1. Novi Trisnawati2 Universitas Negeri Surabaya1. Universitas Negeri Surabaya2 pos-el: anora. 22140@mhs. id1, novitrisnawati@unesa. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis Pengaruh Teaching Factory. Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan Self Efficacy terhadap Kesiapan Kerja Siswa Jurusan Manajemen Perkantoran SMK Negeri 1 Rejotangan. Studi ini menerapkan metode kuantitatif deskriptif serta pengambilan sampel menggunakan proportional sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner serta dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak SmartPLS. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Teaching Factory tidak berpengaruh terhadap kesiapan kerja siswa SMK. Praktik Kerja Lapangan memiliki pengaruh positif secara signifikan, sedangkan Self Efficacy tidak berpengaruh terhadap kesiapan kerja siswa SMK Negeri 1 Rejotangan. Kata kunci : Teaching Factory. Praktik Kerja Lapangan (PKL). Self Efficacy. Kesiapan Kerja ABSTRACT The purpose of this study is to analyze the influence of Teaching Factory. Field Work Practice (PKL), and Self Efficacy on the Work Readiness of Office Management Students at SMK Negeri 1 Rejotangan. This study applies a descriptive quantitative method and proportional Data were collected through questionnaires and analyzed using SmartPLS software. The results revealed that the Teaching Factory had no effect on the work readiness of vocational high school students. Field Work Practice had a significant positive effect, while Self Efficacy had no effect on the work readiness of students at SMK Negeri 1 Rejotangan. Keywords: Teaching Factory. Field Work Practice (PKL). Self Efficacy. Work Readiness PENDAHULUAN Kemajuan teknologi dan informasi saat ini berlangsung sangat cepat sehingga berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk aktivitas ekonomi, sosial serta budaya di berbagai negara seluruh dunia (Itryah & Anggraini, 2. Persaingan dalam pasar tenaga kerja yang semakin ketat menuntut lulusan untuk tidak hanya memiliki pengetahuan akademis yang memadai, tetapi juga beradaptasi, dan karakter psikologis yang kuat (Billa et al. , 2. Lulusan SMK keterampilan yang relevan di dunia kerja dan mampu mengembangkan peluang usaha (Sari & Novrita, 2. Kompetensi lulusan SMK menjadi salah satu kunci terhadap kesiapan kerja dan kemandirian dalam bekerja (Elfranata et , 2. Namun, kenyataan yang terjadi pada saat ini menunjukkan bahwa banyak siswa yang tidak siap untuk memulai bekerja sesuai dengan jurusan yang di miliki. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada Februari 2024. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi terdapat pada lulusan SMK 8,62%, dibandingkan dengan lulusan jenjang pendidikan lain. Sementara itu. TPT terendah terdapat pada lulusan SD ke bawah, yakni Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Anora Rizky Wahyu Esa1. Novi Trisnawati2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan sejumlah 2,38%. Data ini sama dengan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakerna. Agustus menunjukkan bahwa sebanyak 1,7 juta orang atau 22% dari total pengangguran SLTA Kejuruan/SMK. Dari hasil observasi Manajemen Perkantoran SMK Negeri 1 Rejotangan yang dapat di kaitkan dengan teori yang dikemukakan oleh David A. Kolb yaitu teori belajar berbasis Experiential Learning Theory (ELT) merupakan suatu konsep teori tentang pengalaman langsung dalam proses belajar siswa (Hakima & Hidayati. Pembelajaran Siklus langsung, pengamatan yang dikaji ulang, pembentukan konsep abstrak, dan penerapan melalui eksperimen aktif. Teaching Factory secara inheren menerapkan siklus ini. Siswa mengalami langsung proses produksi atau layanan, merefleksikannya, mengabstraksikannya, lalu mengaplikasikannya kembali. Teori ini sangat mendukung penelitian pengaruh pengalaman Teaching Factory. Praktik Kerja Lapangan dan Self Efficacy terhadap kesiapan kerja siswa karena konsep ini secara inheren mengadopsi prinsip Experiential Learning Theory (ELT). Dalam Teaching Factory, siswa terlibat langsung simulasi kerja nyata . engalaman konkre. , merefleksikan pengalaman, menganalisis kejadian dan . bservasi mengabstraksikan pelajaran menjadi konsep luas . onseptualisasi abstra. , dan menerapkan pemahaman dalam tugas Teaching Factory menyediakan memungkinkan siswa melalui siklus belajar Kolb secara utuh, menghasilkan pemahaman mendalam, keterampilan aplikatif, dan meningkatkan kesiapan kerja untuk dunia industri setelah lulus. Khususnya di SMK Negeri 1 Rejotangan Manajemen Perkantoran diharapkan dapat SDM yang memiliki komunikasi efektif, serta semangat kerja yang tinggi agar siap memenuhi kebutuhan pasar ketenagakerjaan dengan kompeten dan siap untuk bekerja. Kesiapan kerja yakni bentuk kondisi sesorang dalam mencerminkan kesesuaian antara kematangan fisik maupun mental dan pengalaman dengan kemampuan untuk melaksanakan serta menyelesaikan tugas- tugas pekerjaan Kesiapan kerja memungkinkan seorang individu siap akan mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu bekerja (Ariyanto et al. , 2. Tujuan utama SMK adalah mempersiapkan dan mengembangkan siswa agar menjadi tenaga kerja yang terampil sesuai pada bidang kompetensi dan keahlian mereka, serta melengkapi mereka dengan pengetahuan dan teknologi yang diperlukan agar siap untuk bekerja. Kesiapan SDM untuk bekerja tercermin dalam suatu penguasaan kompetensi teknis . ard skill. yang relevan dengan intrapersonal . oft skill. yang mumpuni, serta memiliki etos kerja dan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap tuntutan dalam dunia kerja yang berkompeten. Hasil wawancara dengan siswa SMK, khususnya di SMK Negeri 1 Rejotangan untuk mendukung hal ini yaitu beberapa siswa menyatakan bahwa mereka siap menghadapi dunia kerja sesuai bidang keahlian setelah mengikuti pengalaman Teaching Factory. Namun, ada juga siswa yang merasa belum siap dan belum mampu memasuki dunia kerja, bahkan sering menjawab Autidak tahuAy ketika ditanya tentang rencana setelah lulus. Maka, pengalaman untuk belajar dalam bidang Teaching Factory sangat dibutuhkan dan diharapkan dapat mempersiapkan seluruh siswa SMK bekerja sesuai minat yang dimiliki. Implementasi Teaching Factory di SMK mampu meningkatkan kesiapan kerja Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Anora Rizky Wahyu Esa1. Novi Trisnawati2 siswa dengan memberikan pengalaman kerja nyata, menjalin kerja sama dengan industri, dan mengembangkan unit produksi yang berbasis pada mitra industri, sehingga menghasilkan lulusan yang kompeten dan Menghasilkan lulusan dengan kualitas siap memasuki dunia kerja . ari & Novrita, 2. Pembelajaran Teaching Factory di SMK jurusan Manajemen Perkantoran kerja nyata yang membekali siswa keterampilan administrasi perkantoran modern dan etos kerja profesional sesuai kebutuhan industri. Melalui praktik langsung, siswa Manajemen Perkantoran menguasai teori dan mengembangkan kemampuan aplikatif meningkatkan kesiapan kerja setelah Pembelajaran Teaching Factory sangatlah penting untuk menunjang lulusan yang berkompeten. Didukung oleh hasil wawancara dari guru produktif Manajemen Perkantoran menjelaskan bahwa AuTeaching Factory Jurusan Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis, sebelumnya dinamakan Unit Pelayanan Jasa (UPJ) yang berfungsi sebagai wadah bagi siswa untuk belajar praktik secara langsung, beroperasi sejak . etak, praktik siswa namun belum standar dunia kerja. Tahun 2020. SMKN 1 Rejotangan menjadi SMK Center of Excellent (CoE) Jurusan Manajemen Perkantoran mendapat bantuan sehingga memiliki Teaching Factory. Teaching Factory Manajemen Perkantoran bekerja sama dengan CV. Mitra Jaya dan JTL Express. Saat ini, jurusan memiliki dua bidang usaha sebagai media pembelajaran : jasa logistik dan Kedua bidang usaha ini relevan dengan Mata Pelajaran Konsentrasi Manajemen Perkantoran dan Mata Pelajaran Pilihan Manajemen Logistik. Ay Kompetensi Teaching Factory siswa juga dibutuhkan untuk memasuki Dunia Industri salah satunya pada mata pelajaran manajemen logistik yang di mulai dari penerimaan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan pelayanan pelanggan, penginputan data, hingga proses pengiriman barang melalui jasa ekspedisi. Khususnya di SMK Negeri 1 Rejotangan jurusan Manajemen Perkantoran diharapkan dapat menghasilkan lulusan dengan SDM komunikasi efektif, serta semangat kerja yang tinggi agar siap memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja yang kompeten dan siap kerja. Selain menguasai pengetahuan tentang Teaching Factory, siswa juga dapat meningkatkan kesiapan kerja melalui pengalaman PKL selama kueang lebih 6 bulan. PKL merupakan jenis pendidikan kejuruan secara sistematis pembelajaran di sekolah dengan penguasaan bidang keahlian secara Keahlian tersebut didapatkan dengan langsung terjun ke Dunia Industri (DU/DI) secara terstruktur guna profesional tertentu (Rahman et al. PKL bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menginternalisasi dan mempraktikkan keterampilan serta budaya kerja . oft Selain itu. PKL berfungsi guna menerapkan, meningkatkan dan dapat mengembangkan kompetensi teknis . ard skill. yang sama halnya dengan fokus pada keahlian, kebutuhan di industri, serta kemampuan wirausaha mandiri (Endrastiti & Sholikhah, 2. Hasil wawancara berikut ini dapat menjadi pendukung penelitian yaitu dari beberapa siswa pada saat setelah memperoleh pengalaman PKL yaitu AuPengalaman Praktik Kerja Lapangan (PKL) dinilai sangat penting dalam mempersiapkan siswa memasuki dunia kerja. Melalui Praktik Kerja Lapangan, mempelajari beragam hal baru, sebelumnya tidak dimiliki. Pengalaman kerja langsung ini juga berfungsi sebagai Anora Rizky Wahyu Esa1. Novi Trisnawati2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan gambaran nyata atau bekal untuk pekerjaan di masa depan, sehingga mampu membentuk kesiapan diri siswa dalam menghadapi dunia kerja yang sesungguhnyaAy. Dari adanya suatu bentuk pengalaman tersebut akan membuat siswa mempunyai sikap keterampilan baik secara soft skill maupun hard skill sesuai dengan bidang Praktik Kerja Lapangan merupakan program wajib bagi seluruh sekolah Pelaksanaan PKL ini berperan penting dalam membantu siswa mendapatkan pengalaman langsung yang berasal dari proses pembelajaran di Penelitian terdahulu (Paramitha et , 2. juga menyebutkan hal yang sama yaitu Praktik Kerja Lapangan (PKL) menawarkan beragam manfaat signifikan bagi siswa dan pihak sekolah. Kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan sikap siap kerja dan mengembangkan kompetensi tambahan mungkin tidak didapatkan pada saat di sekolah, selain itu dapat memungkinkan siswa berperan sebagai tenaga kerja di perusahaan. Selain itu. PKL turut berkontribusi dalam meningkatkan motivasi dan etos kerja siswa. Selain memiliki pengalaman di Teaching Factory dan Praktik Kerja Lapangan (PKL), siswa juga perlu mengembangkan kondisi internal untuk meningkatkan kesiapan kerja, yaitu self Self efficacy yakni contoh indikator penting dari pemahaman pengetahuan tentang diri sendiri yang keseharian (Elfranata et al. , 2. Self efficacy memengaruhi individu dalam mengambil langkah untuk mencapai tujuan atau keberhasilan, termasuk memprediksi berbagai situasi yang mungkin ditemui di dunia kerja. Oleh karena itu, siswa perlu membangun self efficacy yang kuat agar siap dalam memasuki dunia kerja. Siswa yang mengerti dalam kemampuan dirinya dengan baik akan lebih percaya diri saat menghadapi tantangan dunia kerja (Indriani, 2. Self efficacy memegang peranan penting dalam membentuk kesiapan kerja dengan meyakinkan siswa perilaku yang dibutuhkan guna mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh sebab itu, self efficacy perlu ditumbuhkan terhadap masing-masing siswa SMK sebagai bentuk membangkitkan kepercayaan diri terhadap kemampuan yang dimiliki. Hal ini bertujuan agar siswa mampu membuka usaha dan bekerja secara Memiliki self-efficacy juga memungkinkan siswa setelah lulus membangun usaha baru (Fitriyah et al. Hal ini didukung dengan hasil wawancara dari beberapa siswa yaitu AuKepercayaan diri atau self-efficacy juga memiliki peran krusial dalam kesiapan kerja siswa. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, individu mampu mengatasi berbagai tantangan dan tugas dengan lebih baik, serta perkantoran. Berdasarkan adanya kekurangan dalam kajian sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah literatur dengan meneliti pengaruh gabungan antara pengalaman teaching factory. PKL dan self efficacy terhadap kesiapan kerja siswa SMK. Belum banyak temuan yang membahas secara simultan antara ketiga variabel tersebut dan spesifik kearah siswa kelas tertentu, khususnya jurusan Manajemen Perkantoran kelas XII di SMK Negeri 1 Rejotangan. Padahal, jurusan ini memiliki karakteristik unik yang berpotensi dikembangkan ke arah dunia kerja berbasis administrasi modern atau praktik kerja yang nyata, seperti pelayanan pelanggan, menimbang barang dan menginput data pelanggan. Hal tersebut sama halnya yang dijelaskan oleh (Putri et al. , 2. pengalaman Teaching Factory pada mata pelajaran tertentu terbukti sangat bermanfaat bagi siswa. Proses pembelajaran ini pada akhirnya juga memperkuat keyakinan siswa sekaligus meningkatkan sikap kesiapan kerja yang positif. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 METODE PENELITIAN Teknik yang dipilih dalam kajian JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Anora Rizky Wahyu Esa1. Novi Trisnawati2 ini meliputi metode deskriptif yang mempunyai tujuan untuk mengkaji pengaruh dari tiga variabel bebas yaitu teaching factory. PKL dan self efficacy, terhadap variabel terikat, yaitu kesiapan kerja siswa SMK Negeri 1 Rejotangan. Seluruh siswa kelas XII jurusan 2025/2026 termasuk dalam populasi penelitian, yang berjumlah 163 orang. Sebanyak 116 siswa dipilih sebagai proportional sampling dan rumus Slovin untuk memastikan sampel tersebut representatif terhadap populasi. Data dikumpulkan dengan cara penyebaran kuesioner dengan memakai skala likert yang sebelumnya sudah diuji validitas dan reliabilitasnya. Metode pengumpulan data menurut pendapat (Budianto et al. dapat dijelaskan bahwa hasil yang optimal dapat dicapai ketika pendekatan kolaboratif teknologi. Pengujian reliabilitas menjelaskan bahwa seluruh konstruk mempunyai koefisien nilai CronbachAos Alpha di atas 0,7, yang artinya instrumen memiliki tingkat reliabilitas baik. Proses analisis data terdiri dari tiga tahap utama, dimulai dengan analisis outer model untuk memastikan model pengukuran valid dan Pada tahap ini, terdapat tiga jenis analisis: Convergent Validity secara umum diukur dengan nilai Loading Factor yang diharapkan lebih dari 0,7 serta melalui nilai Average Variance Extracted (AVE) dapat dikatakan valid jika nilai indikator di atas 0,5. Discriminant Validity dilihat dari HTMT yang nilainya harus kurang dari 0,9, serta Internal Consistency yang diukur melalui Composite Reliability dengan nilai minimal 0,7, yang juga bisa dilihat dari nilai koefisien CronbachAos Alpha (Yusuf. Analisis kedua adalah inner model yang bertujuan untuk menggambarkan hubungan antar variabel laten dengan menerapkan nilai R-square untuk melihat konstruk endogen serta t-statistic dari hasil uji koefisien jalur. Beberapa indikator penting dalam pengukuran ini meliputi nilai koefisien determinasi (RA), predictive relevance (QA), uji Goodness of Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Fit (GoF) dan Koefisien Jalur (Path Coefficien. (Yusuf, 2. Analisis ketiga adalah pengujian hipotesis guna hipotesis akhir dengan melihat nilat tstatistic dan juga nilai p-value. Hipotesis dikatakan berpengaruh positif secara signifikan jika nilai t-statistic lebih besar dari 1,96 dan nilai p-value kurang dari 0,05. Sebaliknya, jika nilai t-statistic kurang dari 1,96 dan nilai p-value lebih dari 0,05, hipotesis dianggap tidak berpengaruh (Yusuf, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini meneliti hubungan antara tiga variabel independen, yaitu Teaching Factory (X. PKL (X. Self Efficacy (X. terhadap satu variabel dependen, yakni kesiapan kerja siswa SMK (Y). Desain penelitian ini dibuat untuk menganalisis pengaruh masing-masing variabel independen terhadap kesiapan kerja dalam pengajaran digabungkan dengan siswa SMK. Data responden dianalisis untuk menguji validitas konvergen dan diskriminan serta dilakukan uji reliabilitas menggunakan uji composite reliability dan uji cronbachAos Analisis Outer Model Outer pengujian indikator-indikator seperti CronbachAos Alpha. Composite Reliability serta Average Variance Extracted (AVE), yang hasilnya dapat dilihat dalam Gambar 1 berikut ini. Anora Rizky Wahyu Esa1. Novi Trisnawati2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Siswa SMK Sumber : Output SmartPLS . Gambar 1 Loading Factor Sumber : Output SmartPLS . Berdasarkan hasil analisis outer model, terlihat gambaran validitas tanggapan responden terhadap ketiga variabel yang diteliti. Untuk memutuskan validitas, pada masing-masing indikator harus mempunyai nilai loading factor dengan jumlah di atas 0,7. Dalam analisis ini, semua nilai loading factor setiap indikator berada di atas angka tersebut, sehingga data dapat dianggap valid. Selain itu, analisis validitas konvergen dapatdilihat melalui hasil Average Variance Extracted (AVE) dapat dikatakan valid jika nilai AVE lebih dari 0,5. Nilai AVE pada setiap konstruk dalam penelitian ini melebihi 0,5, sehingga validitas konvergen dapat disimpulkan valid dan dapat dipercaya. Berikut ini merupakan tampilan output Smart PLS : Dalam penelitian ini, uji validitas yang diterapkan menggunakan validitas Pada Tabel 1 terlihat bahwa nilai AVE untuk setiap konstruk yakni teaching factory. PKL, self efficacy dan kesiapan kerja siswa SMK masingmasing konstruk nilainya lebih besar dari 0,5. Hal tersebut menyimpulkan bahwa masing-masing konstruk sudah memenuhi syarat validitas konvergen secara baik, sehingga semua instrumen yang digunakan dinyatakan valid. Selain itu, validitas diskriminan diuji dengan cara membandingkan akar kuadrat AVE terhadap korelasi antar konstruk. Uji validitas diskriminan dianggap terpenuhi apabila akar kuadrat AVE lebih besar dari nilai korelasi antar konstruk Berikut ini merupakan tampilan output Smart PLS : Tabel 2 Discriminant Validity Latent Variab Sumber : Output SmartPLS . Tabel 1 Average Variance Extracted Konstruk Average Variance Extracted (AVE) Teaching Factory PKL Self Efficacy Kesiapan Kerj Berdasarkan Tabel 2 di atas terlihat bahwa masing-masing nilai diagonal yang mewakili akar kuadrat dari AVE lebih tinggi dibandingkan nilai korelasi antar variabel. Oleh karena itu, validitas diskriminan dianggap dapat diterima, sehingga uji selanjutnya dapat Nilai akar kuadrat AVE pada setiap konstruk secara konsisten lebih besar daripada hubungan antar konstruk yang ada yaitu kesiapan kerja siswa SMK . ,910 > 0,725. 0,636. Praktik Kerja Lapangan . ,853 > 0,725. 0,794. Self Efficacy . ,872 > 0,636. 0,794. dan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Anora Rizky Wahyu Esa1. Novi Trisnawati2 Teaching Factory . ,887 > 0,574. 0,721. Dari hasil analisa permasalahan validitas diskriminan. Guna memastikan tidak adanya kendala dalam model, tahap akhir pengujian mengevaluasi unidimensionalitas model menggunakan indikator Composite Reliability dan CronbachAos Alpha. Kriteria keberhasilan pengujian ini yaitu Composite Reliability CronbachAos Alpha harus lebih dari 0,7. Berikut ini merupakan tampilan output Smart PLS : Tabel 3 Composite Reliability Composi CronbachAo Konstruk s Alpha Reliabilit Teaching Factory PKL Self Efficacy Kesiapan Kerja Siswa SMK Sumber : Output SmartPLS . Berdasarkan hasil tabel 3 analisis pada tabel diatas, nilai composite reliability dan cronbachAos alpha dari seluruh konstruk yakni > 0,7. Maka tidak terdapat masalah reliabilitas. Sehingga data penelitian ini dapat dinyatakan valid dan reliabel. Analisis Inner Model Dalam melakukan pengujian inner model, cara yang dilakukan dapat dilihat melalui tiga cara yakni nilai R Square (R. Q2 dan GoF. Berikut ini merupakan tampilan output Smart PLS : Tabel 4 R Square R Square R Square Adjusted Sumber : Output SmartPLS . Berdasarkan hasil uji R Square, dapat dilihat dari Tabel 4 pengujian R Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Square digunakan untuk mengukur akurasi prediktif, nilai Y = 0,538. Nilai R Square tersebut memiliki arti bahwa variabel kesiapan kerja siswa SMK (Y) 8% dapat dipengaruhi oleh variabel bebas dalam kajian ini dan nilai sebesar 47,2% dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian. Jika R-Square < 0,5 mempunyai variabel bebas yang relative rendah terhadap variabel terikat. Disamping itu, jika nilai Q2 > 0,05 maka variabel bebas tergolong tinggi terhadap variabel terikat. Perhitungan nilai Q2 = 1 Ae . - R. = 1 Ae . Ae 0,. = 1 Ae . = 0,538 Jika nilai Q2 > dari nol maka nilai tersebut dapat dikatakan mempunyai relevansi prediktif terhadap variabel Slain itu, nilai Q2 yaitu bernilai 0,538 yang menjelaskan bahwa model structural bernilai 53,8% yakni keberagaman data berdasarkan temuan ini, sedangkan 46,2% merupakan nilai dari variabel lain di luar kajian ini. Nilai GoF = OoyaycOya ycu ycI2 = Oo0,771 ycu 0,538 =0,644 Nilai GoF bernilai 0,644 yakni model tersebut termasuk dalam kriteria tinggi atau besar. Nilai R2. Q2 dan GoF membentuk model robust. Robust merupakan model untuk pemeriksaan yang dilakukan dengan menambahkan bentuk kuadrat dari variabel independen ke dalam model, sehingga dapat diketahui apakah terdapat pola non-linier yang signifikan. Nilai R2. Q2 dan GoF dikatakan robust ketika nilainya > 0,1. Dari hasil perhitungan nilai tersebut, maka keputusan hipotesis dapat dilakukan. Analisis Hipotesis Untuk hipotesis akhir, pengujian dilakukan dengan memperhatikan nilai t-statistic dan nilai p-value. Hipotesis dianggap memiliki pengaruh positif dan signifikan jika nilai t- statistic lebih besar dari 1,96 dan nilai p- value kurang dari 0,05. Sebaliknya, jika nilai t-statistic kurang dari 1,96 dan nilai p- value lebih besar Anora Rizky Wahyu Esa1. Novi Trisnawati2 dari 0,05, maka hipotesis dianggap tidak Pembuktian hipotesis dapat dilihat melalui tabel berikut sebagai dasar pengambilan keputusan. JURNAL Edueco Universitas Balikpapan H1 : Teaching Factory (X. berpengaruh positif secara signifikan terhadap kesiapan kerja (Y) siswa SMK Negeri 1 Rejotangan Hasil analisis menyebutkan nilai t- statistic sejumlah 0,807 yang artinya lebih kecil dari 1,96 dan nilai p-value sejumlah 0,420 yang artinya lebih besar dari 0,05, sehingga hipotesis pertama tidak dapat diterima atau hipotesis Artinya, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara teaching factory dan kesiapan kerja siswa SMK. Hal diatas tersebut kemungkinan disebabkan karena siswa kelas XII Manajemen Perkantoran di SMK Negeri 1 Rejotangan mengikuti mata pelajaran manajemen logistik yang tidak secara khusus bertujuan untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja. Pembelajaran teaching factory yang melibatkan praktik pengiriman barang melalui JTL Expres diterima dengan baik oleh para Namun, minat siswa terhadap bidang logistik masih belum optimal. Hal ini keterbatasan keterampilan, kurangnya kemungkinan membuat yang dilakukan. Hendaknya siswa juga memperoleh pengalaman Teaching Factory diluar kelas seperti mengikuti pelatihan, seminar, workshop dan lain sebagainya sebagai bentuk pengalaman Teaching Factory yang dapat meningkatkan kesiapan Pembelajaran Teaching Factory diharapkan dapat menambah sikap siap bekerja siswa SMK serta dapat meningkatkan angka keterserapan lulusan SMK di dunia kerja yang sesuai dengan bidangnya (Wulandari & Sulistyowati, 2. Hasil dari kajian ini menolak teori utama (Nuryakin et , 2. dan (Dewi Sinta et al. , 2. yang mengatakan bahwa Teaching Factoy mempunyai hubungan positif secara signifikan terhadap kesiapan kerja siswa SMK. Namun kajian ini sesuai dengan temuan (Nadila Mutiara. Teaching Factory telah diterapkan dengan baik, namun pengaruh positif secara signifikan terhadap kesiapan kerja belum terlihat pada siswa jurusan Bisnis Ritel di SMKN 13 Medan. Hal ini karena para siswa mengikuti Teaching Factory hanya sebagai kewajiban dalam mata pelajaran pengelolaan bisnis ritel, tanpa menumbuhkan kesiapan kerja yang benar- benar dibutuhkan setelah Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Tabel 5 Path Analysis X1 Ie Y X2 Ie Y X3 Ie Y Hypothesis Path Keteranga Tidak Signifikan Tidak Sumber : Output SmartPLS . Berdasarkan hasil analisis pada tabel 5 dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama ditolak karena nilai t-statistic sejumlah 0,807 yang artinya lebih kecil dari 1,96 dan nilai p-value sejumlah 0,420 yang artinya lebih besar dari 0,05, sehingga tidak terdapat pengaruh secara signifikan antara teaching factory dan kesiapan kerja siswa SMK. Sebaliknya bahwa hipotesis kedua diterima karena nilai t-statistic sejumlah 3,585 yang artinya lebih besar dari 1,96 dan nilai pvalue sejumlah 0,000 yang dapat diartikan lebih kecil dari 0,05 menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan kesiapan kerja siswa SMK. Hipotesis ketiga ditolak karena nilai t- statistic sejumlah 0,885 yang artinya lebih kecil dari 1,96 dan pvalue sejumlah 0,376 yang artinya lebih besar dari 0,05, sehingga tidak ada pengaruh signifikan antara Self Efficacy dan kesiapan kerja siswa SMK. Anora Rizky Wahyu Esa1. Novi Trisnawati2 Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian lain yang mendukung kesimpulan tersebut (Collins et al. , 2. menemukan bahwa meskipun siswa telah mengalami paparan terhadap lingkungan kerja nyata melalui Teaching Factory, internalisasi nilai-nilai etos kerja seperti disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran organisasi belum sepenuhnya terbentuk secara mendalam. H2 : Praktik Kerja Lapangan (X. berpengaruh positif secara signifikan terhadap kesiapan kerja (Y) siswa SMK Negeri 1 Rejotangan Nilai t-statistic sejumlah 3,585 yang berarti lebih besar dari 1,96 dan nilai p- value sejumlah 0,000 yang berarti kurang dari 0,05 menyimpulkan bahwa Praktik Kerja Lapangan berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan kerja siswa SMK, sehingga hipotesis kedua diterima. Contoh dari PKL dalam mempersiapkan siswa tumbuhnya rasa ingin tahu, keinginan untuk memahami, serta kemampuan mengimplementasikan pengetahuan ke dalam dunia kerja setelah mereka lulus. SMK Negeri 1 Rejotangan pun memiliki program Praktik Kerja Lapangan (PKL) sebagai bagian dari upaya tersebut yaitu siswa dapat mengembangkan teori yang dipelajari saat didalam kelas dan diimplementasikan secara real pada instansi atau dunia industri masingmasing siswa. Sehingga dengan program ini dapat membuat siswa mempunyai pengalaman serta siap menghadapi dunia Hasil kajian ini sama halnya dengan studi dari (Puspitasari & Bahtiar, 2. terdapat pengaruh simultan dari pengalaman PKL terhadap kesiapan kerja siswa kelas 12 kompetensi keahlian Akuntansi di SMK Wachid Hasyim Surabaya. Hal PKL berkontribusi secara signifikan dalam mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja sesuai dengan bidang akuntansi yang mereka pelajari. Penelitian lain yang dilakukan oleh (Indriani, 2. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan menunjukkan PKL secara parsial berpengaruh dan signifikan terhadap kesiapan kerja siswa SMK NIBA Bogor. Kajian serupa juga ditemukan dalam (Shanti Nugroho Sulistyowati & Sri Yuni Wulandari, 2. memaparkan bahwa prakerin berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan kerja siswa SMK Kota Jombang. Hasil serupa terdapat pada penelitian yang dipaparkan oleh (Sukma et al. , 2. memaparkan PKL berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan kerja siswa SMKN 3 Medan. Diperkuat dengan hasil penelitian (Fadhilah et al. , 2. mengungkapkan bahwa di kelas 12 Akuntansi dan Keuangan Lembaga di SMKN 1 Palasah, pengalaman PKL berpengaruh secara positif terhadap kesiapan kerja siswa. Maka dengan itu, pengalaman Praktik Kerja Lapangan yang diperoleh siswa akan dapat berpengaruh pada tingkat kesiapan mereka dalam menghadapi tantangan dunia kerja. H3 : Self Efficacy (X. berpengaruh positif secara signifikan terhadap kesiapan kerja (Y) siswa SMK Negeri 1 Rejotangan Nilai t-statistic sebesar 0,885 yang artinya lebih kecil dari 1,96 dan nilai p-value sebesar 0,376 yang artinya lebih besar dari 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis ketiga tidak diterima atau ditolak, yang berarti tidak ada pengaruh signifikan antara self efficacy dan kesiapan kerja siswa SMK. Hal tersebut diatas kemungkinan terjadi karena siswa kelas XII jurusan Manajemen Perkantoran di SMK Negeri 1 Rejotangan kurang memiliki rasa percaya diri untuk mempersiapkan diri mengambil keputusan, serta kurang siap dalam menghadapi tantangan dan kesalahan selama persiapan kerja. Siswa seharusnya memiliki self efficacy sebab kepercayaan diri merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kesiapan mereka untuk bekerja. Dengan adanya self efficacy, siswa akan Anora Rizky Wahyu Esa1. Novi Trisnawati2 memiliki keyakinan lebih dalam diri sendiri untuk menetapkan tujuan yang ingin dicapai serta memahami manfaat dari tujuan tersebut bagi masa depan (LITRA, 2. Hasil dari temuan ini menolak teori utama (Itryah & Anggraini, 2. dan (Puspitasari & Bahtiar, 2. yang mengungkapkan self efficacy memiliki hubungan positif secara signifikan terhadap kesiapan kerja siswa SMK. Namun, hasil penelitian ini sesuai sama halnya dengan temuan (Salsabila, 2. yang mengungkapkan self efficacy belum berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan kerja siswa kelas 12 SMKN 1 Jombang. Hal yang sama disebutkan oleh (Billa et al. , 2. pengembangan kesiapan kerja tidak bisa hanya mengandalkan peningkatan self efficacy saja, melainkan juga harus memperhatikan strategi lain, seperti Hal ini menyimpulkan bahwa self efficacy belum memberikan pengaruh positif secara signifikan terhadap kesiapan kerja siswa SMK. KESIMPULAN Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan yaitu terdapat hubungan positif secara signifikan antara Praktik Kerja Lapangan dengan kesiapan perkantoran kelas XII di SMK Negeri 1 Rejotangan. Hal tersebut menunjukkan peningkatan PKL sejalan dengan peningkatan kesiapan kerja siswa SMK Negeri 1 Rejotangan. Selain itu, temuan ini juga menemukan Teaching Factory dan Self Efficacy memiliki peran yang penting untuk mendukung kesiapan kerja Namun hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa teaching factory dan self efficacy tidak terdapat pengaruh terhadap kesiapan kerja siswa jurusan manajemen perkantoran SMK Negeri 1 Rejotangan. Peneliti keterbatasan dalam pelaksanaan studi ini, salah satunya karena penelitian ini belum mencakup seluruh variabel yang berpotensi memengaruhi kesiapan kerja siswa SMK. Fokus temuan ini hanya pada Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan variabel Teaching Factory. Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan Self Efficacy saja. Peneliti membatasi fokus studinya hanya jurusan manajemen perkantoran di SMK Negeri 1 Rejotangan, tanpa mencakup seluruh jurusan yang ada di sekolah meningkatkan kesiapan kerja siswa di SMK Negeri 1 Rejotangan, disarankan dapat memperbaiki kualitas pengalaman dan juga meningkatkan rasa kepercayaan dalam diri siswa, misalnya melalui partisipasi seminar, pelatihan, talkshow dan berbagai program lain yang diadakan di sekolah guna mendukung kesiapan mereka menghadapi dunia kerja. Pada cakupan sampel dan mengkaji variabel atau indikator lain di luar Teaching Factory. PKL dan Self Efficacy untuk dianalisis pengaruhnya terhadap kesiapan kerja siswa Sekolah Menengah Kejuran. DAFTAR PUSTAKA